Asyiknya berburu bat pingpong

Saya bukan penggemar permainan olahraga yang “nje-kek”, tapi kalau sekedar bermain “just for hobby” bulutangkis, bilyar, pingpong dan volley, tentu saja saya bisa. Soalnya, waktu sekolah di luar dulu setiap minggu saya diminta menemani teman-teman sekampus yang orang Indonesia untuk bermain bulutangkis dan volley di HPER, bermain bilyar dan bowling (ooops…belum berani mencoba, memasukkan jari ke lubang itu yang serasa “serem”…) di IMU, dan bermain pingpong di lantai dasar asrama saya, Eigenmann…

Raket bulutangkis yang banyak dijual di Amerika dan dibeli anak-anak Indonesia apalagi kalau bukan Prince, Dunlop, dan Bard. Soalnya harganya cukup murah, dari $ 20 – $ 35 saja. Untuk yang agak serius main bulutangkisnya, ada teman2 yang pesan via mail order untuk beli Yonex (maklum, di tahun 1987-1989 ketika saya sekolah, internet belum dalam bentuk yang seperti sekarang ini). Pesan via mail ordernya dimulai dengan membaca katalog, menelpon, bertanya atau berdiskusi, pesan dan membayar dengan cek, ngirim surat pesanan beserta cek via pos (dulu disebut Usmail alias “US Mail”, sebenarnya nama resminya USPS, “United States Postal Services”), lalu dalam waktu 3-4 hari kiriman pasti sudah sampai di Front Desk Asrama, yang pemberitaan penerimaan paketnya ditaruh di locker kita masing-masing…

Main bilyar di IMU juga cukup menghibur. IMU yang merupakan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) di Indiana University luasnya sekitar 10 hektar (5 kali kampus Anggrek atau kampus Syahdan). Terdiri dari Gedung besar bertingkat 8, yang di dalamnya ada Gedung Pertemuan, Kafe, Hotel, Toko Buku, Tukang Cukur, Lobby (tempat mahasiswa leyeh-leyeh di antara jam kuliah), Restoran, Tempat Bilyar, Tempat Bowling. IMU ini letaknya persis di sebelah barat kuburan para pendiri kampus Bloomington (pendiri kampus Purdue, yaitu John Purdue, bahkan dikuburkan persis di bawah tiang bendera Amerika yang letaknya di depan kantor rektorat !!!). Main bilyar di IMU bisa menggunakan stick bilyar yang ada di sana, bisa ditemani oleh score girl atau dihitung sendiri (tentu tarifnya lain, yang jelas score girl-nya adalah mahasiswa yang bekerja part time, dan…lebih dari 50% mahasiswi Indiana berambung pirang !). Beberapa teman Indonesia yang sudah “binnen” main bilyarnya biasanya membawa stick sendiri yang bisa dilepas di tengahnya dan ditaruh dalam casing yang keren. Biasanya Pak Daniel Indro yang ngajak kita bilyar memarkir mobil Honda Civic hijaunya (punya Pak Ari Sidharta Akmam) persis di bawah tangga IMU yang terbuat dari batu dan sangat “georgeous” itu. Tapi di musim dingin, jangan heran di depan dan di belakang mobil yang diparkir menumpuk salju barang 20-30 cm ! Di musim panas, dan ini yang paling saya suka, banyak mahasiswa bermain frisbee dengan anjing-anjing mereka dari ras Rottweiller atau Golden Retriever atau St. Barnard. Wah…rasanya gemes punya anjing-anjing itu. Tapi ada anjing yang harganya $ 55,000 lho !!!!

Untuk bermain Volley, cukup Pak Daniel saja atau Pak Pranyoto saja yang bawa bola volleynya. Di Amerika, bola volley merk Mikasa sangat jarang ! Paling-paling kita mainnya pakai bola volley bermerk Spalding atau Dunlop. Waktu di tahun 1987-1989 standard warna bola volley masih “putih memplak” dan belum ada bola volley yang berwarna biru-kuning macam di tahun 2008 ini. Jadi tidak ada peserta volley mingguan yang bawa bola sendiri. Satu bola untuk rame-rame, cukup. Pada suatu hari, Andre Purnawan si Ketua Permias (Persatuan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) Bloomington chapter, menerima tantangan dari mahasiswa Jepang untuk bertanding volley di gedung HPER (School of Health, Physical Education and Recreation, letaknya persis di kolam renang tempat Mark Spitz si 7 Gold Medalist Renang di Olimpiade Munchen 1972 berlatih). Persis sebelum pertandingan, anak-anak Jepang pada menjalani ritual men-selotip tangan mereka masing-masing. Bagi tosser yang diselotip 2 jari, dan bagi spiker yang diselotip 3 jari. Anak-anak Indonesia yang hanya bisa main volley kelas “tarkam” semuanya terdiam melihat lawannya “si saudara tua” bersiap dengan serius. Semuanya terdiam ketika 5 point pertama berjalan, tapi 6 point ke atas si anak-anak Jepang sudah mulai keteteran di-smash sama Pak Daniel, Pak Pranyoto dan Chandra Kartika yang sangat menggeledek ! Wah…rupanya dari tadi cuman gertak sambal toh saudara tua !!! Woo alaaah !!!

Nah, yang paling seru adalah permainan pingpong di asrama saya. Letaknya di ruang rekreasi di basement asrama. Di sebelahnya ada gerai hamburger yang super tidak enak (tapi sering ngantri di sana di musim dingin daripada kedinginan nyari makanan di luar asrama). Meja pingpong merk Kettler (saya cek di internet harganya $ 999) bertengger terbuka di sana terus, makanya nggak siang, nggak sore, nggak malam, nggak tengah malam, kita bisa bertanding pingpong, asal ada lawannya. Namun khusus Rabu malam, banyak berkumpul jago-jago pingpong dari seluruh dunia berkumpul di sini. Ada Pak Daniel dari Indonesia, Sid Yodnil dari Thailand, John dari Amerika (yang selalu disertai anak perempuannya yang berumur 3 tahun yang sangat lucu, tapi kalau John kalah four-letter wordsnya nggak putus-putus keluar dari mulutnya : f*ck, sh*t, s*ck !!!), dan tentu saja di orang China yang saya lupa namanya !!! Yang aneh, si Sid Yodnil yang orang Thailand ini berpura-pura tidak bisa main pingpong, lalu suatu hari menantang saya main. Sampai point 13 dia masih kalah dan pointnya masih 4. Begitu saya mau ngambil point ke-14, tiba-tiba smash geledeknya datang bertubi-tubi !!! Busyeeeet dah !!! Si Sid ini secara fisik paling mirip saya, dan kerjanya adalah sebagai RA (Residence Assistant, semacam “Ketua RT”) dan merupakan orang paling ramah se asrama. Karena mempunyai bentuk fisik yang sama persis dengan saya, pada suatu hari ada seorang cewek Swedia cakep berambut pirang menghampiri saya dan tiba-tiba cepika-cepiki dan merangkul saya “Oh Sid, how are you ? Long time no see”, katanya. Lalu boyfriendnya datang menghampiri (tepatnya “memisahkan” kami) dan bilang, “He’s no Sid”. Wah…ketahuan dah !!!

Mengingat jaman-jaman tinggal di Eigenmann tahun 1987-1989 itu, 20 tahun kemudian sebagai Ketua RT yang mendampingi team pingpong RT saya untuk bertanding dengan RT lainnya dalam rangka 17 Agustusan, sayapun kembali mengeluarkan bat pingpong “DOUBLE HAPPINESS” tipe pegangan Penholder (chinese penholder yang batnya berbentuk bulat) saya, dengan casing bat bermerk “PADDLE PALACE” yang sangat terkenal di Amerika sana. Ketika saya bawa ke ruang pingpong di Sekretariat RW saya, banyak pemain pingpong lain yang mendekati casing saya dan membuka casing saya untuk melihat tipe bat pingpong saya merknya apa. Dulu Double Happiness, ternyata belakangan berubah nama menjadi DHS (Double Happiness Shanghai)…

Sayapun sekarang jadi rajin melihat-lihat situs yang menjual peralatan pingpong (sayangnya masih di Amerika, yang di Indonesia macam Daya Prima dan Trio belum punya situs web sendiri) yaitu http://www.paddlepalace.com. Saya juga lagi belajar apa beda antara kayu bat (blade) merk : Donic, Jujic, BYT, Yataka, Butterfly, DHS, Joola, Dr. Neubauer, Stiga….Belum jenis karetnya… Yang jelas, harga bat pingpong ternyata jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga raket badminton yang bisa dibilang batas atasnya cuman Rp 2,5 juta ($ 250) aja. Bat pingpong, kayunya (bladenya) aja banyak yang berharga Rp 2,5 juta. Belum karet-karetnya !

(Tapi terus terang saya belum ada waktu, terutama duwit, untuk “berani” mengunjungi Toko Sport Trio di Jatinegara atau Toko Sport Daya Prima di ITC Pasar Pagi)…maklum, bat pingpong yang cukup “menjanjikan” katanya minimal Rp 800 rb. Maklum blade merk Butterfly Gergely aja harganya sudah Rp 500 rb-an, belum termasuk karet depan (merah) dan karet belakang (hitam) yang sekitar Rp 100 rb-an masing-masing…)…

Forum dan blog tentang Tennis Meja sudah banyak, tapi karena saya lagi keasyikan ngejar info (bukan dengan maksud mau beli, cuman kagum aja !) maka info tambahan pasti akan sangat berguna bagi saya sendiri maupun sama teman-teman lainnya….

Bagaimana membuat mobil anda awet muda ?

Saya pernah membaca tulisan dengan judul yang kira-kira sama tapi dalam bahasa Inggris yang dimuat di majalah kesukaan saya yang berformat kecil yaitu Reader’s Digest di tahun 1980an dulu…

Asumsinya, mobil yang anda beli adalah mobil baru. Untuk mobil bekas, mungkin beberapa tips berikut ini juga bisa dipakai..

Pertama, setelah anda memesan mobil dari showroom lalu unitnya (mobilnya) sudah datang. Usahakan sebelum membawa pulang ke rumah, “didandanin” dulu dengan Paint Protection dan sebagainya. Kesukaan saya adalah Ziebart, dan Ziebart mempunyai 4 macam protection yaitu : Paint Protection, Rust Protection, Sound Protection, dan Fabric Protection. Karena harga setiap paket ini cukup mahal, kalau saya yang wajib adalah Paint Protection dan Rust Protection saja. Rust Protection hanya untuk melengkapi yang sudah diaplikasikan dari pabriknya..

Kedua, perhatikan Buku Petunjuk Pemeliharaan Mobil (User’s Manual) dan taati siklus perawatannya. Misalnya 1.500 km pertama, mobil harus masuk bengkel lagi untuk di-tune-up dan diganti oli. Lalu 5.000 diganti oli saja. Di setiap 10.000 km diganti oli, diganti busi (bilamana perlu), dan di-tune-up. Setiap 20.000 km diganti oli mesin dan oli gearbox, diganti busi, diganti filter oli, diganti filter bensin (bila ada), dan di-tune-up. Setiap 40.000 km diganti timing belt atau v-belt (bila ada), diganti fan belt, diganti ac belt, dicek ulang semua lampu, dan dicek ulang rem di keempat roda..

Ketiga, untuk mobil baru apalagi yang menggunakan injection, sewaktu mesin di-start di rumah tidak perlu dipanasi terlebih dahulu. Mesin setelah di-start boleh langsung dijalankan tapi jalankan dengan pelan dan jangan digeber. Setelah kira-kira 500 meter sampai 1.000 meter, AC boleh dinyalakan full, dan mobil bisa digeber karena semua oli sudah bersirkulasi di mesin..

Keempat, secara periodik setidaknya seminggu sekali buka kap mesin mobil. Cek apakah air aki di bawah tanda MIN, jika ya tambahkan air aki secukupnya dan jangan melebihi tanda MAX. Di waktu mesin dingin, buka penutup radiator dan lihat apakah air radiator cukup. Selain itu, cek air cadangan radiator yang jumlah airnya tidak boleh melebihi tanda MAX dan sebaliknya tidak boleh kurang dari tanda MIN. Akhirnya cek air wiper apakah cukup jumlahnya, kalau kurang tambahkan secukupnya (tidak perlu terlalu full) dan sebaiknya ditambahkan wiper liquid yang banyak dijual di Indomaret (Catatan : tidak perlu air radiator dikuras sendiri dikeluarkan dari bawah ! Karena saya pernah punya teman yang mempunyai mobil baru setiap minggu air radiatornya diganti ! Wah..ini sangat tidak perlu)..

Kelima, ceklah selalu mobil anda di bengkel resmi dari pabrikan. Kalau mobil anda Suzuki, ongkos perawatan mobil di bengkel resmi Suzuki hanya sedikit di atas bengkel-bengkel lainnya. Makanya lebih murah dan meyakinkan jika mobil anda dirawat di bengkel resmi Suzuki..

Mungkin ini saja tips saya. Tips ini ditulis oleh orang yang awam mesin mobil lho ! Tapi dengan mengikuti saran yang ditulis di dalam Reader’s Digest itu, mobil saya usianya 7-11 tahun tapi masih enak dikendarai..(mungkin itu salah satu alasan saya jarang beli mobil baru…hehehehe…)…

Pengalaman mengojek sehari

Aki mobil “Camry” saya sowak, terpaksa saya nganter isteri dengan motor matic “sejuta ummat” Yamaha Mio mencari taksi ke Kampung Rambutan, dan siangnya mengingat anak saya Dessa bangun kesiangan, saya terpaksa ngantar diapun naik Mio ke perpotongan Jalan Jatiwaringin dengan Jalan Tol Cikampek supaya dia bisa nyambung M18 ke Kampung Melayu..

Sialnya sore hari kemarin pinggiran Jakarta rumah saya diguyur hujan cukup lebat sehingga paginya saya terpaksa melalui beberapa jalan yang digenangi air. Dan anak sayapun hobbynya tereak-tereak dari atas boncengan Mio, “Awas pa ada air…awas genangan…awas comberan !”. Masyak ampyun ampyun ! Diam dikit kenapa sih !

Sayapun mengendarai Mio saya di sela-sela mobil. Menjelang pertigaan Chandra trafficpun berhenti karena nggakada yang mau ngalah. Sebuah pickup (di Amerika disebut “truck”) Daihatsu warna biru tuapun mogok. Mobil lumayan baru, mungkin sopirnya stress kena macet, jadi dikit-dikit ngadat. Selepas pertigaan Chandra, saya mau belok kanan di Rawa Bacang, tapi deretan mobil panjang yang berhenti sama sekali menyurutkan niat saya, sayapun balik arah ke arah Patria Jaya. Rupanya ada sepasang anak muda yang takut memajukan motornya karena permukaan pinggir jalan agak miring. Celakanya bapak-bapak yang membawa motor di belakang saya terus bilang, “Ayo pak, terus pak..terus pak…”. Sayapun mengeluarkan keahlian saya bersepeda motor dan menuruni permukaan semen 20 derajat seperti mengendarai sepeda balap di Velodrome ! Miopun bisa menaklukkan velodrome dan sayapun berhasil belok ke dalam Patria Jaya. Sialnya, semua jalan diportal ! Sayapun tanya sama tukang ojek “asli” gimana caranya keluar dari kompleks ini. “Anu pak, lewat Patria 7 aja”. Sayapun mengikuti petunjuk “beliau” dan mengikuti arus besar motoris belok ke Patria 7. Segera sayapun bisa menemukan jalan lewat Satkomlek menuju ke Jati Makmur…

Teman saya Satrio yang setiap pagi lewat depan Jalan Jatimakmur bilang “Pak, depan Suzuki itu ada pengecoran jalan lho !”. Celakanya, 10 meter sebelum pengecoran jalan saya baru ngeh dengan apa yang dikatakan temanku Satrio itu. Sayapun balik arah menjauhi cor-coran jalan dan masuk ke Jalan Kompleks AL. Jalan yang di depannya sempit itu ternyata di dalamnya melebar dan to my surprise, cukup mulus ! Maklum, Ketua MPR konon rumah aslinya di daerah ini, makanya banyak bendera PKS berkibar. Sayapun menemukan tembusan jalan ke dalam Kompleks AL dan tanya tukang ojek “asli” lagi bagaimana nembus ke SMA 5 Bekasi. Mengikuti petunjuk “beliau” lagi sayapun tiba di kompleks Jatiwaringin Asri yang rumahnya besar-besar itu. Dari sana ke arah ujung tol Pemandian Al Ikhlas yang khusus perempuan itu saya sudah hapal…

Motorpun saya geber melewati perumahan Antelope. Jalanan cukup mulus, dan kalau diperkenankan warga perumahan ini, saya penginnya mengganti nama perumahan ini menjadi Penelope !!!  He..he…ngikutin bintang pujaan saya “Penelope Cruz”…hehehe…

33 menit mengojek, sayapun sampai di ujung pertemuan Jalan Jatiwaringin dan Jalan Tol Cikampek. Anak saya Dessapun turun dan menyeberang jalan, dan sayapun masih penasaran bagaimana jalan menuju rumah melewati jalan-jalan perumahan barusan yang baru saya lalui sekali itu…

Dan…tidak heran, sayapun nunak-nunuk mencari jalan menuju rumah melewati kompleks AL tadi….

Sampai rumah, sayapun cukup capai. Tidak secara fisik, namun secara mental. Mungkin tidur barang setengah sampai satu jam akan mengembalikan kesegaran saya hari ini…

Dan sayapun….zzzzz…zzzzz…zzzzzz…. (mimpi menggergaji pohon)…

Aki

Jika sedang mengajar siang hari yang mahasiswanya sudah mulai terkantuk-kantuk, kadang-kadang saya membuat sebuah ice breaker berupa sebuah teka-teki yang saya lempar ke mahasiswa, “Bagian mobil apa yang paling tua ?”. Mahasiswa biasanya kurang segera ngeh dengan pertanyaan saya, mengingat kebanyakan mahasiswa saya orang Jakarta (30%), Tangerang dan Bekasi (40%), serta Sumatera dan Kalimantan (30%).

Kalau kelasnya diam dan nggak ada yang ngejawab, saya lalu jawab sendiri “Aki !”. Ya “aki” dalam bahasa Sunda artinya adalah “kakek”, jadi Aki (baca : accu) adalah bagian mobil yang paling tua !  Hahahahaha !

Ketika pada suatu hari di tahun 1996 yang lalu saya masih sekamar dengan teman kerja yang bernama Pak Sablin Yusuf, saya sebagai Sekretaris Jurusan Teknik Informatika (Ketua Jurusannya Pak Totok Widyanto) dan Pak Sablin sebagai Koordinator mata kuliah Teknik Informatika, saya sering ngobrol dengan Pak Sablin tentang aki ini..

Pak Sablin berkata, “Djok, aki itu kalau kita beli dari baru lalu tahan setahun, itu namanya kita sudah beruntung. Kalau tahan dua tahun, kita beruntung banget. Dan kalau bisa bertahan tiga tahun aki di mobil kita, berarti kita sudah amat sangat beruntung !”..

Ya iyalah !

Nah, pagi tadi ketika jam 4.20 pagi saya mau nganter isteri ke Stasiun Gambir karena isteri mau naik Damri ke airport, ketika saya starter mobil “Camry” saya, tiba-tiba terdengar bunyi, “Ce..ke..kek…kek…” dan lampu aki di dashboard semakin meredup. Saya ulangi menstart mobil sekali lagi, dan terdengar bunyi “Ce…kkkk…ke…kkkk”. Wah, aki saya mati !

Lalu saya antar isteri naik bebek otomatis “sejuta ummat” yaitu Yamaha Mio ke arah bunderan di atas jalan tol JORR untuk nyari taksi ke terminal Kampung Rambutan untuk nantinya menyambung naik Damri (rencana ke Gambir di-cancel karena hari makin terang), isteri sepanjang jalan seperti biasa ngomel terus, “Makanya, aki mobil itu sering-sering dicek !”. Dalam hati saya menjawab, “Orang sebulan yang lalu mobilnya baru masuk bengkel, mestinya orang bengkel dong yang ngecek setromnya sampai gimana !”..

Isteri akhirnya dapat taksi Express, taksi paling top kedua setelah grup Bluebird. Menjelang jam 07.00 isteri sms, “Saya sudah sampai Bandara Soekarno Hatta. Ini sudah nunggu boarding”. Syukurlah, lalu saya balas dengan sms “Jangan lupa matikan hp demi keselamatan penerbangan. Hp boleh dinyalakan lagi jika sudah mendarat di airport Abdurrachman Saleh”. Memang, pagi itu isteri mau ke Malang buat registrasi di Unibraw. Terpaksa naik pesawat karena tiket KA ternyata sudah habis mengingat Rabu ini kan tanggal merah, dalam rangka hari Israj Miraj Nabi Muhammad s.a.w. Jadi di stasiun Gambir orang sudah mulai berebut tiket KA (Good news untuk teman saya yang jadi Dirjen KA Dephub, Pak Wendy Aritenang…)…

Siangnya, aki mobil saya belum juga saya ganti. Maklum, lagi “tanggal tua” mengingat gaji kantor sekarang digeser ke tanggal 5-an baru gajian. Gaji dosen juga cuman seberapa, kata saya dalam hati…

Sorenya saya cek ATM saya, ternyata gaji dosen saya “agak lumayan”. Wah…tumben-tumben, hari gini ngajar cuman 8 sks per minggu kok dapatnya setinggi itu. Ada apa gerangan ? Saya belum lagi ngecek “slip gaji” di internet sih…

Malam tadi saya ngecek ke toko aki di depan kompleks. Si Mang Tukang Aki bilang, “Pak kalau mau tukar aki, tambahnya Rp 200.000 kalau Bapak tukar dengan aki bekas yang sudah di-setrom lagi, atau tambahnya Rp 500.000 kalau Bapak tukar dengan aki GS yang baru”…

Wah, “Camry” saya bakalan jadi kuda tunggangan sehari-hari buat ke kantor dan juga buat ngajar. Jangan sampai di kota Jakarta yang panas ini mogok di tengah jalan yang hanya mengundang derek liar ! Bayarnya belum tentu Rp 300.000 mau. Makanya lebih baik nambah setengah jeti gak apa apa yang penting dapat aki baru !

Tepat jam 21.45 malam aki GS baru sudah bisa menyalakan mesin “Camry” saya. Cuman besok pagi-pagi benar kalau saya lagi driving ke kantor saya akan minta anak saya Dessa untuk menset ulang radio mobil supaya dapat siaran : Elshinta News and Talks (kalau-kalau Jakarta ada demo), Delta FM (untuk mengenang masa lalu), Female FM (kesenangan isteri saya), Kis FM (untuk dengerin siaran bahasa Inggris dengan logat aneh), dan tentu saja the most important…Prambors FM (untuk dengerin acara “Panda Berkokok” dan “Putusss…ayo main yang bagus”…)..

Supaya aki tidak mudah sowak, makanya di Amerika sana merk aki adalah “Die Hard”. Nggak ada matinya, kayak Bruce Willis !!!

We are the champions of RW 05 !

Sudah lama diketahui oleh setiap orang di RW 05 tempat tinggal saya, bahwa RT 03 adalah “badminton powerhouse” karena berkali-kali juara badminton (putra) di setiap pertandingan 17 Agustusan di setiap tahunnya. Hanya saja tahun kemarin, RT 08 mengambil alih sebagai alih sebagai juara dan oleh karena itu setiap warga RT 08 dibagikan kaos berwarna putih bertuliskan biru “Menjadi yang terbaik”..

Tim badminton putra RT 04 selalu dianggap sebagai “underdog” karena setiap tahun selalu nomor 3. Long long time ago in history, mungkin 5-6-7 tahun yang lalu memang tim badminton RT 04 pernah juara, tapi itu sudah lama sekali…

Tahun ini, saya sebagai Ketua RT 04 dipusingkan oleh tidak ikutnya tim badminton putri RT saya. Alasannya, “Kami sudah bosan sebagai juara, sekali-sekali boleh dong istirahat, gantian juaranya dengan RT lain”. Memang sih, tim badminton putri RT saya selalu dianggap sebagai “badminton powerhouse” oleh RT-RT lainnya…

Ternyata ada “blessing in disguise”. Dengan tidak ikutnya tim badminton putri RT saya, segenap pikiran dan resources bisa dipergunakan sepenuhnya untuk membangun tim badminton putra yang selama ini hanya “berkelas perunggu”..

Sedikit demi sedikit, dengan keseriusan Pak Ketua RT-nya, warga saya mulai menaruh harapan walaupun sangat kecil “Siapa tahu tim badminton RT kita bisa juara RW lagi”. Banyak yang skeptis. Saya tidak. Sebagai seorang Statistician (S1 saya di bidang Statistika), saya hitung peluang pasangan pemain sehingga bisa menjadi juara…

Alhamdulillah malam ini, kira-kira setengah jam yang lalu, tim badminton putra RT 04 menjadi juara RW kembali. Semua cemoohan, cibiran, dan sikap tak acuh baik oleh warga RT saya sendiri maupun warga RT lain mudah-mudahan akan sirna..

Dengan ini saya mengucapkan terima kasih atas dukungan segenap warga RT saya, terutama pelatih bulutangkis kami Mas Ipung – orang Gombong. Dan juga kepada Team Manager yang cukup brilliant mengatur strategi, Pak Yamin, terima kasih. Begitu pula penasehat teknis Pak Trihono Budi Santoso. Dan tentu saja tidak lupa kepada segenap pemain : pasangan Pak Sukendar dan adiknya Mas Darmanto yang permainan gandanya ditakuti oleh segenap pasangan ganda se RW (Pak Kendar ini menggunakan raket berharga Rp 1,7 juta !) yang menang atas Pak Pulungan – Pak Qodri dari RT. 03. Single remaja Mas Iwan yang mengalahkan Wahyu dari RT.03. Double Karang Taruna kami Mas Ihsan (Ipay) – Mas Eki walaupun kalah sama Andi Pulungan – Aditya dari RT. 03, walaupun kalah tapi kalahnya dengan nilai setipis sutra ! Lalu ganda Bapak-bapak Pak Didin – Pak Ucup yang walaupun kalah dari Pak Sumaji – Pak Ferly dari RT. 03 tapi telah memberikan perlawanan mati-matian. Dan last but not least, pasangan ganda Mas Tyo – mas Eddy yang mengalahkan pasangan ganda Pak Arif – Pak Munir dari RT. 03, sehingga akhirnya RT. 04 kami menang 3-2 melawan RT.03..

Terakhir, terima kasih Pak Haji Lukman Hakim dan Haji Lilik Setiawan yang selalu memberi support dari pinggir lapangan…

Rencananya hari Minggu besok tim bulutangkis putra RT kami akan diundang berpesta ke villanya Haji Lukman di Gunung  Geulis. Selamat bersenang-senang, pal !!

Ooops….saya utang nazar dengan tiga pemain remaja kami : Eki, Ihsan dan Iwan. Kepada mereka bertiga saya berjanji akan memberikan hadiah frame raket Yonex Carbonex 8 (atau Carbonex 9SP jika dananya cukup) kepada masing-masing mereka jika RT kami juara bulutangkis…

Ndak apa-apa ngasih hadiah, yang penting senang. Malam ini, saya pasti akan tidur nyenyak sekali !!!!!!

Akhir Juli Berspeedy Office Tarif Dosen

Seperti yang sudah anda ketahui, waktu tanggal 27 April 2008 kemarin saya memasang Speedy di rumah saya agak undermine tentang pemakaian download dan upload saya dari dan ke internet, makanya saya milih paket Speedy limit 1 GB download free time yang tarifnya cuman Rp 200.000 kalau nggak melebihi kuota. Kalau melebihi kuota tarifnya adalah Rp 0.5 per KB. Saya pikir cukup murah, maka saya milih paket ini…

Dan itu terbukti salah..

Sepanjang bulan Mei 2008 ternyata saya menggunakan Speedy sedemikian eforianya sampai-sampai di rekening saya muncul angka Rp 1.335.000 ! Bulan Juni 2008 juga muncul rekening yang cukup mencengangkan walau turun dibanding bulan sebelumnya, yaitu Rp 900.000 ! Walhasil, selama 2 bulan berSpeedyria saya terkena tagihan sekitar Rp 2.235.000 belum termasuk denda 5% karena saya terlambat mbayar (berusaha mbayar lewat ATM BCA dan ATM Mandiri gagal maning gagal maning…)… Totalnya ? Yah, sekitar Rp 2.400.000 ! Buat saya yang berpenghasilan pas-pasan sebagai dosen uang segitu banyak sangat berarti banget-banget !

Akhirnya siang tadi saya pergi ke Telkom Jakarta Timur di Prumpung. Kepada si mbak customer care saya utarakan kegundahan saya terkena over quota (istilah resminya “Jasnita”) sampai saya hampir bangkrut. Saya mau tutup Speedy-nya tapi kasihan sama mbak yang melayani saya, jadi yang terucap dari mulut saya, “Bisa nggak ya mbak, kalau saya migrasi ke Speedy paket Office unlimited time unlimited download yang mbayarnya Rp 750.000 itu ? Tapi sebagai dosen, saya mohon tarif tersebut dipotong 50%-nya lah !!

Si mbak langsung menjawab “Bisa ! Tapi Bapak membawa bukti nggak kalau Bapak sebagai dosen ?”, tanya si mbak ramah. Sayapun menyerahkan ID card dosen Binus. Dan si mbakpun membawa KTP saya, ID card dosen Binus saya ke dalam, mungkin mau ketemu bossnya. Keluar dari ruangan boss, si mbak bilang, “Bisa Pak, kalau bapak menyertakan bukti SK Pengangkatan dosen”. “No problemo amigo ! Tapi saya simpan di rumah mbak. Gimana dong ?”, tanya saya memelas ingin perhatian…

“Ya udah, Bapak pulang dulu hari ini atau besok Bapak datang lagi aja ke sini membawa bukti SK Pengangkatan Dosen, tapi nanti ke sininya langsung ketemu saya saja nggak perlu antri lagi”. Sayapun lalu ngacir pulang dengan mobil “Camry” saya…. Waktu ngacir pulang, jam menunjukkan pukul 13.35…

Sayapun pulang melalui tol. Bayar Rp 13.000 baru sampai rumah saya. Sayapun mencari-cari SK Pengangkatan Dosen yang dimaksud tapi….alamak, dimana pula SK itu ? Maklum, rumahku semenjak dicat 2 minggu lalu semua buku dan barang berantakan dan saya simpan di “lemari buku” saya berupa mobil yang jarang dipakai…

Setelah ketemu SK Pengangkatan Dosen Binus oleh Depdiknas, sayapun lega. Untuk berjaga-jaga sayapun membawa pula SK Pengangkatan Dosen Univ Paramadina”. Just in case…

Setelah sampai Prumpung lagi, saya ketemu si mbak customer care yang tadi melayani saya. Sayapun sampaikan SK Pengangkatan Dosen dari Binus dan Paramadina. Segera si mbak mengcopy SK itu beserta KTP saya dan ID card dosen. Sayapun diminta menandatangani 2 surat perjanjian bermeterai Rp 6.000 yang salah satunya menyatakan bahwa saya bukan pengusaha warnet !

Akhirnya permintaan saya untuk migrasi Speedy saya ke paket Office unlimited time dan unlimited download dikabulkan. Maka malam ini setelah melihat latihan badminton di RT saya, sayapun menulis posting ini…

Saya agak lega, paling tidak Abonemen Speedy mulai 1 Agustus hanya akan berjumlah Rp 450.000 (setelah di-diskon 40% dari tarif semula Rp 750.000). Lumayan murah untuk sambungan yang cukup cepat. Pakai Telkomsel-pun rekening telpon saya sekitar Rp 400.000 an seperti itu….

Hayo kalau anda dosen profesinya, silahkan mengikuti jejak Speedy kelas Office seperti saya ini…

Duwit Lecek

Selama mengunjungi beberapa negara dahulu kala, saya pernah mengadakan survei kecil-kecilan menyangkut “licinnya” uang kertas masing-masing negara..

Kesimpulan saya, hanya Indonesia dan Korea yang masih mentolerir adanya uang kertas mereka yang “tidak layak pegang” karena sobek, sobek disambung pakai isolasi, atau kucel…

Negara-negara lainnya seperti Amerika Serikat, Singapore, Thailand, Jerman, dan tentu saja Jepang, selalu menjaga “kelicinan” dan “kekinclongan” mata uang kertas mereka..

Dan karena Indonesia terletak di daerah tropis yang lembab, maka mata uang kertas di Indonesia juga lebih cepat lecek dan usang karena tangan-tangan orang yang memegangnya dipenuhi keringat di udara maha panas dan lembab di Indonesia. Akibatnya, banyak mata uang lecek yang bertebaran di pasar-pasar tradisional, tempat-tempat umum seperti terminal atau stasiun, dan juga di gerbang-gerbang tol Jakarta !!!

Sedangkan Korea yang negara subtropis dan udaranya tidak begitu lembab, maka mata uangnyapun “agak tahan lama” dibandingkan mata uang Indonesia…dari segi kecepatan perlecekannya…

Dan sayapun sudah menandai setidaknya 2 gerbang tol yang perlu dicurigai sebagai penyuplai uang kembalian yang lecek. Satu gerbang tol adalah gerbang tol paling kiri Taman Mini dari Cawang ke Arah Pondok Indah. Jika anda melalui jalan tersebut dan mau membayar tol sekitar maghrib, dan uang yang anda bayarkan Rp 50 ribuan atau Rp 100 ribuan kinclong, bisa dipastikan kembaliannya pasti lecek semua !!!

Satu gerbang tol lainnya adalah gerbang tol paling kiri Tol JORR Jatiwarna ke arah Pondok Indah. Di pagi hari, mbak-mbak atau mas-mas yang jaga di sana mempunyai hobby yang sama ! Yaitu memberi kembalian uang lecek walaupun uang yang kita bayarkan masih kinyis-kinyis alias licin kinclong baru keluar dari ATM..

Saran saya, periksalah duwit kembalian dari kedua gerbang tol yang saya sebutkan tadi. Jangan sampai anda menyesal kemudian ! Jika anda ketahui duwit kembalian yang diberikan oleh penjaga tol lecek, jangan segan-segan untuk minta tukar dengan yang masih bagus sebagus lembar uang kertas yang anda bayarkan. Jika mereka menolak, bentak !!! Dan catat nama petugas tersebut…

Saya sungguh menyesal tidak melakukannya pagi ini tadi karena tergesa-gesa dan kasihan kepada antrian mobil di belakang saya yang sudah memanjang. Akibatnya, duwit Rp 50 ribuan saya yang masih kinclong diberi kembalian 4 lembar uang Rp 10 ribuan, keempatnya lecek semua, tiga di antaranya diselotip karena sobek, salah satu sambungan selotipnya miring, dan satu lagi lecek luar biasa…

Saya menyesal karena sambil di jalan tol uang tersebut ternyata lecek semua dan tidak sempat mengembalikannya…

Mestinya operator tol mempunyai Standard Operation & Procedure yang lebih mengutamakan kenyamanan pelanggan jalan tol, antara lain dengan memberi uang kembalian yang masih baru, dan menyisihkan uang tol yang lecek-lecek ke bank supaya ditukarkan dengan uang baru ke Bank Indonesia..

Apalagi kalau uang itu sudah disimpan di .., wah selain lecek, pasti bauuuu sekaliiii !

Previous Older Entries