Gwan Yang

Daerah Gwan Yang yang terletak di sebelah barat Sungai Han yang membelah kota Seoul, konon suatu daerah yang sangat unik. Saya mendapatkan cerita ini dari seorang professor Korea yang waktu itu mengajar di kelas “Science & Technology Policy” yang saya ikuti yang diselenggarakan di Hotel Kyoyuk Munhwa Hukwan (artinya “Persatuan Guru Korea”)…

Gwan Yang terletak kira-kira 5 stasiun Subway di sebelah utara stasiun Seoul Olympic Stadium (pada 1988 Korea menjadi tuan rumah Olimpiade) dan sekitar 5 stasiun di sebelah selatan stasiun SNU (Seoul National University, universitas paling top di Korea)..

Menurut professor saya itu, 50% penduduk Korea Selatan tinggal di Metropolitan Seoul sedangkan 50% penduduk sisanya tersebar di seluruh penjuru Semenanjung Korea Selatan (kira-kira seluas Jabar + Jateng). Nah, karena daerah sebelah utara Seoul dekat dengan kota perbatasan dengan Korea Utara yaitu di kota Pamunjon, maka harga tanah maupun harga rumah serta apartemen di sebelah utara Seoul jauh lebih murah daripada di daerah selatan Seoul. Gwan Yang ini bisa dibilang di sebelah selatan Seoul…

Karena penduduk Korea Selatan sangat menomorsatukan pendidikan, maka sebelum ujian akhir SMA para ibu di seluruh Korea Selatan pergi berdoa di kuil-kuil Budha atau di gereja-gereja yang ada untuk kesuksesan ujian akhir SMA bagi putra-putri mereka (kadang-kadang foto mereka berdoa itu dimuat di harian Kompas). Sebagian besar orangtua di Korea ingin anaknya bisa masuk universitas terkenal di Korea yang sangat menjanjikan masa depan gemilang di perusahaan-perusahaan Chaebol (Konglomerat) semacam LG, Hyundai, dan Samsung ataupun diterima sebagai pegawai negeri di kantor pemerintah yang bergengsi..

Nah, mulai di sini ada yang sedikit aneh. Selepas ujian SMA, hampir sebagian besar lulusan SMA di Korea berbondong-bondong pindah “ngekost” di daerah Gwan Yang ini. Konon, di Gwan Yang banyak terdapat “bimbingan test” berikut dengan “tutor-tutor” yang handal yang hampir pasti bisa menambah daya dobrak anak-anak mereka untuk memasuki universitas favorit seperti SNU (Seoul National University) ataupun Korea University (saya nggak tahu, apa Korea University sama dengan Hang Guk University, soalnya kata “Hang Guk” juga berarti “Korea”)..

Akibatnya, daerah Gwan Yang menjadi daerah yang penuh sesak dengan anak-anak muda yang berburu mimpi masuk ke universitas terkenal di Seoul. Mungkin Gwan Yang seperti daerah Depok di Jakarta, atau seperti Cieumbeuleuit di Bandung, atau seperti daerah Sekip di Yogyakarta…

Saking penasaran dengan cerita tersebut, pada suatu hari saya sendirian naik subway dari stasiun Yang Je tempat hotel saya terletak. Jarak stasiun Yang Je dengan Gwan Yang hanya 1 stasiun saja. Begitu turun dari kereta bawah tanah itu, saya langsung ke atas menuju ke permukaan jalan. Begitu saya sampai di atas tanah pandangan yang menakjubkan serta merta menyergap. Sebuah jalan besar dengan sidewalk selebar Orchard Road di Singapura terlihat jelas dengan toko-toko baju “branded” ada di sisi jalan. Beberapa anak muda terlihat lalu lalang dengan baju bergaya “upscale” menandakan mereka berasal dari “well-to-do family“. Saya mencoba berjalan menyusuri jalan itu sekitar 500 meteran. Kelihatannya daerah Gwan Yang ini juga merupakan daerah “to see or to be seen” alias “wilayah ngeceng” bagi warga Korea kelas atas..

Sepintas, teringat komik-komik karangan idola saya, Yan Mintaraga, yang dalam lukisannya selalu menampilkan cowok dan cewek tokohnya sebagai pribadi yang langsing dan sadar kesehatan. Tidak itu saja, pilihan baju tokoh-tokoh komik Yan Mintaraga juga sangat terpelihara dan itu jelas kelihatan banget, walaupun dalam gambar hitam putih.

Saya jadi ingat komik Yan Mintaraga berjudul “Sebuah Noda Hitam“, yang sangat menyedihkan dan bercerita tentang sepasang kekasih yang berpisah karena si cewek ingin mengejar impian di sebuah kota besar. Setelah si cowok berhasil lulus dari universitas, iapun mengejar cewek itu ke kota besar. Ketika si cowok ingin mengawini si cewek, ternyata si cewek menolak dengan halus, “Aku bukan Sari yang dulu…karena aku sudah ternoda…”

Si cowokpun bingung bukan alang kepalang, tapi ia ternyata tetap cintrong dengan keadaan si cewek yang sudah seperti itu, dan si cowokpun tetap mengejarnya. Si cewek lari ketakutan dan merasa bersalah…akhirnya…..(he..he..santai pal, sayapun lupa bagaimana akhirnya….)…

Kembali ke Gwan Yang. Mungkin beberapa calon mahasiswa yang bercita-cita tinggi itu akhirnya berhasil masuk SNU atau KU. Maka masa depanpun terlihat cerah walaupun awal-awalnya harus disertai dengan kerja sangat keras.

Pada suatu hari ketika saya berdiri di bis kota yang menuju kampus SNU, beberapa mahasiswa yang masih culun mempersilahkan saya duduk … Mungkin mereka mengira saya orang Korea dan dosen senior di SNU karena warna rambut saya yang sudah abu-abu. Sayapun dengan senang hati menerima tawarannya untuk duduk, sambil tersenyum kecil…senyum kekaguman akan baiknya sopan-santun para mahasiswa yang berhasil masuk SNU ini…

Di stasiun subway menjelang saya pulang ke Yang Je, saya lihat beberapa mahasiswi SNU berjalan gontai dengan tas backpack yang penuh buku. Baju mereka hampir sama, yaitu celana jeans warna biru atau hitam, t-shirt sebagai atasan, dan baju flanel Polo warna hijau bergaris-garis ala Madras shirt. Muka mereka yang agak pucat menandakan tadi malam mereka belajar keras sampai pagi..

Mikrolet M-11 yang saya naikipun terjebak kemacetan di Rawabelong karena orang pada berbelanja bunga dan berbagai pernak-perniknya. Sekitar 500 meter dari lokasi kemacetan tadi, di kampus Anggrek saya berhenti dan membayar Rp 2.500 ke si sopir sambil mengucapkan terima kasih. Peluh membasahi muka dan punggungku di udara Jakarta yang panas terik di siang bolong itu…

Oooo….ternyata saya ketiduran dari Tanah Abang sampai Rawa Belong dan merasa “terdampar” di Gwan Yang dan ketemu mahasiswa-mahasiswi SNU ! Pantasan kok serasa di Korea tapi kok musim dinginnya sangat panas banget…

Mungkin besok, agar terlihat top, saya akan mengusulkan agar Binus diganti nama menjadi SNU. Singkatan dari “Syahdan National University“…

Hwa..kakakakakakkkkkkk….

 

5 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    May 01, 2008 @ 14:41:19

    yoi Pak…!!!
    setuju…!!!
    kan keren tuh SNU..!!
    trus yg di anggrek,ANU (hrsnya Australian National University).
    mantab2…!!!
    dan yg di kijang jd KU.
    hahahahahahahha…!!!

    Reply

  2. tridjoko
    May 01, 2008 @ 16:30:48

    –> Agung : wah ide baguuuussss…ha..ha..saya sampai tertawa terpingkal-pingkal..

    Berarti di Binus ada kosakata baru :
    L1E = Lantai 1 Empo
    L2E = Lantai 2 Empo
    L3E = Lantai 3 Empo
    SNU = Syahdan National University
    ANU = Anggrek National University
    KU = Kijang University (ntar Toyota marah..ha..ha..)

    Reply

  3. Agung
    May 01, 2008 @ 17:29:06

    hahahahahahaha…!!!
    agung geetoh Pak.
    hahahahahahha…!!
    keren juga yah?
    saya sebarin ke tmn2 ahhhh…
    hahahahahhaa…!!
    yg JWC jg bs dijadikan NUS (National University of Senayan).
    hehehehehhehehe…!!!

    anyway,
    kalo punya duit 50miliar (sesuai yg wkt itu kita bicarakan Pak),
    saya mao bikin universitas aj ahhhhh.
    trus nama2 kampusnya saya ambil dr nama2 dosen yg pernah ngajar saya (tentu aj yg berkenan di hati saya).
    hehehehehehehehehehehehe….!!!
    mimpi kali yey..!!

    Reply

  4. tridjoko
    May 01, 2008 @ 17:35:09

    –> Agung : bagus Gung, cita-citanya. Anda macam Pak Leland Stanford aja… Tapi bajumu belum lusuh Gung !

    Kalau punya duwit Rp 50 M bisa bikin kampus, tapi jangan-jangan cukup segede Syahdan doang, soalnya kalau mau bikin segede Anggrek sekarang dengan Rp 50 M cuman jadi sampai 4 lantai doang !

    Jangan lupa, nama saya untuk Gedung Perpustakaan atau Gedung Computer Science ya Gung !

    He..he..he..

    Reply

  5. Agung
    May 01, 2008 @ 17:54:25

    yah sebesar apapun juga lah,yg penting jadi kampus.
    yah,mudah2an duitnya 500 miliar.
    hahahahahahahaha…!!
    cita2 mah bole donk Pak setinggi langit..!!
    hahahahahaha…!!
    kurang lusuh yah Pak?
    pdhl belakangan ini saya naek bus mulu ke kampus.
    hehehehehehe…!!

    yah,pokoknya akan ada nama Bapak,Pak DjunSan,Pak Wi,Pak Don,n Pak JonLuk.
    mungkin dose lain kalo kepikiran.
    plg ga nama2 di atas uda pasti jadi nama2 gedungnya.
    hahahahahahahhahahahaha…!!!
    saya kalo uda mimpi n berimajinasi,sll melewati batas2 akal manusia lain.
    hahahahaha…!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: