Pimp my friend…

Pernahkah anda melihat acara tv “Pimp my Ride” di Global TV atau variasinya “Pimp my Ride UK” di stasiun yang sama ? Sukakah anda dengan acara tersebut ? Wah,,,saya beserta kedua anak saya suka menonton acara TV tersebut, sedangkan mamanya anak-anak lebih suka nonton sinetron yang banyak nangisnya…

Di acara tersebut, hostnya adalah Xzibit…yaitu seorang penyanyi rap dari Amerika berkulit hitam yang amat sangat lucu cara ngomongnya. Sedangkan yang versi UK saya agak kurang sreg dengan logat si Host, dan saya juga tidak tahu siapa nama Hostnya di UK sana tapi yang saya ingat mereka pernah mendandani mobil bobroknya Djibrel Cisse ex pemain Liverpool sehingga menjadi mirip mobil Van-nya The A Team….

Yah,,,pokoknya acara itu kurang lebih isinya “Perbaiki dah mobil bobrok saya sehingga menjadi baru lagi”…

Nah..yang saya bahas di sini justru adalah bagaimana saya pernah mendandani teman saya yang baru datang di Amerika dari Indonesia sehingga penampilannya cocok dengan kebanyakan American student di sana. Yah mungkin versi halus dari acara “Fashion Police” juga di Global TV..

Ceritanya di bulan Agustus 1988 datanglah seorang teman mahasiswa baru Computer Science di universitas saya, Indiana University at Bloomington. Dia datang dari Medan. Rambutnya kribo, dan doi pakai kacamata. Yah kurang lebih penampilannya mirip dengan Ucok Harahap dari group band AKA dari Surabaya yang suka menyanyikan “Sex Machine” mirip dengan raja soul James Brown itu…

Nah, karena penampilan kawan ini belum sesuai dengan penampilan kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Amerika sini, maka kuajaklah kawan ini mengunjungi beberapa toko untuk mengubah penampilannya. Pertama, kuajak dia ke Toko Buku di Indiana Memorial Union sebagai pusat dari kegiatan mahasiswa di Indiana University ini. Kuajak dia beli tas backpack warna biru muda bermerk JANSPORT seharga sekitar $ 25 untuk menggantikan tas kulitnya yang dibawa dari Medan.

Kedua, karena kulihat kebanyakan mahasiswa Amerika menggunakan sepatu berwarna putih terbuat dari kulit yang sudah agak belel, maka kuajaklah kawan ini ke College Mall sebagai mall terbesar di kota Bloomington ini. Kuajak dia beli sepatu kets (sneakers) putih, saya lupa merknya tapi Amerika banget lah…ya mungkin kalau nggak New Balance (NB) ya Nike. Harganya sekitar $ 45. Sampai di rumah saya bujuk kawan ini untuk memvermak sedikit sepatunya sehingga kelihatan sedikit belel, maka kutaburlah segenggam pasir ke masing-masing sepatu dan kugosokkan ke sepatu itu sehingga kelihatan agak belel…Hahaha…puas saya !

Ketiga, kuajak kawan ini sekali lagi ke College Mall ke toko jeans yang jual jeans bermerk yang paling banyak dipakai oleh orang Amerika. Apalagi kalau bukan Levi’s, walaupun ada merk lainnya semacam Guess, Wrangler, Lee, ataupun Lee Coopers. Kupilihkan model yang bukan type zip fly Levi’s 501 soalnya bisa-bisa ia dianggap geek atau fag… Jadi kuambilkan type yang ada zip benerannya. Kalau nggak type 520 ya 528 seharga $ 50 (Guess lebih mahal, sekitar $ 65)…

Tas punggung sudah, sepatu sudah, celana jeans sudah. Yang belum sekarang adalah ikat pinggang, jam tangan, dan hem (shirt). Maka sayapun masuk kembali ke toko Levi’s dan kuminta kawan itu beli ikat pinggang Levi’s yang modelnya paling sederhana dan terbuat dari kulit buffalo. Harganya sekitar $ 20. Kemudian kuajak kawan ini menyeberang College Mall di toko besar yang belinya dengan cara aneh. Apalagi kalau bukan Service Merchandise. Di sini orang beli barang bukan dengan melihat barangnya langsung, tapi melihat jenis barang, ukuran, warna, harga, dan sebagainya melalui sebuah Katalog Service Merchandise. Lalu untuk membelinya, kita mengisi sejenis formulir dan dengan menyontek katalog yang kita pegang, kita masukkan item number dari barang yang mau kita beli itu. Barang datang dari gudang sekitar 5 menit kemudian, kita bayar di cashier, dan barang boleh kita bawa pulang…

Makanya kawan saya itu saya suruh beli jam Casio digital di Service Merchandise tadi dengan harga $ 35. Jam digital warna hitam yang cool dan sangat cocok untuk kuliah di jurusan Computer Science yang memerlukan presisi dan serba digital…

Sayapun senyum-senyum sendiri menemani kawan ini belanja barang-barangnya….. 😉

Barang terakhir yang saya suruh kawan ini beli adalah hem alias shirt. Karena bawahnya sudah jeans Levi’s maka saya suruh kawan ini beli Madras shirt alias baju cowboy terbuat dari katun dan bermotif kotak-kotak itu. Kali ini kawan itu saya antar ke K-Mart karena urusan baju beginian paling murah harganya. Dua baju Madras shirt-pun berpindah tangan ke tas kawan ini. Harganya masing-masing $ 25 buatan Bangladesh !

Oooops…lupa, bentar lagi musim dingin. Karena sekarang ini walaupun resminya masih Summer (waktu itu bulan Agustus) tapi sebulan kemudian sudah resmi masuk ke musim gugur (Fall) yang anginnya semakin kencang dan nanti bulan Desember akan resmi masuk ke musim dingin (Winter). Maka kawan ini saya antarkan beli baju pancho dingin, kemana lagi kalau nggak kembali ke toko Service Merchandise…(walaupun menurut katalog JC Bean dan Land’s End barang yang ditawarkan juga nggak kalah cool)…

Senyum sayapun semakin lebar, apalagi setelah seminggu kemudian saya melihat kawan saya itu melangkahkan kaki dengan tegap untuk mengambil kelas Computer Science yang pertama di gedung Lindley Hall, yaitu Data Structures and Algorithms….. Penampilannya kini sudah bener-bener Amerika !!!

Saya masih ingat ketika pertama kali ia dititipkan di apartemen saya di jalan South Fess setiba dari Medan. Kawan yang membawa dia dari airport pertimbangannya cuman satu, yaitu ia akan mengambil jurusan Computer Science, maka ia ditaruh di apartemen saya. Masalahnya, selama seminggu di Amerika kawan baru ini selalu melek malam dan selalu tidur di siang hari. Sepanjang malam selalu melihat TV terus dengan volume yang agak dibesarkan, sedangkan siang hari ia tidur pulang seolah bermimpi menebang pohon….Zzzzz…..zzzzz….zzzzz….. Dalam hati saya agak terganggu dengan kebiasaan yang bertolak belakang 180 derajat dengan kebiasaan saya itu. Beberapa tahun kemudian baru saya nyadar, bahwa kawan ini menderita “jet lag” setelah perjalanan dari door to door selama 40 jam dari Medan sana…

Beberapa hari kemarin ini, ia say Hi di blog saya ini. Komunikasi pertama setelah 19 tahun berpisah. Karena saya meninggalkan Bloomington tepat tanggal 28 Desember 1989 yang lalu…

Pertanyaannya, pernahkan anda memvermak penampilan teman anda, sedrastis saya memvermak penampilan teman saya ini ?

11 Comments (+add yours?)

  1. hendry
    Sep 13, 2008 @ 22:42:25

    “jet lag” apa yah.?? @_@

    Wow.. Dollarnya buanyak bgt.. Menghabiskan sekian ratus dollar dalam waktu sehari. Bisa sakit jantung ak. Hahaha

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 14, 2008 @ 07:56:32

    –> Hendry :

    Di kota saya Bloomington dulu, letaknya persis di sisi lain dari dunia jika dilihat dari posisi Jakarta. Jadi kalau di Jakarta jam 3 siang, berarti di Bloomington jam 3 malam, begitu sebaliknya…

    Jet lag itu kebiasaan lama yang masih dipertahankan di tempat yang baru. Misalnya di Indonesia biasa tidur malam (di Amerika siang), maka kalau siang di Amerika ia akan tidur seolah sedang malam (karena body clocknya bilang demikian). Demikian sebaliknya, kalau di Amerika lagi malam (di Indonesia siang) ia akan melek terus seolah sedang siang seperti di Indonesia. Jadi kebiasaan itu akan menyiksa bagi dirinya sendiri maupun tuan rumah yang ditinggalinya di Amerika sana. Untungnya jet lag akan hilang dengan sendirinya setelah 1-2 minggu…

    Setiap mahasiswa yang dapat beasiswa untuk belajar ke Amerika, di bulan pertama waktu berangkat ia akan menerima 3 x uang beasiswa bulanan. Jadi mis uang beasiswa bulanan $ 650 ia akan menerima = 3 x $ 650 = $ 1,950. Suatu jumlah yang cukup banyak, tujuannya memang untuk beli baju, buku, dan sebagainya…

    Kawan tadi menerima beasiswa, jadi ratusan $ itu tadi uang dari sponsornya, bukan dari kantongnya sendiri….

    Jelas kan ?

    Reply

  3. hendry
    Sep 16, 2008 @ 23:02:21

    Oooo….. ^^
    Padahal jet lag udah dijelaskan yach.. Tapi, gak nyadarr.

    Reply

  4. ardianto
    Sep 18, 2008 @ 14:11:40

    kelas Computer Science yang pertama di gedung Lindley Hall, yaitu Data Structures and Algorithms…..

    Uh, kelas pertama langsung Data Structures and Algorithms? Tepuk tangan deh kalau itu… 😛

    *Masih kesusahan belajar Data Structures and Algorithms*

    Oh, ya.. kalau kelas Electrical Engineering dikasih Data Structures and Algorithms nggak?
    *mencari yang senasib* :mrgreen:

    Reply

  5. tridjoko
    Sep 19, 2008 @ 07:45:21

    Mas Ardianto :

    Menurut aturan yang berlaku di CS Dept Indiana Univ. bagi orang yang background S1-nya bukan Comp Sci harus mengambil mata kuliah PREREQUISITES dulu sebanyak 15 cr hrs, yaitu Introduction to Digital Computing (3 cr hrs), Computer Structures and Assembly Languages (4 cr hrs), Data Structures and Algorithms (4 cr hrs), dan Programming Languages – LISP (4 cr hrs)…

    Intro to Digital Computing mudah, tapi yang 3 sisanya sangat sulit. Belajar Data Structures dengan buku Aho, Hopcroft, Ullman bahasanya cukup sulit dan bagi yang pertama kenal pointer…ouch..itu sulit sekali. Assembly Languages juga “pain in the butt” (“sulit banget” !), masak mau memprogram sederhana saja harus berbaris-baris codingnya. Programming Languages yang pakai bahasa LISP juga super sulit bagi saya, karena buku Friedman yang dipakai “seperti mendaki gunung” terutama kalau sudah membahas “tail recursion”, salah satu contohnya satu function “call/cc … ” yang satu baris code-nya untuk mengerti bisa diterjemahkan melalui 11 papan tulis !!!!! Saya yakin alumni ITB kayak sampeyan-pun bakal termehek-mehek karenanya..

    Setahu saya di Purdue University (banyak alumni Purdue jadi dosen ITB, salah satunya Pak Harsono Tarupratjeka – lihat button “About me”) mahasiswa Industrial Engineering, Electrical Engineering, Computer Science, dan Mathematics harus ngambil mata kuliah Data Structures and Algorithms…

    Tapi persaingan mendapat nilai di AS cukup seru : nggak boleh nyontek/ngopy pekerjaan teman, harus bekerja sendiri, harus banyak melatih soal-soal di Exercises, dan banyak menulis program komputer (coding)…..Tidur jam 03.00 sudah “the order of the day” (“sudah biasa”)…

    Melanjutkan Master’s atau Ph.D di US Mas Ardianto ?

    Mau ?

    Reply

  6. ardianto
    Sep 19, 2008 @ 17:52:01

    La, saya juga nggak pernah nyontek kok Pak…
    Nggak bisa ya udah, kumpulin hasil koding kosongan aja… 😛

    Bagi yang pertama kenal pointer memang akan sulit sekali belajarnya. Seperti saya ini yang baru kenal semester ini. Kalo di sini belajar dari diktat, diktatnya sendiri pakai acuan bukunya Niklaus Wirth…

    Lisp emang bahasa yang ribet, udah nulisnya operatornya pakai prefix, susah kalau ekspresinya panjang seperti (^ -1 (* (+ 1 2) 3)). Baru belajar list of list saja saya sudah termehek-mehek pak… Apalagi tail recursion itu. 😆

    Pengen sih Pak ngelanjutin studi di US atau Eropa. Tapi, ya belajarnya harus ditambah lagi nih… 🙂

    Reply

  7. ardianto
    Sep 19, 2008 @ 17:54:34

    Pak di about me itu disebut Pak Prihadi Setyo Darmanto? Sekarang dosen Teknik Mesin ITB bukan?

    *Saya keponakannya, ibu saya adik beliau* 😀

    Reply

  8. yulism
    Sep 20, 2008 @ 09:21:48

    Belum pernah Pak Tri, yang pernah memermak diri sendiri… Permak periode pertama waktu dari Magetan ke Malang (dari gadis desa menjadi gadis kuliahan), Permak Periode ke Dua dari Malang ke Surabaya (dari gadis kampus menjadi wanita kantoran), Permak terakhir dari Indo ke Canada… 🙂 thanks

    Reply

  9. tridjoko
    Sep 20, 2008 @ 22:18:22

    –> Mas Ardianto :

    Ooooo…anda itu anaknya adiknya Pri yang cewek itu tho ?

    Walah…saya tahu dong adiknya Pri, lha wong dulu saya sering main ke rumahnya Pri di Nglames maupun di Juron. Ngobrol dengan bapak dan ibunya dan juga dengan adik-adiknya…

    Bapaknya Pri itu adalah anak adiknya mbah saya. Jadi kita masih saudara jauh ya mas Ardianto ?

    Hehehe…dunia ini memang sempit tenan…

    Reply

  10. tridjoko
    Sep 20, 2008 @ 22:21:21

    –> Mbak Yulis :

    Wah…kalau memermak diri sendiri apa bisa disebut “Pimp my look” ya ?

    Hehehehe….lebih tepatnya disebut “menyesuaikan diri” ngkali mbak ?

    Misalnya saya dulu dari SMA 1 Madiun masuk IPB, mau nggak mau ikut “mode” yang biasa dipakai anak Bogor. Lalu dari Bogor kerja di Jakarta (BPPT masih Pertamina waktu itu), mau nggak mau ikutan cara berpakaian teman2 yang lain. Baju2 lama dibuang dan dibeli baju baru yang lebih “trendy” dan sama dengan yang dipakai teman2 jadi lebih nyaman gitu…

    Hahaha..semua orang sama ya mbak ?

    Reply

  11. ardianto
    Sep 21, 2008 @ 10:26:17

    Ooooo…anda itu anaknya adiknya Pri yang cewek itu tho ?

    Betul, tepat… 🙂

    Walah…saya tahu dong adiknya Pri, lha wong dulu saya sering main ke rumahnya Pri di Nglames maupun di Juron. Ngobrol dengan bapak dan ibunya dan juga dengan adik-adiknya…

    Rumah Nglames sudah dijual sama Akung (kakek) ..
    Sekarang tinggalnya di Juron. Saya tiap lebaran masih ke Juron kok pak.. 🙂

    Bapaknya Pri itu adalah anak adiknya mbah saya. Jadi kita masih saudara jauh ya mas Ardianto ?

    Emm… iya yah…
    Iya, sekarang dunia sempit banget rasanya, hehehe… 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: