Kisah sate 5 tusuk

Peristiwa yang mau saya ceritakan ini adalah ketika saya masih kelas 3 SD atau sekitar tahun 1965-1966 di Madiun dulu..

Sejak mencoba shalat tarawih di mesjid lama Ngrowo dan seorang teman saya kepalanya bocor dilempar oleh anak-anak sekitar mesjid lama tersebut, saya dan teman-teman hampir tidak pernah lagi shalat tarawih di mesjid lama Ngrowo. Sebagai gantinya, kami shalat tarawih di gedung SD dekat rumah saya yang bangku-bangkunya disisihkan agar shalat tarawih bisa dilaksanakan dengan khusyuk..

Selepas shalat tarawih malam itu, jadi sekitar pukul 20.00 waktu Madiun, kami berempat yaitu Mas Woko, saya, Dik Edi, dan Dik Dibyo pun berjalan gontai keluar sambil ngobrol pelan..

“Eh, mau nggak kalian makan enak ?”, ajak Mas Woko yang usianya sekitar 2 tahun dibanding kami bertiga..

“Hah..makan enak apaan mas ?”, tanya kami bertiga berbarengan..

“Makan sate, saya yang mbayarin…mauuuu nggaaaak ?”, ajak Mas Woko dengan serius..

Kamipun masing-masing membayangkan ditraktir makan satu piring sate berupa lontongnya yang aduhai ditambah 10 tusuk sate kambing yang panasss…pasti syadap !!!

Jadi kami bertigapun langsung berbarengan menjawab “Mau..mau..mau..”..

Kamipun meninggalkan gedung SD tempat kami bershalat tarawih tadi menuju ke Pasar Klegen yang berjarak sekitar 1 km melalui Jalan Pattirajawane yang berbatu-batu sebesar kepala kucing itu…

Malam sudah larut di kota kecil kami itu, lampu-lampu jalanpun temaram disinari lampu pijar 25 Watt. Sesekali truk pabrik gula Kanigoro melintas di jalanan itu, menyisakan debu yang membubung tinggi..

Kamipun berjalan dengan semangat…sambil sesekali menghafalkan shalawat yang tadi diajarkan oleh Pak Madhar, guru ngaji kami..

Akhirnya tak terasa kamipun sampai di Tukang Sate di Pasar Klegen dan Mas Wokopun memesankan sate untuk kita berempat. Kami bertiga menunggu dari kejauhan sekitar 10 meter dari tukang sate yang terkenal di seantero Madiun bagian timur itu..

Lima belas menit kemudian, satepun matang dan dimasukkan ke dalam daun pisang dengan bumbu kecap beserta cabai dan bawang merah segar serta beberapa iris tomat. Mas Wokopun menyembunyikan bungkusan sate itu di punggungnya…

Jakun kecil kamipun turun naik membayangkan lontong diguyur harumnya sate kambing, mana perut sudah mulai keroncongan lagi setelah berbuka puasa 3 jam sebelumnya…

Setelah sekitar 500 meter kami berjalan, tetap sambil ngobrol di pinggir sungai Blender yang waktu itu cukup lebar dan masih banyak ikannya, kamipun berhenti di buk (jembatan) sungai itu dan membuka sate yang dibeli Mas Woko tadi…

Ternyataaaaa….Mas Woko hanya beli 5 tusuk sate alias 1/2 porsi !!!

Alamaaaak nunggunya lamaaa nian, mana perut sudah keroncongan pula. Mas Woko sendiri kebagian 2 tusuk sate, saya kebagian 1 tusuk, Dik Edi kebagian 1 tusuk, dan Dik Dib kebagian 1 tusuk…

Walau demikian, sate tadi terasa nikmat sekali….worth to walk 2 km round trip that night !

(Konon Mas Woko kini menjadi Kepala Dinas Perikanan di salah satu propinsi di Pulau Jawa, saya menjadi Dosen sekaligus Peneliti, Dik Edi bekerja di sebuah bank milik pemda propinsi Ibukota, dan Dik Dib bekerja di dinas pekerjaan umum Ibukota)…

4 Comments (+add yours?)

  1. yulism
    Oct 06, 2008 @ 08:46:52

    He he.. 😛 yang penting semua kebagian dan tahu rasanya ya Pak Tri. Itu yang namanya teman sejati. thanks

    Reply

  2. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 09:24:31

    –> Mbak Yulis :

    Iya tuh mbak, kayaknya makan sate 1 tusuk waktu dulu di jaman susah itu….rasanya jauh lebih nikmat daripada makan sate 10 tusuk sekarang ini di jaman yang semua sudah serba ada…

    Ya mbak, semacam “What a friend for” lah… Walaupun cuman senilai 1 tusuk sate…

    Reply

  3. edratna
    Oct 06, 2008 @ 21:20:16

    Kenangan masa kecil memang lucu-lucu…dan kadang ada yang sok dewasa, padahal ga punya uang…tapi intinya adalah kebersamaan.

    Reply

  4. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 22:07:41

    –> Bu Edratna :

    Saya sengaja cerita ini soalnya waktu minggu ke-2 bulan Puasa kemarin saya dinas ke Madiun, sambil naik becak lewat Pasar Klegen ternyata orang jual sate yang saya ceritain itu sudah tidak ada lagi di sana. Bahkan di Pasar Klegen adanya cuman toko-toko baju dsb dan tidak ada satupun Toko yang jual makanan…

    Yang jual makanan justru di sekitar Stadion Wilis Madiun yang sekarang sudah sehebat Stadion San Siro “Gueseppe Meaza” di Milan, Italia, sana…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: