Warung Idaman Masa Kecil

“Warung” atau rumah makan pertama yang saya kenal adalah Warung Bu Djojo. Letaknya kira-kira satu blok di sebelah timur rumah saya di Madiun dulu di tahun 1960-an. Warung itu sangat sederhana, terbuat dari papan di bagian bawahnya, dan di sebelah atasnya ada yang terbuat dari “gedek” (anyaman bambu). Jadi bisa dimengerti kalau warung Bu Djojo ini sangat “isis” dengan hembusan angin semilir di antara sela-sela lubang anyaman bambunya sehingga serasa lebih dingin daripada dinginnya AC jaman sekarang…

Sebenarnya apa yang menarik dari Warung Bu Djojo ini saya juga nggak tahu persis. Yang jelas itu satu-satunya warung di sekitar tempat tinggal saya. Warung ini juga terletak di pinggir Jalan Pattirajawane yang berfungsi sebagai jalan utama dari pusat Kota Madiun menuju Pabrik Gula Kanigoro. Pada masa itu jalanan belum beraspal dan hanya ditumpuki batu-batu sebesar kepala kucing. Makanya hanya truk saja yang nyaman lewat di Jalan besar itu. Alasan lain mungkin pemandangan kereta tebu hilir-mudik di sebelah timur warung ini di musim giling (Juli-Oktober) serasa romantis dan seperti “wild wild west” jaman dulu.

Menu utama kesukaan saya dan teman-teman kalau mampir di warung ini adalah kolak pisang yang rasanya uueennaaak tenan, mungkin kolak pisang terenak di seluruh dunia ! Harganya juga murah, paling semangkuk harganya Rp 5,- saja (Rp 5000 “uang lama”). Saya dan sekitar 3 teman sering mampir di warung ini sekitar jam 10-11 setelah pulang dari Taman Kanak-Kanak. Yang menarik dari warung ini karena di sekitar warung banyak ditumbuhi tanaman “Uluk-Uluk” yaitu tanaman liar yang banyak dihinggapi oleh kumbang berbagai warna yang kita panggil “Samber Lilen” yang artinya kumbang dengan warna hijau, merah, kuning, dan biru metalik !!! Saya dan teman-teman suka menangkap kumbang-kumbang ini, tentunya dengan memilih warnanya terlebih dahulu. Kalau kita sudah punya kumbang berwarna kuning, dan hari ini kita akan menangkap yang berwarna biru, hijau atau merah. Cara menangkapnya juga cukup mudah. Kumbang-kumbang itu kami bawa pulang dan kami pandangi lama-lama sampai kami bosan atau sampai si kumbang mati kepanasan…

Pada suatu hari waktu saya dan kawan-kawan pergi ke Warung Bu Djojo ini kami ketemu Pak Tir, tukang andalan Bapak saya untuk membangun rumah. Pekerjaan Pak Tir memang sangat halus dan sulit tertandingi oleh tukang-tukang lainnya. Selain Pak Tir, beberapa tukang lainnya juga ikut Pak Tir makan di warung ini. Memang di jaman dulu kita kalau mengupah tukang hanya menyediakan minuman kopi atau teh saja tanpa menyediakan makan. Makanya Pak Tir dan para tukang lainnya makan di warung ini. Mungkin bagi orang tua seperti Pak Tir, nasi rames di warung ini enak rasanya, apalagi ditutup dengan kopi tubruk yang kental, manis, dan pahit sambil merokok kelobot. Wah, jan nikmat tenan ! Tapi saya yang waktu itu masih kecil sedikit curiga, jangan-jangan Pak Tir tidak tertarik dengan makanannya tapi dengan Bu Djojo yang waktu itu sudah menjanda. Maklum, kalau saya dan kawan-kawan makan di situ pasti cepat-cepat disuruh pulang. “Mas, ayo setelah kolak pisangnya habis cepet pulang, itu lho dicari Keng Rama”, katanya sopan…

Waktu saya SD kelas III, Warung Bu Djojo itu kelihatannya sudah tidak ada lagi karena dibeli oleh orang lain dan dibangun rumah yang baru. Menjelang peristiwa besar di Indonesia tahun 1965, setiap pagi jam 03.00 saya dibangunkan oleh Ibu, Bapak dan Kakak-kakak saya untuk melihat Lintang Kemukus (Bintang Berekor) yang nampak dengan jelas di ufuk timur di pagi hari itu. Kami menonton  Lintang Kemukus itu sekitar 30 menit. Bagi orang Jawa, Lintang Kemukus merupakan pertanda bahwa sebuah peristiwa besar akan terjadi…

Dan benar saja, di tahun 1965 terjadi sesuatu yang tidak mudah dilupakan oleh kita bangsa Indonesia semuanya…

Setelah saya besar, saya jarang melihat Lintang Kemukus seperti itu lagi. Mungkin memang tidak ada Lintang Kemukus atau kemungkinan lainnya adalah, lampu listrik sudah masuk ke desa-desa sehingga adanya Bintang Berekor yang redup sudah sulit dilihat lagi, apalagi bila langitnya sudah dipenuhi dengan partikel kecil hasil polusi (particulate matters)….

Sudah dulu ah, saya mau ngajar nih. Kapan-kapan disambung lagi dengan apa bedanya : Warteg, WarSun, WarCin, WarKor, dan WarMrik…

 

8 Comments (+add yours?)

  1. nel
    Jun 11, 2008 @ 13:07:00

    dulu saya punya langganan warung di darmaga (seberang kampus), terkenalnya dg nama sude,
    usut punya usut ternyata sude itu singkatan susu gede,
    oalah pantesan aja tuh warung rame dan kebanyakan cowok2, rupanya krn si ibu sude itu tho

    *duh jadi kangen nasi timnya sude

    Reply

  2. tridjoko
    Jun 11, 2008 @ 16:42:33

    –> Mbak Nel :

    Wah..untung bukan sugeng ya ? Hahahaha…

    Dulu ada warung sate terkenal di bilangan Kalibata juga ramai didatangi teman-teman sekantor. Usut punya usut emang makanannya enak, tapi yang lebih membuat suka balik ke sana ternyata mbak-mbak yang melayani…

    Dulu anak IPB sekitar Bangka-Belitung-Riau kalau makan suka makan di warungnya si Ndung. Ndung ini panggilan cewek remaja yang jaga warung. Tidak cantik sih, karena sedikit-sedikit sama yang punya dipanggil “Ndung..Ndung…” maka anak-anak menamakannya “Warung si Ndung”..

    Tapi Bu Djojo itu usianya sudah 40-an lho mbak…alias bukan “randa teles” lagi….

    Reply

  3. edratna
    Jun 17, 2008 @ 07:44:57

    Jadi ingat bu Djojo…..saat putrinya menikah, saya dan teman-teman menyumbang menari Jawa lakon Mustikaweni-Srikandi…hahaha…saya jadi Srikandi nya.

    Reply

  4. tridjoko
    Jun 17, 2008 @ 09:02:39

    –> Bu Edratna :

    Saya masih ingat dialognya, “Eeee…teja teja sulaksana tejane wong anyar katon, saka ngendi awakmu ?”..

    Gitu kan dialognya ?

    Reply

  5. simbah
    Jun 19, 2008 @ 16:23:01

    Iya..yah…masa kanak-2 kayaknya kok nggak ada kenyangnya…padahal sudah makan di rumah, tapi masih juga mengudap…cuman ingetku Aku dulu sering nyolong duwit Ibuku lho dik Yon…cuman ketahuan atau tidak waktu itu nggak ngerti, yang saya curi waktu itu uang kertas seratusan yang berwarna merah…buat beli es setrup, kalo nggak gitu tepo pecel….

    Reply

  6. tridjoko
    Jun 19, 2008 @ 17:12:00

    –> Simbah :

    Wah..berarti si mas ini masih tingkat “maling kecil-kecilan”.. Kalau saya tingkatan malingnya agak gedean lho !

    Saya pernah nyuri duwit dari saku Bapak saya sebesar Rp 150.000 waktu saya kelas 4 atau 5 SD. Saya belikan bola sepak kulit seharga Rp 40.000 dan belikan raket badminton yang tengahnya dari besi tapi gagang dan bulatannya dari kayu plus pres-presan kayunya seharga Rp 70.000 di toko olahraga sebelah timur selatan alun-alun Madiun (sebelah timurnya pompa bensin yang sekarang sudah dibongkar). Sisanya Rp 40.000 saya traktir teman-teman kecil saya makan sekenyangnya…hehehe…

    Tapi masalah nominalnya saya lupa, yang jelas Rp 150,- atau Rp 150.000 saya nggak ingat persis. Yang jelas, jumlah segitu cukup banyak banget waktu itu. Tapi anehnya, Bapak saya setelah tahu uangnya saya ambil, tidak marah. Mungkin “barang”nya ada dan dibawa pulang ke rumah…

    Saya kecilnya memang berniat jadi olahragawan (pesepakbola atau pebulutangkis) tapi ternyata nggak jadi-jadi…

    Eh..mas, Sarwendah Kusumawardhani itu dulu anak Madiun ya ? Bersama kakak putrinya yang saya lupa namanya, dulu keduanya pemain nasional bulutangkis putri lho di tahun 1985-an..

    Reply

  7. simbah
    Jun 22, 2008 @ 10:49:44

    Lha…Sarwendah..pemain bulu tangkis..?? saya malah belum paham…kalau dia orang Mediyun.
    Wah sampeyan jian lucu tenan,…ngambil duwit..segitu banyaknya…tapi rupanya model nyolong duwit waktu kecil, mungkin sudah masanya…waktu anak-anakku masih seumuran TK, juga nyuri-2 buat beli es lilin atau es krim di depan rumah…kalo nyolong duwitnya diselipin dicelana dan jalannya terbongkok-bongkok supaya duwitnya nggak tercecer…aku melihat ya diam saja meski dalam hati tersenyum…ingat waktu aku masih kecil juga begitu…
    Tapi setelah mahasiswa, jadi perhitungan sama duit. Tahu bapaknya nyari duwit susah… duit seribu juga di-irit irit…supaya bisa sampe akhir bulan, kirimannya datang…

    Reply

  8. tridjoko
    Jun 22, 2008 @ 11:20:32

    –> Simbah :

    Ya, duwit yang dulu aku ambil dari kantong bapak bisa dibelikan bola sepak dari kulit, raket badminton yang paling mahal, dan menraktir segerombolan teman sampai kenyang..

    Kalau aku hitung dengan duwit sekarang, itu setara dengan = Rp 250.000 + Rp 300.000 + Rp 50.000 = Rp 600.000 ! Wah memang banyak ya…mungkin bapakku lagi ada rejeki, makanya didiemin aja alias tidak marah…

    Anakku yang besar sangunya habis terus ora nyantol. Tapi anakku yang kecil waktu SMA cuman saya kasih uang saku Rp 20.000 buat seminggu dan kadang-kadang masih sisa. Padahal temen-temennya waktu itu ada yang uang sakunya Rp 30.000 sehari !!! Saya nggak curiga sih, wah…jangan-jangan anakku yang kecil suka nithilin celengan jago di kamarnya kalau nggak ada uang…

    Pada suatu siang, saya memergoki anakku yang kecil dengan 2 temannya ambil uang di Tabungan Lippo Juniornya Rp 10.000,- padahal waktu itu tabungannya cuman Rp 30.000,-. Setelah tahu bapaknya duduk di sebelahnya, ia cuman senyum-senyum kecut..tapi tetap ngambil uang tadi. Padahal kalau paginya bilang bapaknya, pasti deh uang segitu saya kasih saja, nggak perlu ambil di Bank…
    (tabungannya nggak pakai ATM, jadi kalau ngambil harus antri di teller)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: