Nasi Pecel

Gambar di atas bukan Bugel Kaliki turun dari Gunung Ciremai karena kelaparan lho. Itu foto saya yang sudah STW (setengah tua) lagi rindu makan nasi pecel waktu ke Madiun akhir Juli 2008 kemarin ini (trims Pak Apo yang sudah nge-shoot pakai HP Nokia-nya)…..

Terkejut dengan wajah saya yang tidak setampan Brad Pitt ? Hahaha..tidak apa-apa, mudah-mudahan pertanyaan Mas Totok (Prihatin Rahayu Sentosa) yang nanya, “Neng foto blogmu (avatar, maksudnya) kok kowe isih ketok enom, apa kowe ora isa tuwek ?” (di foto blogmu kok kamu kelihatannya masih muda, apa kamu tidak bisa tua ?)…

Makan nasi pecel itu tidak mengenal waktu. Pecel, pakai nasi atau tidak, biasa dan bisa dimakan kapanpun : pagi, siang, sore, malam, bahkan tengah malam sekalipun. Di seantero kota Madiun, selama 24 jam sehari 7 hari seminggu pasti ada warung pecel atau penjaja pecel gendongan yang mangkal menunggu pembeli…

Pecel yang merupakan “vegetarian food” kalau tidak ditambah dengan daging empal, dsb merupakan makanan favorit penduduk kota Madiun. Konon lahirnya pecel ya di kota Madiun ini, makanya setiap kata “pecel” biasanya diikuti dengan kata “Madiun”, walaupun ada yang diikuti kata “Blitar”…

Pecel biasanya terdiri dari sayuran kangkung, daun ketela (optional), ganteng (kecambah) kedele, kembang turi (optional), dan kacang panjang (string bean) yang di atasnya (disebut “topping”) diberi saus yang terbuat dari tumbukan kacang tanah halus yang diberi garam, bawang putih, dan cabe merah. Kalau anda tinggal di luar negeri menurut pengalaman saya, saus pecel bisa dibuat dari campuran : peanut butter, tabasco, dan soya sauce...sedangkan segala jenis sayuran kan sudah ada di Oriental Store….

Secara standard seperti tersebut di atas, pecel adalah makanan vegetarian. Tapi untuk beberapa orang tertentu, makanan vegetarian kurang seru dan kurang membangkitkan energi. Makanya biasanya di atasnya ditambahkan dengan : peyek, lempeng (kerupuk beras), paru, empal daging sapi, ayam goreng, atau otak goreng. Kalau dibikin di rumahan bisa ditambahkan : tempe goreng, tahu goreng, heci, bakwan, dan sebagainya…

Nah, kelebihan pecel sebagai makanan “all weather, all time” hanya bisa dikalahkan atau disamai oleh : nasi uduk (Betawi), hamburger (Amrik dan Erop), dan barangkali…nasi goreng !

Di Madiun, walaupun rasa pecel hampir standar, namun preferensi oleh pembeli dan diversifikasi rasa oleh warung penjual pecel sering terjadi. Sebagai contoh, “Pecel Pojok” di Jl. HOS Cokroaminoto adalah bisa dibilang “pecel rasa classic” (seperti Coca-Cola classic lah !). Lalu yang rasanya agak lebih spicy dan pedas ada di “Pecel Bu Wirkabul” seperti foto di atas, juga di Jalan Cokro. Lalu yang menjual suasana lesehan ada di “Pecel Bu Maliki” persis di sebelah Bank CNB di depan Fire Discotheque (pemiliknya orang Singapura keturunan India) juga di Jalan Cokro, lalu ada yang di Jalan H.A. Salim (saya lupa namanya, walaupun mas tukang becak sudah beritahu), tapi yang paling top markotob katanya adalah “Pecel Mbok Gembrot” di daerah Njoyo, yang sebenarnya daerah pinggiran yang baru berkembang sehingga bisa disebut sebagai non-mainstream pecel….hehehe…sok ilmiah sekali-sekali bolehlah…

Catatan : di masa-masa SMA saya dulu di pertengahan tahun 1970an, anak muda kalau makan pecel nongkrongnya di depan Rumah Sakit Umum Madiun (sekarang masih ada) atau di warung tenda depan Stasiun Madiun (juga masih ada, walaupun tenda sudah diubah menjadi warung permanen)…

Menurut pendapat responden saya yang saya temukan secara mendadak, enaknya makan nasi pecel diiringi dengan minum : teh manis hangat (dipilih oleh 35% responden), teh tawar (13%), kopi hitam manis (6%), coca-cola (1%), wedang jahe (3%), teh botol Sumanto – apapun makanannya, yang penting minumnya teh botol (15%), dan air aqua (7%), dan sisanya adalah air kendi (2%) dan air tajin – hoto tumon (0.000001 %). Pokoknya jumlahnya 100% lah, kurang lebihnya mohon maaf…

Soalnya, saya tergesa-gesa mau ke kampus nih, ngambil berkas ujian semester pendek dan ketemu mahasiswa ex bimbingan skripsi saya yang minta referensi mau ngelanjutin ke Program S2 MMSI Binus…

28 Comments (+add yours?)

  1. Poppy
    Aug 30, 2008 @ 18:57:09

    Anda benaaarrrr! Nasi pecel juga selalu “In” di Kediri 😀

    Sarapan di warung nasi pecel deket pasar, Luch nasi pecel pincuk mbok Rah, dinner nasi pecel di emperan jalan Daha (Mallioboro-nya Kediri) hehehe….kaga bosen2 nyak :))

    Jadi, harga nasi pecel madiun berapa, om?

    Reply

  2. tridjoko
    Aug 30, 2008 @ 21:08:37

    –> Mbak Poppy :

    Satu pincuk nasi pecel dengan peyek atau lempeng harganya cuman Rp 2.500.- sudah bisa membuat air liur mengalir deras apalagi kalau ditambah dengan kembang turi…

    Cuman saya belum bisa membedakan rasa pecel Madiun dengan pecel Kediri, lha wong ke Kediri aja jarang….

    Mungkin nanti kalau kunjungan ke Madiun berikutnya, setelah selesai berdinas bisa mampir Kediri…dah-mudahan…

    Reply

  3. simbah
    Aug 31, 2008 @ 21:29:36

    Dik Yon,…pernah saya membaca di majalah ‘Panjebar Semangat’. Piyantun dari Nganjuk, yang iseng-iseng sambil pulang dari Jakarta ke Nganjuk berkendara mampir ke warung-makan ditiap kota sepanjang perjalanan. Mungkin ngikuti jalannya mas Bondan Winarno. Banyak keluhannya, antara lain: harga seporsi nasi yang dipathok terlalu mahal, justru lebih mahal dari Jakarta, meski kelas warung. Yang standar adalah harga nasi di warung ‘Padang’, boleh dibilang harganya standar dari Jakarta sampai Nganjuk.
    Nah ini dia ‘gong’-nya, sampai Madiun siang-siang singgah disalah satu warung Pecel yang ada di Jl.Cokroaminoto, tahu berapa sepincuk nasi pecel..? Lebih mahal dari rata-2 warung yang Dia singgahi, meski nggak pake Empal atau daging dan semacamnya. Komentarnya, kecewa berat dengan kondisi seperti itu, kesannya aji mumpung sangat terasa. Yah… memang kadang-2 begitulah watak orang kita, dupeh lagi payu ngregani dagangane sak penak udele dhewe. Lain dari warung Padang, yang kenapa bisa standar. Kebetulan setelah sekian lama tinggal di Madiun, saya bisa nemuin warung pecel yang rasanya pas juga harganya masuk akal.

    Reply

  4. tridjoko
    Aug 31, 2008 @ 22:13:05

    –> Simbah :

    Wah…menarik juga tuh pengamatan pria asal Nganjuk itu…Tapi tujuan beliau itu survai makanan nggak jelas betul, yang disurvai harganya atau rasanya ?

    Kalau Pak Bondan Winarno kan rasanya, karena masalah harga pasti dia nggak bayar lha wong jadi host di TV. Tapi kalau tujuan beliau tadi survai harga, ya lebih baik nanya dulu ke sekitar kota dimana bisa didapat harga yang paling murah…

    Bagi orang yang datang dari jauh, makan pecel di Cokro itu tidak mahal lho mas. Kenapa tidak mahal ? Lha karena dibayarin !! Dan sebenarnya kita bertujuh sudah makan sekenyangnya, rata-rata 1 orang 2 pincuk, plus empal, plus paru, plus kerupuk, plus pecel lele, plus minuman, total cuman Rp 130.000..

    Tapi saya dengar kalau pagi ada bakul pecel gendongan pada mangkal di depan SMA Bona katanya 1 pincuk cuman Rp 2.500 sudah pakai peyek. Lha ini baru murah…. (tapi mungkin luput dari pengamatan pria Nganjuk tadi)…

    Lha apa ada yang lebih murah lagi tho mas ? Kalaupun ada, pasti “asesoris”-nya sudah dikurangi ya ?

    Reply

  5. Agung
    Sep 01, 2008 @ 09:25:24

    Pak,ud cobain pecel Madiun BSD blom??
    hahahahahhaha…!!

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 01, 2008 @ 12:33:25

    –> Agung :

    Saya belum sempat ngrasain Pecel Madiun di BSD tuh ? Tapi sudah nunjuk2 arahnya waktu lewat sana ke isteri saya…

    Kita pikir, pecel gitu lho…masak harus jauh-jauh carinya… soalnya kita di rumah selalu rutin disupply sambel pecel dari Madiun jadi tinggal bikin sayurannya sudah siap saji…hahaha…

    Reply

  7. adhiguna
    Sep 02, 2008 @ 00:53:27

    Liat judulnya jadi laper..(ketika baca ini saya sedang makan sepotong sandwich yang langsung saya hentikan seketika).

    Great tips pak, peanut butter+tabasco+soya! Kebetulan saya punya semua. Masak ah sekarang pecel 🙂

    Reply

  8. Agung
    Sep 02, 2008 @ 09:29:33

    iyah jg sih.
    sapa tau Bapak penasaran.
    sbnrnya sih selain pecelnya,tmp di BSD itu enak.
    bernuansa kebun.
    hehehehhehe…!!

    Reply

  9. tridjoko
    Sep 02, 2008 @ 11:54:14

    –> Mas Adhiguna :

    Wah..pantas dicoba tuh mas “Pecel Perancis”, sausnya dari peanut butter + tabasco + soya sauce…

    Saya lagi nyari recipe buat telor asin ala mahasiswa Indonesia di LN, nanti saya tanya teman saya…yang jelas saya pernah merasakan di kantor krn dibuatkan teman : rasa sudah persis telor asin, cuman kuningnya tidak bisa kering, agak basah gitu….tapi yummy yummy,,,uenak tuenannn…

    Reply

  10. tridjoko
    Sep 02, 2008 @ 11:58:02

    –> Agung :

    Kalau begitu Pecel BSD patut dicoba…sekalian berbuka puasa di sana…wah pasti syadaappp…

    Reply

  11. adhiguna
    Sep 02, 2008 @ 16:46:52

    Setelah saya bikin, ternyata manisnya dari peanut butter memberi rasa yang agak aneh pak, makanya saya campur lagi dengan sedikit kecap manis, bawang putih dan ulekan kacang beneran.

    Lumayan rasanya hehe..

    Reply

  12. tutinonka
    Sep 02, 2008 @ 20:09:49

    Pak Tri, di Yogya juga ada beberapa (sekarang malah banyak) warung pecel Madiun. Saya pernah mencoba, dan enak juga, asal nggak terlalu pedas. Di rumah saya, mbak-e juga sering bikin pecel, tapi tentu saja pecel ala Yogya.
    Kemarin pas ke Surabaya naik kereta Sancaka, distasiun Madiun banyak penjaja nasi pecel berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Saya sempat ingin beli, tapi lalu urung karena tidak yakin dengan higienisnya …

    Reply

  13. tridjoko
    Sep 03, 2008 @ 10:19:29

    –> Mas Adhiguna :

    Iya mas, recipe saya tentang “Pecel Makeover” itu emang kurang satu yaitu garlic (bawang putih). Jadi resepnya : peanut butter, tabasco, soya sauce, garlic. Karena kalau kacang beneran kan di resto asrama nggak ada. Begitu juga kecap manis kan juga nggak ada, adanya kecap asin dari China atau Jepun.

    Ya udah mas, lain kali proyek “Pecel Makeover”-nya diseriusi, pakai sayuran : bayam, kangkung, kacang panjang, dan kecambah (yang ini mbikin sendiri dari kacang hijau mentah ditaruh di atas tissue basah dan dibiarkan selama 2-3 hari sampai benihnya tumbuh cukup panjang)..

    Catatan : peanut butter Perancis mungkin agak manis. Peanut Butter Amerika kayaknya rasanya standar, merknya kalau nggak salah Ritz..

    Ya lumayanlah, pokoknya anda punya “secret recipe” yang nantinya bakal berguna untuk mengasih surprise buat teman2 Indonesia yang berkunjung ke apartemen anda…

    Reply

  14. tridjoko
    Sep 03, 2008 @ 10:27:43

    –> Bu Tutinonka :

    Wah di tahun 1975 sebelum saya berusaha masuk UGM, saya sering makan nasi pecel di daerah Gayam, kalau nggak salah (jalannya utara-selatan, warungnya di sebelah barat jalan menghadap ke timur, posisinya di stasiun Lempuyangan ke selatan). Rasanya lumayan, not badlah, minimal bisa mengusir kangen akan pecel bagi mahasiswa asal Madiun yang kuliah di Yogya…

    Tapi sekarang yang top katanya SGPC “Bu Wir” dekat UGM ya Bu ? Rasanya “Madiun banget” gitu…

    Sebenarnya kalau Ibu melalui stasiun Madiun dan ingin beli nasi pecel, sebenarnya rule-nya sama dengan orang Madiun yang melalui stasiun Yogya untuk beli nasi gudeg, yaitu : pegang bungkusan nasinya, kalau nasinya masih panas kedul-kedul,,berarti barangnya masih “fresh”…tapi kalau nasinya sudah dingin, sebaiknya tidak jadi beli…

    Masalahnya, tega nggak kita nggak jadi beli setelah nasinya kita emek-emek, dan kita pijit-pijit..? Hehehehe…

    Kalau mbak-e di rumah suka bikin pecel, sebaiknya sambel pecelnya beli yang asli punya bikinan orang Madiun Bu, jadi rasanya bisa disebut “Pecel Yogya rasa Madiun”…hehehe…

    Reply

  15. Djoko Prijatno
    Sep 03, 2008 @ 12:30:42

    Mas Tridjoko,

    Untuk nambah kawruh ya, kalau mungkin belum tahu, Pecel SGPC Bu wiryo itu sudah exist sejak tahun 60 an waktu saya masih kuliah di Jogya, dulu warungnya dari gedek di Bulaksumur, sekarang pindah di depan Fakultas Peternakan ( kalau tidak salah ), memang enak tapi kalau bagi saya utamanya adalah suasananya dan nostalgianya, suasananya Jogya banget he he he. Lha kalau di Jakarta ada juga pecel yang menurut saya cukup enak, yaitu Pecel pincuk di Kalibata ( depan makam pahlawan ), tapi ada pecel yang menurut saya pasti masuk salah satu yang terenak di dunia, yaitu Pecel Pandegiling di Surabaya. Jangan lupa mampir kalau pas ke Surabaya ( sopir taxi tahu ), ning tempatnya juga warung lho, tapi enaknya Poaall.

    Salam,

    Reply

  16. tridjoko
    Sep 03, 2008 @ 12:49:56

    –> Mas Djoko Prijatno :

    Wah..makasih infonya tentang dunia “Pecel Engineering”…hehehe..

    Saya malah lagi mereka-reka nih, apakah ada hubungan antara Pecel Bu Wir di Yogya yang sudah ada sejak 1960an dengan Pecel Bu Wir di Madiun yang baru tahun 1980an muncul (namanya ada Bu Wir, ada Bu Wir Kabul, ada Bu Wir Gembrot dan sebagainya)…

    Ya mas, suasana makan di Yogya jaman mahasiswa (yah..walaupun saya gagal masuk Sipil UGM Des 1975 dulu)…pasti ueeenaak, karena makannya disambil rasa luaapaaar yang luar biasa dan pemandangannya mahasiswi- mahasiswi berkulit coklat dengan rambut lurus panjang (wesss…kayak boneka tahun 1970an, masih ingat mas ?) yang kelihatannya ramah-ramah, jinak-jinak merpati, kelihatannya jinak ning bakalan mabur yen dicedaki,,,

    Pecel pincuk Kalibata dan Pecel Pandegiling saya belum ngrasain nih mas, kapan-kapan deh kalau ke Surabaya nyoba. Pecel BSD yang kabarnya juga ueeeoonaaak juga belum pernah ngrasain, tapi kalau pecel Madiun di dalam TMII yang suka dikunjungi priyantun-priyantun Jepun saya pernah ke sana mas…

    Salam kembali…

    Reply

  17. adhiguna
    Sep 03, 2008 @ 18:18:43

    Oh Ritz gak manis ya, kayaknya ada deh, nanti saya cari. Thx berat atas tipsnya pak, ditunggu resep2 lainnya ya seperti telur asin etc. Hehe enak buka puasa makan masakan Indonesia daripada Sandwich atau tortilla yuckkk…. (sambil MEMBAYANGKAN indahnya dengerin bedug maghrib dan shalat jamaah bareng keluarga)

    Reply

  18. Agung
    Sep 04, 2008 @ 15:11:17

    wah,kalo buka puasa pasti rame sekali Pak.
    yah,nanti aja deh,kalo ud lebaran.
    hehehehehhee…!!

    Reply

  19. tridjoko
    Sep 04, 2008 @ 16:09:09

    –> Mas Adhiguna :

    Wah..yang punya resep telor asin ala Vietnam masih perjalanan ke luar kota mas, nanti kalau sudah balik saya posting di sini deh. Siap-siap aja sama cuka dan garam…

    –> Agung :

    Iya deh ntar habis lebaran ke Pecel BSD..

    Reply

  20. tridjoko
    Sep 05, 2008 @ 15:38:39

    –> Mas Adhiguna :

    Wah…kata teman saya yang pernah praktek “membuat telur asin ala mahasiswa Indonesia di luar negeri”….yang tahu resepnya cuman isterinya….

    Tapi di internet ini ada resepnya, telur asin bisa dibuat dalam waktu 1 minggu saja walaupun rasanya belum terlalu “mantap”… Selamat mencoba…

    Source of Recipe
    (Arum Wijayanti – Semarang)

    Bahan :

    10 Butir Telor Bebek
    10 Sdm Garam Dapur
    1000 ml Air

    Cara Membuat :

    Bersihkan telor bebek dengan di gosok / disikat hingga bersih pilih telor yang betul-betul bagus.
    Siapkan Wadah kedap udara yg ada tutupnya.
    Tuangkan air kedalam wadah lalu masukan garam dan aduk rata, sehingga menjadi larutan air garam.
    Masukan telor bebek yang sudah bersih kedalam larutan tersebut.
    Tutup rapat wadah, lalu simpan ditempat yang kering.
    Untuk telor dengan kadar keasinan rendah disimpan 1 minggu saja, untuk keasingan sedang disimpan selama 2 minggu dan bila ingin sampai “Masir” ( kuning telor sampai keluar minyaknya ) disimpan sampai 3 minggu Selanjutnya telor bisa direbus atau di bikin masakan lain

    Tips :

    Cara memilih telor yang baik, letakan telor didalam air bila tenggelam berarti bagus.

    Reply

  21. narpen
    Sep 06, 2008 @ 09:05:47

    fotonya kurang besar om yong.. gak nendang 😀

    wah, udah lama ga makan pecel. klo di rumah jakarta dulu ibu suka makan pecel sama kerupuk apa gtu.. bilangnya sih jadi “lempeng gapit”

    dulu aku suka ikut2an makan.. emang enak 🙂

    Reply

  22. adhiguna
    Sep 06, 2008 @ 16:59:58

    Pak Tri, kelihatannya gampang. Ok saya coba hari ini.. thx pak 🙂

    Reply

  23. adhiguna
    Sep 06, 2008 @ 17:00:54

    Nanti saya kabari hasilnya 2 minggu lagi hehe

    Reply

  24. tridjoko
    Sep 06, 2008 @ 19:35:35

    –> Mbak Narpen :

    Wah…itu namanya foto ukuran ‘thumbnail” dan tinggal di-klik udah menjadi segede gajah kok mbak…

    –> Mas Adhiguna :

    Yah…ditunggu kabarnya 2 minggu lagi…hahaha….enak nggak telor asinnya….

    Reply

  25. Brian
    Nov 23, 2008 @ 18:25:18

    Saya salah satu penggemar yang namanya nasi pecel, dari kelas 1 SD ampe sekarang(20th an) masih setia sarapan dengan pecel…

    lha masalahnya sekarang saya ada tugas antropologi budaya, en saya mo angkat materi tentang sang Legenda “sego pecel”.. Om punya materi yang lain ndak terkait sang legenda ini.. misalnya sejarah perkembangan, variasi, dll..
    mator sembah nuwun sebelumnya…

    Ada…ada…ada…saya punya bukunya, tepatnya serangkai buku tebal sebanyak 10 buku yang disebut “The Indonesian Heritages” terbitan Periplus, Singapore
    Di sana disebutkan bahwa dari jaman dulu orang Jawa khususnya di Indonesia, makannya sehari-hari sudah vegetarian. Dugaan saya 1) saking miskinnya 2) mencari daging harus berburu ke hutan atau berternak sendiri…
    Di buku itu disebutkan, makanya orang Jawa banyak melakukan selamatan (di Madiun disebut “megengan”), karena di acara semacam selamatan inilah bagi orang Jawa kesempatan untuk menyantap daging : ya ayam, ya sapi, ya kerbau, ya kambing….dan sebagainya…
    Makanya di kalangan masyarakat “vegetarian by nature” tersebut, nasi pecel mendapatkan tempat yang amat sangat dihargai….secara bawah sadar….soalnya nenek buyut dan kakek buyutnya orang Jawa “dari sononya” memang suka makanan vegetarian….(mungkin karena jaman dulu orang Jawa sebelum menjadi Islam adalah orang Hindu…yang by nature juga vegetarian…seperti orang India sekarang)…
    Kalau di kota anda tidak ada buku “The Indonesian Heritages” (cari di Perpus Kota anda, pasti ada), nanti bisa saya copykan 1-2 lembar dan saya emailkan…

    Reply

  26. Itok
    Dec 10, 2008 @ 14:28:03

    Kemaren sempat mampir warung pecel di jln. Wonosari sekitar km.7 tepatnya sebelah timur toko kacamata ( optik ), warungnya kecil tapi sambel pecelnya mantap.. sambel khas ndeso.. hot, kalo pas beruntung pakai sayuran kaya toge tp panjang2.. yg jual bilang katanya cikru mlanding nak..nan.., ada juga sayur lombok ijo jg mantap tp biasa jam 2 siang dah habis, kayaknya yg jual orang solo krn ada juga ada Garangasem.. coba aja deh..

    Jadi “cikru mlanding” itu apa sejenis kecambah yang tumbuh dari biji lamtoro (kemlandingan) ? Kalau ya…wah…itu pertama kali di dunia ada “ganteng” (kecambah) yang ditumbuhkan dari biji lamtoro…
    Terus “sayur lombok ijo” itu apa sejenis sayur lodeh ?
    Ya..deh..ntar kalau pulang kampung ke Madiun saya mampir ke sono…. mau nyobain maknyusss nggak….

    Reply

  27. hape
    Feb 10, 2009 @ 20:44:53

    Koreksi Mas Tridjoko:

    “Saya malah lagi mereka-reka nih, apakah ada hubungan antara Pecel Bu Wir di Yogya yang sudah ada sejak 1960an dengan Pecel Bu Wir di Madiun yang baru tahun 1980an muncul (namanya ada Bu Wir, ada Bu Wir Kabul, ada Bu Wir Gembrot dan sebagainya)…

    Khusus untuk Pecel Bu Wir Kabul itu sudah ada sejak saya belum lahir (tahun 1960-an), dan juga pecel lelenya adalah pelopor dibidangnya. Dulu bumbu pecel lelenya belum seperti sekarang, masih ada kacangnya dan dikukus.

    Mas Hape,
    Matur nuwun sangat koreksinipun….. 😉

    Reply

  28. laskecap
    Apr 28, 2009 @ 19:47:18

    argh nasi pecel enak banget
    dah lama gak makan T_T

    Laskecap,
    Nasi pecel memang enak…dan menyehatkan pula…;-)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: