Makassar yang (mestinya) indah

(Prolog : Setelah dicari-cari, tulisan saya tentang Makassar rupanya belum terhapus sama WordPress, saya temukan di dalam kategori drafts. Selamat menikmati).

Saya sangat senang sekali mendapat tawaran seorang teman kantor saya unruk mengunjungi Makassar di akhir bulan Mei 2008 lalu, mengingat sebelumnya saya sudah pernah 4 kali ke Ujung Pandang (pada waktu itu) yaitu di tahun 1982, 1984, 1995 dan terakhir 1999. Tapi saya tidak ingat lagi kapan Makassar menjadi Ujung Pandang, dan akhirnya Ujung Pandang menjadi Makassar kembali. Yang jelas, saya sangat senang karena kunjungan terakhir ke Makassar sebelumnya pada tahun 1999 tidak terlampau sukses…

Akhirnya pada hari Selasa tanggal 27 Mei 2008 pagi saya bangun jam 3.30 langsung mandi, walau semalaman saya tidak berani tidur nyenyak karena takut kesiangan dan ketinggalan pesawat. Akhirnya pada pukul 4.00 saya sudah mengendarai mobil Camry-un saya menembus dinginnya jalan tol dalam kota Jakarta. Bila biasanya jarak Rumah-Stasiun Gambir bisa saya tempuh dalam waktu sekitar 30 menit, pada pagi itu saya tidak berani memacu mobil kencang-kencang karena rasa kantuk masih menghinggapi. Sayapun sampai Stasiun Gambir pukul 4.49 dan langsung memarkirkan mobil di tempat parkir inap. Sempat ke toilet sebentar dan sayapun ketinggalan bis jam 5.00 ke Bandara Sukarno-Hatta. Baru pukul 5.20 bis Damri berikutnya membawa saya ke Bandara…

Sampai Bandara pukul 6.00 namun karena di pagi itu lalu lintas di jalur bis sudah semrawut dengan taksi yang berseliweran kesana-kemari, akhirnya sayapun sampai di Terminal E sudah pukul 6.15. Saya dan teman-temanpun check in di counter Garuda. Rupanya dari ujung ke ujung, tidak ada counter yang bertuliskan Makassar !!! Saya tidak mengeluh, hal seperti ini sudah biasa untuk Garuda. Naik Garuda ke luar negeripun membuat kita bingung karena lambang Garuda seringkali tidak nampak !

Waktu untuk flight ke Makassar masih pukul 07.10. Dua teman yang suka merokokpun melihat peluang sekitar 30 menit untuk sekedar merokok dan ngopi di sebuah kafe dekat gerbang F2. Untung Garuda selalu on time, maka pada pukul 06.55 para penumpang sudah diminta boarding. Tidak ada belalai gajah di gerbang F2 dan kamipun dibawa dengan bis bandara ke pesawat yang akan membawa kami ke Makassar..

Singkat cerita, pesawat sudah mulai distarter mesinnya dengan GSE (Ground Support Equipment) sambil para pramugari memperagakan tatacara keselamatan sesuai peraturan FAR (Federal Aviation Regulation). Bagi kami berempat yang duduk di sekitar pintu darurat (di Malaysia dan Singapura disebut “pintu kecemasan”) sengaja di-drill oleh seorang pramugari bagaimana membuka pintu darurat bila diperlukan…

Pesawat Boeing 737-400pun membawa kami selama 2 jam mengarungi udara menuju Makassar. Pramugari Garuda cukup ramah-ramah, menawari kami permen, dan menyajikan makanan Omelet yang nikmat, orange juice yang dingin, tapi sayang tidak diakhiri dengan menawari kami dengan kopi atau teh. Rupanya itu special order dan diberikan hanya kepada yang minta saja.

Seorang bule laki-laki berbadan besar dan berwajah mirip suami Demi Moore yaitu Ashton Kutcher dari tadi gelisah melulu duduk di kursi kelas ekonomi Garuda yang memang sempit. Akhirnya waktu mau merogoh sesuatu tiba-tiba “Gedrobraaaak…” kursipun letoy ke belakang dan menghancurkan gelas berisi orange juice yang mau diminum oleh penumpang di belakangnya di barisan pintu darurat. Seorang purser (komandan pramugara/i)pun datang. Saya bilang kepadanya, “Mas, daripada Garuda di sue sama orang ini, beri saja dia kursi di kelas bisnis !”. “Wah, pak pesawat ini penuh sekali semua tempat duduk penuh sesak”. Rupanya kepergian kami ke Makassar tanggal 27-29 Mei 2008 memang bertepatan dengan Rakernas III PDI Perjuangan di Hotel Clarion Makassar, maka tidak heran lebih dari separuh tempat duduk diisi oleh orang-orang berbaju merah berlambang moncong putih, dengan logat mereka masing-masing : ada yang berlogat Batak, Padang, Sunda, Betawi, Jawa dan Bali..

Kamipun mendarat tepat pukul 10.15 di Bandara (Sultan) Hasanuddin Maros. Saya sengaja kurung kata “Sultan” karena memang resminya nama bandara ini cuman Hasanuddin, padahal di masa lalu seingat saya nama resminya adalah “Sultan Hasanuddin”. Bandara yang di tahun 1999 masih sempit ternyata sekarang runway-nya sudah diperpanjang menjadi 3.100 meter sehingga layak didarati oleh pesawat sekelas Boeing 747, dan bandarapun saya dengar sudah berkategori “Bandara Internasional” walau konon katanya tidak ada satupun penerbangan yang menuju ke luar negeri dari bandara ini. Ironis kan ?

Kami berempatpun ambil taksi menuju kota Makassar yang berjarak sekitar 22 km dari bandara. Jalan yang dipilih sopir taksi adalah “jalan tol” yang kira-kira selebar tol Cipularang, namun baru selesai kira-kira 50% nya saja. Baru di KM 4 jalanan tol sudah mulus terdiri dari 6 lajur..

Kamipun berhenti di jalan yang menyusur pantai Losari di ujung sebelah utaranya persis satu blok di sebelah utara MGH (Makassar Golden Hotel). Wah..jalan di tepi pelabuhan begini kalau di Chicago pasti sudah diberi nama “Losari Beach Drive”. Kamipun menginap di Hotel Pantai Gapura Makassar yang dari depan sepintas seperti sebuah losmen murahan, tetapi ternyata di dalamnya benar-benar berupa resort kelas atas yang kamar-kamarnya berbentuk cottage yang terletak persis di atas laut !!! Wow..benar-benar menakjubkan !!! Semboyan hotel ini “Truly Resort Within the City” sungguh cocok dengan harga sewa kamar yang sekitar Rp 850 ribu nett ini..(dengan kartu kredit ada diskon sehingga jatuhnya sekitar Rp 695 ribu per malam)…

Dari kami berempat, tiga orang mendapat kamar yang berpandangan langsung ke arah laut (ocean view), sedangkan saya sendiri mendapat kamar dengan pandangan ke arah kolam renang (pool view).

Tanpa diminta oleh siapapun, siang itu kami berjalan kaki menyusuri Jalan Somba Opu yang terkenal itu dari sisi paling utara menuju sisi paling selatan. Somba Opu masih menyimpan sejumlah toko souvenir yang pantas dikunjungi. Jika anda menaksir sesuatu, sebaiknya menanyakannya ke beberapa toko terlebih dahulu, membandingkan kualitas barang dan harganya, baru memutuskan membeli barang paling berkualitas dengan harga termurah. Souvenir seperti kain sutera, kerajinan khas Toraja, miniatur badik, dan gantungan kunci banyak bertebaran di Somba Opu..

Sayang trotoar Somba Opu tidak serata di Malioboro, sehingga kita mesti berhati-hati berjalan kalau tidak bisa terpeleset karena banyaknya permukaan trotoar yang tidak rata. Selain itu, banyak jalan masuk motor masuk ke pertokoan dan menjorok sampai aspal jalan. Jika di tahun 1982 mobil dan motor di Ujung Pandang jarang sekali membunyikan klakson, kelihatannya di tahun 2008 ini kebiasaan itu berubah 180 derajat, dan bila anda berjalan-jalan di Somba Opu atau di Pantai Losari, bersiap-siaplah untuk dikagetkan klakson sepeda motor atau mobil yang melintas dan menyuruh anda minggir. Oh my Gawd !

Perjalanan di Somba Opu ujung selatanpun sudah sampai ke Rumah Sakit Stella Marris. Kamipun belok kiri dan dua blok kemudian di sebelah kiri jalan di pojokan, kami menemukan tempat makan ikan yang konon paling nikmat dan paling segar ikannya di Makassar, Lae Lae ! Kamipun memesan seekor ikan ukuran 6-7 ons untuk setiap orang. Kebetulan semua orang memilih ikan baronang, walaupun di sini juga disediakan ikan cuwek, kakap merah, kembung, udang, dan juga cumi.

Setelah menunggu barang 15 menit sambil ditemani otak-otak yang juga excellent rasanya, maka ikan bakar pesanan kamipun datang. Kamipun makan dengan lahap sampai-sampai saya dan seorang teman minta nasi tambahan ! Dan itu ternyata jebakan yang kami buat sendiri, soalnya setelah itu perut ini rasanya amat sangat kenyang sekali. O ya, kami memilih minuman khas Lae Lae yaitu es kelapa muda dengan gula jawa ! Waktu kami makan siang itu, banyak kader PDIP dengan baju merah menyala atau hitam yang juga makan siang di Lae Lae. Dari wajah mereka saya bisa mengenali mereka datang dari seluruh penjuru tanah air..

Puas makan di Lae Lae, kamipun mencegat taksi yang lewat untuk mencari sutera di bilangan Kota Lama. Rumah bercat putih dengan arsitektur sederhana itu kami masuki, ternyata sudah ada 1 bus turis berhenti di depannya. Dan ternyata pula, jajaran kain sutera di dalam toko yang merangkap bengkel tenun tersebut sudah habis diborong sama turis yang datang ke Makassar dalam bulan-bulan belakangan ini. Mengingat banyak konperensi, rakernas, maupun seminar atau workshop yang mengambil tempat di Makassar..

Puas belanja sutera, kamipun naik taksi balik ke Hotel. Sambil berjanji siang itu kami akan melihat sunset di Pantai Losari sambil menikmati pisang goreng. Ternyata dari 4 orang, 3 orang dari kami tertidur pulas siang itu mengingat malam sebelumnya kurang tidur. Baru bangun sekitar pukul 7 malam. Setelah mandi, seorang teman yang asli Toraja mengajak kami makan Sop Konro di bilangan Karebosi. Konon yang paling enak Sop Konro ada di suatu jalan yang di sebelahnya dulu ada Bioskop Dewi. Benar saja, kami sampai ke sana naik taksi ternyata parkiran mobil sudah penuh. Di dalampun hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Kamipun sempat bingung mau makan Sop Konro rebus atau panggang. Saya memilih rebus, karena besok malamnya saya mau ke sini lagi milih yang panggang. Hehehe…

Lepas makan Sop Konro, saya sempat minta bantuan untuk dicarikan toko yang menjual kaos dalam pria. Maklum di Jakarta belum sempat beli. Dan anehnya, di sejumlah toko di Pantai Losari yang dijual hanya baju dalam wanita, sementara baju dalam pria tidak ada. Bila di Jakarta banyak toko sekelas Indomaret yang menjualnya, di Makassar tidak ada satupun Indomaret atau Alfamaret. Kawan tadi menyarankan kita mencarinya di Mall Karebosi. Ternyata di Mall yang mirip ITC itu benar ada yang menjual kaos dalam pria. Sayapun lega. Di sini rupanya jadi sentra penjualan HP di Makassar.

Selepas dari Mall Karebosi, kami cowok semua berempat berniat akan jalan kaki menuju hotel. “Ah, dekat saja”, kata teman yang berasal dari Toraja. Rupanya Makassar malam itu hujan deras ! Sederas ketika pesawat kami mendarat di Bandara (Sultan) Hasanuddin siang tadi. Kamipun berteduh di toko di depan Lapangan Karebosi yang sedang dibangun dan dipenuhi beton-beton. Kantor Kodam VII dan gedung penjara rupanya sudah tidak ada di samping Lapangan Karebosi, dan digantikan dengan jejeran Ruko-Ruko. Hujan tidak berhenti dan kamipun memutuskan memanggil taksi. Dengan ongkos Rp 10.000 kamipun sudah bisa sampai kembali ke Hotel Pantai Gapura Makassar..

Sesampai di hotel, kamipun menuju Bar ruang terbuka yang terletak di atas laut ! Pemandangan sungguh indah ! Bar yang dibangun dari jajaran kayu besi ini berdiri kokoh. Dan kamipun melewatkan malam itu dari jam 9 malam sampai jam 11.30 malam sambil menikmati hidangan pisang goreng berkeju. Dua kopi hitampun habis saya minum malam itu. Sekali lagi, beberapa tempat duduk dikuasai oleh peserta Rakernas PDIP yang berbaju merah. Walaupun tempat itu relatif temaram, tapi warna merah baju mereka masih kelihatan..

Malam itu saya tidur nyenyak dibuai dengan bunyi debur ombak karena kamar saya berbentuk cottage yang didirikan persis di atas laut. Walaupun kamar saya tidak persis terletak di pinggir laut, tapi debur ombak tetap berbunyi cukup keras, ibarat simfoni musik yang mendayu-dayu mengantarkanku tidur..

Bangun pagi langsung mandi, sayapun makan pagi di restoran yang berbentuk kapal pinisi dengan ukuran 100% atau malahan 200%. Wah, sungguh nikmat ! Makan pagi berupa nasi rames, minum susu dan orange juice sambil melihat kapal-kapal yang hilir mudik. Maklum, restoran pinisi ini hanya berjalan puluhan meter dari dermaga penumpang untuk kapal-kapal kecil yang melayani penduduk pulau-pulau kecil sekitar Makassar..

Siang sedikit, kamipun menyarter Avanza untuk mengantarkan ke kantor Gubernur. Setelah workshop yang cukup sukses, kamipun kembali ke hotel. Sorenya kami diajak mengunjungi sebuah waterfront city yang disebut Tanjung Bunga, yang terletak di sebelah selatan Pantai Losari yang pada tahun 1982 masih berupa hutan bakau..

Xenia Li Hitam baru milik seorang teman dari I.A.L.F. Makassar yang joknya masih dibungkus plastikpun mengantarkan kami berempat ke Pakarena, saya tidak tahu apa arti bahasa Makassarnya. Tapi bunyinya mirip “Park Arena” ya ? Di sana sudah dibangun sebuah waterfront resort dengan dermaga yang menjorok ke laut. Hanya sayang, pasir yang ada di pantai buatan ini kurang begitu lebar. Mungkin lebarnya hanya 20-an meter. Coba kalau dibuat 50-an meter dan pasirnya putih. Wah..tentu lebih indah. Kamipun melewatkan sisa siang itu melihat sunset di Pantai Losari dari sisi Tanjung Bunga. Dan mataharipun tenggelam menyambut malam, dengan warnanya yang jingga pelan berubah menjadi hitam pekat…

Kamipun ber-Xenia menuju ke sentra penjualan Pisang Epek di Makassar yang sore itu tidak terlalu ramai, maklum memang bukan pas malam minggu. Sayapun pesan pisang epek (banana split) satu porsi yang berisi tiga. Sambil pesan minuman sejenis bajigur tapi rasa agak pedas karena diberi jahe yang bernama…apa ya, lupa…Baranga atau Batanga ya ? Wah, perutpun langsung melembung kekenyangan. Oleh si Ibu yang membawa Xenia kamipun diantar ke Hotel, dan kamipun mengucapkan Good Bye..terima kasih Bu, sudah mau mengantar…

Malam terakhir di Makassar tentu tidak kami sia-siakan. Setelah beristirahat sejenak di Hotel, dan mandi, kamipun langsung ke Somba Opu lagi mensurvei oleh-oleh apa saja yang mau dibeli keesokan harinya. Kamipun menandai beberapa toko : di sini bagus gantungan kuncinya, di sana bagus badiknya, dan di ujung sana bagus kain suteranya. Setelah itu kamipun berjalan ke selatan lagi menuju…mana lagi kalau bukan Lae Lae ?

Malam itu Lae Lae begitu penuh, kamipun dapat tempat duduk dekat pembakaran ikan, sehingga rasanya panas sekali. Kami datang sekitar jam 8.30 malam. Hampir tidak ada kursi kosong sama sekali di restoran dengan 200+ pengunjung ini. Ruaaar biassaaa.. Ternyata tepat jam 9 malam orang-orang sudah selesai makan malam, dan separuh tempat duduk sudah kosong. Tahu gitu, kami datang jam 9 malam ! Tapi anyway, ikan bakar Lae Lae emang tidak ada duanya, terutama 3 macam sambelnya itu lho : sambel tomat, sambel cabe, dan sambel terasi..

Malam itu saya tidur nyenyak di kamar hotel saya. Sekali lagi bunyi deburan ombak mengantarkan saya lebih nyenyak tidur, ibarat simfoni “Eine Kleine Nacht Muzik” dari Mozart (atau Bethoven ya, kok lupa saya ?)..

Bangun pagi, makan di hotel sambil melihat anak-anak SMA dari pulau di luar kota Makassar bersekolah. Rasanya lucu, dibanding di kota saya dulu yang pergi sekolah naik sepeda…

Siang dikit, sayapun menyasar ke Somba Opu lagi. Langsung menuju toko-toko souvenir yang tadi malam sudah ditaksir. Sayapun beli sekitar 50 gantungan kunci buat teman-teman di kantor. Ada yang bergambar rumah tongkonan Toraja, bergambar pelaut Bugis, bergambar ikan bertuliskan “Makassar”, dan juga bergambar miniatur badik. Tidak lupa saya membeli miniatur badik untuk saya sendiri, dan 2 miniatur badik lagi yang lebih kecil untuk masing-masing calon mantu saya nanti (kalau mereka mau menerima lho !)..

Tepat jam 15.45 pesawat Garudapun membawa kami kembali ke Jakarta..

Selamat tinggal Makassar !

Dalam waktu dekat saya pasti ke sana lagi, buat makan ikan bakar !!!

Hahahaha…

 

 

(bersambung)

10 Comments (+add yours?)

  1. Adhiguna
    Jun 16, 2008 @ 19:20:37

    Terusin pak, saya kangen sama Ujung Pandang, pernah tinggal disitu 4 tahun

    Reply

  2. edratna
    Jun 17, 2008 @ 07:37:17

    Di Makassar enaknya makan ikan, karena ikannya masih segar…dan rasa masakannya sesuai, pedaas…

    Reply

  3. tridjoko
    Jun 17, 2008 @ 08:48:47

    –> Adhiguna :

    Ya Mas…ntar disambung lagi, lagi nyari ilham dan waktu yang tepat nih…Pas mood lagi ada, ehh…listrik di rumah mati….

    Tapi untung, cerita tadi masih bisa di-recover…

    Reply

  4. tridjoko
    Jun 17, 2008 @ 08:52:13

    –> Bu Edratna :

    Makan ikan, di Lae-Lae (jalan samping Rumah Sakit Stella Maris, masuk), ikannya dijamin masih segar….paling enak kalau makan siang, karena ikannya masih 99% segar..dan di waktu siang tidak terlalu banyak orang…

    Di waktu malam, kesegaran ikan sudah berkurang, mungkin tinggal 90%, dan cari tempat duduk untuk makan malampun sulit, kecuali setelah jam 9.00 malam…

    Sebenarnya di Lae Lae ada 3 macam sambal yang dikasih kita : sambal tomat, sambal cabe, dan sambal terasi.. Kalau mau yang pedas, juga bisa, beri aja sambal cabenya yang banyak…Tapi karena kita lagi traveling, disarankan tidak makan yang terlalu pedas soalnya ntar perutnya berontak….hehehehe…

    Tapi emang….ueeeennnaaaak teeennnaaaan !

    Reply

  5. simbah
    Jun 18, 2008 @ 17:32:05

    Wah..wah…maju sekali, sekarang Makassar Ya..? sewaktu saya tinggalkan th-82 dulu keadaannya seperati di Madiun tahun 60-an masih banyak mobil-2 buatan Amerika waktu itu seperti Dodge dan Desoto peninggalan PD-II, syukurlah kalau begitu…ngomong-2 kapan Mantu pak Dosen..??? he…he..

    Reply

  6. tridjoko
    Jun 18, 2008 @ 22:59:08

    –> Simbah :

    Ya mas, Makassar sudah maju sekali dibandingkan tahun 1999 terakhir saya ke sana. Dulu jumlah Mal cuman 2 (Mal Central dan Mal Panakukkang), tapi sekarang sudah sekitar 10 Mal. Dulu hotel bintang 4 atau bintang 5 cuman 3, sekarang sudah sekitar 10 hotel bintang 4 atau bintang 5 yang besar-besar…

    Tapi pengamatan selama 3 hari 2 malam di Makassar tidak sekalipun saya melihat motor matic seperti Vario atau Mio. Memang tidak ada atau jumlahnya sedikit sekali di Makassar. Nah, dalam hal ini Makassar masih “mundur”..

    Mobil-mobil tua sepengamatan saya juga sudah tidak ada. Seperti di Jakarta, sekarang di Makassar yang paling banyak ya Avanza dan Xenia…

    Mantunya nanti masih Nopember mas….hehehe…

    Reply

  7. simbah
    Jun 19, 2008 @ 09:24:14

    Ya…ya..tidak lama Anda nimang Cucu…wah baru sadar saya, rupanya saya juga sudah sepantar Kakek tapi kelakuan saya di tempat kerja kayak anak2 abg, begijisan mulu……Si Heri Purnomo juga sudah bercucu, maklum umur 22 udah menikah…Yah…rata-2 yg punya anak perempuan sudah pada mantu semua…

    Reply

  8. tridjoko
    Jun 19, 2008 @ 09:33:17

    –> Simbah :

    Ya mas,…mungkin kita-kita ini pantas dijuluki “Kally” alias “Kakek lincah”….hahahahaha…

    Si Kikiek juga sudah mantu, bahkan sudah lama, tapi saya belum dengar apa sudah ada cucunya atau belum..karena kabarnya anaknya dan mantunya sekolah di Kyoto….

    Saya dulu nikah umur 25 tahun 10 bulan, alias belum 26 tahun….cukup “awal”….hehehe….dan anak saya yang paling kecil bulan depan Insya Allah diwisuda sarjana di ITB..

    Wow…time flies like an arrow…..waktu berjalan cepat, dan tanpa istirahat (kata Koes Plus)…

    Reply

  9. simbah
    Jun 19, 2008 @ 15:11:11

    Woo…Kikiek sudah mantu..tho? Waktu re-uni dulu th-2005 cuman cerita anaknya yg sulung laki-2 dan ambil master di Jepun, nggak sempat cerita panjang-2 kalau sudah mantu, soalnya suara musiknya disetel kenceng-2. Istrinya si I’ing kan tetangga belakang rumah di Madiun dulu….
    Berarti tunai sudah tugas anda dik Yon, anak-2 sudah pada lulus kuliah semua….tinggal ‘ngliatin’ dari jauh…insya Allah aku akan menyusul…nanti… jadi Kakek beneran..he…he…cuman anakku dua-duanya laki-2 mungkin agak jauhlah….

    Reply

  10. tridjoko
    Jun 19, 2008 @ 17:05:25

    –> Simbah :

    Yah…anak dua laki-laki semua ya nggak apa-apa. Yang penting sekarang sudah melirak-lirik ke kiri dan ke kanan, siapa-siapa yang kira-kira pantas dijadikan mantu….

    Hehehehe…

    O ya, cerita update tentang Kikiek ada di postingku “Pasar Kawak”..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: