Ting !

Ketika seorang kawan yang juga dosen PTS di Medan bernama Ronsen Purba pertama datang ke kota kecil kami Bloomington untuk ngambil Master bidang Ilmu Komputer, pada suatu hari ia kuajak berbelanja sprei, selimut, dan beberapa perlengkapan “rumah tangga” asrama lainnya di College Mall naik bis kampus yang dulu di IPB disebut “bis roti” karena bentuknya seperti roti itu, tiba-tiba Ronsen nanya :

“Pak Tri, kek mana turun di pemberhentian nanti kalau naik bis macam ini ?”, tanyanya dalam logat Medan yang kental..

“Ya tinggal di-ting aja !”, jawabku sekenanya dengan logat Madiun yang tak kalah kental..

“Ah macam mana pula di-ting itu pak ?”, tanyanya lagi..

“Itu lho. “Ting” itu kan bunyi bel. Nah, situ tinggal tarik itu kabel yang kayak tali jemuran dari depan sampai belakang bis ini sampai nanti berbunyi “ting”, gitu !”, jelas saya kali ini dengan suara agak keras sampai-sampai cowok dan cewek bule yang duduk di depan kami nengok ke belakang soalnya mereka mikir ada pertengkaran apa pula ini..

Ronsenpun lalu tertawa. Iapun bilang, “ting” itu kan bunyi bel, dus itu kata benda (maaf ahli bahasa, kalau saya salah !). Ditambah awalan “di”, sehingga kata benda tadi berubah menjadi kata kerja. Ronsenpun tak habis pikir, ditandai dengan digaruknya kepalanya yang berambut kribo mirip Giring Nidji itu…padahal kepalanya jelas tak gatal…

Hari lainnya saya jalan ke kampus Indiana University at Bloomington dengan Yus, dosen sebuah PTN di Pontianak itu. Seperti halnya Ronsen Purba tadi, Yus juga baru menjadi mahasiswa Master mulai Fall semester ini. Ceritanya Yus ingin mengembalikan buku perpustakaan Main Library karena di-recall oleh seseorang (catatan : di Indiana, seseorang boleh minjam buku sesukanya selama 1 semester selama tidak diperlukan, atau di-recall, oleh orang lainnya). Nah, due datenya sebenarnya hari Jumat kemarin. Tapi sekarang sudah lewat satu hari dan Yus-pun sangat gelisah karena takut ditegur sama pihak perpustakaan..

Sambil jalan menyusuri kampus di musim gugur yang membuat daun-daun menguning tidak rata dan membuat pemandangan jadi indah di salah satu kampus terindah di Amerika ini, sayapun bilang sama Yus :

“Ya sudah, bukunya tinggal di-gludug-kan saja nanti”, kata saya enteng dengan logat Madiun yang kental..

“Apa pak maksudnya di-gludug-kan itu ?”, tanya Yus lagi.

“Ya itu, nanti di samping perpustakaan kan ada lubang untuk meluncurkan buku yang terbuat dari metal. Kita bisa mengembalikan buku perpustakaan hanya dengan melemparkan buku ke lubang itu”, kata saya menjelaskan sambil mengingat betapa bahayanya lubang itu kalau dipakai di perpustakaan Indonesia, pasti lubang akan dipenuhi air hujan bilamana hujan tiba yang akan membuat buku-bukunya basah..

Diapun mungkin heran, “gludug” kan suara buku yang diluncurkan ke suatu lubang. Jika ditambah awalan “di” dan akhiran “kan”, maka “gludug” yang kata benda itu akan berubah menjadi kata kerja..

Kami berduapun sudah sampai di Main Library Indiana University yang sebesar gedung Sarinah Thamrin dan merupakan perpustakaan ke-18 terbanyak koleksi bukunya itu. Konon buku “Nagasasra dan Sabukinten” karangan S.H. Mintarja juga dikoleksi sama perpustakaan ini..

[Teman saya Yus ini sering bertengkar dengan orang bule, gara-garanya kalau ia ditanya “What is your name ?”, dia selalu menjawab “Y- U – S” yang kalau dibahasainggriskan seolah menjadi “Why You Ask” atau “Kenapa kamu nanya” ini. Bisa dibayangkan kalau orang bule tadi mengulang pertanyaannya dan Yus kembali menjawabnya dengan cara yang sama, pasti deh tensi si bule bakal meninggi…]..

Anda masih ingat kata “fax” dan “xerox” ? Yang pertama adalah nama mesin pengirim naskah melalui sambungan telpon, sedangkan yang kedua merupakan mesin pengganda naskah. Orang-orang bulepun suka mengucapkan kalimat seperti ini :

“Ok no problem. I will fax it to you as soon as possible”

atau

“Ok wait a minute. Let’s me xerox it for you”

Artinya, jika saya yang orang Jawa Madiun ini tanpa sengaja menggandengkan awalan “di” dan akhiran “kan” dengan sebuah kata benda “bunyi” sehingga kata benda tadi menjadi kata kerja, maka orang-orang bule mungkin tanpa sengaja pula sering memakai kata benda seperti fax atau xerox seolah-olah itu kata kerja..

Tidak apa-apa, yang penting yang diajak bicara “mudheng”…

* mudheng = mengerti

 

12 Comments (+add yours?)

  1. yansendjohan
    Jun 24, 2008 @ 13:13:53

    pak,,,
    please add me…
    yansendjohan.wordpress.com
    tq pak,,,

    yansen
    04PKT

    Reply

  2. tridjoko
    Jun 24, 2008 @ 19:13:21

    –> Yansen :

    Iya deh

    Reply

  3. edratna
    Jun 28, 2008 @ 10:33:48

    Pas ke Brisbane…model bel nya bis juga seperti itu. Tapi kalau pas sempat seminar ke London, malah saya dan teman berjalan mendekati sopir, sambil tanya jalannya udah benar apa belum…dan sopirnya mau memberitahu naik bis yang mana setelah turun dari bis yang saya tumpangi. Sopir taksi dan sopir bis di London benar-benar “helpful”

    Reply

  4. tridjoko
    Jun 28, 2008 @ 11:08:01

    –> Bu Edratna :

    Lha emangnya, bis di London sepi penumpang kok sempat-sempatnya jalan ke arah sopir dan nanya macem-macem ?

    Kalau di Bloomington dulu, ada semacam aturan tak terulis “dilarang bicara dengan sopir” seperti Indonesia waktu dipengaruhi Belanda dulu (berlaku di bis-bis Indonesia tahun 1960an, contohnya bis Madiun-Ponorogo)…

    Jadi, bisa bicara dengan sopir (dan dia mau mendengarkan pertanyaan kita), hanya kalau bisnya berhenti jegrek grek…

    Reply

  5. Musa Purba
    Feb 04, 2009 @ 10:03:44

    Pak Tri,…
    Terima kasih untuk ceritanya. Pak Tri di sini bercerita tentang kakak saya. Salut buat Bapak karena masih ingat cerita tsb.
    Kakak saya itu sekarang berbicara masih dengan logat Medan yang kental, tapi rambut sudah tidak seperti Giring Nidji lagi Pak, sudah jarang-jarang dan semua sudah jadi uban:)

    terima kasih Pak Tri….

    Regards,
    Musa

    Musa,
    Hai Lai, sekarang kau kerja di mana ? Apa masih di Jalan Gajah Mada ? Kalau nggak salah di sana di posting itu tak berani aku nyebut abang kau Ronsen Purba, nanti kalau ada yang nggak setuju dikerubut aku sama marga Purba se Jakarta….hahahaha…

    Iya, Ronsen Purba sekarang sudah jadi opung-opung, soalnya aku sudah lihat foto dianya di internet. Bah, rambut yang keriting kayak Giring Nidji sudah habis pula…!

    (Menurut cerita, Ronsen juga suka baca Blog saya ini tapi yang khusus cerita tentang dia aku nggak tahu apa dia baca soalnya dia nggak ada ngomong apa-apa..)

    Reply

    • Josephina Purba
      Jun 05, 2013 @ 17:42:17

      Pak Tri , trimakasih banyak buat cerita lucunya , seorang teman kantor share link ini, spontan tertawa membacanya jadi teringat kemasa lalu, trimakasih Pak buat cerita mengenai abang kami, apa yg dikatakan oleh adek saya Musa Purba bener, abang kami masih seperti dulu logat bataknya masih kental dan keras , jadi kl belum mengenalnya maka kesan mereka abang kami ini marah 🙂

      Trimakasih Pak Tri..

      Josephine,
      Wah Josephine belum tahu ya….saya masih punya segudang cerita tentang Abang anda…hahahaha…
      Nanti pada waktunya saya tuliskan cerita lucunya lagi ya….hehehe
      Semua mahasiswa virtual saya yang dari Medan ketawa terpingkal-pingkal membaca cerita itu…hehe

      Reply

  6. damayanti
    Apr 08, 2011 @ 22:57:48

    Wah,,, aku rasa yang diceritain di blog ini dosenku,

    pak Ronsen Purba ya,,,

    Bapak tu dosen yang keren,
    jarang ada dosen yang membagikan ilmunya sebanyak mungkin sama mahasiswa tapi Bapak dosen awak yang satu ini beda,,,

    from: damayanti

    Hallo Damayanti,
    Yak betul ! Yang saya maksudkan adalah teman aku yang bernama Ronsen Purba…:)

    Reply

  7. joan
    Jul 29, 2011 @ 19:55:19

    i like pak Ronsen Purba.
    he is my good lecture in Medan.
    thank u for share this story, it’s very joke..

    Joan,
    I am happy to hear that you like my story about my friend Ronsen Purba….

    Reply

    • Joan Quigley
      Sep 07, 2016 @ 11:56:05

      Btw pak ronsen msh suka sekali mengaruk kepalanya yang hampir botak tanpa sebab…hehehe…

      Joan,
      Kalau gitu salam buat Pak Ronsen ya…

      Reply

  8. jamson jean reno manik
    Oct 06, 2011 @ 15:41:45

    lucu yah ceritanya ,,,

    tp saya salut dgn pak ronsen ,,,

    bapak itu punya wawasan yg luas ,,,

    i like thats ..

    Oh ya ? Hehehehe….

    Reply

  9. jo
    Jan 22, 2013 @ 13:21:05

    Yang susah itu belum tentu sesusah yang kamu pikirkan, dan yang gampang itu belum tentu segampang yang kamu pikirkan. dicoba aja… dengar kalimat ne dari pak: Ronsen Purba 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: