Puasa mBedug Tahun 1960an

Sekarang ini saat-saat yang dinanti-nantikan oleh segenap kaum muslim di Indonesia, yaitu pengumuman pemerintah tentang kapan dimulainya puasa. Pengumuman pemerintah tersebut seakan sebuah pistol start yang diletuskan untuk perlombaan lari. Sama dengan lomba lari, puasa perlu persiapan-persiapan fisik maupun batin yang diperlukan untuk suksesnya puasa itu…

Meminta maaf kepada orang lain sebelum memasuki puasa sangat dianjurkan untuk afdolnya puasa kita yang bersih, suci, khidmat, dan ber-religi di satu sisi, namun di sisi lain harus tetap “business as usual” karena kita juga diwajibkan tetap bekerja seperti biasa untuk menghidupi kehidupan kita..

Bila dipandang dari segi beban berpuasa, baik fisik maupun mental, menurut umur kita yang berpuasa seolah membentuk huruf “U”. Artinya, beban puasa waktu kita kecil dulu sangatlah berat. Yang biasanya makan tiga kali sehari dan ditambah ngemil sepanjang hari, sekarang harus menahan lapar, haus, dan harus bertindak yang kalem serta tidak boleh mengatakan kata-kata kotor. Perjuangan makan sahur di waktu menjelang subuh, mungkin juga sangat berat bagi anak kecil. Maka anak kecil pra sekolah, anak TK, dan mungkin anak SD kelas I sampai kelas III kalau di Jawa dulu hanya dibebankan “puasa mbedug”. Kalau puasa full baru buka puasa ketika maghrib tiba, lha kalau puasa mbedug buka puasanya boleh di waktu dzuhur…. šŸ˜‰

Ketika umur kita masih antara 10-40 tahun berpuasa bisa disebut ringan, karena fisik dan mental kita sedang jaya-jayanya di udara…hahaha.. Tapi setelah umur 40 tahun berpuasa jadi agak berat, terutama bagi yang mengidap penyakit tertentu sehingga harus makan secara teratur atau berpantang makanan tertentu. Bagi yang masih sehat wal afiat, tentu puasa tidak menjadi masalah, namun tetap harus waspada untuk menambah makan vitamin di masa puasa agar puasanya tidak “mothol” alias putus di tengah jalan. Kalau ini terjadi, maka di akhir bulan puasa beberapa hari yang bolong juga harus ditambal agar puasa kita menjadi sempurna..

O ya, bagi kaum adam seperti saya ini, berpuasa di bulan Ramadhan mungkin lebih ringan daripada kaum hawa. Maklum, kami kaum adam bisa fit terus secara fisik karena sudah di-desain dari sononya. Sedangkan kaum hawa harus sedikit “turun mesin” di tengah-tengah bulan puasa karena persyaratan teknis perfisikan dari sononya memang mengharapkan demikian. Tentunya nggak jadi masalah, tapi di akhir bulan puasa harus ingat terus berapa jumlah utang harinya…

Di Madiun dulu waktu saya kecil, hampir setiap keluarga tidak mempunyai TV. Radiopun yang waktu itu masih radio listrik dan komponennya tabung dan biasanya merk-nya Philips 4 band, masih jarang yang punya. Di keluarga saya, radio listrik baru bisa terbeli ketika Ibu saya datang ke sebuah desa di Uteran untuk menukarkan 8 gram emas beliau dengan sebuah radio Philips yang cantik dan ditenteng dengan cara diikat sarung ! Jadi waktu tragedi nasional di pertengahan tahun 1960an, kami sekeluarga terpaksa mendengarkan berita pemakaman para korban di balik pohon-pohon pisang untuk mendengarkan radio tetangga yang disetel secara keras..

Waktu belum punya radio, penanda buka puasa adalah “mercon blanggur” di mesjid agung Madiun. Kami biasanya anak-anak berkumpul di tanah lapang Ledeng Madiun yang waktu itu masih bisa diakses oleh umum, sambil ngobrol atau sambil ngangon kambing (belakangan setelah gedhe dan sekolah di Bogor saya jadi tahu kegiatan kami ini disebut “ngabuburit”), sedangkan mata menatap terus ke arah barat. Setelah dari jauh posisi mesjid agung Madiun bisa dideteksi, maka mata-mata kecil kita menatap terus ke langit di atas mesjid agung. Begitu anda benda kecil terlontar ke udara dan benda kecil itu akhirnya meledak di udara dengan bunyi “Bang” yang besar, maka itulah pertanda resmi buka puasa bagi kaum muslim di Madiun..

Maka, kaki-kaki kecil kamipun kami pacu ke arah rumah yang jaraknya sekitar 400 meter untuk merasakan makanan dan minuman yang disediakan Ibu dan kakak-kakak perempuanku. Biasanya kolak, es kelapa, dan teh manis adalah pembuka puasa. Kurma juga bila ada. Makanpun biasanya sangat sederhana : nasi putih, sambal terasi, dan tahu goreng panas, serta tempe goreng hangat (dibacem maupun tidak). Sayurnya sayur lodeh atau sayur asem. Kadang ditemani dengan bothok teri, bothok tempe, dan kadang bothok tawon…

Makan sahur jauh lebih sederhana daripada buka puasa. Karena kebanyakan kami masih terkantuk-kantuk, dan kadang esoknya harus masuk sekolah. Pada waktu saya kecil, sekolah tetap dibuka di bulan puasa walaupun hanya setengah hari. Maka dengan mata yang setengah merem, kamipun makan apapun yang disediakan Ibu di meja. Seperti biasa, tersaji nasi hangat, sambal pecel tidak pedes yang dibiarkan padat dan tidak dikasih air, ditemani dengan tempe goreng atau tahu goreng. Ya satu pilihan saja, sesuai dengan waktu dan budget yang pada waktu itu super ketat…

Waktu menjelang puasa berakhir adalah waktu yang paling bahagia. Karena kami anak-anak Ibu dibiarkan “mengintip” etalase Toko Pakaian terbaik di Madiun yaitu Toko Mitro yang terletak di seberang Taman Makam Pahlawan Madiun. Kami mengintip berkali-kali, menaksir baju yang akan dipakai waktu Lebaran nanti, dan menghitung-hitung apakah celengan kami cukup untuk membelinya, adalah pertanyaan besar bagi otak-otak kecil kami dan mata kecil binar-binar kami. Biasanya pada H-3, baju dari Toko Mitro dan sepatu dari Toko Bata yang ada di pojokan di sebelah utara Toko Mitro, bisa kami bawa pulang naik becak. Tapi belum boleh dipakai sebelum Lebaran, karena nggak patut alias “pamali”…

Sayangnya, selama saya kecil dulu, bulan puasa begitu mendera perut saya. Perut yang kosong bila diisi dengan makanan yang jumlahnya sangat banyak akan sangat menderita karenanya. Perut saya sangat sensitif dengan pedas dan lemak dari kecil dulu, makanya di waktu Lebaran lebih banyak saya terbaring di tempat tidur karena sakit perut (mencret) dan walaupun pakai baju baru…itupun cuman bajunya doang, karena bagian celananya sudah kena noda-noda yang baunya tak sedap akibat kecepatan berlari ke belakang (ke WC) masih kalah dari kecepatan keluarnya lahar yang tekanan magmanya sangat besar dari perut kita ! Kalaupun kita punya stop watch, baru kita pegang dan kita catat saja, sudah ccrrrrrrrettttt !

Tidak heran, itulah yang disebut benda yang melesat paling cepat di dunia soalnya stop watch saja tidak mampu mencatat kecepatannya !!!

Ada ada saja… !!!

Ah..aya aya wae !!! Kata Pak Wapres Jarwo Kwat yang sebentar lagi pindah ke AnTV…

9 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Sep 01, 2008 @ 03:51:58

    Pak Tri waktu saya masih kecil ada “Glurr” dari pabrik gula di Madiun yang menjadi tanda buka puasa. Biasanya anak anak bermain di jalanan kalau sore hari, dan setelah mendengar bunyi Glurr tersebut kami berlarian kerumah masing masing untuk berbuka. terimakasih

    Reply

  2. yulism
    Sep 01, 2008 @ 03:53:40

    Selamat menjalankan Ibadah Puasa Pak Tri, dan mohon maaf jika selama ini ada tulisan yang tidak berkenan ketika meninggalkan pesan. Amien. terimakasih

    Reply

  3. tridjoko
    Sep 01, 2008 @ 12:27:37

    –> Mbak Yulis :

    O ya mbak, seingat saya dari arah pabrik gula Rejo Agung (ketika saya kecil, sebelum pindah ke Ngrowo) juga ada penanda buka puasa berupa sirine…seperti juga yang saya dengar di kota Bandung dan Semarang…

    Saya juga mohon maaf jika ada kata2 yang tidak pada tempatnya mbak. Dan selamat puasa juga di Amrik, kalau kuat lho mbak (saya dulu sahur jam 3.00 pagi dan buka puasa jam 10.00 malam di Indiana, jadi akhirnya cuman kuat beberapa hari saja)…

    Reply

  4. tutinonka
    Sep 02, 2008 @ 20:19:19

    Kalau di Yogya, dulu (sampai tahun 70-an) tanda buka buasanya adalah gauk (sirene) dari pabrik Gula Madukismo. Ada juga bom dari Alun-alun di depan Masjid Gede.
    Saya dulu, sejak siang sudah mengumpulkan berbagai makanan untuk berbuka, sampai-sampai jambu kluthuk yang masih agak mentah pun dipetik dari pohon untuk berbuka …. šŸ˜€ tapi begitu masuk waktu berbuka, makan sedikit perut sudah kenyang, jadi akhirnya makanan-makanan yang sudah dikumpulkan sejak siang itu tak termakan …
    Yang seru adalah balapan lari untuk mendapat tempat terdepan di antri ‘jaburan’ (minuman sesudah sholat tarawih) yang biasanya berupa setup nanas, setup jambu, es kelapa muda, bajigur, dll.
    Wah, saya baru tahu ada bothok tawon di Madiun. Apa nggak ‘ngentup’ lidah, Pak ? šŸ˜€

    Reply

  5. pimbem
    Sep 03, 2008 @ 10:12:33

    jd mbayangin mas kecilnya pak tri… ada sedih, ada lucu, ah jd kangen masa kecil..
    salam kenal ya pak šŸ™‚

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 03, 2008 @ 10:35:53

    –> Bu Tutinonka :

    Wah…seru juga rupanya cerita anak-anak kecil di Yogya mengumpulkan makanan jelang puasa ya Bu ? Maklum di jaman itu semua makanan masih bikinan dapur ibu sendiri, lain dengan makanan sekarang yang mereknya sudah ABeCe ataupun IndoMangan. Makanan dahulu sangat bervariasi rasanya, makanan jaman sekarang apalagi makanan yang dihidangkan di lebaran sudah berupa biskuit KhongGoh dan sirup Orsen…

    Wah,,,makanan jaburan kalau di mesjid Madiun tidak seseru di Yogya Bu, paling berupa : kolak ketela (syukur ada pisang dan nangkanya), dan kue moho, dan kue bikang…

    Bothok tawon Bu ? Wowww…itu baru namanya “hoite cuisine” (gini ya nulisnya) dari Madiun Bu…alias makanan para Raja-Raja !! Ngentup ? Nggak kok Bu, lha wong tawonnya sudah pada bobok,,,,, šŸ˜‰

    Reply

  7. tridjoko
    Sep 03, 2008 @ 10:40:54

    –> Mbak Pimbem :

    Salam kenal juga mbak…. Ya mbak, masa kecil memang masa paling bahagia, karena kita belum tahu yang namanya : dosa, nipu, ngakalin….

    Makanya saya paling suka mengenang masa TK, SD dan SMP saya yang masih “murni”…sedang SMA sudah dimulai masa hedonis…hehehe…

    Reply

  8. edratna
    Sep 07, 2008 @ 06:27:46

    Hehehe…dulu suka sebal, udah berangan-angan mau ketemu para sepupu di rumah simbah saat lebaran…pasti ada yang mencret pas di hari lebaran……

    Reply

  9. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 07:39:16

    –> Bu Edratna :

    Ya itu masa lalu yang kelam …. šŸ˜‰

    Tapi sayangnya sampai hari ini perut saya masih sensitif terhadap rasa asam dan rasa pedas. Makannnya sih nikmaaaat sekali, tapi sejam setelah makan pasti deh perut ini serasa ada Perang Dunia ke III gitu….hehehehe….

    Terpaksa buru-buru ke belakang, untuk di rumah setidaknya ada 2 “ruang istirahat” sehingga pasti dapat satu minimal. Kalau nggak, wah…terpaksa…..hahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: