Lomba Berani ala Anak Bayi

Saya masih ingat masa-masa kecil saya di Madiun tahun 1960an dulu, ketika saya seumuran TK, sehari-hari selalu diisi dengan acara “Lomba Berani” antar teman..

Tempat tinggal saya dulu waktu kecil di Dusun Ngrowo, Desa Mojorejo, termasuk dusun yang dibagi dua antara daerah yang sudah relatif berkembang dan banyak didiami tentara, polisi, dan guru di sebelah utara, serta daerah Ngrowo lama yang amat sangat jadul dengan rumah-rumahnya yang terbuat dari campuran batu-bata dan kayu, serta atap-atap joglonya..

Kebetulan rumah tempat tinggal saya ada di sekitar daerah Ngrowo baru, yang tetangga-tetangganya kebanyakan guru, tentara dan polisi. Walaupun ada juga yang berprofesi sebagai petani, mantri suntik, wiraswasta, pegawai pabrik gula, dan juga pedagang di pasar.

Bagi saya kecil, daerah Ngrowo baru kurang menarik minat saya karena kondisinya yang sudah relatif mapan. Rumah-rumahnya baru, pagar-pagarnya tertata rapi, dan penghuninya juga punya kebiasaan pergi kerja, berdandan, dan bertutur kata yang lebih “predictable” daripada yang di Ngrowo lama..

Penduduk Ngrowo lama lebih “colorful”. Ibaratnya Ngrowo baru itu New York, dan Ngrowo lama itu Afrika yang menyimpan banyak misteri. Sewaktu saya kecil, kemajuan dunia kedokteran belum seperti sekarang ini. Namanya obat antibiotik adanya cuman penicilin yang hanya bisa melawan bakteri jenis tertentu, dan pemakaiannyapun harus disuntikkan minimal oleh seorang mantri suntik. Sedangkan obat turun panas belum ada Panadol atau Tempra atau Aspirin seperti sekarang ini. Kalau saya sakit panas, orangtua cuman pergi ke Ngrowo lama ke tempat Pak Jagabaya dan meminta satu atau dua “degan ijo” (kelapa berkulit hijau yang masih muda) lalu membawanya pulang, mencampurnya dengan 1-2 sendok madu, dan itulah yang diminumkan ke kami anak-anaknya jika sedang terserang demam… Rasanya manis campur asin, dan campur manis sekali dari rasa madunya…

Selain makan dan minum obat yang diracik sendiri dari bahan-bahan tradisional, Bapak atau Ibu selalu memberi selimut kain yang konon katanya pernah dipakai Bapak – Ibu waktu penganten dulu. “Sudah nak, sembuh ya. Ini diselimuti kain waktu Bapak dan Ibumu jadi penganten. Pasti kamu sembuh kok nak”. Ajaib, paling lama 3 hari setelah penyelimutan kain penganten itu, sakit jadi hilang…

Waktu ke Madiun kemarin, di Warung Pecel Bu Wirkabul di Jalan HOS Cokroaminoto, kami serombongan teman-teman sekantor sedang ditraktir makan pecel sekenyangnya oleh teman-teman dari perusahaan client. Bertujuh kami makan sekenyangnya dan bisa dikatakan – sudah berfoya-foya – ternyata habisnya cuman Rp 135.000 ! Padahal banyak yang “tanduk” (nambah) 2 “pincuk” (piring yang terbuat dari daun pisang yang dilipat) dengan sendok berupa “suru” (sendok yang juga terbuat dari daun pisang !)…

Seorang teman dari perusahaan client cerita bahwa jika anaknya yang berumur 4 tahun mau ditinggal bapaknya tugas ke Jakarta atau ke kota lainnya, si anak laki-laki ini pasti sakit demam. Tapi sakit demam akan hilang bila sudah digendong bapaknya, yang baru datang dari luar kota. Menurut penuturan “orang tua pintar” tetangganya, “Lha kalau gitu sebelum mas pergi ke luar kota, selimuti anaknya mas itu dengan baju mas yang sudah bekas yang sudah bau keringat”. Nasehat orang tua tetangganya itu dituruti, dan ajaib….anaknya tidak pernah demam lagi walau ditinggal tugas ke luar kota ! Cerita lainnya, ada orangtua yang selalu menaruh kain yang bekas dipakai menggendong bayi bila si bayi terus rewel menangis terus “diganggu makhluk halus” (beberapa tetangga menyamakan nangis terus dengan hal ini), kain bekas gendongan itu ditaruh di tengah pintu utama rumah, digantungkan ke sebuah paku. Biasanya si bayi akan melihat kain bekas penggendongnya ini, dan diam tenang setenang air telaga Sarangan !

Besar sedikit dari bayi, ketika saya masih TK. Pulang dari TK di daerah Ngrowo lama saya selalu berjalan kaki sekitar 1 km melalui jalan-jalan lama di tengah-tengah desa Ngrowo lama. Wah, rasanya seperti melalui via (jalan kecil dan sempit) di Roma atau minimal di Kota Gede, Yogya. Kamipun waktu kecil sangat menikmati perjalanan santai ini. Biasanya di sepanjang jalan kami selalu “adu berani”, yaitu menantang yang lainnya apakah berani melakukan sesuatu yang kadang tidak masuk akal !

Antara lain, berani menangkat ulat yang disebut “uler kluwing” yang badangnya hitam dan perutnya putih itu. Kalau ulat sudah ketangkap, biasanya dia melingkar dan membentuk huruf O. Lain kali, kami adu berani menangkap “uler geni” atau ulat yang bulunya tebal dan berwarna coklat merah menyala seperti kulit orang hutan. Biasanya, orang akan merasa gatal sehari penuh jika kena 1 bulunya saja. Tapi sebagai anak kecil yang kurang logika, ulat itu kami cengkeram, kami angkat, dan kami tiup bulunya sambil tertawa-tawa. Ajaib, kamipun tidak merasa gatal !!!

Lain kali, ada yang lebih gila lagi. Kami ditantang minum air kencing sendiri. Saya lupa, apa saya berani menerima tantangan ini. Yang jelas saya lupa rasanya ! Yang saya masih ingat adalah rasa upil yang asin-asin mirip cimol dikasih garem ini. Berarti, saya pernah ikut Lomba Korek Upil, sometime somewhere, somehow, di masa kecil dulu…….

Wow, it’s so weird !!!

8 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Aug 30, 2008 @ 03:28:32

    Eeww, Pak Tri masak lomba ngupil dimakan sih, bukannya pemenangnya yang upilnya paling banyak. ahh anak anak. Saya mempunyai cerita yang mirip saya dari kidul lorok (sungai) dan Utara sungai selalu adu berani juga. Mulai dari berkelahi di lapangan sampai selesai ujian yang paling cepat. Masa kecil aneh aneh aja. terimakasih

    Reply

  2. tridjoko
    Aug 30, 2008 @ 05:56:45

    –> Mbak Yulis :

    Wah..mbak, yang namanya anak-anak pasti aneh-aneh. Bagi yang rumahnya dekat lapangan, bagi anak laki pasti yang dilakukan adu berani “gaprakan” (beradu kaki pas di tulang keringnya), siapa yang berani menahan sakit akan menang…

    Bagi yang rumahnya pinggir sungai, ya berani-beranian berenang, atau menyelam, atau salto masuk sungai, atau mencari duwit koin yang dicemplungkan di sungai…

    “Adu mengupil” juga sering dilakukan. Malahan yang belum saya sebutkan ada “adu kentut” juga. Siapa yang suaranya paling “kung” dan paling “bau” dialah yang menang, saya pernah dikeluarkan oleh Ibu Guru di kelas 3 SD dan nilai Budi Pekerti saya merah gara-gara teman sebangku kentutnya “kung” bunyinya dan “bau” banget. Lha gurunya nggak bisa nebak itu siapa yang “punya”, orang Bu Guru nggak pernah ngecek lidah kita berwarna biru atau enggak ? (Rule-nya waktu itu : siapa yang lidahnya lebih biru warnanya, berarti ia yang barusan kentut…)..

    Reply

  3. edratna
    Aug 30, 2008 @ 07:49:00

    Huahuaha….masa kecil memang menyenangkan….adu daun lamtoro yang banyak tumbuh membatasi pagar perumahan….

    O,iya dulu Ngrowo lama ada beberapa orang yang terkena lepra…dan pernah lewat depan rumah, anggota jari kakinya lepas. Sejak itu kalau keluar rumah tak berani nyeker lagi, takut kena lepra.

    Pohon kelapa ijo yang dipinggir kanan rumah, sering diminta tetangga untuk menyembuhkan keluarga nya yang demam. Saat anak-anakku kecil, jika demam, selain obat dokter, saya memberikan air kelapa ijo ..diminumkan dengan madu. Atau sering-sering balita diberi madu dan parutan kunir…agar kalau demam panasnya tak tinggi sekali….Kalau turne, saya membawa baju anak-anak yang sudah dipake, biar tak kangen dan anaknya tak rewel.

    Reply

  4. tridjoko
    Aug 30, 2008 @ 08:23:11

    –> Bu Edratna :

    Penderita leper (lepra) kalau nggak salah ada 3 orang di Ngrowo lama dan baru. Sedangkan penderita uncontrollable uretic syndrome (bentis pesing) ada 1 orang sehingga kemana dia pergi, orang pada menutup hidung karena bau pesingnya…

    Pas saya sekolah 3 tahun di Amrik, saya bawa baju isteri dan anak-anak, makanya walau lama tapi tak merasa rindu-rindu amat…dan juga membawa foto mereka yang bisa dipandangi setiap waktu…

    Reply

  5. Euis Hermiati
    Sep 11, 2008 @ 10:21:53

    Mas Tri, baru tau nih punya blog, he…he….. Dan baru tau juga waktu ke Amrik bawa baju istri dan anak-anak. Kalo saya mau dinas ke luar kota dan menginap, apalagi agak lama, biasanya juga meninggalkan baju bekas pakai buat anak-anak, terutama ketika mereka kecil-kecil. Kata mereka, biar bisa nyium bau Ibu.

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 11, 2008 @ 11:18:20

    –> Euis Hermiati :

    Wah..wah..apa ini mbak Euis yang dari Rutgers itu ?

    Iya, waktu saya sekolah di Amrik saya bawa baju isteri dan anak-anak supaya nggak kangen sama mereka. Wah, kan mbak Euis masih single pada waktu itu ya ? Syukurlah sekarang si mbak sudah merasakan sendiri kangennya sama suami dan anak-anak bila ditinggal ke luar kota…hahaha….

    Iya mbak, tentunya waktu anak-anak masih kecil-kecil dan lucu-lucu. Setelah anak-anak besar malahan mereka cenderung nyebelin….karena bapak-ibunya dicuekin dan malahan memilih bergaul dengan teman sebayanya…hahaha…

    Reply

  7. Euis Hermiati
    Sep 26, 2008 @ 08:33:43

    Iya, saya yang dulu di Rutgers. Gak pernah ketemu lagi ya… Saya masih suka ketemu dengan Yuyu atau Edy Sambas, karena kantor saya sekarang tetanggaan dengan kantor mereka di kampus LIPI Cibinong. Pernah ketemu dengan pak Lukman di Hero Ciputat sewaktu saya masih tinggal di Ciputat, lalu pak Amin Zarkasi di Serpong ketika kantor saya masih di Serpong dan sekitar setahun lalu ketemu pak Aunur Rofiq di Ristek. Yang lainnya……. wah gak pernah ketemu lagi tuh…

    Wah, mulai dicukein anak-anak ya…… untung anak saya masih ada yang kecil, kelas 6 SD dan kembar, jadi masih belum terlalu banyak kumpul dengan teman sebayanya. Tapi anak saya yang besar dan udah kuliah juga masih mau sih menyempatkan diri ikut acara keluarga atau sekedar menemani saya belanja, mungkin karena perempuan kali ya….

    Selamat Idul Fitri deh. Mohon maaf lahir dan batin

    Reply

  8. tridjoko
    Sep 26, 2008 @ 16:45:08

    –> Teh Euis Hermiati :

    Oooo…teh Euis yang Rutgers tea… 😉

    Saya masih sempat ketemu Ali Baharudin kapan itu di airport Soekarno-Hatta. Dia sekarang di Chevron dan sudah gendut banget sehingga “body” yang dulu sudah nggak bisa terlacak lagi. Pak Amin Zarkasi masih suka ketemu. Pak Aunur Rofiq masih suka ketemu pagi-pagi (ia sekarang Deputi di Menko Kesra kalau tidak salah). Lukman Sukarma sekarang di Menpan, jadi jarang ketemu. Sigit, Edi Sambas, Gono, dan sebagainya yang orang LIPI sudah jarang ketemu lagi..

    Udah cek belum “Gallery” di Blog ini ? Di situ ada foto anda waktu masih teenagers dengan guru Paul Cummings (sekarang beliau sudah terlihat tua dan waktu PON di Samarinda kemarin menjadi pelatih Sepakbola Prop. Irian Jaya Barat)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: