Cerita tentang Bekicot dan Jarak Pagar

Ketika saya kecil, di depan rumahku di Madiun banyak terdapat tanaman pohon perdu bernama Jarak Pagar yang memang dijadikan pagar bagi rumah tetanggaku yang berprofesi sebagai petani. Bapak tani itu mempunyai 2 ekor sapi yang selalu diikatnya di depan rumahnya, persis di depan rumahku agak ke kiri. Bila malam, kedua sapi itu ditidurkan di kandangnya yang terletak di belakang rumah pak tani itu..

Kalau siang, kami anak-anak kecil sekitar kampungku suka bermain di jalanan yang ketika itu sangat sepi. Sesekali hanya lewat sepeda dan becak, hampir tidak ada sepeda motor atau mobil yang lewat. Daun Jarak Pagar itu kami petik, kami tumbuk dan kami bermain jual-jualan minyak. “Minyak..minyak…ayo siapa mau beli ?”, kata anak-anak itu gembira. Kadang-kadang minyak daun Jarak Pagar itu kami gunakan untuk menyalakan pelita. Ternyata bisa menyala, persis seperti minyak tanah. Bedanya, Jarak Pagar tidak perlu beli karena tinggal petik !

Di belakang rumahkupun banyak terdapat pohon pisang. Jumlahnya sekitar 20-30 batang. Di udara yang lembab, banyak menempel binatang-binatang kecil menjijikkan di batang-batang pohon pisang. Satu batang pohon pisang bisa menampung sekitar 10 ekor bekicot beserta anak-cucunya (karena banyak pula telur yang berwarna putih di sana-sini). Bagi anak-anak kecil seperti kami, bekicot itu sangat menjijikkan karena baunya amis (anyir) dan selalu mengeluarkan lendir..

Waktu kecil itu kami tidak tahu kalau di Perancis bekicot bisa menjadi makanan mahal (haute cuisine ?) yang disebut Escargot ! Kami juga belum tahu kalau bekicot bisa dijadikan keripik bekicot yang mahal seperti buatan pengusaha makanan dari Kediri dan Blitar..

Jarak Pagar dan Bekicot konon adalah sisa-sisa Perang Dunia II yang baru berakhir kurang dari 20 tahun yang lalu (cerita ini mengambil waktu tahun 1962-1963). Para orang tua kami selalu mengatakan bahwa sebelum Jepang masuk ke Indonesia dalam Perang Dunia II, Jarak Pagar dan Bekicot itu belum pernah ada di bumi Madiun, tentunya di seluruh Tanah Jawa dan mestinya juga di seluruh Indonesia. Selain Jarak Pagar dan Bekicot, sisa-sisa Perang Dunia II yang masih ada adalah beberapa nyanyian Jepang yang sering dinyanyikan oleh Bapak saya, salah satunya berjudul “Waskare” dan “Hinomaru” (apa benar judulnya begini, saya cuman dengarnya begini)..

Jadi, rupanya sebelum atau semasa Perang Dunia II, ada sekumpulan biologist Jepang yang ikut dengan gerakan pasukan ke tanah Asia Tenggara. Mungkin para biologist itu orang sipil, tapi karena ikut berperang mungkin mereka menggunakan baju tentara Jepang, tapi tanpa pangkat. Begitu yang kami dengar…

Nah sekarang di tahun 2008, sore kemarin saya melihat di TVOne seorang pejabat tinggi Indonesia diwawancarai jarak jauh di TV tentang keberadaan sebuah unit penelitian bidang kesehatan yang berada di bawah angkatan laut sebuah negara asing yang perwakilannya ada di Indonesia..

Melihat wawancara beliau, dalam hati saya tersenyum dan kadang-kadang ketawa ngakak karena lucuuuu banget…bahkan lebih lucu dari Srimulat !!

Entah perasaan apa yang ada di hati saya melihat beliau diwawancara dan menjawab seperti itu ? Kagum ? Kasihan ? Gemas ? Senang ?

Saya tidak tahu, kecuali yang bisa saya lakukan hanya mengelus dada. Di masa pemerintahan yang lalu-lalu, seorang pejabat tinggi selalu mempunyai “career track” yang lebih baik. Misalnya seorang yang diangkat sebagai Menteri pastilah dulunya seorang Rektor di sebuah universitas terkenal, atau minimal seorang Dekan di jurusan sangat terkenal di universitas sangat terkenal..

Tapi sejak adanya reformasi, beberapa orang yang latar belakangnya dari antah berantah – atau dengan kata lain “kurang meyakinkan” – diangkat sebagai pejabat tinggi padahal orang tersebut belum mempunyai semua persyaratan yang dibutuhkan : pendidikan, pengalaman, tatakrama, dan sebagainya..

Kalau kecenderungan ini masih diteruskan, di masa datang kalau ada pejabat tinggi diwawancara di TV saya akan siap-siap untuk ketawa keras-keras ibarat nonton Extravaganza di TransTV saja !

Kalau ada seorang yang mengaku berani, lalu mengklaim keberaniannya dengan memegang sebuah granat yang telah dilepas pin-nya dan bunyi desisnya sudah terdengar keras dan orang tersebut bilang, “Saya paling pemberani !”..

Apa perasaan anda ?  Merasa kagum atau kasihan dengan kekonyolan orang tersebut ?

Tanyalah pada rumput yang bergoyang !

 

2 Comments (+add yours?)

  1. rajib
    May 17, 2010 @ 11:36:12

    q gak paham ceritanya dalam itu!

    Reply

  2. tiara
    Mar 12, 2011 @ 07:47:20

    ceritaxa krennnn bangetssss….i like it…

    Thanks….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: