Raut raut raut yang dalam….

Walaupun sebagai tiga bersaudara kami keluar dari “pabrik” yang sama, di dalam hal tulis-menulis alias “menulis halus” saya dan kedua kakak perempuan saya diberi “bakat” yang berbeda. Kakak sulung saya tulisannya rapi jali, miring ke kanan, ditulis dengan ballpoin berwarna biru, dan agak kurus-kurus hurufnya, mungkin sekurus orangnya. Kakak kedua saya tulisan tangannya juga bagus hanya saja huruf-hurufnya rapi namun agak “gemuk” mungkin seperti orangnya yang agak “chubby” gitu. Sedangkan saya sendiri, saya menilai tulisan tangan saya lumayan – maksudnya “readable” gitu – dengan huruf mengarah kadang ke kiri, kadang tegak lurus ke tengah, dan kadang ke kanan, tergantung suasana hati saja…atau barangkali ini bakat saya yang bisa memainkan beberapa peran.. ? (Saya biasa mendalang sejak kecil dan bisa menirukan suara tokoh wayang apa saja dengan sangat baik)…

Nah, alat tulis yang paling populer tentu saja ballpoin. Namun di jaman itu menulis PR dengan pensil juga sudah banyak dilakukan siswa. Belum ada pensil mekanis, jadi kebanyakan pensil carbon buatan China kalau nggak salah merknya “Tung Hwa” atau yang agak mahal dikit bikinan Jepang dengan merk “Kirin”..

Kalau di bidang menulis tangan tadi di antara kita tiga bersaudara sangat berbeda, maka di bidang meraut pensil…bisa dibilang kami bertiga seragam. Yang dijadikan model adalah cara meraut pensil kakak saya tertua, yaitu diraut agak tajam yah sekitar 5-6 cm dari ujung pensil. Sedangkan sebelumnya saya dan kakak nomor dua kalau meraut pensil hanya 1-2 cm saja dari ujung pensil…

Waktu jaman itu meraut pensil dilakukan dengan pisau “pemes” berbentuk pisau tajam sepanjang 8 cm dengan “tutup” terbuat dari seng. Sekali lagi ini bikinan China dengan merk…ah lupa, yang jelas warna-warna yang ditawarkan sangat menggoda yaitu : merah samber lilen (metalic), hijau samber lilen, biru samber lilen, dan kuning samber lilen. Hiasan di pisau pengraut ini juga bagus-bagus : ikan-ikan, burung-burung, dan ayam-ayam..

Siang itu ada seorang guru SMP saya kelas I yang tidak masuk kelas, jadi kelasnya kosong tidakada yang mengajar. Waktu itu saya gunakan sebaik-baiknya untuk meraut semua pensil yang ada di kotak pensil saya. Jumlahnya ada 4. Semua saya raut ala kakak sulung saya, yaitu sepanjang 6-7 cm di ujung pensil. Namun karena masih banyak waktu, akhirnya saya buka-buka kotak pensil temen sebangku saya Hamdani dan meraut 2 pensil di sana dengan cara kakak sulung saya, yaitu 6-7 cm di ujung pensil. Ketika tahu 2 buah pensilnya saya bantu meraut, si Hamdani tidak memperlihatkan muka terkejut alias tenang-tenang saja…

Ternyata siang itu, ketika saya tinggal makan siang beli ubi goreng dan teh manis di warung Pak Kebon ditambah dengan buang air kecil di WC sebelah kelas, saat itulah yang paling tepat buat Hamdani balas dendam. Semua 4 pensil saya yang telah diraut rapi sepanjang 6-7 cm tadi “diraut ulang” sama Hamdani. Cuman merautnya itu lho….habis-habisan sehingga pensil yang tidak teraut tinggal sepanjang 1 cm saja. Alias pensil saya diraut sepanjang 15 cm oleh Hamdani !!! Benar-benar gila tuh anak. Tapi saya tidak marah, karena berpikir Hamdanilah yang marah ketika pensilnya saya raut amat sangat tajam dan amat sangat panjang !!!

Besoknya ketika pelajaran Aljabar tiba, Pak Yudi sebagai pengajar Aljabar mendekati meja saya untuk melihat apakah tugas menambah kurang bilang minus dapat saya lakukan dengan benar. Melihat pensil saya yang 90% “telanjang” karena telah diraut Hamdani, Pak Yudipun tertawa tergelak-gelak…..

“Dasar anak jenius dan nyentrik, meraut pensilpun dihabiskan pula….”…

Hehe..gara-gara si gila Hamdani, saya dijuluki “anak jenius dan nyentrik”….

Itu saya banget, Ham !!!!

(p.s.: terakhir kali saya melihat Hamdani di sekitar tahun 1990. Waktu itu ia kerja di sebuah kantor di Gedung Jaya Jalan Thamrin, persis di sebelah kantor saya..Tapi sejak itu saya tidak pernah melihatnya lagi…..)…

(p.s. lagi : Kalau belum ngeh dengan apa yang saya ceritakan di sini, kapan-kapan saya tambahkan gambar ilustrasinya tentang pensil-pensil itu. Sayang Speedy di rumah sedang mati, jadi lain kali saja ya…)..

9 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Oct 10, 2008 @ 16:39:04

    Hahaha…kok ya masih ingat meraut pensil pakai pemes….

    Reply

  2. Kunderemp An-Narkaulipsiy
    Oct 10, 2008 @ 19:17:50

    Tung Hwa seingatku masih ada. Yang warna merah itu kan?

    Waduh.. aku biasanya meraut pakai pisau atau cutter. Abis pakai rautan sering tumpul.

    Reply

  3. alrisblog
    Oct 11, 2008 @ 03:52:38

    Dijaman saya sekolah dasar, sekitar tahun 80-an, bahkan tiap pagi harus menyerahkan PR menulis halus kasar. Nulis nya pake pensil 2B, merek pensilnya…wah lupa nih. Tapi pensilnya dominan warna ngejreng.
    Btw, kalo tulisan tangan cewek keliatan rapi jali dan bagus rata-rata orangnya emang caem, walaupun gak semua. Gimana menurut sensei? (Pak Tri kan udah ngajari saya bikin blog 🙂 )

    Reply

  4. tridjoko
    Oct 11, 2008 @ 07:30:44

    –> Bu Edratna, Mas Kunderemp, Alris :

    Sorry…sebenarnya posting ini belum selesai. Sebenarnya masih 10 paragraf lagi. Pas kemarin lagi ditulis, listrik mati. Saya belum sempat mbetulin karena Speedy di rumah juga lagi MAMPUS !

    Ini nulisnya pakai Telkomnet (the internet of the last resort)…hehehehe….

    Reply

  5. Ardianto
    Oct 11, 2008 @ 12:15:28

    Wah…
    Masih 10 paragraf lagi…
    ———-
    Pemes kecil bermodel seng dilipat itu masih ada kok, saya ingat betul pertengahan 90-an waktu saya pertama kali menulis di buku yang batas antar garisnya ada yang kecil ada yang lebar.

    Speedy di sini kok baik-baik saja, kenapa ya? Tapi 2 hari yang lalu mampus juga…

    Reply

  6. tridjoko
    Oct 11, 2008 @ 18:47:20

    –> Mas Ardianto :

    Pemes kecil bukan berarti sudah punah, cuman masa edarnya sudah selesai alias nggak populer lagi kalah sama cutter jaman sekarang yang harganya super murah (bikinan China di toko sebelah rumah harganya cuman Rp 1.500 !)..

    Speedy di rumah sejak Jumat pagi kemarin MAMPUS dan sampai sekarang masih tetap MAMPUS…

    Makanya ini saya nginternet dari Telkomnet (untung ada Telkomnet !)..

    Reply

  7. yulism
    Oct 13, 2008 @ 06:46:26

    Tulisan saya lumayan tetapi tulisan sepupu saya yang sekelas dengan saya, wow sangat indah seperti Lucida handwriting. Dan dia yang biasanya mewakili SD kami untuk lomba menulis halus.

    Saya lupa merk pensil saya, tetapi sama dengan Alris saya memakai pensil 2B juga karena warnanya lebih legam. thanks

    Reply

  8. tridjoko
    Oct 13, 2008 @ 08:51:01

    –> Mbak Yulis :

    Entah karena Bapak-Ibu saya guru, sekeluarga kami tulisannya agak lumayan…walaupun belum seperti Lucida handwriting seperti sepupunya mbak Yulis…

    Tapi setelah Bapak saya kena stroke, baru tulisan beliau menjadi “cekeremes”…(seperti tulisan cakar ayam)…

    Kalau pensil, kami bersaudara selalu pakai HB…kalau nggak merk Tung Hwa ya Kirin. Entah kenapa waktu jaman itu belum ada Staedler atau Fiber Castle seperti jaman sekarang mungkin karena pas jaman konfrontasi “Inggris kita linggis Amerika kita setrika” makanya tidak ada produk barat dijual di Indonesia di tahun 1960an..

    Di keluarga saya ada istilah arti kode di pensil : H = hatos (keras); HB = hatos banget (keras banget), entah kalau B atau 2B…hehehe…

    Untuk menggambar yang legam banget, misalnya menggambar John Lennon atau John Mayall atau George Harrison (3 tokoh yang paling banyak digambar oleh anak2 seusia saya waktu itu), kami menggunakan pensil “konte” (carbon pencil)….Hasilnya….legaaaam bangeeet… (dan biasanya selesai menggambar, ada 1-2 teman yang rebutan buat mengoleksi gambar saya…hahaha…)…

    Reply

  9. Mas Didik
    Nov 23, 2011 @ 08:52:14

    Aku dulu juga senang menggambar pakai pencil

    O ya Mas ? Pensilnya jenis apa, konte (carbon pencil) ? Atau pensil biasa (HB) ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: