Yee…gambar pertama di Blogku

Awalnya saya malas upload gambar di Blogku ini. Alasannya, cepet ngabisin jatah space WordPress yang emang udah cupet dari sononya. Inipun mau upload gambar pertama, si WordPress sudah barking, “Ati-ati lo, space sisa lo tinggal 3 GB. Kalau abis, lo mesti bayar !”..

Wah ! Belum upload gambar aja udah ditakut-takutin ! 

Ini ada 2 gambar, silahkan tebak : siapa saja yang ada di Gambar itu, lokasi Gambar itu, dan tahun berapa Gambar itu dibuat..

Kalau banyak pembaca yang bener, ntar deh..aku pasang gambar-gambar lain lagi..

Dessa anak pertama kami

Gambar 1. Tebak siapa saja, lokasi, dan tahun dibuat

Ditta anak kedua kami

Gambar 2. Tebak siapa saja, lokasi mana, dan tahun berapa gambar dibuat

Sudah ya…

 

Vocalist Cewek Suara Terindah 70an dan 80an

Ini pilihan saya untuk Daftar Vocalist Cewek Amerika Terbaik di Era tahun 1970an dan 1980an.. : 1. Karen Carpenters  2. Barbra Streisand  3. Maureen McGovern  dan 4. Joan Baez…

Ini hanya pendapat pribadi, dan khusus Joan Baez memang banyak menyanyikan lagu-lagu berbau politik..tapi blog ini bukan blog politik jadi nikmati saja nyanyiannya dan abaikan politiknya. Ok ?

Anda bisa mengeceknya di You Tube, bila ada waktu…

Selamat menikmati !

Karen Carpenters “Close to You” : http://www.youtube.com/watch?v=oaOyoVS-IAI

Karen Carpenters “We’ve Only Just Begun” : http://www.youtube.com/watch?v=__VQX2Xn7tI&feature=related

Barbra Streisand “The Way We Were” :
http://www.youtube.com/watch?v=n-KPGh3wysw&feature=related

Barbra Streisand “Superman” :
http://www.youtube.com/watch?v=JibJh5NnDLY

Maureen McGovern “The Morning After” : http://www.youtube.com/watch?v=xogfPVs-Mwc&feature=related

Maureen McGovern “We May Never Love Like This Again : http://www.youtube.com/watch?v=GONAt1zOu9Q&feature=related

Joan Baez “Bangladesh” :
http://www.youtube.com/watch?v=ZlvhOQJy–4

Joan Baez “House of the Rising Sun” :
http://www.youtube.com/watch?v=gDwK-Zir8ls

 

“Aline” oleh Christophe

Percaya atau tidak, lagu “Aline” oleh Christophe inilah yang dulu di tahun 1968 diperlombakan untuk dinyanyikan pada acara 17 Agustusan 1968 di depan SMP 4 Madiun di sebelah selatan Stadion Madiun…

Satu per satu penyanyi naik ke atas panggung untuk menyanyikan lagu “Aline” yang menyentuh hati, dinyanyikan dalam bahasa Perancis yang saya tidak tahu artinya itu..

Coba deh, klik You Tube berikut, pasti anda akan tahu apa yang saya maksudkan : http://www.youtube.com/watch?v=LtlgR6AI5CY

Coba nyanyikan di rumah, pelajari arti bahasa Perancisnya, dan pahami dengan benar.

Yang jelas bagi saya lagu itu bagus…ndak peduli apa artinya..

Mas Adhiguna di Paris, mungkin bisa menolong saya menerjemahkan lagu itu sekilas ke dalam bahasa Indonesia. Apakah “Aline” itu nama cewek, atau cerita tentang makhluk luar ruang angkasa alias “Alien” ? Atau cerita tentang dikejar-kejar Imigrasi karena dimasukkan ke dalam daftar “illegal Alien” ? 

Di acara 17 Agustusan berikutnya yaitu di tahun 1969, di halaman kantor Walikota Madiun bahkan ada parade band-band rock, yang  salah satunya adalah band “Chechicks” yang menyanyikan lagu “Whole Lotta Love” dari Led Zeppelin…Tidak sesempurna seperti kalau yang menyanyikan Robert Plant memang, tapi versi yang dinyanyikan Jenny Pautzner berikut juga not bad lho :  http://www.youtube.com/watch?v=sh6W2y3SEoM

Lho, acara 17 Agustusan kok nyanyi lagu Londo. Hopo tumon ?

Tapi kalau memang nggak aneh menyanyikan lagu Londo di acara 17 Agustusan 2008 ini, RT saya nanti akan mengadakan perlombaan nyanyi pasangan muda mudi disuruh nyanyi “Anyone Else But You” yang merupakan OST (Official Song Theme) dari film “Juno” itu..Coba deh klik di You Tube berikut untuk melihat lagu asli dan musik aslinya : http://www.youtube.com/watch?v=s8wmH3fWDTs Atau klik berikut untuk melihat lagu tersebut dinyanyikan di depan rumah oleh sepasang muda-mudi : http://www.youtube.com/watch?v=WM4FTcTQ2sE&feature=related

Ok ? Selamat latihan nyanyi ya ?

 

 

Daftar Harga Raket Badminton

Sumber :  http://fath102.wordpress.com/2008/01/07/raket-yonex-asli-dan-palsu/

Sekarang ini musim liburan sekolah dan musim panas. Pasti lapangan badminton dekat rumah anda sudah dicat dan dirapikan untuk menyambut liburan dan menyambut 17 Agustusan 2008 nanti. Ajaklah pasangan anda, putra-putri anda, bapak-ibu anda, saudara-saudara anda, dan tetangga-tetangga anda semua untuk bermain badminton !

Berikut daftar harga raket badminton Yonex asli yang saya ambil dari sumbere mase di atas. Untuk mudahnya, sudah saya urutkan dari harga termurah Rp 260.000,- sampai yang termahal sekitar Rp 1.550.000,-. Harga ini adalah harga tanpa senar. Harga senar Yonex sekitar Rp 60.000- – Rp 75.000,- berikut masangnya..

Isometric 65 Light : 260 rb
Isometric 65 LT    : 265 rb
MusclePower 22     : 265 rb
MusclePower 8      : 270 rb
MusclePower 23     : 285 rb
MusclePower 25     : 300 rb
MusclePower 27     : 325 rb
MusclePower 9      : 345 rb
Carbonex 8         : 360 rb
MusclePower 28     : 365 rb
Carbonex 9SP       : 375 rb
MusclePower 29     : 390 rb
Carbonex 10        : 425 rb
MusclePower 33     : 535 rb
Carbonex 21        : 620 rb
Carbonex 25        : 630 rb
MusclePower 45     : 750 rb
NanoSpeed 5000     : 780 rb
NanoSpeed 6000     : 880 rb
NanoSpeed 7000     : 1.255 rb
MusclePower 100    : 1.290 rb
Armotech 700       : 1.350 rb
Armotech 800       : 1.350 rb
MusclePower 99     : 1.350 rb
NanoSpeed 7700     : 1.380 rb
NanoSpeed 8000     : 1.400 rb
Armotech 900       : 1.550 rb
NanoSpeed 9000     : 1.550 rb

Selain Yonex, tentunya banyak raket badminton yang juga bagus untuk pemain yang sudah bisa. Anda bisa beli raket ASTECH (singkatan dari Alan Budikusuma-Susi Susanti Technology) dengan harga kisaran antara Rp 300.000 – Rp 500.000 berikut tas dan kaos badminton. Begitu juga merk RS (Reinforced Speed) dengan harga kisaran sama, antara Rp 300.000 – Rp 500.000. Kedua jenis raket ini banyak dipakai tetangga saya di rumah..

Bagi adik-adik yang belum bisa, di GIANT, MACRO atau HYPERMART bahkan INDOMARET dan ALFAMARET banyak dijual raket dengan kisaran harga Rp 20.000 – Rp 70.000..

Di Gramedia atau Gunung Agung di banyak kota juga dijual raket-raket badminton merk Dunlop, Carlton, Head, Bard dan sebagainya dengan kisaran harga Rp 50.000 – Rp 250.000. Ini barangkali untuk remaja yang sudah mulai bisa dan pengin enak mainnya, namun belum menjadi pemain tetap yang membela RT. Kalau menjadi pemain tetap membela RT, disarankan beli raket dengan kisaran harga Rp 300.000 – Rp 500.000 berikut senar seperti yang saya sebutkan di atas. Maaf, mungkin ini RT di kota besar macam Jakarta, Medan, Surabaya, Bandung, dan sebagainya..

Tapi apapun raket badminton yang anda beli, yang penting mari bermain olahraga satu-satunya kebanggaan Indonesia ini !!!

Sekali lagi, terima kasih kepada mase yang telah menulis posting di blog di atas…

Sekali merdeka tetap merdeka…

eh..salah ding…

Sekali main badminton, selama hidup main badminton !

Nah gitu kan..

 

Ting !

Ketika seorang kawan yang juga dosen PTS di Medan bernama Ronsen Purba pertama datang ke kota kecil kami Bloomington untuk ngambil Master bidang Ilmu Komputer, pada suatu hari ia kuajak berbelanja sprei, selimut, dan beberapa perlengkapan “rumah tangga” asrama lainnya di College Mall naik bis kampus yang dulu di IPB disebut “bis roti” karena bentuknya seperti roti itu, tiba-tiba Ronsen nanya :

“Pak Tri, kek mana turun di pemberhentian nanti kalau naik bis macam ini ?”, tanyanya dalam logat Medan yang kental..

“Ya tinggal di-ting aja !”, jawabku sekenanya dengan logat Madiun yang tak kalah kental..

“Ah macam mana pula di-ting itu pak ?”, tanyanya lagi..

“Itu lho. “Ting” itu kan bunyi bel. Nah, situ tinggal tarik itu kabel yang kayak tali jemuran dari depan sampai belakang bis ini sampai nanti berbunyi “ting”, gitu !”, jelas saya kali ini dengan suara agak keras sampai-sampai cowok dan cewek bule yang duduk di depan kami nengok ke belakang soalnya mereka mikir ada pertengkaran apa pula ini..

Ronsenpun lalu tertawa. Iapun bilang, “ting” itu kan bunyi bel, dus itu kata benda (maaf ahli bahasa, kalau saya salah !). Ditambah awalan “di”, sehingga kata benda tadi berubah menjadi kata kerja. Ronsenpun tak habis pikir, ditandai dengan digaruknya kepalanya yang berambut kribo mirip Giring Nidji itu…padahal kepalanya jelas tak gatal…

Hari lainnya saya jalan ke kampus Indiana University at Bloomington dengan Yus, dosen sebuah PTN di Pontianak itu. Seperti halnya Ronsen Purba tadi, Yus juga baru menjadi mahasiswa Master mulai Fall semester ini. Ceritanya Yus ingin mengembalikan buku perpustakaan Main Library karena di-recall oleh seseorang (catatan : di Indiana, seseorang boleh minjam buku sesukanya selama 1 semester selama tidak diperlukan, atau di-recall, oleh orang lainnya). Nah, due datenya sebenarnya hari Jumat kemarin. Tapi sekarang sudah lewat satu hari dan Yus-pun sangat gelisah karena takut ditegur sama pihak perpustakaan..

Sambil jalan menyusuri kampus di musim gugur yang membuat daun-daun menguning tidak rata dan membuat pemandangan jadi indah di salah satu kampus terindah di Amerika ini, sayapun bilang sama Yus :

“Ya sudah, bukunya tinggal di-gludug-kan saja nanti”, kata saya enteng dengan logat Madiun yang kental..

“Apa pak maksudnya di-gludug-kan itu ?”, tanya Yus lagi.

“Ya itu, nanti di samping perpustakaan kan ada lubang untuk meluncurkan buku yang terbuat dari metal. Kita bisa mengembalikan buku perpustakaan hanya dengan melemparkan buku ke lubang itu”, kata saya menjelaskan sambil mengingat betapa bahayanya lubang itu kalau dipakai di perpustakaan Indonesia, pasti lubang akan dipenuhi air hujan bilamana hujan tiba yang akan membuat buku-bukunya basah..

Diapun mungkin heran, “gludug” kan suara buku yang diluncurkan ke suatu lubang. Jika ditambah awalan “di” dan akhiran “kan”, maka “gludug” yang kata benda itu akan berubah menjadi kata kerja..

Kami berduapun sudah sampai di Main Library Indiana University yang sebesar gedung Sarinah Thamrin dan merupakan perpustakaan ke-18 terbanyak koleksi bukunya itu. Konon buku “Nagasasra dan Sabukinten” karangan S.H. Mintarja juga dikoleksi sama perpustakaan ini..

[Teman saya Yus ini sering bertengkar dengan orang bule, gara-garanya kalau ia ditanya “What is your name ?”, dia selalu menjawab “Y- U – S” yang kalau dibahasainggriskan seolah menjadi “Why You Ask” atau “Kenapa kamu nanya” ini. Bisa dibayangkan kalau orang bule tadi mengulang pertanyaannya dan Yus kembali menjawabnya dengan cara yang sama, pasti deh tensi si bule bakal meninggi…]..

Anda masih ingat kata “fax” dan “xerox” ? Yang pertama adalah nama mesin pengirim naskah melalui sambungan telpon, sedangkan yang kedua merupakan mesin pengganda naskah. Orang-orang bulepun suka mengucapkan kalimat seperti ini :

“Ok no problem. I will fax it to you as soon as possible”

atau

“Ok wait a minute. Let’s me xerox it for you”

Artinya, jika saya yang orang Jawa Madiun ini tanpa sengaja menggandengkan awalan “di” dan akhiran “kan” dengan sebuah kata benda “bunyi” sehingga kata benda tadi menjadi kata kerja, maka orang-orang bule mungkin tanpa sengaja pula sering memakai kata benda seperti fax atau xerox seolah-olah itu kata kerja..

Tidak apa-apa, yang penting yang diajak bicara “mudheng”…

* mudheng = mengerti

 

Sandyakalaningkomputerku

Membeli komputer brand name, seperti komputer desktop Compaq Presario 5121AP, yang saya beli di tahun 2001 yang lalu di MetroData sungguh suatu keberuntungan buatku. Tidak hanya dapat diskon berupa Monitor Compaq MV740 sebesar 17 inch tapi seharga 14 inch, tetapi juga jaminan after sales service yang baik..

Komputer itu “dibelikan” oleh teman-teman Inovasi Teknologi, waktu saya bergabung dengan mereka. “Dibelikan” karena honor saya sebagai peneliti saya minta dalam bentuk komputer desktop, yang saya taruh di rumah.

Tujuh tahun penuh komputer itu telah berjasa, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi isteri dan anak-anak saya. Waktu saya beli, anak sulungku baru saja masuk Fakultas Hukum Undip sedang anak bungsuku masih kelas 2 SMA. Sekarang, anak sulungku sudah selesai kuliah dan bahkan sudah kerja sejak 2 tahun yang lalu serta anak bungsuku Insya Allah minggu depanpun sudah lulus ujian sarjana di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB..

Komputer desktopku itu di rumah biasanya nyala 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan jarang sekali saya matikan kecuali listrik PLN memang sedang mati. Alasan saya, komputer yang sering dimatihidupkan akan pendek usianya dibandingkan dengan yang dipanjerterushidupnya..

Sejak 2 minggu lalu komputer dekstopku saya gunakan untuk menulis laporan bahasa Inggris Technology Needs Assessment – Transportation Sector setebal kira-kira 35 halaman. Banyak chart yang saya harus buat di Excel, yang full warna. Ternyata pas enak-enaknya menggambar beberapa chart, jebul….prepet…prepet…monitorku mulai padam warna merahnya !!

Oh my Gawd ! Apa nggak tahu saya lagi sibuk dikejar deadline nih ? Yang jelas dikejar temenku, soalnya laporan itu sebenarnya kolaborasi antar beberapa teman di lingkungan R&D dan universitas/institute di Indonesia. Rencananya, selepas dari meja saya, laporan itu akan diputar ke beberapa teman lainnya untuk perbaikan..

Terpaksa saya bekerja hanya dengan warna Green-Blue saja, soalnya Red-nya di monitor saya lagi habis. Celakanya, komputer desktop saya yang satunya “jeroannya” diborong ke Bandung oleh anak bungsu saya karena motherboard komputernya di Bandung terbakar. Sedang laptop satu-satunya yang kami punya juga dibawa ke Bandung oleh anak bungsuku yang nulis TA..

Isteriku sudah usul, “Ya sudah, beli LCD Monitor aja”. Saya langsung lihat di www.bhinneka.com ternyata harga LCD 17 inch yang paling murah adalah merk Acer yang harganya sekitar USD 185. Ya sudah, ini lagi tanggal tua sehingga kamipun terpaksa merogoh “cadangan devisa” agar dapat membeli monitor yang baru untuk mengganti monitor tabung 17 inch yang saya punya dan sekarang rusak warnanya itu..

O ya, menurut patokan sekarang, komputer desktop Compaq Presario 5121AP saya itu termasuk kategori “komputer nenek-nenek” karena Processornya hanya Pentium III 900 MHz. Menurut ukuran umur manusia, mungkin komputer desktop saya ini sudah berumur sekitar 70 tahunan…

Tapi yang menolong adalah, konon Compaq mempunyai desain bus khusus di dalam motherboard-nya sehingga kecepatannya jauh melebihi komputer jangkrik dengan kecepatan 2 GHz sekalipun..

Entah itu mitos, atau realitas, saya nggak tahu..

Yang jelas, Senin nanti saya akan hunting LCD Monitor…

 

Ordeal

Arti “ordeal” sebenarnya adalah “penderitaan” atau “masa penderitaan”. Biasanya dialami oleh seseorang yang sedang berjuang untuk meraih sesuatu, misalnya kalau mahasiswa ya berjuang untuk lulus suatu mata kuliah. Atau lebih sulit “ordeal”-nya justru untuk mahasiswa yang sedang menulis skripsi. Menulis skripsi bagaikan hamil 9 bulan, tapi anaknya tidak keluar-keluar…

Ordeal itu artinya juga “penderitaan panjang”. Jadi juga bisa dialami oleh pegawai swasta atau pegawai lembaga pemerintah yang belum diangkat-angkat. Jadi masih tetap pegawai tidak tetap atau pegawai honorer…terussss. Kalau di pemerintah daerah, juga disebut “Honda” alias Honorarium Daerah..

Waktu saya pernah menjadi Ketua BP3 suatu SMA negeri pendamping unggulan di sekitar Tamini Square, ada seorang guru honorer Matematika yang muda, cerdas, berdedikasi, sulit soal yang dibuatnya, pokoknya kualitas “topp bgt” punya. Eh, ternyata, beliau masih honorer dan belum diangkat jadi pegawai negeri. Dalam hati saya ingin menolong, tapi apa daya tangan tak sampai..

Ordeal juga dekat dengan kalangan mahasiswa. Jika dosen anda killer bin kill-me atau mata kuliah yang killer (Algoritma & Pemrograman, Struktur Data, Programming Languages – khusus di Indiana U.), maka siap-siap anda mengalami penderitaan panjang alias ordeal ini. Dari satu assignment ke assignment lainnya bagaikan mendaki bukit. Midtest sama Final exam sudah seperti mendaki Himalaya. Professor berdehem sudah membuat jantung copot…

“I want to take the monkey off my back”, adalah kata-kata yang dikeluarkan oleh seorang mahasiswa, yang menandakan dia lagi mengalami “derita panjang” seperti sebuah lagunya “Ada Band” itu.. dan artinya bukan dia lagi nggendong monyet..

“When it’s over, it’s over”, adalah nasehat mahasiswa lainnya kepada mahasiswa yang sedang mengalami ordeal itu. “Ayo…kerja keras, semangat ! Kalau sudah selesai, ya selesai”, kata si cheerleader itu. “Kick your butt ! Break your legs !”, katanya lagi mengingatkan agar kita tetap bekerja keras…dan bukan menendangi pantat sendiri ataupun mematahkan kaki kita…

Ordeal juga dialami oleh mahasiswa yang sedang menulis Skripsi S1, Thesis S2, atau Disertasi S3 (maaf, istilah-istilah ini adalah “standar IPB”). Nulis skripsi rasanya jauh dari selesai, walaupun dikerubut oleh 2 atau 3 orang (kasus Binus). Nulis Thesis S2 juga nggak selesai-selesai, makanya bekas boss saya Pak Wardiman Djojonegoro yang biasa kerja keras dan semangat itu selalu membombong kita dengan kata-kata “Ayo di-bulldog !”, serta “Seterikalah jika seterikaannya lagi panas !” (Iron while it’s hot)…alias, tulis terus Skripsimu atau Thesismu atau Disertasimu mumpung “mood” selagi ada. Kalau “mood” mati, lha mbok komputer dipelototin 24 jam sehari, yang ada cuman main game, chatting, YM-an, atau lebih jelek lagi…melihat yang seharusnya nggak boleh dilihat !! ..

Anak bungsuku sudah melewati masa ordeal ini. Dan alhamdulillah, jadwal sidang Tugas Akhir di ITB sudah keluar dan ia akan sidang nanti hari Selasa tanggal 24 Juni 2008 jam 12.00 siang. Mudah-mudahan ia tenang dan bisa menjawab semua pertanyaan di sidang dengan baik. Maklum, sudah setahun ini ia ngendon di lab sehingga sudah mirip “kutu lab” daripada manusia…eh, maksudku, mahasiswa !

“Shut up your mouth and pray ! When it’s over…it’s over”, kata si cheerleader..

Ya emang, ordeal itu manusiawi..

Apakah anda pernah mengalami sejenis “penderitaan” ini ? Apa penderitaannya dan bagaimana cara mengatasinya ?

Cerita di sini, boleh kok…

 

Previous Older Entries