“Rasa Amerika” dan “Rasa Eropa” di Kota Bandung

Sorry, udah lama nggak nulis di Blog. Lagi sibuk nih saya… Sabtu tanggal 25 Oktober 2008 kemarin anak kedua saya Ditta diwisuda sebagai Sarjana Sains bidang Geofisika dari Institut Teknologi Bandung, dengan acara wisuda ala ITB yang bisa disebut “terheboh se dunia” (lain kali saya nulis banyak posting tentang hal ini), dan…seminggu kemudian giliran anak pertama saya Dessa yang akan “tying the knot” bersama teman lamanya Mas Nanu yang sama-sama teman sekolah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro…

So…it has been and it will be a very very very busy week for me….last week…and also next week…

Double Happiness ? Could be, if I and all of my family can pass it through….

Nah, Jumat pagi tanggal 24 Oktober 2008 kemarin selepas shalat Jumat saya dan isteri sudah “hit the road” menuju Bandung, Parijs van Java. Perjalanan di jalan tol Cikampek cukup padat merayap, sehingga baru 2,5 jam kemudian mobil kami sampai ke daerah Buah Batu, tempat “rendez vouz” dengan Ditta. Setelah menjemput Ditta dari rumah Pak De-nya, kamipun menaruh barang-barang yang seabrek ditaruh dalam dua tas “duffel” besar Reebok dan Halley Hanson ke penginapan kami di Jalan Tirtayasa yang merupakan “penginapan resmi” dari kantor isteri. Suasana penginapan cukup “homy”, dengan penjaganya Pak Pardi yang sangat familiar (“ramah”) mengantarkan kami ke kamar no.2 yang mempunyai 4 bed. Satu bed tersisa karena anak pertama kami Dessa tidak ikut ke Bandung dan lebih baik tinggal di Jakarta untuk konsentrasi acara dia seminggu kemudian. Kami tinggal di sana 2 hari dengan tarif cukup murah, apalagi di tengah-tengah semua hotel Bandung yang sudah “fully book” konon karena hari Sabtu 25 Oktober 2008 itu di Bandung ada 5 universitas yang mengadakan wisuda yaitu : ITB, Unpar, Unpas, Unyani, dan STT Telkom. Tarifnya adalah Rp 50 ribu per kepala per hari !

Sepanjang hari Jumat itu dari siang sampai tengah malam, kami disibukkan dengan berbagai permintaan Ditta yang harus dipenuhi satu per satu. Puluhan tokopun kami masuki, dan yang paling surprise adalah sangat sulit mencari jarum di kota Bandung. Hampir semua toko besar dan kecil yang kami masuki tidak menjual jarum di sore dan malam itu ! Hey,..bukankah yang sulit mencari jarum itu di tumpukan jerami ? Apakah Bandung sudah menjadi tumpukan jerami ? Hahaha..

Pelan-pelan saya dan keluarga sadar bahwa jaringan jalan tertentu di kota Bandung sangat sulit untuk dijalani, kata anak saya Ditta jaringan jalan di sekitar Jalan Riau, Cilamaya, Muhammad Yusuf, Aceh, dan sekitarnya bagaikan labyrinth !!! Semakin bingung menyopir melalui jalan-jalan itu semakin anda tersesat ! Jaringan jalannya tidak ada yang lurus, hampir semuanya curvy dan belok, serta banyaknya pertigaan dan perlimaan atau perempatan yang tidak tegak lurus 90% membuat pandangan sopir, apalagi di malam hari, menjadi blinded dan obstracted oleh mobil lain, pagar orang, atau rimbunnya dedaunan di Kota Kembang ini. Jaringan jalan yang berliku-liku tak beraturan ini mengingatkan saya di daerah Kebayoran Baru Jakarta yang sampai hari ini belum sukses saya jalani pakai mobil. Dan…tentu saja mengingatkan saya akan jalan-jalan di kota Munchen di Jerman sana….yang curvy, naik turun, dan tidak beraturan. Wah…Bandung dengan “rasa Eropa” nih…

Kebalikan dengan daerah Riau, Aceh, dan sekitarnya yang dipenuhi oleh Butik dan FO (Factory Outlet), maka daerah sekitar Cihampelas, Cipaganti dan Sukajadi adalah daerah sangat teratur dengan jalan-jalan serba lurus dan setiap perpotongan dengan jalan lain selalu dalam bentuk perempatan dengan sudut 90 derajat. Mudah…malahan sangat mudah untuk dikendarai dan dikenali jalan-jalannya. Tiga jalan tadi yaitu Cihampelas, Cipaganti, dan Sukajadi membentuh “avenue” yang membelah Bandung bagian barat dari Plesiran Valley dari utara ke selatan. Sedang jalan-jalan kecil yang membelah ketiga avenue tadi ibarat Street dalam tata kota ala Amerika. Misalnya jalan Pasteur dan jalan-jalan lain yang mengarah timur-barat. Mengendarai jalan-jalan sekitar Cihampelas dan Cipaganti dan sekitarnya ibarat mengendarai kota-kota Amerika. Teratur, lurus-lurus jalannya, dan sangat mudah dikenali. Mengingatkan saya akan kota Miami yang petanya sangat simpel : seperti kotak-kotak kecil yang jumlah street-nya saja sekitar 200 street. Itu hanya North Street saja, karena saya dulu tinggal di kampus FIU (Florida International University) di Bay Vista yang alamatnya 151st North Street !! Nah lu !.. Jadinya, berkendara di jalan-jalan Bandung sekitar Cihampelas, Cipaganti dan Sukajadi ibarat berkenda di Amerika, alias Bandung dengan “rasa Amerika”…hahaha…

Hebatnya lagi, kedua daerah “ala” itu dipisahkan oleh suatu lembah atau valley yang dinamai Plesiran. Makanya banyak orang Bandung, terutama rekan saya Budi Raharjo dari Elektro ITB yang sangat memimpikan Plesiran Valley sebagai “Silicon Valley”-nya Bandung sebagai tempat pusatnya orang-orang pinter mengembangkan “start up” companies untuk membentuk Indonesia sebagai e-economy yang sangat disegani di kawasan Asia Tenggara…

Bandung oh Bandung, memang tiada habis cerita yang bisa ditulis darinya…

Apakah anda berpendapat yang sama dengan saya ?

Tentang survai mahasiswa untuk kelas 07PAW

Hallo mahasiswa kelas 07PAW,

Bila anda benar salah seorang dari 36 mahasiswa kelas 09PAW dan Binusian 2009, maka anda diminta untuk menjadi responden untuk survai yang dilakukan oleh kakak kelas anda Nathanal Gratias.

Untuk melihat DETAILS dari survai tersebut silahkan klik http://xii-superbatch.com/details.pdf

Sedangkan untuk mendownload PROGRAM untuk survai tersebut silahkan klik http://xii-superbatch.com/program.rar

Terima kasih atas perhatian kalian semuanya…

I really appreciate it..

Wajah yang sering saya gambar

(Ini gambar “pantograph”…alat pembesar foto, bisa didapatkan di toko-toko buku atau gerai kaki lima atau di pasar loak)

Gara-gara posting saya yang bicara tentang pensil dan kode-kodenya serta cara ngerautnya…saya jadi ingat bahwa di masa kecil dari SD, SMP dan SMA bahkan sampai universitas..saya suka menggambar, terutama menggambar wajah orang. Di puncak “karir” saya senang menggambar bahkan saya pernah ingin melanjutkan ke Seni Rupa ITB di bulan Desember 1975…tapi ada kata-kata “discouragement” dari ayah saya waktu itu yang membuat saya mundur teratur dari cita-cita saya masuk SR ITB…

Waktu SD kelas IV atau V (1967-1968) saya sering mendengarkan musik-musik The Beatles di radio RRI Madiun atau radio swasta Madiun waktu itu (Remaco dan Gabriel) atau radio SMA 1 Madiun (Bima). Lagu Beatles yang paling populer waktu itu adalah “Hey Jude” dan “Obladi Oblada”..

Nah, sebagai “selebriti” yang lagunya sering didengar di radio lokal dan lirik lagu-lagunya bisa dibaca di majalah “Vista” atau “Aktuil”, maka saya dan teman2 juga hapal persis wajah anggota-anggota Beatles seperti : John Lennon, Ringo Starr, George Harrison dan Paul McCartney. Foto-foto hitam putih anggota Beatles juga mudah didapatkan di emperan toko-toko di Madiun.

Pada suatu hari, saya memperhatikan seorang remaja tetangga yang bernama Sapto sedang melukis keempat wajah anggota The Beatles menggunakan pensil “konte”. Pensil yang ukurannya agak besar daripada pensil biasa, lebih lunak, dan legam sekali hasil coretannya itu. Saya memperhatikan dengan sangat antusias bersama teman2 kecil saya. Ia menggambar selama 30 menit untuk satu contoh foto yang diletakkannya di sebelah kiri kertas HVS warna putih. Selesai menggambar, iapun membagikan hasil gambarnya tadi ke siapa saja yang hadir dan menginginkan gambar itu sekaligus mengaguminya sebagai pelukis dadakan !

Besoknya sayapun menaiki sepeda BSA Bapak saya untuk pergi ke emperan toko di sekitar alun-alun, untuk mencari alat pembesar gambar (magnifier) di Pasar Sore alias Pasar Kaget Madiun di sekitar Proliman (waktu itu kereta api Madiun-Ponorogo masih aktif berjalan setiap jam). Sayapun menemukan alat itu, yang terbuat dari kayu balsa (pinus) yang bentuknya seperti jangka guru di kelas itu. Di rumah, sayapun mencoba membesarkan gambar anggota Beatles macam John Lennon dengan alat itu. Hasilnya…wah lumayan, persis foto aslinya… !!! Tetapi sebagai orang yang berbakat menggambar (menurut penilaian saya sendiri), saya tidak terlalu tertantang hanya membesarkan foto pakai alat pembesar. Saya penginnya menggambar sendiri…!

Di suatu sore hari yang cerah, sayapun mengumpulkan barang 4-5 teman dekat untuk menyaksikan saya melakukan “demo” menggambar. Sayapun bergaya seperti Sapto : pakai celana sobek-sobek, telanjang dada, wajah celometan, dan muka agak serius…menggambar tokoh pertama saya : John Lennon ! Mengapa John ? Karena jaman itu penampilannya sudah seperti Hippies beneran dengan jenggot dan kumis tebal, rambut gondrong dan kaca mata. Amat sangat mudah digambar !! Soalnya nggak menggambar “wajah” sama sekali, cuman menggambar “asesoris” dari wajah saja !…

Teman2 saya rupanya sama “mlongo”nya melihat saya menggambar seolah mereka sedang melihat Sapto sedang menggambar. Setelah 20 menit menggambar, gambar John Lennon yang tersenyum misteriuspun selesai. Teman saya berebut mendapatkannya ! “Sabar..sabar..sabar…semua akan dapat gambar dari pelukis Yono…”, kata saya waktu itu. Akhirnya sayapun menggambar semua anggota Beatles yang jumlahnya 4 orang untuk ke-4 orang teman saya, dan satu lagi saya menggambar John Mayall…yang entah kenapa suka juga digambar sama anak2 seusia saya sebagai tokoh di luar Beatles…dan satu lagi adalah Joe Cocker…

(Selain Sapto, anak Madiun yang suka menggambar adalah Mas Yoyok kakaknya Kikiek, temannya kakak saya yang kedua di SMP 2 Madiun. Di samping itu adalah Mas Totok (ooops…saya lupa namanya, tapi yang jelas ia melanjutkan ke Teknik Geodesi ITB angkatan 1974), teman kakak saya kedua di SMA 1 Madiun yang suka menggambar tokoh-tokoh Kimia semacam Niels Boer yang gambarnya dipasang di ruang Laboratorium Kimia SMA 1…)…

Waktu di SMP 2 Madiun saya juga melanjutkan hobby saya menggambar wajah (figure drawing). Kali ini saya mulai menggambar yang alus-alus dan yang bening-bening….cewek !!! Tipe cewek yang suka saya gambar mirip dengan tokoh isterinya Raja yang kembali di dalam film “Lord of The Rings : The Return of The King”. Sayang saya lupa namanya, tapi di film “Reign over Me” kalau tidak salah ia berperan sebagai Psikiater bagi si sakit dr. Feinmann yang diperankan oleh Ben Stiller itu. Kalau di Indonesia, yah wajahnya mirip Cathy Sharon ex VJ-nya MTV yang sekarang suka muncul di Extravaganza itu….muka-muka bentuk telur, yang sangat mudah saya gambar…

Tapi gara-gara pandai menggambar wajah, waktu SMP saya kena batunya. Pada suatu hari saya menggambar wajah adik kelas saya yang ternyata persis..sis…gara-garanya di Kompas kok ada contoh “Oh..ini wajahnya mirip si X” adik kelas saya itu. Saking miripnya, sekelas dan se SMP-pun jadi geger ! Sayang, ada beberapa “secret admirer” di kelas saya sendiri – setidaknya si Y dan si Z – yang patah hati karenanya !!!

Pas di SMA 1 Madiun, saya masih suka menggambar wajah orang-orang. Tapi masa SMA bagi saya adalah “masa kegelapan” dan tidak ada secuilpun perasaan ingin jadi orang pinter. Adanya menjauhi masyarakat umum dan saya hanya melakukan “kegiatan rahasia” seperti diam-diam ikut beberapa perguruan bela diri yang latihannya 3 kali seminggu… (later on, ini banyak membantu saya membangun kepercayaan diri dan disiplin terhadap waktu)..

Waktu IPB tingkat III, yaitu di tahun 1978, terjadilah Revolusi Iran yang dikomandoi oleh Ayatollah Khomeini. Foto-foto Khomeini-pun ada di majalah Time atau Newsweek yang suka saya beli di Toko Buku Wisma Batik (seberang Patung Kujang saat ini)… Instinct saya menggambarpun jalan lagi dan saya menggambar wajah Ayatollah Khomeini dengan berbagai alat tulis yang saya punya : pensil biasa, pensil Konte, ballpoint biasa, ballpoint Boxy…sampai-sampai beberapa gambar Ayatollah memenuhi kamar kost saya di Jalan Belitung Bogor…

Pada suatu hari, serombongan anak Statistika IPB mampir ke kamar kost saya dan melihat gambar Ayatollah Khomeini yang sangat mirip…merekapun satu per satu “mengambil” gambar-gambar itu dan ternyata saya biarkan saja. Besoknya, saya menggambar beberapa wajah Ayatollah lagi dan ternyata masih banyak yang belum kebagian…akhirnya gambar itu “diambil” lagi. Mengapa wajah Ayatollah ? Ya karena seperti John Lennon, Ayatollah mempunyai wajah penuh kumis dan jenggot dan surban yang amat mudah buat digambar…

Kalau yang saya ceritakan di sini seolah kegiatan menggambar saya “sukses selalu”, sebenarnya tidak selamanya seperti itu. Sebenarnya saya mau “menyensor” cerita ini, tapi saya urungkan dan lebih baik terus terang. Pada waktu saya SD dulu, Bapak saya sering melihat saya menggambar John Lennon dan sebagainya di rumah, diam-diam Bapak sayapun melihat salah satu “bakat terpendam” saya. Beliaupun memberi saya uang sekedar untuk beli kertas HVS putih dan pensil konte. “Coba Le, Bapak digambar”. Sayapun mengambil salah satu foto hitam putih Bapak saya dan mencoba menggambarnya lebih besar…

Ternyata hasilnya…..tidak mirip sama sekali !!!!!

Sayapun malu hati di hadapan Bapak saya. Dan proses menggambar Bapak saya itu saya ulangi dan saya ulangi lagi…tapi tetap tidak bisa mirip. Di gudang, saya cari alat pembesar gambar itu…tapi sudah tidak ada. Di emperan toko sekitar Pro Liman, sayapun tidak nemu…

Ya udah Pak, maafin saya. Foto yang tidak mirip Bapak itupun tidak tega saya pasang di tembok…

I wish my Dad sported a mustache, beard, dan glasses…..so it is a lot easier to draw his face !!!!

Raut raut raut yang dalam….

Walaupun sebagai tiga bersaudara kami keluar dari “pabrik” yang sama, di dalam hal tulis-menulis alias “menulis halus” saya dan kedua kakak perempuan saya diberi “bakat” yang berbeda. Kakak sulung saya tulisannya rapi jali, miring ke kanan, ditulis dengan ballpoin berwarna biru, dan agak kurus-kurus hurufnya, mungkin sekurus orangnya. Kakak kedua saya tulisan tangannya juga bagus hanya saja huruf-hurufnya rapi namun agak “gemuk” mungkin seperti orangnya yang agak “chubby” gitu. Sedangkan saya sendiri, saya menilai tulisan tangan saya lumayan – maksudnya “readable” gitu – dengan huruf mengarah kadang ke kiri, kadang tegak lurus ke tengah, dan kadang ke kanan, tergantung suasana hati saja…atau barangkali ini bakat saya yang bisa memainkan beberapa peran.. ? (Saya biasa mendalang sejak kecil dan bisa menirukan suara tokoh wayang apa saja dengan sangat baik)…

Nah, alat tulis yang paling populer tentu saja ballpoin. Namun di jaman itu menulis PR dengan pensil juga sudah banyak dilakukan siswa. Belum ada pensil mekanis, jadi kebanyakan pensil carbon buatan China kalau nggak salah merknya “Tung Hwa” atau yang agak mahal dikit bikinan Jepang dengan merk “Kirin”..

Kalau di bidang menulis tangan tadi di antara kita tiga bersaudara sangat berbeda, maka di bidang meraut pensil…bisa dibilang kami bertiga seragam. Yang dijadikan model adalah cara meraut pensil kakak saya tertua, yaitu diraut agak tajam yah sekitar 5-6 cm dari ujung pensil. Sedangkan sebelumnya saya dan kakak nomor dua kalau meraut pensil hanya 1-2 cm saja dari ujung pensil…

Waktu jaman itu meraut pensil dilakukan dengan pisau “pemes” berbentuk pisau tajam sepanjang 8 cm dengan “tutup” terbuat dari seng. Sekali lagi ini bikinan China dengan merk…ah lupa, yang jelas warna-warna yang ditawarkan sangat menggoda yaitu : merah samber lilen (metalic), hijau samber lilen, biru samber lilen, dan kuning samber lilen. Hiasan di pisau pengraut ini juga bagus-bagus : ikan-ikan, burung-burung, dan ayam-ayam..

Siang itu ada seorang guru SMP saya kelas I yang tidak masuk kelas, jadi kelasnya kosong tidakada yang mengajar. Waktu itu saya gunakan sebaik-baiknya untuk meraut semua pensil yang ada di kotak pensil saya. Jumlahnya ada 4. Semua saya raut ala kakak sulung saya, yaitu sepanjang 6-7 cm di ujung pensil. Namun karena masih banyak waktu, akhirnya saya buka-buka kotak pensil temen sebangku saya Hamdani dan meraut 2 pensil di sana dengan cara kakak sulung saya, yaitu 6-7 cm di ujung pensil. Ketika tahu 2 buah pensilnya saya bantu meraut, si Hamdani tidak memperlihatkan muka terkejut alias tenang-tenang saja…

Ternyata siang itu, ketika saya tinggal makan siang beli ubi goreng dan teh manis di warung Pak Kebon ditambah dengan buang air kecil di WC sebelah kelas, saat itulah yang paling tepat buat Hamdani balas dendam. Semua 4 pensil saya yang telah diraut rapi sepanjang 6-7 cm tadi “diraut ulang” sama Hamdani. Cuman merautnya itu lho….habis-habisan sehingga pensil yang tidak teraut tinggal sepanjang 1 cm saja. Alias pensil saya diraut sepanjang 15 cm oleh Hamdani !!! Benar-benar gila tuh anak. Tapi saya tidak marah, karena berpikir Hamdanilah yang marah ketika pensilnya saya raut amat sangat tajam dan amat sangat panjang !!!

Besoknya ketika pelajaran Aljabar tiba, Pak Yudi sebagai pengajar Aljabar mendekati meja saya untuk melihat apakah tugas menambah kurang bilang minus dapat saya lakukan dengan benar. Melihat pensil saya yang 90% “telanjang” karena telah diraut Hamdani, Pak Yudipun tertawa tergelak-gelak…..

“Dasar anak jenius dan nyentrik, meraut pensilpun dihabiskan pula….”…

Hehe..gara-gara si gila Hamdani, saya dijuluki “anak jenius dan nyentrik”….

Itu saya banget, Ham !!!!

(p.s.: terakhir kali saya melihat Hamdani di sekitar tahun 1990. Waktu itu ia kerja di sebuah kantor di Gedung Jaya Jalan Thamrin, persis di sebelah kantor saya..Tapi sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi…..)…

(p.s. lagi : Kalau belum ngeh dengan apa yang saya ceritakan di sini, kapan-kapan saya tambahkan gambar ilustrasinya tentang pensil-pensil itu. Sayang Speedy di rumah sedang mati, jadi lain kali saja ya…)..

Raja yang paling dibenci

Raja yang paling dibenci di seluruh dunia, tentu saja adalah “Raja Kentut” !!

Celakanya, itulah “gelar kebangsawanan” saya sejak kecil. Sewaktu kecil dulu jika sedang bermain tiba-tiba bergerilya bau yang tidak sedap, pertama kali yang dicurigation pasti saya. Dan mereka “korban” itu, meminta agar saya menjulurkan lidah. “Nah…itu tuh lidahnya berwarna biru, berarti dia yang ngentut…”, kata mereka bersungut-sungut tapi puas, karena sudah menemukan “si culprit”…

Kelas 3 SD saya mempunyai teman sebangku, namanya Pudjo Wiseso. Hobby dan kemampuan kita sama, apalagi kalau tidak mengharu-birukan dunia nyata dengan bahaya latent berupa bau yang menggemparkan. Bisa disertai bunyi – yang ini tidak terlalu berbahaya, menurut Professor Fujita kategorinya baru K-1 – sampai menyelinap menusuk ke relung-relung hidung tanpa suara, nah ini yang oleh Professor Fujita (ahli angin puyuh AS) dikategorikan K-5 alias paling berbahaya !

Pada suatu hari, guru kami Ibu Tiwi menyuruh kami berdua – saya dan Pudjo – agar secepatnya keluar dari ruangan. “Ayo kalian berdua, cepat keluar dari ruangan !!! Cepat !!! Cepaaaattt !!!”, kata Bu Guru keras membahana sehingga seluruh kelas yang lagi mengerjakan soal pada berpaling ke arah asal suara. Kami berduapun berjalan gontai keluar kelas – agak malas-malasan, terutama saya. Ternyata kali ini yang menghasilkan K-5 (Kentut berskala 5 alias paling berbahaya) adalah Pudjo, bukan saya. Alhasil di akhir cawu, di raport saya nilai Budi Pekerti saya dituliskan “k” alias “kurang”, tepatnya mungkin… “kurang ajar”… !!!

Pudjo rupanya tinggal kelas, dan saya terus menapaki kelas-kelas selanjutnya. Baru kelas I SMP saya nemu “raja” lagi, yang kali ini bernama Hamdani – anak Sleko Slovakia (daerah di Madiun yang disebut Sleko, entah kenapa anak sekolah menamakannya “Sleko Slovakia”)…

Hamdani ini punya ilmu “k” yang lebih halus daripada Pudjo. Sekali waktu, pas dia baca buku sayapun “mengebom” dan Hamdani sebagai korban cuman mesam-mesem seolah hal itu tidak menyakitkan hatinya. Beberapa menit kemudian, sayapun dipanggil “Yon mari kita belajar bersama”. Kamipun lalu membaca buku bersama. Kali ini Hamdani bermain sok akrab, sayapun dirangkul dan tangannya yang tergenggam menunjuk ke buku yang sedang kami baca, seolah-olah ia sok akrab banget. Rupanya….tangan yang tergenggam itu mengandung zat polutan sangat berbahaya dengan kategori K-6 !!!!

Sayapun langsung pingsan….. dan bangun-bangun langsung menulis posting ini !

Chord & Lyric Changcuters “Hijrah ke London”

Ada buaaannyaaaak sekali enquiry yang menanyakan Chord & Lagu Changcuters yang judulnya “Hijrah ke London”..

Emang lagu itu sekarang lagi “in” di radio-radio Jakarta, Mall-mall Jakarta, sampai Indomaret dan Alfamaret yang kecilpun juga suka menyetel lagu ini..

Setelah saya search di Internet, saya nemu link-nya di sini : http://www.chordfrenzy.com/search.php?id=1065&lirik_kord_lagu=The_Changcuters-Hijrah_ke_London_chords_lyrics

Saya agak kesulitan nge-crop chord dan lyric itu di sini sih (ilmu belum nyampe atau ogah nyoba..).. Tapi saya coba deh !!!

The Changcuters / Hijrah ke London

Author : Donnie

all guitar chords available at chordfrenzy.com are based on author’s work and are published under legal permissions. Publishing any of them without publisher’s and author’s name displayed along is considered illegal. Please contact us for more informations.
Chord List chord images by dewaphobia
Want this chord list on your homepage? Get the code [ here ]
INTRO : (D5)

D-C#-B-D-C#-B-  A5

A5            C#5

Kau berkelana

B5            D5          A5

Ke negara sepak bola

C#5

Bukan Italia

B5            D5          A5

Bukan juga Argentina

C#5        B5     D-C#-B-D-C#-B-A5

Ohoho… Ohoho…

A5           C#5

Ditinggal cinta

B5           D5         A5

Buat aku tak berdaya

C#5

Gundah gulana

B5           D5         A5

Ingin aku menyusulnya

C#5          B5    D-C#-B-D-C#-B

Ohoho… Ohoho…(2X)

BRIDGE :

C#5    B5

Dia jauh

C#5    B5

Dia jauh

C#5    B5

Aku rindu

C#5   (E5)

Aku rindu

REFF :

A5       C#5         B5

London, London…

D5             A5

Ingin ku kesana

C#5       B5

London, London…

(D5)         A5

Pergi menyusulnya…

INTERLUDE : A5-C#5-B5-D5 (4X)

BRIDGE, REFF, INTERLUDE

CODA : D-D-D-B-E-D-A5

CHORD BY DONNY

GUITAR TUNING : E STANDARD

Mengapa jembatan penyeberangan ada di atas tanah ?

Tahun 1984 ketika oleh kantor saya ditugaskan untuk mengunjungi Jerman untuk belajar menghitung Transportation Life Cycle Cost, ada beberapa kekaguman yang menyeruak ke hati ini melihat kemajuan pembangunan bangsa Jerman yang sebenarnya pernah porak poranda dilanda Perang Dunia II…

Perumahannya begitu teratur. Transportasinya rapi, tidak hanya satu moda saja namun juga antar modanya bisa berjalan dengan rapi dan tidak ruwet..

Namun satu hal yang paling saya kagumi adalah penyeberangan jalan di Jerman yang ditata rapi berupa terowongan di bawah tanah yang bersih, terawat dan dilengkapi dengan eskalator pula..

Dua bulan kemudian ketika pulang ke Indonesia, masih dengan rasa kagum tentang terowongan penyeberangan jalan itu, saya terlibat diskusi dengan seorang teman lulusan Sipil UI yang concern banget tentang transportasi perkotaan..

“Eh, mas Prasetyo…mengapa sih jembatan penyeberangan di Jakarta kok ditaruh di atas tanah tidak seperti yang saya lihat di Jerman yang rapi jali karena berupa terowongan di bawah tanah ?”, tanyaku penuh selidik sama kawan si Prasetyo Hatmodjo ini..

“Anu Mas Tri, di Jakarta tidak bisa dibuat seperti itu karena beberapa alasan. Pertama, struktur tanah di Jakarta yang lembek dan berada di bawah muka air laut sehingga penyeberangan bawah tanah akan memerlukan pompa yang luar biasa besar agar tidak banjir”, saya manggut-manggut tanda setuju dengan pendapat kawan yang pintar ini..

“Kedua, dari segi keamanan. Kalau penyeberangan berupa terowongan bawah tanah tentu keamanannya tidak bisa terjamin. Orang jembatan penyeberangan di atas tanah saja banyak yang nodong”, katanya. Sayapun manggut-manggut masih setuju…

“Ketiga, biaya konstruksi jembatan di atas tanah lebih murah daripada membuat jembatan penyeberangan di bawah tanah”, katanya lagi. Masuk akal ! Dan sayapun masih manggut-manggut mendengarkan kawan yang berbakat jadi professor karena sering diajar sama Professor Roeseno yang teman Bung Karno itu…

“Keempat, orang Jakarta masih belum terbiasa dengan terowongan bawah tanah seperti itu. Pasti banyak pengamen, pengemis, dan orang berak di sembarang tempat…”, katanya kalem.

“Hah ? Masak iya sih ????”, sayapun langsung bangkit dari duduk terkejut akan pendapatnya yang tanpa tedeng aling-aling (blatant) itu…

Esok harinya, saya mau mencari makan ke Jalan Sabang. Dari kantor saya perlu berjalan kaki melewati jembatan penyeberangan di depan Bank Indonesia. Hari masih pagi, sekitar jam 11.00. Sayapun mendaki tangga demi tangga di depan bank papan teratas itu. Setelah sampai di tempat yang datar, sayapun bisa bernafas dengan lebih tenang..dan sayapun sambil jalan menghirup nafas dalam-dalam. Ternyata ada bau yang mencurigakan !!!!   TAI !!!!!

Ya !!!! Barang yang masih “fresh from the oven” itu terlihat masih panas dan masih keluar asapnya. Entah siapa yang sudah “bertelor” di atas jembatan penyeberangan ini….

Diam-diam saya teringat kata-kata Mas Pras “Gimana mau membangun terowongan penyeberangan jalan, orang jembatan penyeberangan yang letaknya di atas tanah saja masih sering diberakin orang”…

Tapi saya masih tetap belum mengerti, kejadian ini hanya terjadi 100 meter dari Bank Indonesia – bank teratas dari bank-bank lain di Indonesia. Dan hanya sekitar 1 km dari Istana Presiden….

Sayapun mengelus dada….

(Epilog : pagi ini, Senin 6 Oktober 2008 saya menyeberang di jembatan penyeberangan di atas Jalan Thamrin menuju kantor saya. Biasanya saya naik mobil dan parkir di kantor. Namun karena hari ini mobil dibawa isteri, maka sayapun naik kendaraan umum. Deja vu !!!!! Di ujung tangga pendakian sayapun melihat barang yang serupa, masih “fresh from the oven” persis seperti kejadian 24 tahun sebelumnya. Yang jelas yang bertelor di situ bukan Mas Prasetyo karena ia sudah pensiun….)…

Previous Older Entries