Waker Tebu : Pahlawan atau Musuh ?

Ketika saya masih sekolah dasar di dusun Ngrowo, Desa Mojorejo Madiun sekitar tahun 1963-1964 sekitar rumah saya masih dikelilingi oleh kebun tebu dari Pabrik Gula Kanigoro yang berjarak sekitar 7 km dari rumah saya..

Tanaman tebu pada masa itu dilakukan secara intensif, dengan sistem pengairan yang sangat baik karena dijaga “sinder” (pengawas tanaman tebu). Biasanya pabrik gula menyewa lahan milik masyarakat untuk menanam tebu yang usianya sekitar 18 bulan (?)..

Varietas tebu yang ditanampun adalah varietas unggul dalam pengertian masa itu, yaitu : ruas tebu besar, banyak air tebunya, dan berasa sangat manis. Ternyata sifat banyak air tebunya dan berasa sangat manis ini menjadi magnet bagi anak-anak seusia saya untuk “mencuri” tebu..

Ada hukum tidak tertulis bagi anak-anak kecil macam saya ini, yaitu : boleh makan tebu sekenyangnya asal di dalam kebun tebu. Dan sama sekali tidak boleh membawa batangan tebu keluar dari kebun tebu. Jika itu yang dilakukan, maka anak-anak kecil akan dikejar oleh “waker tebu” (penjaga tanaman tebu)..

Sebenarnya selain tebunya itu sendiri, anak-anak kecil seumuran saya waktu itu juga sangat tertarik dengan kembang tebu yang batangnya keras dan panjang sekitar 2 meter yang disebut “glonggong” itu. Kembang tebu itu sangat indah warna dan teksturnya dan biasa dipakai untuk membuat mobil-mobilan, becak-becakan, kereta-keretaan sama anak-anak kecil..

Nah, di sekitar dusun saya ada tiga orang waker yang sangat ditakuti sama anak-anak seusia saya. Rasa takut bercampur kagum senantiasa menyergap kami-kami semua ini. Betapa tidak ? Waker Marun yang pensiunan tentara dan bergaya seperti cowboy lengkap dengan topi cowboy, baju cowboy, celana cowboy, pistol cowboy, dan naik Jeep Willys itu benar-benar sosok selebriti setempat yang mengingatkan kami akan tokoh cowboy bernama “Jango” yang diperankan oleh Franco Nero dan sering diputar di bioskop Lawu dan Arjuna itu..

Setiap Marun muncul dengan jeepnya yang berjalan pelan di jalan utama perkampungan kami, anak-anak kecil tidak kuasa menatap matanya dan biasanya hanya melirik dengan sudut yang sangat kecil terhadapnya. Ya perasaan antara kagum dan khawatir itu ada. Kagum karena gayanya yang mirip selebriti, tetapi khawatir juga timbul karena ia disebut the meanest and the ruthless dari semua waker tebu yang ada di Karesidenan Madiun…

Tidak hanya Marun yang membuat bulu kuduk anak kecil berdiri bila hanya mendengar namanya saja. Waker Jo Kecuk dan waker Kromo Ndolo juga mengisi relung kalbu dan kosakata anak-anak kecil seusia kami..

Konok Jo Kecuk yang rumahnya di dusun Nggulun itu adalah bekas “kecu” alias pusher…ya kalau bahasa sekarang preman atau jawara setempat lah. Konon kemampuan berkelahinya amat sangat jagoan. Itu dikarenakan karen tubuhnya yang gempal tinggi, dan otot sepir (biceps, triceps) di tangannya yang membuat sosoknya tidak kalah dengan tokoh Smackdown manapun…

Lebih seram lagi adalah Kromo Ndolo yang juga tinggal di dusun Nggulun, di sekitar pesarean (kuburan) Nggulun itu. Konon matanya tinggal satu, persis seperti Jenderal Moshe Dayan dulu. Atau mirip dengan tokoh-tokoh perompak di sequel Pirates of Carribean..

Cuman bedanya, bila Marun setiap sore bisa kita lihat sosoknya yang mengendarai Jeep dan mengawal kereta tebu yang lewat sekitar 100 meter di sebelah timur rumah saya, tetapi kalau Jo Kecuk dan Kromo Ndolo adalah tetap menjadi legenda yang tidak tahu dimana rimbanya dan tiba-tiba ada di depan mata !

Saya malu mengatakannya, tetapi saya pernah tertangkap mencuri tebu, dan dipegang tangan saya yang kecil oleh salah satu dari kedua waker seram itu, dan ditanya apa pekerjaan bapak saya. Setelah saya jawab bukan polisi dan bukan tentara, maka sebatang tebu berukuran jempol orang dewasapun dipukulkan ke pantat saya, persis seperti yang dilakukan oleh algojo di penjara Singapura sana…

Auuh…aduuuh…auuuh…aduuuuh…

Cukup tiga pukulan sekuat tenaga di pantat saya, dan saya tidak pernah mencuri tebu lagi…

Tapi yang seram adalah, memandang wajahnyapun saya tidak berani !!!!

[Epilog : kebun tebu di sekitar rumah mulai habis sejak tahun 1966, dan berubah menjadi perumahan penduduk. Dari sebuah rumah di tengah kebun tebu pada tahun 1960, rumah saya sekarang sudah berada di tengah-tengah kota Madiun yang berkembang pesat pada tahun 2008 ini…]

 

25 Comments (+add yours?)

  1. simbah
    Apr 27, 2008 @ 16:22:27

    Musuh…bagi anak2 penyuka Tebu, pahlawan bagi pabrik gula. Waker Marun, memang benar berpenampilan seperti cowboy adakalanya pake sepeda motor HD. Tapi tebu masa sekarang gak enak dimakan, batangnya kecil keras dan gak manis. Dan diangkutnya ke pabrik tidak lagi memakai lori yg ditarik lokomotif, tapi pake truck ukuran 3/4. Tidak ada ‘waker’ lagi, soalnya gak ada yg mau nyolong.
    Tapi waktu di Jakarta, kok ada ya…yg jualan es tebu, biasanya di terminal bis Pulogadung atau Blok-M, masih adakah Dik Yon..?

    Reply

  2. edratna
    Apr 27, 2008 @ 16:35:24

    Hehehe…kok masih ingat namanya. Saya pernah dicari nenek Rejosari, gara-gara keasyikan makan tebu di kebon bersama sepupu sari Tambakrejo.
    Kenangan manis yang tak terlupakan.

    Reply

  3. tridjoko
    Apr 28, 2008 @ 00:22:34

    –> Simbah : mengenai Marun, kita semua masih mengingatnya dengan jelas mas. Bagaimana kabar Kromo Ndolo dan Jo Kecuk, apa kedua tokoh waker ini benar-benar ada ?

    Karena kalau anak kecil ngobrol kan, antara kenyataan dan khayalan itu jadi satu. Tapi anak-anak di desa saya itu mendengar, kedua waker itu tinggalnya di desa Nggulun, desa sampeyan sekarang to mas ?

    Mengenai minuman “sari tebu”, kapan itu di dekat tempat saya di jalan arteri pinggir tol ada mas. Sekarang ini tidak ada lagi mungkin belum musimnya mas. Tapi minuman “sari tebu” juga banyak terdapat di Singapura dan Thailand lho mas !

    Reply

  4. tridjoko
    Apr 28, 2008 @ 00:25:32

    –> Bu Edratna : yah..kalau kita dulu jalan kaki dari Tambak Rejo ke Rejosari yang jauuuh sekali, sepanjang kiri kanan jalan penuh dengan tanaman tebu. Bahkan beberapa sawah mbah Rejosari disewakan ke pabrik gula Rejo Agung buat ditanami tebu. Nanti pada waktunya nerima sewa tanah plus beberapa karung gula..masih ingat kan ?

    Untung makannya tebu sampeyan di dalam kebon, kalau di luar kebon pasti udah diuber-uber waker…

    Believe it or not, kadang-kadang saya masih suka bermimpi naik sepeda ke rejosari di masa sore hari menjelang hujan, dan kiri kanannya penuh tanaman tebu. Agak seram, tapi menantang gitu ….

    Reply

  5. simbah
    Apr 28, 2008 @ 11:21:14

    Benar…Dik Yon,…memang Arjo Kecuk dan Kromo nDolo…ada dan saya pernah melihatnya, soal di mana dia tinggal, gak jelas. Soalnya dia muncul dan pergi kayak hantu…
    Daerah sekitar desa Rejosari, sekarang masuk kota, jalan aspalnya mulus, apalagi sekarang dibelah oleh ring-road. Bis dari arah Solo harus melintasinya kalau mau masuk terminal Madiun. Demikian juga sebaliknya. Lampunya padhang2, hanya saya belum jelas benar, apakah ada Angkot yg melintasi jalan tsb…Untuk menujunya ada 4 buah jembatan yg tersedia, pertama yg lama dari aloon-2 ngulon trus menggok ngalor, kedua dari jl. Candisewu, depan INKA, yg ketiga dari Jl. Prambanan dan yg ke 4 jembatan ring-road itu sendiri, belum termasuk jembatan kecil di sebelah rel KA….

    Reply

  6. tridjoko
    Apr 28, 2008 @ 12:39:11

    –> Simbah : ya kan mas, Jo Kecuk dan Kromo Ndolo itu ada….tapi yang aneh adalah mereka itu datang dan pergi seperti hantu, kayaknya mereka berdua sudah punya semacam “radar”…yaitu dimana anak-anak kecil nyuri tebu…lha di situ mereka harus hadir…

    Ibarat jaman sekarang adalah CCTV-lah (closed circuit TV)…

    Rejosari yang saya dan Bu Edratna maksudkan itu jauuuuh mas, dulu saja dari PG Rejo Agung kira-kira masih 8 km-an. Dulu waktu kecil kami – ibu dan ketiga anak – biasa naik dokar dari Ngrowo turun pasar Nglames. Lalu dari pasar Nglames ke barat nyebrang kali pakai “tembo” (perahu penyeberangan) yang bayarnya “limang nggelo”…

    Nanti tembus-tembus sudah di sebelah timur desa Wayut, saya lupa apa nama desanya. Nah, sekitar 2-3 kilometer ke arah utara lalu belok ke barat, itulah Desa Rejosari tempat eyangku dari pihak Ibu dulu berasal….ibuku dulu dari keluarga petani…

    Kalau kakek-nenekku dari pihak Bapak asalnya dari desa Pintu, Kecamatan Dagangan, sekitar 5 km sebelah timur PG Pagotan.. kakek-nenekku yang ini dulu kerjanya sebagai “pande besi”..

    Reply

  7. simbah
    Apr 29, 2008 @ 10:05:58

    Lha…iya…itu kan jalan alternatif dari Madiun atau Caruban – Ngawi. Saya pernah menyusuri Jalan dari Winongo, sebelah barat Bengawan Madiun trus…dan teruss.. ke utara, nah ketemu itu Jalan alternatif kalo belok ke kiri arah mBarat/Ngawi…sudah aspalan mulus dan kalo belok ke timur nanti ketemu Rumahnya Kirun, pelawak, itu desa mBagi, Kajang, dan ketemu kembali dgn Jalan ke Nglames…Caruban-Madiun, juga dah aspalan. Cuman jalan2 di Jatim, tidak selebar Jateng. Jadi adakalanya Bis-2 antar Kota liwat situ….oyaaa….jadinya di luar ring-road ya…
    Utk menyiasati banjir di Madiun, bengawannya dilurisin, yg belok2 di desa Kajang dah nggak ada lagi…
    Ya…kecamatan nDagangan sudah jadi kota, saya sering sepedahan sampai ke sana, juga stasiun KA mBabadan dah mulus juga…benar juga kata orang pada waktu kita SMA dulu, bahwa nanti th.2000 pulo jawa akan jadi Kota. Benarkan..?

    Reply

  8. tridjoko
    Apr 29, 2008 @ 12:32:29

    –> Simbah : Wadhalah…jalan itu sudah beraspal semua nembus ke Mbagi lalu ke rumah Kirun ya ? Wah…kalau yang itu saya belum “ngeh”. Mungkin lain kali kalau ke Madiun saya minjem sepeda motor buat “jalan-jalan”…he..he..

    O ya mas, ring-road Madiun dari Njiwan ke utara lalu nembus ke sebelah utaranya PG Rejo Agung itu dulu saya ikut andil mbikin studinya. Jadi ceritanya di tahun 1995 saya dan teman-teman dapat proyek dari Binamarga PU Jakarta untuk mengkaji ulang “jalan-jalan raya Jawa lintas selatan”. Dan termasuk kota Madiun pula…

    Setelah selesai studinya, lima tahun kemudian ternyata jalan itu benar-benar terlaksana. Jadi agak seneng juga sih…

    Reply

  9. simbah
    Apr 29, 2008 @ 16:51:25

    Ya..silakan saja di rumah ada motor satu Yamaha Mio, bisa buat nostalgia…tak ‘bedhek’ mesti surprise…kalo ngliat jalan-2 sudah pada diaspal. Makanya sekarang aloon-2 Mediyun kalau malem minggu selalu rame. Pengunjungnya ya nom-2an yg tinggalnya pinggir kota, wong jalannya sudah mulus. Hanya saja tingkat kriminalnya ya meningkat. Hanya tidak seseru kota besar. Dan kalau sudah mendekati jam 1 dinihari polisi mesti ‘nggusahi’ orang-2 yg masih nongkrong di aloon-2. Kalo nggak gitu, dipake mabuk-2an. Trus berantem.
    Wah…syukurlah, kalau Dik Yon ikut andil mbangun jalan ring-rot itu. Meski tidak pulang ke desa, toh masih sempat mbangun desanya kan?
    Cuman ada sedikit sayangnya, kenapa K.A. jurusan Madiun-Ponorogo tidak dihidupkan lagi ya…?

    Reply

  10. tridjoko
    Apr 29, 2008 @ 19:02:47

    –> Simbah : wah..maksudku minjem motor sebenarnya sama si mbak yang ngontrak rumah saya mas. Motornya kalau nggak salah ada 3, 1 vespa dan 2 bebek. Ternyata mase yang mau minjemi Mio, ya udah gpp, jadi ingat Mio saya yang di Jakarta, warnanya hitam dengan strip gambar api…

    Yah, saya maklum kalau beberapa anak muda Madiun pada mabuk. Lha waktu saya ke Madiun aja, di stadion Wilis baru saja ada pertandingan sepakbola bubar. Penonton yang nyebrang jalan dibantu oleh seorang polisi lalu lintas. Tapi 100 meter ke sebelah timur, di sebelah SMA 1 Madiun itu ke arah selatan ada segerombolan anak-anak muda yang trek-trekan dengan motor bebek. Wah, menurut saya juvenil (kenakalan remaja) di Madiun sekarang lebih norak dibanding jaman dulu. Kalau jaman dulu, minimal kenakalan itu tidak dilakukan persis di depan hamba hukum gitu. Kayaknya Madiun perlu tokoh kuat buat mengedukasi masyarakat untuk hal-hal yang positif. Kalau anak muda baik-baik, saya saran diberi perpustakaan. Kalau anak muda yang ndugal, ya buka aja trek buat balapan motor trail, motor bebek, dan motor sport. Juga buka trek buat mobil off-road dan mobil rally. Pasti dengan sendirinya juvenil akan berkurang karena pada umumnya anak muda memerlukan “pengakuan” dari masyarakat…

    Weleh..weleh..weleh…kalau KA Madiun-Ponorogo dihidupin lagi, berarti nanam rel lagi dong mas di depan Pasar Besar sampai Proliman sampai Sleko-slovakia itu ?

    Reply

  11. simbah
    May 01, 2008 @ 14:56:39

    Yaitu..tuh, sepanjang jl. abdulrahman saleh samping barat SMASA sampai ke selatan depan SMP-4 jalannya lebar dan lengang. Kalau menjelang malam buat balapan pake toh-2an dgn duit. Sebetulnya sudah difasilitasi pemkot, yaitu diplengsengan bengawan, Jl. ahmad yani, belakang rumah Heri Setyo Purnomo dulu, tapi kondisinya sudah rusak diterjang banjir tempo hari….

    Reply

  12. tridjoko
    May 01, 2008 @ 16:45:03

    –> Simbah : wah…jan uedaaan tenan wong Madiun iki, masak daerah permukiman buat balapan ?

    Saya cuman kasihan aja sama hamba hukum yang seolah tidak bergigi. Kalau hamba hukum jaman dulu lebih berani, walaupun beliaunya naik sepeda kalau ada anak mbalap motor tidak di tempat yang diperuntukkan, pasti ditangkep…

    Saya kok usul mendingan sekitar stadion Madiun aja dibuat track balap. Track ellips jadi serasa di Indy 500 di Indianapolis sana…

    Atau kalau mau agak bagus, dibuat track buatan di sekitar stadion Madiun sehingga ada “hairpin” (istilah Jawa “irung Petruk”), “chicane” (tikungan bentuk “S”) dan “fast turn” (tikungan bentuk “U” yang sangat landai) dengan menggunakan ban-ban bekas…

    Dengan demikian, pengendara yang mbalap dan motornya bisa ketahuan apa bener ethok-ethokan apa “for real” ….

    Makanya, pilihlah saya jadi Walikota Madiun !!!

    He..he..he..kok jadi nyolot..!

    Ha..ha..ha..

    Reply

  13. simbah
    May 03, 2008 @ 17:42:45

    Nah ini Dia,…se-7 banget dah….Sekarang pak Bambang Blandong yang lagi nyalon…mungkin sealumni dgn Bu Edratna, beliu lulusan SMASA th-69. Yang jabatannya segera berakhir adalah pak Kokok Raya, alumni SMADA. Usianya sak ‘barakan’ dengan Bu Edratna, juga. Walikota yang sekarang, pak Kokok, lumayanlah..Dik Yon, karena beliau orang asli Madiun, Ibu kandungnya pensiunan Kepala SD Kartoharjo, maka merasa malu kalau tidak berhasil. Beberapakali mendapatkan Adipura utk kebersihan.
    Kembali ke ‘trek-2an’, tempo hari ada even balapan. Yang dipake justru jalan dari depan pemandian Purboyo, kearah timur sampai depan SMASA ada U-turn, kemudian belok kiri yaitu sampai depan SMP-4, muter balik sampai depan Purboyo lagi. Jadi praktis jalan tsb ditutup selama 2 hari untuk lalu-lintas umum. Yah kalo membuat yang baru lagi nggak ada ‘bajet’nya,….wong mau nglebarin jalan Mundu saja, masih terkendala…

    Reply

  14. tridjoko
    May 03, 2008 @ 20:10:42

    –> Simbah : wah..kabar gembira kalau gitu mas, di Madiun dibikinkan “Sirkuit Balap”…

    Saya sebenarnya kasihan sama anak-anak muda yang haus hiburan dan “aktualisasi diri” itu…

    Alasan “minimnya budget” sebenarnya bukan alasan karena dimana-mana di Indonesia ini yang namanya budget ya minim. Mungkin yang banyak duwit di Indonesia kan perusahaan rokok sama perusahaan Telekomunikasi sama perusahaan Otomatif. Jadi, rangkul aja mereka kalau proposal kita bagus kan pasti ada respons dari mereka. Syukur-syukur Madiun menjadi salah satu tempat event apa ya…Indoprix kali ya..

    Saya dulu waktu SMA walaupun tak punya motor, hampir setiap weekend diajak kebut-kebutan sama teman-teman. Maksudnya saya yang mbonceng, temen yang nyupiri. Beberapa teman jatuh dan “babak bundhas” antara lain teman kita Agus Ardiyanto III PAS-3 itu sempat jatuh nyungsep di tengah kebun tebu karena menghindari lubang dan dipepet bis. Padahal itu 2 minggu sebelum ujian, jadi pas ujian SMA tangannya “cekot” dah…

    Ha..ha..ha..

    (anehnya, setelah saya lulus SMA ibu saya baru “dapat” arisan sepeda motor Honda bebek C70 warna merah, yang 6 bulan kemudian saya bawa ke Bogor. Desember 1975 itu harga motor Honda bebek Rp 262.500 dan cicilan arisan per bulan Rp 10.600 selama 26 bulan)…

    Reply

  15. ardianto
    May 04, 2008 @ 09:08:28

    Pak Tridjoko menulis:

    Rejosari yang saya dan Bu Edratna maksudkan itu jauuuuh mas, dulu saja dari PG Rejo Agung kira-kira masih 8 km-an. Dulu waktu kecil kami – ibu dan ketiga anak – biasa naik dokar dari Ngrowo turun pasar Nglames. Lalu dari pasar Nglames ke barat nyebrang kali pakai “tembo” (perahu penyeberangan) yang bayarnya “limang nggelo”…

    Nanti tembus-tembus sudah di sebelah timur desa Wayut, saya lupa apa nama desanya. Nah, sekitar 2-3 kilometer ke arah utara lalu belok ke barat, itulah Desa Rejosari tempat eyangku dari pihak Ibu dulu berasal….ibuku dulu dari keluarga petani…

    Ah, kebetulan saya menghabiskan masa kecil di desa sebelah barat sungai itu.
    Sampai kini saya kalau mudik lebaran masih ke desa ini Pak…
    Nama desanya Krokeh Pak. Dulu tahun 1990-an waktu saya masih kecil masih ada lori-lori kereta tebu yang lewat jalur itu.
    Tentang perahu itu, sekarang sudah punah Pak, terbawa banjir besar Sungai Madiun beberapa waktu lalu
    (Yang juga merobohkan jembatan Takeran kalau tak salah)
    Terakhir saya naik perahu itu lebaran 2007 lalu.
    Perahu yang sudah melayani penyeberangan sejak zaman kemerdekaan, zaman pemberontakan PKI, zaman Orde Baru, hingga Reformasi itu tinggal kenangan.
    Hanyut terbawa banjir…

    Reply

  16. simbah
    May 04, 2008 @ 13:21:51

    Wahhh…..slamet…slamet…sampiyan sebrani itu…nggonceng pitmotor trus ngebut..? Inget gak teman sekelasku mendiang Handoyo, anake toko Handoyo ngarep pasar, goncengan sama Didiek, anake pak Slamet Hardjoutomo, Bupati Mediun wektu itu. Jam pelajaran kosong trus dolan. Ditabrak bis majoe di jl. ahmad yani, tiwas gitu…untung si Didiek slamet. Dia terlempar dan cuma beset-2. wahh.. berati nyowo sampiyan rangkep tuh….he…he…

    Reply

  17. tridjoko
    May 04, 2008 @ 14:21:31

    –> Mas Ardianto : terima kasih infonya tentang nama desa yang di dekat desa Wayut itu….ya mas, saya jadi inget nama desanya adalah Krokeh…

    Satu lagi mas, di sebelah timur desa Krokeh (di sebelah timur jalan besar utara-selatan) itu nama desanya apa mas ? Saya juga punya saudara di sana dan saudara saya itu sering menyebutkan nama desanya, tapi kok saya mau bilang…ilang aja dari memori he..he..he…

    Wah, tembonya juga hanyut keterjang banjir terakhir di Madiun ya mas. Memang mas, banjir Madiun 2008 kemarin ini hampir sebesar banjir tahun 1966 dulu waktu saya masih SD. Tidak heran, semuanya pada hanyut dan kintir dan keli…

    Mudah-mudahan nanti ada yang mbikin tembo lagi, minimal mengingatkan bagaimana dulu Joko Tingkir menyeberang sungai dan menaklukkan puluhan buaya…ha..ha..ha..

    Reply

  18. tridjoko
    May 04, 2008 @ 14:28:58

    –> Simbah : nyawa saya cuman satu mas, kalau nyawanya sembilan…lha itu kucing namanya !

    Wah..jangan salah persepsi mas. Saya dulu kalau diajak ngebut dengan cara dibonceng, yah…kecepatannya cuman 80 – 100 km/jam doang. Pernah dibonceng Kikiek pakai Suzuki 100 cc dengan kecepatan segitu, atau Agus dengan Honda CB 125 dengan kecepatan segitu…

    Nah, bila pas kita lagi boncengan ada motor lain yang nyelip pakai oli Castrol yang baunya “harum” itu, oleh anak-anak Madiun waktu itu, hal itu bisa diartikan sebagai “tantangan”…maka dikejarlah motor ber-Castrol itu…

    Tapi kalau pas balapannya, yah semacam “drag race” lah, saya turun dari motor mas. Lha drag race kan nggak boleh bawa boncengan. Lha pas saya nonton dari bawah itu, mereka pada nyungsep jatuh. Jadi saya sendiri aman, slamet, waras, wiris. Termasuk slamet dari dimarahin oleh Bapaknya Agus yang waktu itu langsung memberi kuliah sebanyak 6 sks (3 jam !!!!) kepada para “pembalap amatir” itu lho !

    Ya saya masih ingat Handoyo dan Didiek itu, yang menyebabkan SMA 1 Madiun dulu anaknya rambutnya gondrong-gondrong, karena Handoyo dan Didiek diminta pulang untuk cukur karena rambut keduanya gondrong. Padahal mereka tidak pulang cukur, tapi malah balapan motor…eh sorry, ngebut ding ! Yang kasihan orangtuanya Handoyo, karena ia anak laki-laki satu-satunya !

    Reply

  19. ardianto
    May 05, 2008 @ 08:07:06

    [Pak Tridjoko]
    Jangan panggil Mas lah Pak, saya nggak enak..
    Kan saya jauh lebih muda dari bapak, panggil Dik saja…

    Kalau sebelah Timur jalan besar itu kurang tahu saya Pak. Kalau tak salah namanya Jagabayan (Nglames ya?). Saya jarang main ke sana soalnya.

    Ah, iya Pak, mudah-mudahan ada yang menghidupkan lagi perahunya, sekarang nggak ada lagi sarana penyeberangan di sana, jadi kalau mau nyeberang harus lewat Ringroad atau jembatan kecil di dekat PG Rejo Agung sana.

    Tahun 1966 Banjir besar ya Pak? Wah, berarti infrastruktur sungainya udah harus dibenahi lagi.

    Reply

  20. judi kasturi
    Oct 24, 2008 @ 23:57:25

    Mas Tridjoko,

    Rupanya -untuk cah Madiun- golek tebu itu sudah menjadi kebiasaan yang umum. Kalaui waktu SD hanya lokalan saja di seputar desanya. Kalau saya di Taman, tentu waker yang panjenengan sebutkan Pak Maron, Kromondolo dan pak Setu, sudah terlajur melekat di benak. Kadang, kita mikir waktu itu hanya njaraki Waker saja. Mloya mlayu oyak2an. Nek sing neng elor di uber Waker, sing kidul “nyerang” mbacoki tebu ne. kalau ada yang ke cekel, rasanya koq melu nggiris.

    Rupanya, nggolek tebu itu juga susai dengan usia. waktu kecil, saya paling berani golek tebu. tapi hanya tebu bibit. Alasannya, waker tak begitu nggatekne. Lha pas agak besar, sudah berani ikut rombongan golek tebut di waktu malam. serombongan dengan kawan2, dengan pisau dan tali, masuk kebun tebu di waktu malam, bareng2 nebangi. Heran, koq berani ya? Petenge ndedet lelimengan, mikul tebu bongkokan.

    Selang, rada de sithik, kebun2 tebu sudah menjauh dari rumah saya, sudah mulai malas. Yang tadi nya di pinggir Kali Kunto ada kebun tebunya, lama – lama ngeten dan negtan dan jalak Salak sudah terbebas dari kebun tebu.

    Rupanya, kawan2 di SMP 2 madiun dulu, juga sama waktu kecilnya ya golek tebu. Lewat perantaraan kawan di Mangunharjo, kita ikutan goleh tebu di sana. Ancer2nya di belakang markas tentara 501. Wah, tebu nya mlentus – mlentus. Gigi masih rangas mangan sak karepe. Hanya saja, kalau mau bawa pulang yang takut. masak tolang – tolang ber sepeda mbongkoki tebu.

    Ada yang khas di kebon tebu di Mangunharjo itu. walu tebu nya mak nyus, tapi tempat itu juga tempat buang hajat. jadi kalau nggak teliti ketika berjalan, bisa mak nyus, kaki keplenyok he he he

    Reply

  21. tridjoko
    Oct 26, 2008 @ 23:02:18

    –> Mas Judi Kasturi :

    Hehe…pantes tebu Mangunharjo belakang 501 rasanya maknyus…soalnya mendapat “pupuk” tambahan terus…hihihihi…

    Sama dong dengan ayam kampung yang dagingnya rasanya maknyus..karena kalau ada anak kecil “begitu”…langsung saya di-thotholin…hihihi…

    Saya dulu waktu kecil juga suka nyolong tebu, tapi cuman masuk kebon tebu di sekitar Jalan Salak, lalu milih tebu yang paling “ranum” di dalam kebun tebu yang sudah siap ditebang, dan makan di situ sekenyangnya. Tidak berani membawa keluar kebun tebu karena takut ditangkap satu di antara waker-waker legendaris jaman itu yaitu Marun, Jo Kecuk, dan Kromo Ndolo dan dibawa ke Pabrik…whelhadhalah…kapan pulangnya ntar ?

    Mencoba membawa barang 5 batang tebu keluar kebun tebu juga pernah, tapi langsung ketangkep waker (untuk bukan salah satu dari 3 waker legendaris itu) karena nyolong tebunya berangkatnya sudah kesiangan, jadi keluar kebun tebunya juga sudah siang terang benderang…

    Akhirnya 1 batang tebu ukuran 1/2 inch dipukulkan bertubi-tubi ke pantat saya yang kecil oleh waker tadi setelah pertanyaan waker tadi “Apa pekerjaan orang tuamu ?” jawabannya bukan “tentara” atau “polisi”…

    Setelah peristiwa itu, saya nggak pernah nyolong tebu sendiri. Senengnya ikut makan tebunya saja tapi yang nyolong anak-anak lain yang badannya lebih gede-gede. Biasanya jalur rel kereta tebu diberi pelumas berupa vaselin yang beli di Pasar Besar Madiun, lalu begitu lokomotif kereta tebu rodanya selip (istilah anak Madiun “gonjor”), maka anak yang bertugas “mengambil” ikatan tebu dari atas kereta tebu segera beraksi…

    Dan itu bisa dilakukan kalau malampun semakin gelap…hahaha…

    Reply

  22. judi kasturi
    Oct 30, 2008 @ 11:01:52

    Mas Tridjoko;

    Waktu saya masih SD, sobo sawah memang sudah masuk jadual tetap. Lajimnya abis pulang sekolah. Srengenge sudah nggeser posisinya dari tengah ubn-ubun. Nanti hampir magrib baru pulang.

    Di sawah, ada beberapa mainan yang cukup rutin. Adus kali Kunto, terutama Blender. Blender itu tampat muaranya kali- kali kecil di tengah sawah di desa Taman. Cuma bagi saya yang masih kecil, ora wani adus Mblender, nggeser di kali sebelahnya yang cukup jernih. Namanya Wadas. Blender dan Wadas masih kelihatan, kira2 di belakang SMA 4, jl Serayu, Madiun. Sekarang sudah menjadi parit biasa. Mirip pecren.

    Tak jauh dari Blender itu, banyak kebon tebu. Kalau seperi saya bearninya masuk kebo tebu bibit. Pejagaannya relatif tidak ketat seperti tebu gede.

    Disamping adus kali, yang rutin ya angon Wedus. Angon Medus ini juga sulit pertama kalinya. Wedus yang biasa mangan rambanan, ogah merumput. Ada cara khusus, setidaknya untuk Wedus saya. Mono, pengangon Wedus yang sudah senior, memutar-mutarkan Wedus sampai ngos-ngosan. Baru Wedus kelaparan, mau melirik rumput. Itupun belum mau lahap.

    Di sebelah tempat saya angon Wedus, tak jauh dari rumahnya si Mbah, sempat ada pangkalan terbang utnu Ciba Pilatus. pesawat2 itu konon bertugas menyemprot hama tanaman.

    Sawah di desa Taman, sempat juga ditaanami semangka. Lha ini juga menarik bagi pangangon seperti saya. Begitu lengah penjaganya, para senior pengangon merogohkan arit dan buah semangka siap diranggeh tangan he he

    Kebon tebu pun mulai menjauh dan semangka pun mulai tak ditanam. Seiring pula, rumah – rumah mulai dibangun berjejer di jalan Salak. Ada dunia yang hilang, minimal tak dinikmati anak – anak madiun sekarang. Kalau kita terlatih untuk bersiasat menghindari Pak Kromondolo, anak-anak sekarang sibuk dengan ding – dong.

    Reply

  23. tridjoko
    Oct 31, 2008 @ 09:53:03

    –> Mas Judi Kasturi :

    Wah…hobby kita dulu sama ya : angon wedus dan mandi di kali… 😉

    Saya dulu wedus saya ada 1 dengan 4 anaknya, jenisnya wedus Jawa alias kambing (bukan domba). Tapi domba laki saya juga pernah punya, lucu banget. Kemana saya pergi si Domba itu selalu ikut. Makanya kalau saya lagi mandi, si Domba akan menunggu di depan kamar mandi. Celakanya, pas kita main petak umpet dan saya naik ke atas pohon….si Domba mengembik terus di bawah pohon yang saya panjati….sambil melihat ke atas ! Pantas saja saya selalu kalah kalau main petak umpet. Aya aya wae….

    Saya juga suka mandi di Kali Mblender….tapi kalau Mblender yang saya sebut ada di perbatasan antara Dusun Ngrowo dengan Desa Manisrejo di sebelah timur. Kali Mblender itu ada air terjunnya dengan sudut kemiringan 45 derajat !!! Wah…seruuu dan seraamm….makanya teman Bapak saya menangkap saya yang lagi telanjang mandi di kali dan membawa saya pulang supaya tidak “kecebur” di air terjun yang sangat curam itu….

    Bagi saya, lebih baik kita dikejar Marun, Jo Kecuk, dan Kromo Ndolo daripada tidak. Soalnya kalau tidak, hidup kita akan terlalu enak dan nyaman sekali….hahahaha…

    Reply

  24. Masduki
    Feb 10, 2009 @ 01:42:56

    Kepada Yth. Bapak/Ibu/Sdr/Sdri.
    Saya Masduki di Jambi. Saat ini di Jambi telah banyak dibudidayakan tebu buah sebagai bahan membuat es sari tebu yang menyegarkan. Tebu buah Jambi besar-besar dan airnya banyak serta memiliki rasa khas yang tidak dimiliki tebu dari daerah lain, sehingga cocok untuk dijadikan bisnis es sari tebu. Bila Anda berniat membuka usaha se sari tebu, saya siap untuk menjadi suplayer. Berminat silahkan call ke 081373212009.
    Terima kasih atas perhatiannya.
    Hormat saya
    Masduki

    Reply

  25. Sayogi Harto
    Jun 02, 2012 @ 17:22:42

    @mas ardianto sampyan asli mana kok mengenal ds krokeh segala,masalahnya saya asli orang krokeh utara,klau gitu slam kenal,saya dah lama cari via fb org krokeh nggak pernah ktemu,sy tinggal di bekasi…

    Mas Sayogi,
    Kakeknya mas Ardianto itu asli Krokeh. Rumahnya menghadap ke utara, pelatarannya luas dan bisa buat menjemur padi. Kalo Simbah saya asalnya dari Desa Rejosari, persis di depan SD Rejosari yang dulu ada rel kereta tebu di depannya. Tapi terakhir saya ke sana, rel kereta tebunya sudah tidak ada…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: