Menyopir di Jakarta di waktu buka puasa

Jarak 33 km dari rumah di Jatiwarna ke kantor di bilangan Thamrin dapat dicapai dalam beberapa catatan waktu. Pertama, kalau mengendarainya jam 12.00 tengah malam dan cara menyopirnya seperti Michael Schumacher di sirkuit F1, mungkin dari rumah sampai kantor bisa dicapai dalam waktu 30-35 menit. Kedua, kalau menyopirnya seperti rookie pembalap F1 macam Timo Glock, mungkin bisa dicapai dalam waktu 45 menit. Ketiga, kalau cara menyopirnya sopan-santun dan alon-alon-waton-kelakon seperti pria Jawa dengan kadar 99.99% (24 karat) ya sekitar 1 jam 15 menitlah. Keempat, kalau menyopir di waktu minggu-minggu pertama dan kedua bulan puasa seperti sekarang ini, apalagi kalau menyopirnya di waktu jelang buka puasa…wah..bisa-bisa jarak 33 km tidak bisa ditempuh dalam waktu 2 jam…kadang-kadang malahan sampai 2,5 jam (bagi anda yang tinggal di luar kota Jakarta, Bangkok dan Mexico City….berbahagialah anda karena tidak pernah merasakan kemacetan “fatal” seperti ini…)…

Sudah seminggu ini anak bungsu saya walaupun sudah lulus ujian TA namun belum diwisuda dari sebuah institut di Bandung, sudah bekerja “magang” (on-the-job training) di Pertamina EPCT, Jalan Medan Merdeka Timur. Biasanya dia pulang sekitar pukul 16.00. Sedangkan kakaknya, yang bekerja di sebuah asuransi besar di bilangan Jalan Menteng Raya – persis di sebelah selatan Jalan Medan Merdeka Timur, biasanya pulang pukul 19.00 atau 20.00. Makanya, saya yang pulang dari kantor pukul 15.30 biasanya menjemput anak saya yang bungsu untuk bersama-sama pulang ke rumah…

Biasanya ketika mobil saya sudah parkir di Gedung Kwarnas, anak saya sms “Pah..tunggu sebentar ya, saya lagi memberesin beberapa program lagi nih…”. Jadinya dia turun pasti jam sudah menunjukkan pukul 16.30 atau 16.45. Hanya tersisa waktu 1 jam 15 menit menuju ke buka puasa. Padahal di bulan puasa seperti sekarang ini waktu tempuh dari kantor anak saya ke rumah paling minim 2 jam…

Maka mobilpun saya gas pelan-pelan mengikuti kemacetan Jakarta, dengan rute Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Perwira, Jalan Pejambon, Jalan Medan Merdeka Barat lagi, Jalan Menteng Raya, Jalan Cikini Raya (sudah mulai macet di depan stasiun Cikini), Jalan Diponegoro (macet berat di depan RSCM), Jalan Salemba Raya (cukup macet di depan RS St. Carolus), Jalan Pramuka (cukup lancar karena sepeda motor kebanyakan pakai jalur lambat), belok kanan ke Jalan By Pass (cukup macet antri masuk tol), masuk tol gerbang Rawamangun ke arah TMII). Nah, biasanya di tol dalam kota inilah bedug buka puasa diperdengarkan oleh Radio Prambors yang disetel oleh anak saya (BCR = Balada Cerita Ramadhan adalah cerbung kesukaannya)…

Nah, untunglah everything is well prepared. Waktu macet tadi di Jalan Pramuka menjelang lampu merah Pramuka, anak saya sudah beli 2 bakpao rasa ayam dengan harga @ Rp 5.000. Biasanya juga beli satu pak kerupuk Palembang berisi 4 dengan harga Rp 7.000. Di mobil biasanya sudah tersedia 2 botol Aqua ukuran sedang. Jadi…begitu duk..duk..duk…Allahu Akbar…tanda adzan Maghrib terdengar, kami berduapun berlomba-lomba menggapai bakpao itu dan memasukkannya ke mulut….sampai penuh dan sampai tidak bisa berkata-kata….. ;-(

Akhirnya bisa berkata-kata lagi bila seteguk dua teguk air Aqua sudah membasahi kerongkongan…. 😉

Di masa lalu, sering kali buka puasa dijalani di Jalan. Waktu saya masih tinggal di Bogor walaupun sudah bekerja di Jakarta, dengan mobil jemputan ramai-ramai biasanya bedug buka puasa terdengar waktu kita sedang membayar tol di gerbang tol Bogor, 2 km sebelum tol Jagorawi berakhir. Akhirnya, setiap orang selalu berbekal makanan seperti roti dan untuk minumnya waktu itu masing-masing sudah siap dengan Susu Ultra di tahun 1980 itu (Aqua di jaman itu belum diperdagangkan oleh alm Pak Tirto Utomo…hehehe…)…

6 Comments (+add yours?)

  1. tutinonka
    Sep 05, 2008 @ 18:27:07

    Kalau begitu setiap hari sholat maghribnya dijamak dengan sholat Isya ya Pak? Wah, saya mbayanginnya aja capek Pak. Untungnya, meski terbilang cukup sering ke Jakarta, saya belum pernah terjebak macet yang bener-bener ‘cet’ …

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 06, 2008 @ 07:04:58

    –> Bu Tutinonka :

    Nggak kok Bu, kita sampai rumah masih masa sholat Maghrib. Soalnya kan rumah saya ada di pinggiran tol…

    Tapi kalau terpaksa harus dijamak dengan Isya, ya apa boleh buat. Soalnya kan nggak ada mesjid di pinggir jalan tol yang naik ke atas (By pass, Cawang-Priok) atau saya nggak bisa sholat sambil duduk di mobil soalnya sedang nyopir je. Sebenarnya bisa sholat di rest area TMII tapi bulan puasa ini antrinya ngaudzubillah panjangnya….kalau ditekuni pasti dapat giliran sholatnya lamaaa dan sudah masuk Isya pula, makanya lebih baik langsung ke rumah sekitar 5 menit lagi dari TMII….

    Reply

  3. narpen
    Sep 06, 2008 @ 08:58:03

    kemaren pulang dari kampus jam 17an om. wah salah strategi nih. baru inget pas di tengah jalan.. yah, apes deh..

    memang macet! untung ada polisi yg mindah trayek angkot saya (dari taman sari ke cihampelas via pasupati). meski tukang angkotnya sempet mo ngomel2, tapi emang pas dari atas jembatan, saya liat pertigaan rektorat-taman sari macet ga ketulungan (ga ada lampu merahnya pula, cuma bunderan aja disitu). Klo ga mungkin angkot saya terlanjur kejebak macet yang lebih parah lagi…

    Reply

  4. tridjoko
    Sep 06, 2008 @ 19:31:53

    –> Mbak Narpen :

    Yah…ternyata di semua kota besar sama saja yah…kalau jelang buka puasa pasti macet total…

    Yang perempatan Gd Annex dengan Jalan Tamansari itu memang parah pisan euy…kapan itu nggak puasa aja sudah pabalieut kayak gitu…apalagi kalau jelang buka puasa…

    Lain kali, mikir-mikir kalau mau pulang, pakai strategi gitu…hehehe…

    Reply

  5. edratna
    Sep 07, 2008 @ 06:17:18

    Dulu saya sering menunggu buka puasa dulu di kantor, sholat Magrib baru pulang…kalau mau pulang langsung, pasti buka puasa dijalan saking macetnya (memutari jembatan semanggi bisa 1, 5 jam)…dan terpaksa sholat Magrib di jamak.

    Makanya jadi tak sempat tarawih berjamaah di masjid, lha sholatnya udah mulai, baru sampai rumah. Terpaksa sholat sendiri di rumah….dan kalau capek sekali, kadang lupa tadi udah hitungan berapa ya…..kacau deh….

    Kemarin dari Surabaya naik pesawat jam 8 malam…sampai Jakarta jam 21.30 wib…di Prapanca masih macet……

    Reply

  6. tridjoko
    Sep 07, 2008 @ 07:32:08

    –> Bu Edratna :

    Ya ternyata kesimpulannya, saat bulan puasa seperti sekarang ini sebaiknya pulang ke rumah sekitar pukul 16.00 biar bisa memburu buka puasa di rumah dan shalat maghrib….

    Atau pulang aja setelah berbuka di kantor atau di kafe dekat kantor, shalat maghrib di kantor dan baru pulang ke rumah. Pasti deh jalanan jadi lancar…

    Kalau sampai jam 21.30 Jakarta masih macet, yah..sebut saja itu “penyakit khas Jakarta”…hahahaha….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: