Jadi PNS atau Pegawai Swasta ?

Pertanyaan yang sudah puluhan tahun dipertanyakan orang, dan sampai hari inipun masih banyak lulusan perguruan tinggi yang tetap saja nanya : Mau Jadi PNS atau Pegawai Swasta ya ?

Bahkan di salah satu komentar dari salah satu Blog kakak saya http://edratna.wordpress.com/ ada yang bilang mereka bersaudara pada tidak mau mengikuti anjuran Bapaknya yang menyuruh mereka semua anaknya menjadi pegawai negeri (PNS), dan setiap anaknya dengan sekuat tenaga melawan anjuran Bapak-nya itu dan akhirnya semua menjadi pegawai swasta dan membuktikan bahwa pegawai swasta tidak jelek-jelek amat dibandingkan dengan PNS…

Saya tidak punya argumennya, walaupun kalaupun punya bisa ditulis di ratusan blog nih. Tapi waktu ada diskusi antar teman-teman di kantor saya tentang handphone apa yang paling bagus (diskusi ini terjadi di tahun 1996-1997), ada yang bilang Erickson, Siemens, Philips, dsb…setelah 30 menit mereka berdebat sengit akhirnya saya menengahi, “Apapun handphone anda, kalau bukan merk NOKIA itu tidak laku digadaikan di Pegadaian. Jadi membawa NOKIA ibarat membawa uang cash”, kata saya waktu itu…dan ajaib semuanya terdiam sejenak….dan akhirnya ketawa ngakak !!!

Jadi, sebaiknya setelah lulus menjadi PNS atau Pegawai Swasta ?

Saya tidak punya jawabannya yang tepat dan cespleng. Tapi menjadi PNS itu ibarat sehari menangis dan 29 hari setelahnya tertawa. Sedangkan menjadi Pegawai Swasta itu ibaratnya sehari tertawa dan 29 hari setelahnya menangis !!!

Mengapa ?

Karena menjadi PNS waktu terima gaji tanggal 1 akan langsung menangis, karena mengingat sedikitnya gaji yang diterima (yang tidak menangis pasti punya keyakinan menjadi PNS itu mengabdi negara). Tapi setelah itu PNS akan tertawa selama 29 hari sesudahnya karena pekerjaannya tidak dikejar target, tidak diberi beban berlebihan, dan masih ada waktu santai untuk senam pagi, main volley, main pingpong, minum kopi dan merokok (bagi yang merokok). Sambil ngobrol, mereka tertawa riang (entah menertawakan siapa…)…

Sedangkan menjadi Pegawai Swasta pada tanggal 1 setiap gajian akan tertawa mengingat besarnya gaji yang diterima, namun setelah itu selama 29 hari sesudahnya akan menangis, minimal merengut dan bersungut-sungut mengingat dibebani target yang tidak mungkin dicapai, kerja lembur bagaikan kuda beban, dan di rumahpun masih ditelpon boss untuk membuat laporan ini dan itu…

Jadi bagi anda yang baru lulus atau mau lulus dari perguruan tinggi nih saya mau nanya : Apakah anda memilih suatu pekerjaan yang membuat anda “menangis 1 hari, tertawa 29 hari” atau pekerjaan yang membuat anda “tertawa 1 hari, menangis 29 hari” ?

Jawab dong….

(jika saja, anda bisa membedakan secara jelas apa beda menangis dengan tertawa soalnya bagi sebagian orang menangis dan tertawa itu bisa dilakukan berbarengan…hahaha…)…

20 Comments (+add yours?)

  1. muchdie
    Nov 17, 2008 @ 12:08:53

    Pak Tri,
    Saya juga gak tau mana yang lebih enak, apa jadi PNS atawa peg. swasta; atau malah self-employee. Saya dan isteri sama-sama PNS. Jarang nangis sih tapi perih juga. Apalagi ketika org yang kita cintai dan hormati masuk rumah sakit dan kita gak punya cukup uang. Sepertinya gak ada artinya uang (nilainya kecil banget dibanding biaya rumah sakit) yang kita peroleh dengan susah payah.

    PNS itu kan aturan penggajiannya sudah baku. Setinggi-tingginya ya segitu. Saya dgn S-3, punya jabatan eselon-2, masa kerja hampir 30 thn dua bulan lalu sudah dilampaui oleh anak saya (dalam hal gaji), lulusan S-1, baru kerja 4 thn di KAP terkenal (Swasta asing). Kalo persis itungannya, gajinya sdh 2 kali dari gaji PGPS + segala tunjangan saya.

    Tapi, pajaknya besar juga ( 35% ?) Belom lagi, susah nemuin matahari sore di rumah. Ya gimana ? Rata-rata pulangnya menjelang tengah malam.
    Mamanya (isteri saya) pernah tanya, apa emang suka dengan pekerjaannya, karena sering juga pulang menjelang subuh. Saya mo nanya juga, tapi suka nggak enak. Apalagi kalo nyerempet-nyerempet penghasilan. Tapi saya tau dia masih suka di pekerjaannya sekarang, dari nelerusi blognya. Dan saya bahkan baru tau kalo dia suka juga nulis-nulis.

    Anak saya yang kedua, perempuan, walaupun belum selesai S-1 sudah mulai kerja, di Perusahaan Swasta nasional, milik pengusaha terkenal di jaman orde baru. Dan kelihatannya gak tertarik untuk mengisi lowongan PNS yang sekarang lagi rame-ramenya di seleksi.

    Saya dan isteri sepakat, terserah anak-anak aja dah. Jalan mana yang mau ditempuh. Mungkin mereka juga belajar dari alam sekelilingnya. Saya dan isteri yang sama-sama PNS.

    Mungkin bener kata orang-orang bijak. mempunyai penghasilan adalah satu hal. Mengelola penghasilan adalah hal lainnya. Mungkin ada korelasi antara keduanya. Walahu a’lam Bisowab.

    Wah..trims atas thoughtful comment-nya. Pendapat saya juga sama, saya sendiri PNS dan isteri TNI (yang standar gajinya mirip PNS juga). Anak saya yang gede pernah mau masuk PNS departemen yang saingannya cukup ketat, dia gagal tapi kayaknya nggak nyesel-nyesel amat, dan sekarang sudah happy kerja di perusahaan swasta. Anak saya yang kecil, kerja di BUMN…masih ada “N”-nya…jadi walau gaji cukup besar tapi masih punya pemerintah lah..
    Saya juga jadi mikir, saya tidak pernah memaksa anak, kumaha engke lah. Orang saya sendiri sebagai PNS juga sering bilang ke diri saya sendiri “Kumaha Bapak wae” atau “sebodo teuing” atau istilah Jawanya “pejah gesang nderek negoro”…
    Anda juga benar waktu bilang “Mendapatkan penghasilan adalah satu hal. Mengelola penghasilan adalah hal lain”, izinkan saya menambahkan “Dan Mengelola kesehatan adalah hal lainnya lagi”..
    Intinya, orang harus bisa menghasilkan yang semaksimal mungkin (gaji tinggi), mengelola penghasilan dengan baik (pengeluaran kecil, sisa banyak), dan mengelola kesehatan dengan baik (0 kejadian masuk rumah sakit)…
    Seorang teman yang bijak tahun 1995 menasehati saya, “Misalkan level kesehatan anda sekarang X, dan level pendapatan anda A. Nah, anda ingin meningkatkan level pendapatan anda ke B, tapi dengan resiko level kesehatan anda turun ke Y, dan untuk mengembalikan level kesehatan anda dari Y naik kembali ke X (level kesehatan semula sebelum “ngobyek”) SIAPA TAHU BARANGKALI biayanya lebih besar daripada selisih penghasilan (A-B). Nah Lho !”…berarti kenaikan penghasilan yang kita tuju ujung-ujungnya malah tidak tertutup pengeluaran untuk merawat kesehatan…
    Intinya, kerja jangan ngoyo, dan yang penting nerimo. Memang seringkali “perih” seperti anda bilang…
    Rahasianya : jika anda masih merasa “perih” berarti anda belum “nerimo” alias “belum berdamai dengan diri sendiri”.
    Buktinya, saya plong-plong aja tuh….hehehe…

    Reply

  2. Ardianto
    Nov 17, 2008 @ 17:28:02

    Ah, nggak gitu-gitu juga kok Pak…

    PNS yang bener, juga ada, yang kerjanya bener-bener dikejar-kejar. Mereka yang begitu malah menangis 30 hari… 😆

    Sayangnya lebih banyak yang tak betol. Jajan di jam kerja. Jalan-jalan di mal dan seterusnya.

    Kalau mengenai gaji sih, itu relatif lebih banyak pegawai swasta…

    PNS yang “dikejar-kejar” atau bahasa kerennya “dipanggil untuk mengabdi negara” itu memang ada, dan banyak, terutama di kota-kota kecil. Jadi PNS memang sering nangis karena penghasilan kurang, namun rupanya Tuhan ingin membalas pengorbanan PNS yang memang hidup sederhana dan jarang berbuat dosa (artosna euweuh soalna) itu. Saya pernah lihat tetangga-tetangga saya guru SD di Madiun sana, anak-anaknya malahan pada sekolah di UGM, ITB, IPB…sedang yang anak pengusaha kaya malah terlihat foya-foya terus…
    Kalau yang main di Mall, itu namanya “oknum”. Memang PNS lebih bodoh dari anggota TNI. Kalau PNS pergi ke Mall pasti dia masih pakai pakaian lengkap, jadi terlalu mencolok dan mudah tertangkap. Coba lihat di Mall ada anggota TNI pakai seragam nggak ? Saya kira nggak ada kecuali sopir mobil TNI yang sedang nunggu bossnya. Bossnya malah nukar baju dengan kaos biasa dan mbludas-mbludus masuk Mall tanpa ada seorangpun yang memperhatikan (kecuali bagi yang tahu, ketahuan dari sepatu, atau ikat pinggangnya)…

    Reply

  3. Agung
    Nov 17, 2008 @ 17:31:17

    klo ortu saya malah suruh saya terusin usaha keluarga,alias jd wiraswasta.
    hhahahahhaa..!!
    pdhl saya msh berpikir bakal jd pegawai swasta.
    tentunya,yg kerjanya ga tll berat.
    klo bs jgn ampe deh pulang ke rmh lewat dr jam 9 mlm.
    semoga ada kerjaan yg enak gitu.
    hehehehehhe..!!

    nah,klo ud puas jd pegawai,
    barulah belajar jd bos.
    hehehehhee..!!

    yang jelas saya mao jd dosen PAk..!!
    hahahahha..!!
    ntah di Binus ato UPH.
    tp ngdosen ini sidejob aja.
    hehehehhe…!!

    Reply

  4. adhiguna mahendra
    Nov 17, 2008 @ 17:45:52

    Saya kebetulan pernah dua-duanya pak, kerja di perusahaan swasta asing, kemudian BHMN (yang strukturnya murip mirip PNS), kemudian swasta asing lagi.

    Kalau ingat masa-masa di BHMN memang sangat menyenangkan, apalagi kalau masih bujangan.

    Gaji cukup (buat bujangan), kerjaan tidak berat, waktu luang banyak, rekan kerja juga intelek-intelek (pendidikan rata-rata S2/S3) tapi santai tidak ngoyo seperti di swasta, dapet beasiswa relatif mudah, kesempatan untuk belajar terbuka lebar, tidak takut dipecat, tidur nyenyak..

    BHMN saya kebetulan di bidang pendidikan jadi kalau libur semester ya kita ikut libur. Masa-masa terindah adalah ketika bulan Ramadhan, volume kerjaannya lebih santai lagi, bentar lagi dapet THR dan libur lebaran….

    Saya sih kebetulan pengalamannya bagus semua waktu di BHMN.

    Masa-masa indah deh pak…buat bujangan…

    Masalahnya saya agak traumatis dengan kemiskinan. Ayah saya jadi pegawai BUMN yang kurang beruntung dan keluarga kami agak kekurangan.

    Di swasta, keuntungannya sebenarnya cuman satu. Duit. Selain itu being a corporate slave kalau dipikir-pikir tidak terlalu memuaskan secara batin (cmon all your sweats and tears are for your already rich bule boss )….

    Untungnya sekarang saya di swasta asing tapi di bagian R&D jadi masih agak intelek deh kerjaannya dan ketemu banyak engineer/scientist berpendidikan master/PhD (bukan tipe tipe shallow corporate clowns seperti yang banyak kita temui di Fortune 500 companies).

    Tapi someday saya akan bikin perusahaan trus ngajar di Universitas di Indonesia pak.

    Trims ceritanya mas. Pagi ini sambil saya nyopir Suzuki Sidekick saya nganter anak ke kantornya di bilangan Gambir, saya sempet mikir kalau PNS itu enaknya semasa muda (bujangan) sampai punya anak balita, menjadi tidak enak ketika anak sudah masuk SD, SMP, SMA, UNiv kelas TOP, dan baru enak lagi ketika sudah sepuh…karena kerjanya santai dan perasaan sangat nyaman mengingat dia tidak akan pernah dipecat !
    BTW, cerita ini muncul ketika Sabtu kemarin saya ada acara Halal Bil Halal dengan teman2 se angkatan di IPB. Usia kami sudah sekitar 50-54 tahun, saya perhatikan yang PNS happy-happy aja dan berwajah cerah, sedang yang dulunya kerja di BUMN atau swasta sudah mulai gelisah karena usia sudah lanjut tapi anak masih kecil (belum mentas sekolahnya). Itu yang saya baca dari Halal bil Halal kemarin, makanya saya “tease” pembaca blog ini disuruh milih : PNS atau swasta ?

    Reply

  5. alrisblog
    Nov 17, 2008 @ 20:10:07

    Dulu saya berusaha untuk jadi pegawai negeri, impian almarhum ke dua orang tua saya. Bahkan saya sabar menunggu kesempatan itu datang. Tapi rupanya jalan yang diberikan oleh Ilahi lain, terdamparlah saya di dunia penuh persaingan. Sekarang masih betah sebagai tangan di bawah alias karyawan di sebuah perusahaan swasta. Masalah gaji juga relatif tergantung dari sudut pandang masing-masing.
    Enaknya pegawai negeri dicokot-cokot alot, tapi dapat pensiun sampek matek.

    Salah satu motivasi saya cerita menggoda anak muda, mau jadi PNS atau pegawai swasta ini karena beberapa hari terakhir ini di koran-koran Jakarta banyak foto tentang ujian masuk jadi PNS. Lah ? PNS kan gajinya kecil, dan hidupnya tidak enak….anggaplah ini sebagai suatu Hipotesis.. Lho, terus mengapa orang berduyun-duyun mau masuk PNS ? Berarti Hipotesis tadi gugur sudah dong ….
    Saya masih punya teman yang sekarang kaya-raya, tapi kalau kita ngobrol akrab dia masih sedih dulu test masuk BPPT (kantor saya) tidak diterima. Padahal saya yang terus di BPPT juga begini-begini aja dan secara materi tidak ada apa-apanya dibanding dia…
    Tanya kenapa ?

    Reply

  6. yulism
    Nov 18, 2008 @ 01:48:48

    Karena sebagian besar di Keluarga saya semua mengabdi pada pemerintah mulai dari guru, dokter pegawai negri, para medis pegawai negri (diRS Negri) , ABRI, PolRI, PNS dll. 90% adalah pengabdi Negara.

    Dari pengalaman tidak ada kehidupan mewah tetapi setidaknya bisa memberikan pendidikan yang lebih tinggi dari Ortunya.

    Boleh dibilang generasi kedua yang berusia diatas 40 tahun masih menjadi pegawai Negeri. Tetapi generasi ke-2 dibawah 40 th sebagian besar menjadi pegawai swasta karena saat ini menjadi pegawai negeri bukan hal yang mudah lagi. Dan berkarya tidak harus menjadi pegawai negeri kan Pak Tri? thanks

    Trims mbak masukannya. Baris “menjadi pegawai negeri bukan hal yang mudah lagi” baiklah saya artikan ya mbak. Arti pertama, tes masuk jadi PNS tidak mudah ditembus. Arti kedua, kalaupun sudah berhasil masuk PNS tapi kehidupan PNS yang “tidak mudah lagi” terutama dengan skala gaji PNS sekarang dan biaya hidup sekarang yang memang berat…
    Berkarya memang tidak harus jadi pegawai negeri mbak, bisa jadi apa saja. Tapi yang perlu diingat, tetaplah ingat negara, dan anak-anak negara yang masih perlu dientaskan dari kemiskinan dan kebodohan. Selama kita mengingat itu, menganggurpun tidak apa-apa mbak…istilahnya begitu, asal tetap mengabdikan jiwa sosial kita bagi orang yang membutuhkan sehingga dunia ini adalah “the best place for every one of us”..
    Setuju nggak mbak ?

    Reply

  7. omiyan
    Nov 18, 2008 @ 10:33:17

    Kalo saya musti memilih mendingan wiraswasta karena jelas sekali kita bisa berimporovisasi terhadap usaha yang akan dikelola, bisa melihat peluang yang ada juga tidak terikat dengan aturan yang sangat kaku dan baku…tapi ya itu dia akhirnya saya terdampar jadi PNS yang notabene selalu jadi beban dengan sendirinya dimata masyarakat….

    tapi setelah ditelisik apapun pekerjaan kita kelak itu mungkin udah jadi jalan Tuhan buat kita….kalo dinikmati berapapun Insya Allah ga akan pernah kekurangan dan yang penting gaya hidup kita itu yang utama..

    Setuju Bung/Mbak…wah saya cek Blog anda ternyata hasil patungan suami-isteri ya…hihihi…
    Memang justru di situlah pointnya, kayaknya sih kita nggak bisa bilang “Saya pengin jadi PNS” terus tiba-tiba masuk jadi PNS. Biasanya ada kesempatan, ada kemampuan, ada fokus, dan ada keberuntungan. Kebanyakan kita ingin jadi PNS, tapi berakhir jadi wiraswastawan. Atau kebalikannya, bercita-cita jadi wiraswastawan, ternyata jadi PNS seperti pengalaman Bung sendiri…
    Apapun pekerjaan kita, bila kita enjoy aja….nah, itulah makna hidup ini !

    Reply

  8. edratna
    Nov 18, 2008 @ 21:21:24

    Hmm semua ada suka dukanya…saya kerja di BUMN, jarang ketemu matahari kecuali hari Sabtu Minggu, itupun kadang harus stand by di kantor. Memang penghasilan mencukupi, tapi sedih jika anggota keluarga lagi sakit, susah karena tak punya waktu menemani…padahal ada cuti besar 3 bulan yang setiap kali hangus. Beruntung suami PNS, dalam keadaan darurat, maka suami bisa jadi back up menunggu anak-anak saat ibu harus ke luar kota.

    Namun saat itu Jakarta tak semacet sekarang, yang muterin Semanggi aja butuh waktu 1,5 jam…jadi dulu sebelum ngantor masih bisa menyusui anak…pulangnya pun kadang masih ketemu matahari. Seiring meningkatnya jabatan, benar2 ga pernah nemu matahari…sediih…justru inilah sebetulnya masalah yang perlu dipikirkan jika yang bekerja kedua suami isteri…harus salah satu pekerjaan yang “agak punya waktu”…bukan santai lho.

    Sebenarnya ini pertanyaan yang benar2 harus dipikirkan oleh yang baru lulus dan sedang cari pekerjaan. Kesimpulannya : 1) pekerjaan tidak bisa diminta, tapi pekerjaan yang ada lah yang menawarkan kepada kita – we have no choice of what kind of job we want to have, instead a certain kind of job offer come to our desk to take, or to leave 2) idealnya suami-isteri mempunyai kombinasi “penghasilan vs waktu” yang ideal, jangan sampai dua-duanya kerja di swasta (yang melimpah dari segi uang, tapi kurang dari segi waktu) ataupun dua-duanya sebagai PNS (yang melimpah dari segi waktu, namun minim dari segi uang)..
    Selain itu, seperti kata Pak Muchdie di atas, “memperoleh penghasilan adalah satu hal, tapi mengelola penghasilan adalah hal lainnya”. Jadi 3) suami-isteri atau salah satunya, harus mempunyai niat manajemen keuangan yang kuat…
    Last but not least, sebagai orang Jawa, kita harus bisa menerima apa yang diberikan kepada kita. Jadi 4) “nerimo” atau mampu menerima apa yang diberikan kepada kita, besar atau kecil jika kita menerimanya dengan bersyukur dan tidak lupa berderma, mudah-mudahan jalan hidup kita dari tanggal 1 sampai tanggal 30 sampai gajian lagi…aman-aman saja…

    Reply

  9. Prihadi Setyo Darmanto
    Nov 19, 2008 @ 21:53:38

    Ass wr wb,
    Selamat dulu udah mantu, saya gak dapat undangan dan baru tahu setelah lewat harinya. Sorry ya tapi kami doakan semoga putri-a selalu bahagia hingga aki-aki dan nini-nini. Amiin.

    Btw, mengenai PNS atau bukan, kalau udah menjalani barangkali baru tahu, tetapi bagi lulusan baru saya kira tidak mudah untuk memilih. Mereka harus mempelajari pengalaman banyak orang, merenungkan bagaimana sifat dirinya, baru bisa memilih, itupun kalau bisa memilih he-he-he.

    Bagi saya pribadi yang juga PNS, tapi kan PNS yang beda, karena dosen barangkali lebih leluasa mengingat tugas-tugas dari universitas pada umumnya bisa diselesaikan dalam 2-3 hari kerja dan sisanya boleh dipakai untuk mengerjakan hal-hal lain. Khusus untuk bidang teknik kalau yang dikerjakan berkaitan dengan industri, menurut saya justru agak wajib supaya kuliahnya tidak text-book minded. Jadi kalau bisa dilakukan seperti itu saya kira bisa tertawa 30-31 hari sebulan he-he-he dan dapat menjaga kesehatan lebih baik. Tapi kan tidak semua PNS bisa seperti itu. Oleh karena itu memang benar yang saya lakukan hanyalah berusaha dan tawakal saja, hasil akhir saya serahkan penuh ke gusti Allah. Walhasil asal hati kita bisa pasrah/ikhlas, alhamdulillah enjoy aja yuh. Salam.
    PSD

    Mas Pri,
    Wallaikum sallam….
    Mantu yang pertama memang elek-elekan lan nubyak-nubyak. Bermula dari undangan yang salah pesan (pesan dari Bandung, padahal di Pasar Tebet buaanyaaak). Setelah itu undangannya telat (pesan 500, 100 baru jadi jelang Lebaran, dan 500 baru komplit plit 10 hari sebelum hari H), nego harga yang naik terus (Rp 3500, Rp 5000, Rp 8500, dan akhirnya Rp 7500). Alhasil banyak yang komplain : saudara dekat (keluarga Winongo dan Tambakrejo), teman dekat (sampeyan, teman2 SMA 1 Madiun, teman2 Statistika IPB, teman2 kantor, teman2 dosen). Wis, pokoknya nggak santai dan tegang terus…sampai mantennya usai… Yang penting restu sampeyan sudah nyampai ke anak saya, kalau masalah angpau nanti bisa menyusul hehehehe…(photo-photo ada di blognya mbak Enny : edratna.multiply.com/photos )..
    Weitts…benar sekali apa yang sampeyan katakan, kalau kita sudah pernah “nginjak 2 dunia itu” yaitu dunia PNS dan dunia swasta, barulah kita bisa eligible untuk berkomentar. Tapi kalau alumni baru, pasti nunak-nunuk milihnya, enak mana : PNS atau swasta. Terus benar juga kata sampeyan : kalau kita bisa memanage keuangan hasil ber-PNS-ria disambil nyambi kecil-kecilan ala keahliannya mbak Ny. PSD wah pasti bisa ketawa 40 hari 40 malam soalnya turah terus…hehehe…
    Memang tidak semua PNS bisa seperti itu, tapi ngambil contoh dari kantor saya saja – BPPT – dari PNS yang penampilannya yang nggak ndayani sampai yang glamor, semuanya sudah bermobil ria dan minimal sudah Avanza keluaran terbaru. Kalau dipikir-pikir : gaji kurang, penghasilan tambahan ya kurang, secara logika mereka harusnya utang koperasi terus dan tidak ada sisanya. Tapi Tuhan Maha Adil, akhirnya semuanya dikasih rejeki sama banyak : baik PNS maupun swasta…
    Thanks pendapat singkatnya yang sangat “ngewohi”…hihihihi….
    (Kae Ardianto ponakanmu dekne malah takut jadi PNS karena bisa nangis selama 30 hari ….)…

    Reply

  10. Leny
    Nov 20, 2008 @ 11:03:10

    Hi Pak Tri,
    menarik sekali topiknya. saya sering sekali berdiskusi soal ini.
    menurut saya, yang enak jadi PNS itu dalam hal waktu dan cocok buat cewek yg notabene akan jadi ibu. saya sendiri di swasta, setelah punya anak merasa iri melihat teman2 PNS yg banyak waktu buat ngurus anak2nya.
    kl dalam hal gaji, mungkin memang lebih besar swasta tp secara total penghasilan di PNS bisa juga lebih besar lo pak, khususnya PNS di jakarta. banyak PNS yang hidupnya berlebihan, asetnya dimana2 jadi tidak pernah “menangis”.
    Saya punya temen statistik, setelah lulus 5 th dia tidak bekerja karena terlanjur sibuk dg keluarga (dia termasuk jajaran mhswa stk paling pinter), akhirnya daftar PNS di BATAN dan lgsung lolos. tapi ternyata gak bertahan lama, kurang dari setahun dia keluar dari PNS dg alasan tidak kuat dg lingkungan PNS ktnya banyak hal yg tidak wajar, akhirnya kembali ke kampus buat jadi dosen.

    Hallo mbak Inel,
    Wah..lah lamo tak basuo, sejak si Putih kucing saya itu wafat si mbak nggak pernah berkunjung ke Blog ini lagi (sebulan lalu anak terakhir si Putih yaitu si Otto yang lucu juga tiba-tiba wafat, mungkin sakit cacing perut padahal lucu banget, akhirnya saya makamkan di samping si Putih)..
    Iya mbak, benar sekali pengamatan mbak. Jadi PNS itu enak untuk ibu-ibu karena nanti pas anaknya balita ia akan mudah meluangkan waktu untuk merawat si kecil. Bahkan sampai anak umur SD yang masih perlu perhatian ekstra.
    Dari segi gaji, memang gaji PNS lebih kecil tapi saya kira perbandingannya maksimal 1 : 2 dengan gaji di swasta dan tidak pernah 1 : 3 lah…gila apa ? Kecuali sudah jabatan Senior Vice President gitu…
    Mengenai teman anda terpintar di Statistika itu, memang jalan hidupnya seperti itu. Ia harus bisa ngrasain bagaimana enak atau tidak enaknya jadi PNS biasa, dan baru terbuka pikirannya untuk menjadi dosen. Di IPB saya juga punya banyak teman seperti itu. Pinter tapi masuk swasta, dan akhirnya sebagai dosen…
    Pertanyaannya, kalau anak pinter mengapa nantinya jadi dosen (yang tidak kaya), sedangkan yang kurang pinter biasanya akan cenderung jadi pengusaha (yang sangat kaya)..
    That’s life mbak !

    Reply

  11. ari sidharta akmam
    Nov 20, 2008 @ 11:36:37

    Mana yg lebih baik? tergantung tempat dimana kita bekerja. Kalau di BUMN seperti Telkom dan perusahaan minyak mungkin bisa mendapat penghasilan yang memadai ditambah pensiun dan jaminan kesehatan. Di BI atau bank pemerintah juga demikian. Selain itu ada peluang melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Jadi tergantung pada departemen atau BUMN.

    Dulu saya tdk pernah tertarik untuk menjadi pegawai negeri atau BUMN. Pertama karena penghasilan yang mepet, suasana kerja sangat birokratis atau feodal dan (dulu) harus masuk golkar dan memilih golkar saat pemilu.

    Di swasta sama saja. Suasana kerja, gaji dan kesempatan untuk maju di tiap perusahaan berbeda-beda.

    Yang pasti orang swasta sangat takut sama pejabat pemerintah (ha…ha…)

    Hallo Mas Ari,
    Gimana kabar putranya, akhirnya disekolahkan di mana ? Binus School Simprug jadi nggak ?
    Benar mas, PNS kalau di BUMN seperti Telkom, PLN, Pertamina, atau Bank Pemerintah itu ada nilai plusnya. Gaji lumayan besar (dibanding PNS) dan masih ada skema pensiun pula. Tapi tidak semua anak pinter bisa masuk ke BUMN seperti itu akhir-akhir ini karena persaingan yang ketat. Pertamina yang ndaftar 30,000 setelah serangkaian test paling yang diterima di BPS (Bimbingan Program Sarjana, semacam MT lah) hanya 200. Di Bank juga sampai 5-6 kali saringannya. Anak saya yang pertama sering sampai babak ke-4 atau ke-5 tapi setelah itu babak belur deh…alias tidak diterima ! Jadi akhirnya ia memutuskan menjadi spesialis asuransi (underwriter) saja….
    Masih ada peluang melanjutkan ke luar negeri lagi (bagi yang mampu dan mau)..
    Anak saya yang kedua kebetulan ilmunya sangat spesifik yaitu seismic processing jadi dia bisa keterima di Pertamina EPTC (Pertamina Hulu) tanpa test yang berbelit-belit seperti program BPS.. Tapi belakangan iapun mau nyoba jadi PNS dan akan test di BPPT (menggantikan saya…hahaha..)..
    Ok lah mas, all the best buat anda dan keluarga…

    Reply

  12. Resi Bismo
    Nov 21, 2008 @ 17:26:33

    Kalo saya sih prinsipnya kerja apa aja yang penting halal. Dah itu saja, udah gak mau macem2 sekarang yang penting gak nganggur. Semua kerjaan pasti ada plus dan minus, mau PNS dosen guru, Swasta pedagang, yang penting bersyukur.

    Mas di jerman saja yang sudah maju gini, 10 persen atau 8 juta orang jerman nganggur, dibantu negara lewat tingginya pajak disini. Mas pasti sudah tahu.

    Pertanyaannya kapan ya keadilan sosial di indonesia itu muncul? bukan jargon2 semata atau butir sila di dasar negara. Orang di bayar karena profesionalitas, jika orang kekurangan dari finansial, pemerintah bantu (BLT) tapi bukan pas harga minyak dinaikin aja, tapi buat orang yg tidak mampu tiap bulan… heheheh

    dah ya mas, saya malah cerita nich… btw makasih pencerahannya, jadi inget orang rumah, bapak dan ibu yang pensiunan PNS.

    Mas Resi,
    Wah..sorry terlambat merespons, ceritanya sudah dijawab tapi internet di sini kan memang putus sambung jadi jawabannya belum di-save..
    I ya mas, negara-negara Eropa kebanyakan adalah negara sosialis (yang sebenarnya tujuan dari UUD 45 kita), mestinya pajak bagi orang kaya agak gede dan untuk membantu orang-orang yang sudah pernah kerja tapi nganggur. Entah kenapa, hal itu belum terjadi sampai sekarang. BLT memang harusnya tetap diberikan tidak tergantung tinggi-rendah harga BBM. Saya pernah mau dapat proyek namanya CCT (Conditional Cash Transfer) yah semacam proyek Padat Karya jaman dulu, jadi yang penting kerja…baru dibayar. Kalau orang miskin tapi nggak kerja dibayar, wah…perasaan saya kok gimana gitu…supaya mereka punya harga diri mestinya disuruh kerja dulu – apapun kerjanya – baru dibayar…

    Reply

  13. Putri
    Dec 01, 2008 @ 10:15:10

    menarik sekali blog nya… kebetulan saya sedang mengalami dilema itu..

    saya baru saja lulus dari salah satu Univ negri..
    dan saya sudah mendapat kerja di PMA dengan gaji yang lumaayaan banget… (>4jt).

    pekan lalu saya ikut tes di Pemda. ini atas saran orang tua yang ternyata sudah ágak protes’dengan kerjaan saya yang ‘pergi pagi pulang malem”..

    kl menurut mas2 dan mba2 sekalian… ada baik nya saya memilih pemda tsb (juga mengikuti saran orang tua) atau tetap di pkerjaan swasta ini..???

    kl dari jobdesc kerjaan. aku pikir kerjaan ku sesuai dengan gaji yang aku terima. Hmmm… jadi dilema…

    Mbak, menurut saya sebaiknya mbak teruskan aja tes di Pemda itu….usahakan ikut tahapan tesnya sampai selesai…lha nanti kalau sudah diterima di Pemda…baru dipikirkan mau ambil yang mana : tetap di PMA atau ambil yang Pemda…
    Saya sudah hampir setengah abad umur saya dan kerja sbg PNS tapi juga sudah ngrasain jadi pegawai swasta (sambilan). Kesan saya di swasta walau gaji tinggi tapi tuntutan kerja dan tekanan kerja juga tinggi, stresspun jadi tinggi juga (kalau sudah level Manager ke atas lho…)… Sedang kerja sebagai PNS semuanya bisa diatur, ada kalanya santai tapi ada kalanya kerja sangat keras juga lho…
    Yang penting, coba mbak membayangkan apa yang terjadi 10, 20 dan 30 tahun kemudian ? Dan jawablah pertanyaan : pada 10, 20, dan 30 tahun kemudian mbak penginnya jadi apa ? Setelah itu jawab : itu bisa dipenuhi di swasta atau PNS ?
    Jika anda jawab secara jujur…..maka pilihan mbak pasti pilihan yang terbaik. Good luck ya…

    Reply

  14. simbah
    Dec 01, 2008 @ 14:14:28

    Yang jelas di PNS, banyak priyagung yang peng-pengan. Hanya saja sistem yang tidak memungkinkan insan yang peng-pengan tsb. dapat berkiprah sebagaimana mestinya. Makanya yang merasa terpasung, langsung jadi kutu loncat. Setahu, saya PNS yang berprestasi dan yang belum, tiap 4 tahun mesti naik golongan. Kasihan bagi yang sungguh-2 berprestasi…

    Iya soalnya di PNS kan sistem penggajiannya disebut PGPS….ada yang mlesetin “Pandai G*bl*k Penghasilannya Sama”…hahahaha….

    Reply

  15. tyas
    Feb 25, 2009 @ 10:47:54

    sekedar berbagi cerita..

    saya lulusan univ neg. Pernah kerja di KAP setahun kmd pindh mnjadi PNS. Awalnya saya agak kecewa jg dgn keputusan sy mengikuti nasehat ortu utk jd PNS (krn sy perempuan jd gak perlu ngoyo kerja) karena di sini sy merasa kurang berkembang.2 tahun pertama mnjdi PNS sy sgt kaget (bukan krn gajinya ) krn ritme kerjanya yg “santai”, beda sekali dgn waktu di swasta. Masuk jam 8 dan jam 4 sdh duduk manis di jemputan utk pulang. Mmsuki thn ke 3 sy dipindahkan ke bagian yg mengharuskan sy ikut rapat hingga jam 1-2 malam. Sy masih enjoy krn blm punya anak.Kemudian di thn ke 4 sy pindah ke bagian lain. Di bagian ini sy tdk dituntut utk ikt rapat smp mlm tp jenis pekerjaan yg saya lakukan agak berat yaitu melakukan analisa. But sy enjoy aja. Dan…..skrg sy sdh dikaruniai putra,3 thn. Justru skrg sy bsyukur skl mnjdi PNS krn sy bisa memperhatikan anak dan keluarga dgn lbh intens ketimbang sy d swasta. Selain itu sy jg dpt beasiswa S2 UI.

    Soal gaji, alhamdulilah PNS skrg kn tdk skdr menrima gaji pokok tp juga ada tunjangan2 lain yg resmi tergantung kebijakan instansi masing2.

    Oh ya skrg di instansi sy berlaku peraturan masuk hrs jam setengah 8 , toleransi 30 menit. Jadi , stigma bhw PNS itu nyantai ya jgn disamaratakan. Tergantung di unit/bagian apa dia bekerja. Bhw gaji PNS itu kecil ya tergantung di instansi mana dia bekerja dan yg terpenting tergantung bgm memanage penghasilan dan mensyukuri apa yg diterima……Alm mertua sy PNS tdk mnjabat, istri tdkbekerja tp ketiga anaknya kuliah semua di PTN . Bpk sy PNS jg, tdk menjabat, ketiga anaknya kuliah, dua diantaranya di univ swasta yg ckp bonafid.

    Selamat mengambil keputusan….

    Mbak Tyas,
    Wah…testimonial yang perlu diberi perhatian untuk siapa saja yang sedang bingung memutuskan apakah menjadi PNS atau tidak..

    Lha nyatanya, jadi PNS juga enak hidupnya, minimal tidak selalu dikejar-kejar target dan bagi ibu rumah tangga di Indonesia : tidak ada pekerjaan yang terbaik bagi ibu-ibu yang punya bayi kecil selain jadi PNS. Sekolah lanjutan ke S2 dan S3 pun terbuka lebar, daripada kalau kerja di swasta…

    Reply

  16. luthfi
    Apr 07, 2009 @ 09:20:31

    wah…..
    ini antara Dilema dan cita”
    memang hidup selalu penuh dengan pilihan, saya punya satu cerita….
    Ada seorang calon mahasiswa sebut saja namanya Budi (Maap ya klo ada yang namanya sama.. 🙂 ) sibudi mau melanjutkan ke PT ambil Fak. Kedokteran.. dia lagi binun dalam hatinya dia bertanya” bagus ga ya PT ini, trus mata kuliahnya gimana? Dosennya Killer ga? dan segudang pertanyaan lain…..
    akhirnya dia nanya pada 2 Orang, orang pertama setelah lulus berhasil jadi dokter dan sukses dan orang ke-2 gagal dan malah drop out dai kuliahnya….
    nah klo budi nanya sama orang yang gagal pasti jawabannya ” jangan kuliah di PT itu Dosennya Killer, Mata Kuliahnya susah dan ga berbobot, percuma setelah lulus juga susah cari kerja di RS ternama dan segudang hal negatif lainnya..
    lalu si Budi nanya sama orang pertama yang telah berhasil jadi Dokter dan tentunya jawaban yang dui berikan juga berbeda “Wah Selamat ya kamu telah memilih PT yang tepat, q jg alumni PT itu, Dosennya enak, Mata kuliahnya berbobot, pasti kamu ga nyesel nantinya…..”
    nah cerita diatas pada intinya kembali pada diri kita sendiri, apakah bisa kita mengambil sikap positif pada hal-hal disekitar kita untuk menentukan yang terbaik buat kita sendiri…
    dan semuanya pasti indah pada waktunya… 🙂
    Selamat memilih…..

    Luthfi,
    Yang terpenting, apapun pilihan anda, anda harus percaya bahwa pilihan anda itu adalah yang terbaik….Dengan demikian, siapapun yang pernah memilih, bisa berdamai dengan dirinya sendiri dan tidak akan menyesal di kemudian hari nanti…..

    Reply

  17. dhani prayogo
    Jun 28, 2009 @ 05:56:09

    salam kenal pak tri.saya masih kulaih semester akhir,kakek saya pegawai negeri di administrasi tni dan bapak di perusahaan migas asing.awalnya saya sama sekali tidak kepikiran jadi PNS, yah idealis tidak ingin dekat oknum yang sering korupsi.tetapi tulisan dan komentar – komentar diatas membuka pemikiran saya.thanx

    Dhani,
    Mungkin dari mengamati kehidupan kakek anda (yang di PNS) vs kehidupan bapak anda (yang di Swasta), mungkin anda sudah bisa tahu apa kelebihan dan kekurangan menjadi PNS atau menjadi swasta itu…

    Menganggap PNS sarang korupsi itu juga terlalu “gebyah uyah” (terlalu meng-generalisir), soalnya kalau mentalnya mental koruptor kan tidak hanya di PNS, di swasta-pun koruptornya nggak kalah “ganas”nya…

    Saya termasuk PNS yang tidak pernah korupsi, kecuali korupsi waktu dengan mengajar di universitas swasta. Oleh karena itu saya tidak punya apa-apa, hanya cukup-cukup saja. Tapi saya juga bebas dari rasa khawatir karena berbuat salah. Makanya “happiness level” menurut ukuran Oprah Winfrey adalah 35 (maksimal)….baca posting saya tentang “Uji Kebahagiaan menurut Oprah”..

    Reply

  18. muhamad khundhori
    Oct 27, 2009 @ 15:42:42

    Saya yakin bahwa sebagai anak bangsa, baik posisi kita ada di dalam maupun di luar institusi pemerintah, kita ingin dan sama-sama berdjoeang membuat republik kita ini lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera dan disegani bangsa-bangsa lain. Seperti yang sudah saya sitir diatas, kadang PNS bukanlah pelaku, tetapi sebenarnya juga menjadi korban. Masih banyak “PNS-PNS lurus” yang siap melakukan perbaikan di negeri ini. Mari kita melakukan perbaikan semampu kita, baik dengan lisan, hati maupun dengan tangan. Dan jangan lupa untuk mensyukuri segala nikmat dan keadaan yang sudah Allah berikan kepada kita.

    Wallahualam bisshawab.

    Mas Muhamad Khundhori,
    Wah….sepenuhnya saya setuju dengan pendapat anda mas….:-)

    Reply

  19. Dwi Wutomo
    Apr 29, 2014 @ 11:49:19

    sebenarnya lebih ke arah orientasi manusianya sendiri ada yg tipikal working holic ada yang lebih prefer dengan waktu yang banyak, jadi kalau tipikal working holic mungkin bisa ambil kerjaan di swasta kalau yg lebih suka banyak waktu luang ambil saja pns. kalau saya pribadi lebih suka BUMN/PNS karena saya lebih cenderung lihat kebelakangnya yaitu tidak khawatir dipecat atau perusahaanya bangkrut dan kalau ingin uang tambahan tinggal memanfaatkan waktu luang yg ada entah itu bisnis online atau apalah yg penting bisa nambah isi dalam dompet hehehehe….. jadi swasta sih bagus dapat mengasah otak dan kita bisa berkembang tapi inti dari kebahagian itu bukanlah uang atau pintarnya kita tapi bagaiaman kita bisa menikmati waktu waktu yang bahagia bersama orang orang yg kita cintai dan tetap bisa menjaga relasi kita dg tuhan. saat ini saya kerja di perusahaan isp lokal surabaya waktunya lumayan nyantai dan untuk uang sih mungkin hampir sama kayak pns jadi saya syukuri saja tapi tekad saya tidak mau berhenti di sini saya tetep ingin jadi karyawan BUMN/PNS/Pemerintah

    Reply

  20. rizmanuraniaziz
    Nov 20, 2014 @ 12:16:49

    Ah ga gitu juga kali mas .. He he .. Sdkt cerita aja.. Suami sy pegawai swasta, dn sy wirausaha. Ga ada yg jd pns diantara kami. Tp tiap gajian alhamdulilah cukup aja tuh, malah msh bisa banget ditabung. Setelah gajian tertawa/tidaknya tergantung orangnya ikhlas enggak nya sm kerjaan…. Kl memang sdh ikhlas dan sadar itu tanggung jawab dan kewajiban ya pasti akan jalan. Dan yg paling penting lagi, income itu didapat dari usahanya. Wajar dong, pegawai swasta gajinya berlipat2 jauh lbh bnyk dr PNS karena dia bekerja juga ekstra. Smntr PNS juga paling mentok segitu, krn ya bisa dibilang pekerjaannya santai, ngalir.. Dn sprt yg sampean tulis diatas… Kl saya selagi masih muda dan kuat, cari duit sebanyak2nya … Sdh tua meski tdk jd PNS kami ttp punya tabungan masa tua yg cukup dan ga merepotkan anak cucu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: