Baru pulang dari Surabaya

Sebagai orang Jawa Timur, mestinya saya sangat malu tidak begitu mengenal kota Surabaya sebagai ibukota Propinsi Jawa Timur dan sekaligus sebagai kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kayaknya kunjungan saya ke Surabaya bisa dihitung dengan jari seumur hidup ?

Mengapa jarang berkunjung ke Surabaya ? Wah…pertayaan yang aneh, tapi tetap harus dicari jawabannya mengapa begitu ? Sayapun sudah mereka-reka alasan mengapa saya jarang mengunjungi Surabaya, yaitu : 1) Saya tidak punya saudara dekat di Surabaya 2) Surabaya yang panas bukan favorit saya untuk menempuh kuliah 3) Secara umum dari kota kecil saya Madiun saya lebih suka ke arah barat daripada ke arah timur..

Tapi berkunjung ke Surabaya selama 2 malam 2 hari kemarin sungguh membuka mata, hidung, telinga, kulit dan lidah saya tentang apa itu Surabaya…

Melalui beberapa situs sejarah Surabaya membuat bulu kuduk saya bergidik….ataukah karena saya begitu mencintai sejarah ?

Melalui Hotel Majapahit aka Hotel Yamato di bilangan Tunjungan mendirikan bulu kuduk saya karena di hotel inilah para pahlawan Surabaya menurunkan bendera Belanda yang berkibar di hotel ini dan merobek bagian biru dari bendera Belanda sehingga menyisakan bendera merah putih, bendera Indonesia…

Begitupun waktu saya melalui Jembatan Merah. Jembatan yang kini lebarnya sekitar 8 meter dan panjang 25 meter ini menjadi saksi sejarah terpenting dari Perang Surabaya, perang 2 minggu yang berakhir 2 Nopember 1945 yang disebut-sebut sama tentara Sekutu sebagai “the most bloodiest, the most fanatic war acted by the Indonesian militia” yang konon korbannya berjumlah 35,000 orang meninggal dan perang singkat ini berakhir setelah Bung Karno datang ke Surabaya untuk membujuk para gerilyawan untuk melaksanakan gencatan senjata…

Dan tidak ada kota seperti Surabaya yang ditulis dalam puluhan lagu…. Bisakah anda menebak lagu apa saja yang melagukan atau bercerita tentang Surabaya ?

Adakah sebuah kota lain di Indonesia yang begitu banyak ditulis dalam lagu melebihi Surabaya ? (Hint : Bandung, Jakarta)…

Silahkan pembaca menjawab…..

10 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Dec 05, 2008 @ 10:01:05

    Walaupun kota kedua terbesar di Indonesia saya juga jarang mengunjungi Surabaya (walah, apa hubungannya). Saya terakhir ke Surabaya sekitar tahun 2002 dalam rangka urusan pekerjaan, jadi abidin. Waktu lebaran idul fitri kemaren udah diniatkan mau berkunjung ke kota pahlawan itu mengunjungi seorang teman yang rumahnya didekati oleh perluasan bandara Juanda. Karena satu hal niat itu gak kesampaian.
    Surabaya bagi saya tetap ada kenangan karena pernah tinggal dua kali disana sewaktu dimobilisasi oleh perusahaan tempat kerja dulu untuk nyambut gawe. Saya suka bebek goreng khas Surabaya, dan kalo lagi musim mangganya harum dan manis-manis (ternyata mangga Ponorogo). Satu lagi yang saya suka karakter orang Surabaya yang suka terus terang, tegas, walaupun itu akan menimbulkan “kerisihan” bagi yang tidak biasa. Kalo cewek Surabaya? Wah, saya belum ahli menilai. Barangkali Pak Totok (yang Prihatin Rahayu) bisa memberi masukan, wakakaka….

    Saya sempat ngerasain bebek goreng di belakang kantor Gubernur 1 blok dari Tugu Pahlawan. Tempatnya rame pollll walau tidak ada tendanya, cuman deretan kursi dan meja “cubit”. Masih untung saya kebagian dada bebek dan 2 gelas besar es kelapa muda…
    Setelah itu sempat pula ngerasain wedang jahe di Kedung Doro..
    Tak lupa rawon setan di depan hotelnya Mak Erot (hehehe…pelesetan dari JW Marriott)..
    Cewek Surabaya ? Not my type. Saya lebih suka cewek Yogya, yang bahasanya halus bagaikan baru diseterika…hahaha…

    Reply

  2. boyin
    Dec 05, 2008 @ 11:19:59

    saya malah penasaran gang doly itu kayak apa sih pak….kok ngetop gitu. surabaya selama ini cuman lewat aja sih kalo mau ke Bali.

    Gotcha !
    Waktu kunjungan ke Surabaya kemarin saya berdelapan ditambah supir sengaja merayap pakai Inova kita ke Gang Doly, karena isteri saya beberapa bulan yang lalu setelah seminarnya selesai malamnya juga lewat Gang Doly. Ternyata cukup menakjubkan pemandangannya. Katanya ada 200-an rumah bordil, masing-masing mempunyai 25 awak, jadi total awak 5000 orang. Seperti biasa, di malam itu (sekitar jam 10 malam) banyak gadis Doly dipajang di ruang kaca mirip akuarium dan tamu yang suka tinggal nunjuk aja… Kata Pak Sopir, 1 blok setelah Doly ada Gang lain yang saya lupa nanya namanya, kali ini taripnya 1/2 dari Doly. Kalau cuman lewat dan nonton, kecepatan mobil 5 km/jam cukup “fun” tapi jangan sampai buka kaca mobil karena pasti akan ditawari dan disuruh parkir..

    Reply

  3. Ardianto
    Dec 06, 2008 @ 16:02:31

    Sempat-sempatnya lewat gang Dolly pak Tri ini…

    Setuju Pak, dari Madiun memang lebih enak ke Barat ketimbang ke Timur…
    Deket situ udah Solo dan Yogyakarta yang kota besar, dibanding ke Surabaya yang cukup jauh, mending mainnya ke sana…

    Hehehe….. 😉
    Ya..distance-wise ke Solo (114 km) dan Yogya (160 km) memang masih lebih dekat dari Madiun dibandingkan Surabaya (169 km). Alasan kedua, mungkin kita tidak punya saudara di Surabaya sehingga nggak pernah bisa explore apa yang menarik dengan kota yang bersejarah ini…

    Reply

  4. tutinonka
    Dec 08, 2008 @ 18:52:29

    Pak Tri, saya ke Surabaya selama 3 hari pada akhir Agustus 2008 lalu. Entah karena saking semangatnya, atau memang Surabaya ramah kepada saya, saya tidak begitu merasakan panasnya udara Surabaya (atau kulit saya sudah jadi setebal kulit biawak ya … 😀 ).

    Surabaya memiliki obyek wisata yang lumayan menarik. Saya mengunjungi Monumen dan Museum Pahlawan 10 November, Masjid Cheng Ho, Monumen Kapal Selam, Museum Mpu Tantular, Masjid Ampel, House of Sampoerna, sampai ke Trowulan, bekas kerajaan Majapahit di Mojokerto. Ohya, sempat lewat Jembatan Merah juga. Laporan perjalanannya sudah saya tulis di http://tutinonka.wordpress.com/2008/08/30/surabaya-kota-bunga-bangsa/, http://tutinonka.wordpress.com/2008/09/01/cheng-ho-dan-pasopati/ dan http://tutinonka.wordpress.com/2008/09/08/house-of-sampoerna/

    Tapi saya nggak ke Dolly Pak, takut ….. takut ditawar …. hehehe …..

    Bu Tutinonka,
    Hehehe…takut ditawar ya Bu ? Maklum penawaran tertinggi di sana cuman Rp 100 rebu Bu…buat masuk Amplaz aja sudah amblasss…hahaha… Malah kata Totok yang mantan wartawan di Surabaya 1 blok dari sana ada blok yang namanya Rendan – kere dandan – harga separuhnya – dijamin digetok metu semute…hehehe… Bu, sebenarnya saya berani ke Dolly karena beberapa bulan yang lalu isteri saya dan teman2nya cewek aja sehabis seminar berani “pass thru” ke Dolly. Asal nggak berhenti atau membuka kaca mobil, dijamin bisa “menikmati suasana” daripada hanya dapat cerita…
    Jadwal kerja kita padat dat dat Bu, jadi cuman sempat “sowan” ke Dolly. Besok malamnya sebenarnya mau ke Mesjid Sunan Ampel buat “nebus dosa” tapi belon sempet karena semua teman kecapekan….
    O ya Bu, tulisan-tulisan Ibu tentang Surabaya sudah saya baca semua kok…kira-kira 1-2 bulan yang lalu kan nulisnya ?

    Reply

  5. totok
    Dec 08, 2008 @ 21:03:40

    Wah, nenak sampean nang gang dolly mestine njaluk referensi aku. Gang mlebu sing mbok tulis mungkin Kembang Kuning, iku akeh RENDAN-e alias kere dandan. Dijamin nang kono selawe nggeblag dewe, alias sak nggeblake, he…he.. Soalen nek gak langsung suntik langsung nggeblak.

    Aku beberapa hari ora ngbelog, dadi yo durung sempat nulis nang blog sampean. Akeh kegiatan, di antaranya dadi makelar wedus ha…ha.

    Totok,
    Hahahaha….selawe sak nggeblage…hahaha…. kata sopir Inova saya kadang-kadang dokter Sby terpaksa menyuntik beberapa penderita HIV yang kebetulan penghuni gang-gang itu….

    Aku ora dadi makelar wedus, tapi sibuk nggawe gule lan sate mergo oleh daging wedus lan sapi sak maaaannnnaaa…. maklum Pak RT…hehehe…. (sampai aku wedi stroke soale kakehan gule wedus…hehehe…),,,,

    Reply

  6. alris
    Dec 09, 2008 @ 10:59:33

    Wah, mesti “nebus dosa” ke Mesjid Ampel juga ya, Pak Tri. Soalnya saya juga pernah lewat kawasan dibelakang pasar burung Jl. Diponegoro itu tahun 1999 silam. Tapi saya lewat jalan di Dolly pada bulan puasa sekitar jam sepuluh pagi, jadi gak liat etalase yang ada isinya apalagi sempet-sempet nawar. Kalo di tawar sih pernah waktu lewat nJarak, wakakaka…

    Uda Alris,
    Iya, rencana semula begitu. Malam ini kita berdelapan lewat Dolly dan besoknya baru menebus dosa di Masjid Sunan Ampel. Tapi di hari kedua ternyata semua teman2 pada kecapekan setelah sehari penuh mengunjungi beberapa perusahaan di Surabaya dari Ujung sampai Bandara. Akhirnya kita cuman cari makan dan oleh-oleh dan simpan tenaga untuk hari ketiga…
    Di Dolly cuman lewat kok mas dengan kecepatan 5 km/jm, membuka kaca jendela Inova-pun nggak berani karena pasti disuruh mampir sampai bodyguard2 itu…hihihi…

    Reply

  7. edratna
    Dec 09, 2008 @ 19:31:10

    Surabaya indah lho, dan banyak tujuan wisatanya. Saat ke Surabaya ada pelatihan kewirausahaan, sengaja saya mengajak si bungsu yang kebetulan liburan….wahh senang banget bisa keliling Surabaya.

    Sayang, beberapa kali ke Surabaya akhir2 ini, tak dapat menikmati Surabaya, karena sejak pagi sampai malam mengajar….dan begitu selesai langsung kabur ke bandara.

    “Indah” mungkin bukan kata yang tepat. “Ramah” mungkin lebih tepat… Kalau daerah sekitar Surabaya yang sudah pegunungan ya memang indah.. Waktu mengunjungi salah satu Dinas saya lewat di depan Sendik BRI. Wah ternyata luas juga ya namun ada satu sudut yang tidak terawat saking luasnya lahan…

    Reply

  8. tutinonka
    Dec 10, 2008 @ 23:22:25

    ‘Digetok metu semute’ itu tegese apa Pak? Wah, ini bahasa Suroboyoan ya ….

    Digetok metu semute” artinya very very very dangerous Bu…hehe…
    Saya dapat istilah ini ketika di IPB dulu kumpul dengan Bapak2 S2, S3 dari Malang, Surabaya, dan Jember di tempat kost saya di Bogor…

    Reply

  9. irna
    Dec 12, 2008 @ 12:42:57

    Pak, Surabaya memang indah kok, karena indah menurut saya bukanlah daerah pegunungan yang hijau saja. ehm…ehm..

    Yah ke gang Dolly memang harus hati-hati pak.
    Selain jangan membuka jendela, pastikan juga bahwa mobil yang dikendarai tidak akan mogok di tengah jalan. Hehe…

    Salam kenal pak

    Mbak Irna,
    Salam kenal kembali… 😉
    O ya ya ya…keindahan sebuah kota itu ternyata jika ada tamasya ke profesi paling tua di dunia ya…hahaha…
    I ya mbak, waktu dengan teman-teman melakukan “pass thru” ke sana kita bawa Inova carteran yang masih gres dengan sopir yang lahir di daerah itu…jadi perasaan khawatir jadi minim dan akhirnya kita bisa menikmati “keindahan” itu walau tetap di dalam mobil….hahaha…

    Reply

  10. ongs
    Jan 06, 2009 @ 20:46:50

    ehhehehehehe, sebagai warga suroboyo asli wajib komentar…Kalo masalah panas, jakarta ama surabaya mah sama aja panase, sing nggak iso dilalekno, pangannane suroboyo jauhhhhh..lebih enak dari jakarta (sudah setahun neh tinggal di jakarta) dan harganya jauh lebih murah, nasi pecel, lauk daging cuma 4000. wuikssss murah e rek, tak pangan isuk sampeek awan sek wareg. tapi yo lek nang rawon setan yo larang, tapi lek ngerti lan blusukan nang sby, tak jamin akan sangat berat meninggalkan SBY. Opo maneh pas jamane kuliah, isine seneng thok, nggak nduwe duwek gawe mbayar SPP, ngomong arek-2 opo dosen ne, pasti dijak proyekkan, tapi lek sak iki yok opo yo, semenjak dadi BHMN….tambah larang nggonku kuliah mbiyen

    Cak Ong,
    Terserah lah sampeyan ngomong tentang Suroboyo, lha wong aku wong Jatim ning ora nate neng kutone sampeyan kok…kecuali wingi iku…hehehe…
    Iyo cak, sayange wingi mung 2 hari 2 malam neng Suroboyo lan itupun jam 8 tekan jam 5 sore mergawe nekani kantor-kantor, dadi durung sampek katog njelajahi Suroboyo..
    Sampeyan kuliah neng ITS opo Unair to cak biyen ? Saiki ongkos kuliah per semester wis sekitar Rp 2 – Rp 2,5 juta per semester (anakku neng ITB yo sekitar segitu dia masuk angkatan 2003 waktu ITB sudah jadi BHMN)…
    Ketoke saiki wis rak mungkin dosenmu gelem mbayari SPP-mu yen gedhene sak mono. Ya nggak ?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: