Cerita field trip yang terselip

Waktu itu di bulan September 1978, saya beserta semua mahasiswa yang mengambil kelas “Sosiologi Pedesaan” di Departemen Sosial Ekonomi Pertanian IPB melakukan field trip ke kawasan Lampung untuk melihat dan meneliti objek-objek daerah transmigrasi, pola pertanian para transmigran, dan beberapa objek lainnya termasuk Pabrik Gula Gunung Madu, Lampung..

Kami semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah Sosiologi Pedesaan ini sudah mahfum bahwa kira-kira 30 tahun sebelumnya, seorang dosen muda IPB yang bernama Sayogya tinggal dan meneliti mengenai daerah transmigrasi di Lampung ini dan menulis disertasi doktornya yang fenomenal tentang hal ini..

Tapi kami datang ke Lampung pada tahun 1978 itu dengan niat yang lebih ringan daripada yang dilakukan oleh Prof. Sayogya dan penelitian seriusnya. Akhirnya, pada pagi yang ditentukan kami berkumpul di Departemen Sosek IPB di Kampus Baranangsiang. Peserta field trip sekitar 60 mahasiswa dipandu 3 orang dosen akhirnya pada pagi itu berangkat ke Lampung dari kampus IPB dengan mengendarai beberapa “angkot” masa itu yaitu Mitsubishi Colt T-120 yang legendaris itu. Rute yang diambil sengaja menghindari kemacetan, yaitu Bogor ke Ciampea, Leuwiliang, Cipanas, Sajira, Rangkasbitung, Pandeglang, Saketi, Labuhan, Cinangka, Anyer, Cilegon, dan berhenti di Merak. Sejak Labuhan hingga Cilegon kami menyusuri pinggir pantai yang pada masa itu masih “perawan” dan belum penuh dengan hotel, resort, dan restoran, sehingga kami bisa menikmati pemandangan ke Selat Sunda dari sela-sela pohon kelapa. How refreshing !

Kamipun sampai di Pelabuhan Merak pada waktu siang dan tanpa menunggu lama rombongan kamipun naik ke sebuah kapal Ferry menuju ke Pelabuhan Ferry di Srengsem, Lampung. Memang pada masa itu pelabuhan Bakauheni belum ada…

Sebuah perjalanan yang menyenangkan, dan itu merupakan perjalanan pertama kalinya bagi saya naik Ferry semacam ini. Belum pernah saya sebelumnya naik Ferry, yang pernah hanyalah naik “tembo” (perahu penyeberangan) menyeberangi sungai Madiun di kampungku sana. Kamipun bergembira ria, berfoto-fotoan dan saking gembiranya sampai melompat ke dek dekat cerobong asap Ferry yang sebenarnya terlarang. Maka perwira kapalpun dengan pengeras suara meminta kami duduk dengan tenang di tempat duduk masing-masing. Wah, membosankan dong !

Kira-kira 2 jam kemudian, kamipun mendarat di pelabuhan Ferry yang bernama Srengsem. Di darat kamipun dijemput oleh dua bis seukuran Metromini dengan nama bis “Aek Nauli” (Air Suci) dengan sopir-sopirnya dan kenek-keneknya orang Batak semua dengan logatnya yang sangat kental. Wah..inni beenaar-beenaar meenyeenaangkaan bah !!

Hari masih siang, dalam perjalanan menuju ke Way Kambas di bagian utara dari Propinsi Lampung kamipun mampir di objek pertama kita yaitu di PT. Gunung Madu Plantation di Gunung Batin, Lampung Tengah, sekitar 90 km di sebelah utara Tanjung Karang. Ya..pada waktu itu Tanjung Karang dan Teluk Betung adalah masih dua kota yang berbeda dan masih ada “jarak” di antara kedua kota tersebut.

Gunung Madu Plantation adalah sebuah perusahaan gula PMA yang cara penanaman tebunya agak lain daripada yang ada di Jawa. Jika di pulau Jawa tebu yang sudah besar dipotong habis batangnya, dan pengairannyapun intensif, di Gunung Madu Plantation ini tebu ditanam di ladang kering dan memanennya dengan sistem kepras. Jadi bonggol tebu dibiarkan saja dan nantinya akan tumbuh pohon tebu yang baru dan jika besar, ditebang. Demikian seterusnya. Kalau nggak salah, bisa sampai lima kali ganti pohon tebu yang baru, baru bonggolnya tadi diambil dan ditanam dengan bibit tebu yang baru. Sangat mengesankan ! Kamipun sempat berkeliling kebun tebu yang sangat rimbun itu, dan oleh guide dari pihak Gunung Madu kami diberitahu bahwa di tengah-tengah pohon tebu ini masih sering terlihat harimau Sumatera (Pantera tigris sumatranensis sp). Oleh sebab itu, beberapa anggota keluarga dari First Family sering datang ke tempat ini buat berburu babi hutan dan harimau. Maksudnya, kalau ada harimau pasti ada juga makanan harimau, yaitu babi hutan…

Selepas dari Gunung Madu Plantation, kamipun meneruskan perjalanan ke arah utara. Nah di tahun 1978 kan baru saja dilangsungkan pertandingan sepakbola akbar yaitu Piala Dunia 1978 di Argentina yang partai finalnya adalah antara Argentina dengan Belanda dengan skor 3-1 untuk kemenangan Argentina. Rupanya Euforia Piala Dunia 1978 ini masih bergejolak di hati kami-kami mahasiswa yang ngambil major Sosek ini seperti : Krisna Wijaya, Agus Arab, Thamrin, Anang, Sastrawan Manullang, Dewa Ketut Sadra, dan beberapa mahasiswa minor Sosek seperti : Tri Djoko (saya sendiri), Amril Aman, Reynold Tambunan, Rachmat Sjahni, Asep Saefuddin, Suherman, GunGun Gunawan, dan lain-lainnya. Maka apa hasilnya ?

Setiap ketemu dengan sebuah lapangan sepakbola, kami minta kepada bapak dosen pembimbing dan sopir bis untuk berhenti istirahat. Maka antara bis yang satu dengan bis yang lainnya diadakan pertandingan sepakbola. Tim bis A dinamakan “Argentina” dengan anggota : Agus Arab sebagai Mario Kempes, Anang sebagai Osvaldo Ardiles, Krisna Wijaya sebagai Ubaldo Fillol, Ketut Sadra sebagai Daniel Pasarella, dan Sastrawan Manullang sebagai goal keeper tentu saja memerankan Ricardo La Volpe !  Tim bis B dinamakan “Belanda” dengan anggota : Tri Djoko (saya sendiri) sebagai Arie Haan, Amril Aman sebagai Wim Jansen, Reynold Tambunan sebagai Rob Rensenbrink, Herman sebagai goal keeper memerankan Jan Jongbloed, Rachmat Sjahni sebagai Johan Neeskens, Asep Saefuddin sebagai Johnny Rep, dan Gun Gun sebagai Wim Suurbier

Pertandingan-pertandingan yang kami lakukan cukup seru siang itu. Kalau nggak salah, kami melakukan 3 pertandingan di 3 lapangan yang berbeda dengan kesudahan Belanda 2, Argentina 1. Terbalik dari hasil Piala Dunia 1978 sebenarnya !!

Krisna Wijaya-pun memberikan compliment kepada saya, “Wah..gara-gara Tri Djoko ada dimana-mana, kami jadi kalah nih !”.. He..he..he.. langsung dada ini membusung !

Sorepun tiba, dan bis kamipun terseok-seok sampai di kota Menggala di Lampung Utara. Seluruh penumpang bispun sudah terkantuk-kantuk dibuai mimpi. Yang cowok mungkin bermimpi berada di kota Buenos Aires, sedangkan yang cewek mungkin bermimpi menjadi pom-pom girls di Piala Dunia 1978. Yang nanar hanyalah beberapa dosen pembimbing, antara lain Pak Gunadi karena mungkin beliau yang bertanggung jawab atas suksesnya field trip ini…

Kamipun menginap di penginapan transmigran sebelum diterjunkan langsung ke daerah transmigrasi yang agak jauh dari mana-mana pada waktu itu. Kalau nggak salah penginapan transmigran ini terletak di sebelah utara kota Menggala. Setelah mandi dan ganti pakaian, kamipun makan malam dengan hidangan yang sekedarnya namun terasa sangat nikmat karena dari tadi kami sudah kelaparan. Namanya daerah transmigrasi, ya jarang ada penerangan listrik. Jadi suasananya setengah gelap gulita dan hanya ada beberapa lampu minyak di rumah-rumah penduduk. Setelah membeli satu pak rokok Djarum coklat yang kemasannya berbeda dengan yang dijual di Jawa, kamipun para cowok nongkrong di halaman penginapan transmigran yang sangat luas itu. Agus Arabpun mulai memetik gitar di bawah bulan purnama dan kamipun rame-rame menyanyi lagu-lagu Batak ! Sayapun mengikuti irama dengan meminjam harmonika milik Reynold Tambunan ! Wah..sayang rupanya setelah gitar dengan nada harmonika belum nyambung…akhirnya sayapun memainkan sebuah lagu Beethoven sendirian, yang membuat Reynold marah dan akhirnya menyembunyikan harmonikanya. Saya bingung setengah mati kemana harmonika itu, dan 3 jam kemudian Reynold baru bilang kalau harmonika disembunyikannya di pipa celananya !

Malam itu kami tidur teramat nyenyak dibuai mimpi. Anehnya, di permukiman transmigran Way Abung ini jarang ada nyamuk ! Jadi tidak heran jika kami tidur bagaikan pohon ditebang…zzzz…zzzz…zzzz… mungkin terlalu capai atau sedang bermimpi dansa tango dengan senorita-senorita cantik di Buenos Aires sana…jreng..jreng..jreng… So far so good !

Cerita indah menjadi malapetaka keesokan harinya. Rupanya bagi kami 70 orang ini hanya tersedia 2 kamar mandi yang di dalamnya ada jambannya. Saya lihat beberapa cewek : Aska, Aswatini, Handewi, Henny, Ning, Wiwiek, dan Utari pada bergerombol di depan sumur karena memang bak kamar mandinya belum diisi !  Beberapa orang cewek dan beberapa orang cowok memegangi perutnya karena kebelet ke belakang ! Gawat nih gawat ! Rupanya mutu makanan yang dihidangkan kemarin dimana banyak sayur dan banyak buah membuahkan hasil yang menakjubkan ! Yaitu saya kebelet ke belakang ! Wah, melihat antrian yang panjang ini sayapun pesimistis karena saya orang yang ke-20 dan berarti paling cepat setengah jam lagi baru bisa “defecate” alias “cut a cable” alias “cut a meatloaf” he..he..he..

Akhirnya sayapun menemukan inovasi yang begitu saja datang ke kepala saya ! Saya ingat sekitar 200 meter di sebelah selatan penginapan transmigran ini ada sebuah sungai selebar sekitar 3 meter. Wah, “cut a cable” di sana tentu menyenangkan, setidaknya membuat perut saya segera tenang. Tanpa pikir panjang sayapun menuju sungai itu. Sayapun segera menuruni tebingnya yang sedalam 3 meter itu. Waktu kecil dulu saya dengan ibu saya sering bepergian ke sungai yang ada di sekitar desa Sewulan, kecamatan Dagangan Madiun, desa tempat ibu saya menjadi guru Sekolah Rakyat yang pertama kalinya. Jadi, “defecate” di sungai bukan hal baru bagi saya..

Sayapun mulai melepas celana dan CD saya, dan mengambil posisi yang paling enak buat “menembak” ! Prrrt…prrrt..prrtt..dan tidak sampai 2 menit terlahirlah dengan selamat ke dunia ini sebuah “yellow submarine” yang sedemikian besar. Karena “yellow submarine” itu belum diberi nama dan belum ada kapten kapalnya, maka sementara ia mengambang di atas air sungai… Setelah saya perhatikan, masya ampuuun…ternyata air sungai ini berhenti total tidak seperti sungai di kampung Sewulan tempat nenek saya berada yang airnya sangat lancar. Akibatnya, “besi kuning” itu tidak mau pergi dan sayapun menunggui terus di situ “untuk mengusirnya“…

Dari jauh, terdengar suara segerombolan cewek berjalan di atas jalanan bebatuan yang berada di atas sungai. Makin lama suara tertawa mereka yang renyah semakin dekat. Bahkan Aska alias Erna yang paling suka menyanyi dan fansnya Skeeter Davis itu mulai menyanyi dengan keras, “Que serra serra…que will be..will be…will be…”

Sayapun terkena keringat dingin mendadak, membayangkan bagaimana kalau segerombolan mahasiswi dari kampus yang terhormat mendapati saya di bawah sungai dalam kondisi “butt naked” seperti itu sedang menunggui “yellow submarine” dan belum sempat membasuh “lubang penglepasan” karena sedang ditunggui “pasukan musuh” yang naik “yellow submarine“…

Terlahir ber-shio Monyet, sayapun senang karena lalu timbul akal-akalan saya. Sayapun bergeser barang 3 meter dan sekarang saya sedang berada di bawah jembatan yang gelap setengah terang ini. Mengingat lebar jalan hanya 4 meter, anda tahu dong betapa sengsaranya pikiran saya waktu itu yang…jangan-jangan para cewek itu nongkrong di atas jembatan !!!!

Wah…apa yang saya khawatirkan terjadilah !!

Kini Aska alias Erna mulai menyanyi “Do a deer a female deer, re a drop of golden sun, me a name I call myself…….” yang ditirunya dari Julie Andrews di film “Sound of Music” itu… Suara Aska begitu bening dan mengalir lancar dari mulutnya seolah dia sedang menjadi kontestan di Indonesian Idol 1978. Henny yang mendapat beasiswa Supersemar di IPB karena pintar menyanyi seriosa itu mengambil suara kedua, Handewi suara ketiga, dan seterusnya. Semuanya cewek itu menyanyi dengan riang di atas jembatan, sedangkan saya dibiarkan menggigil ketakutan di bawah jembatan !

Butt naked ” is your fate !

Setengah jam kemudian, para cewek itu kembali ke penginapan dan sayapun bisa membilas lubang paling berharga di tubuh saya itu. Sayapun dengan gontai dan muka pucat masuk kamar mandi yang sekarang sudah sepi. Badan saya guyur dengan air dan sekujur badan saya basahi dengan sabun. Saya bersyukur di hari ini, karena “selamat” si cewek-cewek itu tidak sempat melihat diri saya ke dalam sungai !

Setelah balik ke kamar, saya tereak keras, “Celakaaa 13 !!!”. Rupanya CD yang saya bawa hanya satu, dan ini hari kedua di field trip ini. Akhirnya CD-pun saya balik dan menurut nasehat teman saya, “CD adalah ibarat kaset, hari ini Side A, besok Side B“…

Dan itulah yang saya lakukan !

Lampung Oh Lampung…

[Cerita ini didekasikan kepada Astagian, alumni IPB Angkatan 13 Tahun 1976, terutama dari Departemen Sosial Ekonomi Pertanian..Makasih Kang Asep yang mendorong saya untuk menulis pengalaman ini..]

 

24 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    May 04, 2008 @ 22:04:42

    Iiihhh…!!!!
    hahahahahahahahahhaahhaaa….!!!!
    ini posting Bapak yg plg panjang dan paling lucu Pak.
    hahahahahahahahaha…!!!
    saya ngakak mlm2,ud kyk genduruwo…!!!
    ahahahahahahahahaha…!!

    Reply

  2. tridjoko
    May 04, 2008 @ 22:17:19

    –> Agung : kok gambar avatarmu gelap banget latar belakangnya, man ?

    He..he..he…itu salah satu peristiwa yang paling mengesankan sepanjang hidup saya (selain lahir, sunat, nikah, punya anak). Makanya saya ingat terus sampai sekarang…

    Celakanya, saya ketakutan terus sampai sekarang kalau sedang “ke belakang” soalnya masih ingat segerombolan cewek nyanyi-nyanyi…que serra…serra..que will be…will be…

    He..he..he..

    (Saya aja nulisnya sambil tertawa terus…sampai air mata keluar !)..

    Reply

  3. Agung
    May 04, 2008 @ 22:21:36

    yah,kan emank tmpnya gelap Pak.
    Sushi Tei kan ga ada yg terang Pak.
    hehehehehehehe..!!
    uda kyk warus sushi remang2.
    biarin lah,biar terkesan keren n cool aj.
    heehehehehehehehe…!!

    astaghfirullah….!!!
    Bapak2….!!!!
    hahahahahahahahahhahaa…!!
    mungkin ga Pak,saat itu ada yg lihat.
    tapi ntah karena org itu “baik” ato juga “malu” dia “pura2 ga liat”??!?!?!!?!
    hahahahahahahaahaha…!!
    kalo sampe ada,
    saya yakin dia suatu saat aka tulis di blog jg…!!!
    dan……
    hahahahahahaha…!!

    Reply

  4. tridjoko
    May 04, 2008 @ 22:38:39

    –> Agung : justru itu yang paling saya takutkan Gung !

    Gila apa, di sungai yang airnya nggak mengalir kan udah seperti kaca mirror mirror on the wall…artinya, bisa buat ngaca ! Dan sembarang yang ada di depan cermin itu bakal terpantul bayangannya…

    Saya curiga cewek-cewek itu tahu ada orang di bawah jembatan, tapi mereka nggak yakin lagi ngapain, lha wong bayangannya di “cermin” tadi serba hitam…

    Makanya, salah seorang mungkin bilang, “Yuk ah, kita pulang…udah siang nih..!

    Atau, salah seorang dari mereka sudah mulai “membaui” “yellow submarine” tadi dan nggak tahan lalu pengin pergi..

    Any analysis is possible, the truth is…saya maluuuuu banget deh !

    Reply

  5. Agung
    May 04, 2008 @ 22:45:10

    lha??!
    uda tau malu kok ditulis di blog ini secara sangat detail.
    hahahahahhahahahahaa…!!
    saking detail dan menggunakan kosakata “kreatif”,itu yg membuat sangat lucu.
    hahahahahahahahahahahahaha…!!!!
    yah,kalo ada yg liat,semoga dia diberi rahmat dari Allah yg melimpah2..!!
    hehehehehe…!!

    Reply

  6. Tri Djoko
    May 04, 2008 @ 23:10:24

    –> Agung : he..he..kosakatanya udah lama dipikirin….he..he..

    Wah, gara-gara anda takut-takuti kalau “streaming” radio luar negeri itu sama dengan “download”, sekarang saya batasi ndengerin radio Munchen, London dan Singapore…he..he..

    Reply

  7. Agung
    May 05, 2008 @ 09:43:33

    hehehehehehehe…!!
    yah,kan ga ada salahnya kita menghemat bandwidth Pak.
    hahahahahahaha…!!

    “cut a cable”,”yellow submarine”,dll..!!
    hahahahahahhahaha…!!
    sumpah,keren abis.
    hahahahahahahhaa…!!

    ciyeh,Bapak…!!!
    ternyata thn 78 ada “Maradonna” jg di indo.
    cuma malah msk IPB,bukan msk Persija,ato Persib.
    ato mungkin Juventus.
    hahahahahahahahahahaha…!!
    saya pernah tuh Pak,main ama tmn Papa saya yg dulu pemain Persikota.
    walopun skrg umurnya 50an.
    tapi msh hebat.
    beliau striker,saya gelandang bertahan.
    saya coba “man to man” marking beliau,soalnya defendernya ud tua2 jg,ga kuat kerjar2 beliau.
    wah,cape,gesit bgt.
    pdhl beliau tidak tinggi dan sudah agak gemuk.
    ckckckckckckckck…!!
    luar biasa…!!

    Reply

  8. edratna
    May 05, 2008 @ 12:02:23

    Hahaha…saya dulu saat ke kampung dibagi kelompok, satu desa berdua. Dan ternyata rumah pak lurah nggak punya pintu, jadi teman cowok tidur di dipan yang ditarik mendekati pintu kamar cewek. Kata temanku…”Kan mendingan loe hamil ama gue, yang calon insinyur, daripada dapat pak lurah jadi bini ketiga..”……hahaha.

    Desa sangat sepi, ke kota kecamatan terdekat 10 km, dan hanya 6 km dari puncak gunung, Terbayang dinginnya…dan mandinya berasal dari air hujan yang ditampung pada bak….kalau musim kemarau mesti turun kesawah, jongkok di sana…..Disini saya sering mencari data ke unit BRI, karena data hanya ada di unit atau di kelurahan…ternyata akhirnya masuk BRI. Begitu selesai penelitian selama 2 minggu, balik ke Bogor dan mandi sepuasnya…..

    Reply

  9. nel
    May 05, 2008 @ 13:01:06

    huahahahaha
    pak Tri…pak Tri…
    lucu banget sih…saya ngakak ampe gak brenti2
    untung jaman saya di statistik gak ada field trip.
    @bu eni, mbak andini nya pak Andi hakim (alm) masih di BRI gak?

    Reply

  10. edratna
    May 05, 2008 @ 20:06:48

    Nel,
    rasanya masih, dia di Divisi IT…..saya sendiri akhir tahun 2007 sudah pensiun.

    Reply

  11. tridjoko
    May 06, 2008 @ 09:16:02

    –> Mbak Nel : wah…kok jaman anda Statistik tidak ada Field Trip, apa jaman anda sudah nggak ada istilah ngambil “minor” dimana ?

    Atau di jaman dulu Field Trip 100% dibiayai universitas dan mahasiswa tinggal berangkat. Nah, kalau sekarang universitas kekurangan duwit sehingga tidak ada Field Trip ?

    Di tahun 1976-1979 saya berkeliling Jawa Barat, Jakarta dan Lampung dibiayai kampus dan mahasiswa tidak bayar sepeserpun….

    Reply

  12. nel
    May 06, 2008 @ 13:42:31

    ada pak, minor nya komputer ato ekonomi, saya sendiri ambil ekonomi tapi ya cuman belajar teori2 aja RanCob, econometrik, ilmu ekonomi, ilmu kependudukan. Meski sekarang kerjanya di dunia IT 🙂
    Apa iya karena univ gak ada budget???
    Padahal seru juga ya kl ada field trip

    Reply

  13. tridjoko
    May 06, 2008 @ 17:07:43

    –> Mbak Nel : waktu jaman saya IPB Angkatan 76 dulu di tingkat TPB (Tingkat Persiapan Bersama atau “undergraduate Division”) selama 3 semester semua buku textbook diberikan gratis ke semua mahasiswa !!

    Tidak heran pada masa-masa itu Field Trip-pun juga gratis, maklum di masa itu Indonesia masih menjadi “net oil exporter” yaitu kerjanya mengekspor minyak mintah dan mendapatkan banyak devisa (setelah “oil boom” Perang Israel-Mesir tahun 1973 dimana Terusan Suez ditutup karena perang, harga minyak membubung tapi Indonesia justru untuk karena eksportir minyak) Sejak beberapa tahun yang lalu Indonesia menjadi “net oil IMPORTER” maka kalau harga minyak membubung Indonesia justru buntung !

    Wah..kalau ada Field Trip, pasti seru !! Apalagi Field Trip yang gratis…he..he…he…

    Reply

  14. nel
    May 06, 2008 @ 17:57:09

    tahun segitu saya baru lahir pak.
    jadi TPB udah ada sejak doeloe ya, tp TPB saya cuman 2 semester.
    ya pak, makin kesini perjuangannya makin berat, terutama utk biaya pendidikan, masalahnya udah campur aduk dg berbagai conflict of interest. jadi rakyatnya yg sengsara.

    btw, kl angkatan saya dulu magang, saya sendiri magang di marketing research punya nya alumni stk juga..pak satrio (kl gak salah angk.18-an/20-an), kenal gak pak?
    o ya, jadi bapak temennya pak amril aman, pak asep saefudin ya…pas sy kuliah pak amril udah jd dekan deh kl gak salah.

    Reply

  15. tridjoko
    May 06, 2008 @ 20:04:53

    –> Mbak Nel : tahun segitu baru lahir ? Woo…jebul mbak Nel ini masih “piyik” tho ? [piyik = anak burung,….muda maksudnya…]

    Ya TPB itu cuman 2 semester dan dilihat bakat, minat dan nilainya di 2 semester itu. Ada beberapa Dept yang sulit dimasuki yaitu Statistika, Matematika I-II harus A; Teknologi Hasil Pertanian, Kimia I-II harus A; Mekanisasi Pertanian, Fisika I-II harus A…

    Pak Satrio Angkatan 18-20, pasti saya nggak kenal. Saya angkatan 13, ketika saya lulus angkatan termuda adalah angkatan 16. Tapi saya sempat 2 tahun masih tinggal di Bogor walau saya sudah mulai kerja di BPPT Jakarta, jadi saya masih “melihat” wajah-wajah angkatan 17 & 18…

    Teman-teman saya se angkatan bisa dilihat di Blog ini dengan meng-klik button “friends”…

    Amril dulu sama-sama sekolah di Indiana tahun-tahun 1987-1989, tapi dia di Purdue U. saya di Indiana U.

    Reply

  16. tridjoko
    May 06, 2008 @ 20:31:43

    –> Bu Edratna : agak sedikit berbeda sih antara “Field Trip” dengan “KKN”…

    Kalau “Field Trip” waktunya singkat, paling hanya 1-2 hari, dan acaranya serba menyenangkan karena kita jalaaaaan terus setiap hari melihat berbagai objek dan “keanehan-keanehan” dunia pertanian yang tidak pernah kita lihat selama di Bogor, misalnya tentang hama wereng…

    Sedangkan “KKN” harus dijalani “full selama 2 bulan” di desa yang ditunjuk dan kita nggak boleh pulang ke Bogor soalnya kalau ketahuan bisa-bisa mata kuliah KKN kita yang besarnya 6 sks (???) bisa nggak lulus. Pan gawat !

    Waktu KKN dulu di desa saya sangat sedikit cewek-cewek yang ada, jadi setelah 2 bulan di desa terus nggak pernah ke kota perasaan semua cewek yang ada di desa jadi cakep-cakep semua…he..he..he…

    Reply

  17. edratna
    May 07, 2008 @ 06:55:29

    Zaman saya belum ada KKN…tapi setiap semester mesti ada acara jalan-jalan, seperti keliling Jabar. Terus setiap tahun, ada 2 minggu di pedesaan, meneliti tentang kehidupan masyarakat desa, pola makannya, kesehatan dsb nya….mungkin kebiasaan program 6 tahun ini yang nantinya jadi ide KKN karena hasil penelitian para mahasiswa ini nanti diolah, dipresentasikan…dan bisa digunakan untuk membuat usulan-usulan perbaikan.

    Semester 10, ada penelitian kecil-kecilan, studi kepustakaan….yang nanti menghasilkan hipotesa yang harus diseminarkan…jika Oke baru boleh lanjut ke penelitian sebenarnya. Ingat, saya masih penelitian selama setahun, dari mulai mengambil sample tanah, menganalisisnya, menentukan kekurangan unsur hara apa saja. Kemudian tanah diolah, diberi pengapuran (karena hasilnya tanah terlalu asam), dibiarkan satu bulan dan tiap kali tanah diaduk…baru mulai ditanami. Setiap hari diukur, lebar daun, diameter batang, klimatologinya (sinar matahari yang sampai dibawah daun )dsb nya…setelah panen, mencabutnya harus hati-hati, diukur berat basah…dan setelah kering diukur lagi berat keringnya……juga di test lagi tanahnya…unsur haranya menjadi berapa….jadi setahun baru selesai, pengolahan data perlu waktu 1, 5 bulan…baru menulis thesisnya.

    Kalau ternyata hasil penelitian tak sama dengan hipotesa awal, harus dibuktikan apa penyebabnya, didukung data dan fakta, melihat dari jurnal-jurnal terbaru untuk melihat kemungkinannya……bahkan ada yang terpaksa mengulang lagi penelitian dari awal. Makanya program 6 tahun, banyak yang akhirnya baru selesai 9 tahun…Ingat suami bu Nia? Dulu penelitiannya dua kali, karena hasil penelitian pertama tak significan dibanding hipotesanya….

    Mahal biaya, waktu, tenaga kerja…dan hanya sedikit lulusan yang bekerja di penelitian dan menjadi dosen….jadi akhirnya ada program 4 tahun. Bersyukurlah, karena dengan program 4 tahun, lebih cepat lulus dan kesempatan terbentang luas…

    Reply

  18. tridjoko
    May 07, 2008 @ 10:38:38

    –> Bu Edratna : saya dulu juga pernah melakukan penelitian mengenai sorghum bertiga, yaitu saya, Barman dan Waluyo. Setiap harinya kerjaan kita adalah mengukur tinggi batang, menghitung jumlah daun, mengukur panjang dan lebar daun, sampai akhirnya panen sorghum dan menimbang berat basah, dikeringkan, dan akhirnya menimbang berat kering, ya persis di jurusan Agronomi…

    Lha, padahal saya kan jurusan Statistika dengan minor Sosek yang nggak pernah nanam tanaman atau meneliti tanaman kayak gitu. Akhirnya setelah 2,5 bulan setiap hari membelai-belai tanaman sorghum, saya baru nyadar bahwa tujuan kita ke Citayam ini adalah untuk MENULIS SKRIPSI ! Oh my Gawd, akhirnya saya melakukan “wake up call” ke dua teman lainnya dan saya mulai nulis skripsi berdasarkan penelitian yang telah saya lakukan dan saya peroleh datanya itu…

    Setelah melakukan studi pustaka kesana dan kesini, akhirnya saya nemukan model skripsi yaitu meneliti unsur organoleptik-nya (ya mirip-mirip uji teh atau kopi yang baik). Nah, skripsi saya jadinya adalah tentang Test Statistik untuk Test Organoleptik…

    Saya akhirnya bikin penelitian dan nulis skripsi dalam waktu 3 hari + 11 hari = 14 hari saja !!!! Maklum saya program 4 tahun jadi bekerja juga harus lebih cepat…

    Nah, “kecepatan bekerja” seperti ini yang biasanya dimiliki oleh mahasiswa Indonesia yang sekolah di Amerika. Saya dulu semalam berempat dengan 3 teman Amerika bisa membuat laporan 150 halaman hanya dalam waktu kurang dari 8 jam !!! (jadi, seorang nulis sekitar 40 halaman dalam 8 jam, alias 5 halaman dalam 1 jam)…

    Mahasiswa Binus saya sekarang nulis skripsi 150 halaman dalam waktu 4 bulan dan mereka ngeluhnya minta ampun..

    Kalau sudah gini, bagaimana mahasiswa Indonesia bisa dibandingkan dengan mahasiswa AS ?

    Itu namanya “no contest” alias “nggak mbanyu”… he..he..he..

    Reply

  19. pkab
    May 08, 2008 @ 16:42:00

    ternyata…..

    jadi inget dulu waktu remaja ikut camping di cigugur. sama teman sama-sama kebelet mau “cut a cable”, masalahnya tempatnya cuman satu dan sudah tidak tahan juga untuk nunggu giliran. jadi kami sama-sama jongkok dengan saling membelakangi, bisa dibayangkan hasil gabungan dari dua sumber itu.

    (ngetik sambil ketawa-ketiwi dan keluar air mata, membaca pengalaman pak tdw yang lebih “menyeramkan”. untung CDnya ndak ikut hanyut.. :P)

    Reply

  20. tridjoko
    May 09, 2008 @ 13:40:43

    –> Pak Sur :

    Wah…kalau CD saya waktu itu juga ikut hanyut, jadinya ikut Field Trip berangkat mahasiswa, pulang orang Rimba…..ha..ha..ha…

    Wah, cerita Pak Sur yang “cut a cable” beramai-ramai sambil adu punggung…lucu juga lho ! Karena bunyi ….eeeeeekkkk-nya berjamaah….ha..ha..ha..

    Reply

  21. Agung
    May 09, 2008 @ 13:47:57

    hahahahahahahaha…!!!
    yang Pak Sur juga lucu.
    yg kasihan kalo ada yg “malas” tunggu antrian trus sikat gigi di daerah yg lbh hilir drpd “tmp pelepasan” gabungan itu.
    bahhhhh….!!!!
    hahahahahahahahahaha…!!!
    beruntung saya belum pernah “cut a cable” di sungai.
    ato malah hrsnya saya menyesal karena itu pngalaman yg sgt berharga??
    hahahahahaha…!!

    Reply

  22. tridjoko
    May 09, 2008 @ 14:05:20

    –> Agung ;

    Di Amerika sekitar tahun 1988-1989 terjadi “big discussion” tentang hipotesis mengapa para laki-laki Amerika lebih suka camping di outdoor dibanding para cewek Amerika ?

    Ternyata jawabannya, para cowok Amerika sangat menikmati ketika harus “cut a cable” di kamar mandi darurat terbuat dari “log” (kayu gelondongan) yang kalau di Jawa disebut “plung lap” atau “jumbleng” itu (wah..Agung pasti susah ngebayanginya…yang ada cuman “lubang gelap” alias “black hole” dan what you have to do is….aim…and…fire !!!…then…terdengar suara…plung !!!)..

    Makanya versi Indonesia, “cut a cable” di sungai pasti sama “nikmatnya” dengan di “jumbleng” di kamar mandi “log cabin” itu….

    Reply

  23. Agung
    May 09, 2008 @ 14:09:38

    hahahahahahaahha…!!
    tak terbayangkan Pak ama saya.
    tapi kalo lg darurat mah,di mana juga bs jadi nikmat.
    hahahahahahahahaha…!!
    asal ga diliatin orang lain,dan ada “alat” buat membersihkan “lubang pelepasan”.
    hehehehehehehehehe…!!

    Reply

  24. tridjoko
    May 09, 2008 @ 14:11:50

    –> Agung : Di Amerika sekitar tahun 1988-1989 terjadi “big discussion” tentang hipotesis mengapa para laki-laki Amerika lebih suka camping di outdoor dibanding para cewek Amerika ?

    Ternyata jawabannya, para cowok Amerika sangat menikmati ketika harus “cut a cable” di kamar mandi darurat terbuat dari “log” (kayu gelondongan) yang kalau di Jawa disebut “plung lap” atau “jumbleng” itu (wah..Agung pasti susah ngebayanginya…yang ada cuman “lubang gelap” alias “black hole” dan what you have to do is….aim…and…fire !!!…then…terdengar suara…plung !!!)..

    Makanya versi Indonesia, “cut a cable” di sungai pasti sama “nikmatnya” dengan di “jumbleng” di kamar mandi “log cabin” itu….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: