Nonton wayang kulit di tahun 1960an

Ketika Desa saya Ngrowo masih terbagi dua, Ngrowo lama yaitu Jalan Mulya Bhakti ke selatan yang rumah-rumahnya masih banyak yang tradisional Jawa berbentuk “Joglo” dan Ngrowo baru yaitu Jalan Mulya Bhakti ke utara yang rumah-rumahnya sudah rumah tembok, berukuran besar, dan tidak lagi berbentuk “joglo”…

Ketika listrik di jalanan belum ada neon (teknologi neon belum datang) dan semuanya adalah lampu pijar 25 Watt yang digantungkan setinggi 5 meter dari atas tanah sehingga memberikan kesan “temaram”, “syahdu” sekaligus “sendu”…

Ketika kebanyakan rumah tangga di tahun-tahun itu belum mempunyai radio listrik apalagi radio transistor (teknologi radio transistor belum ada) dan hampir semuanya belum mempunyai tv, sehingga membuat pertunjukan wayang kulit di desa saya patut dilihat oleh orang seluruh kampung…

Ketika hampir semua orang pada waktu itu alas kakinya berupa “teklek” alias bakiak yang terbuat dari kayu balsa, atau sandal karet yang terbuat dari karet ban mobil bekas, atau sandal “nylex” bikinan Jepang berupa plastik halus dan lentur serta berwarna-warni…

Ketika semua gadis desa belum memakai parfum yang mahal-mahal, dan satu-satunya parfum yang tersedia di pasaran adalah sekaligus minyak angin !! Merknya biasanya P.P.O. (singkatan dari “Pak Pung Oil”) ataupun “German Chap Lang”..

Ketika desa kami Ngrowo masih seperti “Hamlet”-nya Shakespeare dengan rumah-rumah beratap kelabu dan berdinding bambu yang disebut “gedhek”. Hanya saja desa saya seperti angka “8”, dengan “o” di atas berupa desa lama dengan rumah-rumah lama dan “o”di bawah berupa desa baru dengan rumah-rumah model baru..

Ketika mesjid Ngrowo lama masih berdiri dengan gagahnya berikut menara setinggi 8 meter yang selalu dinaiki oleh Bilal – petugas yang mengumandangkan adzan dengan sebuah alat pengeras di mulutnya berupa corong terbuat dari seng (ketika itu pengeras suara seperti “TOA” belum ada)…

Nah, dalam jaman seperti itu ada berita yang merebak ke segenap orang kampung saya bahwa ada “Wayang Kulit” akan segera dipergelarkan di hari Sabtu depan dalam rangka memeriahkan pernikahan di Ngrowo lama. Orang sekampungpun bersiap-siap. Anak laki-laki mempersiapkan sarung dan jaket kain yang akan dipakai nanti. Anak perempuan mempersiapkan pakaian yang terbagus, lengkap dengan “parfum” berupa P.P.O…

3 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Oct 02, 2008 @ 08:07:06

    Hahaha…jadi ingat nonton wayang…tapi senengnya cuma jajan aja…maklum kebanyakan yang nonton semalaman hanya kaum laki-laki.

    Reply

  2. simbah
    Oct 04, 2008 @ 14:45:55

    Saya yakin Bu Edratna suka jajan Trembesi goreng sangan atau Kuwaci, kalau nggak gitu Kacang goreng dalam Conthong atau Sagon, ya Bu…??? Sekarang jajanan macam itu sudah tinggal kenangan. Juga Enting-2 itu Kacang yang dipadatkan dalam kristal gulo jowo…

    Dik Yon, kalau menara Mesjid Ngrowo sekarang rupanya masih ada, cuman tidak kelihatan dari jauh, sudah kalingan dengan bangunan-2 baru. Padahal dulu Menara Mesjid itu kelihatan dari Jl. Kasatrian….atau mungkin sekarang sudah agak ambles, karena bobot bangunan, seperti gedung SMA-1 kita dulu kelihatan megah, sekarang sudah ‘ndeprok’ mungkin pondasinya sudah turun ya…??

    Reply

  3. tridjoko
    Oct 04, 2008 @ 16:57:44

    –> Simbah :

    Kebetulan 2 kali pulang ke Madiun terakhir kali ini saya sengaja naik becak melewati menara masjid Ngrowo itu sambil menuju makam untuk nyekar alm ayah ibu.. Memang masjid yang dulunya menaranya sangat tinggi dan kelihatan dari jarak 1 km itu, sekarang sudah nyempil di tengah2 bangunan rumah lainnya. Di samping itu, kita menganggap menara masjid itu tinggi karena kan waktu itu kita kecil. Misalnya jalanan depan rumah saya dulu rasanya lebaaaaar sekali, jebul kalah lebarnya dengan jalanan depan rumah saya di Jatiwarna sekarang..

    Ingat lagu “First of May”-nya Bee Gees ?

    When I was small, and christmas trees were tall..
    When I am tall, and christmas trees are small…

    Gedung SMA 1 sebenarnya juga masih tinggi besar tapi pandangan ke sana kealingan sama gedung2 tinggi di sekitar rumah kita..

    O ya sebenarnya jajanan yang disebutkan Mas Didiek itu sudah saya tulis di posting, tapi kok ndilalah kehapus dengan sendirinya karena sambungan internetnya keputus….

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: