Dress code

Banyak inquiry masuk ke Blog ini tentang bagaimana tatacara berpakaian untuk keperluan tertentu : ke kampus, clubbing, wawancara, mengambil SIM, ke pasar, berkemah, dan sebagainya…

I am not presentable“, adalah kata yang biasanya muncul dari mulut seorang cewek yang merasa bajunya tidak atau belum cocok dengan keperluan acaranya. “Salah kostum nih”, kata anak perempuan saya kalau dirinya merasa memakai baju yang tidak sesuai misalnya memakai jeans untuk keperluan wawancara pekerjaan. “Salah seragam nih”, adalah kata isteri saya yang keliru memakai PDH (Pakaian Dinas Harian) padahal di tanggal “likuran” (tanggal 20an) seharusnya ia memakai PDL (Pakaian Dinas Lapangan)…

Seberapa salah tingkahkah kita kalau kita ternyata salah kostum alias tidak mengikuti “dress code” ? Banyak salah tingkahnya ! Contohnya, dulu di tahun 1982 seorang adik kelas yang sudah menjadi pegawai baru di BPPT selalu ditegur boss-nya tentang caranya berpakaian. Pada umumnya pegawai laki-laki akan memakai celana katun ringan warna gelap dengan baju warna muda tidak mencolok, serta sepatu kulit berwarna hitam. Nah, teman itu kebetulan memakai jeans dengan baju warna gelap serta sepatu kets (snikers) pula ! Wah, habis deh ia “dicuci” sama boss-nya pagi itu (sekarang ini boss-nya itu sudah pensiun, teman tadi masih bekerja, malahan ia menjadi penghubung untuk Pemda se Indonesia Timur. Wow !)..

Orang Indonesia yang hidup di negara tropis cenderung kurang memperhitungkan dress code ini, namun orang yang tinggal di negara 4 musim cenderung sangat sensitif tentang suhu dalam hubungannya dengan dress code ini…

Feel out of place” adalah perasaan normal kalau kita kebetulan tidak memenuhi persyaratan “dress code” alias “salah kostum” ini..

Pernah seorang teman kantor yang waktu itu sama-sama dapat beasiswa untuk mengikuti training di Singapura dan tinggal di sebuah hotel di bilangan Tanjong Katong. Kami mendapatkan voucher untuk menyanyi karaoke di Singing Lounge-nya. Di voucher itu tertulis “dress code : baju rapi”. Eh,,malam hari selepas makan malam kamipun pergi ke tempat karaoke itu. Dari 4 orang teman sekantor ada 1 orang yang hanya memakai sandal jepit, sedang 3 lainnya memakai sepatu. Ketika kami menegur teman yang memakai sandal jepit itu, ia berkata “Ah..nggak apa-apa, pasti saya dibolehkan masuk”. Apa yang terjadi ? Di depan pintu karaoke lounge ada seorang penjaga yang siap dengan lampu senternya dan dengan sigap ia menyoroti sandal jepit kawan yang malang itu dan berkata “Cannot in !”…

Pernah waktu mahasiswa di Bloomington ada seorang kawan yang kami juluki “Menteri Pariwisata” mengajak jalan-jalan “clubbing” ke Cincinnati. Iapun mengajak Ketua Permias setempat dan karena terlalu sepi kalau cuman berdua, merekapun mengajak saya. “Ayo aja” kata saya waktu itu. Pas jam yang ditentukan kami bertemu di lobby asrama. Mereka terkejut “Lho, kok pakaiannya kayak gitu ?”. Saya waktu itu pakai jeans hitam dan sepatu snikers high heel biru tua. “Wah..salah kostum ya ? Kalau gitu saya nggak ikut deh”, kata saya kalem nyadar kalau saya nggak punya baju “gemerlap” untuk clubbing.. Akhirnya sayapun ikut rombongan mereka, namun apa yang terjadi ternyata Cincinnati itu di Ohio yang waktunya 1 jam lebih awal dari Bloomington di Indiana, jadi pas kita masuk bar yang berbentuk kapal berlabuh di Sungai Mississippi…10 menit kemudian barpun tutup !!! Padahal perjalanan kami 2 jam sekali jalan… Alamak !! Kamipun berjalan pulang dengan gontai dan menyetirnya harus hati-hati karena polisi Ohio terkenal galak dengan pengemudi yang ngebut…

Secara pribadi, saya merasa “out of place” atau salah kostum tidak sewaktu tinggal sebagai mahasiswa di Amerika, tetapi sewaktu tinggal di Singapura sebagai mahasiswa dan tinggal di Korea sebagai peserta training..

Orang Amerika pedalaman seperti Indiana bajunya tidak terlalu terikat sama dress code banget, apalagi bila hanya di sekitar kampus. Sebuah celana jeans warna apapun, dengan baju cowboy kotak-kotak…sudah cukup untuk pergi kemana saja. Kalau musim panas, atasnya cukup menggunakan t-shirt atau polo shirt sudah cukup..

Waktu tinggal di Singapura, di MRT orang-orang Singapura punya kebiasaan berpakaian yang agak “loose” mengingat Singapura negara tropis. Sebuah jeans dan sebuah t-shirt atau polo shirt atau baju katun ringan lengan pendek sudah cukup untuk pergi ke kampus. Bedanya, baju cewek-cewek Singapura lebih “berani” daripada baju cewek-cewek Indonesia. Untung Singapura punya hukum yang keras..kalau tidak, cowok-cowok Indonesia yang berkunjung ke sana (saya dan teman2 kantor) pasti sudah terkiwir-kiwir (tempted) dibuatnya !

Sewaktu naik subway di Korea di bulan Oktober-Nopember saya juga merasa “salah kostum” dengan mudah. Orang Korea (mungkin juga Jepang di jaman dulu, sebelum krisis energi) cenderung rapi dalam berpakaian. Cowok-cowok kantoran pasti memakai dasi dan jas kebanyakan warna abu-abu. Cewek-ceweknya juga memakai blazer yang kebanyakan warna abu-abu pula. Nah, bagi saya dan teman-teman Indonesia bulan Oktober kan masih bulan “hangat” jadi kamipun masih memakai baju katun ringan ataupun polo shirt warna cerah… Jadinya saya merasa “salah kostum”, nggak tahu ya apakah itu pikiran saya sendiri atau pikiran teman-teman Indonesia lainnya juga seperti itu…

Tadi saya katakan, bagi orang yang tinggal di negara 4 musim seperti Amerika, cara berpakaian akan sangat sensitif terhadap suhu. Jadi setiap bangun pagi, kayaknya semua orang yang tinggal di Amerika terutama di negara bagian “pedalaman” akan segera menelpon 6868 untuk menanyakan cuaca pada hari itu. Setelah tahu berapa suhunya, “wind chill“-nya berapa, baru ditentukan apakah hari itu ia harus memakai jaket “wind breaker” atau “jaket musim dingin” yang lebih tebal ? Karena suhu di pagi hari bisa jadi hangat, siangnya agak dingin dan pada malam hari akan dingin sekali dengan rentang suhu bisa sekitar 20-30 derajat Fahrenheit bedanya (10-15 derajat Celcius bedanya)..

Ya kan, dress code itu penting..

(sorry kalau saya agak “mixed up” antara “dress code” dengan “cara berpakaian“. “Dress code” kayaknya ada semacam kontrak tak tertulis antar orang yang akan menghadiri suatu acara tertentu tentang cara berpakaian dan pilihan jenis pakaian, sedangkan “cara berpakaian” hanya untuk kepentingan diri sendiri supaya “selamat” hari itu tidak terlalu kedinginan atau terlalu kepanasan. Pernah saya camping di bulan Agustus di Yellow Wood State Forest, 10 miles timur Bloomington. Saya hanya menyiapkan jaket tipis “wind breaker” karena sadar ini toh masih bulan terpanas di Amerika. Ternyata di tengah hutan di malam hari, suhu bisa drop sekitar 30 derajat Fahrenheit dan malam itu kami bertiga menggigil kedinginan di dalam tenda !!)

Catatan : “Suhu” beda dengan “wind chill”. Jadi kalau suhunya 40 derajat F (4 derajat C) itu masih terbilang “hangat”. Tapi kalau “wind chill”-nya 30 derajat F (-1 derajat C) inilah suhu yang terasa di badan kita. Logikanya suhu 4 derajat C kalau diikuti dengan tiupan angin dingin yang cukup kencang, maka suhu yang terasa di badan kita adalah suhu resultante antara suhu asli dengan suhu tiupan angin dingin itu. Belum ngerti ? Ya deh, ntar buktiin sendiri…

3 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Oct 02, 2008 @ 08:05:04

    Memang, sebaiknya kalau diundang atau diajak menghadiri sesuatu, kita sebaiknya menanyakan dress code nya apa….apa casual, resmi (pakai jas dsb nya), atau pakaian nasional/pesta….
    Saat pergi ke London, karena dalam rangka seminar tentu saja dress codenya pakai jas atau blazer. Saat itu awal musim semi, dan cuaca di Inggris, dari panas terik mendadak hujan….dan bagi saya, yang nggak tahan dingin, selalu menyiapkan jaket semi formal, dan di tas ada scarf…sehingga begitu cuaca dingin, tinggal menambah scarf dan pakai jaket…..sedang jika panas, tinggal dibuka, dan didalamnya kaos…jadi mudah untuk digunakan dalam kondisi apapun.

    Reply

  2. tutinonka
    Oct 02, 2008 @ 22:17:41

    Ada kalanya kita menerima undangan yang tidak menyebutkan dress code (apalagi di Yogya, dress code belum begitu familier). Jika tidak yakin suasana pesta/acara seperti apa, formal atau santai, biasanya saya memilih baju warna hitam dengan asesori kalung atau selendang. Warna hitam biasanya cukup ‘aman’, bisa diterima dalam acara formal maupun santai. Kalau ternyata acaranya santai, ya tinggal selendangnya dilipat masukin tas. Gitu aja kok repot …. (eh, saya bukan umatnya Gus Dur lho …)

    Seringkali saya merasa ‘tidak nyaman’ justru ketika pergi bersama dengan orang lain, dan ternyata teman tersebut memakai baju yang sangat berbeda ‘code’nya.

    Reply

  3. tridjoko
    Oct 02, 2008 @ 22:25:01

    –> Bu Tutinonka :

    Wah..usulnya ciamik seperti usul Bu Edratna tadi, pakai aja baju yang netral dengan tambahan sedikit assessories bilamana diperlukan…

    Whe lha…ternyata Ibu bukan pengikut Gus Dur tapi pengikut Permadi…. (begitu komentar teman2 dosen ketika pada suatu hari saya memakai baju hitam ketika mengajar)…

    Lha iyalah…masak iya dong, duren aja dibelah masak dibedong… (yang ini ngikutin iklannya Mpok Odah Bu)..

    Kalau kita bersama teman, justru teman kita itu yang salah dress codenya gara-gara pakai yang terlalu nyolok (pakai rok mini dan backless kayak sundel bolong..hihihi…)…pasti kitanya yang merasa nggak nyaman… Makanya, sebagai teman baik sebelum ketemuan dengan teman tadi calling-calling-an dulu Bu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: