Sahur puasa dengan biskuit kabin

Tadi malam sebagai Ketua RT, saya ajak warga saya terutama Karang Tarunanya untuk bermain futsal. Sesuai janji kita sebelum puasa, bahwa di bulan Ramadhan olahraga futsal harus tetap rutin dijalankan demi menjaga fisik yang prima. Tentunya hal itu dilakukan setelah shalat Taraweh di malam hari. Bahkan tadi malam, pemuda yang biasa menjaga mesjid di kampung saya sekaligus menyuarakan azan, juga ikut main futsal…

Ternyata yang hadir di lapangan futsal yang berjarak sekitar 400 meter dari tempat tinggal saya hanyalah 10 orang ! Itu artinya, kita akan bermain futsal terus-menerus selama 1 jam tanpa ada pemain pengganti,,,Rupanya ada juga pengaruh bulan puasa terhadap kehadiran bermain olahraga rutin..Sepuluh orang yang hadirpun kita bagi dua, 5 orang di setiap sisi lapangan. Sayang saya belum sempat beli training jersey yang biasanya berwarna hijau cerah atau merah cerah itu, jadi siapa yang jadi pemain di sisi kawan atau lawan nggak terlihat. Maka, ketika 30 menit pertama saya menjadi penjaga gawang, gawang sayapun kebobolan 8 kali !!!

Bosen jadi penjaga gawang, dan lawan bosen ngegolin ke gawang “Pak RT”, sayapun switch menjadi striker. Hasilnya lumayan, dari sisi tim saya bisa melakukan beberapa serangan balik dan menghasilkan goal !! Beberapa anak muda agak memandang remeh gocekan bola dari saya, sehingga sering bolanya saya rebut dari kakinya, turn-over, fast break, dan goal !!!! Dari sisi lawan, mereka juga lebih leluasa memborbardir gawang saya karena sekarang penjaga gawang masih fresh dan muda. Maka kiper kamipun jatuh bangun menahan tendangan yang kadang keras, kadang pakai tik-tak-tik-tak itu…

Puas bermain futsal, ketika waktu habis kamipun keluar dari lapangan futsal bertarif Rp 50.000 per jam itu. Tim selanjutnyapun masuk ke lapangan futsal. Sambil ngos-ngosan sisa pernafasan tadi, kamipun masih sempat mendiskusikan plus dan minus permainan tadi, serta hal-hal lucu dalam permainan tadi. Setelah tim berikutnya masuk lapangan dan pakai jersey yang bagus : di sebelah kiri pakai jersey biru putih, sedang tim sebelah kanan pakai jersey hijau merah seperti Tim Portugal, kamipun sempat menonton barang 30 menitan. Anak-anak muda RT sayapun banyak ngrasanin pemain-pemain yang bagus dari tim futsal lain yang kita tonton, “Itu tuh, yang no 13 tembakannya hebring man !  Si doi juga suka ngatur serangan pula. Tapi sayang pemain no 19 yang lebih bagus, kali ini tidak datang”…

Puas bermain futsal, sayapun pulang. Setelah membuka pintu rumah, mengandangkan Mio saya, dan mengunci pintu pagar, sayapun bersiap-siap mandi. Alangkah segarnya mandi setelah lelah berolahraga. Isteri dan kedua anak sayapun sudah lama mendengkur, maklum seharian mereka sudah kelelahan kerja. Anak yang sulung di perusahaan asuransi, anak yang bungsu di perusahaan perminyakan nasional..

Selepas mandi dan ganti baju, sayapun merebahkan badan saya di kasur. Tidak sampai 10 menit, bagaikan dibius oleh anestesinya dokter spesialis, saya langsung pulas tidur. Badan capek, kaki dibaluri Remason, dan ditiup angin sepoi-sepoi dari kipas angin cepat membuat saya ke pulau kapuk impian….

Bangun-bangun sudah 5 menit jelang Imsyak. Oh my Gawd, kenapa hari ini Imsyaknya awal banget, jam 04.26 sudah Imsyak. Akhirnya saya dan anak bungsupun menggapai sebungkus Genjie Pie dan segera menggasak isinya. Saya masih sempat minum teh manis tadi malam yang diberi sesendok madu. Ketika saya menulis posting ini, kelihatannya saya masih agak kuat bekerja dan menulis dan mengoreksi soal ujian SP mata kuliah Rekayasa Perangkat Lunak.. Mungkin berkat madu sesendok itu yang “do the tricks” dan “give me miracles”…

Mungkin sekitar 15 tahun yang lalu, ketika bulan puasa adik isteri saya yang menjadi Marinir datang ke rumah. Entah darimana dapatnya, ia memberikan saya satu buah biskuit kabin yang ada capnya Mabes Abri/Dephan di depannya, persis lilin buat kemah yang bisa dibeli di toko-toko outdoor yang disebut “bahan bakar padat”. Selintas, biskuit kabin itu saya buka dari bungkusnya dan saya intip isinya. Ternyata hanya berisi sepotong biskuit mirip biskuit Farley bikinan Inggris yang waktu anak saya dulu kecil sering saya beri makan dengan biskuit itu. Cuman bedanya dengan biskuit Farley, biskuit kabin ini dua atau tiga kali lebih tebal !

Nah, pagi hari setelah adik ipar saya berkunjung itu ternyata saya bangun kesiangan sehingga tidak sempat makan sahur. Isteri saya hanya sempat minum air putih, begitu pula anak-anak saya dan adik-adik ipar saya. Namun saya yang akan bekerja berat paginya (mengajar, ke kantor untuk menulis laporan penelitian) memerlukan energi yang cukup untuk bisa bertahan puasa, sekaligus bisa bekerja dengan nyaman. Maka, biskuit kabinpun saya lahapkan ke mulut, saya makan dengan cepat, dan setelah itu saya minum air putih satu gelas….

Ajaib, hari itu sejak subuh hingga maghrib perut saya tetap konsisten kenyangnya….alias “seng ada lapar” !! Tetap merasa kenyang dan tetap “padat” di perut dan cukup surprise sebenarnya saya hari itu bisa berpuasa penuh tanpa “mothel” hanya dengan bermodalkan bersahur dengan biskuit kabin dan segelas air putih..

Saya sebenarnya pengin merasakan biskuit kabin lagi, tapi mungkin di luaran tidak dijual bebas dan hanya untuk kalangan tertentu saja…

(Catatan : ada yang bilang biskuit kabin itu kaya gizi, isinya antara lain kacang hijau dan susu. Ada yang bilang itu makanan buat berperang, tapi dari namanya ada yang bilang biskuit itu banyak disediakan di kapal khusus untuk orang-orang yang mabuk laut – terutama anggota militer – karena kalau sedang mabuk laut alias sedang “feeding the fish”…perut tidak boleh kosong sama sekali karena cairan perut akan bisa keluar semua yang menyebabkan bahaya, maka sebaiknya makan dengan biskuit kabin itu. Mana yang benar, wallahuallam… Adik ipar saya itu juga sudah jarang ke rumah karena sudah mempunyai rumah sendiri yang jaraknya dari rumah saya lumayan jauh…)

Apakah anda pernah makan sahur dengan “makanan khusus” seperti itu yang menyebabkan puasa anda lancar sampai maghrib ?

8 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Sep 03, 2008 @ 22:11:24

    Masih ingat ketika kuliah, pas saurnya kesiangan ngak ada makan dikamar cuman ada sambel pecel ya sudah saya lahap aja itu sambal pecel tanpa nasi ataupun sayur. he he dari pada tidak makan sama sekali. thank

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 04, 2008 @ 09:39:18

    –> Mbak Yulis :

    Wah..apa nggak sakit perut tuh mbak sahur hanya dengan sambel pecel tanpa nasi ? Kalau saya sambel pecel yang biasa-biasa saja pedesnya bagi mulut saya sudah seperti kawah candradimuka dan pedessss sekali….hehe…

    Tapi tetangga saya dulu di Madiun, Bu Darmo, bisa membuat sambel pecel yang enak tanpa pedas sama sekali. Biasanya untuk bayi dan anak-anak kecil, nah saya suka yang jenis ini…hihihi…

    Reply

  3. tutinonka
    Sep 05, 2008 @ 00:32:50

    Hari ketiga puasa (Rabu) saya kesiangan, bangun sudah jam 05.30. Ya sudah, nggak sahur apa-apa. Padahal malam sebelumnya saya terakhir makan jam 20.00. Wah, hari ketiga puasa kemarin saya ‘tewas’, lemes nggak bisa apa-apa. Jam 5 sore sudah dingin dan gemeter, tapi mau buka puasa kok eman-eman. Jadinya saya terkapar saja di tempat tidur. Alhamdulillah, saya masih hidup ketika adzan maghrib terdengar … 😀

    Reply

  4. tridjoko
    Sep 05, 2008 @ 09:05:12

    –> Bu Tutinonka :

    Wah…ibu masih “nach Surabaia” ya ? Pantas tidur sampai kemaleman dan bangun kesiangan hehehe…

    Untung masih sempat makan jam 20.00 Bu. Kalau nggak kan tambah lemes lagi…Emang puasa itu asupan makanan harus lebih jempolan lagi Bu….harus ada asupan vitamin (hemaviton, sangobion, neurobion, sakatonik, dsb) secara teratur…atau menurut pengalaman saya, meminum 1 gelas teh manis hangat ditambah 1 sendok madu…will do the tricks…Ibu nggak bakalan lemes soalnya kekuatan entupnya lebah sudah membuat Ibu jadi “kaku”….hehehehe…

    Ya tidur sebelum maghrib adalah hal terakhir yang bisa dilakukan Bu….

    Pengalaman saya sejak remaja (kalau sekarang, sudah “remako” alias “remaja kolot”), kalau tidur menjelang jam 12 malam atau setelahnya, pasti kita akan terlewat makan sahurnya…jadi sebelum tidur, sebaiknya sudah makan terlebih dahulu…utamanya di bulan puasa ini…

    Ya Bu, kalau gitu selamat berjuang menjalani sisa-sisa bulan puasa ini…

    Reply

  5. tutinonka
    Sep 05, 2008 @ 18:09:08

    Lho, tumben Pak Tri sekarang iklan (…viton, … ion, …tonik). Sudah dapet komisi ya Pak … 😀

    Iya ni, saya dan suami punya kebiasaan yang tak patut ditiru : tidur jam 01.00 dini hari, bangun subuh jam 05.00, tidur lagi sampai jam 07.00. Maklum, kantor suami jadi satu dengan rumah, jadi bangun tidur terus mandi dan sarapan, jam 08.30 sudah siap kerja. Lha kalau bulan puasa gini, ritme hidup jadi kecau-belau. Tidur jam 01.00, bangun sahur jam 03.30 … walah.

    Terimakasih advisnya untuk minum madu, Pak. Kebetulan saya baru saja dioleh-olehi madu asli Sumbawa satu botol gede. Kemarin-kemarin malah lupa belum diminum.

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 06, 2008 @ 06:58:48

    –> Bu Tutinonka :

    Iya nih Bu, produsen vitamin2 itu janji mau ngasih sampel gratis….. 😉

    Tapi kalau mereka mblenjani janji, ya nanti nama vitamin2 itu akan disensor sesuai cara penulisan yang disarankan Bu Tutinonka…

    Wah…kalau saya sekeluarga bangun sampai jam 01.00 pagi seperti itu pasti sedang nonton bola: saya suka Juventus, anak sulung InterMilan dan anak bungsu AC Milan. Tapi belakangan setelah anak-anak kerja, yang sulung di Adira dan yang bungsu di Pertamina EPTC, saya larang mereka begadang sampai malam, soalnya besok paginya saya yang tugas mbangunin mereka itu yang capek….hehehe…

    Reply

  7. edratna
    Sep 07, 2008 @ 06:24:06

    Wahh mengajar seminggu di Surabaya saat awal puasa benar-benar melelahkan…baik pengajarnya maupun muridnya. Walau makanan disiapkan, dan dibangunkan, tetap aja selera makan saat sahur kacau. Jadi saat hari kedua puasa, memaksakan diri, begitu selesai mengajar, jalan kaki kira-kira 100 m ke Alfamart untuk beli kurma, coklat dan roti mari.

    Pengalaman tahun lalu, karena punya sakit maag saya tak berani minum vit C, hanya pharmaton Formula. Dan mengajar seharian benar-benar menguras tenaga, terutama dua hari terakhir, habis jam istirahat, akhirnya saya bilang….”Maaf ya, sambil duduk”…lha pemandangan udah mulai bergoyang-goyang…kalau pingsan di depan kelas kan nggak lucu. Makanya cukup seminggu aja…lha mengajar maraton 42 sesi alias 42 jam seminggu…punggung pegal…..badan sakit semua.

    Reply

  8. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 07:36:30

    –> Bu Edratna :

    Saya jadi ingat di tahun 1996 gitu deh, lagi tugas ke Bandung dan kita nginepnya di Wisma Mitra punya IPTN karena kantor saya “sister companynya” IPTN…. Dua orang muslim termasuk saya, dan satu orang beragama Hindu tinggal di kamar lain. Waktu sahur kita minta makanan diantar ke kamar. Makanya sekitar pukul 3.30 pagi makanan sudah dianter ke kamar. Kita makan sahur dengan lahap walaupun makanannya tidak terlalu enak sekali…mungkin karena kita lapar…hehehe…

    Supaya badan tidak sakit, sebelum tidur minum Panadol biru (parasetamol 500 mg), ditanggung besoknya sakit di badan sudah lupa…hahahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: