Papah bisa main gitar ?

Itu adalah pertanyaan paling menggelikan dari anak sulung saya. Belum tahu dia ! Dulu waktu saya berusaha mendekati calon ibumu, salah satu pendekatannya ya main gitar itu. Apa kamu nggak ingat ? Waktu calon papamu dan calon mamamu lagi pacaran, gitar sering dijadikan sarana hiburan. Begitu juga waktu kamu masih kecil, papa dan mama sering main gitar dan nyanyi, papa yang metik gitar dan mama yang nyanyi (walaupun, walaupun, dan walaupun mamamu nyanyinya bagus, tapi lebih bagus lagi, kalau mamamu tidak menyanyi…hahahahahaha)…

Kalau cuman metik gitar “grip tiga jurus” papamu bisa. Yaitu kunci C, F, G  atau D, G, A. Lagu-lagu mellow yang grip gitarnya Em, Am, Fm, dan nada-nada antara seperti C7, F7, G7, papamu bisa. Dengan modal “grip tiga jurus” itu semua lagu Koes Plus, Panbers, Bimbo, Peterpan, Nidji, papa bisa nyanyiin..

Tapi jangan minta papamu nyanyiin lagunya Beatles macam “Till There Was You” atau lagunya Queen macam “Bohemian Rhapsody“…itu yang papa nggak bisa. Tapi kalau lihat partitur gitarnya dan meniru bagaimana gripnya, masih bisa lah…walaupun “grothal-grathul” (nggak lancar)…

Selain kemampuan saya main gitar yang sering diragukan oleh anak sulung saya, kedua anak saya juga sering meragukan apakah saya benar-benar bisa berbicara dalam bahasa Inggris. Ini benar-benar keterlaluan, masalahnya papanya pernah sekolah ke Amerika selama 3 tahun, maka kalau cuman ngomong sama Bill Clinton, Barrack Obama, atau Madonna, so pasti saya bisa. Entah apa penyebabnya sehingga kedua anak saya “meragukan kemampuan bahasa Inggris” papanya. Yang jelas, secara sengaja di stasiun Gambir pada suatu waktu, saya sengaja berbicara dengan seorang turis bule Jerman yang lagi kebingungan mau pergi ke Yogya dan ia merasa “sudah sangat terlambat” tetapi “keretanya belum tiba”. Sayapun lalu bilang, “No, no, no..the train hasn’t arrived yet”. Dan diapun bilang, “Really ? But now it’s too late already” katanya sambil menunjukkan jam tangannya yang menunjuk ke angka 6 (6 pm). Saya bilang, “No, it’s still 5 o’clock (5 pm)” kata saya sambil saya menunjukkan jam digital saya yang menunjukkan angka 17:00. “Oh, I see” katanya lega karena ternyata ia tidak terlambat… Nah, sengaja melakukan percakapan pakai bahasa Inggris dengan orang bule itu mudah-mudahan bisa menghapus keraguan kedua anak saya apakah papanya ini bisa ngomong pakai bahasa Inggris…

[Padahal, yang saya yang benar-benar tidak bisa adalah : 1) berenang  2) membaca huruf Arab dalam kitab suci…hehehehe….]

 

64 Comments (+add yours?)

  1. tutinonka
    May 17, 2008 @ 22:48:31

    Ah, diragukan bisa main gitar atau bisa bicara bahasa Inggris mah nggak apa-apa Pak. Coba, kalau diragukan Bapak adalah papanya, apa nggak keriting ….. wakakaka … (maaf beribu maaf, bercandanya keterlaluan ya Pak … di delete aja nih komentar gak sopan blas …)

    Reply

  2. tridjoko
    May 18, 2008 @ 02:17:23

    –> Bu Tutinonka :

    Hahahahaha….

    Mengapa Bu, orang kalau lagi mengajukan diri untuk mendapatkan kartu kredit yang ditanya adalah “nama Ibunya” dan bukan “nama papanya” ?

    Kalau Ibu bisa menjawab pertanyaan ini, wah…jan bener-bener pinter poll…

    Reply

  3. simbah
    May 18, 2008 @ 10:03:47

    Asyik,….Dik Yon kan lulusan toefl, lah mesti saja cas…ciss…cuss bareng aku lulusan Slamet Sudibyo…ya pake bahasa inggrisnya Tukul. meski pak Slamet ngajarnya betul-2 tapi aku nggak bisa nangkep. Maka waktu masuk perusahaan asing aku pake basa inggris hantem kromo, nasib baik bisa ketrima. Sebagai operator radio yang kerjanya memang suka translit dari bule ke melayu dan sebaliknya. Maka bule-2 suka ngernyitkan dahinya..abis itu trus senyum-2 sambil geleng-2 kepala…he..he..
    Kalo boleh njawab, pertanyaan ke bu Tutinonka ya mesti saja…karena yang paling tahu kan Ibunya…karena Ibunya hanya satu thok til…kalo Ayahnya kan bisa banyak…gimana? he..he…

    Reply

  4. edratna
    May 18, 2008 @ 11:15:55

    Terpengaruh Barat, karena biasanya nama ayah menempel pada belakang nama anaknya. Dan orang akan lebih ingat, sedang nama ibu kan jarang dipasang, terutama untuk hal yang terkait dengan pekerjaan. Namun zaman sekarang sebetulnya hal itu tak terlalu sulit, karena banyak para pegawai menggunakan namanya sendiri tanpa di embel-embeli nama suami atau ayahnya, karena nama sendiri udah terlalu panjang.

    Reply

  5. tridjoko
    May 18, 2008 @ 14:28:20

    –> Bu Edratna :

    Wah..ini jawaban standar dari pegawai bank…

    Jawaban salah ! He..he..he..he….

    –> Simbah :

    Yaaaa ini jawaban yang benar !!

    Mengapa kalau orang apply kartu kredit ditanya “nama ibu kandungnya” dan bukan “nama bapak kandungnya” ? Karena yang ia tahu persis pasti benar, adalah ibu kandungnya ! Sedangkan bapak kandungnya siapa, nggak tahu, yang tahu persis siapa bapak kandung saya, ya ibu saya….alias, itu urusan ibu saya, bukan urusan saya !!

    Hahahahaha..

    Sayapun pernah nanya hal yang sama ke mbak-mbak di Bank Mandiri, tapi jawaban mbak-mbak itu ya persis seperti jawaban Bu Edratna yang memang orang bank dan pernah ditraining untuk menjawab seperti itu…

    Setelah saya berikan jawaban versi Simbah tadi, si mbak-mbak di sana malahan tertawa terpingkal-pingkal…

    Padahal pegawai bank menurut aturan tidak boleh tertawa lho ! Yang boleh adalah “tersenyum”….

    Hihihihihi….

    Reply

  6. simbah
    May 18, 2008 @ 16:24:59

    He..hehe… jadi aku pinter polll thank you….

    Reply

  7. tridjoko
    May 18, 2008 @ 18:10:30

    –> Simbah :

    Iya mas….selamat ya !

    Reply

  8. rumahagung
    May 19, 2008 @ 10:13:15

    yah,sama kyk org2 di rumah saya Pak.
    sll ga percaya dgn kemampuan anak ato kakaknya ini.
    saya bilang saya mau ngband ama tmn2,
    dibilang,”ngapain?? cuma ngliatin doank”.
    trus saya bialng,”lho? orang aku yg main drum”.
    mereka ragu,”sejak kapan bisa maen drum?”.
    begitu juga begitu mereka baru tau saya bs bawa mobil n motor.

    dan yg plg parah begitu mereka baru tau saya jadi ketua OSIS wkt SMP.
    (*karena wkt itu surat persetujuan ortunya saya palsuin tanda tangannya*).
    hahahahahhahahahhaha…!!!

    lha?
    mereka ga tau apa kalo saya orang hebat??
    hahahahahhaha…!!

    Reply

  9. Agung
    May 19, 2008 @ 10:27:20

    yah,sama kyk org2 di rumah saya Pak.
    sll ga percaya dgn kemampuan anak ato kakaknya ini.
    saya bilang saya mau ngband ama tmn2,
    dibilang,”ngapain?? cuma ngliatin doank”.
    trus saya bialng,”lho? orang aku yg main drum”.
    mereka ragu,”sejak kapan bisa maen drum?”.
    begitu juga begitu mereka baru tau saya bs bawa mobil n motor.

    dan yg plg parah begitu mereka baru tau saya jadi ketua OSIS wkt SMP.
    (*karena wkt itu surat persetujuan ortunya saya palsuin tanda tangannya*).
    hahahahahhahahahhaha…!!!

    lha?
    mereka ga tau apa kalo saya orang hebat??
    hahahahahhaha..!!

    Reply

  10. tutinonka
    May 19, 2008 @ 16:21:18

    We lha ….. padahal maksud saya, mungkin putra-putri Pak Tri meragukan Pak Tri adalah ayah mereka karena mereka merasa lebih pinter, lebih jago, lebih kualifaid, dan seterusnya. Jangan-jangan ketuker waktu mereka lahir di rumah sakit. Karena ayah mereka kan pantesnya sejenius Einstein, seganteng Harryson Ford, sehebat Shakespeare, dan seterusnya …. Eh, kok larinya ke ‘hanya ibu yang tahu siapa bapakku’ ….

    Untuk Simbah, maturnuwun Yang Kung sudah mewakili saya menjawab pertanyaan tentang nama kecil ibu (padahal jawaban saya bukan itu lho … he he).

    Ngomong-ngomong, saya juga sering nggak dipercaya nih sama keluarga dan teman-teman saya. Nggak dipercaya kalau saya ini bodoh ….. (wakakaka …. padahal bodoh beneran).

    Reply

  11. tridjoko
    May 19, 2008 @ 16:51:27

    –> Bu Tutinonka :

    Ya Bu, kalau mood anak-anak lagi baik Ibunya sering nggodain (teasing), “Wah…kamu kok rupanya lain sendiri, jangan-jangan dulu ketukar waktu di rumah sakit”. Hehehe…padahal kedua anak saya lahirnya di RSPAD Gatot Subroto, karena tidak bayar….ha..ha..

    Terus, ngejawabnya sudah keduluan sama Simbah yang lagi ngebor minyak di laut sehingga punya banyak waktu untuk browsing internet. Konon ngebornya itu hampir dekat semenanjung Malaysia lho bu !

    Wah..ibu ada-ada saja, masak ada dosen Teknik Sipil senior di PTS paling ternama di Yogya kok ngaku bodoh…Lha bodohnya saja sepinter itu…hahaha…

    Reply

  12. tridjoko
    May 19, 2008 @ 16:58:13

    –> Agung :

    Ya, orang-orang di rumahmu kemungkinannya ada dua : cuek (ignorance) atau nggodain (teasing)…

    Bisa juga karena cueknya orang-orang se rumah tidak tahu apa yang kita bisa. Saya dulu sudah bisa naik motor dan dapat SIM C tanpa orang-orang serumah tahu soalnya memang di rumah tidak ada motor pada waktu itu….jadi waktu akhirnya keluarga bisa beli motor, saya sudah siap menaikinya dengan “tegen” (lancar)…

    Nggodain juga bisa, jadi sebenarnya orang-orang rumah sudah tahu kita bisa sesuatu tapi karena belum pernah ditunjukkan di depan mereka maka mereka belum tahu, atau mereka sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu…

    Hehehe bingung ya…

    Kadang-kadang ada orang se rumah atau ada teman dekat (sahabat) yang membuat kita surprise. Saya dulu pernah punya teman yang bandel banget (suka ke discotheque dan dugem lainnya), tapi pas kita agak serius…ternyata dia bisa baca Al Quran dengan lancar…dari halaman terdepan hingga halaman paling belakang…kita tinggal pilih halamannya, dan dia membacanya plus melagukannya…

    Wah…itu baru benar-benar surprise !

    Reply

  13. Agung
    May 19, 2008 @ 19:46:34

    yah mungkin jg gt.
    ada unsur cueknya,ato nggodain juga.
    kalo saya dolo anggapnya mereka tll underestimate saya.
    hehehehehhehehe…!!!
    tapi kalo meragukan kemampuan bahasa Inggris Bapak sih,saya ga berani Pak.
    hehehehehehe…!!

    Pak,saya baca di koran,
    di Singapore Polytechnic ada anak umur 7tahun ud bs kuliah jenjang S1 Teknik Kimia.
    7tahun lho…!!!
    parah…!!!
    perasaan saya umur 7tahun bedain warna aj ga bs.
    hahahahahhahaha…!!
    ampe skrg jg ga bs sih bedain warna.

    Reply

  14. tridjoko
    May 19, 2008 @ 20:03:48

    –> Agung :

    Anda lupa ya ? Dulu waktu mahasiswa Binus suka ikut international programming contest ada anak kelas 5 SD namanya Andi rumahnya di Kebon Jeruk yang kepintarannya sudah setara anak HIMTI semester 6 !!!!

    Waktu saya sekolah di Singapore Polytechnics tahun 1993 saya sempat ketemu Andi, ibunya, beberapa mahasiswa Binus yang lagi ikut programming contest di Singapore, lalu chaperon mereka adalah Ibu Anna Maria (dulu di Binus, sekarang Dekan Fasilkom U. Bunda Mulia)…

    Saya bilang sama ibunya Andi, “Bu kalau saya punya anak seperti Andi ini sayang kalau cuman disekolahin di Indonesia. Mestinya minimal sekolahnya di Singapore, soalnya sekolah di Indonesia nggak ada yang memperhatikan anak berbakat seperti Andi ini”…Ibunya Andi lalu manggut-manggut setuju…

    Saya denger Andi akhirnya masuk SMP-SMA Kanisius, lalu meneruskan ke Computer Science NUS…

    Mungkin sekarang sudah lulus Master atau Ph.D dan mungkin tinggal kalau nggak di Singapore, Australia atau Amerika..

    Who knows ?

    [Saya masih ingat wajah Andi yang bulat-bulat imut…]

    Reply

  15. Agung
    May 19, 2008 @ 20:13:49

    wow.
    saya pernah membayangkan jd anak super jenius macam itu.
    tapi kok wkt itu malah membayangkan byk kejahatan dan kejahilan yg akan saya lakukan yah dgn kejeniusan saya itu?!?!
    hahahahahahhahahaha…!!
    mungkin karena saya kurang bijaksana,maka TUHAN tidak berkenan beri saya kecerdasan yg luar biasa,DIA cm ksh yg biasa2 aj ke saya.
    hehehehehehhehehe…!!

    soal si Andi itu,saya justru gak tau tuh Pak.
    kls 5SD bs programming??
    astaga,saya aj ampe skrg belom bs.
    hahahahahahahhahaha…!!
    gile bener….!!!
    untung ortunya bijaksana yah Pak.
    saya jg pernah baca di koran.
    ada cewe surabaya gt (cakep n imut lg) umur 18thn uda lulus S1 teknik fisika dr MIT ato Stanford gt,saya lupa.
    tapi yah….!!!
    abis lulus dia malah pulang ke indo dan kerja di bank,dan cm sebagai staff.
    MY GOD….!!!!!!

    Reply

  16. tridjoko
    May 19, 2008 @ 20:18:28

    –> Agung :

    Yah, itulah kehidupan…

    Yang pinter banget…akhirnya cuman jadi staf, atau dosen….

    Yang tidak terlalu pinter, malah diberi kekayaan berupa harta dunia…

    That’s life man !

    Ada teman lulusan Indiana, dia pernah kerja di sebuah bank di New York yang setiap hari harus kerja pakai dasi…ternyata itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kehidupannya…

    Akhirnya dia mendirikan band, dan band itu sekarang sangat terkenal, dan dia happy karenanya…

    Namanya Makki Parikesit, kalau nggak salah posisinya Bassist di Band Ungu…

    Hahahahaha…

    Reply

  17. Agung
    May 19, 2008 @ 20:24:28

    yah,yg penting kita kaya di akhirat Pak.
    hehehehehehhehehehehe..!!!
    yah,tp perlu mapan dan sejahtera lahir bathin di dunia dulu baru bs byk amal dan bantu sesama.
    dan kalo mapan dan sejahtera macam itu jg kemungkinan buat dosa lbh kecil.
    hehehehehehhehee…!!

    mungkin bakat spesial saya adalah mengumpulkan anak2 jenius itu dan memanage mereka agar lebih berguna di masyarakat.
    macam Professor X di Xmen.
    hahahahhahahhahahahahahhaa…!!

    Reply

  18. tridjoko
    May 19, 2008 @ 20:26:57

    –> Agung :

    Prinsip “muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga” kayaknya indah tenan ya ?

    Tapi apa mungkin ?

    Walah ? Ngumpulin anak jenius dan memanage mereka ?

    Itu bukan Profesor X tapi Profesor Johannes Surya !!!

    [Tapi mengapa ya beliau keluar dari “sana” dan akhirnya masuk “sini” ?]

    Reply

  19. Agung
    May 19, 2008 @ 20:32:11

    Johanes Surya mah cm ngumpulin dan melatih mereka.
    beda ama saya.
    hehehehehehehehe…!!!

    iyah,beliau pensiun jd pelatih anak Jenius.
    skrg malah jd rektor UMN.
    ke dunia yg Bapak geluti.
    hehehehehehehehhee…!!
    minat nglamar ngajar di UMN Pak??

    Reply

  20. tridjoko
    May 19, 2008 @ 21:49:26

    –> Agung :

    Wah..ngajar di 2 univ aja rasanya udah mulai nggak kepegang. Belum nanti Oktober Binus mulai program MTI (Magister Teknik Informasi) yang sudah 15 tahun jadi konsep tapi baru jadi sekarang (saya masih punya file persiapan MTI tahun 1993 yang lalu)…

    Kabarnya, saya diminta ngajar di MTI juga, padahal saya kan cuman S2 dan nggak tahu apa-apa, lain sama orang yang pinter-pinter di luar sana….

    Soalnya, kerjaan jadi konsultan lagi rame nih. Tidak hanya masalah IT dan IT Audit, banyak permintaan konsultasi justru dari “bidang lama” saya yaitu Pertanian dan Transportasi. Belum yang Global Warming dan Green House Gases Mitigation…

    Capek deh !!! (mikirnya)…

    Asyik tuh !!! (dokatnya)…

    Hahahahaha…

    UMN ? Ntar dulu deh, kalau mahasiswanya banyak dan haus akan pengetahuan, dan saya yang diminta ngajar di sana sih mau…kalau nglamar sendiri mah ogah…emang gua cowok apaan ?

    hahahaha…

    Reply

  21. Agung
    May 20, 2008 @ 09:31:02

    hahahahahahahahaa…!!!
    kyknya kalo ngajar di MTI Binus gajinya pasti lumayan tuh Pak.
    tp jgn tinggalin donk Pak S1 Binusnya.
    nanti makin langka aj dosen kyk Bapak.
    hehehehehehehhehehe…!!!

    yah,hrs jaga kesehatan jg Pak.
    kan Bapak uda “seksi”,atur pola makan yg baik Pak.
    hehehehehehehhee…!!

    lagi pula UMN kampusnya di Summarecon Serpong.
    dr BSD msh 15-20mnt.
    jauh dr rmh Bapak.
    ato mungkin saya yg akan ngajar di sana ntinya??
    hahahahahhahahaha…!!
    di UMN jurusan TInya ada penjurusan mobile IT lho Pak.
    pokoknya byk deh yg “mobile2”.

    Reply

  22. tridjoko
    May 20, 2008 @ 12:08:00

    –> Agung :

    Wah..ngajar S2 MTI kayaknya kagok juga sih, soalnya saya ini dosen tipe serampangan gitu…he..he..

    Di UMN jurusan TI-nya ada jurusan “Mobile Communication” begitu juga di SGU, Paramadina, saya lihat begitu juga. Makanya menurut saya “pengkotakan jurusan” di Binus sudah out-dated sudah perlu direvisi karena kebanyakan jurusan Comp Sci di US sana juga sudah banyak menangani Mobile Communication, bahkan saya pribadi sudah punya “ratusan ribu” PDF file skripsi undergraduate mereka…ha..ha..ha..

    (Di Comp Sci US biasanya mahasiswa yang mengejar predikat “Honor” alias “Cum Laude” harus menulis skripsi undergraduate, untuk yang GPA-nya > 3.25 seingat saya. Selain itu, tidak harus menulis skripsi dan bisa menyelesaikan studinya “by course”…)…

    Jadi perubahan di TI Binus ditunggu-tunggu nih, kalau nggak…bakalan ketinggalan kereta…

    Reply

  23. Adhiguna
    May 20, 2008 @ 14:02:22

    Wah denger UMN saya jadi tertarik nih untuk berdiskusi, saya pernah dilamar UMN untuk menjadi ketua jurusan Informatika disana.

    Tetapi sayang lamarannya terlambat dan saya keburu ke luar negeri, tapi dalam hati sebenarnya saya masih tertarik, mungkin nanti setelah lulus PhD kali ya.

    Menurut pak Tri, bagaimana, apakah sebaiknya saya berkarir di luar negeri, dan disini paling banter ya jadi engineer sekaligus jadi adjunct professor. Atau balik ke Indonesia dan mencoba posisi di Universitas baru semacam UMN ? bagaimana prospeknya Universitas baru semacam UMN ini, apakah kita benar-benar bisa mengaktualisasikan ide ide kita secara bebas, atau masih ada hal-hal lain yang “unpredictable” ?

    mungkin pak Tri sebagai akademisi senior bersedia berbagi saran.

    Reply

  24. tridjoko
    May 20, 2008 @ 16:37:12

    –> Adhiguna :

    Wah..Mas Adhi, itu pertanyaan bagus…

    Sebentar ya (garuk-garuk kepala dulu)…saya juga belum tahu apakah Mas Adhi nanti stop aja di Master atau mau meneruskan ke Ph.D ?

    Kalau stop di Master, sebaiknya bekerja dulu di LN ya sebagai engineer gak apa-apa dan kalau ada waktu dan kesempatan bisa ngajar di universitas…dan kalau bukan di jalur “tenure track” memang disebutnya sebagai “adjunct professor”…atau malah hanya “lecturer” saja.. Nah, nantinya kalau sudah “bosan” di luar negeri misalnya setelah 5-10 tahun pengalaman kerja mendulang Euro dan Pound..bisa pulang mendarmabhaktikan ilmu ke negeri sendiri…(tapi sudah cukup kaya, bisa beli rumah dan mobil di Indonesia…)…

    Kalau mas Adhi mau terus ke Ph.D kemungkinannya menjadi semakin luas, pilihan karirnya sangat luas. Tapi mengambil Ph.D adalah “the long and winding road”. Kalau di US mahasiswa Ph.D yang paling pinterpun di Comp Sci lulusnya 3,5 tahun, sedang yang biasa-biasa saja 5 tahun, dan yang lelet bisa 7-8 tahun. Saya dengar di UK dan France secara umum lebih cepat karena “Ph.D by research” sedangkan kalau di US kan “Ph.D by course” (perlu at least 3 semester ambil course sebelum boleh ngambil “Qualifying Exam”)…

    Nah, setelah lulus Ph.D kemungkinan mas Adhi bisa melamar sebagai Assistant Professor di suatu universitas di Eropa. Tapi “tenure track” juga mbikin pikiran capai. Kalau lancar dalam 5 tahun Assistant Professor baru naik pangkat jadi Associate Professor jika bisa nulis banyak paper di publication yang prestisius. Begitu juga, 5 tahun setelah Associate Professor paling cepat bisa menjadi Full Professor. Nah, kalau sudah Full Professor ini baru “enak jatuhnya”. Sekali memberi seminar fee-nya kalau nggak salah USD 1,500 (dulu di 1989 di US USD 1,000)…

    Mengenai UMN saya tidak bisa menilai bagaimana karena memang data terakhir tentang universitas baru ini saya tidak tahu. Di Jakarta 2 PTS yang paling cepat majunya adalah UPH dan SGU karena didukung dana yang unlimited, sedangkan yang lain saya tidak tahu. Tapi mengingat UMN didukung KKG Group sebagai pemilik, saya yakin mereka serius lho (are they for real ?)…Masalahnya, apa jumlah mahasiswa UMN cukup banyak ? Kalau banyak is OK, tetapi kalau dalam 1 kelas kurang dari 30 orang…pasti kondisinya belum “break-even” (belum balik modal)…

    Tapi mas Adhi, kalau anda pulang sebagai Ph.D akan banyak sekali opportunities tidak hanya menjadi dosen, tetapi juga sebagai IT consultant. Di Indonesia ini banyak orang kaya yang perusahaannya gede-gede, jadi asal kita punya network yang luas, pasti lama kelamaan “ikan”pun akan masuk ke “bubu” kita…

    Kuncinya : senyum, berteman dengan banyak orang (yang bener), berdoa, berzikir, dan tetap optimis !

    That’s my two cents, mas !

    Reply

  25. Agung
    May 20, 2008 @ 20:26:26

    nanti deh Pak ide2 soal mobile communication saya sampaikan ke Bapaknya temen saya.
    kan pagi2 suka ada “morning tea”,
    ajang diskusi Bapak Rektor dengan mahasiswa.
    saya lupa tiap hari apa,nanti saya tanya ama temen saya deh.
    ato mungkin dosen jg bisa ikutan “morning tea”??
    saya juga lupa.
    saya juga punya ide soal jurusan BioTech.
    hehehehehehehehehe…!!!
    kabarnya interior design dan hotel management juga hasil diskusi “morning tea”.
    sapa tau ide kita juga bisa direalisasikan lewat “morning tea”.
    iyah gak Pak??
    hehehehehehehe…!!

    soal ngajar di UMN.
    kalo saya sih,liat honor mengajarnya.
    kalo >= dari UPH,saya mungkin ambil.
    kalo = dr UPH.

    Reply

  26. tridjoko
    May 20, 2008 @ 20:49:43

    –> Agung :

    Kalau bertemu dengan Bapaknya temanmu itu di acara “Morning Tea” tolong disampaikan usulan agar “bidang peminatan” di jurusan Teknik Informatika dihapuskan saja. Di ITB atau UI yang namanya “bidang peminatan” itu bersifat “sukarela” alias elektif. Saya perhatikan banyak mahasiswa tingkat akhir TI yang bingung nulis skripsi dan biasanya nggak bisa dipatok di bidang tertentu…

    Selain itu, mata kuliah pilihan (elektif) harus diperbanyak dan diperkuat sesuai tuntutan pasar atau tuntutan pekerjaan yaitu lebih ke Computer Security, dan Mobile Communication..

    Kalau TI Binus nggak segera berubah, saya cuman khawatir sebentar lagi menjadi “Sekolah Dinosaurus” yang begitu lulus, begitu punah ditelan jaman….(bukan kena ledakan meteor)…ha..ha..ha..

    Jika ini suara seorang dosen senior, mudah-mudahan Bapak temenmu itu berkenan mendengar…he..he..he..

    Reply

  27. Agung
    May 20, 2008 @ 20:57:47

    lha???
    panjang aje Pak…!!
    mana kt2nya dosen banget.
    apa ga bingung yah nanti si Godfather kalo saya ngomong gt di “morning tea”??
    nanti saya dibook jd dosen Binus lg ama beliau.
    ato perlu pake “kutipan dari Pak Tri Djoko”??
    hehehehehehehehhe…!!
    kalo dosen bole ikutan “morning tea”,Bapak ikut aj.
    nanti bareng saya deh.
    hehehehehehehehehehhe…!!!

    Reply

  28. FrisKa
    May 20, 2008 @ 21:07:52

    [quote] (walaupun, walaupun, dan walaupun mamamu nyanyinya bagus, tapi lebih bagus lagi, kalau mamamu tidak menyanyi…hahahahahaha) [/quote] ->ini muji apa muji ya Pak..hahaha

    wuih..kl gitu Saya mengusulkan Pak, gmn drpd tanding catur dikls mendingan Kita dengerin Bapak unjuk aksi maen gitar dikls aja?^^ Lumayan kan Pak, kpn lagi bisa konser live :p hehe itung2 ngebuktiin kl Bapak bisa beneran maen gitar lho :-” hehe *kabur*

    Reply

  29. tridjoko
    May 20, 2008 @ 21:32:22

    –> Friska :

    Ada-ada aja, mana ada kelas Artificial Intelligence dosennya disuruh main gitar ?

    Nanti deh, pada waktu yang tepat saya main gitar. Dulu waktu sekolah di Singapore pas ada acara Singapore National Day tanggal 9 Agustus semua kelas harus membuat satu acara, boleh nyanyi boleh drama dsb. Termasuk dosen-dosennya juga harus mengeluarkan sebuah acara. Waktu itu saya dan teman-teman sekelas nyanyi, yang main gitar saya, dan kita juara II lho..

    Lumayan, hadiahnya Sin $ 100 kita beliin makanan dan dimakan rame-rame…

    Hehehehehe….

    Ssssttt..untung isteri saya nggak suka baca blog, kalau tahu ntar dia marah…hahahahaha…

    Reply

  30. Adhiguna
    May 20, 2008 @ 23:07:22

    Wah insightnya sangat menarik sekali pak Tri..dan sangat sesuai dengan apa yang saya pikirkan…Saya pikir memang lebih baik cari pengalaman industri di Eropa terus bikin konsultan sendiri di tanah air, sambil cari2 penanam modal.

    memang saya tadinya tidak berencana untuk mengambil PhD, karena saya pikir buat apa toh saya tidak mau jadi researcher tapi setelah melihat betapa dibutuhkannya research engineer di industry di Eropa, saya berubah pikiran.

    Di Eropa (setahu saya adanya di Perancis, Jerman,Swiss, UK dan Denmark) ada scheme PhD yang disebut Industrial PhD.

    Industrial PhD itu adalah scheme dimana kita bekerja di Industry, tapi tetap linked dengan universitas/institut riset dan melakukan
    riset yang applied di industri itu. Walaupun tugas utama kita riset dan nulis disertasi, kenyataannya kita juga melakukan tugas tugas industrial seperti programming, instalasi alat, presentasi, ketemu klien, nggulung kabel etc hehehe..

    so lengkap banget benefitnya, industrial/real project experience dapet, pengalaman riset dapet, gaji dapet (lebih besar dari PhD biasa karena yang kasih dana industry+lembaga riset/government) dan gelar PhD juga dapêt!

    Saya benar benar malas PhD seperti di Amerika dimana kita hanya melulu belajar buat lulus qualifying exams, habis itu riset murni di Universitas. Lulus 5 tahun hanya dapat gelar PhD saja. No industrial experience, no business experience. Susah cari kerja kecuali di akademis. Memang buat kalau mau jadi scientist/professor sih riset di Univ itu bagus, tapi saya pingin lebih dari itu.

    However industrial PhD sangat sulit tentunya untuk didapatkan. Karena jarang dan perusahaan sangat selektif sekali,
    biasanya tim seleksi itu dari universitas dan industry dan seleksinya beberapa kali. Tapi saya ada beberapa pengalaman untuk interview industrial phD.

    Apesnya saya sebenernya sudah dapet tawaran industrial PhD di perusahaan besar di Jerman dengan gaji gede, tapi amblas terimakasih pada birokrasi di Universitas Indonesia yang menghambat saya mendapatkan beberapa surat.

    Saya sekarang sedang bekerja sambil riset di industry,hopefully berlanjut ke PhD jika perusahaan bersedia mensponsori.

    Untuk cadangan, saya juga melamar ke tempat lain, minggu ini sebuah perusahaan hightech Perancis bekerjasama dengan Inria
    (institut riset informatika Perancis, yang bikin Scilab) akan mewancarai saya untuk industrial PhD di Grenoble.

    Mohon doa restunya pak Tri walaupun saya tidak berharap banyak karena reputasi Inria sudah bikin kaki saya gemeteran duluan.

    Salam hangat,

    Reply

  31. tutinonka
    May 21, 2008 @ 00:42:43

    Ya ampuuunn … saya heran, Pak Try kok setiap hari bisa nulis beberapa artikel, njawab buanyak komentar di blog (panjang-panjang lagi njawabnya). Kapan sih kerjanya, Pak ….. he he he ….

    Reply

  32. FrisKa
    May 21, 2008 @ 00:59:12

    [quote] (walaupun, walaupun, dan walaupun mamamu nyanyinya bagus, tapi lebih bagus lagi, kalau mamamu tidak menyanyi…hahahahahaha) [/quote] -> ini muji apa muji ya pak ..hahaha

    Wuih…Kl gt Saya mengusulkan Pak, gmn drpd tanding catur di kls, lebih baik Bapak unjuk aksi maen gitar plus nyanyi :p , kyknya lebih seru tuh Pak..hehehe
    Itung-itung sekalian ngebuktiin kl Bapak beneran bisa maen gitar lho..hehe :-“

    Reply

  33. tridjoko
    May 21, 2008 @ 05:06:11

    –> Adhiguna :

    Gotcha !!!

    Yah, gitu Mas Adhi udah ngerti kemungkinan-kemungkinannya…

    Berdoa dan berzikir yang banyak mas, termasuk juga berderma (orang ngamen di pinggir jalan, mengapa kita tidak kasih sekeping dua keping uang ?)..

    Mudah-mudahan goal apa yang anda cita-citakan…

    Yah namanya “red tape” (birokrasi) dimana-mana begitu…

    Just don’t look back !!

    Reply

  34. tridjoko
    May 21, 2008 @ 05:08:59

    –> Bu Tutinonka :

    Bu, kemarin Jakarta libur tanggal 20 Mei hari Waisyak…di Yogya tidak ya Bu (bercanda lho !)…

    Seharian kemarin ngawasi warga RT saya bertanding Volley dengan RT lain, setelah itu sempat tidur siang sebentar, bangun-bangun…kemana lagi kalau nggak di depan komputer ?

    Malam sedikit, beli shuttlecock, sampai rumah..beberapa anak kecil sudah rame, “Pak RT, Pak RT, minta cock-nya dong…”

    Terus saya bagi-bagi….

    Hahahaha…Bu, what a happy day for me !

    Reply

  35. simbah
    May 21, 2008 @ 19:21:54

    Ya…Bu Tutinonka,….sahabat saya Dik Yon, ini memang sangat menikmati hidupnya…saya heran juga, sepertinya nggak ada yang ngejar-2 kerjanya turne melulu nggak nyari duit tapi duitnya yg nyari Dia…nasib…nasib….he..he….
    Atau masa berjuangnya sudah lampau, sekarang tinggal menikmati….saja, saya juga belajar dari beliaunya nih….bisa menikmati hidup….

    Reply

  36. tridjoko
    May 21, 2008 @ 20:31:10

    –> Simbah :

    He..he..tahun ini turne terus soalnya untuk mengganti tahun kemarin yang hampir nggak ada turne…

    Ya sing penting perasaan diliputi rasa senang dan optimis…pasti yang namanya rejeki kan nanti jatuh dari langit…ha..ha..ha..

    (Kalau ditunggu nggak datang-datang, ya ketawa aja…)…

    Reply

  37. tutinonka
    May 23, 2008 @ 21:11:46

    Walaah … masih sempat juga jadi Pak RT to Pak? Tapi nggak seperti Pak RT di sinetron “Suami-Suami Takut Istri” yang diputer di Transteve setiap jam 18.00 itu to …. he he …

    Itulah senangnya jadi pria (lho??). Lha iya, selain kerjaan kantor kan nggak ada tanggungjawab lain di rumah. Beda dengan ibu-ibu. Lagi mau buka kompiu, sudah ada request : “Dik, bikinin nasi goreng dong”. Lagi ngetik dapet lima baris, ada perintah : “Tolong setrikain hemku yang biru ya”. Lagi mau baca buku, datang rayuan : “Cuma kamu yang bisa ngedit naskah ini dengan bagus” (suami saya penerbit buku). Niat browsing muncul, ee …. lihat lantai perlu disapu ….

    Tapi enak juga kok jadi wanita, soalnya kan tidak bertanggungjawab mencari uang. Prinsip yang berlaku adalah “Uangmu adalah uangku, uangku adalah uangku”, begituu …. Jadi gaji saya ya saya pakai untuk foya-foya sendiri … he he …

    Buat Simbah, kayaknya kita mesti numpang di langitnya Pak Tri nih, biar ikut kejatuhan rejeki juga …. Yuuuk.

    Reply

  38. simbah
    May 23, 2008 @ 23:26:22

    iYA….Bu Tutinonka,….setuju juga dengan prinsip Ibu itu….itulah enaknya Perempuan…tapi menurutku urik juga ya…..istriku juga begitu kadang-2.
    Mau nututi Dik Yon? . . .wah dah nggak keuber, beliau dah terbang ke-mana2…saya masih jalan di tempat….he..he…..tahu nggak rahasianya…beliau waktu masih kecil suka diberi minum minyak ikan…lah bareng saya,…air tajin…tahu air tajin? itu tuh..air rebusan beras yg diambil waktu kita menanak nasi…

    Reply

  39. tutinonka
    May 23, 2008 @ 23:57:14

    Pak Simbah (Haa?? Mbah Buyut dong …) memang begitulah takdir kita. Suami bertugas mencari uang, istri bertugas menghabiskan uang. Jadi, marilah kita jalankan tugas kita dengan sebaik-baiknya …. Merdeka!

    Ah, saya nggak berpretensi nututi Pak Yon kok. Kan sesama bis kota dilarang saling mendahului (kalau melompati boleh …).

    Pak Simbah diminumi air tajin? Masih mending Pak. Lha saya dikasih minum minyak jlantah, makanya sampai sekarang gelap dan buthek (tapi nggak tengik lho, malah sedap baunya … campur-campur bawang, terasi, dan ikan asin)

    Reply

  40. tridjoko
    May 24, 2008 @ 00:59:35

    –> Bu Tutinonka :

    Wah, saya jadi RT tuh karena di kampung saya giliran per jalan kok Bu jadi RT-nya. Jadi 3 tahun ini Pak RT dari Jalan A, 3 tahun kemudian dari Jalan B, 3 tahun setelahnya dari Jalan C, dan 3 tahun berikutnya kembali ke Jalan A lagi, demikian seterusnya…

    Lha wong saya ini jadi RT karena “ketiban sampur” kok Bu…

    Saya jarang lihat sinetron “Suami-Suami Takut Isteri” kok Bu, dulu waktu Bajaj Bajuri saya masih sempat nonton. Di jam yang sama saya malah suka nonton “Astro Awani” di Jak-TV (cuman bisa ketangkep di Jakarta) karena menyiarkan berita dunia dan penyiarnya kelihatan ramah-ramah, gitu…

    –> Simbah :

    Wah, sampeyan iku muji terus. Padahal Bu, yang namanya Simbah alias Mas Didiek ini tarian Anoman-nya juannnn polll bagusnya….mungkin cuman kalah sama Sardono W. Kusumo (pencipta “Dongeng dari Dirah”) sama Eko Supriyanto (bekas penari latarnya Madonna, sekarang ngambil Ph.D in traditional dance di UCLA) saja…

    Kalau Mas Didiek ini lagi nari Anoman, wah juan koyo kethek tenanan kae lho Bu…wis juan ora ana bedane karo kethek…hehehehehe…misalnya garuk-garuk badan karena gatelen kutunya banyak…

    Coba kalau dianya tidak jadi “tukang minyak” pasti deh sudah jadi penari profesional….

    Hahahahaha….

    Reply

  41. tutinonka
    May 24, 2008 @ 20:56:28

    Yang suka nonton sinetron “SSTI” itu malah suami saya lho Pak, saya sendiri cuma lihat sambil lalu saja. Itu sinetron dagelan. Saya sendiri nggak pernah nonton sinetron. Channel TV saya kalau nggak Metroteve ya Transteve.

    Wah, Pak Didiek ini penari spesial kethek to. Saya mau juga lho jadi Dewi Sinta, tapi nggak usah sampai episode “Sinta Obong”. Lha mosok untuk menguji kesetiaan Sinta, Rama tega menyuruh istrinya itu nyemplung ke api …

    Kalau Pak Didiek sudah bosan jadi “tukang minyak”, buka sanggar tari aja Pak. Tapi jangan jadi kethek terus … he he he …
    Btw, saya pernah nonton opera “Pangeran Diponegoro” karya Sardono W Kusumo di Solo. Wah juaan, memang bagus banget. Olah tubuh dan ekspresi para penarinya sungguh ruarr binasa.

    Reply

  42. simbah
    May 24, 2008 @ 23:25:08

    Wahhh….betul anda Dik Yon,…waktu saya dulu tinggal di Jkt tahun 80-an ngenggar-2 ati, jalan sore-2 di Monas tanganku ditarik sama peramal yg sedang buka praktek di kaki lima, trus telapak tanganku dilihat..sambil lalu, katanya hidupku akan sukses kalau mau menekuni bidang kesenian…cuman waktu itu saya nggak kepikir. ..mau berkesenian macam apa? Wayang orang Barata yg dikomplek Senen itu kehidupannya ngenes…lah …tapi lain waktu setelah beberapa tahun ngerti kalau grup penari dari Taman-mini sering bepergian ke Ruar negri dan terorganisir secara prof. Kenapa saya nggak ikutan nggabung ?? Tapi sekarang dah terlanjur kaku kabeh ya nggak jadi…deh.
    Ngomong-2 Dik Yon,…anda punya analisis kok cespleng itu belajar dari mana…?? saya yg tidak pernah mengenyam bangku PT nggak mudeng, apakah ada fakultas yg mencetak analis-2 seperti itu. Benar saya gak muji…banyak orang pinter tapi analisanya suka membuat mumet….seperti yg dimuat di koran-2 itu, tapi analisa sampeyan…wah..memang Joss…gampang dicerna utk orang-2 yg gak gaduk sekolanya…he..he..
    Ya Bu Tutinonka…saya dulu memang pernah menari jawa, pernah jadi Cakil melawan Arjuna waktu itu masih kelas 5 SD, la..Arjunanya gadis-2 waktu itu wah…cantik-2 dan ayu-2, itu tuh Dik Yon, mBak Erni yg tinggalnya di komplek PLN dekat rumah Anda. Cuman waktu itu ya belum punya rasa….naksir ato gimana wong masih anak-2 tapi kalo gadis ini cantik, biasa ato tidak…sudah ngerti…he…he…

    Reply

  43. tridjoko
    May 24, 2008 @ 23:55:34

    –> Bu Tutinonka :

    Wah..saya mau buka rahasia nih Bu. Waktu saya SD rumah saya setiap hari Minggu dipakai untuk menari Jawa oleh sekitar 10 orang cowok kecil-kecil dan 25 cewek besar dan kecil. Cewek-ceweknya antara lain kedua kakak saya EdPurbayanti dan Edratna (edratna.wordpress.com), lalu ada mbak Erni yang disebutin oleh Simbah itu, dan ada Hetty tetangga saya, lalu ada Rismarini teman se SMA saya dan Simbah (dia 3 IPA-1, saya 3 IPA-2, Simbah 3 IPA-3). Sedang cowok-cowok kecilnya antara lain Simbah, saya, Eddy Suprayitno (teman kita SMA juga), dan beberapa tetangga yang lain. Guru narinya adalah Pak Sarmo yang guru SMA saya juga…

    Nah, anak-anak “sekolah tari” di rumah saya ini sering dipanggil mentas kesana-kemari tapi masih amatiran gitu…lha wong tidak dibayar. Sayang, Madiun is Madiun. Kalau Madiun itu sama dengan Solo atau Yogya yang punya arena pementasan tari…pasti deh penari-penari “sekolah tari” rumah saya itu jadi penari prof semuanya….

    Saya belum pernah ketemu dan belum pernah melihat pementasannya Sardono W. Kusumo yang konon sekarang jadi Rektor IKJ ya ? Tapi saya sering baca berita tentang Sardono dan sang isteri, mbak Amna. Yang mengherankan, Sardono dulu pengin nari raksasa sama monyet, tapi oleh guru tarinya disuruh nari Arjuna yang sangat halus gerakan tarinya. Alasannya “Gerakan halus itu sulit, gerakan kasar itu mudah. Kalau kamu mulai dari gerakan halus, maka akan mudah bagimu melakukan gerakan kasar“…

    Nah, jadilah Sardono W. Kusumo sekarang ini yang sangat kita kagumi itu…

    Kalau Eko Supriyanto saya juga kagum karena olah tubuhnya tidak kalah dengan Sardono, cuman kelebihannya Eko adalah lulusan Master dari Amerika dan sekarang lagi ngambil Ph.D dari Amerika karena dapat beasiswa di UCLA (University of California at Los Angeles). Di bidang praktek, mungkin Sardono nomor satu. Tapi di bidang praktek dan teori, nanti Eko Supriyanto yang sempat membintangi “Opera Jawa” itu bakalan nomor satu deh…

    –> Simbah :

    Wah..sampeyan muji lagi ! Bagaimana saya bisa melakukan analisis ? Itu ilmunya disebut gothak-gathuk mathuk thok !! He..he..prinsip Jawa yang paling sederhana dan cespleng….

    Mengenai Mbak Erni kok saya lupa ya ? Tapi seingat saya yang rumahnya PLN itu adalah Rismarini teman SMA kita. Apa ya mbak Erni itu kakaknya Rismarini ? Kayaknya iya…soalnya aku ingat ada foto kakakku Edratna di kompleks PLN rumah Rismarini itu bersama beberapa teman sekelasnya, mungkin salah satunya mbak Erni itu…

    Tapi emang mas, dulu teman kita nari “sinam-sinam” gitu ya ? (Jangan njur dijawab, “Iya…sinambi ngising !!!!”….wah celaka !!!)

    Hahahahaha….

    Reply

  44. simbah
    May 25, 2008 @ 00:49:37

    Dik Yon,..kakaknya Rismarini namanya mBak Rini. Mungkin sebarakan dgn Bu Edratna, lha mBak Erni itu sebelah utaranya Rismarini…kakak kelas kita. Waktu itu mBak Erni, kalau Buto Cakilnya bukan saya dia nggak mau, katanya Buto Cakil selain saya nakal-2, tangannya suka nggrathil…lah saya kan masih imut meskipun kalau perang kembang pake pegang-2an…tapi pegangan saya pegangan sopan….pegangan anak yg lugu….kalo sekarang megangnya sudah kampiun….lain lagi ceritanya he…he…pegangan kakek-2….bulan depan ini dah 52 tahun….alhamdullilah masih diparingi urip…

    Reply

  45. tridjoko
    May 25, 2008 @ 04:05:26

    –> Simbah :

    Lha iya gitu tho…pantesan kakak saya Edratna punya foto jaman SMA dengan latar belakang perumahan PLN. Kalau mbak Rini rasanya namanya masih “nyantol”. Tapi mbak Erni, kok kayaknya di otak ini memori sudah terhapus maklum kejadian 40 tahun lalu…he..he..

    Wah “pegangan sopan” ? Gileee beeener !!! Rupanya cewek juga bisa juga ya ngrasain “pegangan sopan” sama “pegangan tidak sopan”…hahahaha….

    Wah, bulan depan setelah 52 tahun nggak seksi lagi dong ! Seksi = seket siji….

    Tenang mas, asal kita optimis dan seneng atine insya Allah diparingi panjang umur. Tapi kalau nggak ngrokok, nggak minum (minuman keras), dan nggak madon, buat apa umur panjang ? Hehehe…sorry, ini lelucon lama….;-)

    Pada suatu hari seorang pasien datang ke dokter. “Dok, saya minta umur panjang dong, bisa nggak ?”. “Apakah anda merokok ?”. “Tidak dok…”. “Apakah anda minum minuman keras ?”. “Tidak dok…”. “Apakah anda suka main perempuan ?”. “Lha tidak dong dok ! Aje gile ape !”…”Lha, terus buat apa anda minta umur panjang ?”….gitu kata dokternya…

    Hehehehe….

    Reply

  46. simbah
    May 25, 2008 @ 04:19:21

    He…he…Jam 04:05 am, ahad dinihari 25 may 2008 sudah menceti kibord lha…cuman tidur 4 jam pak RT lagi ronda rupanya….selain ngerondain lingkungan juga ‘ngerondain’ mBak Susi yg baru tiba dari Malang…kah??? he…he…selamat berlibur…..

    Reply

  47. tridjoko
    May 25, 2008 @ 04:32:00

    –> Simbah :

    Wah…ya namanya si Mas “si tukang minyak” ini kok ya wis bengi ora turu-turu…melototin minyak ya mas ?

    Soale saya perhatikan, nek siang hari njenengan nggak pernah komentar…brarti lagi mlungker alias tidur pules di rig ya ?

    Iya, tadi malam habis arisan Bapak2 di RT saya sampai jam 11 malam, lalu menceti kibor…baru tidur jam 1. Jam 4 kebangun karena nyamuk mulai menyeruak masuk kamar tidur..rupanya pintu kamar dibuka lebar-lebar mempersilahkan nyamuk PG yang terkenal haus darah masuk…karena orang Malang yang tidur di samping saya merasa kegerahan dengan udara Jakarta. Maklum, gue biase tinggel di Maleng….heheheheh…

    Reply

  48. tridjoko
    May 25, 2008 @ 15:25:19

    –> Simbah :

    Mas Didiek itu ada Mas Agus L yang nanya no. telpon atau no. HP Pak Suradji, chiropractor di Jalan Husen Palila Madiun yang dulu menyembuhkan sakit njenengan itu…

    Coba deh baca posting “Braaaakk..dan kakiku (mungkin) patah..”..

    Terima kasih. Ntar malam kan anda tugas melek di Rig lagi kan ?

    Reply

  49. tutinonka
    May 25, 2008 @ 20:26:54

    Saya dulu waktu kelas 2 SD pernah sebentar belajar menari Jawa di Dalem Pujokusuman (sampai sekarang Dalem itu masih jadi sekolah njoget), tapi lalu tidak diijinkan oleh ibu saya. Soalnya kalau njoget Jawa kan pakai kemben. Lha ibu saya itu santri banget, bangsanya ‘aurat’ gitu sangat ketat. Anak-anak nggak boleh pake baju ‘yukensi’, opo meneh nganggo kemben. Waaa … dijewer saya. Begitulah, jadinya saya drop-out dari sekolah tari ….

    Lha saya sekarang malah senengnya tarian ‘sono’, waltz, chacha lan sak panunggalane. Kalau kumpul teman dan keluarga, sambil nyanyi-nyanyi kita dancing. Happy banget. Mbak Enny (Bu Edratna) katanya juga suka dancing (kami suka saling ngintip blog juga). Kalau tarian tradisional yang bisa dipraktekkan untuk pergaulan, pada acara kumpul-kumpul gitu apa ya? Mosok nari cakil, lha musiknya gimana?

    Reply

  50. simbah
    May 25, 2008 @ 22:01:26

    Iya…Dik Yon, seminggu terakhir saya jaga malam dari jam 18 s/d jam 06 pagi…kerjanya selain jaga api juga yg typing laporan-2 yg esok paginya di-imilkan ke kantor pusat Wisma Mulia lantai 50 di Jl. Gatot Subroto, seberangan Hotel Kartika Chandra itu.

    Bu Tutinonka,…benar memang tari-2 jawa untuk perempuan memang pake kemben lah wong dari sononya…sekarang saya sudah tidak bisa menari lagi, paling-2 kalo ada acara ndang-dutan saya didaulat untuk njoged…ya pada ger-2 an, soalnya saya sudah kayak Semar sekarang…..he…he…

    Reply

  51. nel
    May 26, 2008 @ 11:37:53

    ya ampyun…
    jebule pak Tri ini adik-e bu Eny tho.
    ck ck ck emang salut deh ama adik kakak ini hueebat2 semua.
    pantesan sama2 dari asal yg sama trus sama2 dari IPB (lha yg terakhir ini apa hubungannya yak???)soalnya saya waktu itu ngasih masukan adik saya supaya masuk TIN IPB hehehe.

    Soal tari, dari TK sampe SMA saya aktif di seni tari, cuman paling banter manggung di acara propinsi di surabaya, lumayanlah waktu itu udah dapet uang 100rb per penari dan senengnya lagi dari TK udah bisa masuk tipi surabaya meski akhirnya selain acara tari bisa juga masuk tipi ikutan cerdas cermat tingkat SMA.

    Reply

  52. simbah
    May 26, 2008 @ 23:20:00

    He…he….Dik Yon,…lah saya juga maen perempuan gitu loh…main perempuan yg dilegalkan,…… istriku juga main laki-2…kalau kita nggak saling main-2. Apa kata dunia..???
    Hasil main-2 tadi trus mbrojol 2 anak bangor-2…ha…ha….

    Reply

  53. tridjoko
    May 26, 2008 @ 23:51:19

    –> Bu Tutinonka :

    Ya udah Bu, kalau ibu dari kalangan santri ya nggak usahlah disesali karena nggak bisa ikut nari Jawa yang pakai kemben itu, daripada nanti pakai kemben terus ada Tessy di sebelah ibu lalu kembennya mlorot…wah dadi gawe tenan !!! Hahahaha…cilukba !!

    Ibu suka nari ? Apa Bu : tango, chacha, samba, mambo ?

    Saya sebenarnya suka geli lho Bu kalau lihat orang-orang Asia nari Tango itu. Kayak nggak pantas banget gitu lho dilihatnya. Maklum orang Asia dari kategori “flat face” (hidung pesek) ini kalau megap-megap, mandang ke atas waktu nari Tango, kan kelihatan kayak Yati Pesek semua gitu….

    Tarian macam Tango itu bagus kalau cowoknya bule dan ceweknya juga bule yang idungnya mancung. Coba deh ibu lihat tarian Tango di “Scent of a Woman” yang nari Al Pacino yang buta dan ngajak nari Gabriela Anwar yang cantik banget itu…..pantes banget Bu !!!

    Untuk bangsa hidung pesek macam kita-kita ini lebih baik ikut Modern Dance macam Broadway gitu, atau lebih anggun lagi nari Jawa Bedaya Ketawang…..udah pasti dikagumi sama orang-orang bule…

    Untuk wanita berjilbab seperti ibu, yang paling bagus ya nari Saman dari Aceh yang tereak-tereak Ya..hut..ya..hut..itu sambil geleng kiri geleng kanan…lha itu juga bagus…

    Intinya, carilah yang bagus sesuai fisik dan busana kita. Jangan maksain yang enggak-enggak….ntar saya ketawa ngakak lho !!

    Reply

  54. tridjoko
    May 26, 2008 @ 23:59:39

    –> Mbak Nel :

    Oooo…baru tahu ya saya adiknya Bu Edratna ? Bu Edratna yang mendorong saya nulis Blog ini kok mbak..

    Wah, lumayan ya mbak Nel udah sering masuk Tipi Surabaya. Tapi apa cukup mbak ?

    hahahaha…

    Masalah IPB, ya memang umumnya orang IPB itu seneng nulis. Dari alm Pak Andi Hakim Nasoetion, Pak Sjamsoeoed Sadjad (yang orang Madiun), sampai Slamet Suseno (juga orang Madiun)…

    Sayang bakat nari Bu Edratna yang pernah pentas di Ambarukmo Yogya dan Pandaan Tretes Malang, tidak nurun ke putra-putrinya. Begitu pula bakat nari saya yang sedikit, tidak nurun ke kedua putri saya…

    Saya dulu nari tidak pernah masuk Tipi, paling nari-nari di depan warung tetangga saya Yu Marmi lalu dikasih sekeping roti setelah nari…hehehehe….malu banget kalau ingat jaman kecil dulu….

    (Saya juga suka membuat properti sendiri, misalnya mau nari Anoman, maka saya beli badongnya, membuat sendiri tutup mulut yang berwarna putih dan ekor yang berwarna putih, dsb)…

    Reply

  55. tutinonka
    May 27, 2008 @ 21:37:16

    Pak Tri,

    Kalau bicara soal budaya asli, sebenarnya agak susah juga merumuskan budaya mana yang benar-benar asli Indonesia. Ramayana dan Mahabarata yang menjadi induk cerita
    pewayangan (antara lain lalu memunculkan tokoh Anoman) asalnya dari India. Dan karena orang India beragama Hindu, maka budaya kita dulu ya budaya Hindu.

    Barangkali kalau mau melacak nenek moyang kita yang benar-benar asli Indonesia, mereka adalah manusia-manusia purba yang ditemukan fosilnya di Sangiran. Phitecantropus Javaensis dan saudara-saudaranya itu. Lha kalau generasinya Phitecantropus, kayaknya masih belum pada memakai baju, apalagi mengenal tarian dan gamelan.

    Budaya merupakan hasil akulturasi dari nilai-nilai yang dianut berbagai bangsa di dunia, dan diadaptasi sehingga sesuai dengan ‘kebutuhan fisik dan jiwa’ masyarakat pendukungnya. Contoh gampangnya adalah pakaian. Celana panjang, hem, dan rok sebenarnya bukan pakaian asli kita. Itu busana orang barat, yang lalu kita pakai karena kita merasa nyaman dengan cara berpakaian seperti itu. Sulit membayangkan zaman sekarang orang pergi ke kampus atau ke kantor dengan memakai surjan, bebed dan blangkon, atau memakai kain panjang dan kebaya/kemben.

    Artinya, kita welcome terhadap budaya asing yang masuk, jika kita merasa nyaman dengan budaya tersebut. Meskipun ada kalanya kita juga menerima budaya yang sebenarnya tidak masuk akal. Jas bukanlah pakaian yang cocok untuk iklim tropis (apalagi dengan global warming bumi jadi semakin panas saja), toh kita secara aklamasi menerima bahwa jas adalah pakaian resmi yang diharapkan untuk kita pakai pada acara-acara paling penting. Sebenarnya pakaian orang Irian itulah yang paling cocok untuk iklim tropis, dengan rok para wanitanya yang slawir-slawir (sehingga ‘full air’ alias isis) dan pakaian pria yang ‘sangat minimalis’. Kasihan saudara-saudara kita di Irian, yang sekarang ‘dipaksa’ oleh tuntutan budaya (budaya siapa?) untuk memakai baju safari dan gaun. Budaya Asmat dan budaya barat adalah dua budaya yang jaraknya seratus tahun cahaya.

    Saya minggu lalu mengunjungi museum kereta Keraton Yogyakarta. Dari 17 kereta yang ada, hanya 2 yang dibikin oleh bangsa kita. Yang lain buatan Belanda (sebagian besar), Inggris, dan Jerman. Kereta-kereta yang seratus persen bule ini kemudian diberi nama “Kyai Ini” dan “Kyai Itu”, dimandikan dengan bunga dan upacara setiap tahun, dan air bekas cucian kereta ini diperebutkan masyarakat untuk diambil berkahnya. Wah, kalau pembuat kereta di ‘sono’ tahu, pasti merekalah yang paling banyak akan memperoleh berkahnya ya.

    Ada gazebo di dalam keraton Yogya yang arsitekturnya campuran Jawa dan Portugis. Bahkan Tamansari yang merupakan tempat raja berasyik-masyuk dengan para selirnya itu, arsitekturnya dibuat oleh orang asing (kalau tidak salah Portgis juga).

    Pakaian asli penari Jawa adalah kemben, yang memperlihatkan sebagian tubuh bagian atas wanita. Cara berpakaian ini tidak sesuai dengan syariat agama Islam. Kebetulan saya dan beberapa teman di sebuah organisasi keagamaan bergerak di bidang kebudayaan, dan mencoba mengkaji masalah-masalah seperti ini. Apakah tari Jawa akan kita tinggalkan karena cara berpakaiannya tidak cocok dengan ajaran agama kita? Alangkah sayangnya. Kalau begitu, kita buat saja agar tarian ini bisa diterima, yaitu dengan memberi baju pada penari perempuan. Apa salahnya penari memakai kebaya dan jilbab? Menyalahi tradisi, melawan adat, keluar dari pakem?

    Kami berpikir demikian : budaya merupakan hasil akal budi manusia. Budaya tradisional diciptakan oleh nenek moyang, yang adalah manusia. Mengapa kita tidak boleh atau tidak berani menciptakan budaya baru yang sesuai untuk kita? Kita kan juga manusia (meskipun bukan rocker … he he). Budaya bukanlah sesuatu yang statis, yang sekali diciptakan lalu tidak boleh diubah. Budaya akan ditinggalkan oleh masyarakat dan akan mati jika tidak bisa menyesuaikan diri dengan zaman.

    Wah maaf, kok jadi ngelantur kemana-mana ….. Maksud saya, saya hanya ingin menyampaikan ‘latar belakang masalah’ (kalau dalam tesis ini ada di Bab I Sub-bab 1, yang mendasari semua argumentasi … he he … ).

    Ok, masuk ke inti permasalahan, mana yang lebih cocok untuk kita, waltz, atau tari Anoman, atau tari Saman seperti yang diusulkan Pak Tri?

    Bagi saya, sebenarnya ini lebih pada pilihan kenyamanan saja kok Pak. Pada acara reriungan dengan keluarga (biasanya pas lebaran atau kalau ada hajatan), atau kumpul dengan teman-teman, kita mengundang pemain ortu (organ tunggal). Yang dinyanyikan kebanyakan lagu-lagu populer, banyak lagu barat juga. Untuk jenis musik seperti ini, tarian yang cocok ya waltz, atau chacha, atau jive, atau yang sejenisnya. Lha kalau kita mau nari Bedaya Ketawang kan susah, harus ganti kostum, lalu musik pengiringnya juga harus ganti gamelan, dan seterusnya.

    Ada tarian yang diciptakan untuk dipentaskan di panggung, untuk ditonton (seperti Bedaya, Serimpi, dsb), ada juga tarian pergaulan yang dilakukan oleh audience. Tarian pergaulan tradisional Jawa adalah Tayuban. Saya tidak ‘sreg’ dengan tarian model ini, yang kental unsur ‘esek-esek’nya (seperti penari pria yang memasukkan uang ke dalam kemben penari tayub). Sempat populer tarian poco-poco yang sopan dan enerjik, sayangnya sekarang tidak pernah lagi dimunculkan dalam berbagai acara.

    Saya menari bukan untuk pertunjukan di panggung, bukan untuk ditonton, tapi untuk mengekpresikan suasana hati sekaligus olahraga. Jadi pilihan saya bukan Bedoyo Ketawang atau Saman. Dan karena saya manusia yang punya akal budi, maka saya boleh dong menyesuaikan budaya yang asalnya dari ‘sono’ agar sesuai dengan kebutuhan saya. Dancing chacha atau jive dengan jilbab itu ‘no problem at all’. Saya pernah mengadakan ‘ladies party’, kumpul dengan teman-teman wanita(banyak di antaranya berjilbab), dan kami menyanyi serta berdansa dengan happy. Tidak ada satu pun norma yang dilanggar. Jangan lupa, busana muslim (dan wanita berbusana muslim) jaman sekarang sudah modern dan canggih. Jilbab sama sekali tidak menghalangi gerak. Bahkan atlet nasional panjat tebing pun pakai jilbab, oke saja.

    Ohya, dansa juga tidak harus dengan berpelukan antara pria dan wanita lho. Pada ‘line dance’ kita dansa rame-rame, massal dalam satu barisan (kami pernah line dance bersama 100 orang pada sebuah acara). Dansa couple juga bisa ‘lady-lady’. Semuanya dengan jenis tarian chacha, rumba, waltz, jive, lan sak piturute.
    Intinya, semua tergantung kita kok, mau kita buat bagaimana, dengan batasan seperti apa.

    Dansa adalah olahraga yang sudah masuk KONI dan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional. Dari pada lari keliling lapangan, saya pilih dansa aja deh. Sama-sama keluar keringat, tapi fun dan indah. Untuk mempelajari teknik yang benar juga perlu latihan tekun. Ini bukan dansa seperti di diskotek yang cuma asal goyang itu lho.

    Bagi saya seni adalah universal. Suka dansa tidak ada bedanya dengan suka musik klasik, jazz, atau pun mengagumi lukisan karya Renoir, Rembrandt, dan Monet.

    Apakah berarti saya tidak suka dan tidak mendukung seni tradisional? Jelas bukan begitu. Suami saya orang Melayu dan kami punya lembaga yang melestarikan segala aspek budaya Melayu (termasuk segala benda-benda adatnya). Saya pecinta budaya Jawa, tetapi minus klenik-klenik dan segala yang berbau kemenyan …

    Pak Tri, mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau komentar saya terlalu panjang dan tidak pada tempatnya muncul di blog Bapak. Pada dasarnya, saya open mind dan senang untuk berdiskusi tentang apa saja. Pasti, dalam diskusi tidak ada yang ‘betul mutlak’ dan ‘salah mutlak’. Yang diharapkan adalah saling menghargai pendapat orang lain.

    Pareng Pak. Kupat duduhe santen, sedoyo lepat nyuwun pangapunten.

    Reply

  56. simbah
    May 27, 2008 @ 22:37:14

    Saya setuju Bu Tutinonka,….mendahului Dik Yon..saya ingat pernah ikutan universitas terbuka lewat radio, nggak selesai….lah ini semacam universiatas terbuka juga, dan lebih efektif karena ada komunikasi 2 arah..matur nuwun….

    Reply

  57. tutinonka
    May 28, 2008 @ 12:34:41

    Akan lebih bagus lagi kalau Bu Edratna ikut berpartisipasi. Saya suka minder pada beliau ini, karena beliau selalu tertib, on the rule, anggun, dan correct. Setiap kata-kata yang beliau gunakan selalu mengacu pada KBI (Kamus Bahasa Indonesia). Senyum pun mungkin diukur berapa lebarnya (he he … bercanda Bu). Tidak seperti saya yang suka cengengesan dan pecicilan …. halah!

    Reply

  58. bagindotobing
    May 29, 2008 @ 01:30:07

    pak, “turne” artinya “pergi ke luar kota” kan pak?
    itu bahasa jawa ato bukan?
    soalnya waktu di medan, saya sering dengar “turne”.
    saya pikir itu bahasa medan.
    hahahaha.
    terus saya juga sering dengar “setip” artinya penghapus. (orang jakarta biasanya ga tau apa itu setip)
    orang jakarta tau ga apa itu turne?
    hahahaha

    Reply

  59. tridjoko
    May 29, 2008 @ 22:33:15

    –> Bu Tutinonka :

    Wuah…emang kuliah 6 sks dari Ibu calon Professor dari Yogya ini toppppp tenan….nggak usah bayar kuliah lagi…hehehe…makanya mas Didiek nyebutnya sebagai “universitas terbuka”…

    Mengenai “debat keagamaan” seperti ini pernah dilakukan antara Bung Karno dengan teman-teman seperjuangan Islam di tahun 1920an dulu, kalau masih punya bukunya bisa dibuka lagi Bu yaitu tentang “mengapa wanita harus mengenakan jilbab ?”, dan “mengapa di kelas-kelas harus dibagi dua yang satu untuk murid laki-laki dan yang lainnya untuk murid-murid perempuan ?”…

    Point Ibu bener semua…

    Tapi saya punya catatan Bu. Misalnya, warna kucing itu tidak selalu “putih” atau “hitam”. Dengan hukum Mendel (pakar Genetika), kucing putih bila dikawinkan dengan kucing hitam akan beranak 25% kucing hitam, 50% kucing abu-abu, dan 25% kucing putih. Itu kalau genetika biasa, belum Rekayasa Genetika yang lebih canggih…

    Masalah kedua, yang disebut “kebenaran” itu rupanya “tidak mutlak” dan “berjalan menurut waktu”. Kalau belajar dari sejarah, orang Jawa (untuk mudahnya, kita bicara orang Jawa saja) dulunya beragaman Budha tahun 100-900an Masehi. Maka bertebaranlah candi-candi Budha di Sriwijaya dan di Mataram Kuno, seperti Borobudur, Mendut, Pawon, dsb. Setelah itu di tahun 1000-1530 Masehi, orang Jawa menjadi beragama Hindu. Maka dibangunlah banyak candi Hindu seperti Rorojonggrang. Waktu jaman agama Budha, “agama negara”pun Budha, begitu pula waktu jaman agama Hindu, maka “agama negara”pun Hindu. Kemudian masuklah Islam ke Indonesia sejak Sandhyakalaning Majapahit tahun 1530an Masehi, maka tumbuhlah kerajaan islam Demak, Pajang, Mataram islam, dan seterusnya. Sayang peninggalan agama Islam yang terbuat dari kayu ini sudah banyak yang terbakar misalnya bekas kerajaan Demak di Demak, kerajaan Pajang di Kartosuro, kerajaan Mataram di Kotagede dan Bantul (jaman Sultan Agung). Yang masih tersisa adalah masa-masa sesudah itu seperti kita lihat di Solo dan Yogya.

    Nah berbicara di tahun 1901-2008 ini saja (untuk menyederhanakan masalah), kebenaran juga berjalan menurut waktu. Yang dulunya benar, menjadi salah, menjadi benar, menjadi salah kembali, dan seterusnya. Di tahun 1950an dan 1960an kita mungkin tidak heran ada sekumpulan anak SD dan SMP nari Jawa pakai kemben, lalu di hari berikutnya anak yang nari Jawa pakai kemben tadi terus pakai baju muslim berjilbab, besoknya pakai kemben, dan seterusnya. Tapi kini ? Kelihatannya, kalau seseorang sudah memakai jilbab seterusnya akan memakai jilbab. Itu yang saya belum tahu jawabannya kenapa…mungkin ya harus tanya ke rumput yang bergoyang lagi…

    Saya tidak anti orang pakai jilbab lho Bu, anak saya yang kecil malahan secara permanen memakainya. Tapi yang saya suka heran, ada wanita pakai jilbab tapi tingkah lakunya “pethakilan” misalnya duduk kaki diangkat dan sebagainya. Lho yang salah jilbabnya atau orangnya…

    Mungkin saya ini banyak mempunyai darah seni, tapi kurang mempunyai darah ilmuwan dan filsuf Bu. Saya lebih suka sesuatu yang normatif, harusnya begini, harusnya begitu. Bisa disebut itu sebagai perfeksionis…

    Misalnya dalam memandang lukisan, saya sukanya kalau lukisan itu realis ya realis, kalau abstrak ya abstrak, kalau surealis ya surealis, kalau postmo ya postmo. Alangkah bingung saya, bila sebuah lukisan merupakan campuran antara realis dengan surealis dengan abstrak dicampur aduk jadi satu…

    Mungkin seseorang bisa menerimanya, tapi bagi saya kayaknya bakalan sulit menerimanya..

    Yang jelas, adalah hak asasi manusia bagi seseorang untuk melakukan yang disukainya, apapun itu. Jadi Ibu boleh lho nari apa saja, nyanyi apa saja…

    In the end of the day : who cares ?

    Pungkasane, sopo sing peduli Bu ?

    Reply

  60. tridjoko
    May 29, 2008 @ 22:36:06

    –> Bagindo Tobing :

    Turne, setip, potlot, alun-alun : itu dari bahasa Belanda…

    Pantalon, trotoar : itu dari bahasa Perancis

    Beranda, Jendela, Sepatu, Sabtu : itu dari bahasa Spanyol dan Portugis…

    Jadi, itu bukan bahasa Medan bung, aslinya lho…

    Reply

  61. simbah
    May 31, 2008 @ 21:43:47

    Ya…ya…saya beruntung berkesempatan membaca dan ikut nimbrung orang-2 bijak semacam ini. Jangan diartikan saya memuji lho Dik Yon. Kita samakan dulu sudut pandangnya, OK..?
    Tahun 80-an..Anda sibuk dengan kuliah, dan saya sibuk nggered gerobak isi aspal untuk menambal landasan pesawat terbang di Maros, Mandai Sul-sel sana. Bisa dikatakan sehari makan sehari tidak. Saya lakukan bersama teman-2 malam hari, karena kalau siang malu dilihat orang. Dan sekalian menjaga gengsi alumni. Kalau tidak nyambi seperti itu mana bisa kami beli celana ‘Jin’? Gaji zaman itu sekitar rp.13 ribu saja.
    Dik Yon, pernah melihat iklan tayangan TV, terlihat subuah Sekolah.. ?, menilik dari seragam yang dikenakan bawahan merah dan atasan putih, bisa ditebak itu anak-2 SD. Trus ada anak laki-2 membawa baskom atau nampan yang berisi goreng pisang…?? Sambil terlihat takut-2 mengintip anak-2 yang sedang belajar di dalam kelas..? Kelihatannya si anak penjual goreng pisang tadi ingin ikut serta belajar di dalam kelas, tapi apa daya…?
    Itulah padanannya, si anak yang membawa nampan tadi Saya, dan Anda yang ada di dalam kelas. he…he….
    Jadi bila saya ikutan berkomentar…dan kelihatan jauh panggang dari api…mohon maklum…semata-mata perbedaan latar belakang saja…that’s real man….he…he…

    Reply

  62. tridjoko
    Jun 01, 2008 @ 00:41:27

    –> Simbah :

    Wah…si tukang minyak mosok nggered gerobak kayak gitu….

    Ya sudahlah mas, yang berlalu biarlah berlalu, jangan ditangisi lagi…

    Inget, orang itu hidup cuman mampir ngombe. Lha kalau ngombenya Teh Botol, Coca Cola, Dawet, Kopi Susu atau Es Degan itu ya karena yang disugugi ya itu…

    Inget pula, tiyang gesang ming sak derma nglakoni. Lan tiyang jaler ming sak derma nglakeni….

    Ngoten lho mas, empun susah-susah…

    Yang jelas, tiyang gesang niku ming sawang sinawang. Ketoke rumpute tetangga kok rada ijo ya tinimbang rumputku..

    Mpun ah, mpun membahas filosofi. Kula ming Joker alias tukang bikin goro-goro mawon ben gayeng…

    Hehehehe….

    Pis mas !!!

    Reply

  63. ditta
    Jun 04, 2008 @ 22:20:44

    Apa kamu nggak ingat ? Waktu calon papamu dan calon mamamu lagi pacaran, gitar sering dijadikan sarana hiburan.

    yaiyalaaahhhh Pah,,aku ga inget kan blm brojol waktu itu heuheuheuheuhue..klo jaman skrg PDKTnya pake sms ato telp kali yah :p

    Reply

  64. tridjoko
    Jun 04, 2008 @ 23:39:45

    –> Ditta :

    Ya..ya..ya..ya..ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: