Apakah Tuhan campur tangan di badminton ?

Menyaksikan pertandingan semifinal bulutangkis ganda campuran di Olimpiade Beijing 2008 membuat hati saya campur aduk…

Campur aduk antara senang melihat permainan-permainan indah bulutangkis kelas dunia, tapi juga ketar-ketir kalau melihat pemain Indonesia Nova Widiyanto/Liliani Natsir ketinggalan point. Selain itu juga gemes melihat perilaku pemain ganda campuran China Yu Yang/He hanbin.

Kalau si ceweknya Yu Yang sih agak sedikit kalem, tidak terlalu berlebihan, dan menurut saya justru mempunyai sikap yang positif karena ia selalu tersenyum, baik menang atau kalah, baik sedang di atas angin maupun sedang tertekan…

Tapi si cowoknya yang bernama He Hanbin itu bereaksi amat sangat berlebihan. Menurut bahasa gaulnya, bikin bete dan gemes… Sedikit-sedikit walaupun tertinggal dan smash lawan nyangkut di net, ia mengacungkan jari telunjuk tangan kiri ke atas…yang artinya ” I am No. 1″….

Saya dalam hati kurang senang dengan sifat jumawa He Hanbin itu. Biasanya orang-orang yang mempunyai sifat seperti itu akan dijauhkan dari rejeki, termasuk rejeki lolos ke putaran berikutnya di kompetisi kompetitif macam Olympiade Beijing 2008 itu…

“Don’t be too up if you are high, and don’t be to down when you are low” adalah nasehat bijak yang pernah saya dengar yang mungkin belum pernah didengar oleh He Hanbin itu. “Jangan terlalu merasa senang jika anda sedang berada di atas (memperoleh keberuntungan), sebaliknya jangan terlalu merasa sedih jika anda sedang berada di bawah (kurang beruntung atau tertimpa musibah)”..

Dan ternyata…pasangan ganda China Yu Yang/He Hanbin dapat dikalahkan oleh Nova Widiyanto/Liliana Natsir dengan rubber set. Pasangan Nova/Liliana yang lebih “low profile” ternyata diberi rejeki masuk Final Olimpiade Beijing 2008 dan setidaknya bakalan memperoleh medali perak, yang hal ini saja sudah memecahkan rekor karena sebelumnya pasangan ganda Indonesia hanya memperoleh medali perunggu saja…

Jadi, pertanyaan semula, “Apakah Tuhan turut campur di Badminton ?”.

Jawabannya : “Ya !”..

[Catatan : Thomas Cup 1969 kalau tidak salah, semua kyai, pendeta, pastur, pedanda, dan biksu dikumpulkan untuk berdoa di RRI demi kesuksesan team Thomas Cup kita dan ternyata team kita kalah dan terjadi peristiwa “Herbert Scheele” di Istora Senayan….]

Men-start Speedy yang mati

Pernah nggak telepon Telkom di rumah anda mati nggak bisa buat nelpon dan anda bingung setengah mati ? Pernahkan anda mencoba cara yang termudah untuk membuat telpon anda yang mati jadi hidup dengan cara memanggil nomor telpon rumah anda tersebut dengan handphone ?

Saya berkali-kali telah melakukannya, and it works !

Nah, sejak akhir April 2008 ini di rumah sudah dipasangai splitter telpon oleh petugas Telkom Speedy. Yang 1 saluran tetap untuk telpon rumah (PSTN), sedangkan yang 1 saluran lagi untuk nyambung ke modem ADSL yang bakalan menghidupkan Internet saya di rumah via Speedy..

Sejak akhir Juli 2008 saya juga sudah berubah status Speedy saya menjadi Unlimited, khusus untuk dosen – dengan menunjukkan SK Dirjen Dikti tentang pengangkatan saya ke jenjang jabatan dosen. Maka sayapun membayar Speedy Unlimited yang aslinya Rp 750 ribu menjadi hanya Rp 450 ribu saja per bulan, alias diskon 40%. Nah, harapannya saya akan mendapatkan SERVICE 24/7 dari Speedy, yang artinya Speedy di rumah saya akan hidup 24 jam sehari, dan 7 hari seminggu, alias nggak pernah putus kecuali listrik PLN mati.

Apa yang terjadi ? Speedy saya lebih banyak putusnya daripada nyambungnya.. Bagaimana mengetahui Speedy putus atau nyambung ? Di modem ADSL saya yang bermerk AZTECH bikinan Singapore (gratis dari Telkom Speedy) ada 4 lampu dari kiri ke kanan : Lampu 1 ada tulisan POWER, Lampu 2 ETHERNET, Lampu 3 DSL, dan Lampu 4 INTERNET…

Nah, dari keempat lampu itu, Lampu 1 Power dan Lampu 2 Ethernet selalu nyala. Ya iyalah soalnya itu kan menandakan ada arus listrik yang menghidupi modem dan ada sambungan kabel Bus alias Ethernet…

Bagaimana dengan Lampu 3 DSL ? Sering hidup sih (nyala terus tanpa putus), tapi lebih sering lagi mati atau byar pet (blinking) alias DSL-nya nyambung-kagak.

Bagaimana dengan Lampu 4 INTERNET ? Biasanya Lampu 4 ngikut saja Lampu 3. Kalau Lampu 3 nyala terus tanpa blinking, maka dipastikan Lampu 4-pun akan nyala terus. Jika Lampu 3 dan Lampu 4 nyala, maka dapat dipastikan Telkom Speedy saya akan nyala dengan sempurna. Jangan tanya kecepatan dan lebar pita bandwidth-nya berapa, soalnya saya belum masang “tools” untuk itu…

Nah, setelah sepanjang malam Internet di rumah yang dipasok oleh Speedy mati terus, pagi ini tadi saya berinisiatif berinternet lewat “cara lama” yaitu lewat Telkomnet Instant. Jika Speedy di kamar menyambungkan komputer desktop Compaq saya dengan Internet, maka di luar saya pakai laptop HP untuk menghubung ke internet…

Ajaib bin aneh bin mustahil….setelah 2 menit saya hidupkan Telkomnet, maka saya lirik lampu modem Aztech saja keempatnya hidup semua alias Internet di kamar telah hidup setelah sepanjang malam koit alias modar alias mati !

Telkomnet-pun saya matikan (a smart move, untuk menghemat rekening). Lalu saya berpindah ke kamar menuliskan “cerita” yang nggak berarti ini…

Di luar, tenda 17 Agustusan 2008 sudah terpasang sejak kemarin siang. Sebentar lagi, sebagai Pak RT saya harus “macak gajah pasang tlale” (berdandan rapi memakai dasi) karena saya harus keluar dan menyapa warga yang akan merayakan HUT Kemerdekaan RI yang ke-63 !

MEEEEEEERRDEEEEKKKAAAAA !!!