Mengapa jembatan penyeberangan ada di atas tanah ?

Tahun 1984 ketika oleh kantor saya ditugaskan untuk mengunjungi Jerman untuk belajar menghitung Transportation Life Cycle Cost, ada beberapa kekaguman yang menyeruak ke hati ini melihat kemajuan pembangunan bangsa Jerman yang sebenarnya pernah porak poranda dilanda Perang Dunia II…

Perumahannya begitu teratur. Transportasinya rapi, tidak hanya satu moda saja namun juga antar modanya bisa berjalan dengan rapi dan tidak ruwet..

Namun satu hal yang paling saya kagumi adalah penyeberangan jalan di Jerman yang ditata rapi berupa terowongan di bawah tanah yang bersih, terawat dan dilengkapi dengan eskalator pula..

Dua bulan kemudian ketika pulang ke Indonesia, masih dengan rasa kagum tentang terowongan penyeberangan jalan itu, saya terlibat diskusi dengan seorang teman lulusan Sipil UI yang concern banget tentang transportasi perkotaan..

“Eh, mas Prasetyo…mengapa sih jembatan penyeberangan di Jakarta kok ditaruh di atas tanah tidak seperti yang saya lihat di Jerman yang rapi jali karena berupa terowongan di bawah tanah ?”, tanyaku penuh selidik sama kawan si Prasetyo Hatmodjo ini..

“Anu Mas Tri, di Jakarta tidak bisa dibuat seperti itu karena beberapa alasan. Pertama, struktur tanah di Jakarta yang lembek dan berada di bawah muka air laut sehingga penyeberangan bawah tanah akan memerlukan pompa yang luar biasa besar agar tidak banjir”, saya manggut-manggut tanda setuju dengan pendapat kawan yang pintar ini..

“Kedua, dari segi keamanan. Kalau penyeberangan berupa terowongan bawah tanah tentu keamanannya tidak bisa terjamin. Orang jembatan penyeberangan di atas tanah saja banyak yang nodong”, katanya. Sayapun manggut-manggut masih setuju…

“Ketiga, biaya konstruksi jembatan di atas tanah lebih murah daripada membuat jembatan penyeberangan di bawah tanah”, katanya lagi. Masuk akal ! Dan sayapun masih manggut-manggut mendengarkan kawan yang berbakat jadi professor karena sering diajar sama Professor Roeseno yang teman Bung Karno itu…

“Keempat, orang Jakarta masih belum terbiasa dengan terowongan bawah tanah seperti itu. Pasti banyak pengamen, pengemis, dan orang berak di sembarang tempat…”, katanya kalem.

“Hah ? Masak iya sih ????”, sayapun langsung bangkit dari duduk terkejut akan pendapatnya yang tanpa tedeng aling-aling (blatant) itu…

Esok harinya, saya mau mencari makan ke Jalan Sabang. Dari kantor saya perlu berjalan kaki melewati jembatan penyeberangan di depan Bank Indonesia. Hari masih pagi, sekitar jam 11.00. Sayapun mendaki tangga demi tangga di depan bank papan teratas itu. Setelah sampai di tempat yang datar, sayapun bisa bernafas dengan lebih tenang..dan sayapun sambil jalan menghirup nafas dalam-dalam. Ternyata ada bau yang mencurigakan !!!!   TAI !!!!!

Ya !!!! Barang yang masih “fresh from the oven” itu terlihat masih panas dan masih keluar asapnya. Entah siapa yang sudah “bertelor” di atas jembatan penyeberangan ini….

Diam-diam saya teringat kata-kata Mas Pras “Gimana mau membangun terowongan penyeberangan jalan, orang jembatan penyeberangan yang letaknya di atas tanah saja masih sering diberakin orang”…

Tapi saya masih tetap belum mengerti, kejadian ini hanya terjadi 100 meter dari Bank Indonesia – bank teratas dari bank-bank lain di Indonesia. Dan hanya sekitar 1 km dari Istana Presiden….

Sayapun mengelus dada….

(Epilog : pagi ini, Senin 6 Oktober 2008 saya menyeberang di jembatan penyeberangan di atas Jalan Thamrin menuju kantor saya. Biasanya saya naik mobil dan parkir di kantor. Namun karena hari ini mobil dibawa isteri, maka sayapun naik kendaraan umum. Deja vu !!!!! Di ujung tangga pendakian sayapun melihat barang yang serupa, masih “fresh from the oven” persis seperti kejadian 24 tahun sebelumnya. Yang jelas yang bertelor di situ bukan Mas Prasetyo karena ia sudah pensiun….)…

18 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Oct 06, 2008 @ 14:08:53

    alasan yang dikemukakan oleh pak Prasetyo emang terbukti semua, ya, pak Tri. “fresh from the oven”, wah pak Tri pengamat yang teliti juga, ya. kok bisa tau, ngono lho 🙂

    Reply

  2. liswari
    Oct 06, 2008 @ 20:31:04

    wah nanti kayak india dunk yg katanya kotanya bau T** gitu.. emang iyah gitu?

    Reply

  3. ardianto
    Oct 06, 2008 @ 21:12:56

    Ya, ini Indonesia sih…
    Jembatan penyeberangan pun dianggap WC… 😛

    Reply

  4. edratna
    Oct 06, 2008 @ 21:19:00

    Hehehe…setelah saya pikir-pikir betul juga. Saat di London, setiap kali ada penyeberangan bawah tanah ada tanda “Underground”. Juga di Hongkong jalan bawah tanahnya bisa sampai mana-mana, bisa sampai subway, yang kalau naik tangga di atasnya toko atau Mal bertingkat. Tapi kalau di Jakarta mungkin klelep ya…..kalau banjir

    Reply

  5. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 21:30:36

    –> Alris :

    Bukan. Pengamat yang jempolan justru Mas Prasetyo, bukan saya. Makanya sampai “fresh from the oven” segala bisa diketahui…

    Emang diukur temperaturnya ya ?

    Reply

  6. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 21:32:41

    –> Mbak Lis :

    Wah…India ? Kota mana ? Dugaan saya Mumbay (Bombay) atau Calcutta (kotanya Mother Teresa)…

    Kalau di Indonesia : Yogya !!!! Di mana-mana terutama di Malioboro smelly banget dengan pipis kukud, sedangkan di jalan-jalan kecil yang sejajar dengan Malioboro smelly banget dengan pipis yang “fresh from the tea pot” !!!

    Reply

  7. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 21:35:34

    –> Mas Ardianto :

    Jembatan penyeberangan dianggap WC, sedang WC dianggap tempat bertamasya. Ini di Mall dekat rumah, kalau kita para cowok lagi pee…3 meter di sebelahnya banyak cewek lagi ambil air wudhu atau cuci piring !!!

    Reply

  8. tridjoko
    Oct 06, 2008 @ 21:38:57

    –> Bu Edratna :

    Konon Hong Kong tanahnya berbatu-batu yang keras sekali dan mulanya sulit air, jadi kalau dibangun underground (MRT) ya nggak kemasukan air…

    Sebaliknya, London tahun 1940an pernah banjir besar lho…(lihat tayangan National Geographic di TV kabel). Tapi dengan keseriusan pemerintahnya, semuanya bisa diatasi…

    Singapore, di ruas tertentu jalur subway (MRT)-nya berada di bawah Singapore River. Untung yang mbikin orang Perancis (yang juga mbikin terowongan di bawah selat Channel), jadi air dari sumur dan sungai sekitarnya nggak bocor ke jalan subway atau toko-toko atau jembatan penyeberangan di bawah tanah…

    Intinya, kalau mau sebenarnya bisa…

    Reply

  9. hendry
    Oct 06, 2008 @ 22:41:22

    Eh, tulisan ini seru juga..^^
    Aku tau daerah di Indonesia yang jembatannya di bawah dan itu adalah “Stasiun Kota” dan “Halte Busway Kota”.. Sudah dibangun sejak 1 tahun yang lalu..

    Aku masih bingung dengan pertanyaan: Atas alasan apakah di sana tidak dibangun jembatan atas tapi harus underground? Atau mungkin supaya lebih elegant kali yach.?? @_@..

    Reply

  10. tridjoko
    Oct 07, 2008 @ 08:34:22

    –> Hendry :

    Thanks infonya. Saya juga baru ingat bahwa jembatan penyeberangan bawah tanah ada di depan stasiun kota dan baru dioperasikan…

    Cuman sejak itu Jakarta belum pernah diguyur banjir besar, jadi belum tahu apakah di sana safe selalu (terhadap banjir)…

    Kapan-kapan saya mau nyobain mumpung Jakarta masih sepi nih…

    Elegant ? Sudah pasti ! Jika jembatan penyeberangan ada di bawah tanah dan tidak menonjol di atas tanah, pasti secara lansekap itu elegan sekaliiii !!

    Reply

  11. muchdie
    Oct 07, 2008 @ 14:13:44

    24 th= satu periode pemb jngka panjang; prilaku msy kel ini blm berubah krn kel ini memang korban pemb. Sy jd ingat perjgan tmn2 bppt 25 thn memperknlkan tekn pada masyarkat mimika di papua; klo yg di jkt aja spt ini.

    Reply

  12. tridjoko
    Oct 07, 2008 @ 18:14:24

    –> Pak Muchdie :

    Ya..ya..ya…saya ingat teman2 Sistem Pedesaan Direktorat Analisis Sistem BPPT yang dulu di tahun 1980an sering perjalanan dinas ke Desa Picon dan Cituis di Pantai Kab Tangerang untuk memantau pompa air bertenaga solar cell..

    Kabarnya anda dengan teman2 (Sulaefi, Gde Wilastra, Iding Chaidir, alm Soleh Iskandar, Suryo Handoto) susah berjalan lurus ya di kedua desa tsb pada masa itu…karena jalanan dipenuhi dengan ook manusia..yang merupakan kebiasaan dari masyarakat setempat mengingat tidak adanya jamban dan kurangnya air bersih..

    Yang mengherankan, 28 tahun kemudian di Kab Tangerang pula…mungkin nama desanya lain…banyak anggota masyarakat yang menderita muntaber karena kebiasaan “lama” tersebut — ook di jalanan — rupanya sulit dihilangkan karena ya itu…jumlah jamban dan air bersih kurang…

    Ya saya jadi agak pesimis kapan Astronot Indonesia bisa berjalan di ruang Angkasa menyusul Astronot negara lainnya…apalagi mendarat dan berjalan-jalan di bulan seperti Neil Armstrong dan Edwin Aldrin di tahun 1969 dulu….

    Kalau orang Indonesia bisa mendarat di bulan, jangan-jangan pertama yang dilakukan adalah…ook di Bulan !!! Wah…karena near zero gravity…bisa melayang-layang di udara tuh ook… hehehe…

    Reply

  13. yulism
    Oct 08, 2008 @ 02:22:45

    Wakakak … Pak Tri ini paling bisa bikin orang ngakak. Analisanya Pak Ir. memang masuk akal banget tuh… yah jelas lah wong yang ngomong juga orang pinter..

    Biar diatas tanah yang penting aman dan bersih ajah deh Pak untuk tujuan jangka pendeknya sekarang. Terimakasih

    Reply

  14. tridjoko
    Oct 08, 2008 @ 05:34:42

    –> Mbak Yulis :

    Ya begitulah mbak “tingkat kemajuan” bangsa kita sekarang ini. Mau bicara AFTA, NAFTA, WTO…semua itu rubbish !!!

    Lha wong di sini, dari jendela kantor saya ini, yang berlokasi di jalan paling terkenal di Indonesia, saya masih melihat banyak barang “fresh from the oven” kok ?

    Menurut saya itu tanggung jawab Pemda DKI yang sering memungut pajak di wilayah DKI. In return, mereka mestinya menugaskan sekelompok orang agar jembatan penyeberangan bersih dari pengemis, pengamen, dan manusia-manusia yang ingin “bertelor” di atas jembatan….

    Reply

  15. Akhmad Guntar
    Oct 08, 2008 @ 06:55:13

    salam kenal, Pak.
    Saya masuk di blog ini melalui yg saya hormati Bp. Dr. Ir. Prihadi Setyo Darmanto

    Terkait posting ini, sebenarnya klo mentalitas rakyat dan pejabat kita sudah siap, maka bukan hanya jembatan penyebarangan saja yg perlu dibangun di bawah tanah, namun juga transportasinya. Kita lihat sendiri bahwa salah satu penyebab kemacetan luar biasa di kota besar Indonesia adl krn seluruh kendaraan umum berada di atas tanah.

    Namun ya gitu, saya juga masih belum kepikiran cara yg sip untuk mengubah sikap masyarakat Indonesia pada kemajuan. Dan sembari memikirkan …mmm…kepicikan rakyat kita, saya toh juga harus memastikan bahwa diri saya ini bukan lantas merupakan bagian dari masalah bangsa ^_^

    Reply

  16. tridjoko
    Oct 08, 2008 @ 09:08:14

    –> Mas Akhmad Guntar :

    Salam kenal juga mas… 😉

    Wah…kalau seluruh rakyat Indonesia itu sepinter Mas Akhmad Guntar dan Mas Prihadi Setyo Darmanto semua, saya yakin semua pembangunan akan mengarah ke bawah tanah…

    Kereta api akan jalan di bawah tanah di kawasan perkotaan (subway), jembatan penyeberangan di bawah tanah (underpass), mall-mall dan toko-toko baju yang mahal-mahal ada di bawah tanah, dan seterusnya…

    Namun “technical engineering” (wah..istilah apa lagi nih…) itu mudah. Lha wong orang2 pinter sudah banyak kok di ITB, UI, ITS, UGM, dsb…

    Yang sulit adalah “social engineering” yaitu ngatur orang agar mengikuti system, perilaku, dan tatalaku sosial yang beradab dan “nginternasional”. Nah ini yang susah, belum ada sekolahnya sih ! Mestinya ini tugas para orang tua, guru, ulama, kyai, syech, da’i, ustadz, pendeta, pastor, pedanda, biksu, dan yang lainnya…

    Kalau Mas Guntar aja berani memproklamirkan diri sebagai “bukan sebagian dari masalah bangsa”, apalagi saya…..hahahahaha…

    Reply

  17. Agung
    Oct 09, 2008 @ 08:36:38

    seingat saya wkt itu sempat org jepang datang ke jkt,
    mao bikinin kita MRT bawah tanah.
    cuma kendalanya jls saya ud prediksi sejak sblom org jepang itu dtg.
    di jkt bangunannya ud tll byk di tambah letaknya di bwh permukaan laut.
    coba bayangkan klo kita mao bikin jalur MRT lewatin daerah sudirman,
    pas digali,bs runtuh smua bangunan di atasnya.
    heheheheheheh…!!
    setau saya,di negara2 yg pny MRT underground,
    lahannya ud disiapin demikian sejak bertahun2 sblomnya.
    saya lupa sih,
    tp di singapore,MRT orchad dulu yg ada ato Wisma Atria??
    MRT bugis dulu ato bugis junction??

    Reply

  18. tridjoko
    Oct 09, 2008 @ 09:35:57

    –> Agung :

    Secara teknis pembangunan kereta bawah tanah (MRT) di Jakarta tidak ada masalah. Teman saya Pak Prasetyo itu di tahun2 1992-1997 malah sudah ikut terlibat membuat detail design dari MRT Blok M-Kota. Jadi gambar meter per meter, dimana beloknya, berapa kedalamannya, sudah ada..Jepang (Itochu) dan Jerman (Siemens?) sudah siap membangunnya dan sudah siap menggelontorkan dana, tapi 1997 Indonesia krisis dan IMF melarang Indonesia menerima bantuan Jepang & Jerman unt membangun MRT..

    MRT atau gedungnya, jelas gedung sudah ada duluan. Di Jakarta sekitar Thamrin-Sudirman, kedalaman tiang pancang untuk gedung2 tinggi sekitar 50-70 meter. Jadi kalau mau membangun MRT lewat titik itu ya tinggal dimasukkan ke dalam tanah > 70 meter. Mudah kan ?

    Paling gampang membuat jalan MRT adalah dengan teknik “cut & fill” dan itulah yang banyak dipakai di Singapore dulu. Jadi jalan Sudirman-Thamrin dibolongin di tengahnya lalu dibangun landasan kiri-kanan beton lalu ditaruh rel (double track) di atasnya. Setelah selesai baru ditutup di bagian atasnya dengan beton lagi, baru diurug tanah, dan dikasih aspal seperti semula…

    So technically is easy, financially needs a lot of thought, and socially….is the most difficult thing as it changes how people live their daily life…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: