Kebiasaan memberi tip

Anda sering makan di restoran ? Fast food atau slow food restaurant ? Pernahkan anda memberi tip kepada pelayan restoran ?

Kebetulan sekolah pascasarjana saya di bidang ilmu komputer saya jalani di negerinya Paman Sam. Di sana boleh dibilang “negeri tip”, mau makan di restoran harus kasih tip, naik taksi yang rame-rame dengan orang lain harus ngasih tip, bahkan cukur rambut di barber shop sambil ngobrol sulitnya berburu kalkun (turkey) juga harus memberi tip…

Di negeri Paman Sam itu, bagaimana kalau kita lupa atau tidak mau memberi tip ? Kita bakalan dianggap orang dari negeri tak berbudaya yang hidupnya masih di atas pohon dan makannya telur ayam yang sudah ada anak ayamnya !

Pas saya dulu mengikuti kursus bahasa Inggris di American Language Training (ALT) Jalan Cideng yang dekat dengan Mon Ami toko kue yang enak itu, selain belajar bahasa Inggris juga guru-guru bahasa Inggris saya baik yang native maupun yang lokal, selalu memberi tip-tip bagaimana hidup secara berbudaya di negeri Paman Sam…

Salah satunya adalah pemberian tip kepada setiap “jasa” yang pernah kita terima dari orang lain. Mengapa ? Karena gaji tetap mereka per jam tidak seberapa, mungkin sekitar USD 5 – USD 15 per jam, sehingga pendapatan mereka yang banyak justru dari tip itu. Dan kelihatannya semua orang setuju tanpa mengeluh..

Seorang teman bule Amerika saya di meja makan asrama saya memberi tip yang lebih jitu, “Tri (dia ngucapinnya seperti “trai”), kalau anda pergi ke restaurant yang full service (alias slow food), berilah tip kepada waiternya sebesar 15%. Tapi kalau anda masih student, it’s ok ngasih tip cuman 10%”. Saya manggut-manggut saja, toh duwit dikirim oleh Pak Wardiman Djojonegoro (Deputi Administrasi di BPPT, kemudian menjadi Mendikbud) dan saya nggak mbayar sekolah sendiri…

Maka sejak itu, setiap saya makan di full service restaurant seperti Hunan, Wok, atau Nick’s English Hut, saya selalu memberi tip kurang lebih 10%. Misalnya kami berempat makan habis USD 80, maka di atas meja sebelum kami pergi kami selalu memberi tip sekitar USD 8.

Pada suatu hari, kami berempat bertamasya ke kota yang jauh lebih besar dan glamour, Chicago, yang jaraknya sekitar 4 jam perjalanan dari Bloomington kota saya, yang juga melewati kota kelahiran Michael Jackson dan saudara-saudaranya yaitu Gary, Indiana. Kami sering rendezvouz (eh..tulisannya bener nggak mas Adhiguna ?) di Seven Treasurer Restaurant, sebuah chinese food restaurant favorite orang-orang Indonesia se  midwest (Ohio, Indiana, Michigan, Iowa, Illinois, dan Minnesota). Pas kita pulang di atas meja kita berikan tip USD 4 atau 10% dari jumlah bill makanan kita berupa bakso dan mie. Pelayan restaurant yang dari China langsung memberi hormat ala kungfu ke arah kita. Besoknya, kita mampir lagi ke restaurant itu dan kita disambut dengan senyum lebar dan sekali lagi – salam kungfu – dari si pelayan restaurant yang mukanya lebih lucu dari Jacky Chan itu… Iya kan, tip works ! Kita beri tip, dia beri hormat kepada kita, dan kita dilayani bagai raja !

Rupanya di negeri Paman Sam tidak hanya full service restaurant yang suka kita beri tip pelayannya. Saya diingatkan oleh teman-teman orang Indonesia di Bloomington bahwa kalau naik taksi, walaupun share dengan beberapa orang lainnya, seharusnya kita beri tip sekitar 10%. Nah, begitulah, kota Bloomington yang lebih kecil daripada Jakarta Selatan itu kalau saya jelajahi pakai taksi dari ujung ke ujung paling cuman $ 5 saja tarip taksinya, makanya saya bayarnya $ 5 plus 10% jadi $ 5.50. Tanpa bilang “Here’s your tips”,,,tapi cukup “Thanks !”…

Begitu pula kalau saya cukur di barber shop yang ada di kompleks Indiana Memorial Union (IMU) semacam PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswanya) Indiana University itu, saya harus appointment lebih dulu dengan menelpon dari rumah (HP waktu itu belum ada). Pada jam yang ditentukan, kita masuk ke barber shop, say “Hi”, dan ambil duduk kalau sedang ngantri. Kalau nggak, ya tinggal kita nangkring di kursi barber shopnya. Lalu kita bilang, “Just trim it all over” alias “Tolong dirapikan deh”. Dan si barber akan menjawab, “No problem !”. Maka selama 7-10 menit si barber bekerja daripada bengong, saya selalu membuka percakapan dengan nasib tim basketball Indiana Hoosiers (Hoosiers adalah julukan dari Indiana University, dari kata “Who is here ?”), atau nasib tim (American) football Indiana Hoosiers, atau asyiknya berburu atau memancing. “What is the animal that is the hardest when we hunt em ?”, tanya saya. Dia bilang “turkey”. “Why”, tanya saya. “Because turkey is very sensitive animal. You have to be behind the air flow when you hunt em so the turkey won’t smell your wherebeing”. “Besides, you have to wear camouflage, all over your body, from toe to hair. You have to wear camouflage gun, camouflage shoes, and camouflage hat”. Wow…cerita yang menarik. Di akhir cukur, ketika rambut saya sudah serapi rambutnya Tom Cruise, saya bayar dia $ 8 ongkos cukur plus 10% tip. Tapi saya genepin bayar $ 9. “Thanks buddy !”, kata saya sambil menepuk pundaknya. “Don’t mention it. Come back some time”, katanya….

Nah, barusan tadi malam saya makan di restoran Kosi di sebuah mal dekat tempat tinggal saya (nama restoran sengaja disamarkan, soalnya restoran tersebut belum “bayar iklan” ke pemilik blog ini….hehehehe). Saya, isteri saya, dan anak saya. Makannya 2 mie ayam bakso pangsit, 1 prawn capcay, 3 teh manis hangat, 1 capuccino hangat, 1 kosi salad, dan 1 pancake ice cream, total billnya Rp 81.000. Saya panggil mbak si waiter dan minta dibayarin ke kasir dengan uang Rp 100.000. Dia mengembalikan nampan kecil dengan kembalian Rp 19.000, yang Rp 13.000 saya ambil dan saya beri tip Rp 6.000. Mungkin terlalu sedikit dibandingkan tip di negeri Paman Sam sana. Tapi saya lihat semua waiters yang melirik uang di atas nampan kecil pada tersenyum dan semua mengucapkan “Terima kasih” ketika kami sekeluarga meninggalkan restoran itu…

Begitu pula kalau saya pergi ke Pizza Hut yang bisa dianggap full service restaurant, saya selalu memberi tip. Tapi kalau fast food restaurant macam KFC, Burger King, Mc D, tentu tidak perlu ngasih tip. Begitu juga kalau makan nasi pecel di Pecel Pojok di kota kecil saya Madiun, saya nggak perlu ngasih tip. Cukup mengucapkan, “Matur kesuwun nggih Bu” keras-keras…dan efeknya sama dengan memberikan tip, karena si Ibu dan pembantunya akan menjawab dengan keras pula :

“Monggo !”..

Bagaimana kebiasaan anda memberi tip ? Cerita dong…

24 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Aug 08, 2008 @ 00:16:43

    Benar sekali Pak Tri,
    Ketika saya masih hidup di Toronto, kebudayaan memberi Tips tidak se mandatory di US. Jadi kalo saya ama suami lagi jalan trus makan suami yang waktu itu masih tungangan selalu kasih tips seperti di US wah waiter itu selalu ingat kita. Setiap kita datang dia selalu melayani kami, bahkan suatu saat suami saya membelikan cocktail buat seorang tamu ( kita juga tidak kenal) yg sedang merakan ultah disebelah meja kami, eh Waiter langganan kami malah memberi kami 2 potong tiramisu dan 2 cups cappucino gratis, ketika saya tanya dia bilang karena kita sangat sabar dengan pelayanan yang sedikit lambat karena adanya pesta ultah tersebut. Dan satu lagi kita juga dapat kue ultah gratis dari mereka he hehe. Nama Restorannya Big papa’s di perempatan Royal York.

    Trus setelah saya hidup di US suami memberikan saya suatu pedoman, rata rata tips 15% tetapi kalau pelayanannya tidak menyenangkan 10% (wah kalo bisa sih saya mo ngak ngasih tapi suami selalu bilang kasih) Trus kalo pelayanannya sangat menyenangkan dia bilang kasih 20%. Yah begitulah kira kira. Pengalaman Saya. Terima kasih

    Reply

  2. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 05:38:59

    –> Mbak Yulis :

    Wah….”tips about tips” yang sangat mengagumkan : 10% kalau kurang memuaskan, 15% kalau memuaskan, dan 20% sangat memuaskan…

    Dengan memberi tip kita seolah kehilangan uang, tapi sebagai gantinya kita akan menganggap diri kita orang yang sangat berbudaya…..hahaha…..

    Sayang saya nggak pernah nyeberang ke Canada mbak Yulis. Kalau di Bloomington saljunya saja sudah sedengkul, bagaimana kalau nyeberang ke Canada bisa-bisa saljunya seleher ????

    Makanya teman2 kalau ke Niagara Falls atau ke Canada selalu pada musim panas. Tapi bepergian di musim panas juga sedikit menakutkan karena….sedikit sekali gals dan chicks yang pakai baju……hik..hik..hik… 😉

    Reply

  3. yulism
    Aug 08, 2008 @ 08:55:35

    Memang sih Pak Saljunya sedengkul juga, tapi menurut saya kalau Ontario tidak terlalu berbeda dibanding dengan kota di US seperti New York atau York state. Karena Ontario adalah provinsi tepanas di Canada apa lagi ada kota yang hanya dibatasi sungai dengan Michigan Windsor namanya panas Pak Tri. Jadi kemarin disana sekitar tahun 2006 waktu temen pulang ke Indo dia pingin punya photo disekitar salju malah ndak kesampaian karena ngak ada salju sama sekali waktu itu sekitar bulan Januari. Tapi kalau Canadanya Manitoba, New Foundland, Sascwan dan Quibec musim fallnya aja dah dingin kaya Winter.

    Reply

  4. Agung
    Aug 08, 2008 @ 09:18:18

    kalo di restoran yg full service emank uda kebiasaan keluarga saya ksh tip.
    yah,minimal Rp 5000 lah.
    tapi kalo saya pikir2,
    beberapa resto di indo ud ada service chargenya lho 5-10%,
    di luar tax yg 10% itu.

    tapi kalo potong rambut di salon,
    saya belom terbiasa ksh tip ke hairdressernya.
    hehehehehhe…!!
    ga tau deh knp.
    abis saya pikir kalo potong rambut di salon ampe 30-40rb.
    masa perlu ksh tip??
    hahahahhaha..!!
    kalo mao ksh tip ga cm yg guntingin doank donk,yg nyuciin rambut saya??
    hehehehhehe…!!

    saya punya pengalaman wkt di Hong Kong.
    di satu WC di Mall gt.
    pertama masuk ada “ngkoh2″ yg tampangnya mirip master kung fu aliran selatan.
    hahahahahha..!!
    sangar banget.
    dan dia tuh kyk petugas pembersih WC gt.
    dan di wastafel ada wajan stainless isinya duit.
    wkt itu saya br 10thn.
    pas masuk saya belom liat wajan itu.
    dan si ngkoh2 itu serem gt liatin saya.
    mana yg di wc cm saya sendiri lg.
    hahahahahhahahaha…!!
    dan abis pee,saya jalan menuju wastafel,dan baru lah saya liat wajan duit itu.
    saya lupa taruh uang berapa ke wajan itu,HK$ 1 mungkin.
    dan setelah taruh duit saya lgs cuci tangan.
    dan wajah ngkoh2 itu lgs berubah dramatis.
    lgs penuh senyum ke saya,
    abis cuci tangan saya diambilkan tisiu dan pas mao keluar dibukain pintunya dgn senyum ramah.
    sambil bilang,”Xie xie, xiao ye”
    wahhhh…!!
    uda kyk mesin2 timezone,
    diksh koin baru ada reaksinya.
    hahahahhahahahaha…!!

    Reply

  5. di2xt
    Aug 08, 2008 @ 10:34:20

    kalo abiz serpis rutin motor di AHASS sumir city (jatiwarna ngejogrok sono dikit), biasanya saya kasiy tip ke mekaniknya…
    n kayanya disana pelanggannya dha tbiasa gtu, dari situ d jadi ikut2an…

    palagi serpisna emg bagus, ramah, plus dapet sebotol tekita, kata urang bule namenye “prime services” kali yaxs

    Reply

  6. adhiguna
    Aug 08, 2008 @ 13:45:13

    Sama di Perancis juga kita kasi tips pak,tapi nggak banyak.

    Sebenernya orang sini agak pelit kalau masalah duit,makanya kalau kita kasih tips 10% aja mereka dah seneng banget.

    Reply

  7. ayodya
    Aug 08, 2008 @ 18:23:46

    wah Om, waktu aku sekeluarga ke jepang nengokin kakak dan istrinya, sering bapakku mau kasih tip tapi malah ditolak..

    kata mas Ditto, di jepang emang ga ada budaya ngasih tip, karena menurut mereka melayani customer sebaik-baiknya memang uda kewajiban, jadi ga perlu dikasih tip.
    makanya katanya turis jepang terkenal pelit2 karna ga pernah ngasih tip, padahal memang budayanya begitu, hehehe..

    Reply

  8. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 20:20:00

    –> Mbak Yulis :

    Wah..makasih infonya tentang suhu di Canada, soalnya ada anggapan semakin ke utara letaknya dibandingkan kota saya Bloomington, pasti semakin tebal saljunya. Rumus ini sempat berlaku di US. Di Bloomington saljunya sedengkul, nah kalau ke utara ke Madison (University of Wisconsin) saljunya bisa jadi sepaha. Nah, saya kira lebih ke utara dari Wisconsin…pasti saljunya seleher ! Wah..ternyata nggak ya mbak…

    Masalah kota di Canada tidak ada salju, jangan-jangan itu gara-gara global warming yang mengacukan suhu. Di Bloomington bulan Juni kadang masih turun salju. Begitu pula minggu ketiga Oktober yang mestinya masih Fall, ternyata sudah turun salju…sehingga gagallah acara foto-fotoan berlatar belakang daun-daun pohon maple yang sudah berubah warna ke kuning, orange, dan coklat…

    Reply

  9. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 20:26:17

    –> Agung :

    Wah..saya juga baru ingat ya kalau di beberapa restoran tertentu sudah dikenai “service charge”, “sales tax” dsb yang biasa disebut ++. Tapi itu tidak menghentikan ngasih tip lho, karena seperti dibilang mbak Yulis ngasih tip itu sebagai tanda apakah kita puas atau tidak dengan pelayanan mereka…semakin puas, tipnya semakin banyak…

    Wow..Hong Kong memang kota yang serem !!! Banyak triad (mafia), banyak film kategori III (XXX) dan orangnya wajahnya sangar-sangar. Amat sangat kontras dengan Singapore yang sangat bersih, rapi, dan teratur. Mana ada di Singapore orang nongkrongin orang lain buang hajat di WC. Orang kita lupa nge-flush toilet aja bisa kena denda Sin $ 150 !

    Tapi, maksud ngasih tip bukanlah untuk membuat orang tersenyum…he..he..he…

    Reply

  10. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 20:28:19

    –> Di2xt :

    Sama dong, kalau saya lagi ngebengkelin Yamaha Mio saya, saya selalu kasih tip ya barang Rp 5000 di bengkel resmi Yamaha. Enaknya, lain kali kita datang ke situ, sambutan mereka bagaikan raja…Murah kan dengan RP 5000 sudah mengubah kita dari nobody menjadi somebody !

    Reply

  11. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 20:31:50

    –> Mas Adhiguna :

    Wah..makasih infonya tentang kebiasaan memberi tip di Perancis. Kalau masalah pelit, semua orang di dunia ini kecenderungannya begitu mas… Soalnya duwit kan emang sulit dicari…

    Kalau ngasih tip 10% waiter di Perancis sudah senang, wah..berarti nggak perlu ngasih tip sampai 20% seperti yang disarankan suami mbak Yulis di US dan Canada. Kalau di Perancis Mas Adhiguna ngasih tip ke waiter sebanyak 20%, bisa-bisa si waiter yang maniz itu bakalan berlutut di depan Mas Adhi dan bilang, “Will you marry me ?”,,,dalam bahasa Perancis tentunya !

    Reply

  12. tridjoko
    Aug 08, 2008 @ 20:37:32

    –> Ayodya :

    Wah..masalah keliling dunia menjalahi daerah-daerah yang belum terjamah saya kalah deh sama Ayodya..ha..ha..ha…

    Soalnya saya pernah ke Jepang cuman selama 8 jam itupun 7 jam saya pakai tidur pulas di hotel Nikko Narita sebelum berangkat ke US di tahun 1986 yang lalu..

    Wah..menarik tuh ada info orang/waiter Jepang menolak diberi tip. Maklum yang ngasih tip bapakmu, sambil melotot pula…(no offence Kiek, peace !)…

    Asal pelayanan waiternya sudah ok punya, nggak mau ngasih tip juga nggak apa-apa. Mungkin kalau kita benar-benar mau ngasih sesuatu kepada si waiter tentu sebaiknya tidak berupa uang, tapi berupa rokok Gudang Garam, atau sekaleng Bir Bintang, atau wayang kulit kecil. Jangan-jangan mereka jadi mau menerimanya….hehehe…

    Soalnya saya denger, itu token yang bener-bener digandrungi orang Jepun sana..

    Reply

  13. Agung
    Aug 08, 2008 @ 21:28:44

    mungkin service charge,service tax,dsb itu sengaja dibuat oleh pemilik restorant,
    supaya menanggulangi costumer yg lupa ksh tip buat pelayannya.
    hehehehehhehehe…!!!
    tp kyknya di indo sendiri blom tll membudaya deh ksh tip.
    wong,saya saja masih sering makan warteg toh Pak.
    hahahahahaha…!!

    iyah2,
    ngkoh2nya mirip ama musuhnya Jackie Chan gt deh tampangnya.
    kalo film kategori III (XXX) msh lbh banyak jepang Pak drpd Hong Kong.
    hahahahahahhaha…!!
    yah,maklum Hong Kong tll dekat ama China daratan.
    jd Inggris sendiri sulit mengaturnya dolo.
    kalo liat pusat belanjanya mah keren di Hong Kong,
    tp sll aja ada gang2 sempit yg penuh misteri.
    hahahahahhaha…!!
    saja jd pengen lg ke Hong Kong,
    mao mengexplore dunia gelapnya.
    tampang saya cukup lah buat jd mafia Hong Kong.
    hahahahahhaa…!!

    Reply

  14. tridjoko
    Aug 09, 2008 @ 06:57:19

    –> Agung :

    Mungkin itu peraturan pemerintah, sehingga “tax + service charge” jumlahnya 21% dari harga makanan yang kita makan di suatu restoran “top” yang biasanya ada di hotel-hotel..

    O ya kesimpulannya, kalau kita makan di restoran hotel yang cukup top (bintang 4 atau bintang 5) karena sudah dikenakan service charge sebesar 21%, berarti kita tidak perlu memberi tip lagi. Untuk restoran sebesar itu, gaji pelayannya sudah cukup tinggi dan biasanya mereka juga pegawai tetap. Lain dengan restoran sekitar kampus macam Wok atau Hunan, yang waiter dan waitress-nya kebanyakan mahasiswa part time, nah untuk jenis inilah yang perlu diberi tip..

    Reply

  15. Agung
    Aug 09, 2008 @ 12:05:37

    iyah2..!!
    restoran kelas bintang 3 ke bawah lah yah.
    ampe kelas melati 3 lah.
    kalo melati 1 dan 2 kan sejenis warteg.
    hehehehehhehe….!!!

    kalo di foodcourt2 gt gmn Pak??
    saya pny pengalaman,
    makan di Salsa Foodcity di gading serpong.
    kan foodcourt gt.
    karena waitress salah satu “stand” yg saya beli cantik.
    dan dia kebetulan yg melayani saya.
    saya ksh (tinggalin) tip 10rb deh.
    hehehehehehhe…!!

    Reply

  16. edratna
    Aug 10, 2008 @ 13:53:43

    Kalau dalam total harga ada service charge (selain PPN), maka kita tak perlu membayar tip.

    Reply

  17. tridjoko
    Aug 10, 2008 @ 15:59:40

    –> Agung :

    Intinya ngasih tip sih gpp. Wah…ngasih tip ama waiter cantik ? Pasti anda pergi sendiri atau rame-rame dengan temen cowok. Kalau pergi sama pacar, pasti deh disemprot sama dia atau dikatain “Pahlawan kesiangan lu !”…

    –> Bu Edratna :

    Emang rulenya gitu, kalau kita tahu di restoran itu sudah kena charge 21% berupa PPn dan service charge, maka kita tidak perlu lagi ngasih tip (tapi ngasih tip tetep boleh lho !)…Lha restoran yang mengenaikan service charge 21% gitu kan kebanyakan ada di hotel-hotel bintang 4 atau 5…..(kecuali mungkin di Nelayan, dsb yang memang papan atas)…

    Reply

  18. Agung
    Aug 10, 2008 @ 21:43:48

    hahahahaha…!!
    peginya malah sekeluarga Pak.
    saya malah bilang ke nyokap saya.
    “Ma,pelayannya cakep yah?! aku yg ksh tip deh.”
    hahahahahahahhaha…!!!
    bsk saya ke Salsa lg ahhh..
    mao mengontrol.
    sapa tau jodoh.
    hahahahahaha…!!

    Reply

  19. simbah
    Aug 14, 2008 @ 16:14:55

    Saya tahu kebiasaan memberi Tip, setelah diajak seorang bule Amrik di Batam makan di salah satu Warung Kaki Lima. Kemudian kebiasaan melihat orang-2 yang menginap di Hotel memberi Tip ke roomboy yang membawakan kopor dari Lobi ke Kamar. Juga nyelipin beberapa lembar lima ribuan di bawah bantal Kamar Hotel kalau mau check-out, buat yang ngeberesin Kamar. Mungkin ini termasuk sedekah, barangkali ya…??
    Tapi kalau di Mediyun apalagi di warung-2 sego pecel, kebiasaan itu tidak terlihat…
    Ini kebiasaan orang Amrik apa juga orang Eropah juga ya Dik Yon..?

    Reply

  20. tridjoko
    Aug 14, 2008 @ 22:56:46

    –> Simbah :

    Sebenarnya memberi tip ke pelayan warung kaki lima itu nggak begitu perlu mas, cukup ucapan terima kasih yang tulus…mereka sudah senang…

    Lha kalau buat roomboy hotel yang membawakan koper kita masuk kamar, biasanya saya kasih Rp 10.000 setelah saya minta cek ini cek itu sekedar buat basa basi. Begitu pula kalau roomboy mbantuin bawa koper kita waktu check out dan mencarikan taksi, biasanya saya juga kasih Rp 10.000….

    Tapi kalau nyelipin lima ribuan di bawah bantal, hahaha…aku belum pernah melakukan tuh… Yang pernah kulakukan yaitu menyimpan semua duwit logam pfenig (kalau nggak salah satuan duwit terkecil di Jerman) selama 2 bulan dan menaruhnya di semacam toples, nah..nanti waktu kita pulang kita tinggalin..untuk siapa lagi kalau tidak untuk pelayan kamar yang setiap hari mbersihin kamar kita…

    Di warung-warung pecel, juga nggak perlu ngasih tip mas…cukup ngucapin, “Kesuwun…Bu !”…

    Kebiasaan orang Amerika di Amerika sana memang suka memberi tip, seperti yang telah dijelasin sama mbak Yulis yang tinggal di Colorado Springs, Amerika. Sedangkan menurut penuturan Mas Adhiguna di Eropa orang sedikit pelit untuk memberi tip…bahkan untuk 10% aja (menurut penuturan mbak Yulis di Amerika 10% itu tip terkecil, 15% rata-rata dan kalau pelayanan memuaskan banget bisa ngasih 20%)….

    Mungkin itu sebabnya Amerika lebih maju daripada Eropa, karena banyak orang yang ngedoain (karena habis dikasih tip)….gitu ya logikanya ?

    Reply

  21. simbah
    Aug 17, 2008 @ 16:24:57

    Ya…ya…itu kebiasaan baik, tapi memang juga harus empan papan, maksudnya barangkali ya lihat2 dimana tempatnya…soalnya pernah juga anakku ngasih tip ke kenek angkota, malah tersinggung…’aku masih bisa kerja’….gitu jawabnya….

    Reply

  22. tutinonka
    Aug 17, 2008 @ 22:22:37

    Kalau makan di restoran yang ‘berkelas’, memang saya suka juga meninggalkan uang di nampan kecil atau di meja. Yang pasti selalu always (halah!) adalah memberi tip kepada room boy yang membawakan kopor, mengantarkan pesanan makanan/room service, dan membersihkan kamar.

    Di salon langganan saya, dulu ada beberapa tamu yang suka memberi tip kepada hairdresser yang melayaninya, tetapi sekarang ada pemberitahuan dari manajemen salon tersebut, bahwa tamu dilarangmemberi tip kepada karyawan, karena (bunyi pemberitahuan itu) akan mengganggu profesionalisme karyawan. Mungkin dikhawatirkan (atau memang sudah terjadi), karyawan yang terbiasa menerima tip dari pelanggan tertentu lalu ogah-ogahan melayani pelanggan yang lain. Atau mungkin dikhawatirkan akan menimbulkan kecemburuan di antara para karyawan.

    Memang, budaya ‘titip tip’ ini belum diterapkan di semua lini bisnis di Indonesia.

    (ngomong-ngomong, nggak ada mahasiswa ngasih tip ke dosen ya Pak? 😀 )

    Reply

  23. tridjoko
    Aug 18, 2008 @ 09:31:43

    –> Simbah :

    Ya..tentu aja, ngasih tip ke kenek pasti dia marah, tapi kalau ngasih tip ke sopir angkot Pondok Gede (misalnya harusnya Rp 2000 tapi saya kasih Rp 3000) dia diam saja, kadang mengucapkan terima kasih. Hehe..mungkin itu bedanya, kenek kalau dikasih tip masih bisa lihat kita, tapi kalau sopir dikasih tip…dia harus segera menjalankan kendaraannya dan konsentrasi ke depan….

    Reply

  24. tridjoko
    Aug 18, 2008 @ 09:38:25

    –> Bu Tutinonka :

    Trims tambahan infonya…. kalau di restoran cukup “berkelas” lalu keluar masuk hotel, itu sudah kewajiban kita kayaknya untuk ngasih tip…

    Di salon yang hairdresser-nya banyak, memang kurang bagus ngasih tip. Isteri saya sewaktu masih suka potong rambut di salon suatu mal di Cijantung selalu nunggu seorang hairdresser pria tertentu, padahal pelanggan lainnya juga nungguin hairdresser tersebut. Jadi, bisa lama tuh nunggunya. Cuman saya lupa nanya apakah ia ngasih tip atau enggak..

    Tapi Bu, kasus barber saya di barbershop kampus, dia itu single fighter atau satu-satunya barbershop yang motong rambut…makanya waktu saya ngasih tip, ya oke-oke saja tanpa masalah…

    Mahasiswa ngasih tip ke dosen ? Wah..belum pernah tuh Bu. Yang ada paling ucapan terima kasih, berupa apapun…dan inipun biasanya kita sebagai dosen pembimbing dan mahasiswa memberinya setelah ia lulus ujian skripsi. Itupun tidak semuanya…malahan akhir-akhir ini kelihatannya sudah amat sangat jarang…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: