Trafik Jakarta sudah normal

Berbeda dengan hari kemarin yang sepi pi pi pi, hari ini jalanan Jakarta mulai agak normal mendekati hari-hari biasa walau belum full bener… yah mirip di suatu hari Minggu yang ramai (padahal hari ini Jumat…)…

Pagi ini saya harus jemput isteri yang baru datang dari Malang di Stasiun Gambir. Saya sudah pesan, kalau kereta sudah sampai Stasiun Cikampek sms atau call saya biar saya segera meluncur ke Gambir. Jam 6.45 isteri nelpon kereta sudah sampai Cikampek. Sayapun masih sempat mandi dan segera meluncur..

Karena hari ini hari kerja dan bukan hari libur seperti kemarin, maka rulethree-in-one” di Jalan Sudirman-Thamrin sudah mulai berlaku. Akhirnya saya belok kanan di Jalan Rasuna Said (Kuningan) untuk mengakali 3-in-1 soalnya waktu sudah menunjukkan 07.15. Jalan Kuningan cukup sepi tapi di sana-sini motor sudah banyak berlalu lalang. Mungkin mereka itu pekerja kantor bagian ME yang tetap harus masuk, atau pekerja swasta soalnya kalau PNS kebanyakan hari ini ngambil cuti massal (dipotong dari cuti tahunan)…

Tepat di depan Hotel Four Seasons ada pemandangan menakjubkan… ternyata Jalan Flyover baru sudah dibuka !!! Nah..kini patung yang bertuliskan “66” untuk menghormati Angkatan 66 ini terletak persis di median jalan. Mobil sayapun meluncur di flyover baru ini yang kiri-kanannya jembatannya dihiasi pagar persis motif yang ada di Tembok Besar China. Lumayan lebar dan mungkin menyelesaikan banyak kemacetan yang bakal terjadi di sini terutama di hari kerja..

Sampai Gambir, mobilpun saya parkir, lalu saya telpon isteri lagi. Sudah sampai Bekasi, katanya. Sayapun naik ke platform tingkat 3 di sepur 2 dimana Gajayana akan “mendarat“. Pagi ini matahari bersinar cerah dan saya lihat beberapa expatriate (bule) pada mau naik kereta di sepur 3 dan 4. Itu jurusan Yogya dan Bandung, pikir saya.

Beberapa expat bepergian dengan keluarganya. Ada pasangan yang mau pergi ke Bandung yang dari perawakan, warna rambut dan mukanya mungkin orang Belanda atau Jerman. Ada lagi satu cewek berambut pirang sedang “dede” menyongsong matahari sambil nunggu kereta. A smart move ! Sehingga ia tidak perlu pergi ke tanning saloon buat men-tanning kulitnya agar kelihatan coklat (dan menghemat $ 100 !). Dari perawakan dan warna rambutnya pasti ia dari negara Skandinavia macam Swedia..

Perut yang laparpun sambil nunggu kereta isteri datang, saya isi dengan Tango Coklat bungkus kecil dan Pocari Sweat botol kecil. Yang aneh, di Stasiun Gambir kedua makanan-minuman “semenjana” ini berharga Rp 13.000. Mungkin kalau di Indomaret atau Alfamaret paling harganya cuman Rp 6.000 !!!

Ada hallo-hallo..Gajayana segera mendarat di sepur 2. Keretapun tiba, sayapun menuju ke Gerbong 3 yang kabarnya ada isteri saya di sana. Setelah ketemu, saya cepika-cepiki sebentar dengan isteri, lalu sayapun ngacir ke arah mobil, diikuti pembawa barang isteri saya (kita biasa berderma dengan mengkontrakkan bawaan barang ke mas-mas berbaju kuning bertuliskan Mentari dan IM3 itu), dan isteri saya tergopoh-gopoh ngikutin di belakang…

Hari semakin panas, dan sayapun memutuskan akan ngambil rute Lapangan Banteng-Senen-Kramat-Pramuka-dst. Dan seperti biasanya, isteri sayapun nanya :

Kenapa sih ngambil jalan sini ?”

Saya tidak menjawab, dan terus menyetir….

5 Comments (+add yours?)

  1. Leny
    Dec 26, 2008 @ 14:04:11

    menurut saya sih hari ini cukup sepi pak.
    dari rumah kemang sampe danamon kebon sirih cukup 1/2 jam saja, yg kl hari biasanya memakan waktu sekitar 1 jam sampe 1 seperempat jam.
    flyover menteng itu udah sekitar 4 mingguan yg lalu dibuka pak, lumayan banget ngurangi kemacetan.

    Mbak Leny,
    No kidding…mbak tinggal di Kemang ? Wah..bahasa Inggrisnya pasti lancar car car car dong… maklum di sono kan banyak tinggal expatriate…

    Jalan Kuningan itu salah satu rute saya kalau ngantor pagi-pagi mbak, terutama kalau bisa berangkat dari rumahnya (hit the road) sebelum jam 06.00. Tapi saya nggak nyadar lho kalau flyover itu sudah dibuka…

    Reply

  2. edratna
    Dec 26, 2008 @ 18:16:28

    Tadi pagi, sopir taksi mengeluh, katanya saya penumpang pertamanya. Saya udah janjian sama teman ke kantor di daerah Semanggi, mau ambil PSAK 31, 54, PAPI. Benar juga, jalanan sepi sekali.

    Pulang dari Semanggi, ingat kalau Gramedia Grand Indonesia hari ini terakhir diskon 30%…setelah dipikir-pikir akhirnya ke Grand Indonesia. Ternyata jalanan rame sekali dan tersendat…pulangnya apalagi. tapi masih lumayan lengang dibanding hari biasa yang suka macet cet.

    Saya belum pernah sekalipun ke Grand Indonesia, padahal tiap hari lewat sana. Lebih asyik lagi kalau Grand Indonesia bisa “ditusuk” dari subway di bawah tanah kayak di City Hall, Singapore..gitu. Tapi kapan ya kejadian ?

    Reply

  3. Singal
    Dec 26, 2008 @ 18:33:10

    “yang nyetir siapa…”
    ntar dibalas dengan suguhan sayur keasinan
    “kok sayurnya keasinan..?”
    hehehe…
    “yang masak siapa…”

    He..he..he…abang bisa aja. Abang tinggal di Medan kah ? Soalnya akhir-akhir ini banyak dosen USU blognya pada ditautkan ke blog saya…entah dengan alasan apa…hahaha…(saya pikir gara-gara abang…hehehe..)..

    Reply

  4. .\Gojo
    Dec 26, 2008 @ 20:39:19

    Situasi sekitar cakung dan cilincing masih aman dan sepi… pastinya karena sekolahan libur hehehe…

    Kalo sekolah libur, orang-tuanya kan ikutan ‘libur’ nganterin anak2 ke sekolah pagi-pagi :D…

    O iya ya…. 😉
    Saya dulu juga begitu waktu anak-anak masih kecil di awal 1990an. Sekarang anak-anak sudah gede dan sudah kerja semuanya. Jadi kalaupun saya pengin libur, tapi tetap harus “ke kota” buat nyopirin anak-anak ngantor…

    Reply

  5. tutinonka
    Dec 28, 2008 @ 23:49:24

    “Kenapa sih kok ambil jalan sini?”
    (lho kok nggak dijawab Pak?)

    Kalau Jakarta sepi pi pi … sebaliknya Yogya padet det det! Kebetulan saya tinggal tidak jauh dari Prawirotaman, kawasan guest house yang selalu penuh pada musim liburan. Di kawasan ini puluhan hotel melati dan guest house berderet, padahal jalannya sempit, sehingga kalau ada bis pariwisata besar parkir disitu, aduuh …. macet deh.

    Malam Minggu kemarin keluar cari makan, walah … dimana-mana penuh pengunjung, sampai ditolak masuk di Food Fezt. Bahkan mau beli dibungkus pun (karena nggak kebagian meja) nggak dilayani. Huhu …. kasihan …

    Di Yogya sekarang muncul banyak sekali tempat makan gaul, sampai masuk ke dalam pemukiman. Pengunjungnya sebagian besar mahasiswa, anak muda. Selain enak, juga murah. Pokoknya, makan di Yogya itu asyik …

    Bu Tuti,
    Itu kalimat tanya tak bertanya Bu, jadinya nggak perlu dijawab…hahaha…

    Iya Bu, di Jakarta sepi soalnya semua mobilnya “diperintahkan” untuk menuju Yogya dan Bali….hihihi..

    Wah..Prawirotaman itu daerah asyiik Bu. Kabarnya dahulu tempat tinggal dari para perwira Kerajaan Yogya (makanya dinamakan “Prawiro”). Sebagai pusat penginapan turis juga ok, kalau nggak salah di ujung pojok benteng selatan ya Bu.. Sebagai daerah turis, makanya jadi “mambu turis” Bu…baik mambu turis mancanegara maupun mambu “knalpot” turis domestik (asal jangan “knalpot” yang satu itu…hehehe..)..

    Di Yogya emang tempat makannya enak-enak dan kalau malam minggu buka sampai jam 01.00-02.00 pagi. Dan tempat makan yang aneh dan nyentrik juga suka ada. Beberapa tahun yang lalu saya dan kawan-kawan suka makan di “Rumah Mertua” yang letaknya di tengah kampung sekitar 2 km di sebelah utara Monumen Yogya Kembali itu. Di tengah kampung, tapi bangunannya modern dan banyak turis yang datang di sana. Dari namanya, seolah saya punya mertua di Yogya…hahaha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: