Oleh-oleh dari Bandung

Sabtu tanggal 25 Oktober 2008 kemarin, anak kedua saya Ditta diwisuda di ITB. Rangkaian wisuda di ITB berlangsung dari jam 4.30 (bangun pagi dan di-make-up) sampai jam 17.00 (acara di Himpunan selesai). Selepas dari kampus ITB Ditta dan papa-mamanya langsung ngebut ke “Jonas Photo” buat ambil antrian difoto. Celakanya, bener-bener celaka 13..hari itu di Bandung ada 5 kampus yang mengadakan wisuda yaitu : ITB, Unpar, Unpas, STT Telkom dan Unyani. Jadinya di Jonas, anak-anak wisudawan S1 dan S2 dari ke-5 kampus tadi antri buat difoto. Walaupun antri dengan cara duduk di kursi yang empuk, tapi menunggu 4 jam ? Capek deh…. !

Pas jam 20.45 Jonas mulai sepi, dan kamipun masuk Studio 4. Ternyata di depan kita ada antrian keluarga besar terdiri dari 1 kakek-nenek, 5 pasangan anak-isteri, dan cucu-cucu antri buat difoto. Sebelnya, ngatur anak-anak kecil foto itu luamaaa banget. Senengnya, siapa yang nggak seneng sih lihat anak-anak kecil yang lucu-lucu ?

Tepat jam 21.00 akhirnya Ditta-pun difoto dengan gaun wisuda ITB. Ini gambarnya….

Ditta dengan gaun wisuda (by Jonas Photo)

Ditta dengan gaun wisuda (by Jonas Photo)

Lalu Ditta berfoto diapit oleh papa dan mamanya….

Ditta diapit papa-mama (by Jonas Photo)

Ditta diapit papa-mama (by Jonas Photo)

Dan…papa-mama Dittapun foto berduaan saja…kapan lagi ? Hahaha….

Papa-mama Ditta (by Jonas Photo)

Papa-mama Ditta (by Jonas Photo)

Too good to be true ? Maybe…sekarang jaman Photo Digital yang dikerjakan di Photo Studio….jadi semua foto itu sudah “digitally engineered”…hehehe…

Anda pasti tahu maksud saya, jika melihat hasil foto jepretan Mat Kodak di Sabuga dan hasil jepretan digicam saya sendiri…

Yang jelas…worth to wait for 4 hours….

No sweat !

Ditta pakai gaun wisuda

Ini rangkaian foto-foto wisuda Ditta di ITB pada hari Sabtu tanggal 25 Oktober 2008 yang lalu…

Jam 04.00 kami sudah bangun di mess tentara tempat kita menginap. Jam 04.30 dua Ibu (kebetulan keduanya asal Madiun, eh…padahal sudah sempat saya ajak berbahasa Sunda…) yang akan me-make-up Ditta dan mamanya datang naik motor dan menenteng 2 tas besar isi kosmetik. Pas jam 06.00 (six hundreds) kami sudah harus “hit the road” menuju Sabuga supaya dapat spot parkir yang biasanya agak susah. Jam 06.15 sudah parkir di tempat parkir atas di Sabuga, Ditta dan mama sempat foto (sorry agak ngeblur..yang memfoto nggak sabaran sih)…

Ditta n mama foto sebentar setelah parkir

Ditta n mama foto sebentar setelah parkir

Setelah itu jalan kaki menuruni tangga yang anak tangganya berjumlah 46 (eh..ipa iya kok seperti nomernya Valentino Rossi di Motogp ?), akhirnya sampailah kami di lembah Sabuga yang pagi itu sudah dipasangi berbagai bendera Himpunan Mahasiswa yang ada di ITB : ada Patra, HMGM, Himatika, dsb..bendera besar-besar ukuran 5 x 10 m terbuat dari sutra dipasang di tebing sebelah kiri Sabuga. Para mahasiswa sedang mengikat bendera itu dan membandulnya dengan bata biar kelihatan lurus….

Jalan kaki dikit lagi, belok kanan…eh sudah dicegat sama Mat Kodak yang berjumlah puluhan. Ya udah nampang dulu…(salahnya, nggak pakai nanya dulu berapa ongkosnya, setelah jadi baru nyesel kok segitu mahalnya ? Ya udah sekali seumur hidup ini..)…

Ditta, papa n mama dicegat Mat Kodak

Oops…saya kelihatan sudah tua ya ? Gpp lha wong anak bungsu saya saja sudah diwisuda kok.. no sweat ! Jam 06.45 kita sudah antri di depan gerbang paling utara Sabuga bersama ratusan orangtua mahasiswa ITB yang akan diwisuda hari itu.. ini snapshotnya…

Papa n mama Ditta antri masuk Sabuga

Sementara dari jauh, para calon wisudawan sedang bercengkerama menunggu teman-teman dari jurusannya masing-masing…

Calon wisudawan bercengkerama

Dan Ditta-pun sempat berfoto ria dengan Pram, temannya…katakan buunnn ciiiisss..cepret !

Ditta n Pram masih sempat berfoto-ria

Sampai di dalam Sabuga jam 07.00…..eh jebul masih sepi kali, untung ada Pak Grandis (aka “Oemar Bakri”, rekan blogger saya) yang sms mau ketemuan di depan panggung wisuda. Kita sempat ngobrol selama 15 menit tentang Madiun dan pecelnya yang ueenaakkk…

Gedung Sabuga siap untuk Wisuda ITB

Wisuda ITB konon nggak boleh dijepret sama orang sembarangan, ya udah kita nyelundupin kamera saku buat ngejepret anakku saja. Dia senyum dengan temannya, waktu sedang nunggu acara wisuda yang mulai jam 10.00 (alamak…tigaaa jaaaam lagiiiii..)..

Ditta n teman-teman nunggu "teng" wisuda

Ditta n teman-teman nunggu

Selama wisuda…dilarang memfoto yo…. Iyo pak….Yo wis yo…(sensor)…

Setelah selesai wisuda jam 12.00, orangtua pada ngambil kupon berisi 3 kue dan 1 air mineral. Karena lapar, kue habis dalam waktu 3 menit (sebenarnya selama wisuda bisa juga sih keluar sebentar untuk order Pop Mie…hihihi..). Selepas itu, para orangtua harus pakai kipas yang bertuliskan HMGM dan seorang mahasiswi menjemput kami untuk dibawa ke Auditorium Jurusan HMGM. Sambil menunggu wisudawan tiba, kami dihibur adik-adik kelas anak saya yang antara lain menyanyikan “Romance d’Amor“…

"Romance d'Amor" unplugged

Sementara itu di himpunan, para orangtua sudah terlalu lama menunggu… tapi wisudawan nggak datang-datang. Karena itu kita pengin tahu apa yang terjadi ? Kita berjalan keluar dari area himpunan dan menuju Gerbang Utama ITB….Wow…ternyata terjadi kemacetan luar biasa di depan gerbang ITB karena adanya berbagai “ritual” oleh berbagai himpunan mahasiswa. Yang sempat tertangkap oleh potret, adalah bonfire yang dibuat oleh mahasiswa SR…

Anak-anak SR mengusung bonfire minus api

Anak-anak SR mengusung bonfire minus api

Tak lama kemudian barisan wisudawan HMGM bersama para dayang pengiringnya ( 😉 ) datang dan disambut dengan “pedang pora” (tanpa pedang)…dan dengan tarian “Galia” segala….

Upacara himpunan menyambut wisudawan

Upacara himpunan menyambut wisudawan

Dan ada satu jepretan yang menarik…..

Apa memang segitu gatelnya, mas..

Apa memang segitu gatelnya, mas..

Mama Ditta-pun sempat foto di depan Perpustakaan ITB (yang fotogenik) sambil berpikir “Kalau papa Ditta lulusan sini, pastinya Ditta nggak bakalan lahir ke dunia ini“. Hayo kenapa coba ?

Mama Ditta nampang di depan Perpus ITB

Mama Ditta nampang di depan Perpus ITB

dan…setelah menunggu lamaaaa selama 4 jam foto di “Jonas Photo” (belum jadi fotonya), di Mess-pun papa Ditta masih sempat nyobain gaun wisuda ITB (sayang kok nggak senyum papa iki….)…

I wish I did it 27 years ago

I wish I did it 27 years ago

Gitu aja ceritanya. Sorry ya banyak fotonya yang membuat anda membaca sambil menunggu foto yang muncul jika koneksi internet anda lambat…

Siapa pembaca ke 100.000 dari blog saya ?

Tak terasa, blog iseng-iseng, ringan, nggak ada isinya, dan sebenarnya ngisin-ngisini ini ternyata cukup informatif dan cukup banyak penggemarnya (narsis dikit…mudah-mudahan saya termasuk orang yang diberi ampunan…)…

Usia baru 1 tahun 7 bulan (usia sejak dibuat) atau 1 tahun 1 bulan (usia aktif) tapi ternyata komentar sahut-menyahut pengunjung blog ini yang cenderung panjang-lebar (seperti juga postingannya) sedikit demi sedikit limit mendekati 100.000 pengunjung…

Waktu posting ini saya tulis, pengunjung sudah mencapai 99.464 alias bentar lagi mudah-mudahan nanti malam…sudah bisa melebihi “angka keramat” 100.000…

Tak lupa mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung blog ini yang telah setia mengunjungi dan “nengok” apa blog ini. Bagi para Binusian di mancanegara, selamat membaca. Bagi rekan-rekan maya saya di mancanegara, selamat membaca. Tak lupa rekan-rekan saya di Indonesia, khususnya para mahasiswa dari Lhokseumawe hingga Biak, dan dari Bantul hingga Ternate..selamat membaca ya…

Mudah-mudahan blog teman2 yang lain (Bu Tutinonka di Yogya dan mbak Yulis di Colorado Springs, dan juga yang lainnya) juga ikut menembus jumlah ini suatu hari nanti (saya perhatikan kok jumlah pengunjungnya hewes..hewes..hewes…nambah terus…)…

Keep reading. Keep smiling. Keep writing….

Yo wis….

Pengamat politik

Sayangnya…saya tidak punya hp yang ada kameranya. Sayangnya, digicam saya selalu ketinggalan di rumah dan lupa saya bawa (karena “sembunyi” di almari saya)..

Ada beberapa “peristiwa politik” yang perlu direkam sebenarnya… Bukan yang berat-berat, tapi yang ringan-ringan aja sifatnya…

Di bawah overpass JLJ (JORR) yang terletak 2 km dari rumah saya, sekitar 2 bulan yang lalu dipenuhi oleh bendera parpol yang bakal berkompetisi di Pemilu 2009 yang akan datang. Hampir semua parpol memasang benderanya di sana, besar dan kecil, baru dan lama. Beberapa di antaranya baru habis diseterika, tapi beberapa yang lain sudah “amoh” dan nyaris sobek seluruhnya…

Saya lihat sebuah bendera PDIP berwarna merah banteng moncong putih dipasang terbalik. Bendera yang ukurannya sekitar 60 x 90 cm itu dipasang terbalik dan terletak di tengah-tengah dari jajaran 5 bendera PDIP yang lain. Saya sangat ingin mengabadikan “keterbalikan” itu, tapi belum sempat dan tiba-tiba semua bendera parpol di sekitar jalan tol sudah diangkat oleh petugas ketertiban jalan tol karena melanggar ketentuan UU, katanya…

Pagi ini, saya juga melihat di Jalan Taman Kebon Sirih III persis di belakang kantor, beberapa bendera PKS yang berwarna kuning !  Suer deh, bendera PKS kan biasanya berdasar putih, lalu ada lambang bulan sabit bertolak belakang yang berwarna hitam dan ada gambar padi dan kapas yang berwarna kuning. Tapi pagi ini saya lihat dasar bendera PKS berwarna kuning, dan gambarnya berwarna hitam… !  Apa ini beneran apa bercanda ?

Sekali lagi, saya lupa bawa digicam sehingga tidak bisa mengabadikan “keanehan” ini…

Keringat

Tahukah anda, anda berkeringat itu hanya bila berada di negara tropis yang kelembabannya tinggi (>80 persen) seperti di Indonesia, Singapura dan Malaysia ? Dan ketika anda tinggal di negara sub tropis yang kelembabannya rendah (< 40 persen) seperti di Jepang, Korea, Eropa dan Amerika…anda tidak akan berkeringat sebanyak bila di negara tropis ?

Ini memang masalah keringat, tapi isu keringat banyak atau sedikit itu sangatlah penting. Bayangkan, kalimat “Saya sudah memeras keringat lho !” bakalan nggak laku lagi bila anda kerja di Jepang, Eropa atau Amerika ! (Tapi “The Axe Effect” kalau anda memakai deodorant merk tertentu dan cewek-cewek pada datang mengerubungi anda….itu mungkin masih berlaku…hahaha…)..

Waktu SMA dulu saya mempunyai “formula” penghilang bekas keringat yang wajib dipakai oleh anak SMA saya dan SMA lainnya. Nggak percaya ? Ceritanya, waktu SMA dulu kan rata-rata siswa SMA mempunyai 1-2 baju putih, sedangkan bawahannya ada tiga macam yaitu : celana pendek sedengkul (untuk hari Senin), celana panjang warna abu-abu seperti SMA jaman sekarang (untuk hari Selasa dan Rabu), dan celana panjang warna coklat kaki (untuk hari Kamis dan Jumat). Nah, karena jumlah hem putih biasanya sedikit dan biasanya setelah sehari dipakai maka bagian tengkuk akan dipenuhi daki…maka tidak enak memakai baju putih yang dipakai terus-menerus selama 2 hari. Karena daki yang menempel di bagian tengkuk (baca “gulon”) akan terlalu nyata kelihatan. Karena itu saya menemukan formula yang saya sebarkan ke teman2 “Jika bagian tengkuk hem putih anda ingin terlihat seperti baru dicuci padahal hem itu belum dicuci, maka ambillah sebuah penghapus pensil dan hapuskan noda daki di tengkuk hem anda itu. Niscaya, nggak sampai 5 menit maka hem anda serasa baru dan bisa dipakai kembali tanpa dicuci”. Manjurkah formula saya itu ? Amat sangat manjur, buktinya hampir semua siswa SMA yang cowok di kota saya memakai formula saya itu…. Hopo tumon ? (What a weird thing !)…

Pernahkan anda memperhatikan bahwa kalau anda berlari atau berjalan cepat di kota yang “panas” macam Jakarta sekitar 30 menit, maka yang berkeringat adalah leher, punggung, muka, dan tangan anda ? Pertanyaannya, mengapa kalau anda tidur yang berkeringat bukan di bagian-bagian itu.. ?

Kalau saya tidur, yang berkeringat adalah bagian kepala saya sehingga bantal saya menjadi basah kuyup (saya tinggal di rumah yang dirancang tanpa AC). Ini mungkin karena bagian kepala di dalamnya ada otak yang ibarat komputer adalah “prosesor”-nya. Lha, kalau prosesor Core 2 Duo saja panas sekali (apa lagi AMD Athlon), maka di casing komputer anda memerlukan kipas yang besar atau berjumlah lebih dari satu agar prosesor tidak kepanasan yang menyebabkan komputer anda menjadi “hang”…. Makanya bisa dimengerti, bila pas tidur kepala saya akan berkeringat banyak dan bantal saya akan menjadi basah kuyup…

Selain bagian kepala yang berkeringat, ada bagian lain yang suka berkeringat ketika anda tidur. Bagian apakah itu ?

Anda sendiri yang bisa menjawabnya….. 😉

Alamak…sijil belum dilegalisir !

Anak bungsu saya sudah bekerja bahkan sebelum ia diwisuda. Ia bekerja di sebuah perusahaan minyak nasional divisi hulu yang menangani pencarian minyak, pemetaan sumber-sumber minyak, sampai pengolahan data hasil akuisisi data seismiknya…

Akibatnya, wisuda tidak terlalu berkesan baginya, juga bagi saya orangtuanya. Mungkin halnya akan lain kalau pas diwisuda ia belum bekerja. Ini…sudah bekerja, baru diwisuda. Ibarat, orang sudah kawin baru menikah ! (kalaupun anda bisa membedakan antara kawin dengan menikah loh !)..

Pagi ini ia mengirim sms “Wah pah, celaka, aku nggak jadi nglamar jadi PNS aja deh soalnya ijazahku belum dilegalisir”..

Sayapun kaget bagai disambar petir, “Masyak ampyun-ampyun, iya nduk memang ijazahmu ada di lemari papa. Papa lupa mengingatkan kamu supaya dilegalisir”. “Kertas kuning juga belum ngurus pah”, anak saya mengingatkan lagi. “Ampun deh…”, kata saya sambil memegangi kepala yang sebenarnya nggak bakalan copot begitu saja…

Sebenarnya di kantor saya ada lowongan bagi jurusan anak bungsu saya itu sebanyak 2 orang. Nah, anak bungsu saya mungkin mau mengikuti jejak saya jadi punggawa negeri…tapi kok ijazah aja lupa dilegalisir ?

Apa ini berarti, ia akan menjadi “kang minyak” untuk selamanya ?

* Just curious *

Catatan : alamak = kata seru yang artinya mirip “Aduuuuh…” / sijil = bahasa Melayu untuk “ijazah” / dilegalisir = awak sudah tau lah itu…

Sarapan yang paling “filling”

Apa menurut anda sarapan yang paling “filling” atau paling “nampol” kata anak sekarang ?

Saya sering makan sarapan dengan : roti bakar, telur rebus (hard-boiled egg), nasi goreng ayam, nasi putih tempe goreng, indomie telur rebus, indomie goreng…

Tapi saya paling tidak tahan kalau sarapan dengan nasi putih atau nasi goreng, karena saking “nampolnya” sehingga sewaktu sampai kantor malah terkantuk-kantuk.. Sebaliknya, saya juga kurang suka sarapan dengan roti bakar satu tangkep karena sarapan jam 05.30 dan sampai kantor sekitar jam 07.00 tapi perut sudah mulai lapar lagi pukul 10.30, alias roti bakar tidak nampol banget dah…

Paling senang kalau sarapan indomie rebus atau indomie goreng, karena jumlah kalori kelihatannya mencukupi sehingga tahan kalau sampai jam 12.00 alias sampai waktunya makan siang. Alias, indomie* memang nampol banget deh, it feels so filling in my stomach…

(* yang bersangkutan belum bayar iklan lho kepada saya…hahaha..)..

Previous Older Entries