Airline apa yang terakhir kau naiki ?

Who ? Me ?  Mandala Airlines dong !

Wah..sorry photo ini saya scan dari sanitary bag yang ada di depan tempat duduk saya…. maaf deh, soalnya nggak ada sumber lain yang bisa saya scan…

Mengapa Mandala ?

Sebenarnya nggak ada sih alasan khusus. Cuman waktu itu teman sekantor penginnya terbang ke Yogya daripada ke Solo ketika kami memutuskan ingin pergi ke Madiun untuk mengunjungi client kami. Alasannya harga tiket Jakarta – Solo sekitar Rp 600.000 sedangkan kalau Jakarta – Yogya dengan online ticket harganya Rp 289.000 karena ada promo dari Mandala Airlines…

Jadi alasannya, harga tiket termurah. Kedua, waktu terbang di pagi hari yang cocok untuk orang kantoran. Ketiga dan seterusnya, saya alami ketika sudah naik pesawat Mandala..

Ketiga, ternyata jam berangkat pesawat Mandala ini benar-benar on schedule, tidak ada delay barang sedetikpun !!! (Mind you, I little bit exaggerate thing…). Harusnya flight jam 07.10, tapi jam 06.45 kami sudah diminta untuk boarding melalui sebuah garbarata (belalai gajah) yang ada di bandara Soekarno-Hatta. Jam 07.00 mesin pesawat sudah dihidupkan sehingga AC terasa agak dingin dibandingkan waktu AC ditenagai oleh sebuah GSE (Ground Support Equipment).. Sebentar kemudian, pesawat sudah taxi …dan sebentar lagi sudah take off…

Pramugari Mandala juga ramah-ramah. Bahkan di pagi yang cerah itu salah satu pramugari yang memperagakan tatacara keselamatan menurut standar FAA berwajah mirip Winona Ryder yang pernah main bersama Richard Geere di film “Autumn in New York”…

Pesawat Mandala yang bertipe Airbus A320 ini juga masih terbilang baru, dengan bahasa Inggris dan bahasa Perancis menghiasi sticker yang tertempel di tempat duduk di depan saya dan juga di dekat lampu di atas saya. Interiornya terlihat bersih, dan jarak antar tempat duduk kelihatannya lebih lebar daripada pesawat maskapai penerbangan yang lain (atau mungkin karena warna interior pesawat yang sangat pastel ringan begitu ?)…

Waktu mendaratpun tepat, dan pramugari kembali menyapa setiap penumpang yang akan meninggalkan pesawat, “Terima kasih, semoga terbang bersama kami lagi”…

Sure mbak, soalnya nanti baliknya Yogya – Jakarta dua hari kemudian saya juga pesan tiket Mandala kok…

Apakah anda setuju dengan pendapat saya ini ?

6 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Sep 30, 2008 @ 07:09:22

    Saya jarang naik pesawat lain, selain Garuda untuk penerbangan dalam negeri. Alasannya karena dibayari kantor dan standarnya Garuda….(sudah diberikan dalam bentuk tiket)

    Reply

  2. tridjoko
    Sep 30, 2008 @ 09:48:32

    –> Bu Edratna :

    Ya..itulah, ternyata hidup saya “lebih berwarna”… 😉

    Jika saya pergi perjalanan dinas yang dibiayai dengan DIPA (dari kantor “A” & “B”), saya pasti terbang dengan Garuda karena di dalam DIPA harga tiket telah dipatok maksimum sesuai dengan standar Garuda..

    Tapi jika saya pergi perjalanan dinas dalam rangka melakukan audit dengan biaya “bridging” dari kantong sendiri (yang nantinya akan di-reimburse oleh project), tentu mencari airline yang murah namun aman serta nyaman dan juga waktu pergi/datangnya yang paling sesuai dengan pekerjaan kita. Dalam hal ini most likely airline yang kita pilih bukan Garuda, karena airline lain harganya bisa 1/2 atau bahkan 1/3 dari Garuda…

    Begitu juga dengan hotel, kalau dibiayai DIPA hotelnya pasti kelas mewah (setara dengan businessman papan atas), tapi kalau dibiayai dengan kantong sendiri ya yang cukup nyaman saja (namun sudah cukup bersih dan bisa disambi bekerja dengan laptop di kamar hotelnya)..

    Sedangkan masalah uang saku, dibiayai dengan DIPA atau tidak mendapatkan uang saku yang sama yaitu “sa pek ceng” per hari. Lumayan masih ada sisa sedikit-sedikit, yah bisa buat beli oleh-oleh. Dari segi fulus sebenarnya tidak menjanjikan, tapi mendatangi kota-kota seantero Nusantara ini sangat refreshing banget, yang pada ujungnya timbul rasa bersyukur betapa luasnya (dan beragam budayanya) negara kita ini…

    Yah hitung-hitung wisata kuliner kayak Pak Bondan “Maknyusss” Winarno lah…

    Reply

  3. simbah
    Oct 04, 2008 @ 15:35:01

    Haa…ha… kalau ini saya boleh nyombong..Dik Yon…dari Rumah naik Becak ke Stasiun Madiun, trus naik KA Bima, sampai Jatinegara naik Bajaj ke Hotel dari Hotel ke Halim naik Taxi, dari Halim ke Matak naik Fokker F-50 propjet, dari Matak ke Laut naik Helicopter EC-1530 Dolphin buatan Eurocopter Perancis, dari Laut ke Platform naik Motor Vessel atau kapal suply….lengkap dah….itu tiap 2 minggu sekali, jadi rutin…jenuh juga yah….?

    Reply

  4. tridjoko
    Oct 04, 2008 @ 17:02:08

    –> Simbah :

    Hehe…asyik juga yah ganti-ganti moda angkutan seperti itu…

    Eh..bukannya bahasa Perancisnya helicopter itu Dauphine ya ? Kalau itu saya masih ingat bentuknya, yaitu baling-baling belakangnya ada di dalam “body” tidak seperti helikopter lainnya yang baling-baling belakangnya nongol di luar body…

    Saya melihatnya waktu Indonesian Air Show 1996, waktu Indonesia dan BJ Habibie masih jaya-jayanya…

    Reply

  5. Agung
    Oct 05, 2008 @ 17:37:52

    AIRASIA donk Pak…!!!
    hahahahaha..!!!

    Reply

  6. Soudang
    Feb 08, 2013 @ 14:01:45

    Fly

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: