NO IF a.k.a. “Jathukno”

Minggu-minggu ini dan minggu-minggu depan ini ada 3 kompetisi olahraga menarik yang menjadi tontonan saya. Pertama, Euro 2008 yang sudah mulai dipertandingkan di Swiss-Austria sana. Kedua, NBA Final yang sudah dimulai pertandingan pertamanya di Boston antara LA Lakers dan Boston Celtics. Ketiga, pertandingan olahraga antar RT di RW saya yang tidak kalah serunya dibandingkan kedua pertandingan pertama tadi…

Tadi pagi, barusan Team Volleyball putra RT saya dikalahkan 2 set langsung 25-22, 26-24 di babak semifinal oleh RT sebelah yang merupakan Juara Bertahan. RT saya sudah berjuang sekuat tenaga, tapi kayaknya setiap smash-smash maut yang dilancarkan oleh RT saya selalu dapat dikembalikan oleh RT lain sehingga angkapun kejar-mengejar sejak set pertama. Di level kompetisi yang “tinggi” seperti ini, kesalahan sekecil apapun tidak bisa ditolerir, apalagi pertandingan Volleyball-nya menggunakan rally point seperti yang sudah digunakan di level nasional ataupun internasional. Artinya, dalam rally point setiap kesalahan kita sekecil apapun akan menjadi point lawan, dan sebaliknya..

Team Volleyball saya kalah tipis. Tidak ada penyesalan dari diri saya selaku Ketua RT, tapi mungkin ada sedikit rasa penyesalan dari warga RT saya. Tapi, kalah adalah kalah. Jangan sampai ada yang bilang “Jika tadi si A bisa mengembalikan smash lawan, pasti deh team RT kita menang”. “Jika si B tidak datang terlambat ke lapangan, pasti deh kita bisa mengimbangi sejak menit-menit awal”. “Jika kostum kita tidak pakai yang berwarna merah tapi memakai yang berwarna biru, pasti deh kita menang”…

Hah, menang ?

Yang lebih utama sebenarnya adalah mempersiapkan diri dalam latihan yang serius dan terprogram, baik secara sendiri-sendiri latihan dengan teman kantor, ataupun latihan secara bersama-sama. Lebih baik pula mengetahui kekuatan diri dan juga kekuatan lawan, sehingga kita bisa mengukur kans menang dan kans kalahnya. Tapi sekali menang, semuanya mengelu-elukan kita. Kalau kalah, semuanya menyalahkan apa saja, dari kostum, jam pertandingan, sampai sorakan penonton…

Begitu juga di Euro 2008, banyak orang menjagokan teamnya masing-masing. Ada yang menjagokan Belanda, Italia, Jerman, Spanyol, Portugal ataupun Yunani. Pada akhirnya hanya ada 1 pemenang saja. Banyak yang menjagokan Belanda, padahal terakhir Belanda menjuarai Euro adalah di tahun 1988 – 20 tahun yang lalu ! Banyak yang menjagokan Spanyol karena dihuni pemain yang bagus-bagus, tapi mereka lupa Spanyol tidak pernah sekalipun memenangkan Euro. Lebih masuk akal menjagokan Italia dan Jerman, karena Italia sudah Juara Dunia 4 kali dan Jerman sudah 3 kali, tapi mereka lupa Piala Dunia dan Euro adalah 2 tipe kompetisi yang sama sekali berbeda..

Sebagai ahli Statistika (S1 saya bidang Statistika), kalau mau bertaruh peganglah Portugal. Selain dihuni dengan pemain-pemain bagus, pelatihpun pernah memenangkan Piala Dunia 2002 di Korea-Jepang. Portugal adalah semifinalis Piala Dunia 2006 di Jerman, dan Portugal adalah Finalis Euro 2004 di Portugal. Kurang apalagi ?

Di Final NBA, bertemunya LA Lakers dan Boston Celtics mengingatkan saya akan melegendanya pertandingan antara kedua team ini dengan tokoh-tokohnya Karim Abdul Jabbar yang lulusan University of North Carolina-Chappel Hill dan akhirnya berlabuh di LA Lakers, melawan Larry Bird yang lulusan Indiana State University di Terre Haute, Indiana, yang akhirnya memperkuat Boston Celtics dan membantu Boston Celtics memperoleh Piala NBA di tahun awal 1980-an itu…

Apapun nanti yang terjadi, jangan pernah menyesal kalau team pujaan anda kalah. No if, tidak ada penyesalan, bumi dan jarum sejarah tidak bisa diputar balik kembali…

Kalau istilah bahasa Jawanya, “ora ono jathukno….”..

 

8 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Jun 08, 2008 @ 21:05:19

    koreksi lagi Pak.
    Spanyol pernah juara Euro di tahun 1964.
    hehehehehehehhehee…!!!

    Reply

  2. edratna
    Jun 09, 2008 @ 10:53:12

    Wahh nyaris ga pernah nonton bola, padahal menarik ya….soalnya sering malam banget….

    Reply

  3. tridjoko
    Jun 09, 2008 @ 18:54:47

    –> Agung :

    Ya tapi Euro tahun 1964 kan udah jaman jebot namanya….

    Reply

  4. tridjoko
    Jun 09, 2008 @ 18:56:45

    –> Bu Edratna :

    Kalau di rumah anak-anak punya jagoannya masing-masing, makanya dibela-belain melek sampai malem…

    Untung Dessa udah kerja sekarang, kalaupun nonton dia yang jam 23.00 – 01.00. Ditta juga sedang sibuk menyelesaikan TA, paling nggak nonton langsung..

    Jagoan saya Italia, jagoan Dessa Perancis, dan jagoan Ditta Jerman, serta jagoan mamanya Belanda…

    Jadi seru nontonnya…soalnya nontonnya “pakai hati”..

    Reply

  5. Agung
    Jun 11, 2008 @ 13:17:24

    hahahahahahaha..!!!
    yang penting pernah juara Pak.
    hehehehehehehe…!!!
    kalo prediksi saya,
    saya punya dua kandidat kuat juara.
    saya sbnrnya ga suka2 amat ama 2 tim ini,
    tapi dengan penilaian yg saya usahakan sangat objektif terhadap kualitas smua tim,
    saya rasa Belanda dan Jerman merupakan tim yg punya kans paling besar.

    tapi toh ini cm ramalan seorang Agung Pak.
    hehehehehehehhee…!!

    Reply

  6. tridjoko
    Jun 11, 2008 @ 16:45:07

    –> Agung :

    Wah…saya hanya menjagokan yang menang saja dah !

    Sampai sejauh ini yang sudah menang 2-0, 3-0, atau 4-1 terhadap lawan-lawannya pantas dijagokan melaju ke babak berikutnya…

    Yang sempat kalah 0-2, 0-3 dan 1-4 ya maju ke babak belur namanya….hahahahaha….

    Reply

  7. Agung
    Jun 11, 2008 @ 21:53:35

    yah,belom tentu juga.
    Italia kalo bisa kalahin Perancis masih bisa lolos.
    cuma masalahnya,taktiknya Donadoni aja.
    saya belum melihat catenacio nih sejak dilatih Donadoni.
    kalo waktu dilatih Trapatoni dan Lippi catenacionya kental banget.
    hehehehehehehe…!!!

    Reply

  8. tridjoko
    Jun 11, 2008 @ 23:08:37

    –> Agung :

    Yang jelas Donadoni perlu belajar Statistik. Secara statistik bek tengah terbaik di Italia musim ini adalah pasangan Chielini-Legrotaglie, tapi Legrotaglie yang berbadan besar dan kuat duel bola-bola atas malahan nggak dipanggil..

    Barzagli belum ketahuan merknya. Trio Milan Ambrossini, Pirlo, Gatusso di Italiapun tidak kemana-mana, lebih baik trio Roma Aquilani-Perrota-Daniel De Rossi..

    Taktik 4-3-3 nya Donadoni juga nggak bakal bisa ngalahin pola agak bertahan Van Basten dengan 4-3-2-1 nya..

    Let’s wait and see…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: