Idul Fitri sepanjang masa

Idul Fitri yang pertama kukenal adalah pada usia SD di tahun 1960an. Ritual yang biasa dijalani keluargaku pada waktu itu adalah sembahyang Ied di Alun-alun Kota Madiun dengan menggunakan sepeda atau becak. Kalau menggunakan sepeda, tentu perlu banyak sepeda untuk membawa semua keluargaku : bapak, ibu, kedua kakak, saya sendiri, dan kadang-kadang banyak kakak keponakan yang ikut tinggal di rumah kami. Wah..bisa 4-5 sepeda tuh dengan catatan 1 sepeda dipakai buat 2 orang. Kalau pakai becak, relatif lebih mudah karena tinggal manggil 2 becak pasti semua sudah terangkut…karena waktu SD kan saya dan saudara-saudara saya masih berukuran “mini” alias “liliput”…hehe…

Di tahun 1960an itu sepulang dari Sembahyang Ied di Alun-Alun Madiun, kami kembali ke rumah di Ngrowo untuk mengepak barang-barang “anteran” berupa rantang-rantang yang diisi : nasi, ingkung (ayam kampung panggang yang kepalanya ditekuk ke bawah sayap yang rasanya aduhai…), sayur urap, sayur oblok-oblok tempe, sayur kedele putih (ooops…saya lupa namanya…ueeenaaak banget), beberapa potong “apem” yaitu makanan terbuat dari beras berwarna putih yang bentuknya mirip piring terbang. Biasanya kami membawa 4 rantang yaitu untuk Bu Puh Jalal di Winongo, Pak Puh Bandi di Boboran, Pak Puh Wongso di Boboran, dan Embah Rejosari di Rejosari..

O ya, ada catatan : jika kami naik becak maka becaknya hanya sampai Klethak di sebelah timur jembatan kereta api Madiun, dan selebihnya kami jalan kaki ke rumah Bu Puh, Pak Puh, dan Embah… mungkin sampai sejauh 5-7 km kami jalani dengan jalan kaki sambil bernyanyi-nyanyi dan berjalan cepat…persis seperti adegan di film “The Sound of Music” itu…tapi suasananya di pedesaan Madiun tahun 1960an…

Tahun 1970an sejak saya masuk SMP, saya sudah mempunyai “gang” berupa teman-teman tetangga. Semuanya laki-laki, jadi kalau Idul Fitri saya dan gang punya acara tersendiri untuk pergi ke Alun-Alun buat sembahyang. Biasanya naik sepeda. Sedangkan Bapak, Ibu, dan kakak-kakak biasanya naik becak. Karena saya dan kakak-kakak sudah besar, maka acara ke tempat Pak Puh, Bu Puh dan Embahpun dilakukan dengan naik sepeda. Hal ini berlanjut terus ketika saya masuk SMA, karena pada waktu itu keluarga kami belum mempunyai sepeda motor…sedangkan kedua kakak saya sudah masuk IPB yang kuliahnya di Bogor.. (eh, emang ada IPB di kota lain ?)..

Begitu masuk IPB awal 1976, acara Idul Fitri ritualnya tetap sama dan selepas SMA sebenarnya oleh Ibu saya dibelikan sepeda motor (Honda bebek C70 warna merah) tapi selama semester 1 sepeda motor tetap ditinggal di Madiun (sehingga saya menderita homesick luar biasa, kepada Madiun dan kepada sepeda motor yang saya tinggal). Pada saat itu kalau tidak salah, Embah saya sudah agak sepuh yaitu usianya sekitar 80 tahunan makanya beliau ikut salah satu Pak Puh yang tinggal di Boboran. Akibatnya kalau mau sungkem ke Embah kami cukup bersepeda ke Boboran yang jaraknya dari rumah sekitar 4 km (menghemat 6 km sekali jalan dibanding jika kami harus ke Rejosari)..

Saya sekolah IPB hanya 4 tahun dan sejak itu bekerja di Divisi Advance Technology Pertamina alias BPPT. Cuti lebaranpun semakin sempit namun pas Idul Fitri ritual tetap sama. Setelah menikah di tahun 1982, 2 tahun setelah saya lulus IPB, ritual tidak lagi bisa dijalani mengingat setiap Lebaran saya tidak selalu bisa pulang. Seingat saya alasannya sulit mendapat tiket KA (di tahun 1982an, tiket KA tetap diperebutkan dengan seru seperti sekarang ini, malahan lebih seru karena jumlah KA pada waktu itu tidak sebanyak pilihan yang ada sekarang) dan seringkali isteri dalam keadaan hamil besar menjelang Lebaran (oopsss….logikanya agak sulit, kedua anak saya lahir Juni dan Juli, tapi ingat….Lebaran itu setiap tahun maju 11 hari jadi pada saat itu seingat saya Lebarannya bulan April-Mei gitu deh)…

Setelah bekerja di BPPT seingat saya, selama 5 lebaran saya ada di luar negeri. Tiga kali berlebaran di Bloomington (1987, 1988, 1989), satu kali berlebaran di Bangkok (1992), dan satu kali berlebaran di Singapore (1993)..

Hari Idul Fitri di Bloomington, Indiana biasanya dimulai dengan Sholat Ied berjamaah di padang rumput berbukit-bukit yang ada di seberang asrama saya Eigenmann Hall (bahkan kelihatan dari kamar saya). Tepatnya di belakang asrama Tulip Tree. Biasanya imam shalat Ied berasal dari negara-negara Teluk, saya tidak yakin apakah itu Arab Saudi atau Iran karena pada saat saya sekolah di AS ada pengaruh perebutan “kekuasaan” antara Suni dan Syiah. Seperti biasanya shalat Ied dilaksanakan dalam bahasa Arab seperti di Indonesia, tetapi khotbahnya dalam bahasa Inggris. Yang hadir cukup banyak sekitar 500 orang barangkali ada, karena orang Indonesianya saja ada sekitar 50 orang. Setelah selesai khotbah kami bersalam-salaman, tapi beberapa teman laki-laki Indonesia hanya bersalaman dengan orang-orang non Arab karena alasannya bersalaman dengan pria Arab harus pakai cepika-cepiki : cium pipi kiri, cium pipi kanan, cium pipi kiri, dan cium pipi kanan ! Ada orang Iran yang punya Oriental Store dimana kita biasa beli bumbu-bumbu Asia/Indonesia mau ngajak bersalaman, tapi tidak seorangpun cowok Indonesia yang mau bersalaman dan pura-pura tidak lihat, takut dicepika-cepiki. Saya lihat hanya cewek-cewek Indonesia yang bersalaman dengan pria Iran itu, karena hanya salaman tangan tanpa cepika-cepiki…

Yang agak aneh, teman-teman dari Arab menyediakan dua meja taman (seperti yang ada di Binus Food Court) untuk dipenuhi dengan makanan-makanan untuk dimakan selepas Shalat Ied. Di satu meja itu ditulisi pakai bahasa Inggris “Food for men only” dan di meja satunya ditulisi pakai bahasa Inggris “Food for women only“. Apa yang terjadi ? Dasar orang Indonesia !!  Orang Indonesia yang laki-laki kebanyakan menyerbu ke meja yang bertuliskan “Food for women only” sehingga tidak ada seorang perempuan Arabpun yang berani makan di sini. Sama dengan meja yang satunya yang bertuliskan “Food for men only” tidak ada seorang laki-laki Arabpun yang makan di sini karena dipenuhi oleh perempuan-perempuan Indonesia. Mungkin teman-teman Indonesia itu berpikir, “Cuek bebek. EGP = Emang Gue Pikirin !”… 😉

Wah.. yang terakhir ini cerita Idul Fitrinya tidak terlalu sukses. Idul Fitri di Bangkok tahun 1992 saya tidak ikut shalat Ied ! Mengapa ? Waktu itu di Indonesia oleh pemerintah Indonesia telah ditetapkan bahwa hari Idul Fitri adalah hari MINGGU sedangkan kaum muslim di Bangkok memutuskan hari Idul Fitri adalah hari JUMAT !!! Believe it or not. Jadi di hari Jumat pagi itu saya masih ikut kelas “Human Resources Development” di AIT Center, Phatum Thani yang berjarak 42 km dari Bangkok, sedangkan keempat teman Indonesia yang berasal dari Depdagri ikut shalat Ied di KBRI Bangkok tanpa memberitahu saya dan tanpa memberitahu dosen ! Dosennya merasa “ill feel” dan sayapun ikut “ill feel” karena tidak diajak Shalat Id dan karena kelas yang 20 orang menjadi sepi karenanya…

Setahun kemudian, hal yang sama terjadi ketika saya di Singapura di tahun 1993. Idul Fitri di Singapura dilaksanakan pada hari JUMAT sedangkan pemerintah Indonesia menetapkan Idul Fitri jatuh pada hari SABTU. Jadi mesjid-mesjid Singapura sudah melaksanakan Idul Fitri pada hari Jumat ketika saya masih harus ujian di kampus saya di Singapura (alasannya, sebagai pegawai negeri RI saya harus ikut jadwal Idul Fitri pemerintah termasuk berpuasa sampai sebelum hari H Idul Fitri, jadi agak merasa aneh harus sembahyang di hari H-1)…

2 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Oct 01, 2008 @ 22:28:42

    Sayur kedelai putih itu yang disebut Pelas bukan Pak Tri?
    Saya pernah sholat Ied yang tidak saya tahu madhhab masjidnya. Pas sholat dimulai, OMG saya ga tau sama sekali karena sholatnya beda banget sama sholat Ied nya madhhab Syafi’i di Indo. Waktu itu saya sempat bingung tapi setelah selesai saya fikir daripada tidak sholat ya sudahlah… 🙂 thanks

    Reply

  2. tridjoko
    Oct 01, 2008 @ 22:43:19

    –> Mbak Yulis :

    Gotcha !!!

    Bener mbak, orang Madiun nyebut sayur kedelai putih itu dengan nama “pelas”…

    Bener juga mbak, Islam di luar negeri (US dan UK) kadang-kadang cara sembahyangnya jauh berbeda dengan cara sembahyang orang Islam di Indonesia – khususnya di mesjid-mesjid NU di Jatim. Dan itu menurun ke cara sembahyang teman2 yang baru pulang dari luar negeri di kantor, yang kadang2 agak sedikit berbeda dengan cara sembahyang yang biasa saya lakukan sejak kecil. Tapi bedanya paling cuman 5%, jadi nggak apa-apa…ikut imamnya saja…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: