Mengantar anak pindahan

Anak saya yang kecil baru saja lulus ujian TA di sebuah institut di Bandung. Makanya hari Minggu kemarin ini saya, isteri saya, dan anak saya yang sulung segera meluncur ke kota Bandung. Kami berangkat pakai mobil jam 8.30 pagi dan sampai ke tempat rendesvouz di Sabuga satu jam 45 menit kemudian. Ternyata anak saya masih enak-enakan tidur di tempat kostnya di bilangan Tugas Ismail…

Beberapa menit kemudian setelah terjebak macet di Simpang Dago, anak saya muncul di Sabuga. Kamipun meluncur pakai mobil. “Tempat kost saya kalau naik angkot turunnya di Tubagus Ismail, tapi kalau pakai mobil masuknya lewat DU (Dipati Ukur) lalu belok kiri ke Sekeloa Raya”. Bandung kota kecil, dan kebetulan kami tidak berada di kawasan macet (Dago Ujung Selatan atau Pasteur), jadi 10 menit kemudian kami sudah sampai ke tempat kost anak…

Mobilpun saya buka, lalu isteri saya dan kedua anak saya ngangkuti barang-barang dari tempat kost. Kebanyakan baju-baju, tapi ada juga meja kecil (!!), CPU desktop, keyboard desktop, laptop, buku-buku, pompa aqua gallon (untung aqua gallon-nya setelah saya bujuk mau ditinggal di bibi tempat kost), kitchen utensil (piring, sendok, garpu, gelas). Tidak lupa pula boneka, tikar, dan yang paling saya nggak ngerti : tempat sampah ternyata ada juga !!!

Masyak ampun ! Barang-barang itu pelan-pelan menggunung di bagasi mobil kecil kami yang volumenya nggak sampai 2 meter kubik, mungkin cuman 1,5 meter kubik. Tentu saja saya nggak nyangka barangnya bakal sebanyak itu. Tahu barang-barangnya sebanyak itu, saya akan menasehatinya untuk membagi-bagi barang kepada teman-temannya, terutama mahasiswa baru. Pasti akan sangat berguna !

Tahun 1986 yang lalu sewaktu guru bahasa Inggris saya di American Language Training (ALT) Cideng mau pindah ke Malaysia, yaitu Dave dan Elizabeth Kupper-Herr, sebelum meninggalkan Indonesia kami murid-muridnya diminta untuk berkumpul di ruang kelas. Kemudian mereka berdua menumpuk beberapa jenis barang di atas meja. Saya lihat ada Kamus Tebal (American English Dictionary), novel-novel, buku teks dan yang lainnya. Semua muridnya ada 20 dan merekapun meminta kami masing-masing mengambil selembar kertas kecil yang digulung macam arisan di RT, yang di dalamnya ada angka 1 sampai 20.

Lalu Dave dan Elisabeth-pun mempersilahkan teman yang punya nomor terkecil untuk maju ke depan dan mengambil apa item yang paling diminatinya. Yah semacam “smallest number first” rule lah ! Si Gono yang dapat nomor 1 akhirnya mengambil kamus yang tebalnya 3000 halaman. Lalu ada Susi, Euis, Sigit, dan seterusnya dan seterusnya…dan sampailah giliran saya yang memegang nomor 17 untuk memilih. Yang tersisa tinggal 4 item lagi, yaitu untuk teman yang bernomor 17, 18, 19 dan 20. Saya akhirnya mengambil novel yang berjudul “Sinister Twilight : The Fall of Singapore in World War II”. Ternyata itu novel sejarah yang sangat menarik, dan karena di tahun 1992-1993 saya pernah tinggal lama di Singapore maka daerah-daerah yang disebutkan di novel itu sudah saya kenal betul. Alhamdulillah, buku novel kecil berwarna kuning itu sampai sekarang masih ada dan sesekali masih saya baca…

Meniru sistem pembagian hadiah yang diprakarsai oleh Dave dan Elisabeth, sayapun sebelum meninggalkan Bloomington di bulan Desember 1989 yang dingin (suhu di luar minus 40 Celcius !), memanggil teman-teman akrab ke kamar saya. Jumlahnya ada sekitar 15 orang, dan beberapa di antaranya cewek yang masih akan belajar di sini 1 atau 2 semester lagi. Sayapun membagi “nomor arisan” untuk mereka ambil satu demi satu. Barang-barang yang saya taruh di atas tempat tidur berkisar dari setrika listrik, kompor listrik, water jug (teko), tv 12 inch hitam putih, radio kecil, jam weker kecil, setumpuk majalah Time, setumpuk majalah Newsweek, lebih dari setumpuk majalah Playboy, dan lebih dari setumpuk majalah Penthouse, dan beberapa majalah “serem” lainnya (beberapa di antara saya dapat warisan dari teman2 terdahulu, bukan beli sendiri)…

Akhirnya yang cewek-cewek banyak yang ngambil peralatan elektronik, sedangkan yang cowok lebih suka ke majalah-majalah dan baju-baju hangat (jaket musim dingin). Saya senang karena kamar menjadi bersih, dan merekapun senang karena dapat mewarisi barang-barang saya yang barangkali masih bisa dipakai beberapa semester lagi. TV hitam putih 12 inch itu konon sudah 5 kali berpindah tangan !!!

Andaikan anak saya menuruti cara saya membagi barang-barang mahasiswa yang masih bisa “diwariskan” ke teman-teman mahasiswanya, terutama mahasiswa baru, tentu banyak orang tua mahasiswa yang bisa menghemat karena tidak perlu membelikan anaknya peralatan rumah tangga seperti piring, sendok, garpu dan gelas…

“Ya kamu dulu di Amerika, barang-barangmu kan tidak bisa dibawa ke Indonesia. Lha ini kan dari Bandung-Jakarta dan barang-barangnya bisa dibawa dengan mobil, jadi buat apa ditinggal ?”, begitu alasan isteri saya..

Tapi maksud saya bukan itu ! Sharing, giving, empathy,…itulah nilai-nilai yang perlu saya wariskan….

21 Comments (+add yours?)

  1. Agung
    Aug 04, 2008 @ 15:05:19

    hahahahhhaa…!!
    bener tuh Pak.
    mending diwarisin.
    bukannya apa2,kalo mobil yg agak rendah agak riskan kalo muatannya terlalu banyak.
    besar kemungkinan “ngengser” wkt jalan dan bisa jadi terjadi pecah ban.
    hehehehehhee…!!

    yah,kalo “sayang” karena “berharga” mending dijual di pasar loak ato di BABE.
    Mbak Ditta pasti tau tuh BABE.
    hehehehehhee…!!!

    nitip ucapan selamat yah Pak buat Mbak Ditta.
    hahahahhahaha…!!
    aduh,saya kpn yah lulusnya?!?!?
    oo..iya Pak,
    IPK 3,2 uda cukup sexy blom yah?!?!?
    hehehehehhe…!!!

    Reply

  2. yulism
    Aug 04, 2008 @ 22:24:46

    Bener Pak Tri,
    Dari pengalaman saya, pertama datang ke kost cuman bawa baju, eh setelah lulus kuliah banyak banget yang sudah saya timbun. Waktu pindah dari kost di Malang ke Surabaya saya juga bawa semua barang saya gitu Pak Tri, tapi waktu pindah dari Indo ke Canada saya bagi semua ke keluarga mulai dari TV, Lemari, tempat tidur dll. Seperti kata Ibu Tri, karena saya ngak bisa bawa. Terima kasih.

    Reply

  3. tridjoko
    Aug 05, 2008 @ 10:07:15

    –> Agung :

    Lha justru di situlah pertimbangan saya, nanti mobil saya yang sudah kecil, pendek (ceper), bisa tambah ceper lagi jika ditimbuni barang-barang seberat 300 kg macam kayak gitu…

    Apalagi anak saya kostnya di pinggir jalan besar, tapi kalau bawa mobil justru lewat gang-gang selebar 1 mobil yang banyak polisi tidurnya. Jadi, dikit-dikit…gressss…greessss… shockbreakernya nyangkut ke polisi tidur…

    Terima kasih ucapan selamatnya untuk Ditta, nanti saya sampaikan. Anda kan angkatan 2010, berarti setahun lagi sudah lulus dong ? Jadi tahun 2011 bisa menuju Belgium….hahahaha…

    Reply

  4. tridjoko
    Aug 05, 2008 @ 10:12:06

    –> Mbak Yulis :

    Weleh..weleh..weleh..ternyata pengalaman mbak Yulis sama dengan pengalaman anak saya Ditta. Ya sebenarnya kalau bisa dan kalau mau, tinggal aja beberapa barang yang ada ke saudara, tetangga, atau teman. Jangan dibawa semua ! Dengan alasan : supaya ringkes, supaya menjaga silaturahmi dengan teman, dan supaya kalau pergi nggak kebebanan lagi gitu….

    Eh..mbak Yulis, saya baca di Internet ternyata di kota tempat mbak Yulis tinggal – Colorado Springs – itu ternyata headquarter-nya ITTF (International Table Tennis Federation) dan bahkan sebagai pusat latihan tim tennis meja nasional bagi US. Bahkan national coach-nya ada 2 lho. Wah asyik dong mbak, bisa ngintip kecanggihan permainan pingpong mereka…

    Reply

  5. Agung
    Aug 05, 2008 @ 14:42:35

    iyah.
    saya pernah tuh shockbreaker nyangkut di polisi tidur.
    tp ga parah2 amat sih.
    msh bisa dipaksain.
    hehehehehhe…!!
    kalo itu sih msh gpp Pak.
    tktnya pas kenceng di jalan tol,tiba2.. DUARR..!!
    kan bahaya bgt.
    saya pernah kejadian di tol cikampek (sadang),
    mobil yg pas di dpn saya bannya pecah.
    untung saya sigap banting setir ke kiri.
    dan kebetulan jg di kiri lg kosong.
    hehehehehehe…!!!

    AMIN PAK…!!!
    mudah2an saya thn 2010 lulus dan thn 2011 lgs ke Belgium.
    hahahahahahha…!!!
    tahun dpn saya msh hrs SP lagi.
    hahahahahahhaa…!!

    Reply

  6. tridjoko
    Aug 05, 2008 @ 15:52:35

    –>Agung :

    SP lagi SP lagi…apa nggak bosen tuh ?

    Reply

  7. Agung
    Aug 05, 2008 @ 19:42:18

    kan baru kali ini saya SP.
    paling ama tahun dpn.
    hehehehehhe..!!!
    demi ke”sexy”an IPK Pak.
    apa pun hrs dilakukan.
    hehehehehhehe…!!!
    yg penting thn 2011 saya go international.
    hahahahhahaa..!!

    Reply

  8. tridjoko
    Aug 05, 2008 @ 23:38:51

    –> Agung :

    IPK 3.00 sebenarnya sudah sexy, tapi IPK 3.25 sexier, dan IPK 3.50 atau lebih itu sudah sexiest (kalau di Amerika sudah disebut “Honor student” atau kalau di universitas lainnya di Indonesia selain Binus disebut “cum laude”)…

    Kalau belajar di luar negeri, biasanya orang Indonesia sudah ngaku kalah duluan sama orang dari negara-negara lainnya. Kalau sama mahasiswa ASEAN (Singapore, Malaysia, Philipines, Thailand) posisi mahasiswa Indonesia sudah sama lah (sama pinternya, atau sama bodonya)…

    Tapi kalau di kelas anda ada orang dari China, Taiwan, Korea, Jepang apalagi India, siap-siap saja nilai anda maksimal B !!! Padahal sebagai graduate student nilai anda minimal haruslah B. Bagi mahasiswa Indonesia untuk dapat nilai A rasanya susah sekali. Alasannya : kemampuan bahasa kurang, kemauan kurang (sudah cukup puas, atau mudah merasa paling hebat), disiplin kurang (suka lupa ngerjain tugas), dan me-manage waktu payah (senengnya “procastrinate” atau mengulur-ulur waktu untuk ngerjain PR, model “ntar sok” lah….ntar deh, besok deh)….

    Jadi hati-hati ya nanti di LN….

    Reply

  9. Agung
    Aug 06, 2008 @ 10:16:46

    iyah.
    abis SP algo ini IPK saya kira2 3,2an.
    hehehehehhe…!!
    kalo 3,25 sih msh sanggup lah.
    tp kalo 3,5
    aduh2…!!! bukan tipe saya kalo cummlaude.
    say lebih suka jadi anak underground yg nantinya jadi miliuner.
    hahahahahahahaha….!!!

    iyah,
    bnr Pak.
    anak indo byk yg ugal2an di luar negeri.
    saking bapaknya tajir banget di indo,
    di aussie n du amrik tuh biasanya,gayanya uda kyk anaknya Bill Gates.
    hahahahahahha…!!!
    semoga sih saya ngga ugal2an Pak.
    kalo di Binus ini,karena saya agak terpaksa,
    jadi saya pun ngrasa emank ga bs semaksimal kalo saya emank bnr2 niat msk Binus.
    kalo ke Belgium kan saya emank niat sejak lebih dr 1 thn yg lalu.
    uda bulet tekadnya.
    dan pengorbanan saya pasti byk buat ke sana.
    sekali lagi mudah2an saya bisa maksimal di sana.
    hehehehehehe…!!!
    thx Sir.
    saya akan selalu ingat pesan Bapak yg di atas.
    hehehehhehe…!!

    Reply

  10. edratna
    Aug 06, 2008 @ 18:51:05

    Anak saya saat pindahan dari Yogya, hanya bawa buku, tempat tidur, lemari dll semua diwariskan kepada teman. Terus saat dari Brisbane, juga cuma baju yang dipakai, buku-buku dibawa semua…tapi barang-barang lain, termasuk baju sepatu diwariskan…dan induk semangnya senang sekali dapat baju hangat made in Bandung, dan hem batik…

    Saat saya lulus dan pindah dari asrama putri, mewariskan pot kaktus sekitar 60 an pot……dan hanya bawa koper aja.

    Reply

  11. Prihadi Setyo Darmanto
    Aug 06, 2008 @ 20:19:38

    Selamat Yon semoga putrinya sukses selalu. Salam,
    PSD

    Reply

  12. tridjoko
    Aug 06, 2008 @ 21:24:33

    –> Bu Edratna :

    Ya seperti putra Ibu itu yang benar, sebagian benda-benda yang berat dan kurang begitu penting diwariskan ke teman-teman dan yang dibawa cuman buku-buku dan the most essentials…

    Reply

  13. tridjoko
    Aug 06, 2008 @ 21:27:30

    –> Prihadi S.D. :

    O ya makasih ya ucapannya. Sorry belum sempat ke Ciangsana di kantormu sesuai janjiku. Maklum masih sibuk terus. Tahun ini ada 3 keponakanku dan anakku yang menikah (anak mbak Enny, anak mbak Endang, anak mbak Bien, dan anak saya sendiri). Jadi sibuk kesana-kesini jadi panitia pernikahan…

    Selain itu, sebagai Ketua RT saya banyak mengawal pertandingan-pertandingan olahraga di RW saya…

    Nanti deh kalau sudah luang waktunya, saya cari ke kantormu di Ciangsana ya….

    Salam untuk keluarga….

    Reply

  14. Oemar Bakrie
    Aug 07, 2008 @ 22:29:15

    Selamat atas kelulusan putri-nya ya Pak, semoga sukses selalu …

    Reply

  15. tridjoko
    Aug 07, 2008 @ 22:48:03

    –> Oemar Bakrie :

    Matur nuwun Pak Grandis, lan matur nuwun ugi atas bantuannya mengasuh anak saya selama ini…

    Kapan Pak kondur ke Madiun ?

    Saya hampir 2 bulan sekali pulang ke Madiun, karena membantu project IT di sebuah BUMN di Madiun. Sekalian nyekar, pak…

    Reply

  16. Oemar Bakrie
    Aug 07, 2008 @ 23:13:59

    Saya sudah jarang ke Madiun karena orang-tua sudah pindah ke Bandung/Cimahi sejak pensiun tahun 90-an. Kecuali kalau ada acara keluarga karena keluarga ibu saya masih banyak yg di Madiun.

    Reply

  17. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 05:40:59

    –> Pak Grandis :

    Tapi kalau melihat nama Bapak yang berasal dari “Tectona grandis”….jangan-jangan orang tua Bapak dulu di Kehutanan ya Pak ?

    Reply

  18. Oemar Bakrie
    Aug 08, 2008 @ 11:12:23

    Iya Pak, Bapak saya tugas di Perhutani Madiun (jangan2 we’re connected one way or another ya Pak ?) makanya waktu saya lahir dikasih nama yg berhubungan dengan tugasnya se-hari2, sempat pindah ke Surabaya 6 tahun lalu kembali ke Madiun lagi (Pusat Pendidikan Kehutanan)saat saya SMA. Waktu pensiun pulang kampung karena Bapak saya orang jawa barat …

    Reply

  19. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 21:14:03

    –> Pak Grandis :

    Iya kan, saya tahu ayah Bapak bekerja di Kehutanan. Soalnya saya lulusan IPB dan dulu sewaktu masih di TPB inginnya melanjutkan ke jurusan Kehutanan tapi last minute saya ubah ke Statistika…

    Mengenai kompleks SKMA (Sekolah Kehutanan Menengah Atas), itu cukup dekat dengan tempat tinggal saya yang berada di sebelah selatan stadion Madiun. Jadi sejak kecil saya sering bersepeda keliling kompleks SKMA itu. Sewaktu SMA, banyak teman saya yang rumahnya di komplek SKMA itu…

    Jadi kompleks SKMA itu sudah lama saya “ubek-ubek” pak…

    Reply

  20. simbah
    Aug 14, 2008 @ 15:04:24

    Jangan anggap enteng Camry-un…diwartakan majalah ‘AB’ nomor 135, harga second mobil Suzuki Karimun naik sekitar rp.5 jt, menyusul kenaikan BBM jadi rp.6000…So beruntunglah yang miara Camry-un….

    Reply

  21. tridjoko
    Aug 14, 2008 @ 16:06:30

    –> Simbah :

    Iya nih, jelang Puasa dan Lebaran harga mobil bekaspun merangkak naik. Sidekick sudah ditawar tetangga Rp 50 jeti tidak dikasih, ternyata di internet dan Pos Kota harga pasaran Sidekick 1997 berkisar antara Rp 63 – 75 jeti (naik Rp 13 juta lebih)…

    Harga Camry-un tambah fenomenal lagi, kalau nggak salah harga rata-rata Camry-un 2001 masih Rp 65 jeti…kalau masih bisa ngibrit secepat 140 km/jam pasti lebih mahal lagi ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: