Puasa mBedug Tahun 1960an

Sekarang ini saat-saat yang dinanti-nantikan oleh segenap kaum muslim di Indonesia, yaitu pengumuman pemerintah tentang kapan dimulainya puasa. Pengumuman pemerintah tersebut seakan sebuah pistol start yang diletuskan untuk perlombaan lari. Sama dengan lomba lari, puasa perlu persiapan-persiapan fisik maupun batin yang diperlukan untuk suksesnya puasa itu…

Meminta maaf kepada orang lain sebelum memasuki puasa sangat dianjurkan untuk afdolnya puasa kita yang bersih, suci, khidmat, dan ber-religi di satu sisi, namun di sisi lain harus tetap “business as usual” karena kita juga diwajibkan tetap bekerja seperti biasa untuk menghidupi kehidupan kita..

Bila dipandang dari segi beban berpuasa, baik fisik maupun mental, menurut umur kita yang berpuasa seolah membentuk huruf “U”. Artinya, beban puasa waktu kita kecil dulu sangatlah berat. Yang biasanya makan tiga kali sehari dan ditambah ngemil sepanjang hari, sekarang harus menahan lapar, haus, dan harus bertindak yang kalem serta tidak boleh mengatakan kata-kata kotor. Perjuangan makan sahur di waktu menjelang subuh, mungkin juga sangat berat bagi anak kecil. Maka anak kecil pra sekolah, anak TK, dan mungkin anak SD kelas I sampai kelas III kalau di Jawa dulu hanya dibebankan “puasa mbedug”. Kalau puasa full baru buka puasa ketika maghrib tiba, lha kalau puasa mbedug buka puasanya boleh di waktu dzuhur…. 😉

Ketika umur kita masih antara 10-40 tahun berpuasa bisa disebut ringan, karena fisik dan mental kita sedang jaya-jayanya di udara…hahaha.. Tapi setelah umur 40 tahun berpuasa jadi agak berat, terutama bagi yang mengidap penyakit tertentu sehingga harus makan secara teratur atau berpantang makanan tertentu. Bagi yang masih sehat wal afiat, tentu puasa tidak menjadi masalah, namun tetap harus waspada untuk menambah makan vitamin di masa puasa agar puasanya tidak “mothol” alias putus di tengah jalan. Kalau ini terjadi, maka di akhir bulan puasa beberapa hari yang bolong juga harus ditambal agar puasa kita menjadi sempurna..

O ya, bagi kaum adam seperti saya ini, berpuasa di bulan Ramadhan mungkin lebih ringan daripada kaum hawa. Maklum, kami kaum adam bisa fit terus secara fisik karena sudah di-desain dari sononya. Sedangkan kaum hawa harus sedikit “turun mesin” di tengah-tengah bulan puasa karena persyaratan teknis perfisikan dari sononya memang mengharapkan demikian. Tentunya nggak jadi masalah, tapi di akhir bulan puasa harus ingat terus berapa jumlah utang harinya…

Di Madiun dulu waktu saya kecil, hampir setiap keluarga tidak mempunyai TV. Radiopun yang waktu itu masih radio listrik dan komponennya tabung dan biasanya merk-nya Philips 4 band, masih jarang yang punya. Di keluarga saya, radio listrik baru bisa terbeli ketika Ibu saya datang ke sebuah desa di Uteran untuk menukarkan 8 gram emas beliau dengan sebuah radio Philips yang cantik dan ditenteng dengan cara diikat sarung ! Jadi waktu tragedi nasional di pertengahan tahun 1960an, kami sekeluarga terpaksa mendengarkan berita pemakaman para korban di balik pohon-pohon pisang untuk mendengarkan radio tetangga yang disetel secara keras..

Waktu belum punya radio, penanda buka puasa adalah “mercon blanggur” di mesjid agung Madiun. Kami biasanya anak-anak berkumpul di tanah lapang Ledeng Madiun yang waktu itu masih bisa diakses oleh umum, sambil ngobrol atau sambil ngangon kambing (belakangan setelah gedhe dan sekolah di Bogor saya jadi tahu kegiatan kami ini disebut “ngabuburit”), sedangkan mata menatap terus ke arah barat. Setelah dari jauh posisi mesjid agung Madiun bisa dideteksi, maka mata-mata kecil kita menatap terus ke langit di atas mesjid agung. Begitu anda benda kecil terlontar ke udara dan benda kecil itu akhirnya meledak di udara dengan bunyi “Bang” yang besar, maka itulah pertanda resmi buka puasa bagi kaum muslim di Madiun..

Maka, kaki-kaki kecil kamipun kami pacu ke arah rumah yang jaraknya sekitar 400 meter untuk merasakan makanan dan minuman yang disediakan Ibu dan kakak-kakak perempuanku. Biasanya kolak, es kelapa, dan teh manis adalah pembuka puasa. Kurma juga bila ada. Makanpun biasanya sangat sederhana : nasi putih, sambal terasi, dan tahu goreng panas, serta tempe goreng hangat (dibacem maupun tidak). Sayurnya sayur lodeh atau sayur asem. Kadang ditemani dengan bothok teri, bothok tempe, dan kadang bothok tawon…

Makan sahur jauh lebih sederhana daripada buka puasa. Karena kebanyakan kami masih terkantuk-kantuk, dan kadang esoknya harus masuk sekolah. Pada waktu saya kecil, sekolah tetap dibuka di bulan puasa walaupun hanya setengah hari. Maka dengan mata yang setengah merem, kamipun makan apapun yang disediakan Ibu di meja. Seperti biasa, tersaji nasi hangat, sambal pecel tidak pedes yang dibiarkan padat dan tidak dikasih air, ditemani dengan tempe goreng atau tahu goreng. Ya satu pilihan saja, sesuai dengan waktu dan budget yang pada waktu itu super ketat…

Waktu menjelang puasa berakhir adalah waktu yang paling bahagia. Karena kami anak-anak Ibu dibiarkan “mengintip” etalase Toko Pakaian terbaik di Madiun yaitu Toko Mitro yang terletak di seberang Taman Makam Pahlawan Madiun. Kami mengintip berkali-kali, menaksir baju yang akan dipakai waktu Lebaran nanti, dan menghitung-hitung apakah celengan kami cukup untuk membelinya, adalah pertanyaan besar bagi otak-otak kecil kami dan mata kecil binar-binar kami. Biasanya pada H-3, baju dari Toko Mitro dan sepatu dari Toko Bata yang ada di pojokan di sebelah utara Toko Mitro, bisa kami bawa pulang naik becak. Tapi belum boleh dipakai sebelum Lebaran, karena nggak patut alias “pamali”…

Sayangnya, selama saya kecil dulu, bulan puasa begitu mendera perut saya. Perut yang kosong bila diisi dengan makanan yang jumlahnya sangat banyak akan sangat menderita karenanya. Perut saya sangat sensitif dengan pedas dan lemak dari kecil dulu, makanya di waktu Lebaran lebih banyak saya terbaring di tempat tidur karena sakit perut (mencret) dan walaupun pakai baju baru…itupun cuman bajunya doang, karena bagian celananya sudah kena noda-noda yang baunya tak sedap akibat kecepatan berlari ke belakang (ke WC) masih kalah dari kecepatan keluarnya lahar yang tekanan magmanya sangat besar dari perut kita ! Kalaupun kita punya stop watch, baru kita pegang dan kita catat saja, sudah ccrrrrrrrettttt !

Tidak heran, itulah yang disebut benda yang melesat paling cepat di dunia soalnya stop watch saja tidak mampu mencatat kecepatannya !!!

Ada ada saja… !!!

Ah..aya aya wae !!! Kata Pak Wapres Jarwo Kwat yang sebentar lagi pindah ke AnTV…

mBah nDagangan

Kalau dirunut asal-usul saya, bapak saya dilahirkan di desa Pintu, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Sebuah desa yang cukup strategis terletak sekitar 2,5 km di sebelah timur Pabrik Gula Pagotan. Di jaman dulu, sewaktu masih ada jalur kereta api uap Madiun-Ponorogo yang lokomotifnya digerakkan oleh uap dan gerbong-gerbongnya banyak terbuat dari kayu, yang satu rangkaian kereta apinya terdiri dari 1 lokomotif dan 4 gerbong, saya sering diajak Ibu saya mengunjungi mbah atau eyang saya dari pihak Bapak ke desa Pintu ini. Tapi kami waktu kecil sering menyebutnya desa Dagangan, maka mbah putri dari sini kami sebut “mbah nDagangan”..

Maka, ketika beberapa hari yang lalu saya kenal dengan seorang pengemudi dari kantor client yang ternyata juga berasal dari desa Pintu, dan ajaibnya ia mengetahui semua keluarga saya, maka sayapun ditanya, “Jadi, nama eyang Bapak itu siapa ?”. Sayapun kamisosolen (numb), tidak bisa menjawab. Maklum, dari kecil kami tidak dibiasakan menghapal nama-nama eyang atau mbah kami, dan kamipun suka menggantinya dengan mbah diikuti dengan nama daerah, seperti menyebut mbah nDagangan itu. Kalau kami tinggal di Amrik dan mbah kami tinggal di Springfield, Illinois pasti kami akan menyebutkan “mbah Springfield” dan bukan “mbah Harjosuwito” atau mbah “Sarah McCallahan”…

Begitupun, mbah dari pihak Ibu yang tinggal di desa Rejosari, Kec. Nglames (benarkah ?), kami menyebutnya dengan “mbah Rejosari”. Desa Rejosari ini sekitar 7 km ke arah barat-utara dari Pabrik Gula Rejoagung. Ketika saya masuk SD, baik mbah dari pihak ayah dan mbah dari pihak ibu keduanya tinggal mbah putrinya saja…

Baik rumah mbah nDagangan maupun mbah Rejosari tentu terbayang jelas bagi saya. Rumah mbah nDagangan terletak di hoek (pinggir) dari pertigaan jalan raya Dagangan yang membujur barat-timur dengan sebuah jalan kecil ke arah selatan, kira-kira 1 blok di sebelah timur Pasar Dagangan, dan kira-kira 1 blok di sebelah barat sebuah sungai, yang pada waktu saya kecil banyak ikan lele, ikan kutuk (ikan gabus), ikan wader, ikan sepat, ikan sili, dan juga udangnya. Rumah mbah nDagangan berarsitektur kayu dengan banyak ukiran di sana-sini. Layaknya rumah jaman dahulu, di bagian depan ada pendapa untuk menerima tamu. Di tengah pendapa ada satu meja marmer dengan kayu jati sebagai kerangkanya. Dikelilingi empat kursi kayu jati yang diukir tidak terlalu mencolok. Lalu di ruang tengah ada ruang keluarga, tempat keluarga berkumpul mengobrol di waktu sore dan malam. Di belakang ruang keluarga ada “sentong” yang difungsikan sebagai kamar tidur. Tapi juga ada “sentong” yang difungsikan sebagai penyimpan bahan makanan seperti beras dan jagung (waktu itu tikus masih jarang adanya). “sentong” kiri kanan dari ruang keluarga juga difungsikan sebagai kamar tidur. Di luar rumah ada semacam “pavilyun” atau “gandok” yang berfungsi sebagai dapur yang di belakangnya ada sumur dan kamar mandi serta WC-nya (di jaman Belanda dulu, kamar mandi dan WC biasanya di 2 ruang terpisah, mungkin untuk alasan higienis).

Di blok yang sama dengan rumah mbah nDagangan, ada rumah Bu Puh atau Bu De saya yang hanya tinggal berdua dengan Pak Puh. Seperti yang tadi, rumah Bu Puh juga terbuat dari kayu, tapi di rumah Bu Puh penyekat ruangan terbuat dari kayu jati berukir sepanjang sekitar 12 meter yang disebut “gebyog”. Kata mas sopir tadi, keluarga saya dipandang sebagai keluarga terpandang di kampung, mungkin karena alasan “rumahnya di pinggir jalan” saja…

Konon mbah Kakung saya dulu berprofesi sebagai “pandai besi” (iron smith) di desa Sewulan, yang merupakan desa tetangga di sebelah utara dari desa Pintu. Desa Sewulan ini kalau di Madiun terkenal sebagai desa pusatnya kerajinan besi karena semua pandai besi yang panasnya digerakkan oleh kipas yang dipegang naik turun. Selain itu, desa Sewulan juga terkenal sebagai “desa Kyai” karena banyak sekali kyai dan pesantren yang terletak di desa ini. Mungkin dari mbah saya yang berprofesi sebagai pandai besi ini saya menuruni sifat sebagai seorang perekayasa alias insinyur…

Konon pula, mbah saya dari pihak Ibu yaitu mbah Rejosari dulunya berprofesi sebagai petani. Tanah beliau masih ada di sebelah selatan sarean (makam) di desa Rejosari pada waktu saya masih kecil. Biasanya tanah beliau ini dijadikan sebagai tanaman tebu, dengan cara disewa oleh Pabrik Gula Rejoagung selama 18 bulan dan sebagai imbalannya diberi uang sewa per bulan dan beberapa karung gula di akhir masa giling.. Dari pihak mbah dari pihak ibu ini barangkali saya menuruni sifat sebagai seorang ahli pertanian alias insinyur…

Di Amerika sekalipun, sebuah universitas di tahun 1780-an sampai 1890-an biasanya didirikan dengan  2 fakultas utama di dalamnya yaitu “Agricultural” (Fakultas Pertanian) dan “Mechanical” (Fakultas Teknik). Makanya banyak universitas yang nama di belakangnya ada sebutan “A&M” misalnya yang paling terkenal adalah “Texas A&M” di kota College Station, di negara bagian Texas sana. Kalau nggak salah, yang lainnya masih banyak antara lain “Louisiana State A&M University” sebagai nama resmi dari LSU di Batton Rouge, negara bagian Louisiana…

O ya, selain mbah langsung dari pihak bapak dan ibu, saya masih punya serangkaian mbah lagi yang bermukimnya cukup jauh dari Madiun. Kalau desa Pintu nDagangan dari rumah saya di Madiun berjarak sekitar 12 km, maka desa Rejosari berjarak sekitar 10 km dari rumah saya. Beberapa mbah lainnya kami sebut berdasarkan tempat tinggal mereka, tanpa satupun yang saya tahu namanya, ataupun hubungan kekeluargaannya dengan mbah saya “asli” yaitu mbah nDagangan atau mbah Rejosari..

Jadi saya juga punya mbah, yaitu mbah Onder di Uteran (Onder mungkin berasal dari kata Onderneming alias pemerintahan setingkat Kawedanan – sedikit di atas Kecamatan tapi masih di bawah Kabupaten). Yang menyiratkan bahwa mbah Uteran saya itu dulunya jabatannya di jaman Belanda adalah Wedana. Ada mbah Walikukun di Walikukun. Ada mbah Randublatung di Randublatung…

Terakhir, ada satu mbah yang tidak disebutkan nama desa tempat tinggalnya, tapi disebutkan namanya. Yaitu mbah Djono, yang rumahnya 1 blok dari tempat tinggal mbak Iing isteri Kikiek, dan juga 1 blok dari tempat tinggal Simbah dan Mas Judi kasturi yang sering mampir di blog ini…

Adakah, anda punya silsilah ? Tahukah anda nama eyang anda laki dan perempuan ? Eyang buyut ? Eyang canggah ? Eyang gantung siwur ? Nama-nama Pak Puh dan Bu Puh ? Nama Pak Lik dan Bu Lik ?

Kalau belum, cepat dicatat sekarang. Ntar lupa semuanya seperti saya ini…

Nasi Pecel

Gambar di atas bukan Bugel Kaliki turun dari Gunung Ciremai karena kelaparan lho. Itu foto saya yang sudah STW (setengah tua) lagi rindu makan nasi pecel waktu ke Madiun akhir Juli 2008 kemarin ini (trims Pak Apo yang sudah nge-shoot pakai HP Nokia-nya)…..

Terkejut dengan wajah saya yang tidak setampan Brad Pitt ? Hahaha..tidak apa-apa, mudah-mudahan pertanyaan Mas Totok (Prihatin Rahayu Sentosa) yang nanya, “Neng foto blogmu (avatar, maksudnya) kok kowe isih ketok enom, apa kowe ora isa tuwek ?” (di foto blogmu kok kamu kelihatannya masih muda, apa kamu tidak bisa tua ?)…

Makan nasi pecel itu tidak mengenal waktu. Pecel, pakai nasi atau tidak, biasa dan bisa dimakan kapanpun : pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam sekalipun. Di seantero kota Madiun, selama 24 jam sehari 7 hari seminggu pasti ada warung pecel atau penjaja pecel gendongan yang mangkal menunggu pembeli…

Pecel yang merupakan “vegetarian food” kalau tidak ditambah dengan daging empal, dsb merupakan makanan favorit penduduk kota Madiun. Konon lahirnya pecel ya di kota Madiun ini, makanya setiap kata “pecel” biasanya diikuti dengan kata “Madiun”, walaupun ada yang diikuti kata “Blitar”…

Pecel biasanya terdiri dari sayuran kangkung, daun ketela (optional), ganteng (kecambah) kedele, kembang turi (optional), dan kacang panjang (string bean) yang di atasnya (disebut “topping”) diberi saus yang terbuat dari tumbukan kacang tanah halus yang diberi garam, bawang putih, dan cabe merah. Kalau anda tinggal di luar negeri menurut pengalaman saya, saus pecel bisa dibuat dari campuran : peanut butter, tabasco, dan soya sauce...sedangkan segala jenis sayuran kan sudah ada di Oriental Store….

Secara standard seperti tersebut di atas, pecel adalah makanan vegetarian. Tapi untuk beberapa orang tertentu, makanan vegetarian kurang seru dan kurang membangkitkan energi. Makanya biasanya di atasnya ditambahkan dengan : peyek, lempeng (kerupuk beras), paru, empal daging sapi, ayam goreng, atau otak goreng. Kalau dibikin di rumahan bisa ditambahkan : tempe goreng, tahu goreng, heci, bakwan, dan sebagainya…

Nah, kelebihan pecel sebagai makanan “all weather, all time” hanya bisa dikalahkan atau disamai oleh : nasi uduk (Betawi), hamburger (Amrik dan Erop), dan barangkali…nasi goreng !

Di Madiun, walaupun rasa pecel hampir standar, namun preferensi oleh pembeli dan diversifikasi rasa oleh warung penjual pecel sering terjadi. Sebagai contoh, “Pecel Pojok” di Jl. HOS Cokroaminoto adalah bisa dibilang “pecel rasa classic” (seperti Coca-Cola classic lah !). Lalu yang rasanya agak lebih spicy dan pedas ada di “Pecel Bu Wirkabul” seperti foto di atas, juga di Jalan Cokro. Lalu yang menjual suasana lesehan ada di “Pecel Bu Maliki” persis di sebelah Bank CNB di depan Fire Discotheque (pemiliknya orang Singapura keturunan India) juga di Jalan Cokro, lalu ada yang di Jalan H.A. Salim (saya lupa namanya, walaupun mas tukang becak sudah beritahu), tapi yang paling top markotob katanya adalah “Pecel Mbok Gembrot” di daerah Njoyo, yang sebenarnya daerah pinggiran yang baru berkembang sehingga bisa disebut sebagai non-mainstream pecel….hehehe…sok ilmiah sekali-sekali bolehlah…

Catatan : di masa-masa SMA saya dulu di pertengahan tahun 1970an, anak muda kalau makan pecel nongkrongnya di depan Rumah Sakit Umum Madiun (sekarang masih ada) atau di warung tenda depan Stasiun Madiun (juga masih ada, walaupun tenda sudah diubah menjadi warung permanen)…

Menurut pendapat responden saya yang saya temukan secara mendadak, enaknya makan nasi pecel diiringi dengan minum : teh manis hangat (dipilih oleh 35% responden), teh tawar (13%), kopi hitam manis (6%), coca-cola (1%), wedang jahe (3%), teh botol Sumanto – apapun makanannya, yang penting minumnya teh botol (15%), dan air aqua (7%), dan sisanya adalah air kendi (2%) dan air tajin – hoto tumon (0.000001 %). Pokoknya jumlahnya 100% lah, kurang lebihnya mohon maaf…

Soalnya, saya tergesa-gesa mau ke kampus nih, ngambil berkas ujian semester pendek dan ketemu mahasiswa ex bimbingan skripsi saya yang minta referensi mau ngelanjutin ke Program S2 MMSI Binus…

President Barack Obama ?

Lihatlah foto di atas baik-baik. Dari sebelah kiri adalah Mr. Sutoro yang bekerja sebagai perwira Jawatan Topografi TNI-AD, Mrs. Ann Sutoro, Maria Utoro, dan Barack Obama. Waktu pengambilan foto sekitar tahun 1967, lokasi Jakarta, sumber foto sayang tidak diketahui…

Apakah Barack Obama kecil yang kelihatan gendut dibanding Senator Barack Obama sekarang akan menjadi Presiden Amerika Serikat selanjutnya menggantikan George Walker Bush ?

Time will tell…

(p.s.: maaf bila salah menyebut nama, saya menulis posting ini tidak didahului oleh survai di Google, melulu karena menariknya berita utama koran Kompas hari ini Sabtu 30 Agustus 2008 dengan headline “Obama : Sudah Cukup Era Partai Republik, Standing Ovation Hampir Setiap Menit”..)

Ada komentar ?

Lomba Berani ala Anak Bayi

Saya masih ingat masa-masa kecil saya di Madiun tahun 1960an dulu, ketika saya seumuran TK, sehari-hari selalu diisi dengan acara “Lomba Berani” antar teman..

Tempat tinggal saya dulu waktu kecil di Dusun Ngrowo, Desa Mojorejo, termasuk dusun yang dibagi dua antara daerah yang sudah relatif berkembang dan banyak didiami tentara, polisi, dan guru di sebelah utara, serta daerah Ngrowo lama yang amat sangat jadul dengan rumah-rumahnya yang terbuat dari campuran batu-bata dan kayu, serta atap-atap joglonya..

Kebetulan rumah tempat tinggal saya ada di sekitar daerah Ngrowo baru, yang tetangga-tetangganya kebanyakan guru, tentara dan polisi. Walaupun ada juga yang berprofesi sebagai petani, mantri suntik, wiraswasta, pegawai pabrik gula, dan juga pedagang di pasar.

Bagi saya kecil, daerah Ngrowo baru kurang menarik minat saya karena kondisinya yang sudah relatif mapan. Rumah-rumahnya baru, pagar-pagarnya tertata rapi, dan penghuninya juga punya kebiasaan pergi kerja, berdandan, dan bertutur kata yang lebih “predictable” daripada yang di Ngrowo lama..

Penduduk Ngrowo lama lebih “colorful”. Ibaratnya Ngrowo baru itu New York, dan Ngrowo lama itu Afrika yang menyimpan banyak misteri. Sewaktu saya kecil, kemajuan dunia kedokteran belum seperti sekarang ini. Namanya obat antibiotik adanya cuman penicilin yang hanya bisa melawan bakteri jenis tertentu, dan pemakaiannyapun harus disuntikkan minimal oleh seorang mantri suntik. Sedangkan obat turun panas belum ada Panadol atau Tempra atau Aspirin seperti sekarang ini. Kalau saya sakit panas, orangtua cuman pergi ke Ngrowo lama ke tempat Pak Jagabaya dan meminta satu atau dua “degan ijo” (kelapa berkulit hijau yang masih muda) lalu membawanya pulang, mencampurnya dengan 1-2 sendok madu, dan itulah yang diminumkan ke kami anak-anaknya jika sedang terserang demam… Rasanya manis campur asin, dan campur manis sekali dari rasa madunya…

Selain makan dan minum obat yang diracik sendiri dari bahan-bahan tradisional, Bapak atau Ibu selalu memberi selimut kain yang konon katanya pernah dipakai Bapak – Ibu waktu penganten dulu. “Sudah nak, sembuh ya. Ini diselimuti kain waktu Bapak dan Ibumu jadi penganten. Pasti kamu sembuh kok nak”. Ajaib, paling lama 3 hari setelah penyelimutan kain penganten itu, sakit jadi hilang…

Waktu ke Madiun kemarin, di Warung Pecel Bu Wirkabul di Jalan HOS Cokroaminoto, kami serombongan teman-teman sekantor sedang ditraktir makan pecel sekenyangnya oleh teman-teman dari perusahaan client. Bertujuh kami makan sekenyangnya dan bisa dikatakan – sudah berfoya-foya – ternyata habisnya cuman Rp 135.000 ! Padahal banyak yang “tanduk” (nambah) 2 “pincuk” (piring yang terbuat dari daun pisang yang dilipat) dengan sendok berupa “suru” (sendok yang juga terbuat dari daun pisang !)…

Seorang teman dari perusahaan client cerita bahwa jika anaknya yang berumur 4 tahun mau ditinggal bapaknya tugas ke Jakarta atau ke kota lainnya, si anak laki-laki ini pasti sakit demam. Tapi sakit demam akan hilang bila sudah digendong bapaknya, yang baru datang dari luar kota. Menurut penuturan “orang tua pintar” tetangganya, “Lha kalau gitu sebelum mas pergi ke luar kota, selimuti anaknya mas itu dengan baju mas yang sudah bekas yang sudah bau keringat”. Nasehat orang tua tetangganya itu dituruti, dan ajaib….anaknya tidak pernah demam lagi walau ditinggal tugas ke luar kota ! Cerita lainnya, ada orangtua yang selalu menaruh kain yang bekas dipakai menggendong bayi bila si bayi terus rewel menangis terus “diganggu makhluk halus” (beberapa tetangga menyamakan nangis terus dengan hal ini), kain bekas gendongan itu ditaruh di tengah pintu utama rumah, digantungkan ke sebuah paku. Biasanya si bayi akan melihat kain bekas penggendongnya ini, dan diam tenang setenang air telaga Sarangan !

Besar sedikit dari bayi, ketika saya masih TK. Pulang dari TK di daerah Ngrowo lama saya selalu berjalan kaki sekitar 1 km melalui jalan-jalan lama di tengah-tengah desa Ngrowo lama. Wah, rasanya seperti melalui via (jalan kecil dan sempit) di Roma atau minimal di Kota Gede, Yogya. Kamipun waktu kecil sangat menikmati perjalanan santai ini. Biasanya di sepanjang jalan kami selalu “adu berani”, yaitu menantang yang lainnya apakah berani melakukan sesuatu yang kadang tidak masuk akal !

Antara lain, berani menangkat ulat yang disebut “uler kluwing” yang badangnya hitam dan perutnya putih itu. Kalau ulat sudah ketangkap, biasanya dia melingkar dan membentuk huruf O. Lain kali, kami adu berani menangkap “uler geni” atau ulat yang bulunya tebal dan berwarna coklat merah menyala seperti kulit orang hutan. Biasanya, orang akan merasa gatal sehari penuh jika kena 1 bulunya saja. Tapi sebagai anak kecil yang kurang logika, ulat itu kami cengkeram, kami angkat, dan kami tiup bulunya sambil tertawa-tawa. Ajaib, kamipun tidak merasa gatal !!!

Lain kali, ada yang lebih gila lagi. Kami ditantang minum air kencing sendiri. Saya lupa, apa saya berani menerima tantangan ini. Yang jelas saya lupa rasanya ! Yang saya masih ingat adalah rasa upil yang asin-asin mirip cimol dikasih garem ini. Berarti, saya pernah ikut Lomba Korek Upil, sometime somewhere, somehow, di masa kecil dulu…….

Wow, it’s so weird !!!

Changcutters : juara 17 Agustusan 2008

Sebagai Pak RT di kampung saya, sejak tanggal 16 Agustus 2008 siang saya dan para tetangga sudah mendirikan tenda di depan rumah saya untuk acara perlombaan 17 Agustusan esok harinya. Tahun 2008 ini memang giliran jalan saya yang menyelenggarakan lomba, karena tahun lalu sudah gilirannya jalan di sebelah selatan dan tahun depannya di jalan sebelah utara..

Tanggal 17 Agustus 2008 tepat jam 09.00, anak-anak yang belum sekolah SD sudah disuruh ikut lomba menggambar. Kira-kira yang ikut sekitar 20 orang anak. Wah, rame sekali. Loud speaker SHARP 1500 Watt pun memutar lagu-lagu perjuangan seperti Kebyar-Kebyar Pelangi-nya Gombloh..

Setelah itu anak-anak pra SD balapan “track and field” yaitu memindahkan 5 bendera merah putih kecil yang dijepretkan ke sedotan botol. Jadi anak-anak itu berlari, mencabut bendera, dan balik kanan berlari lagi untuk menaruh bendera tadi ke sebuah botol minuman (merk tidak disebutkan, belum bayar iklan ke saya…hahaha..).

Paling seru adalah pertandingan antar anak2 SD laki-laki yaitu perlombaan memindahkan belut. Ada sekitar 30 ekor belum yang perlu dipindahkan dari satu wadah berisi air ke 5 buah wadah berisi air di seberang “track“. Maka 5 anak berlari sekitar 10 meter, mengobok-ngobok belut di ember, mengambil satu belut (ya..kalau bisa !), lalu memindahkan lagi belut tersebut ke wadah di seberang. Serunya, ketika belut tinggal 1, dan ada 5 anak yang berebut memegang belut tersebut, maka terjadi dorong-mendorong kecil antar 5 anak laki. Keempatnya berjatuhan, dan belutpun jatuh (“fumble”) ke tanah, dan Fauzanpun yang dari tadi tidak ikut berebut, dengan cepat mengambil belut untuk berlari ke embernya. Dia pikir itu aman, nggak tahunya baru lari 3 meter keempat anak yang berebut lagi sudah menjegalnya dari belakang dan belutpun terlepas dari tangannya ! Kali ini Ahmad yang bisa menangkap belut tadi ketika keempat anak yang lainnya sedang berebut bergulung-gulung di tanah. Ahmadpun berlari menuju embernya. Tak dinyana, 3 meter kemudian keempat anak laki yang ada menarik bajunya dan Ahmadpun terjatuh, kali ini Steve yang memang badannya paling besar mengambil belut dan dengan sekali gerakan ia “touch down” mencapai end zone dan melemparkan belut yang dipegangnya dari jarak 1 meter ke embernya…dan plung !!!!…..Belutpun nyemplung di ember Steve dan iapun Juara Belut Kelas SD !

Untuk menyemarakkan suasana, saya mengeluarkan sound systems mini saya berupa : DVD player Philips, Power Speaker Sharp 1500 Watt, dan wireless Mike Weston yang harganya hanya Rp 125 ribu berikut 2 wireless Mike ! Beberapa VCD originalpun saya beli di Disc Tara dekat rumah saya, seperti : Bagimu Negeri-Idris Sardi, Kebyar-Kebyar oleh Harry & Iin, Hip Hop III The Collection (isinya Snoop Dogg, Pharell, D12, 5D Cent, Outkast, Ja Rule, Jay Z, Nelly, House of Pain, Kanye West), The Changcutters : Mencoba Sukses Kembali, dan 2 VCD Indie yaitu : LA Lights IndiFest – Compilation Album Vol. 02, dan Kompilasi Satu Hati (Time-Levi’s)…

Semua lagu telah dicoba untuk mengiringi perlombaan-perlombaan 17 Agustusan 2008 ini. Tapi kelihatannya anak-anak kembali dan kembali memutar Changcutters. Ada 3 lagu yang disukai anak-anak kecil sampai ABG, dari Racun, Pria Idaman Wanita, dan tentu saja I Love You Bibeh

Ketika lagu-lagu ini disetel, anak-anak pada menari, berlompatan, dan tereak-tereak mengikuti lagunya…

It was so weird !!

[Malam sebelumnya ketika di Disc Tara, saya tidak berhasil menemukan VCD original dari The Upstairs yang sebenarnya Indie-nya se angkatan dengan Changcutters. Bahkan di Global TV (?) waktu itu kedua band aliran 70s ini sudah pernah dipertemukan. Rupanya The Upstairs tetap Indie dan cari VCD Indienya susah setengah mati, sementara Changcutters telah diambil oleh sebuah Major Label dan rekamannya sukses..malahan mereka sudah membintangi film berjudul “Tarix Jabrix“…Agak aneh cerita ini, mengingat The Upstairs-pun tidak kalah materi dibanding dengan Changcutters. Muntazam sebagai vokal cukup OK, vokal kedua malahan seorang gadis manis yang mukanya mirip gadis-gadis Jepang..]

Apakah Tuhan campur tangan di badminton ?

Menyaksikan pertandingan semifinal bulutangkis ganda campuran di Olimpiade Beijing 2008 membuat hati saya campur aduk…

Campur aduk antara senang melihat permainan-permainan indah bulutangkis kelas dunia, tapi juga ketar-ketir kalau melihat pemain Indonesia Nova Widiyanto/Liliani Natsir ketinggalan point. Selain itu juga gemes melihat perilaku pemain ganda campuran China Yu Yang/He hanbin.

Kalau si ceweknya Yu Yang sih agak sedikit kalem, tidak terlalu berlebihan, dan menurut saya justru mempunyai sikap yang positif karena ia selalu tersenyum, baik menang atau kalah, baik sedang di atas angin maupun sedang tertekan…

Tapi si cowoknya yang bernama He Hanbin itu bereaksi amat sangat berlebihan. Menurut bahasa gaulnya, bikin bete dan gemes… Sedikit-sedikit walaupun tertinggal dan smash lawan nyangkut di net, ia mengacungkan jari telunjuk tangan kiri ke atas…yang artinya ” I am No. 1″….

Saya dalam hati kurang senang dengan sifat jumawa He Hanbin itu. Biasanya orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu akan dijauhkan dari rejeki, termasuk rejeki lolos ke putaran berikutnya di kompetisi kompetitif macam Olympiade Beijing 2008 itu…

“Don’t be too up if you are high, and don’t be to down when you are low” adalah nasehat bijak yang pernah saya dengar yang mungkin belum pernah didengar oleh He Hanbin itu. “Jangan terlalu merasa senang jika anda sedang berada di atas (memperoleh keberuntungan), sebaliknya jangan terlalu merasa sedih jika anda sedang berada di bawah (kurang beruntung atau tertimpa musibah)”..

Dan ternyata…pasangan ganda China Yu Yang/He Hanbin dapat dikalahkan oleh Nova Widiyanto/Liliana Natsir dengan rubber set. Pasangan Nova/Liliana yang lebih “low profile” ternyata diberi rejeki masuk Final Olimpiade Beijing 2008 dan setidaknya bakalan memperoleh medali perak, yang hal ini saja sudah memecahkan rekor karena sebelumnya pasangan ganda Indonesia hanya memperoleh medali perunggu saja…

Jadi, pertanyaan semula, “Apakah Tuhan turut campur di Badminton ?”.

Jawabannya : “Ya !”..

[Catatan : Thomas Cup 1969 kalau tidak salah, semua kyai, pendeta, pastur, pedanda, dan biksu dikumpulkan untuk berdoa di RRI demi kesuksesan team Thomas Cup kita dan ternyata team kita kalah dan terjadi peristiwa “Herbert Scheele” di Istora Senayan….]

Previous Older Entries