Lembu Sekilan

Pada awal-awal tahun 1970-an mungkin sangat sulit menemukan anak muda di kota masa kecil saya Madiun, yang belum membaca cerita bersambung (cerbung) SH Mintardja yang berjudul “Nagasasra dan Sabukinten”..

Cerbung itu bercerita tentang hilangnya sepasang senjata “sipat kandel” (the most prestigious weapon that supranaturally can empower the owner) Kerajaan Demak berupa keris. “Nagasasra” adalah sebuah keris dengan luk berjumlah sembilan yang menggambarkan sebuah naga dan terbuat dari emas. Sedangkan “Sabukinten” adalah keris dengan luk lurus dan bertatahkan berlian yang menjadi pasangan abadi dari “Nagasasra”..

Konon dicurinya kedua keris tersebut dari Gedung Benda Pusaka Kerajaan Demak dilakukan dengan cara “menyirep” terlebih dahulu, dan seorang perwira sandi Demak yang bernama Rangga Tohjaya sempat terkena sirep hebat itu tapi ia masih bisa melihat sekelebatan seseorang yang mencuri keris tersebut dengan baju abu-abu dan muka ditutup topeng…

Sejak itu, konon Rangga Tohjaya ditugasi Kerajaan Demak untuk memburu kedua keris tersebut agar dapat dikembalikan ke Demak, dan tahap pertama dalam perburuannya Rangga Tohjaya mengubah namanya menjadi Mahesa Jenar agar tidak dapat dikenali…

Dan bagi anak-anak muda seumuran saya pada waktu itu, paling menarik adalah aji-aji atau kemampuan apa saja yang dipunyai oleh Mahesa Jenar yang sakti itu (tapi belum terlalu sakti karena masih banyak orang yang kesaktiannya seangkatan gurunya yaitu Ki Ageng Pengging Sepuh).

Bagi saya pribadi, yang menarik adalah aji-aji Mahesa Jenar yang bernama Sasrabirawa yang bisa memecah batu dan tanggul. Di samping itu adalah Lembu Sekilan yang konon tubuh tidak bisa ditusuk dengan benda setajam apapun karena tubuh seolah-olah dilingkupi oleh semacam gelembung yang berjarak 20 cm (menurut istilah Jawa jarak 20 cm disebut “sak kilan” atau “sekilan”)..

Dengan anak-anak muda teman saya sedusun, kelihatannya kami sudah mendapat sedikit-sedikit aji Sasrabirawa karena kami sudah mulai bisa memecahkan satu dua batu bata “curian” yang sering dibawa ke rumah saya di waktu malam (“curian” karena pada waktu itu kita tidak bisa membeli 1-2 bata saja di toko bahan bangunan). Tentu saja untuk melakukannya kami banyak latihan fisik dan membentuk semacam “dojo” di depan kamar saya. Di sana kami memasak sansak (papan untuk latihan pemukulan), karung pasir yang digantungkan di pohon mangga, meja sit up, dan sebagainya.

Anehnya, saya dan teman-teman sebelum tidur selalu melakukan “sambung” alias perkelahian bela diri tapi tidak terlalu serius. Misalnya yang satu sedang menendang, maka yang satu menangkis, demikian seterusnya. Kamipun melakukannya agak sungguhan, tapi kalau ada yang kena, maka ketawalah kami semua…

Sampai pada suatu hari, kami diberitahu kalau kami akan memburu aji Lembu Sekilan…

Wah, berita yang menarik. Maka kamipun menyiapkan diri secara fisik dan mental untuk mendapatkan ajian itu. Betapa asyiknya bagi kami anak muda seusia kami bila ditusuk orang akan bunyi “tung..” karena tidak bisa kena ke badan kami..

Akhirnya pada suatu malam purnama mati, kamipun sebanyak 10 orang bersepeda ke arah barat dari kota Madiun. Setelah bersepeda sekitar 4 km kamipun menemukan sungai buatan yang digunakan untuk mengairi sawah-sawah yang ada di sekitarnya. Kamipun masuk menyusuri sungai itu ke arah selatan kira-kira sekitar 1 km. Dari sungai yang cukup lebar itu kamipun masuk pematang sawah selebar 1 meter yang di sampingnya ada saluran irigasi lebarnya sekitar 1,5 meter dan sedalam 70 cm. Kamipun memarkir sepeda di pematang irigasi yang cukup lebar itu, dan menurut perintah kami diharuskan telanjang bulat.

Maka kamipun mencopot semua baju yang ada di tubuh, dan setelah telanjang bulat di malam yang sunyi itu, kamipun berendam di sungai dengan posisi kaki dilipat seperti bersila, tangan dilipat ke depan, dagu ditarik dan dalamnya air di sungai kecil ini tepat berada di bibir kami alias kami terbenam dalam posisi duduk bersila sedalam bibir kami.

Kamipun bersila dengan jarak 2 meter dengan orang di depan dan di belakang kami. Kami dianjurkan berdiam diri dan tidak boleh berkomunikasi sampai dinyatakan selesai. Apapun yang terjadi kami tidak boleh berkata apa-apa…

Sepuluh menit kami berendam di malam yang gelap itu tidak terjadi apa-apa. Tiga puluh menit kami berendam lewatlah tiga orang pencari katak yang agak keheranan dan mungkin setengah takut melihat selusin orang bertelanjang bulat di sungai. Empat puluh menit kami berendam, lewatlah dua orang desa naik sepeda yang mungkin juga heran akan apa yang kami lakukan…kami terus berdiam diri dan tidak berkata-kata…

Sejampun berlalu. Banyak sekali ikan kecil yang notol-notol (menggigit-gigit) di tubuh kami. Kepiting kecilpun tahan lama berdiam di wudel (pusar) kami. Teman si kepiting yang juga kepitingpun menggerus pasir di bawah lubang penglepasan kami. Tapi yang paling tidak tahan adalah beberapa lele kuning alias “the yellow submarine” yang dari tadi sengaja menempel ke bibir kami. Apapun bendanya dan bagaimanapun baunya, kami dilarang bicara….

Dua jam kami berendam, si pemimpinpun bilang “Yak, selesai. Silahkan pakai baju kembali”..

Kelihatannya ia agak kecewa karena Lembu Sekilan belum mampir kepadanya dan kepada kami semua di malam yang sunyi itu. Dia bilang, “Lain kali kita mencoba di sendang yang lebih sepi dan lebih sunyi daripada di sini”…

Sayapun merasa tidak mendapat apa-apa, apalagi aji sakti yang bernama Lembu Sekilan tersebut. Tapi satu hal yang pasti, saya bisa berkonsentrasi tentang apapun dengan lebih baik dan hal itu sudah cukup bagi saya untuk menjalani hidup dan kehidupan ini…

Ya di jaman pembangunan belum sepesat sekarang ini, lampu listrik belum masuk desa-desa, dan stasiun televisi baru satu yaitu TVRI dan belum semua orang mempunyai teve, ternyata banyak hal yang bisa kita lakukan pada waktu itu dan tidak pada masa sekarang…

Lembu Sekilan..oh Lembu Sekilan…dimana engkau ?

 

Cheap lappie, Dad !

At one day, my youngest daughter Ditta miscalled me at my handphone. She is studying at Bandung right now and usually so stingy to buy the handphone voucher by herself. At once, I call her and just to say Hi..

“Hi Ditta, what’s up ? How’s your final project going ?”, I opened the talk..

“I am just fine, next week would be my turn to present my final project result. This week both of my advisors asked me to beautify the result”, she said..

And as usual we discussed a lot of things, from garden to cats and from the students’ demonstration in  Jakarta to my plan to visit Makassar soon..

“So when are you going to Makassar Dad, and for how long ?”, she asked me..

“Well, my flight would be Tuesday morning on the 27th and we will visit our partner’s office to prepare the meeting for the next morning. The 28th of May would be for FGD (Forum Group Discussion) the whole day, and the last day on the 29th would be a free day. Maybe I can buy something. “Badik” weapon will be my first hunt since I’ve already had the “Rencong” from Aceh”..

“Ooh badik ? So scary…”, she said. “No..no..it’s not for you, I will buy the badik and give it to your friend instead. It is only a badik replica after all”, I explained to her. “In that case, it’s ok then”, finally she felt a little bit relieved…

“Dad, there are lot of cute, small, and cheap lappies in BEC (Bandung Electronic Center)”, she began to discuss something “techy”.

“What brand ?”, I asked curiously..

“Some of them are Acer, and there are other less wellknown brands as well”, she explained about her “finding”…

“So why you just didn’t buy it ?”, I began teasing her..

“What…buy ? I didn’t have that much money, Dad !”, she laughed..

“Who do you think you are ? Buying cheap lappie at BEC..”, I teased her again…

“Oh yeah I know, I am not a daughter of the BRI Director, am I ?”, she laughed like hell and finally she realized that dreaming so high than reality is wrong…

She continuedlaughing when I said “Bye”…

In fact, she’ve already have a lappie, a new lappie with a slow processor. But for writing paper, etc. that lappie is good enough. The only problem it has a wide screen, i.e. 15.4 inch, so big and so heavy to carry. She imagined how nice if she had a 14 inch lappie, 13 inch lappie, or even 12 inch lappie…

If and only if I am a Bank Director, her request is so easy…

 

Jakarta Normal pasca kenaikan BBM

Kemarin malam waktu saya lagi nonton pertandingan badminton antar RT saya dengan RT tetangga dalam rangka 17 Agustusan 2008, anak saya yang lagi nonton TV sms bahwa pemerintah sudah menaikkan harga BBM terhitung mulai hari Sabtu, 24 Mei 2008 pukul 00.00…

Paginya, saya terpaksa bangun pagi-pagi karena isteri sudah menelpon minta dijemput di Stasiun Gambir. Dia baru datang dari Malang naik KA Gajayana. Wah..sebenarnya saya agak reluctant menembus lalu lintas Jakarta di hari pertama kenaikan BBM. Takut ada kenapa-kenapa…

Tapi eeee..ternyata lalu lintas lancar, kehidupan berjalan terus dan harus tetap berjalan. Suasana fisik yang saya tangkap dari lalu lintas di Sabtu pagi yang lumayan sepi itu terlihat lancar. Namun, entah apa yang ada di hati rakyat, terutama rakyat marginal dan terpinggirkan…

Sebenarnya saya sudah menyiapkan Al Qur’an kecilku untuk menemani perjalananku. Al Qur’an yang dulu menemani saya di dashboard mobil dalam menembus lalu lintas Jakarta pada hari Jumat pagi, tanggal 14 Mei 1998 karena saya harus menjemput isteri saya yang malam sebelumnya terpaksa tidur di kantor karena tidak berani pulang mengingat kondisi Jakarta pada waktu itu. Sebenarnya saya ingin membawa belati, pedang atau rencong. Tapi karena situasi demikian gawat, saya pikir waktu itu buat apa membawa-bawa benda-benda seperti itu, lebih baik membawa Al Qur’an sebagai tanda bahwa saya serahkan hidup mati saya kepadaNya. Ternyata Jakarta Jumat pagi 14 Mei 1998 itu begitu sepi, keramaian justru baru dimulai di pinggir kota termasuk di kompleks perumahan saya dimana semua orang sudah menghunus pedang…entah untuk apa. Saya tenangkan mereka semua, karena kondisi jalanan di Jakarta justru tentram nggak ada apa-apa. Akhirnya satu per satu dari mereka menyarungkan pedang masing-masing dan pulang ke rumah dengan tenang…

Itu kejadian 10 tahun lalu..

Pagi ini 1 liter premium harganya sudah Rp 6.000 setelah kemarinnya harganya Rp 4.500. Saya belum sempat ngisi bensin sih soalnya kemarin sore tangki Camry-un saya sudah saya penuhi…

Dengan kenaikan BBM kali ini kehidupan bakal lebih sulit, tapi mari kita berharap bahwa semuanya akan lancar-lancar saja…

[Dari tahun 1982-2004, dosen Binus selain Honor Mengajar yang dihitung per jam juga menerima Uang Transport yang dihitung per 2 sks. Namun mulai 2005 Honor Mengajar dan Uang Transport digabung menjadi satu paket, sehingga bila ada kenaikan harga BBM seperti saat ini tidak mungkin kita minta kepada Binus untuk menaikkan uang transport…soalnya uang transport tidak ketahuan berapa x dan berapa y-nya….he..he..]

[Konon harga 1 liter premium di Indonesia yang Rp 6.000 per liter masih lebih murah daripada Rp 8.200 di Singapura, Rp 8.000 di Thailand, Rp 7.000 di Malaysia, dan Rp 7.500 di Filipina. Tapi tingkat pendapatan di masing-masing negara itu berbeda-beda…]

 

Kamis 29 Mei 2008 kelas 08PAV dan 08PAT libur

Berhubung Kamis tanggal 29 Mei 2008 nanti saya bertugas ke Makassar dalam rangka Workshop Teknologi dan Manajemen Transportasi dengan segenap stakeholders di Sulsel, maka untuk kelas 08PAV Sistem Pakar dan kelas 08PAT Skripsi e-Application pada hari itu DILIBURKAN..

Kuliah pengganti diadakan pada hari Rabu tanggal 11 Juni 2008 dengan jam sama (Kelas Sispak mulai 09.20 dan Kelas Skripsi mulai 11.20), tetapi ruang tunggu pengumuman lebih lanjut…

Untuk kelas Sispak silahkan belajar bahan kuliah yang ada di Binusmaya dan coba kerjakan beberapa soal yang ada di sana, di samping mempelajari lebih lanjut Fuzzy Logic khususnya diaplikasikan untuk “Stable Marriage Problem“..

Untuk kelas Skripsi e-Application, program (code) anda harus mulai jalan dan jangan sampai ketinggalan kereta. Masukan-masukan dari saya waktu demo pagi tadi tolong dicatat dan dijadikan bahan perbaikan program anda selanjutnya. Dua minggu lagi, definitely Bab 3 harus sudah selesai. Kalau tidak, skripsi anda bisa dibilang “tidak layak” dan anda terpaksa mengulang semester depan ! Kalau program sudah berjalan dengan sempurna, hasil bisa di-“print screen” dan di paste ke Bab 4. Anyway, waktu tinggal sedikit lagi dan tanggal hari Kamis tanggal 12 Juni 2008 adalah WAKTU TERAKHIR untuk mengumpulkan skripsi versi soft cover. Kerjakan hal-hal yang sepele dulu seperti Daftar Isi, Abstrak, Kata Pengantar, Daftar Riwayat Hidup (jangan lupa foto 4 x 6 !), dan sebagainya…

Good luck !

 

You Tubing (Part III): Lagu 60an dan 70an

Atas permintaan teman baikku sejak SMP hingga SMA yaitu Mas Purwoko Adi alias Simbah, sayapun search di You Tube apa ada sih lagu-lagu Keroncong dan lagu-lagu tahun 60-an ataupun 70-an…

Wah…hasilnya sungguh mengagetkan !!! Lagu-lagu keroncong hampir semuanya lengkap, walaupun ada yang diiringi benar-benar dengan musik keroncong yang “unplugged” (akustik saja) tapi ada juga yang diiringi dengan organ tunggal yang menurut saya “kurang cool“. Penyanyinya dari kelas berat macam Mus Mulyadi dan Sundari Sukotjo sampai dengan jeng Endang Setyawati dan mbak Tuti Tri Sedya yang sering diundang dalam acara bapak-bapak Jendral itu…

Hampir semua lagu keroncong dari jaman Ismail Marzuki dan Gesang ada di You Tube: dari “Sepasang Mata Bola”, “Jembatan Merah”, sampai “Rangkaian Melati”. Jika iringannya musik keroncong versi akustik…wah gayeng tenan mendengarkannya, bahkan sayapun sampai lupa hari ini sudah tanggal 20 alias “tanggal tua” (ingat Mario Teguh berkata, “gaji delapan koma” artinya tanggal delapan sudah koma…ha..ha..ha..)…

Sesudah puas mendengarkan lagu-lagu keroncong, saya mulai mencari di You Tube lagu-lagu tahun 1960an dan tahun 1970an.. dan….

BINGO !!!   Saya dapet !!!

Ternyata ada orang baik budiman di luar sana yang masang di You Tube album pertama dari Dara Puspita yang saya setel penuh selama 17 menit lebih !!! Dari lagu “Marilah Kemari”…sampai “Ali Baba”. Sayang waktu habis, saya belum sempat menemukan lagu Dara Puspita yang legendaris seperti “Surabaya” dan “Bandung Selatan di Waktu Malam” (lagu yang belakangan ini, saya dulu suka menyanyikannya bareng tetangga sebelah rumah Agus Ardiyanto secara “akapela”…)…Alamat lagu Dara Puspita di You Tube adalah : http://www.youtube.com/watch?v=q3EsGTARR1Y

Lagu-lagu D’Lloyd (dari nama perusahaan kapal Djakarta Lloyd) juga lengkap, masih asli dengan suara Sam dan Bartje Van Houten yang mantap punya itu, dari “Semalam di Malaysia” sampai “Titik Noda”. Cuman sayang saya cari lagu “Palembang di Waktu Malam” tidak ada…

Lagu-lagu The Mercy’s juga masih lengkap, dari “Kisah Seorang Pramuria” sampai “Awal dari Cinta” (lagu belakangan ini saya suka menyanyikannya duet dengan Azis Hidayat waktu kelas III SMP di pelajaran menyanyi yang gurunya Pak Tab)..

Lagu-lagu tahun 1960an lainnya masih banyak, sayang bukan dinyanyikan penyanyi aslinya yang “kelas berat” macam Alfian, Onny Suryono atau Ernie Djohan. Jadi lagu “Senja di Batas Kota”, “Senja di Kaimana”, “Semalam di Cianjur”, sampai “Teluk Bayur” ada dan lengkap…

Cuman sayang, lagu biduanita pujaan saya di masa lalu Anna Mathovani tidakada…

Wah, terima kasih You Tube, anda telah melemparkan diri saya ke masa lampau semasa masih SD dan semasa kakak-kakak perempuan saya dalam masa “memeti” dan suka menyanyi-nyanyi sambil membaca lirik di majalah kecil “Swara Nada“…

The Radio Days……were really good old days…

Kalau penasaran, coba sendiri deh, di mesin pencarian Google masukkan kalimat pencarian “You Tube Senja di Kaimana” misalnya, maka anda akan siap menyanyi sebuah lagu tahun 1960an…

Hati-hati, hati boleh senang tapi jaga tenggorokan…

Natalie Portman dan David Letterman

Ketika Friendster masih “in”, saya sering ngintip FS-nya teman-teman anak saya. Yang mengesankan adalah, kebanyakan anak lelaki mengidolakan Natalie Portman. Pada waktu itu, saya masih belum “ngeh” apa alasannya…

Sedangkan di FS saya, saya sebutkan bahwa acara TV yang paling saya sukai adalah Late Night Show with David Letterman. Agak aneh dan dibuat-buat memang, mengingat FS yang saya isi tahun 2003-an itu saya melihat show terakhir David Letterman adalah tahun 1989 alias 14 tahun sebelumnya ! Ya karena di rumah saya tidak punya parabola besar yang bisa nangkap siaran TV NBC Amerika yang siaran langsungnyapun mestinya jam 12.00 siang di Indonesia..

Setelah jamannya internet berkoneksi ADSL dan saya sempat “ngintip” ke You Tube, saya baru tahu kalau Natalie Portman adalah bintang film yang paling sering diundang ke acara Late Night Show with David Letterman. Pertama ia diundang waktu masih berumur 14 tahun, kemudian tahun-tahun berikutnya, terus waktu acara Thanksgiving tahun 1994 waktu Natalie baru lulus S1 jurusan Psikologi, dan yang terakhir baru bulan Februari 2008 ini..

Dari situ saya tahu mengapa teman-teman lelaki anak saya sangat mengidolakan Natalie Portman, ia ramah, talkative, smart, dan ketawanya serenyah Genjie Pie atau wafer Tango !

Selain Natalie Portman, Demi Moore adalah aktris yang paling sering diundang oleh David Letterman. Sejak ia muda sampai di usia yang sekarang. Salah satu Late Night Show bahkan menunjukkan waktu Demi Moore hamil 9 bulan anak perempuan ketiganya. Nah, dalam keadaan hamil besar Demi Moore bilang pada David Letterman bahwa olahraganya adalah naik sepeda, mendaki gunung, dan senam (gymnastic). “Are you kidding ?”, tanya David. “Do you want to see it ?”, tantang Demi Moore. Lalu Demi Moore bersenam lantai jungkir balik selama kira-kira 2 menit…dan…

Wow !!! Orang hamil 9 bulan masih jungkir balik senam lantai…kalau di Indonesia orang-orang tua akan bilang, “Jangan lakukan itu nduk, entar anakmu sungsang lho !!”..

Untung ini di Amrik sana…

Ha..ha..!

 

You Tubing (Part II)

Wah…sequel posting “You Tubing” berlanjut terus nih. Mumpung euforia memperoleh sambungan Telkom Speedy masih berlanjut. “Iron while it’s hot”, begitu bunyi pepatah…

You Tubing malam ini saya lakukan di komputer desktop di kamar saya (sekedar mengingatkan mas Didiek bahwa saya tidak melakukan You Tubing via handphone sambil nyetir….it’s very dangerous mas…don’t try this at home !)..

Pertama, saya mau explore seberapa “sakti” penyair-penyair kita. Ternyata saya dapatkan You Tube dari Presiden Penyair Indonesia yaitu…Mr. Sutardji Calzoum Bachri yang sedang membacakan sajak barangkali berjudul “Harimau” yang dengan marahnya ia bercerita tentang harimau Sumatera..dan ia membacakan sajak itu dalam bahasa Indonesia tapi diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol dengan audience dari berbagai bangsa di dunia, ada tua ada muda, ada kulit putih ada kulit coklat dan ada kulit hitam, letaknya dimana itu Mr. Presiden ? Kelihatannya di Madrid atau Sevilla….dan audience internasional bertepuk riuh ketika Bung Sutardji menyudahi pembacaan puisinya. Bukan main !! Tapi saya lebih suka seandainya di You Tube ada video Bung Sutardji yang berjudul “Kapak” dan dia membawakan puisinya sambil mengampak mimbar sambil minum bir !!! (Bung Sutardji sudah haji, mungkin dia malu minum bir lagi di depan umum…)..

Kedua, saya panggil Bung Rendra di You Tube. Ada puluhan video Bung Rendra membaca sajak…tapi semuanya sajak-sajak datar cerita tentang revolusi, reformasi, dan sebagainya. Yang saya cari tidak ada !! Yaitu sajak-sajak Bung Rendra sebelum ia berangkat sekolah 2,5 tahun di New York atau segera setelah ia pulang dari Amerika. Misalnya “Blues untuk Bonny” atau “Bersatulah Para Pelacur Jakarta” atau sajak yang sangat “profane” sehingga perlu saya sensor yang salah satu baitnya berbunyi “ketika murid-murid m******* k******* gurunya” itu….!!!

Ketiga, saya cek You Tube dari alm. Bung Chairil Anwar salah satu penyair besar Indonesia yang meninggal karena TBC dalam usia 27 tahun itu. Ada !!! Sajak “Aku” yang ada di You Tube ternyata “kepalanya” terpotong dan tinggal “ekornya”. Ternyata setelah saya perhatikan logat si pembaca sajak, rupanya anak muda negeri jiran, Malaysia !!! Menarik sekali, sajak Chairil Anwar yang bercerita tentang revolusi di Indonesia tahun 1945 tapi dibacakan oleh mahasiswa negeri jiran (I wish Binus some students read it, in the new Binus auditorium which has just been built)…

Keempat, saya cek You Tube dari Bung Sapardi Djoko Darmono yang tidak kurang banyak penggemarnya di Indonesia di samping Chairil Anwar, Rendra, dan Sutardji Calzoum Bachri. Wow !  Ternyata sajak Bung Sapardi paling banyak yang dinyanyikan sebagai sebuah lagu oleh Ananda Sukarlan, pianis Indonesia yang tinggal di Eropa itu. Selain itu, sajak Bung Sapardi “Aku Ingin” banyak dinyanyikan dalam bentuk paduan suara (choir) oleh para mahasiswa universitas se Indonesia…

Lepas dari memelototin penyair di You Tube, saya sempat mencari You Tube dari lagu-lagu lama jaman Prambors dan Guruh Gypsy. Banyak lagu Keenan Nasution di sana, di antaranya “Nuansa Bening” yang paling saya suka. Lagu Guruh yang sempat saya lihat adalah oleh Marcell yaitu “Candu Asmara”. Lagu “Apatis” karangan Ingrid Wijanarko yang dinyanyikan Benny Subardja-pun ada. Juga lagu “Sepercik Air” yang dinyanyikan oleh alm. Deddy Stanzah pun ada.

Lagu yang lebih baru adalah era Fariz RM. Lagu legendanya “Sakura” ternyata paling banyak videonya di You Tube. Justru yang dinyanyikan Fariz sendiri nggak ada, kecuali lagu “Barcelona” yang dinyanyikan Fariz sendiri. Lagu “Sakura” ternyata penggemarnya mendunia atau setidaknya meng-Indonesia. Banyak “penyanyi dadakan” menyanyikan lagu itu dan dengan pede-nya naruh di You Tube (I wish some of thems are sung by Binus students).. Tapi versi Sakura oleh penyanyi wanita paling pas kalau yang membawakan adalah Sheila Majid atau Rossa..Nah, lagu “Sakura” versi Rossa justru bagus sekali lho !! Please check out at : http://www.youtube.com/watch?v=H_K3GLOW1DY&feature=related

Sekian dulu ya cerita tentang sekuel You Tube ini..

Lain kali saya mau mencari You Tube dari nyanyian keroncong, wayang orang atau American Football antara NAVY (US Naval Academy – Annapolis) versus ARMY (US Military Academy – West Point) yang biasanya seruuuu sekali..

Mudah-mudahan ada !!!

Oh yeah !!!

 

Previous Older Entries