Sebuah ban untuk tukang ojek

Siang jelang sore itu, saya berniat mengambil mobil jeep Suzuki Sidekick saya ke bengkel resmi Suzuki yang berjarak sekitar 2 km dari rumah saya setelah mobil yang saya panggil “Si Embah Kakung” itu hanya nongkrong di garasi tanpa dihidupkan mesinnya selama setahun dan hanya menjadi “lemari buku” !

Celakanya, bengkel nelpon ke hp saya memberitahu bahwa mobil saya sudah “sehat wal afiat” kembali sudah mepet dengan jam tutup bengkel yaitu jam 16.30. Posisi bengkel terhadap tempat saya adalah semacam dua titik di kaki sebuah segitiga sama sisi yang sisi-sisi atasnya panjang. Dengan kata lain, kalau mau naik angkot dari depan rumah saya ke bengkel itu harus pergi ke kiri sepanjang 3,5 meter, melalui pasar yang super macet, dan baru belok kanan lagi sepanjang 3 km. Dengan naik ojek, jarak 6,5 km itu bisa disingkat sehingga menjadi 2 km saja..

Dengan alasan itu, sayapun berjalan agak bergegas dari rumah menuju depan kompleks saya. Di sanalah mangkal 3 tukang ojek di sore itu. Salah seorang di antaranya sudah melihat saya dari jarak 50 meter dan sayapun memberi isyarat bahwa saya perlu ojek. Iapun mengambil kunci motor, menstart motornya segera, dan ketika saya sampai tinggal “nyengklak” ke motor SupraFit berumur 2 tahunan itu…

Baru 10 meter ojek berjalan, saya merasakan ban ojek bagian belakang ada bagian yang mengganjal. Jadi bunyinya adalah “sssrrr….sssrrr…sssrrr… gluduk…sssrrr…sssrrr…sssrrr…gluduk….”

Walaupun obrolan dengan Kang Ojek yang masih muda itu serasa nyaman tentang apa saja, terus terang saya agak terganggu setiap ban ojek melalui ganjalan itu…gluduk…gluduk…gluduk…

“Kenapa ini bang ? Kok bunyi gini ?”, tanya saya basa basi. “Anu Pak. Suatu hari saya mengantar seorang penumpang ke Tangerang dan di tengah jalan ada lubang besar yang saya tidak tahu. Motor saya melalui lubang itu dengan suara keras. Tahu-tahu setelah saya periksa, bannya agak tipis dan melembung kayak orang hamil gitu”, jelasnya. Sayapun cuman bisa berkata, “Ooooo gitu tho ceritanya…”

“Emang berapa sih harga ban motor sekarang, bukankah cuman 25 ribu ?”, tanya saya berbasa-basi kembali daripada merasakan goncangan keras waktu melalui jalanan yang agak rusak. “Ooo..sekarang nggak boleh pak, sekarang harganya pek-go (Rp 150 rb)”, jawabnya. “Lho terakhir saya beli ban motor cuman Rp 25 ribu”, kata saya. “Enggak boleh segitu pak, ban bekas aja sudah Rp 50 ribu”..

Sayapun berpikir, betapa cepatnya harga ban motor naik. Tapi saya juga lupa bahwa baru 2 tahun terakhir ini saya punya motor Mio, sebelumnya selama 16 tahun saya tidak punya motor !

Sayapun lalu berpikir, alangkah berharganya bagi dia bila saya bisa membantu sebagian rejeki saya untuk membantu tukang ojek ini beli ban. Soalnya dia cerita cicilan terakhirpun sebesar Rp 450 ribu-pun belum ia bayar. “Sewa lagi sepi, pak”, katanya. “Sewa” adalah istilah umum di kalangan tukang angkot dan tukang ojek yang artinya “penumpang”..

Lima menit kemudian, ojekpun sampai di depan bengkel yang saya tuju. Saya turun, merogoh saku dan memberikan uang ke tukang ojek itu. “Ini bang, uang untuk beli ban motor. Kebetulan saya ada sedikit rejeki nih”, kata saya sambil memberikan 3 lembaran 50 ribu.. Si tukang ojek dengan mata bengong menerima uang itu, dan sayapun menyeberang jalan memasuki bengkel yang sudah setengah tutup itu..

Besoknya, mobil saya “Si Embah Kakung” masuk salon mobil biar terlihat kinclong. Sayapun memerlukan ojek lagi untuk memotong jalan seperti kemarin. Kebetulan tempat salon mobil sekitar 50 meter dari bengkel saya kemarin..

Dari kejauhan, ojek yang saya beri modal untuk beli ban kemarin sudah melihat saya jalan kaki. Sayapun memberi kode dengan jempol kanan saya. Dan iapun mulai menstart ojeknya. Saya bilang, “Bang, kali ini ke salon mobil yang letaknya di sebelah bengkel yang kemarin”..

Ojekpun meluncur, kali ini lebih halus suara bannya daripada kemarin karena sudah tidak ada lagi ganjalan di ban..

“Seperti pesan Bapak kemarin, begitu saya nerima uang dari Bapak langsung saya bergegas ke bengkel untuk beli ban Pak”, katanya. “Isteri sayapun saya ceritain sampai bengong pak”, tambahnya lagi…

Saya tidak mendengar apa kata dia yang terakhir, karena membayangkan betapa tampan dan “youthful”-nya Si Embah Kakung setelah mesinnya saya tune-up dan bodynya masuk “manicure-pedicure-persis kayak tekukur”*) alias salon mobil,,,

*) minjem istilah dari Debby Sahertian dari Lenong Rumpi

19 Comments (+add yours?)

  1. cen
    Nov 09, 2008 @ 11:09:47

    wah.. sungguh baik tindakan anda, pak! semoga Tuhan membalas kebaikan yang telah diberikan.. hehe…
    Btw, mobil koq bisa ditinggal setahun? apa masih bisa dinyalakan sebelum dibawa ke bengkel?

    Amien !
    Ceritanya isteri saya sekolah selama setahun ngambil S3 di Malang. Selama isteri saya pergi, mobil isteri saya lebih sering saya gunakan ke kantor dan ke kampus. Sedang mobil saya sendiri lupa keurus. Mestinya setiap weekend tetap harus saya ajak “jalan-jalan”. Lama-lama accu-nya sowak, dan mobil tidak bisa dihidupkan lagi dan fungsinya berubah menjadi “lemari buku”..
    Untuk menyalakan yang pertama sulitnya setengah mati. Karburator harus diganti semua komponennya (verpak, jarum, per, dsb…jumlahnya ada 11 komponen kecil2), baru deh dicoba distart oleh orang dari bengkel resmi…selama 15 menit pertama sulit distart, tapi setelah itu lancar-lancar aja..
    Celakanya, roda nge-lock dan semua fluida (minyak rem, minyak power steering, bensin, oli mesin, oli transmisi) bermasalah karena proses gravitasi jadi semuanya ada di bawah..
    Makanya kalau mau meninggalkan mobil 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan setahun…ikuti petunjuk-petunjuk yang sudah ada di internet. Jangan seperti saya, nyesel belakangan !

    Reply

  2. rumahagung
    Nov 09, 2008 @ 14:49:04

    wahh..!!
    Bapak ini..!!
    hahahaha ..!!
    luar biasa kaliii..!!
    saya ud setahun nih ga naek ojek lagi.
    sejak naik motor ke kampus.
    merasa bersalah juga sih,
    saya salah satu langganan dari tukang2 ojek di dpn komplek.
    saya pasti ud ngurangin rejeki mereka.
    hehehehehhee..!!
    yah,tp mau gmn lg?!
    saya ga kuat kalo hrs “ngeteng” trus tiap hr ke kampus.
    hehehehehe..!!

    itu mobil turun mesin semua donk Pak yah?!
    wahh..!!
    klo ibaratnya orang,mobilnya uda di check up.
    di operasi n di benerin dalam tubuhnya.
    trus dibawa ke salon.
    hehehehehhe..!!
    dr zombie bs jd Paris Hilton tuh,
    hehehehehe..!!

    Mestinya semua orang tanpa terkecuali, jika naik becak, bajaj atau ojek yang disupiri oleh “orang kecil”,,,ketika membayar, tidak membayangkan itu sebagai “ongkos” tapi juga “derma”. Dengan demikian orang kecil tetap mendapatkan rejekinya dan mereka beserta keluarga bisa makan. Jika semua orang naik mobil sendiri atau naik motor sendiri, tentu kasihan mereka-mereka itu. Sudah ribuan kali hal ini saya sampaikan ke anak-anak saya sendiri, dan kelihatannya mereka belum ngerti juga…

    Reply

  3. .\Gojo
    Nov 09, 2008 @ 17:31:57

    Permisi Pak Tri, ada typo sepertinya:

    harus pergi ke kiri sepanjang 3,5 meter, melalui pasar yang super macet, dan baru belok kanan lagi sepanjang 3 km. Dengan naik ojek, jarak 6,5 km itu bisa disingkat sehingga menjadi 2 km saja..

    3.5 meter + 3 km kok jadi 6.5 km hehehe…

    Mengenai cerita di atas, moga2 kebaikan yang Pak Tri berikan bisa berbuah kebaikan2 lain dari Pak Ojeg…begitu seterusnya… begitu selanjutnya hehehe… *pay it forward gitu maksudnyah :D…

    Wah..anda awas juga ya bisa menemukan typo seperti itu. Typo itu sudah “the order of the day” (sudah biasa) dalam menulis blog soalnya semua postingan saya langsung ditulis “on the fly” di layar dan tanpa melalui Word atau Notepad dulu. Maklum diburu waktu, atau tepatnya…begitu ada ide…langsung hajar bleh, gitu,,, 😉

    Mengenai doa anda. Amien…

    Reply

  4. rumahagung
    Nov 09, 2008 @ 21:33:42

    iyah Pak.
    aduhh..!!
    Bapak jd bikin saya makin merasa bersalah nih.
    hehehehhee..!!
    tapi saya ga tahan Pak,kalo hrs “ngeteng” lg ke kampus.
    selain ongkosnya berat,
    capenya itu lho,ga tahan.
    makan waktu yg luar biasa byk pula.
    ampe rmh ud ga bs apa2.
    belom kalo hujan.

    saya sih ngerti kalo itu derma dan mungkin rejeki yg luar biasa buat mereka.
    cm yah,gmn yah?!
    hehehehe..!!
    saya belom bisa cari uang sendiri sih.
    hehehehhee..!!

    Berarti, anda harus mulai kerja sambilan cari uang sendiri supaya bisa menghargai sulitnya mencari uang. Bagaimana dengan jualan jaket itu, sudah untung ? Kerja sambilan namanya “sambilan” bisa menjadi pelayan restoran (McD, KFC, dsb), penjaga bioskop (XXI, 21), membuka gerai hp, atau membuka distro. Walau sedikit uang yang anda dapat, nikmatnya pasti selangit..
    Saya dulu waktu mahasiswa sudah menjadi Asisten Dosen. Bayarannya hanya Rp 1.800 per bulan (naik angkot sekali jalan Rp 50 waktu itu). Gajian 6 bulan sekali. Selain itu, saya juga membuat ilustrasi t-shirt yang dijual di gerai Mahatani IPB yang hasilnya lumayan, minimal kalau mau t-shirt tinggal minta nggak usah beli…
    Setelah bisa cari uang, berdermalah barang sedikit. Tapi anak saya yang di Bandung juga suka membelikan susu bagi bayi-bayi yatim piatu dekat BEC, disisihkan dari uang saku dia hasil kiriman bapaknya…
    Apapun jika mau berbuat baik, pasti ada jalannya…

    Reply

  5. layyuddi
    Nov 09, 2008 @ 22:49:15

    ketika membayar, tidak membayangkan itu sebagai “ongkos” tapi juga “derma”

    Mantap, rahasia yang indah.

    Jika anda rajin membaca posting di Blog ini, pasti akan terdapat banyak “wit and wisdom” serta kunci untuk menjadi orang yang baik dan peduli terhadap sesama…

    Reply

  6. Oemar Bakrie
    Nov 10, 2008 @ 00:23:41

    Wah … Pak Tri penggemar berat Suzuki rupanya. Sama dong dengan saya, bahkan motor saya waktu SMA dan kuliah dulu-pun Suzuki.

    Ya pak, Suzuki bagi saya artinya “Sukses”. Saya sudah mencoba sekali menggunakan Toyota, tapi rejeki saya jadi mati angin makanya setelah itu kapok menggunakan Toyota (yang barangkali bagi saya artinya “Tewas”). Suzuki adalah pilihan saya untuk mobil pak, sedangkan untuk motor dulu waktu mahasiswa saya memilih “Honda” tapi motor yang dibeli 2 tahun lalu karena untuk anak yang baru belajar jadi saya memilih yang bodynya paling kecil, jadi saya pilih Yamaha Mio…
    (Kesimpulan saya, untuk PNS yang penghasilannya tidak pernah mendapat “durian runtuh”, merk mobil yang tepat hanya dua, yaitu : Suzuki dan Daihatsu. Toyota dan Honda mungkin hanya orang yang berbisnis pak…)..

    Reply

  7. yulism
    Nov 10, 2008 @ 00:51:33

    Memberi kail adalah tindakan yang sangat baik dan mulia Pak Tri daripada memberi ikan. Habis setelah dimakan. thanks

    Tepat sekali mbak.. 😉
    Maksud saya waktu memberi uang itu adalah untuk modal kerja dia sebagai pengojek yaitu dengan membelikan ban motor. Bukan maksud saya untuk memberi uang yang akan dibelikan makanan dan setelah selesai makan terus sudah. Karena saya beri “amanah” seperti itu, maka si tukang ojekpun langsung menuju toko ban untuk mengganti ban motornya..

    Reply

  8. alris
    Nov 10, 2008 @ 09:40:51

    Tukang ojeg-nya menjaga amanah Pak Tri. Duit yang dikasih dibelikan untuk modal dia. Kalo banyak orang menjaga amanah tentu sedikit aman negeri ini. Saya pernah baca kisah yang tidak amanah. Marimutu Sinivasan pinjam duit dalam triliyunan rupiah, amanah bank yang minjam adalah untuk pengembangan perusahaan garment. Tapi dalam prakteknya dia gunakan untuk membuat pabrik mobil truk dan engineering. Karena gak amanah itu dan mungkin juga “pusing” akhirnya dia nekat bunuh diri dengan cara terjun dari gedung bertingkat. Kasihan…

    Sebenarnya kalau untuk “bigger picture” seperti itu saya sebaiknya tidak berkomentar. Tapi sepengetahuan saya mungkin ada kesalahan administratif lah. Di kantor saya sendiri sebenarnya ada perdebatan super serius apakah Marimutu dengan Texmaco-nya itu “asset” atau “liability”. Karena dia bisa menciptakan pabrik yang bisa membuat alat-alat produksi yang sebelumnya belum bisa dibuat di Indonesia, dan telah dicapai “kapabilitas teknologi” di pabrik dia. Seumpama Indonesia terlibat perang, pasti Marimutu dengan Texmaco-nya banyak berguna untuk Indonesia, namun di masa damai apa yang dilakukan dia sulit sekali orang melihatnya. Kalau tidak salah, yang terjun dari lantai 52 apartemen itu adiknya Marimutu, bukan Marimutunya sendiri. Info lainnya, sudah banyak Ph.D dihasilkan di luar negeri karena menulis masalah “kapabilitas teknologi” dari apa yang terjadi di Texmaco ini..

    Jadi apa yang sebenarnya terjadi ?
    Tanyalah pada rumput yang bergoyang…

    (Tapi saya setuju sekali dengan pendapat sebaiknya yang diberi bantuan selalu menjaga amanah yang memberi bantuan, dan jangan diselewengkan amanahnya…)..

    Reply

  9. rumahagung
    Nov 10, 2008 @ 15:41:14

    kalo sambilan sih ada aj Pak.
    yah,itu jual jaket,jeans,kaos2 distro.
    skrg saya mao jual jeans nih Pak.
    mao ga?!
    langsung dr pabrik nih,murah dan pasti asli bermerek.
    hehehehehe..!!
    sekalian promosi jdnya.
    hehehehhe..!!

    mksd saya,
    buat kebutuhan primer aja,saya belom bisa mandiri,
    gmn saya mao bantu org laen?!
    klo bantu kecil2 sih bisa dan uda saya lakukan.
    tp klo ksh tukang ojek 150rb,wah,musti nunggu ada S.Si dan S.Kom di belakan nama saya.
    hehehehehehe…!!

    Reply

  10. liswari
    Nov 12, 2008 @ 03:21:19

    its just soo you Om! 🙂

    Yep, it is. Isn’t it ?

    Reply

  11. Umi
    Nov 12, 2008 @ 15:55:54

    Ongkos bagian dari dherma…
    Simple act Great effect….
    Jadi inget 3M nya A’a Gym….

    Keep share ya Pak…

    Wah, mbak masih ingat aja ajaran A’a. Ya mbak, I will. Kalau ada “wit and wisdom” insya Allah akan saya share..

    Reply

  12. edratna
    Nov 12, 2008 @ 16:37:17

    Semoga uangnya berkah ya…jadi mobil udah mulus dong…..

    Amien…
    Mobil sudah mulus di sana dan di sini. Cat samping kiri kanan, interior, lampu belakang, mulus. Atap, hood (tutup mesin) masih ada bekas-bekas pelitur yang “nempel” tak diundang di situ. Kaca penuh dengan baret-baret, bekas cakar kucing saya waktu itu ditambah jatuhan genteng atau tripleks dari atas. Lampu sein kanan masih belum nyala (kemarin nyala, sekarang tewas). Bemper depan dan belakang, masih perlu “di-Jalan-Kembang-kan” alias masih perlu dicat ulang. Ban Dessert Dueller belakang (cadangan) perlu dibelikan lagi, tapi konon seri ban ini sudah nggak diproduksi lagi..
    Hari ini tadi, mobil itu sudah saya pakai ke kampus. Bawa anak-anak, semuanya gembira. “Wah..tempat duduknya lebih luas ya daripada Camry-un..” adalah kesan pertama anak-anak. AC masih duiiingiiiin ngiiiin berkas tangan dingin Koh AFU dari Radio Dalam….sampai dari rumah ke kantor pengin pee di tengah jalan saking dinginnya AC..
    O ya, Sabtu kemarin ada arisan Ibu-ibu di rumah dan Sabtu depan ini ada arisan Bapak-bapak di rumah. Jadinya belum sempat ngambil box-box buku di Cilandak, mungkin dari Minggu ini…

    Reply

  13. midhi
    Nov 12, 2008 @ 23:33:38

    Assalamualaikum wr wb…

    Sudah lama nih ga cek blog si Bapak yang satu ini, ternyata tulisannya semakin banyak saja. Bagaimana Kabarnya Pak?

    Untuk orang-orang kaya mungkin dengan uang segitu tidak terlalu masalah tapi kalau bagi kita rakyat kecil wah sangat berarti banget. Yang pasti satu hal yang mesti kita contoh dari tukang ojek itu dan mesti kita tiru yaitu menjalankan amanah. Karena sebenarnya menjalankan suatu amanah itu sangat-sangat sulit.

    Untuk urusan derma, si Bapak yang satu ini jangan ditanya deh 🙂 telah banyak mahasiswa yang bisa lulus karena saran-saran dan masukan dari si Bapak ini. Apalagi bagi mahasiswa-mahasiswa teknik informatika kayaknya si Bapak ini malaikat penolong mereka yang sedang buntu dalam berfikir.

    Saya salut dengan Bapak, semakin ilmu Bapak bertambah tidak menjadikan Bapak menjadi seorang yang sombong, tetapi menjadikan Bapak sebagai orang yang lebih tertantang untuk membantu setiap orang. Sekali lagi untuk Bapak saya salut, semoga semua kebaikan Bapak dibalas dengan sangat berlebih oleh 4JJI SWT, amiiinnnnnnn

    Wassalam

    Wallaikum sallam…. 😉
    Kuncinya menurut saya adalah, sebaiknya setiap orang setiap hari berbuat 1 kebaikan. Berbuat 1 kebaikan setiap 1 hari mungkin tidak terlalu berat kan ? Sejak beberapa tahun yang lalu saya biasakan seperti itu, misalnya : menyelematkan kodok merah yang mau dibuat mainan oleh kucing, menyeberangkan nenek tua yang mau menyeberang jalan yang super sibuk, memberi Rp 1000 (se ceng) ke peminta-minta lusuh yang kelihatannya belum makan, naik becak bayar Rp 4000 padahal jalan kaki juga bisa, atau naik bajaj Rp 15000 padahal kalau naik angkot (dengan resiko kecopetan) bisa Rp 2000 saja, dan seterusnya….
    Membantu mahasiswa Teknik Informatika yang sedang menulis skripsi ini, walaupun hanya melalui dunia maya dan walaupun mahasiswa universitas lain, mungkin hanya salah satu tugas saya sebagai dosen. Bukan hanya dosen universitas Y,Z atau W…tetapi dosen maya !
    Terima kasih telah mengunjungi blog saya ini…

    Reply

  14. rumahagung
    Nov 13, 2008 @ 09:56:10

    saya bangga jadi mahasiswa Pak Tri Djoko ini.
    tp saya blom bisa bikin Bapak ini bangga pny mahasiswa kyk saya.
    hehehehhee..!!
    saya hutang 1 yah Pak.
    hahahahaha..!!

    Reply

  15. hendry
    Nov 14, 2008 @ 06:56:53

    Hebatt…
    Bapak udah jadi host nya “Kena Deh”.. Pasti dy bengong bengong… Hahah

    Eh, 2 bulan yang lalu, aku ganti ban baru dan harganya cuma 35 rb.. Bener loh.. (•︶‿︶•)

    Saya barusan lihat di website ini :
    http://www.xrules234.com/forum/showthread.php?t=64
    harga ban motor merk IRC berkisar antara Rp 73 ribu sampai Rp 275 ribu…
    Ban (ban luar lho, bukan ban dalam !!) yang dibeli oleh tukang ojek itu merk IRC dengan harga Rp 145 ribu, posisi : di pinggiran Jakarta (bukan di pusat ban motor di Jatinegara)…
    Apakah anda menyangka saya “tertipu” oleh tukang ojek itu ? Kayaknya sih tidak…apalagi saya anggap itu berderma saja. Yang penting ikhlas…
    Yang menjadi pertanyaan, anda berani membeli ban motor seharga Rp 20 ribu saja…mudah-mudahan anda nggak pakai ngebut karena bisa-bisa nyawa terancam karena ban meletus di jalan… 😉

    Reply

  16. .\Gojo
    Nov 14, 2008 @ 20:10:05

    @Hendry,

    35 ribu untuk sebuah ban baru? Ernnn… kayaknya ban dalam saja harganya sudah segitu (termasuk pasang)… setahuku harga ban ‘luar’ kira2 dua-tiga kali harga ban dalam… jadi kisaran harga yang dikatakan pak Tri sepertinya sudah benar…

    Reply

  17. hendry
    Nov 15, 2008 @ 22:52:15

    Iya… Sepertinya itu ban dalam..

    Maap2.. Aku gak bermaksud provokasi loh…

    Reply

  18. adit
    Nov 19, 2008 @ 13:43:38

    wahh..berapapun harga ban motor itu,
    sungguh mulia niat si bapak.
    ada rejeki lebih, lalu ada niat buat berbagi
    pasti akan mendapatkan balasan yang lebih lagi.
    apalagi amanat buat beli ban dilaksanakan
    si abang ojek..wah pasti seneng juga tuh si bapak.
    weisss si mbah kakung jg makin kinclong.
    selamat pak!!
    hati hati klo berkendara ^^

    Adit,
    Yoi pastinya…hati saya senang luar biasa waktu itu, lebih daripada sejumlah yang saya dermakan (itulah enaknya berderma, jadi segera berdermalah !)…
    Ooo..ini apa Adit yang dulu setiap hari di SP 2007 ikut terus naik si Mbah Kakung ? Kapan-kapan ikutan naik lagi dong, soalnya dulu si Mbah Kakung belum kinclong dan masih puaanaasss AC-nya, tapi sekarang sudah duiiiingiiiinn (sampe pengin pee sebelum sampai tujuannya karena nggak nahan…hihihihi…)…

    Reply

  19. adit
    Nov 19, 2008 @ 23:55:00

    bukan pak..saya sekarang mahasiswa Kapita Selekta bapak..yang biasa duduk sebelah kiri depan menghadap meja moderator.klo ada kelas perhatikan saja saya pak.hehehee..
    wah kapan2 bolehlah ikutan jalan ngider Jakarta dengan si mbah..^^

    Ooo…Adit yang kurus, suka duduk di pojok, dan suka senyum-senyum sendiri itu tho…?
    Boleh lah nanti ikut naik si Mbah Kakung dari Kampus Anggrek sampai Gambir jam 15.00 (saya harus jemput anak di Pertamina, Gambir)
    Tapi itu kalau saya pas mbawa si Mbak Kakung (Sidekick), soalnya kadang-kadang saya mbawa Bu De (Camry-un)..hahaha..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: