Jakarta Normal pasca kenaikan BBM

Kemarin malam waktu saya lagi nonton pertandingan badminton antar RT saya dengan RT tetangga dalam rangka 17 Agustusan 2008, anak saya yang lagi nonton TV sms bahwa pemerintah sudah menaikkan harga BBM terhitung mulai hari Sabtu, 24 Mei 2008 pukul 00.00…

Paginya, saya terpaksa bangun pagi-pagi karena isteri sudah menelpon minta dijemput di Stasiun Gambir. Dia baru datang dari Malang naik KA Gajayana. Wah..sebenarnya saya agak reluctant menembus lalu lintas Jakarta di hari pertama kenaikan BBM. Takut ada kenapa-kenapa…

Tapi eeee..ternyata lalu lintas lancar, kehidupan berjalan terus dan harus tetap berjalan. Suasana fisik yang saya tangkap dari lalu lintas di Sabtu pagi yang lumayan sepi itu terlihat lancar. Namun, entah apa yang ada di hati rakyat, terutama rakyat marginal dan terpinggirkan…

Sebenarnya saya sudah menyiapkan Al Qur’an kecilku untuk menemani perjalananku. Al Qur’an yang dulu menemani saya di dashboard mobil dalam menembus lalu lintas Jakarta pada hari Jumat pagi, tanggal 14 Mei 1998 karena saya harus menjemput isteri saya yang malam sebelumnya terpaksa tidur di kantor karena tidak berani pulang mengingat kondisi Jakarta pada waktu itu. Sebenarnya saya ingin membawa belati, pedang atau rencong. Tapi karena situasi demikian gawat, saya pikir waktu itu buat apa membawa-bawa benda-benda seperti itu, lebih baik membawa Al Qur’an sebagai tanda bahwa saya serahkan hidup mati saya kepadaNya. Ternyata Jakarta Jumat pagi 14 Mei 1998 itu begitu sepi, keramaian justru baru dimulai di pinggir kota termasuk di kompleks perumahan saya dimana semua orang sudah menghunus pedang…entah untuk apa. Saya tenangkan mereka semua, karena kondisi jalanan di Jakarta justru tentram nggak ada apa-apa. Akhirnya satu per satu dari mereka menyarungkan pedang masing-masing dan pulang ke rumah dengan tenang…

Itu kejadian 10 tahun lalu..

Pagi ini 1 liter premium harganya sudah Rp 6.000 setelah kemarinnya harganya Rp 4.500. Saya belum sempat ngisi bensin sih soalnya kemarin sore tangki Camry-un saya sudah saya penuhi…

Dengan kenaikan BBM kali ini kehidupan bakal lebih sulit, tapi mari kita berharap bahwa semuanya akan lancar-lancar saja…

[Dari tahun 1982-2004, dosen Binus selain Honor Mengajar yang dihitung per jam juga menerima Uang Transport yang dihitung per 2 sks. Namun mulai 2005 Honor Mengajar dan Uang Transport digabung menjadi satu paket, sehingga bila ada kenaikan harga BBM seperti saat ini tidak mungkin kita minta kepada Binus untuk menaikkan uang transport…soalnya uang transport tidak ketahuan berapa x dan berapa y-nya….he..he..]

[Konon harga 1 liter premium di Indonesia yang Rp 6.000 per liter masih lebih murah daripada Rp 8.200 di Singapura, Rp 8.000 di Thailand, Rp 7.000 di Malaysia, dan Rp 7.500 di Filipina. Tapi tingkat pendapatan di masing-masing negara itu berbeda-beda…]

 

24 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    May 24, 2008 @ 10:09:21

    Tetap harus berpikir positif……hari ini bermalas-malasan dirumah, badan capek, setelah berkebun, menguras kamar mandi……tapi yang jelas segaaar.

    Betatapun sulitnya, tetap masih sulit saat kita masih kecil dulu, yang harus antri bahan pokok dan dijatah.

    Reply

  2. Agung
    May 24, 2008 @ 14:40:53

    Jakarta emank normal2 aja Pak.
    cuma keadaan dompet saya semakin terancam nih..!!
    saya belum bikin “proposal” minta naek uang jajan ke ortu.
    mari kita lihat,apa saya akan kuat dengan Rp.30.000 sehari utk ongkos dan uang makan??
    (*sbnrnya ortu mao ksh Rp.50.000 sehari,cuma saya dgn sombong dan sok mandiri menolak wkt itu dan malah cm minta Rp.30.000 aj*)
    hehehehheehehhe…!!
    indonesia emank uda ga ada obatnya Pak.
    tinggal nunggu waktu.

    Reply

  3. tridjoko
    May 24, 2008 @ 19:21:50

    –> Bu Edratna :

    Memang apa yang terjadi sekarang ini masih agak mendingan di waktu kita susah masa kecil tahun 1960-an dulu. Tapi pointnya bukan itu…

    Point-nya adalah, apakah tindakan menaikkan BBM ini adalah langkah terbaik yang dilakukan pemerintah untuk rakyatnya ?

    Jelasnya, apakah dalam 5 tahun suatu administration menaikkan BBM 3 kali itu sudah wajar ?

    Tanyalah pada rumput yang bergoyang….

    Reply

  4. tridjoko
    May 24, 2008 @ 19:25:47

    –> Agung :

    Ya mengajukan proposal kepada ortu supaya menaikkan uang saku, itu sama mudahnya dengan pemerintah menaikkan BBM…

    Tapi kita kalau pengin disebut “tough guy”, cobalah hidup dengan uang saku sebelum BBM naik yaitu Rp 30.000 per hari untuk transport dan makan. Cukup nggak cukup harus cukup. Makanya perlu “penyesuaian” terhadap kehidupan sehari-hari. Dulu makan di Warung Padang sekali makan Rp 10.000, sekarang bisa berganti ke Warteg yang sekali makan Rp 6.000 misalnya. Mudah-mudahan anda tetap sehat dan semangat…

    Kalau masih ada waktu, mestinya anda juga berusaha cari uang sendiri dan tidak mengandalkan uang saku dari orang tua. Jualan jaket sih ok tapi itu kan cuman bisnis sesaat…

    Kalau anda minta naik uang saku ke orang tua, lha orang tua anda minta naik gaji kepada siapa ?

    Tuhan ?

    Reply

  5. simbah
    May 24, 2008 @ 22:45:46

    Dik Yon,…apakah ilmu Ekonomi ntuh sudah mentok Ya..?? Tidak seperti disiplin ilmu lain yg ada kemajuan spektakuler seperti Kedokteran misalnya, ambil saja kalau setelah pembedahan tidak lagi dijahit seperti biasanya tapi diplester..dsb. Ilmu komputer bikin pekerjaan lebih mudah dan cepat. Soalnya dari saya mulai mengerti hidup, bengsin selalu naik terus, dolar naik rupiah ikut goyah…jadi ekonomi sulit melulu..lama-2 uang seribu rupiah diganti menjadi serupiah..mungkin,tahun berapa nanti sebungkus nasi padang harganya sejuta rupiah..berarti ilmu ekonomi secara umum sudah mentok nggak ada terebosan baru gimana caranya rakyat yg dulunya sengsara secara ekonomi menjadi lebih mapan, daripada sebelumnya..he..he..

    Reply

  6. Agung
    May 24, 2008 @ 23:05:28

    wkt itu saya cuma minta Rp.30.000 sehari karena waktu itu saya punya penghasilan. dan skrg penghasilan itu jd ga menentu.
    hahahhahahahahaha…!!!
    makanya skrg2 ini saya ke kampus naek motor Pak.
    biar hemat.
    soalnya juga byk yg perlu dibeli.
    hehehehehehehehe…!!
    bisnis jaketnya ga jalan nih Pak.

    Pak,tmn Papa saya ada yg jual laptop Vaio tuh.
    saya lupa tipenya,tp di pasaran harganya 15jt,dia jual cm 10jt.
    black market gt deh.
    bisa ga yah msk Binus??
    hehehehehehehe…!!

    Reply

  7. tridjoko
    May 24, 2008 @ 23:23:08

    –> Agung :

    Kalau mau lebih ngirit lagi, anda bisa naik kuda atau sepeda ke kampus. Itung-itung selain ngirit, juga bisa mengurangi Gas Rumah Kaca dan Pemanasan Global….hahahaha…

    Vaio ? Mau tuh Gung…sudah lama saya ngiler…

    Dulu pernah ada program kepemilikan lappie NEC dari Koperasi Binus, tapi harga Rp 12 jutaan dan per bulan nyicil Rp 1,3 jutaan. Saya kira tidak ada dosen yang ngambil soalnya penghasilan dosen per bulan kan cuman sedikit di atas angka cicilan itu ? Kecuali bunganya bisa dibayar oleh Binus, jadi dosen cuman bayar modalnya aja….

    Kalau Vaio Rp 10 jt itu bisa dicicil 12 kali, wah saya naksir juga tuh…hehehehe…

    Reply

  8. Agung
    May 24, 2008 @ 23:30:23

    wah,kalo nyicil 12 kalinya saya kurang ngerti bisa ato gak Pak.
    tapi bnr tuh 10jutaan.
    nanti saya ksh brosurnya deh.
    ato gini deh,bsk pagi saya telp Om itu.
    saya tanya detailnya.
    tapi Bapak beneran “naksir” gak nih??
    black market lho.
    jadi cuma ada garansi toko aj,1thn kalo ga salah.

    Reply

  9. Agung
    May 24, 2008 @ 23:33:24

    kalo bener2 minat serius,hubungin secepatnya yah Pak.
    takutnya harganya naek,gara2 harga BBM naek.
    soal bayar kyknya bisa gesek credit card deh.
    hehehehehehehehe…!!!

    kuda??
    ide yang bagus.
    tapi PR buat Bapak sebagai ahli transportasi.
    tolong disiapkan konsep “horse way” termasuk di semua akses jln tol.
    hehehehehehehehehhe…!!

    Reply

  10. tridjoko
    May 24, 2008 @ 23:35:10

    –> Simbah :

    Wah..mas, pertanyaan anda sangat menggelitik yaitu “ekonomi sudah mentok” ?

    Kalau saya jawab dengan jujur, bisa ribut nih Blog seperti saat membahas IF ITB kemarin yang sehari saja saya bisa menerima komentar sumpah serapah dari sekurangnya 10 orang…(ya nasib ya nasib…)…

    Saya pernah diskusi dengan teman yang dapat gelar Ph.D bidang Ekonomi se almamater dengan Menteri Keuangan Bu Ani. Dia sekarang punya interest di resource economy dus tertarik dengan bidang energi. Dia bilang harga energi dunia (baca : BBM) kacau balau karena Supply energi dunia habis oleh Demand yang ditimbulkan sama China dan India saja yang ekonominya berkembang pesat. Oleh karena itu produksi minyak dunia keteteran menghadapi demand yang tiba-tiba membesar itu (sebenarnya termasuk juga Indonesia sih)…

    Pendapat saya yang awam di bidang Ekonomi lain lagi. Di dunia ini ada duwit nganggur di tangan para “hedge fund” (pemain saham, broker investasi) yang besarnya 20-40 kali lipat PDB seluruh dunia !!! Jadi apa artinya, barang yang harganya Rp 100.000 misalnya tapi kalau para investor dunia tertarik barang itu maka harganya bisa menjadi Rp 1.000.000 dalam waktu 1 bulan, misalnya. Padahal harga riil barang itu ya cuman Rp 100.000.

    Apa artinya ? Artinya Ilmu Ekonomi tidak hanya mengenai Supply vs Demand doang, tapi sudah berubah menjadi Ekonomi Fisika (Physics Economics) yang gerakannya mengikuti hukum-hukum Fisika seperti Gravitasi, Relativitas, Mekanika Kuantum, dsb…

    Cobalah lihat pergerakan harga saham di BEI (dulu BEJ). Menurut saya itu bukan masalah supply dan demand, tapi lebih ke Gravitasi, Relativitas, dan Mekanika Kuantum…untuk menjelaskan paradigma naik turunnya harga saham..

    Makanya, barang-barang harganya semakin membubung tinggi, karena banyak “hedge fund” yang bermain tidak lagi di pasar saham (Wall Street – New York) yang keuntungannya semakin tipis dan tidak bisa lagi “dimainkan”, tapi mereka sudah berkiprah di pasar komoditi dunia (Chicago Merchantile Exchange) yang relatif “lebih mudah dimainkan”…

    Jadi, bukannya Ilmu Ekonomi tidak maju-maju, tapi menurut saya Ilmu Ekonomi sudah mengikuti hukum Fisika, bukan lagi Hukum Ekonomi tradisional ala Adam Smith….

    (Wah rek, koyok aku ngerti-ngertiyo wae lho soal ekonomi…sorry ya mas-mas dan mbak-mbak yang memang jagonya ekonomi…ini pendapat awam lho)…

    Reply

  11. tridjoko
    May 25, 2008 @ 00:11:38

    –> Agung :

    Naksir sih naksir Gung, tapi ya tergantung “terms and conditions”..

    Kalau si Oom itu maunya kita bayar cash, lha mana ada uang lah kita ? Hidup lagi sulit gini…

    Tapi kalau bisa dicicil 12 kali alias cuman sedia (Rp 10 jt + bunga) / 12 = Rp x….ya mudah-mudahan masih bisa diusahakan…

    Tapi no hurry kok… Mau nggesek pakai credit card pakai skema Ez-pay, saya nggak punya Citibank credit card lho…

    Reply

  12. liswari
    May 25, 2008 @ 01:37:03

    Yang saya nggak ngerti kenapa ada uang BLT yang menemani kenaikan BBM ini. Mungkin saya salah tapi menurut saya ini seperti trik yang membodohi rakyat Indonesia untuk menekan emosi mereka terhadap kenaikan BBM. Tapi kenyataan sebenarnya kenaikan BBM akan lebih mempersulit kehidupan rakyat miskin selanjutnya dan BLT yang hanya sekali sama sekali bukan solusi! tapi lebih terlihat seperti langkah politis saja.

    Reply

  13. tridjoko
    May 25, 2008 @ 04:18:15

    –> Mbak Liswari :

    Haaaaaaa…akhirnya datang juga !!! (sorry, niru judul acara TV)…

    Emang posting ini sebenarnya untuk mengabari pembaca blog ini yang tinggal di luar negeri, seperti mbak Lis ini…

    BLT emang tujuannya untuk meredam emosi masyarakat marginal…ya semacam bemper atau shock absorber-lah kalau istilah mobilnya gitu…

    BLT yang dibahasainggriskan menjadi DCT atau Direct Cash Transfer itu rumusan Uni Eropa kalau nggak salah…soalnya tahun lalu saya hampir mendapat project internasional judulnya CCT atau Conditional Cash Transfer…sayang akhirnya saya nggak dapat yang itu tapi dapat OSS atau One Stop Service dari Uni Eropa…gile bener, ngomong di Palembang selama 60 menit dapat Euro 250 !!! Lumayan bet tuh !

    Point saya adalah, bener yang dikatakan mbak Lis bahwa BLT adalah konsep yang setengah matang..dan ada kesan membodohi, tidak adil, memberi permen,…..makanya sebenarnya konsepnya mau diperbaharui menjadi CCT yang artinya semacam “Project Padat Karya” jaman awal-awal Orba dulu…yaitu orang disuruh bekerja whatever..membangun jalan raya (paling banyak), membangun irigasi, memperbaiki gedung Balai Desa, dan semacamnya…lalu sebagai imbalan menerima gaji yang cukup lumayan apalagi bila di pedesaan…

    Tapi sayangnya, BLT tetap menjadi BLT dan belum sempat diubah menjadi CCT…mungkin the administration takut juga kalau rakyat marginal keburu marah kalau diberi CCT…padahal konsepnya lebih baik dan lebih manusiawi, tidak ada kecemburuan sosial, dsb…

    Tapi menurut saya yang paling nyebelin, dalam 5 tahun administration ini telah 3 kali naik BBM dengan persentase (terutama kenaikan kedua, 2005) yang amat sangat jauh lebih tinggi daripada jaman Orba sekalipun…jadi kelihatannya menjadi “kurang smart”…gitu !

    Reply

  14. Agung
    May 25, 2008 @ 13:37:45

    ok deh Pak.
    besok saya SMS buat kabarin.
    mungkin saya harus jual byk dulu,spy dpt untung dan bisa ksh kredit ke Bapak.
    hehehehehehehehehe…!!!

    soal kenaikan BBM sih,
    kan uda deket 2009 nih.
    kan ada yg butuh buat kampanye buat jd presiden.
    hehehehehehehehehhehee…!!!
    uda ga ada obatnya.
    dan ga mungkin ada obatnya.
    berarti ga mungkin pernah bakal sembuh.
    mending “diamputasi”.
    hahahahahaha…!!

    Reply

  15. tridjoko
    May 25, 2008 @ 15:29:54

    –> Agung :

    Thanks. Mudah-mudahan anda bisa menjual 10-20 lappie Vaio dulu sehingga uang saku anda nambah dan tidak perlu minta bantuan orang tua, jadinya cool gitu…

    Mengenai 2009 ?

    Belanda masih jauh…..hehehehehe….

    Reply

  16. Agung
    May 25, 2008 @ 15:39:51

    duh,namanya black market Pak.
    rada susah nih jualnya.
    hehehehehehehe…!!
    tapi kalo bisa cicil,Bapak mau kan??
    eh,Pak ternyata ada Toshiba jg ktnya.
    hehehehehehehehe…!!

    buat kita jauh.
    kalo buat yg fotonya dicoblos mah uda deket.
    hehehehehehehehehee…!!!
    kok saya ga ditawari 100rb supaya coblos salah satu calon yah??
    pdhl kalo dikasih saya terima,tapi soal coblos,tergantung mood saya donk..!!
    hhahahahahahahaha…!!

    Reply

  17. tridjoko
    May 25, 2008 @ 17:55:00

    –> Agung :

    Kalau ada contoh Vaio-nya, saya bisa lihat-lihat dulu dong…hehehe…

    Masalah coblos mencoblos…tunggu tanggal mainnya, masih setahun lagi nih…

    Reply

  18. Agung
    May 25, 2008 @ 21:17:44

    nah,itu tuh Pak.
    namanya barang black market.
    hehehehehehhee..!!
    buat vaio specnya :
    Sony Vaio VGR-NR 110E/S
    Dual Core T2310
    RAM 1GB (DDR2)
    HDD 120GB
    LCD 15.4″
    OS Vista Home Premium
    Garansi toko 1thn.
    harga pasaran US$1200.
    saya jual 10jt aja deh buat Bapak.
    bisa nego lah kalo ama saya mah.
    tapi kalo mao nego harus byr cash yah Pak…!!
    hehehehehehehehhee…!!!

    Reply

  19. nel
    May 26, 2008 @ 12:26:47

    di unas ribut tuh pak, sabtu pagi2 udah mau brkt ke pasar minggu, untung aja ojek2 di depan komplek ngasih tau, balik lagi deh.
    Minggu pagi ke pasar minggu, lihat unas wah bener2 porak poranda.

    Reply

  20. tridjoko
    May 26, 2008 @ 23:21:56

    –> Agung :

    Walah…kok screennya lebar betul ? 15.4 inch ? Padahal Vaio kan kelihatan imut kalau screen-nya kecil, ya maksimal 14 inch-lah..Soalnya spec segitu dengan screen 14 inch kalau Acer atau HP harganya sudah miring banget, sekitar Rp 6,5 juta..itupun saya lihat di Gramed Matraman..kalau di Mangga 2 pasti lebih murah lagi dong…

    Jadi ? Ntar dulu deh saya lihat fisiknya (saya bisa datang ke toko kenalan anda itu kok..) dan lihat spec-nya. Kalau fisik, spec dan harga cocok…deal deh !

    Anyway, thanks infonya..

    Reply

  21. tridjoko
    May 26, 2008 @ 23:31:32

    –> Mbak Nel :

    Iya mbak, yang saya maksudkan “Jakarta normal” adalah Sabtu pagi, sehari setelah kenaikan BBM diumumkan pemerintah…

    Saya baru tahu dari TV kalau di Unas ribut dan parah di Sabtu pagi itu (berita tidak keluar dari TV sebelum Sabtu siang)…

    Celakanya, Senin sore saya di-sms anak sulung saya dan ditelpon sama kakak saya Bu Edratna bahwa di UKI ada keributan mahasiswa dengan polisi. Saya terpaksa tenangkan diri nyopir di jalan tol. Dari atas tol Jagorawi nggak kelihatan apa-apa, tapi semua bis dari TMII ke arah UKI stop tidak bergerak. Setelah saya sampai rumah, saya melihat di TV ternyata sampai malam mahasiswa UKI masih membakar ban-ban bekas di tengah jalan. Polisi, yang sudah dilaporkan ke Komnas HAM sama pihak Rektorat UNAS, rupanya bisa menahan diri, lebih baik daripada waktu menghadapi demo di Unas. Mungkin karena UKI letaknya di jalan raya sehingga semua orang bisa melihat dengan gamblang sehingga pihak Polisi agak sedikit hati-hati dalam menangani demonstran walau sudah melempar banyak batu, bom molotov cocktail, dan membakar ban bekas…

    Kalau polisi bisa “cool” itu yang dicari. Kalau polisinya galak dan represif, siap-siap aja Kapolres dan Kapolda-nya di-“grill” di pers dan akhirnya bakal diminta mundur…

    Motto polisi, “To protect and to serve” (melindungi dan melayani) harus tetap dijalankan walau di tengah hujan batu dan bom molotov. Jaga diri, jangan sampai cidera, dan yang paling penting jaga emosi, karena ini menghadapi rakyat sendiri…

    Reply

  22. Agung
    May 28, 2008 @ 11:46:49

    nanti saya tanya toko kenalan saya itu deh detailnya.
    saya sendiri belom sempet ke sana dan liat barangnya.
    saya kira dia salah ketik pas SMS specnya ke saya.
    hehehehehehehhehe…!!!

    Reply

  23. Agung
    May 28, 2008 @ 19:49:19

    oo..iyah..!!
    saya mau tanya pendapat Bapak.
    kalo yg saya tangkap tugas utama polisi adalah “melindungi,melayani,dan mengayomi masyarakat”.
    secara singkatnya aj “melindungi negara”.
    dan negara itu pastilah terdiri dari rakyat dan pemerintah.
    yg saya mau tanyakan,
    misalkan ada kondisi di mana rakyat berselisih dengan pemerintah.
    lalu ke mana polisi harusnya berpihak??

    misal,
    mahasiswa2 kumpulan BEM seluruh univ dalam satu negara X berdemo karena pemerintahan jelas2 “memakan” dana bantuan dari luar negeri,melanggar HAM dgn membunuh smua lawan politik,dll.
    Kerokeropi sang pemimpin BEM berteriak paling keras,namun aksinya masih damai.
    lalu sersan Monokurobo sebagai pemimpin kepolisian malah menyuruh membubar paksa pendemo dan menangkap pemimpinnya.
    dan terjadilah demikian.
    lalu,puluhan tahun kemudian Kerokeropi setelah bebas menjadi ahli politik yg luar biasa cerdas,punya partai, dan dicintai rakyat (karena rezim pemerintahan yg buruk).
    dan Monokurobo manjadi kepala kepolisian negara itu.
    Kerokeropi dan partainya menang pemilu dan berhasil menjatuhkan rezim itu.
    lalu bagaimana dengan Monokurobo??
    apa Kerokeropi orang yg baik dan bukan pendendam??
    saya tidak bicara demikian.
    sanggupkah sebagai seorang polisi Monokurobo dibalas oleh Kerokeropi yg dulu cuma mahasiswa ingusan??
    berpikirkah seorang polisi ke arah situ??

    Reply

  24. sigitpram
    Dec 10, 2008 @ 09:01:28

    saya menulis komentar ini di tengah-tengah berita krisis yg melanda dunia, termasuk Indonesia. Akhir tahun 2008. Ketika saya berusaha booking hotel di Jogja untuk liburan, ternyata hampir seluruh hotel sudah fully booked. Lho, apanya yang krisis? Semuanya lancar kok… Aneh memang negara kita ini ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: