Cemorosewu-Sarangan Pass

Di atas telaga Sarangan
Di atas telaga Sarangan

Tanggal 15-18 September 2008 kemarin kami berlima dari Tim IT kantor kami mengunjungi kantor client di Madiun untuk membantu penerapan ERP untuk IT/Business Alignment mengingat kegiatan bisnis client yang semakin meningkat pesat akhir-akhir ini yang harus dibarengi dengan penataan IT mereka.

Hari Senin pagi tanggal 15 September saya dan kawan-kawan group “Koko Bento” (artinya “yang tinggal di BSD alias Bekasi Sono Dikit”) janji untuk rendezvous di ujung masuk jalan tol di daerah Bulog. Rendezvous pukul 05.30, jadi saya datang di tempat “ground zero” pada pukul 05.35 diantar Satpam Kompleks yang menawarkan diri jadi tukang ojek amatir. Pukul 05.40 datang kawan lainnya, Satrio yang diantar adiknya. Pukul 05.45 taksi Express (the second best taxi in Jakarta) yang dicharter Pak Amin datang di “ground zero”. Tinggal menunggu Pak Herry yang datang belakangan pada pukul 05.48…
Pagi itu walaupun hari Senin, tapi karena di bulan Puasa mungkin orang akan “hitting the road” agak siangan. Jadi jalan dari Jatiwarna ke airport Soekarno-Hatta bisa dibilang lancar-lancar saja. Pak Sopir tua yang asli Kabanjahe-pun menyetir dengan santai di tengah2 lalu lintas yang sepi. Kami datang di airport sekitar 1 1/4 jam kemudian yaitu pada pukul 06.00.
Hari masih terlihat pagi dan Pak Yudi yang mengepalai rombongan ini belum datang, karena ia yang satu-satunya tinggal di BSD (Bumi Serpong Damai) beneran ! Kamipun masih sempat brainstorming di halaman terminal 1C yang tumben pagi itu masih sepi. Membahas apa beda ERP full size bila dibandingkan dengan menggabungkan aplikasi-aplikasi IT yang sudah ada dengan menaruh sebuah middleware “di atas” nya yang biasa disebut dengan “best of breed”.
Pada pukul 06.15 kamipun masuk bandara. Security check seperti biasa, kamipun sudah di depan counter Mandala, official airline kita pada pagi itu. Dua pasang mbak yang tingginya 170 cm menyambut para calon penumpang yang perlu informasi. Setelah check in dengan “online ticket” dan menaruh tas-tas kami yang berat di bagasi, kamipun membayar airport tax Rp 30.000 seorang dan menaiki escalator menuju gate C3..
It’s Mandala, not Air Asia. Jadi ruang tunggu penumpang C3-pun juga terlihat sepi. Banyak tempat duduk kosong, dan the best of all story.. semua penumpang dengan tempat duduk no. 1 sampai 15 diminta duduk di wing sebelah kanan, sedangkan nomor 16 sampai 30 diminta duduk di sebelah kiri. Nice arrangement !
Lima belas menit sebelum pukul 07.00 kamipun diminta boarding. Hal yang saya senangi ketika boarding, yaitu adanya “belalai gajah” alias “garbarata” memang benar-benar ada di Mandala ini (not for Air Asia !). Akhirnya kamipun masuk perut pesawat disambut pramugari yang berbaju batik mirip “The Singapore Girl”-nya Pierre Balmain, tapi dengan warna hijau kebiruan. Perut pesawat Airbus A320 ini begitu lebar dan begitu bersih dengan warna krem agak putih. Stiker petunjuk di tempat duduk juga ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Perancis. Wah..jangan-jangan pesawat ini masih “fresh from the oven” karena baru keluar dari hanggar pembuatannya di Toulouse, Perancis..
Cerita tentang Mandala akan saya tulis tersendiri. Everything is so perfect, dengan pramugari berwajah Winona Ryder menyapa ramah waktu menerangkan cara penggunaan pelampung keselamatan.. Everything is so perfect, hanya saja saya merasa pesawat bergerak ke arah barat dari tadi seolah mau terbang ke Medan atau Singapura padahal kan kita terbang ke Yogyakarta di sebelah timur ?
Tepat pukul 07.50 pesawatpun soft landing di Bandara Adisucipto Yogyakarta. Kamipun keluar dari perut pesawat, menuruni tangga pesawat dan berlima menari-nari kecil sambil menirukan salah satu iklan…”Yogya…Yogya…Yogya !!!”. Penumpang lainnya acuh tak acuh melihat serombongan bapak-bapak bergaya seperti anak muda. Mungkin mereka sudah melihat ribuan kali peristiwa seperti ini, yaitu menirukan iklan yang terkenal itu..
Pak Yudi-pun membuat kontak dengan pak pengemudi dari perusahaan client yang bakal menjemput kita di Yogya. “Pak sampai mana pak ?”. “Saya sudah lewat dari Solo pak, 40 menit lagi sampai Yogya”, kata bapak pengemudi di seberang telpon. Yah, padahal airport Adisucipto cukup bagus transport intermoda connection-nya. Ada kereta api yang stasiunnya bisa dicapai dengan hanya menyeberang barang 15 meter (jika ke arah Solo) atau menyeberang lewat underpass (jika ke arah Yogya). Ada bus Yogya Express ber-AC yang miniatur dari busway di Jakarta. Pokoknya asyik lah…(Sebenarnya kalau Pak Wito belum sampai Solo kami mau naik KA Pramex saja ke Solo)…
Pak Wito-pun akhirnya datang, dan kami berlima menata diri dan bagasi kami di Innova 2.0 G ini. “Mau lewat mana pak ?”, tanya Pak Wito ramah. “Anu pak…lewat Tawangmangu saja !”..Sambil lewat kota Solo kamipun mampir di Serabi Notosuman untuk beli serabi. Satu pak serabi “rasa original” dihargai Rp 17.000 dan satu pak yang berasa “coklat” dihargai Rp 18.000. Satrio yang orang asli Solo-pun berpromosi, “Siapa yang ingin jadi pejabat, sudah semestinya makan serabi Notosuman dulu sebagai syarat”. Wah, ini kayak bunyi iklan di TVRI jaman dulu….hehehe…
Akhirnya kami lewat Tawangmangu yang siang itu belum diselimuti kabut sehingga kami bisa melihat pemandangan indah sepanjang jalan. Saya dengar bahwa rute Tawangmangu-Sarangan yang dulu jalannnya sangat curam ini sudah dibuatkan jalan tembus dengan maksud supaya tidak terlalu curam…
Akhirnya di tengah perjalanan ke Madiunpun kami berhenti di jalan tembus baru menggantikan jalan menanjak 43 derajat yang ada sebelumnya. Waktu untuk berfoto-foto di atas Telaga Sarangan yang siang itu agak kurang mistisnya karena tidak ada kabut dan terlihat sangat sepi…
“Yaaaa….ucapkan cheeeeeseburgeeeeer”, kata Satrio yang memotret saya…
Sayapun menyilangkan tangan, di belakangnya pemandangan Telaga Sarangan, dengan rambut warna perak yang mencerminkan berapa banyak rumus yang saya simpan di memori otak saya (konon, saya pernah bilang 1 uban di rambut saya sama dengan 1 rumus yang saya simpan di otak saya)…
Hahahaha….
(Ini foto thumbnail, atau versi kecil dari foto. Untuk melihat foto ukuran full size, tinggal di-klik dua kali….)

17 Comments (+add yours?)

  1. Edwin - 08PAV
    Sep 27, 2008 @ 07:07:33

    o..skrang uda ada bypass ny , baru tau gw…..he3x bypass ny lewat mana, tembus mana pak.

    masih adem spt dulu ga pak ????

    Minal Aidzin Wal fa idzin…. Mohon Maaf ya pak atas salah format, salah tulis, salah bahasa, dan sebagainya…. hehehhehee

    Reply

  2. yulism
    Sep 27, 2008 @ 08:49:59

    Wah Pak Tri gambarnya keren banget, Lewat jalan tembus Cemoro Sewu, lebih enak daripada lewat Ngawi ya Pak? Sarangan masih asri ya Pak Tri. Terimakasih

    Reply

  3. tridjoko
    Sep 27, 2008 @ 08:59:51

    –> Edwin :

    Jalan tembus dari Sarangan ke Cemorosewu yang paling tajam tanjakannya, itu sekarang diberi jalan short-cut yang lebih datar dan lebih lebar. Tapi penilaian saya hanya sedikit saja jalan tembusnya (mirip jalan tembus di alas Roban)…

    Mungkin bila pemerintah punya dana lagi, jalan tembus akan dibuat sehingga lebih datar di banyak tempat.

    Maksud saya…walaupun sudah ada jalan tembus, tetap saja melalui jalan itu harus banyak berdoa karena jalan tanjakannya masih sangat menantang untuk mobil-mobil Indonesia apalagi bila penuh penumpang…

    Reply

  4. tridjoko
    Sep 27, 2008 @ 09:03:11

    –> Mbak Yulis :

    Kalau dari Solo ke Madiun lewat Cemoro Sewu-Sarangan konon hanya 2 jam mbak. Sedangkan kalau melalui hutan Mantingan-Ngawi perlu waktu 3 jam. Jadi menghemat 1 jam mbak…

    Sarangan masih tetap indah, tapi minggu kemarin itu musim panas sepanas-panasnya di Madiun jadi banyak rumput dan pohon-pohon jati mengering. Jadi pemandangannya kurang indah…

    Dari segi pemandangan lebih bagus kalau pas musim hujan dan Sarangan diselimuti oleh kabut. Tapi di masa seperti itu jarang ada “sopir amatir” seperti Pak Wito yang berani lewat situ karena katanya jarak pandang hanya 2 meter ke depan !!!

    Wow….!!!!

    Reply

  5. edratna
    Sep 27, 2008 @ 15:09:54

    Saya pernah kesana tahun 1995, melewati tanjakan curam, dan mesin mobil sempat mati. Pemandangannya indah sekali, sayang Sarangan kalau hari kerja sepi sekali…sempat juga naik kapal motor mengelilingi telaga, dan makan durian dipinggir telaga.

    Reply

  6. ardianto
    Sep 27, 2008 @ 16:41:53

    Saya lebih suka lewat Mantingan-Ngawi atau kalau nggak ya, lewat Ngrambe-Panekan…
    Mengingat jalan Tawangmangu yang berkelak-kelok itu membuat saya yang gampang mabuk darat ini mual muntah 😆
    Tapi yang saya suka dari jalur ini adalah pemandangannya yang bagus. Belum lagi kalau beli Jagung Bakar dan Sate Kelinci yang di perbatasan Jatim-Jateng itu…

    Reply

  7. tridjoko
    Sep 27, 2008 @ 18:20:11

    –> Bu Edratna :

    Saya tahun 1978 malah pernah jalan kaki berlima dari Sarangan menuju Cemoro Sewu dan berakhir di Tawangmangu. Waktu itu suasana masih ijo royo-royo, hutan pinus yang masih relatif belum terambah oleh orang-orang iseng…

    Saya perhatikan setiap pohon sekitar Cemoro Sewu sekarang ini agak janggal, yaitu ada semacam benjolan di pohonnya yang menurut saya itu efek hujan asam atau ada mutasi gen tertentu. Tapi kalau hampir semua pohon menderita hal yang sama, saya tidak bisa menjelaskan mengapa begitu…

    Singkatnya, hutannya sekarang tidak seperawan dulu apalagi ada dibuat beberapa jalan tembus di banyak ruasnya..

    Waktu saya lewat Sarangan memang hari biasa dan suasananya sepi sekali (tampak dari foto telaga yang hampir tidak ada aktivitas sama sekali). Tapi nanti mulai hari Lebaran suasana akan hiruk pikuk dan macet lagi…

    Reply

  8. tridjoko
    Sep 27, 2008 @ 18:24:47

    –> Mas Ardianto :

    Kalau hari sedang “normal” saya juga lebih suka lewat jalur Sragen-Mantingan-Ngawi, apalagi kalau musim hujan sebentar lagi..

    Saya lewat Tawangmangu-Cemorosewu-Sarangan ya baru kali ini karena sopir yang menjemput cukup berani dan yakin melalui jalan ini. Tapi melihat terjalnya jalan, walaupun tidak muntah saya lebih suka lewat jalan yang lebih datar…

    Lewat Ngrambe-Panekan ? Itu yang belum pernah saya coba selama ini…mau ah kapan-kapan mencobanya…katanya jalanan cukup mulus dan sepi…

    Reply

  9. hestu
    Dec 09, 2008 @ 21:36:05

    sepi dan mulus lewat shine ngrambe jogorojo,sawah2 berteras kalau pas lagi hijau,,waah suegeeerrr……tapi ekstra hati2.kemarin pernah nemuin sapi melintas jalan

    Lha sapinya tinggal ditangkap aja dong….buat dijadiin korban…. 😉
    Waktu kecil saya dulu saba-nya di Ngrame-Jogorogo-Walikukun. Ada mbah saya yang dimakamkan di Walikukun, dan ada teman ibu saya yang guru dulu menikah dengan orang Ngrambe – Jogorogo… Kalau mobil lagi fit mungkin ada baiknya “njajah deso milang kori” ke situ-situ lagi….

    Reply

  10. ivan
    Dec 14, 2008 @ 22:45:45

    apakah jalur Sarangan – Tawangmangu , masih rawan dengan pos – pos pinggir jalan yang sengaja mengahambat pengguna jalan ?
    Sampai harus diderek dan ganti kampas kopling dengan paksa ??
    Saya sekeluarga berniat berlibur ke sana .

    Saudara Ivan,
    Wah..sulit ya menjawab pertanyaan anda yang satu ini dari perjalanan saya yang kemarin. Tapi kesan saya, pos-pos pinggir jalan yang anda maksudkan sudah tidak ada tuh… Dan dari tulisan di harian Kompas sekitar sebulan yang lalu, dengan adanya pelurusan dan pemotongan jalur yang tajam antara Sarangan-Cemorosewu menyebabkan pos-pos liar itu hilang dengan sendirinya karena sekarang mobil dengan mesin tokcer bisa dengan mudah mendaki, tidak seperti dulu yang harus ngegas, zigzag dan awas serta waspada….
    Selamat menikmati perjalanan… jangan lupa berdoa…

    Reply

  11. ivan
    Dec 15, 2008 @ 08:59:39

    Terimakasih Pak Tri , karena sudah lama sekali saya tidak kesana sejak kami pindah ke Bali .

    Iya Pak, selamat pulang kampung kalau gitu… 😉

    Reply

  12. agus_agus
    Mar 16, 2009 @ 22:33:37

    Please, dipun aturi lewat Kendal, jogorogo, Ngrambe, Sine…… Wah Asyiiiiiiik Tenaaaan……

    Mas Agus,
    Matur nuwun saranipun…mengke kapan-kapan kulo cobi piyambak. Criyosipun medal mriku jan uenaaak tenaan…

    Reply

  13. sofi_ mahfudz
    Mar 31, 2009 @ 17:57:41

    assalamualaikum pak tri…
    wah beruntung sekli, saya bisa menemukan blog bapak. waktu baca tulisan di bog ini, kadang sampe ketawa sendiri. tapi kuakui tulisan2 di blog ini memang luar biasa, banyak manfaat yang saya ambil.
    btw, istri bapak masih kul di Brawijaya Malang? waktu pulang ke jakarta udah pernah bawa oleh-oleh khas malang blum? keripik tempe dan keripik buah maksudny…
    kalo belum, lain kali kalo mau beli, pesennya ke saya saja ya, cos saya lagi bisnis keripik tempe dan aneka keripik buah, dijamin Mak Nyuuussss….

    salam kenal
    sofi
    mahasiswa Brawijaya

    Mbak Sofi,
    Wah…senang sekali ada orang yang senang membaca blog saya. Memang kadang2 ada yang lucu mbak..
    Saya membaca komentar mbak Sofi ini ada di depan isteri saya juga, lalu komentar mbak saya baca keras-keras…
    Kata isteri saya, nanti kalau ke Malang mau beli krupuk tempe dan kripik buah dari mbak Sofi…
    Nanti deh kalau isteri saya lagi di Malang, saya email mbak biar mbak bisa nelpon langsung ke hp isteri saya..
    Sementara ini isteri saya ke Malangnya cuman 2 minggu sekali atau 1 bulan sekali, soalnya tinggal nulis disertasi saja..

    Reply

  14. andre
    Sep 12, 2009 @ 10:29:08

    Pakkkk mau nanya aku pengen ke sarangan tapi memang saya hobi naik motor, emang jalannya sejuram apa ya pak sekarang, kayaknya bisa nggk naik motror, maturnuwun pak

    Mas Andre,
    Wah…sayang anda nggak menyebutkan posisi anda sekarang di kota apa ? Madiun atau Solo ?

    Tapi dari perjalanan saya menembus Cemoro Sewu – Sarangan tahun 2008 lalu naik Toyota Kijang Innova….jalanan sudah tidak securam tahun 1970an, 1980an dan 1990an…. Malahan saya lihat banyak motor Yamaha Mio yang persenelingnya otomatis dipakai para pengendara motor dan Mio bisa naik dengan mudah sampai Cemoro Sewu – Sarangan.

    Berarti Mas Andre dengan motornya pasti mudah juga mendaki Cemoro Sewu – Sarangan. Yang agak mengkhawatirkan memang kalau kabut lagi turun. Tapi sekarang kan belum musim hujan jadi kayaknya kabut belum akan turun pada sebulan mendatang…

    Sekian mas, selamat mencoba motor mendaki Cemoro Sewu…

    Reply

  15. SIS
    Oct 18, 2010 @ 11:28:32

    ai pernah jalan kaki dari srangan k tawangmangu, malem, nginep dirumah pak kuwu semoro 1000, atis banget, naik turun tajam, tahun 1983 1n

    Reply

  16. ryan cahry
    Sep 02, 2011 @ 14:51:34

    saya thn 2004 tanpa sengaja lewat jalur sarangan dri magetan mnuju solo,, knp tanpa sngaja krna saya sndiri g tau jalur trsbt namun atas saran seseorang ktany jalurny lebih cepet sampe,,, namun sayang d tengah perjalanan mobil yg ku pacu d tnjakan yg curam g bsa naik krna dtunggangi dbelakang oleh sekelompok orang yg akhirny kampas koplingku jebol,, pd akhirny mreka mnawarkan jasa derek yg hargany selangit,, namun sungguh bruntung wktu itu ada orang brbaik hati mnawarkan jasa derek gratis.. terima kasih untuk bapak yg tlah dgn tulus mmbantu derek mobilku smpe karang anyar,, kebaikan bapak (lupa lg namany) takan prnah saya lupakan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: