Play the hard ball (Part II)

If you have to drive a car in Jakarta today, defensive driving would not be enough. You have to have a gut, a wisdom, a patience, and a driving skill comparable to Michael Schumacher..

That’s something that I learned just today…

Hari ini udara Jakarta cerah, bahkan cenderung sunny day. Jika anda tahu kecenderungan weather di Jakarta, sunny day yang “terlalu sunny” justru akan mencurigakan karena biasanya late in  the afternoon biasanya akan datang hujan badai (thunderstorm)…

Hari ini saya berangkat dari rumah jam 6.40 seperti biasa melalui tol JORR (bayar Rp 6000) lalu nyambung tol Jagorawi arah Cawang (bayar Rp 1500) dan beberapa saat kemudian masuk tol dalam kota arah Priok (bayar Rp 5500). Tidak seperti hari Selasa dan Rabu kemarin yang macet berat karena para orangtua mengantar anaknya ujian akhir SMA, maka mulai Kamis kemarin dan Jumat hari ini traffic agak easy-easy aja…

Lancar sampai Cawang, keluar Jatinegara, lewat Matraman masih lancar. Tapi di depan Gramed Matraman (the huge bookstore with a new minimalist architecture, some people said it is the largest bookstore in South East Asia) mulai macet berat,  karena semua jenis kendaraan : bis, mikrolet, metromini, bajaj, mobil pribadi dan sepeda motor berebut jalan yang  ternyata macet. Ternyata ada bis Patas 2 yang as belakangnya patah dan melintang 30 derajat di tengah jalan (again, I feel sorry to Jakarta public transport. Di tahun 1992 waktu saya ke Singapore public transport mereka sudah sangat maju, jauh lebih maju dibanding Jakarta tahun 2008 ini !!)..

Lolos dari “terkaman” macet, sayapun mulai belok kiri ke arah Jalan Proklamasi, tempat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Bung Karno tanggal 17 Agustus 1945 hari Jumat jam 10.00 pagi waktu Jepang. Di atas jembatan Tambak masih macet, sayapun pakai trik ala “Roberto Carlos” untuk menyusur lajur paling kiri, merangsek ke depan, dan baru ke tengah lagi lepas lampu merah Proklamasi-Tambak. Sampai depan Megaria – bioskop dengan arsitektur masih seperti jaman kolonial itu – traffic masih macet. Baru setelah sampai di samping stasiun Cikini arah ke utara, traffic mulai mengendur..

Sayapun mengambil jalur lain dibanding waktu saya mau “balapan” dengan taksi putih sebulan yang lalu. Sayapun muncul dari jalan di sebelah hotel dan mau masuk Jalan Gondangdia. Tapi traffic dari arah selatan sangat padat, saya tunggu barang 2 menit tapi traffic belum mengendur. Sayapun pakai algoritma sopir taksi Jakarta untuk masuk ke jalan yang lebih besar itu, yaitu pakai lampu dan maju pelan-pelan. Rupanya ada semacam peraturan tidak tertulis kalau anda nyopir di Jakarta yaitu, jika anda mau belok pakai lampu sen maka tidak ada seorangpun yang akan memberikan jalan bagi anda.

Wah…”rumus lama” yang bikin celaka. Akhirnya sebuah mobil Hyundai merah yang warnanya sudah pudar dan tidak punya polyuretan di bempernya mengklakson dengan keras “Diiiinnnn….diiiiiinnnn”. Sayapun mengurungkan minat masuk..yah “yield” lah pada mobil-mobil lain. Akhirnya sayapun masuk di belakang Hyundai merah itu. Rupanya si Hyundai nggak bisa kencang dan saya terpaksa ngikut di belakangnya barang 200 meter…

Sayapun mau mendahului Hyundai dari sebelah kiri, I made just one move….just one !  Padahal jalanan di depan Hyundai kosong, dan di sebelah Hyundai juga kosong. Tapi belok kiri dengan tanda sen di Jakarta memang “deadly” akhirnya sebuah Mercedez Masterpiece-pun mengklakson keras-keras….Diiiinn…diiinnn…. Wah sayapun agak mundur gak jadi nyelip Hyundai…

Rupanya ada sesuatu yang tidak saya duga, si pengemudi MB Masterpiece tadi membuka kaca jendela seolah mau melihat siapa yang mengendarai mobil warna azzuri ini…

Sayapun mulai tersinggung, dari tadi menjadi “defensive driver” tapi kok merasa “disalahkan” di traffic Jakarta yang kacau ini….sayapun memutuskan berubah menjadi Michael Schumacher of myself….mobil saya tekan gasnya dalam-dalam dan meluncur melewati MB Masterpiece dan Hyundai tadi. Sengaja rada agak saya pepetkan ke MB Masterpiece tadi, tapi saya tidak perlu buka kaca jendela bung !

It’s me, what do you want now ?

Setelah itu, saya diselip dan menyelip MB Masterpiece yang kelihatannya buatan 1988 itu. It was a great and luxurious car, but if you drive it in the Jakarta street now….you like a Fred Flinstone driving dinosaurus, man !!! So watch up your manner !!!

Hal ini berakhir di setelah si MB parkir di ujung barat dari Jalan Merdeka Selatan…

Ooooo…tetangga kantor tho !

Saya tidak tahu apakah saya bangga atau terpaksa hari ini driving the way as Michael Schumacher way. I didn’t start the game, he did…so I played the hard ball again today…..

I just hope tidak ada postingan “Play the hard ball, part III”….

I want to make peace !

 

3 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Apr 25, 2008 @ 22:46:45

    saya juga Pak,hari ini jadi Kimi Raikonnen.
    dua kali lagi (pergi dr rumah ke kampus dan pulang dr kampus ke rumah) di tol kebon jeruk-tangerang.
    waduh2…!!
    nanti deh saya ceritain di blog saya aj.
    uda mlm nih.
    hehehehehehehhee…!!

    Reply

  2. simbah
    Apr 26, 2008 @ 17:34:48

    Saya nggak bisa mbayangin kalo masih tinggal di Jakarta, nyopir sampe berjam-jam. Mobilnya Suzuki Dhisik, sodaranya Keri…wah pantat bisa berasap, duduk di atas mesin….

    Reply

  3. tridjoko
    Apr 26, 2008 @ 20:22:23

    –> Simbah : berbahagialah anda yang sudah tinggal di “kota penuh damai” yang bernama Mbediyun…he..he..he…

    Kemana-mana bisa naik sepeda atau becak…ha..ha..ha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: