Asyiknya berburu bat pingpong

Saya bukan penggemar permainan olahraga yang “nje-kek”, tapi kalau sekedar bermain “just for hobby” bulutangkis, bilyar, pingpong dan volley, tentu saja saya bisa. Soalnya, waktu sekolah di luar dulu setiap minggu saya diminta menemani teman-teman sekampus yang orang Indonesia untuk bermain bulutangkis dan volley di HPER, bermain bilyar dan bowling (ooops…belum berani mencoba, memasukkan jari ke lubang itu yang serasa “serem”…) di IMU, dan bermain pingpong di lantai dasar asrama saya, Eigenmann…

Raket bulutangkis yang banyak dijual di Amerika dan dibeli anak-anak Indonesia apalagi kalau bukan Prince, Dunlop, dan Bard. Soalnya harganya cukup murah, dari $ 20 – $ 35 saja. Untuk yang agak serius main bulutangkisnya, ada teman2 yang pesan via mail order untuk beli Yonex (maklum, di tahun 1987-1989 ketika saya sekolah, internet belum dalam bentuk yang seperti sekarang ini). Pesan via mail ordernya dimulai dengan membaca katalog, menelpon, bertanya atau berdiskusi, pesan dan membayar dengan cek, ngirim surat pesanan beserta cek via pos (dulu disebut Usmail alias “US Mail”, sebenarnya nama resminya USPS, “United States Postal Services”), lalu dalam waktu 3-4 hari kiriman pasti sudah sampai di Front Desk Asrama, yang pemberitaan penerimaan paketnya ditaruh di locker kita masing-masing…

Main bilyar di IMU juga cukup menghibur. IMU yang merupakan PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) di Indiana University luasnya sekitar 10 hektar (5 kali kampus Anggrek atau kampus Syahdan). Terdiri dari Gedung besar bertingkat 8, yang di dalamnya ada Gedung Pertemuan, Kafe, Hotel, Toko Buku, Tukang Cukur, Lobby (tempat mahasiswa leyeh-leyeh di antara jam kuliah), Restoran, Tempat Bilyar, Tempat Bowling. IMU ini letaknya persis di sebelah barat kuburan para pendiri kampus Bloomington (pendiri kampus Purdue, yaitu John Purdue, bahkan dikuburkan persis di bawah tiang bendera Amerika yang letaknya di depan kantor rektorat !!!). Main bilyar di IMU bisa menggunakan stick bilyar yang ada di sana, bisa ditemani oleh score girl atau dihitung sendiri (tentu tarifnya lain, yang jelas score girl-nya adalah mahasiswa yang bekerja part time, dan…lebih dari 50% mahasiswi Indiana berambung pirang !). Beberapa teman Indonesia yang sudah “binnen” main bilyarnya biasanya membawa stick sendiri yang bisa dilepas di tengahnya dan ditaruh dalam casing yang keren. Biasanya Pak Daniel Indro yang ngajak kita bilyar memarkir mobil Honda Civic hijaunya (punya Pak Ari Sidharta Akmam) persis di bawah tangga IMU yang terbuat dari batu dan sangat “georgeous” itu. Tapi di musim dingin, jangan heran di depan dan di belakang mobil yang diparkir menumpuk salju barang 20-30 cm ! Di musim panas, dan ini yang paling saya suka, banyak mahasiswa bermain frisbee dengan anjing-anjing mereka dari ras Rottweiller atau Golden Retriever atau St. Barnard. Wah…rasanya gemes punya anjing-anjing itu. Tapi ada anjing yang harganya $ 55,000 lho !!!!

Untuk bermain Volley, cukup Pak Daniel saja atau Pak Pranyoto saja yang bawa bola volleynya. Di Amerika, bola volley merk Mikasa sangat jarang ! Paling-paling kita mainnya pakai bola volley bermerk Spalding atau Dunlop. Waktu di tahun 1987-1989 standard warna bola volley masih “putih memplak” dan belum ada bola volley yang berwarna biru-kuning macam di tahun 2008 ini. Jadi tidak ada peserta volley mingguan yang bawa bola sendiri. Satu bola untuk rame-rame, cukup. Pada suatu hari, Andre Purnawan si Ketua Permias (Persatuan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) Bloomington chapter, menerima tantangan dari mahasiswa Jepang untuk bertanding volley di gedung HPER (School of Health, Physical Education and Recreation, letaknya persis di kolam renang tempat Mark Spitz si 7 Gold Medalist Renang di Olimpiade Munchen 1972 berlatih). Persis sebelum pertandingan, anak-anak Jepang pada menjalani ritual men-selotip tangan mereka masing-masing. Bagi tosser yang diselotip 2 jari, dan bagi spiker yang diselotip 3 jari. Anak-anak Indonesia yang hanya bisa main volley kelas “tarkam” semuanya terdiam melihat lawannya “si saudara tua” bersiap dengan serius. Semuanya terdiam ketika 5 point pertama berjalan, tapi 6 point ke atas si anak-anak Jepang sudah mulai keteteran di-smash sama Pak Daniel, Pak Pranyoto dan Chandra Kartika yang sangat menggeledek ! Wah…rupanya dari tadi cuman gertak sambal toh saudara tua !!! Woo alaaah !!!

Nah, yang paling seru adalah permainan pingpong di asrama saya. Letaknya di ruang rekreasi di basement asrama. Di sebelahnya ada gerai hamburger yang super tidak enak (tapi sering ngantri di sana di musim dingin daripada kedinginan nyari makanan di luar asrama). Meja pingpong merk Kettler (saya cek di internet harganya $ 999) bertengger terbuka di sana terus, makanya nggak siang, nggak sore, nggak malam, nggak tengah malam, kita bisa bertanding pingpong, asal ada lawannya. Namun khusus Rabu malam, banyak berkumpul jago-jago pingpong dari seluruh dunia berkumpul di sini. Ada Pak Daniel dari Indonesia, Sid Yodnil dari Thailand, John dari Amerika (yang selalu disertai anak perempuannya yang berumur 3 tahun yang sangat lucu, tapi kalau John kalah four-letter wordsnya nggak putus-putus keluar dari mulutnya : f*ck, sh*t, s*ck !!!), dan tentu saja di orang China yang saya lupa namanya !!! Yang aneh, si Sid Yodnil yang orang Thailand ini berpura-pura tidak bisa main pingpong, lalu suatu hari menantang saya main. Sampai point 13 dia masih kalah dan pointnya masih 4. Begitu saya mau ngambil point ke-14, tiba-tiba smash geledeknya datang bertubi-tubi !!! Busyeeeet dah !!! Si Sid ini secara fisik paling mirip saya, dan kerjanya adalah sebagai RA (Residence Assistant, semacam “Ketua RT”) dan merupakan orang paling ramah se asrama. Karena mempunyai bentuk fisik yang sama persis dengan saya, pada suatu hari ada seorang cewek Swedia cakep berambut pirang menghampiri saya dan tiba-tiba cepika-cepiki dan merangkul saya “Oh Sid, how are you ? Long time no see”, katanya. Lalu boyfriendnya datang menghampiri (tepatnya “memisahkan” kami) dan bilang, “He’s no Sid”. Wah…ketahuan dah !!!

Mengingat jaman-jaman tinggal di Eigenmann tahun 1987-1989 itu, 20 tahun kemudian sebagai Ketua RT yang mendampingi team pingpong RT saya untuk bertanding dengan RT lainnya dalam rangka 17 Agustusan, sayapun kembali mengeluarkan bat pingpong “DOUBLE HAPPINESS” tipe pegangan Penholder (chinese penholder yang batnya berbentuk bulat) saya, dengan casing bat bermerk “PADDLE PALACE” yang sangat terkenal di Amerika sana. Ketika saya bawa ke ruang pingpong di Sekretariat RW saya, banyak pemain pingpong lain yang mendekati casing saya dan membuka casing saya untuk melihat tipe bat pingpong saya merknya apa. Dulu Double Happiness, ternyata belakangan berubah nama menjadi DHS (Double Happiness Shanghai)…

Sayapun sekarang jadi rajin melihat-lihat situs yang menjual peralatan pingpong (sayangnya masih di Amerika, yang di Indonesia macam Daya Prima dan Trio belum punya situs web sendiri) yaitu http://www.paddlepalace.com. Saya juga lagi belajar apa beda antara kayu bat (blade) merk : Donic, Jujic, BYT, Yataka, Butterfly, DHS, Joola, Dr. Neubauer, Stiga….Belum jenis karetnya… Yang jelas, harga bat pingpong ternyata jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga raket badminton yang bisa dibilang batas atasnya cuman Rp 2,5 juta ($ 250) aja. Bat pingpong, kayunya (bladenya) aja banyak yang berharga Rp 2,5 juta. Belum karet-karetnya !

(Tapi terus terang saya belum ada waktu, terutama duwit, untuk “berani” mengunjungi Toko Sport Trio di Jatinegara atau Toko Sport Daya Prima di ITC Pasar Pagi)…maklum, bat pingpong yang cukup “menjanjikan” katanya minimal Rp 800 rb. Maklum blade merk Butterfly Gergely aja harganya sudah Rp 500 rb-an, belum termasuk karet depan (merah) dan karet belakang (hitam) yang sekitar Rp 100 rb-an masing-masing…)…

Forum dan blog tentang Tennis Meja sudah banyak, tapi karena saya lagi keasyikan ngejar info (bukan dengan maksud mau beli, cuman kagum aja !) maka info tambahan pasti akan sangat berguna bagi saya sendiri maupun sama teman-teman lainnya….

1 Comment (+add yours?)

  1. Resi Bismo
    Aug 14, 2008 @ 01:51:55

    disini meja pingpong terbuat dari beton om! netnya juga malah dari logam, makannya awet, mau kena ujan panas, becek, salju tetep kuat. Kapan yach diindo ada kyk ginian……… lapangan semuanya jadi kos2an san kontrakan.

    Dijalan mesjid almustaqim sekarang sudah rame sekali karena persis dibelakang trans TV wah mas, 1 kamar kecil bisa 500ribu perak, kalikan saja kalo punya 10 kamar, tinggal ongkang2 kaki tuh.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: