Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1429H

(Sumber Foto : tidak diketahui)

Mohon dimaafkan segala kesalahan, baik disengaja maupun tidak disengaja, berupa tutur kata, sikap, dan tabiat yang tidak patut…

Salam,

Tri Djoko

Lagu jadul jaman Belanda

Oh..rupanya salah satu posting Blog ini yang paling populer dibaca oleh pembaca yang usianya sudah di atas 50 tahun adalah “You Tubing Lagu-lagu tahun 1960an dan 1970an”. Nah, di posting itu ada link ke You Tube lagunya Dara Puspita – group band wanita terkenal dari Surabaya di tahun 1960an dan 1970an – yang sedang menyanyikan “Mari Mari” yang salah satu baitnya adalah :

Marilah ke mari hey hey hey hey/Oh kawan/Akulah di sini hey hey hey hey/Oh kasih/Mari bergembira bersama-sama/Jauhkan dari..duka lara

Wah..pembaca yang berusia di atas 50 tahun pasti langsung “nyetroom” dan mengingat masa lalu…”the good old days“…

Nah, gara-gara ada link ke lagu Dara Puspita “Mari Mari” tadi mumpung Speedy di rumah lagi ngibrit cepetnya, sayapun iseng mendengarkan lagu Dara Puspita yang sudah ratusan ribu kali saya dengarkan itu (sebenarnya di hard disk saya sudah ada file winamp-nya karena beberapa bulan yang lalu sudah saya download dari You Tube dengan Voodoo Downloader)..

Eh, tak disangka tak dinyana … sayapun nemu link lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Anneke Gronloh yang videonyapun segera saya lihat dan sayapun merasa sangat terkejuuuut…gitu loh !

Anneke itu cewek tinggi besar dengan rambut hitam potongan “kebob” pendek yah mirip-mirip penampilan Liza Minelli di jaman dulu. Kelihatannya ia cewek Belanda, entah peranakan entah 100% aseli dari pabriknya. Yang jelas di wajahnya saya melihat dia sebagai “wong Londo tulen” namun di wajahnya pula saya masih melihat adanya sebersit darah Nusantara..

Sayapun langsung nge-klik link untuk You Tube-nya Anneke Gronloh dengan judul lagu “Surabaya”…..Saya kirain persis sis dengan lagu “Surabaya”-nya Dara Puspita…ternyata agak berbeda tapi ada “nafas” kesamaannya…

Lagu Anneke Gronloh kedua yang saya dengarkan adalah “Paradiso”….yang ternyata persis sis yang dinyanyikan oleh Patty Sisters di radio-radio di Indonesia dulu di tahun 1960an dan 1970an. Bedanya, versi Anneke Gronloh ini dinyanyikan secara “Dutch sprechen”…

Kalau anda ada waktu dan sambungan internet di rumah lagi ngacir alias ngibrit, silahkan klik link ini untuk mendengarkan lagu “Paradiso” oleh Anneke Gronloh : http://www.youtube.com/watch?v=4GhKk68F0u0

Atau search langsung di Google dengan memasukkan string “You Tube Anneke Gronloh Paradiso” … pasti deh bakal ketemu….

Pasti anda akan segera terkirim jiwa anda ke tengah-tengah kota Amsterdam (or wherever it was) di tahun 1940an atau 1950an dulu dengan musik masih dengan instrumen jadul dan video hitam putih dengan para pengunjungnya Noni-noni Belanda mendengarkan dengan antusias (my wildest question would be : is it possible that the show was in Hotel Des Indes – Jakarta ?)…

Oh….the good old days…

Walaupun waktu Anneke menyanyi itu saya belum lahir, saya sebagai pribadi dilahirkan sebagai orang yang menghargai sejarah dan ingin rasanya sesekali “Back to the Last History” sebagai kebalikan dari “Back to The Future”-nya Michael J. Fox itu…

Saya tidak bisa berkata-kata lagi…..it was sooo entertaining…. !

Buku apa yang terakhir kau beli ?

Siapa ? Saya ?  Buku yang terakhir saya beli adalah “The Audacity of Hope” dari Barack Obama, versi paperback yang asli berbahasa Inggris…

Buku itu saya beli dari toko buku “Periplus” yang ada di kawasan dalam dari airport Adisucipto – Yogyakarta sewaktu saya mau terbang dari Yogyakarta ke Jakarta bersama Mandala Airlines..

Memang sudah lama saya mendambakan edisi paperback dari “The Audacity of Hope” ini karena sebelumnya waktu saya ke toko buku tersebut yang ada baru edisi hard cover. Secara pribadi saya tidak suka edisi hard cover karena harganya mahal dan tidak mudah dibawa-bawa ke mana-mana…

Oprah Winfrey dalam salah satunya shownya yang waktu itu saya lihat tayangan ulangnya di Metrotv, mengundang Barack Obama untuk menceritakan mengapa ia menulis buku tersebut ? Barry menjawab bahwa bangsa Amerika sudah waktunya memperhatikan hal remeh-temeh yang sehari-hari dihadapi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang lebih besar. Barry juga mengatakan ia lebih suka terbang dari Washington D.C. ke Chicago tempat tinggalnya menggunakan public airlines daripada dengan menyewa private plane, karena dengan demikian ia bisa merasakan “suara rakyat” yang perlu didengarkannya sebagai senator…

Harga buku tersebut Rp 95.000, sebenarnya cukup mahal untuk kantong saya tapi karena sudah lama didambakan dan saya lagi menerima uang saku dari hasil perjalanan dinas kemarin ini, then what the heck with that soaring price… yang penting saya bisa baca buku penting ini dan bisa mendengarkan apa sih hal-hal terakhir yang terjadi atau menjadi concern dari bangsa Amerika pada umumnya ?

Sebenarnya buku tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan sudah lama ada di toko buku Gramedia Matraman yang sering saya kunjungi. Tapi saya agak nggak sreg kalau membaca edisi terjemahannya takut kalau-kalau ada satu dua kata yang “missing in translation”…

Sayangnya saya belum ada waktu membaca buku ini dengan tenang, karena masih dikejar-kejar laporan ke Jerman dan juga laporan hasil kunjungan ke Madiun kemarin ini…

Buku apa yang terakhir kali anda beli ?

Cerita dong !

Airline apa yang terakhir kau naiki ?

Who ? Me ?  Mandala Airlines dong !

Wah..sorry photo ini saya scan dari sanitary bag yang ada di depan tempat duduk saya…. maaf deh, soalnya nggak ada sumber lain yang bisa saya scan…

Mengapa Mandala ?

Sebenarnya nggak ada sih alasan khusus. Cuman waktu itu teman sekantor penginnya terbang ke Yogya daripada ke Solo ketika kami memutuskan ingin pergi ke Madiun untuk mengunjungi client kami. Alasannya harga tiket Jakarta – Solo sekitar Rp 600.000 sedangkan kalau Jakarta – Yogya dengan online ticket harganya Rp 289.000 karena ada promo dari Mandala Airlines…

Jadi alasannya, harga tiket termurah. Kedua, waktu terbang di pagi hari yang cocok untuk orang kantoran. Ketiga dan seterusnya, saya alami ketika sudah naik pesawat Mandala..

Ketiga, ternyata jam berangkat pesawat Mandala ini benar-benar on schedule, tidak ada delay barang sedetikpun !!! (Mind you, I little bit exaggerate thing…). Harusnya flight jam 07.10, tapi jam 06.45 kami sudah diminta untuk boarding melalui sebuah garbarata (belalai gajah) yang ada di bandara Soekarno-Hatta. Jam 07.00 mesin pesawat sudah dihidupkan sehingga AC terasa agak dingin dibandingkan waktu AC ditenagai oleh sebuah GSE (Ground Support Equipment).. Sebentar kemudian, pesawat sudah taxi …dan sebentar lagi sudah take off…

Pramugari Mandala juga ramah-ramah. Bahkan di pagi yang cerah itu salah satu pramugari yang memperagakan tatacara keselamatan menurut standar FAA berwajah mirip Winona Ryder yang pernah main bersama Richard Geere di film “Autumn in New York”…

Pesawat Mandala yang bertipe Airbus A320 ini juga masih terbilang baru, dengan bahasa Inggris dan bahasa Perancis menghiasi sticker yang tertempel di tempat duduk di depan saya dan juga di dekat lampu di atas saya. Interiornya terlihat bersih, dan jarak antar tempat duduk kelihatannya lebih lebar daripada pesawat maskapai penerbangan yang lain (atau mungkin karena warna interior pesawat yang sangat pastel ringan begitu ?)…

Waktu mendaratpun tepat, dan pramugari kembali menyapa setiap penumpang yang akan meninggalkan pesawat, “Terima kasih, semoga terbang bersama kami lagi”…

Sure mbak, soalnya nanti baliknya Yogya – Jakarta dua hari kemudian saya juga pesan tiket Mandala kok…

Apakah anda setuju dengan pendapat saya ini ?

F1 Malam Ria di Singapura

Saya tidak nonton acara balap malam F1 untuk pertama kalinya di dunia di Singapura, tapi saya mengikutinya dari tayangan acara Start Sports di tv kabel Astro..

Awalnya ketika Singapura mengajukan diri sebagai tempat balapan F1 malam hari untuk pertama kalinya setahun yang lalu, dalam hati saya setuju saja dengan ide tersebut dan melihat tidak ada halangan yang berarti, kecuali dana yang dibutuhkan untuk balapan pasti berlipat-lipat mengingat harga energi (baca : listrik) yang akhir2 ini membubung tinggi karena tingginya bahan bakar..

Tapi toh setiap kita yang pernah nyetir sepeda motor atau mobil pasti pernah mengendarai di malam hari. Bahkan, Lebaran kali ini banyak sopir-sopir Indonesia yang kualifikasinya tidak kalah sama Michael Schumacher sedang dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke daerah masing-masing, terutama ke Jawa Tengah dan Jawa Timur sana..

Kalau anda pernah nonton film “The Fast and Furious” yang dibintangi antara lain oleh Vyn Diesel (begini ya nulisnya ?) dan sekuelnya “2 Fast and 2 Furious”, toh di film itu balapan mobil anak-anak muda dengan Ferrari atau Porsche-pun dilakukan malam hari. Bahkan di bahan bakarnya ditambahkan sedikit NOx (nitro) agar mobil semakin ngibrit kencangnya…

Jadi baik di sekuel “Fast and Furious” maupun di sirkuit jalanan malam hari F1 di Singapura, balapan dengan kecepatan 300+ km per jam tidak menjadi masalah…malahan balapan di waktu prime time itu akan menarik minat banyak kalangan karena….bagus untuk bisnis, bagus untuk pasang iklan !

Akhirnya sejak Jumat malam kemarin di acara Star Sports di tv kabel Astro yang saya langgani, saya bisa melihat free practice untuk pertama kalinya diselenggarakan di malam hari. Wow….it’s so amazing….Singapore circuit is really superb…. Saya memang tidak punya uang sebesar 50.00 pound sterling minimal untuk beli tiket nonton balapan F1 tersebut, tapi dengan nonton di tv saya kayaknya “immerse” di balapan itu…

Sebagai orang yang pernah tinggal 9 bulan di Singapore tentunya saya mengenal setiap inchi dari negara pulau tersebut. Tentunya kondisi di tahun 1992-1993 dimana gedung Esplanade waktu itu belum dibangun dan Singapore Marina City sedang dikembangkan (waktu itu masih berupa gundukan tanah yang mengurug sebagian dari laut Singapore menghadap ke arah Batam-nya Indonesia)..

Di acara TV tersebut, tentu saja saya masih mengenali daerah sekitar Marina dimana Sir Stamford Raffles pertama kalinya mendarat di Singapore, berikut dengan Anderson Bridge yang dilalui oleh sirkuit itu yang mestinya dekat dengan patung Merlion, lalu jembatan layang Benjamin Bridge yang dulu sering saya lewati jika saya iseng naik bis kota (mostly dari hotel saya di Paya Lebar ke kampus di Clementi saya naik subway), gedung Esplanade yang berbentuk durian monthong itu, Singapore Eye yang katanya paling besar di dunia (saya belum pernah ke sono karena itu landmark baru di kota Singa), Clark Quay, sampai perempatan kekalahan Inggris dari Jepang di Perang Dunia II yang oleh para guide Singapore suka disebut sebagai “the chopstick monument” itu..

Pokoknya wah..lah, dan walaupun saya tidak melihat langsung ke Singapore, saya toh cukup puas dengan memelototi acara balap F1 malam hari itu sejak Jumat malam (free practice), Sabtu malam tadi (qualifying), dan besok malam (race)…

Dari penyiar Star Sports saya dapat menangkap kerja besar yang telah dilakukan oleh OC F1 di Singapore, termasuk mengundang perancang lampu yang khusus didatangkan dari Italia yang memasang berribu-ribu lampu di pohon, di gedung, di jembatan, di jalan dan dimana saja agar sirkuit F1 itu bisa diterangi dengan maksimal. Penyiar juga menyebutkan berapa ton besi lampu yang diperlukan, 38 km kabel listrik, 3,5 juta Watt tenaga listrik yang dipakai dan sebagainya (ah..hal-hal kayak gini memang menarik bagi turis, contohnya gedung Sears Tower di Chicago konon memakai 10,000 ton baja, 3,000 ton kaca, 2,000 ton karet dan sebagainya)…

Do you miss Singapore ?

Who ? Me ?

Nope, not at all. I only miss Singapore girl (the Singapore Airlines stewardess) yang senyumnya konon se-misterius Mona Lisa…

Haha…

Kuliner Madiun : Restoran Pondok Jati

Kalau seorang teman saya tidak mengidam makan sup ikan, tentu saya dan teman-teman dari Jakarta tidak bakal menemukan restoran ini : Restoran Pondok Jati Madiun…

Awalnya, Pak Apo, Pak Muhammad dan Pak Bambang Kus yang datang ke hotel bertanya kepada kita, “Mau makan apa nih malam ini Bapak-bapak ? Apakah kita makan pecel lagi, atau makanan yang lain ?”. Dan seorang teman dari Jakarta yang mengidam tadi langsung menyahut, “Saya rasanya malam ini mau makan sup ikan”…

Pak Apo-pun menyahut, “Ya udah, kita makan di dekat tempatmu itu Herr” merefer ke Mas Herry yang mau mengantarkan kami-kami ini dengan mobil Avanza kantor..

Madiun kota kecil, jadi dalam waktu sekitar 10 menit melalui Jalan Pahlawan ke selatan, lampu merah Jalan Pahlawan ke kiri masuk Jalan Panglima Sudirman, lalu terus melalui Jalan Kolonel Marhadi melalui SMA 1 Madiun tempat saya 3 tahun menuntut ilmu, melalui lampu merah perempatan Klegen, terus ke timur melalui Jalan Setia Budi (nama jalan seperti nama jalan depan rumah saya di Madiun…hahaha…), melalui kompleks Brimob, terus ke timur sampai mentok, lalu belok kanan ke arah selatan melalui Gardu Induk PLN, sampai lampu merah perempatan Manisrejo (?) belok ke kiri ke arah Dungus, sampai melewati batas akhir desa Mojopurno, terus ke timur yang semakin lama rumah penduduk semakin jarang, dan tepat jam 07.45 malam kita sudah merapat ke sebelah kiri jalan ke sebuah pelataran parkir yang hanya diterangi dengan lampu temaram 25 Watt (bukan neon)..

Ingatan saya terlempar ke 3 bulan sebelumnya ketika saya mengunjungi restoran Rumah Kayu di kota Bandar Lampung yang kira-kira mempunyai setting serupa – yaitu “Restoran Taman”. Bedanya yang di Bandar Lampung setting daerahnya datar dan masih di tengah kota dikelilingi oleh kantor dan perumahan penduduk serta arsitekturnya kebanyakan dari kayu. Nah, kalau restoran Pondok Jati Madiun ini settingnya berbukit-bukit, di tengah hutan Jati Emas buatan, dengan arsitektur paduan antara kayu, batu, dan semen, dengan ornamen-ornamen keramik pecah berbagai warna menghiasi lantai restoran. Sangat eksotis, apalagi di waktu malam !

Mobil Avanza kamipun parkir, diikuti mobil Feroza merah Pak Bambang yang membawa Pak Muh. Kamipun say Hi ke pemilik sekaligus pelayan restoran yang masih muda. Pak Apo menawarkan dimana kami mau duduk, di kursi atau lesehan, di tempat datar, cekung, atau di atas bukit. Kami memilih lesehan yang paling atas yang berbatasan langsung dengan hutan Jati Emas di belakang restoran. Waktu itu belum kam 08.00 malam dan nyanyian cengkerik terdengar keras di belakang kami duduk. Wah…serasa kemah Pramuka ! Ini yang versi Bandar Lampung tidak punya ….

Kamipun lesehan mengelilingi meja pendek. Beberapa bantal tipis tersedia untuk diduduki. Suasana duduknya mirip di restoran Korea di Seoul sana, tapi bedanya ini mejanya sangat panjang, mungkin sekitar 4-5 meter. Kamipun order : sup bibir ikan untuk appetizer, main entries-nya cah kangkung, guramai goreng, ikan wader goreng, sapi lada hitam (beefstijk ?), cumi goreng, sambal terasi, lalapan ketimun, dan masih banyak lagi, minumannya saya pilih yang paling tradisional yaitu teh manis hangat (belakangan nanti saya order juga juice timur + seledri yang rasanya A++)…

Pada saat kami datang, band belum berbunyi, musik belum berbunyi, dan suasana restoran dihiasi dengan suara cengkerik bernyanyi nyanyian rimba. Pengunjung restoran juga hanya sepasang muda-mudi yang tidak memperhatikan siapa-siapa karena sedang asyik masyuk…

Lima belas menit kemudian, bowl sup bibir ikan datang sebanyak 3 bowl, masing-masing kami diberi satu mangkuk kecil untuk menaruh sup. Setelah dirasakan sup bibir ikan sebagai appetizer ini, “Hmmmm….mak nyuuussss”. Sepintas saya teringat Pak Bondan “Maknyus” Winarno di acara tv yang sering makan ditemani putrinya Gwen Winarno…

Sup bibir ikan belum kering dari mangkuk kami ketika main entries-nya datang. Suasana restoran yang temaram dengan lampu-lampunya yang hidup segan mati tak mau (tak satupun lampu neon !), segera dihangatkan oleh hadirnya cah kangkung seafood dan kawan-kawan yang segera mengisi tenggorokan kami yang sudah pengin makan…

Obrolanpun santai mengalir, dan Pak Bambang Kus-pun sempat tiduran sebentar mungkin ia teringat masa Pramuka dulu waktu berkemah (sayapun demikian…hehehe…). Kami ngobrol tentang ERP mana yang terbaik untuk diterapkan, produk mana yang kira-kira bisa memenuhi keinginan perusahaan client dan sebagainya…Pokoknya obrolan gayeng sekali dan tidak terasa pengunjung restoranpun semakin malam semakin banyak. Band restoranpun mengalunkan lagu-lagu masa kini dari Nidji, Ungu, D’Massiv, dan sebagainya…

Salah satu “bonus” malam itupun datang. Tiba-tiba seekor katak hijau kecil meloncat dari kolam yang berada 1 meter di bawah tempat kami makan. Dan katak kecil yang masih basah itupun meloncak tepat ke kepala Pak Herry dan Pak Satrio lalu menyenggol lengan saya dan akhirnya iapun mendarat di hutan Jati Emas di sebelah tempat kami makan. Seekor kucing putih yang lucupun dari tadi mengeong-ngeong meminta ikan wader. Sayapun ingat kucing di rumah sehingga kucing tadi sempat merasakan nikmatnya ikan wader yang saya lemparkan sekali-kali kepadanya…. 😉 

Mungkin salah satu “drawback” dari restoran ini adalah pilihan warna musiknya yang terlalu ngepop dan terlalu keras pengeras suaranya jadi seolah-olah “merusak” suasana yang syahdu dan temaram. Saya dan kawan-kawan teringat diajak oleh Pak Amien ke daerah Yogya di sekitar Monumen Yogya kembali yang namanya “Rumah Mertua” yang merupakan gabungan antara Hotel dengan Restoran yang sangat diminati oleh para bule-bule mancanegara. Di sana musiknya justru musik Jawa klasik seperti Kodok Ngorek dan sebagainya…

Ataupun saya ingat restoran Singapura yang bernama Cafe Vienna di sekitar Orchard Road ujung Hotel Dinasti belok ke kanan (saya lupa jalannya) waktu diundang oleh sponsor kami Mrs. Agnes Ong untuk menikmati makan malam diiringi oleh alunan violin dengan lagu-lagu klasik yang kalem dari seorang violinist wanita yang jempolan…

Saya harap musik dari Restoran Pondok Jati seperti itu : lagu Jawa klasik seperti Kodok Ngorek ataupun musik klasik dengan alunan violin yang lembut. Yang terakhir ini pasti akan scare the customers away dari restoran, mengingat orang-orang Madiun belum terbiasa dengan musik klasik.

Komprominya begini, undang saja pemusik “unplugged” (akustik) dari Yogya seperti yang saya lihat di Gudeg Sagan dekat Wisma MM UGM yang saya lihat masih bermain sampai jam 00.30 pagi minggu kemarin itu !!

Pokoknya, malam itu di Restoran Pondok Jati, everything is almost perfect….except I have a little bit objection with the music…

Dan akhirnya, terima kasih Pak Apo, Pak Muhammad, Pak Bambang Kus dan juga pak Herry yang telah mengantarkan ke tempat makan yang asyik ini, dan dibayari pula …… hahaha…

Cemorosewu-Sarangan Pass

Di atas telaga Sarangan
Di atas telaga Sarangan

Tanggal 15-18 September 2008 kemarin kami berlima dari Tim IT kantor kami mengunjungi kantor client di Madiun untuk membantu penerapan ERP untuk IT/Business Alignment mengingat kegiatan bisnis client yang semakin meningkat pesat akhir-akhir ini yang harus dibarengi dengan penataan IT mereka.

Hari Senin pagi tanggal 15 September saya dan kawan-kawan group “Koko Bento” (artinya “yang tinggal di BSD alias Bekasi Sono Dikit”) janji untuk rendezvous di ujung masuk jalan tol di daerah Bulog. Rendezvous pukul 05.30, jadi saya datang di tempat “ground zero” pada pukul 05.35 diantar Satpam Kompleks yang menawarkan diri jadi tukang ojek amatir. Pukul 05.40 datang kawan lainnya, Satrio yang diantar adiknya. Pukul 05.45 taksi Express (the second best taxi in Jakarta) yang dicharter Pak Amin datang di “ground zero”. Tinggal menunggu Pak Herry yang datang belakangan pada pukul 05.48…
Pagi itu walaupun hari Senin, tapi karena di bulan Puasa mungkin orang akan “hitting the road” agak siangan. Jadi jalan dari Jatiwarna ke airport Soekarno-Hatta bisa dibilang lancar-lancar saja. Pak Sopir tua yang asli Kabanjahe-pun menyetir dengan santai di tengah2 lalu lintas yang sepi. Kami datang di airport sekitar 1 1/4 jam kemudian yaitu pada pukul 06.00.
Hari masih terlihat pagi dan Pak Yudi yang mengepalai rombongan ini belum datang, karena ia yang satu-satunya tinggal di BSD (Bumi Serpong Damai) beneran ! Kamipun masih sempat brainstorming di halaman terminal 1C yang tumben pagi itu masih sepi. Membahas apa beda ERP full size bila dibandingkan dengan menggabungkan aplikasi-aplikasi IT yang sudah ada dengan menaruh sebuah middleware “di atas” nya yang biasa disebut dengan “best of breed”.
Pada pukul 06.15 kamipun masuk bandara. Security check seperti biasa, kamipun sudah di depan counter Mandala, official airline kita pada pagi itu. Dua pasang mbak yang tingginya 170 cm menyambut para calon penumpang yang perlu informasi. Setelah check in dengan “online ticket” dan menaruh tas-tas kami yang berat di bagasi, kamipun membayar airport tax Rp 30.000 seorang dan menaiki escalator menuju gate C3..
It’s Mandala, not Air Asia. Jadi ruang tunggu penumpang C3-pun juga terlihat sepi. Banyak tempat duduk kosong, dan the best of all story.. semua penumpang dengan tempat duduk no. 1 sampai 15 diminta duduk di wing sebelah kanan, sedangkan nomor 16 sampai 30 diminta duduk di sebelah kiri. Nice arrangement !
Lima belas menit sebelum pukul 07.00 kamipun diminta boarding. Hal yang saya senangi ketika boarding, yaitu adanya “belalai gajah” alias “garbarata” memang benar-benar ada di Mandala ini (not for Air Asia !). Akhirnya kamipun masuk perut pesawat disambut pramugari yang berbaju batik mirip “The Singapore Girl”-nya Pierre Balmain, tapi dengan warna hijau kebiruan. Perut pesawat Airbus A320 ini begitu lebar dan begitu bersih dengan warna krem agak putih. Stiker petunjuk di tempat duduk juga ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Perancis. Wah..jangan-jangan pesawat ini masih “fresh from the oven” karena baru keluar dari hanggar pembuatannya di Toulouse, Perancis..
Cerita tentang Mandala akan saya tulis tersendiri. Everything is so perfect, dengan pramugari berwajah Winona Ryder menyapa ramah waktu menerangkan cara penggunaan pelampung keselamatan.. Everything is so perfect, hanya saja saya merasa pesawat bergerak ke arah barat dari tadi seolah mau terbang ke Medan atau Singapura padahal kan kita terbang ke Yogyakarta di sebelah timur ?
Tepat pukul 07.50 pesawatpun soft landing di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Kamipun keluar dari perut pesawat, menuruni tangga pesawat dan berlima menari-nari kecil sambil menirukan salah satu iklan…”Yogya…Yogya…Yogya !!!”. Penumpang lainnya acuh tak acuh melihat serombongan bapak-bapak bergaya seperti anak muda. Mungkin mereka sudah melihat ribuan kali peristiwa seperti ini, yaitu menirukan iklan yang terkenal itu..
Pak Yudi-pun membuat kontak dengan pak pengemudi dari perusahaan client yang bakal menjemput kita di Yogya. “Pak sampai mana pak ?”. “Saya sudah lewat dari Solo pak, 40 menit lagi sampai Yogya”, kata bapak pengemudi di seberang telpon. Yah, padahal airport Adisucipto cukup bagus transport intermoda connection-nya. Ada kereta api yang stasiunnya bisa dicapai dengan hanya menyeberang barang 15 meter (jika ke arah Solo) atau menyeberang lewat underpass (jika ke arah Yogya). Ada bus Yogya Express ber-AC yang miniatur dari busway di Jakarta. Pokoknya asyik lah…(Sebenarnya kalau Pak Wito belum sampai Solo kami mau naik KA Pramex saja ke Solo)…
Pak Wito-pun akhirnya datang, dan kami berlima menata diri dan bagasi kami di Innova 2.0 G ini. “Mau lewat mana pak ?”, tanya Pak Wito ramah. “Anu pak…lewat Tawangmangu saja !”..Sambil lewat kota Solo kamipun mampir di Serabi Notosuman untuk beli serabi. Satu pak serabi “rasa original” dihargai Rp 17.000 dan satu pak yang berasa “coklat” dihargai Rp 18.000. Satrio yang orang asli Solo-pun berpromosi, “Siapa yang ingin jadi pejabat, sudah semestinya makan serabi Notosuman dulu sebagai syarat”. Wah, ini kayak bunyi iklan di TVRI jaman dulu….hehehe…
Akhirnya kami lewat Tawangmangu yang siang itu belum diselimuti kabut sehingga kami bisa melihat pemandangan indah sepanjang jalan. Saya dengar bahwa rute Tawangmangu-Sarangan yang dulu jalannnya sangat curam ini sudah dibuatkan jalan tembus dengan maksud supaya tidak terlalu curam…
Akhirnya di tengah perjalanan ke Madiunpun kami berhenti di jalan tembus baru menggantikan jalan menanjak 43 derajat yang ada sebelumnya. Waktu untuk berfoto-foto di atas Telaga Sarangan yang siang itu agak kurang mistisnya karena tidak ada kabut dan terlihat sangat sepi…
“Yaaaa….ucapkan cheeeeeseburgeeeeer”, kata Satrio yang memotret saya…
Sayapun menyilangkan tangan, di belakangnya pemandangan Telaga Sarangan, dengan rambut warna perak yang mencerminkan berapa banyak rumus yang saya simpan di memori otak saya (konon, saya pernah bilang 1 uban di rambut saya sama dengan 1 rumus yang saya simpan di otak saya)…
Hahahaha….
(Ini foto thumbnail, atau versi kecil dari foto. Untuk melihat foto ukuran full size, tinggal di-klik dua kali….)

Previous Older Entries