Serba serbi tentang sup

Mungkin anda tidak bisa membayangkan, saya dulu waktu lagi sekolah di Indiana selalu minum sup ayam di tengah dinginnya malam di ruang komputer di Swain Hall atau di  Lindley Hall ? Mengapa ? Karena seperti yang ditulis di buku terkenal dari Stephen Covey “Chicken Soup of the Soul”, sup ayam itu bisa men-charge baterai kehidupan anda yang lagi redup sehingga menjadi pyar..pyar..hidup kembali !

Sup ayam di kedua gedung favorit saya untuk kerja malam di depan komputer itu sebenarnya bisa dibeli di vending machine kampus. Dengan memasukkan sekeping uang quarter (25 cent) dollar ke vending machine, pencet “chicken soup”…maka 5 detik kemudian keluarkan sebuah cup menghadap ke atas (tentu saja !) yang sedang di-congi oleh sup sebanyak sekitar 75 ml itu. Vending machine untuk beli soup sama dengan yang jual potatoe snacks, permen coklat M&M, permen karet Wrigley berbagai rasa, dan beberapa chocolate bar dari Toblerone sampai Silver Queen.

Ah..sebenarnya rasa chicken soup-nya itu mirip dengan rasa kaldu Indomie saja. Cuman ada zat ajaib di dalamnya yang membuat kehidupan menjadi lebih baik (ceileee !)… dan bugs yang ada di programpun biasanya segera kelihatan bila habis minum sup ayam kaldu doang ini…

Entah kenapa, saya bisa membedakan berbagai sup yang ada di kantin asrama, di restoran, di warung, atau dimana saja. Memang sebenarnya wajah saya hanya Bintang 3 (malah…mungkin cuman Melati 1 !) tapi saya dikaruniai lidah Bintang 5 lho ! Makanya saya bisa merasakan enaknya French Onion Soup, Italian Cheese Soup, Tomato Soup, Chicken Soup, Asparagus Soup, dan yang lainnya yang biasanya dihidangkan bergantian di asrama saya dulu…

Ketika makan (eh..apa mestinya “minum” ?) sup tidak menjadi masalah, tetapi membuatnya itu yang menjadi masalah. Membuat sup paling mudah ya beli yang instan saja. Di Amerika maupun di Indonesia membuat sup secara instan mudah saja, tinggal beli saset-nya di supermarket…dicampur sedikit air panas,,,tunggu lima menit,..sup anda siap dihidangkan ! Atau beli yang versi kalengan yang masih ada irisan kentang dan ayamnya !  Di Singapore malahan anda bisa beli “shark fin soup” (wah…dari namanya kita tahu ini makanan mahal) versi kalengan dengan harga Sin $ 3.00 saja padahal kalau beli “shark fin soup” beneran di restoran ada yang harganya semangkuk Sin $ 650 !!

Di Indonesia, “sup”, “soto”, “rawon”, “coto” mempunyai konotasi yang berbeda walaupun pada dasarnya hanya sup saja. Karena di Indonesia orang makan (eh..apa minum ?) sup biasanya dicampur sama nasi, sedang di luar negeri yang makannya berurutan secara USDEK (Unjukan-Sup-Daharan-Es-Kondur) sejati…sup biasanya dihidangkan sebagai apetizer alias “pembuka selera”. Nah, kalau selera sudah terbuka maka waktunya makan main course alias nasi dan lauknya !

Saya masih ingat di kota masa kecil saya dulu bila ikut Ibu “jagong manten” selalu disuguhi sup ayam yang enak betul, saking enaknya sampai saat ini saya masih teringat dan terkenang-kenang akan keenakannya…

Begitu juga, minggu lalu waktu ke Surabaya saya sempat makan “rawon setan” di depan hotelnya Mak Erot (yaitu JW Marriott !!!) yang sedap dan pedasssss betul…namun esok paginya sekali ek…ek…setannya bisa keluar semua !!!

Menurut anda, sup mana yang paling enak ? Bikinan Ibu atau beli di warung atau restoran ?

3 Comments (+add yours?)

  1. edratna
    Dec 14, 2008 @ 06:24:28

    Rawon setan yang bertebaran di Jakarta rasanya sama nggak dengan di Jawa Timur (aslinya)…..dekat rumah Cilandak ada, tapi kok menurutku biasa-biasa aja.

    Yang di depan hotel JW Marriott Surabaya rawon setannya dengan embel-embel “tak buka cabang di tempat lain”. Sayangnya, saya benci “setan” (=sambel pedas) jadi pas ngrasain rawon setan ya seperti rawon biasa saja (tanpa “setan”….hehehe…). Itupun saya masih kepedesan. Gimana rasanya ? Saya rasa lebih enak rawon di airport Juanda jaman dulu (sekitar 1997), apa karena saya lapar ? Tapi yang rawon setan ini lumayan juga dagingnya sengkel banget (mungkin setara “sirloin” ya ?). Ada teman yang berani makan “gajih” dengan kuah rawon, katanya sih enak. Tapi umur sudah seksi plus gini, gak berani deh kalau aku main bergajih ria…hehehe…
    Yang dekat rumah rawonnya tidak enak ? Coba deh, puasa sehari dan buka puasa dengan rawon itu…tentu rasanya maknyussss….karena lapaaarrr…hahaha…

    Reply

  2. alris
    Dec 15, 2008 @ 11:00:22

    Betul, Pak Tri. Kalo pengen makan terasa enak puasa dulu sehari, lalu buka dijamin semua makanan enak. Saya suka soto betawi yang asli (soalnya banyak soto betawi palsu). Kalo rendang, kikil. gulai kepala kakap? Wah, itu mah sudah doyan dari dulu, hehehe…
    Seenak apapun makanan warteg, restoran, atau fast food masakan ibu/emak saya tetap nomor. satu

    Di belakang kantor saya dulu juga ada seorang Ibu dan anak perempuannya, yang walau asalnya dari Surabaya, tapi jualan soto betawi enaaaak sekali… Sayang sekarang ini, saya cek ke belakang tenda soto ibu tadi sudah tidak ada. Saya juga nggak tahu kemana ya larinya ?
    Rendang = makanan saya sehari-hari, kikil alias tunjang = saya nyebutnya “makanan raja-raja”, gulai kepala kakap = kalau masih hangat dan ikannya segar…wah mak nyussss sekali…
    Ya…kayaknya kesan saya juga sama. Ibu saya masakannya nggak ada yang ngalahin : sambal terasi, tempe goreng, sambel bajak, sambel tumpang, dan empal daging sapi…..hmm….nyam..nyamm….

    Reply

  3. Steven
    Dec 18, 2008 @ 02:32:22

    Makan sup emang paling enak pak,apalagi klo dingin2..entah ada apa dari kuahnya itu bisa menyegarkan tubuh lagi..laen klo cm minum teh manis anget doang..

    Ngmg2..bukannya Stephen Covey tu pengarang 7 Habits ya pak??pengarang Chicken Soup itu kan Jack Canfield..

    Steve,
    Wah…anda ternyata teliti juga….ada beda besar antara Stephen Covey dan Jack Canfield….;-)
    Maklum blog ini dan juga semua komentarnya saya tulis dengan kecepatan sangat tinggi di antara jam mengajar atau di antara rapat-rapat di kantor jadi sorry aja kalau terjadi mix up kayak gitu. Maklum kita mau nulis Jack Canfield misalnya, tiba-tiba ada teman yang nanya sesuatu yang harus segera dijawab. Kacau deh jadinya….
    Message of the story : jangan percaya begitu saja tentang apa-apa yang saya katakan…hahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: