Cinta Lingkungan di Hari Lingkungan

Ketika beberapa tahun yang lalu saya menginap selama 2 bulan di Hotel Kyo-yuk Mun-hwa Hu-kwan di Seoul yang berjarak hanya 3 stasiun subway dari Seoul Olympic Stadium itu, saya dan teman sekamar Kang Adi Saptari terheran-heran dengan begitu pedulinya hotel ini terhadap lingkungan..

Salah satu hotel terbesar di bilangan Barat Daya Seoul ini mempunyai semacam Himbauan Cinta Lingkungan yang ditaruh di kamar mandi seperti halnya kalender meja. Tulisannya kira-kira berbunyi sebagai berikut, “Dalam rangka mendukung lingkungan hidup yang lebih indah di planet kita yang sempit ini, hotel ini melakukan beberapa cara untuk lebih mencintai lingkungan. Setiap harinya di seluruh dunia ribuan ton detergen ditumpahkan ke sungai-sungai kita yang mencemari lingkungan. Anda bisa berpartisipasi dalam program Cinta Lingkungan kami dengan cara menaruh handuk yang akan dicuci di lantai kamar mandi, dan handuk yang tetap tergantung berarti handuk tersebut akan tetap anda gunakan. Terima kasih atas perhatian anda”.

Berkali-kali saya dan Kang Adi Saptari geleng-geleng kepala dengan imbauan sederhana yang bermakna sangat besar untuk planet kita yang kecil ini…

Kira-kira 2 tahun yang lalu, saya juga menginap di Hotel Santika Jalan K.S. Tubun Jakarta. Imbauan yang sama saya jumpai di Hotel milik Kelompok KKG itu. Seminggu yang lalu, saya menginap di Hotel Pantai Gapura Makassar dan ternyata hotel ini juga mempunyai kampanye serupa dengan Hotel Kyo-yuk dan Hotel Santika…

Tetapi, sewaktu saya menginap di Hotel “H” di Bandar Lampung sebulan yang lalu, serta menginap di Hotel “M” di Madiun juga sebulan lalu, imbauan serupa tidak saya jumpai…

Banyaknya detergen sebagai limbah air pencuci baju yang bisa mengalir ke sungai-sungai kita sedikit banyak akan merusak lingkungan karena beberapa jenis detergen menggunakan zat pencuci tertentu yang perlu sedikitnya 10-15 hari untuk menguraikannya kembali di sungai-sungai kita..

Bahkan, Rawa Pening di sekitar Ungaran kota di sebelah selatan Semarang yang dulunya airnya begitu jernih dan terbuka di pertengahan tahun 1970an, sekarang ini hampir setengah permukaannya sudah dipenuhi oleh tanaman enceng gondok yang bersifat sebagai gulma (tanaman pengganggu)…

Mengapa ?

Antara lain karena detergen yang mengalir ke rawa indah yang sekarang bener-bener bikin pening banyak orang itu…

Tapi sebenarnya menurut penelitian teman saya, detergen merk “D” menggunakan bahan pencuci yang lain dengan detergen-detergen merk lainnya, yang hanya perlu waktu 2-3 hari untuk diuraikan kembali ke dalam air got dan sungai kita. Singkat kata, detergen “D” ini lebih ramah lingkungan dan saya sering menggunakannya di rumah…

Selain sisa-sisa detergen yang mencemari sungai-sungai kita, banyaknya gas CO2 yang keluar dari knalpot mobil, sepeda motor, bis dan truk juga bisa mencemari lingkungan, bahkan bisa menjadi Gas Rumah Kaca yang membuat bumi makin panas karena berfungsi sebagai selimut yang menghalangi panas bumi untuk dibuang kembali ke atmosfer, yang pada akhirnya akan melelehkan es di kutub-kutub utara dan selatan bumi kita..

Sebaiknya, sekarang juga anda juga harus memikirkan apa kontribusi anda untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik bagi planet bumi kita ini. Besar dan kecil itu tidak menjadi masalah..

Mulailah hari ini….

Bisakah ?

Itu yang menjadi masalah !

 

21 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Jun 06, 2008 @ 07:29:50

    kalo gak salah di semua hotel grup Santika dan Melia (Marbela) juga da tulisan gitu Pak di kamar mandinya.
    hehehehehehehehehehhee…!!!!

    Reply

  2. tridjoko
    Jun 06, 2008 @ 08:23:03

    –> Agung :

    Wah syukur aja kalau hotel-hotel kelompok itu sudah sadar lingkungan..

    Salah satu ciri hotel bagus lainnya adalah : adanya welcome drink, welcome fruit, complimentary drink (tersedia di kamar, self service), dan adanya formulir dari manager hotel bila pelanggan ingin memberikan masukan buat hotelnya…

    Saya pernah mengisi saran untuk Hotel Santika, dan tiga hari kemudian Manager Hotel sudah membalas saran saya dengan menulis surat ke rumah mengucapkan terima kasih…

    Wow !

    Reply

  3. edratna
    Jun 06, 2008 @ 10:29:43

    Wahh itu hotel M di Madiun dan hotel H di Bandar Lampung yang masih tak mengikuti aturan (wahh jangan2…yang di C juga ya….mesti cek ahh).
    Saat saya ke Papua, hotel tertua disana, bintang 3, dan tak punya chain dengan hotel lainnya, juga sudah ada papan pengumuman seperti itu di tiap kamarnya. Dan karena listrik di Jayapura byar pet, maka masing-masing kamar juga dilengkapi lampu (apa ya namanya?) yang akan menyala sendiri jika listrik mati, sehingga risiko terhadap kebakaran karena nyala lilin bisa diperkecil.

    Reply

  4. Wilton Rosandy 04PKT
    Jun 06, 2008 @ 13:11:50

    pak tolong di add yah
    tq
    ^.^

    Reply

  5. tridjoko
    Jun 06, 2008 @ 17:10:57

    –> Bu Edratna :

    Itu bukan peraturan pemerintah lho, lebih tepatnya adalah “anjuran”…

    Dan untuk masalah lingkungan ini, semua anjuran datangnya tidak hanya dari Kantor Menteri LH, tapi bisa juga dari LSM, atau bisa karena membaca atau menonton VCD-nya Al Gore yang berjudul “An Inconvenient Truth” misalnya…

    Jadi “pencerahan” akan cinta lingkungan, mestinya timbul dari diri sendiri. Orang atau pihak lain hanyalah sebagai “sarana” saja..

    Tidak ada jeleknya hotel yang belum ada anjuran cinta lingkungan seperti ini, tapi kalau tamunya seperti kita-kita ini yang tidur di sana, wah..pasti mikir, sayang ya hotel bagus-bagus tapi masih belum cinta lingkungan…

    O ya selain cinta lingkungan, perhatian akan hemat energi seperti hotel di Papua itu, atau perhatian akan hemat air bersih (ada pengolahan limbah yang airnya diolah kembali sehingga bersih), itu juga patut diacungin jempol lho !

    Reply

  6. tridjoko
    Jun 06, 2008 @ 17:11:36

    –> Wilton :

    Ya deh, sebentar lagi saya add di Blogroll saya..

    Sabar ya !

    Reply

  7. Agung
    Jun 07, 2008 @ 12:42:27

    karena itu emank hotel2 “bagus” Pak,niat banget bikin hotel,dan peduli lingk.
    dan biasanya hotel2 mapan gt deh yg ada himbauan gt.

    saya skrg kan tiap hari naek motor.
    terus lewatin satu kali di daerah karang tengah.
    tiap pagi selalu ada gumpalan sabun ngambang di sungai itu.
    kira2 sebesar2 mobil lah.
    saya kira itu salju.
    waktu pertama ngliat saya excited gt.
    hahahahahahahahhahaha…!!!

    Reply

  8. tridjoko
    Jun 07, 2008 @ 13:15:04

    –> Agung :

    Karang Tengah ?

    Bukannya itu sentra pembuat garment di Jakarta ?

    Saya kira detergent yang menggumpal seperti salju sebesar mobil itu sisa-sisa pencucian jeans (jeans di-stone-wash biar kelihatan belel dan kuno)..

    Sepanjang jenis detergennya ber-merk “D” yang ramah lingkungan tadi, saya tidak keberatan, karena menurut penuturan teman saya dalam waktu 2 hari akan bisa larut dengan sempurna di perairan (baca : sungai). Beda kalau menggunakan detergen merk lain yang perlu sekitar 10 hari baru terurai habis di sungai…

    Hotel besar dan kecil, mestinya semuanya sudah peduli lingkungan dan oleh karena itu di kamar mandinya harus ada semacam “pengumuman” untuk cinta lingkungan…

    Tapi kembali ke siapa yang punya hotel itu sih…kalau dianya cuek bebek ya sampai kapanpun “pengumuman” cinta lingkungan itu nggak bakalan ada…

    Reply

  9. tutinonka
    Jun 07, 2008 @ 13:53:25

    Jika menginap di hotel, saya juga sering merasa sayang kalau sprei yang baru dipakai semalam, dan pastinya masih bersih, esok paginya sudah diganti. Padahal nyuci sprei segede itu kan butuh deterjen banyak. Saya juga menjumpai beberapa hotel yang memasang himbauan untuk memisahkan handuk kotor dan handuk yang masih akan dipakai, seperti yang ditulis Pak Tri. Jika pun tidak ada tulisan seperti itu, kalau saya sempat bertemu petugas kebersihan yang akan membersihkan kamar, saya akan berpesan untuk tidak perlu mengganti sprei.

    Untuk menjaga lingkungan, sekarang ini ketersediaan air tanah menjadi persoalan yang sangat kritis. Apalagi untuk kota besar seperti Jakarta, yang kebutuhan air bersihnya sangat besar, sementara permukaan tanah sudah banyak tertutup oleh bangunan, aspal, dan semen, nasib air tanah sungguh terancam. Jika air tanah di bawah Jakarta disedot terus, sementara beban di atas permukaan tanah semakin berat, permukaan tanah diJakarta akan semakin turun. Akibatnya banjir semakin sulit diatasi.

    Untuk menjaga kelestarian air tanah sebenarnya tidak sulit. Setiap rumah tangga seharusnya membuat sumur peresapan untuk memasukkan air hujan yang jatuh ke atap dan halaman agar masuk kembali ke dalam tanah (bukan dibuang ke saluran air). Sumur peresapan ini tidak harus dibuat di tanah terbuka, bisa dibuat di bawah lantai rumah, sehingga keterbatasan lahan tidak relevan dijadikan alasan. Yang menjadi masalah adalah kesadaran dan kesediaan masyarakat untuk melaksanakannya.

    Selain deterjen, sampah plastik juga luar biasa efek merusaknya terhadap alam. Dalam sehari, berapa banyak kantong plastik yang kita buang dari dapur? Zaman doeloe, sebelum ada kantong plastik, semua dibungkus dengan daun (daun pisang, daun jati, daun kelapa, daun waru). Sampahnya membusuk menjadi humus. Sekarang, sampah plastik menumpuk menjadi gunung sampah ….

    Reply

  10. Agung
    Jun 07, 2008 @ 15:12:40

    wah,saya baru tau di situ ada pabrik jeans.
    hahahahahahahhaa..!!
    bole nih kapan2 ke pabriknya cari2 jeans murah.
    (biasanya kan kalo beli di pabrik bisa lebih murah).
    hehehehehehehehehe…!!!

    dan,kalo uda siang sih gumpalannya jadi kecil2,mungkin itu sudah terurai air.
    dan sering kali saya lihat ada pemulung yg “main2” di “salju” itu.
    bahkan ampe masuk koran kompas kemaren.
    hehehehehehehehehe….!!!
    tapi saya bayangin kalo sungainya bersih (bening kyk di film Narnia,trus liat “salju” segede gitu,bisa2 saya langsung loncat maen2 di situ.
    hahahahahahahahahahaa…!!!

    Reply

  11. tridjoko
    Jun 07, 2008 @ 19:05:22

    –> Bu Tutinonka :

    Benar yang Ibu amati. Saya sering menginap di hotel dan setiap hari spreinya diganti. Mungkin itu sudah standar prosedurnya begitu. Tapi waktu di Makassar yang mengherankan, pegawai pembersih kamar bisa 2-3 kali masuk ke kamar untuk bersih-bersih dan angkut-angkut sampah, serta mengganti “amenities” (odol, sikat, shampoo, sabun, tissue) yang ada di kamar…kok rajin amat sih mbak !

    Bu, point saya sebenarnya selain pemakaian detergen yang perlu dibatasi, JENIS detergen juga perlu dipilih yang baik (mestinya, ini peran pemerintah). Detergen kebanyakan, termasuk sabun colek, baru mengurai di air setelah 10 hari. Padahal di Indonesia ada satu jenis detergen yaitu “D” yang mengurainya hanya 3 hari karena jenis detergennya berbeda (orang Kimia yang bisa membedakannya)…mestinya detergen “D” itu dianjurkan oleh pemerintah dan diberi insentif (pajak perusahaan dikurangi). Tapi kenyataannya, di Indonesia malah 95% detergen bukan yang merek “D”, tapi merk lainnya..

    Saya masih ingat Bu, waktu saya kuliah di Bogor 30 tahun lalu dan setiap lewat RawaPening mata ini segar karena lihat air rawa yang kinclong. Sekarang ? Lebih dari 50% permukaan RawaPening tertutup enceng gondok yang konon karena dipupuk oleh Phosphat (pupuk P) sebagai “filler” (pengisi) dari detergen. Seperti diketahui Bu, dari satu sendok makan detergen sebenarnya yang berfungsi sebagai pembersih hanya 1 sendok teh saja, makanya perusahaan detergen menambah “filler” yang biasanya Phosphat biar kelihatan kalau makai detergen itu sak cowok….gitu..

    Mengenai sumur peresapan, beberapa kompleks perumahan di sekitar Jakarta sudah menerapkan sumur resapan mini yang digagas oleh orang IPB itu. Mereka beli alatnya ke Bogor, dan membor tanah ukuran lingkaran diameter 10 cm dan kedalaman 1 meter, dan mengisi “sumur resapan mini” ini dengan dedaunan, dan setiap dedaunannya sudah menjadi kompos, mengisinya dengan dedaunan yang baru, dan seterusnya…

    Mengenai tas plastik pembungkus belanjaan di Indonesia, pemerintah sekali lagi harusnya membuat insentif dan disinsentif bagi pusat perbelanjaan yang sudah menggunakan plastik “biodegradable” walau mungkin di Indonesia harganya mahal..

    Waktu saya ke Jerman tahun 1984 yang lalu, plastik pembungkus belanjaan di toko Aldi yang sebesar Indomaret itu sudah biodegradable jenisnya. Di Amerika sekitar 1987-1989 juga semua pembungkus belanjaan juga sudah berupa kertas, bukan plastik..

    Kalau pemerintah c.q. KLH, Bappelda dan Bappeldada diam seribu bahasa…apalagi masyarakatnya…

    Gitu ya Bu ?

    Reply

  12. tridjoko
    Jun 07, 2008 @ 19:11:10

    –> Agung :

    Emang…nasib kita yang tinggal di negara berkembang ini seperti ini. Lihat sungai penuh dengan detergen dan warna-warni kelam sebagai limbah dari industri garment yang masuk ke perairan umum…dan pemerintah diam saja !

    Sehingga, kalau mau lihat sungai yang jernih airnya, pohon-pohon yang dipenuhi burung-burung berkicau riang, ya datanglah ke negara maju setidaknya seperti Singapura itu…

    Di sini, selain sungainya dikotori, burung-burungnya disambitin sama batu, ketepel, dan senapan angin…

    Wah…kita benar-benar bangsa yang merugi nih !

    Perlu gerakan cinta lingkungan segera, setidaknya di kampus kita, Binus tercinta ini. Bisa dong, masalah ini dikomunikasikan dengan temenmu itu. Ntar biar temenmu yang meneruskan ke bapaknya…

    Hahahaha…

    Reply

  13. Agung
    Jun 07, 2008 @ 21:35:33

    hahaahahahahahaha…!!!
    betul itu Pak.
    makanya Amerika pas di sodorin protocol kyoto mikir2 lagi.
    “knp gw ditawarin ampe dipaksa2 gini?? kok Cina n Indonesia ga ampe semaksa ini deh?!?”,mungkin di benak orang Amrik.
    yah,itu kota New York,biar pun metropolitan yg gede banget,mobilnya byk,tapi punya taman kota terbesar di dunia.
    dan kykny stiap kota punya taman kota yg gede.
    ditambah hutan lindung yg msh banyak.
    trus masyarakatnya masih peduli lingk.
    sedangkan cina dan indo,boro2 punya taman kota yg gede.
    wong hutannya aj digundulin terus.
    sungai2nya aj penuh sampah.
    hehehehehehhee…!!!

    wah,kalo dilihat dari lahan yg dimiliki Binus,sptnya akan sulit bagi Binus utk “membantu”.
    tapi paling ga bisa lah buat “mengendalikan” sampah.
    klo kyk di SMA saya,ud ga ada lagi tuh air mineral yg pake botol plastik.
    smua pake botol yang kaca beling.
    dan minuman yg kemasannya kardus dan plastik juga uda berkurang,dan kalo bisa ga da sama sekali.
    bungkusan makanan berat juga mulai pake kertas bungkus,ga lagi pake plastik ato sterofoam.
    ditambah lagi di SMA saya itu,tempat sampahnya dibagi 2,organik dan anorganik.
    belom lagi peraturan soal merawat tanaman.
    hehehehehehehehehe…!!!
    tapi itu kan karena SMA Santa Ursula BSD punya lahan yg besar.

    kalo buat saya sih,yg penting kita hrs memiliki banyak pohon yg gede2.
    jadi menurut saya smua pemerintah kota dan kabupaten di indo hrs bikin undang2 lingk hidup yg ngurus soal pohon.
    dan kalo perlu tiap kabupaten ato kota 20% wilayahnya haruslah wilayah penghijauan.
    dan tiap lahan yg dibangun harus jg punya lahan penghijauan.
    kalo perlu ditetapkan,tiap 30 meter persegi harus ada pohon (dikotil) besar (yg tingginya >1,5 m).
    hehehehehehehehehe….!!!!
    nanti deh kalo saya jadi Prime Minister,ato President,ato bahkan King ato Caesar suatu negara Pak.
    hahahahahahahahahahahahhaa…..!!!!!!

    Reply

  14. tutinonka
    Jun 07, 2008 @ 22:39:30

    Wah, Bapak kok bikin penasaran. Deterjen “D” itu merk lengkapnya apa sih? Takut promosi ya Pak? Kalo gitu bisik-bisik aja …. swz … swz … swz … atau pakai morse …. hehe.

    Tentang Rawa Pening yang Bapak sebutkan, saya agak confuse. Bukannya Rawa Pening itu ada di daerah Ungaran, Pak? Apakah di Bogor ada juga? Atau Bapak pergi kuliah lewat Ungaran? Hehe …

    Saya juga garuk-garuk kepala membaca sumur peresapan yang Bapak jelaskan. Bapak menulis diameternya 10 cm dan kedalamannya 1 meter? Mungkin beda dengan sumur peresapan yang saya ketahui ya Pak. Kalau yang saya pelajari di kuliah (dan saya buat di rumah saya) sumur peresapan itu diameternya 1 m, kedalamannya minimal 3 m. Jadi kalau hujan deras, bisa menampung air dari talang rumah, serta air limpasan dari halaman. Di atasnya bisa ditutup dengan beton, lalu ditimbun tanah dan ditanami rumput, atau kalau di dalam rumah ditutup dengan lantai keramik.

    Di film-film Hollywood, kita memang selalu melihat orang membawa pulang belanjaan dalam kantong-kantong plastik besar. Cuma yang saya heran, kenapa ya kantong itu tidak diberi tali, sehingga bisa dijinjing? Kayaknya repot banget tuh, turun dari mobil sambil mendekap kantong-kantong besar.

    Reply

  15. tutinonka
    Jun 07, 2008 @ 22:44:45

    Eh, maap … ada koreksi, Pak.
    Di alinea terakhir baris kedua, bukan “kantong-kantong plastik”, tapi “kantong-kantong kertas”. Gitu, Pak (takut disilang pake tinta merah, maklum berhadapan dengan Pak Dosen yang biasa mengoreksi tulisan mahasiswa … )

    Reply

  16. tridjoko
    Jun 07, 2008 @ 23:30:46

    –> Agung :

    Wah…SMA-mu ternyata jauh lebih maju ya daripada Binus di bidang program mencintai lingkungannya….

    Binus Univ memang lahan terbatas jadi mau bikin program cinta lingkungan gimana juga nggak ngefek. Yang saya dengar Binus High di Serpong itu sudah environmentally friendly banget, katanya tidak ada lahan yang ditutupi beton, tapi diganti dengan corn block yang ada rumputnya…

    Kalau nggak salah Amerika penyumbang 35% dari CO2 (Gas Rumah Kaca, Greenhouse Gases) terbanyak di dunia. Amerika nggak mau nandatangani Kyoto Protocol karena alasannya katanya di sana sudah banyak UU yang ketat tentang lingkungan (mis. Clean Air Act). Kata mereka, kan saya sudah berbuat sesuatu untuk memerangi gas rumah kaca…

    Mengenai hutan lindung, Indonesia kalah jauh dari Amerika. Di sana dimana-mana ada State Park yang berupa hutan lindung atau hutan wisata. Sedangkan hutan dekat Madiun yaitu Ngawi dan Saradan sejak 1998 (jaman reformasi) sudah gundul ndul…

    Siapapun pemerintahnya akan sulit membuat program lingkungan yang serius di Indonesia, karena setiap individu warganegara mestinya sudah mulai cinta lingkungan, cinta kebersihan, dan jangan suka berkelahi…

    Hahahahaha…

    Reply

  17. tridjoko
    Jun 07, 2008 @ 23:40:02

    –> Bu Tutinonka :

    Wah..maksud saya, kalau dari Madiun pergi ke Bogor dan sebaliknya saya waktu itu menggunakan bis malam “Bogor Express” jadi rutenya Madiun-Solo-Ungaran (Rawa Pening)-Semarang-Cirebon-Jakarta-Bogor..

    “Sumur resapan” yang saya maksud lebih tepat disebut “Biopori”, istilah orang IPB yang menemukannya. Itu sudah banyak diterapkan di sekitar Jakarta Bu. Sedang sumur resapan seperti yang Ibu maksud malahan jarang diterapkan di Jakarta karena kebanyakan tanah di Jakarta rawan banjir dan air tanahnya dangkal. Mungkin orang takut membuat sumur resapan seperti yang Ibu maksud…

    Ya Bu, orang Amerika kalau belanja pasti ditaruh di kantong-kantong kertas mirip kantong semen itu lho Bu. Tentu saja nggak ada talinya sehingga memang sulit dijinjing. Membawanya lebih tepat dibopong atau digendong. Ya memang repot, terutama bagi perempuan. Justru di situ asyiknya, sehingga para cowok bisa segera membantu. “May I help you to carry your grocery ?”. Biasanya, tidak ada yang nolak…hehehehehe…

    Merk detergennya apa ? Wah karena yang bersangkutan belum membayar iklan di Blog saya ini, terpaksa tidak bisa saya sebutkan nama lengkapnya Bu. Tapi yang jelas, dimulai huruf “D”, di tengahnya ada huruf “i”, dan diakhiri dengan huruf “a”..

    Pasti Ibu sudah tahu. Atau pura-pura tidak tahu ?

    Hahahahaha….

    Reply

  18. Agung
    Jun 08, 2008 @ 12:03:17

    yah,itu dikarenakan THE BIG BOSS tidak berkeluarga.
    jadi siapa lagi yang harus dicintai kalo bukan TUHAN,anak2 didik,dan lingk??
    hehehehehehehehehhehe…!!!
    tapi mencintai lingk juga bagian dari hal yg perlu dibentuk di dunia pendidikan.
    kalo di Santa Ursula,kita dijadikan MANUSIA UTUH.
    hahahahahahahhaha…!!
    bahkan lapangan upacaranya saja masih rumput lho di Santa Ursula BSD.
    dan kalo upacara siap2 pake autan,krn kaki dan tangan pasti digerayangi serangga yg bikin gatel.
    hehehehehhehee…!!

    Amerika lebih setuju membuat penelitian untuk mengurangi efek rumah kaca.
    saya berpikir mungkin mereka akan buat alat yg bisa melakukan fotosintesis lebih efektif dari tumbuhan hijau.
    jadi CO2 disedot diolah jadi O2.
    ga tau juga deh.
    emank kurang adil sih soal menghitung emisi CO2.
    karena yg dihitung yah yg dihasilkan aja.
    pdhl yg sampai ke atmosfer atas ga dihitung.
    Amerika mungkin menghasilkan byk CO2,
    tapi pas sampe atmosfer atas mungkin ga sbyk CO2 dr indo ato cina.
    wong abis keluar lgs diisap pohon2an yg banyak di USA.

    Reply

  19. tridjoko
    Jun 08, 2008 @ 13:39:26

    –> Agung :

    Bedanya AS, Cina dan Indonesia dalam mengelola karbon (CO2)…

    AS dan Cina adalah No.1 dan No. 4 dalam menghasilkan CO2 (Gas Rumah Kaca) di dunia, dan keduanya mempunyai “Carbon Source” yang cukup besar, sedangkan “Carbon Sink” berupa hutan sih ada tapi yang berupa lautan sangat sedikit mengingat sebagian besar tanahnya berupa daratan…

    Sedangkan Indonesia, hanya menduduki No. sekian dari penghasil CO2 di dunia (sebagai “Carbon Source”) tapi karena 70% dari tanah air Indonesia berupa perairan/lautan maka hal itu juga berlaku sebagai “Carbon Sink”. Sehingga setiap CO2 yang dihasilkan di Indonesia kebanyakan langsung diserap oleh “Carbon Sink” tadi sehingga yang diteruskan ke atmosfer jauh berkurang…

    Gitu lho !

    Reply

  20. Agung
    Jun 08, 2008 @ 20:58:34

    ooo…!!
    lautan dianggap “penyedot” CO2 yah??
    saya baru tau.
    hehehehehehehe..!!

    Reply

  21. Agung
    Jul 11, 2008 @ 19:06:59

    saya uda melakukan sdkt penelitian dgn kali di karang tengah itu.
    ternyata kalo pagi2 saya lewat kira2 jam 6.30,busanya segede mobil.
    dan kalo siang pas pulang busanya msh segede2 dus mie instan.
    pdhl proses pencuciannya yg saya tau pd saat pagi2 itu aja.
    dan gilanya msh ada aj masyarakat sekitar yg msh mancing ikan ato menjala ikan.
    pdhl ikan2nya aj uda mabok gt.
    saya jd takut kalo kejadian kyk di film resindent evil terjadi.
    hehehehehhehe…!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: