Pacebok

Beberapa hari yang lalu, seorang teman entah siapapun dia, telah menaruh sebuah kalender “sensual” tepat di meja saya di kantor persis di sebelah monitor komputer. Gambarnya tentang seorang model “baru”, seperti di awal tahun 1980an dulu ada kalender sensual dengan sederetan model yang kebanyakan sekarang menjadi bintang film atau bintang sinetron..

Seperti biasa, kalau saya sampai di kantor saya akan segera mencek Blog saya untuk melihat adakah komentar baru yang masuk ? Dan apakah komentar itu perlu ditanggapi segera ? Yah,,,saya begitu memprioritaskan jawaban komentar di Blog saya yang menanyakan tentang skripsi (Matematika, Pendidikan, Sastra Inggris, dan Teknik Informatika). Setelah baca blog selesai, baru cek email (saya punya 2 di Yahoo, dan 1 di Gmail). Nah, biasanya sambil cek salah satu email saya itu juga akan ketahuan apakah account Facebook (FB) saya ada komentar dari kawan-kawan…

Nah, di pagi itu sedang enak-enaknya nonton FB tiba-tiba boss saya mendekati dari belakang sambil nanya dengan agak keras “Djok, lagi nonton Pacebok ya ?”…

Sayapun dengan malu langsung membalik kalender sensual itu, sehingga sekarang yang nampak hanyalah halaman putih dengan satu merk pembalut wanita di sana. Karena saya pikir Pacebok dari kata “cebok” yang artinya tidak jauh-jauh dari (maaf) pantat dan bagian depannya itu…

Boss sayapun komentar lagi “Enggak itu. Pacebok yang kamu lihat itu lho !”

Hweleh hweleh hweleh…ternyata yang dimaksud boss saya dengan Pacebok adalah Facebook (Fis buk) tho !!!

[Facebook adalah fenomena baru orang berkomunikasi sosial di dunia maya, Bisa untuk iseng-iseng dan temu kangen dengan teman2 lama di dunia real, atau bahkan untuk maksud serius seperti Barack Hussein Obama yang telah menjadi Presiden AS gara-gara Facebook. Sudahkan anda mempunyai account Facebook ? ]

Angker ?

Jika anda mengalami dua hal aneh di tempat yang sama, apakah anda lantas sebut tempat itu sebagai angker ? Ini cerita tentang satu tempat yang ada toko groseri-nya dengan merk yang ada di mana-mana. Letaknya sekitar 1 km dari tempat saya tinggal dan terletak di pinggir jalan besar…

Sekitar 10 tahun yang lalu, saya berbelanja di toko itu dengan mobil saya hadapkan ke jalan, jadi pantat mobil ada di sisi toko. Setelah berbelanja beberapa barang, sayapun memutuskan menstarter mobil dan melepaskan rem tangan,…tapi ooops…mobil berjalan menuruni tempat parkiran dengan kondisi kunci stang masih terkunci dengan rem kaki. Yang bisa saya lakukan hanya membuka jendela dan tereak-tereak seperti orang gila ke mobil-mobil yang lalu lalang di depan toko “Awas…rem blong…awas rem blong !!!!”…

Banyak mobil dengan terheran-heran sopirnya memandang ke arah saya…dan mobilpun meluncur tanpa di gas dan tergerak oleh gaya gravitasi…makin lama makin kencang. Sialnya, di masa sekritis itu saya tidak selintaspun terlintas di benak saya untuk menggunakan rem tangan. Akhirnya Jegerrrrrr ! Mobil saya menabrak angkot, dan segera saya minta maaf ke sopir angkot dan menceritakan apa yang terjadi. Besoknya, angkot bertemu dengan saya di bengkel langganan saya dan saya mengeluarkan biaya Rp 125.000 untuk memperbaiki angkot itu dan permintaan maaf ke sopirnya. Rupanya angkot itu milik seorang kolonel AD, dan sesama keluarga AD kami saling ngobrol tanpa rasa dendam…

Tadi malam, sepuluh tahun setelah peristiwa yang pertama, saya ke toko yang sama yang didepannya ada ATM bank saya yang berlogo biru itu. Mobil saya parkir dengan hidung di depan, ke arah toko. Situasi hujan lumayan deras, dan mobil saya kacanya dipenuhi embun-embun kecil. Setelah menarik tunai di ATM yang ada dan beli lampu bohlam dan gula serta kopi, sayapun menuju mobil. Kaca kiri dan kanan sopir saya buka supaya lalu lalang mobil dan motor di jalan raya di belakang saya kelihatan. Tukang parkir mulai kasih aba-aba “Terus..mundur..terus..mundur…” dan tiba-tiba ada bunyi brakkkk…dan saya lihat seorang siswi SMA terkapar di aspal dengan motor Honda maticnya terjatuh. Si siswi SMA menangis tersedu, dan dibangunkan oleh orang-orang yang mulai berkerumun. Ia menangis dan berteriak-teriak memanggil bapak dan ibunya. Saya tenangkan dia, dan saya suruh orang membeli 2 tensoplast, luka di dengkulnya ibarat jatuh dari sepeda biasa saja. Setelah darah di dengkulnya hilang, iapun agak tenang setelah saya suruh jangan ia menangis dan bukan salahnya. Ia memakai helm di hujan yang cukup deras, jadi mungkin ia tidak bisa melihat jelas ketika ada tukang parkir memberi aba-aba berhenti…

Yang sampai sekarang saya belum tahu, si siswi tadi menabrak tukang parkir, motor lain, pejalan kaki, atau menabrak bagian belakang mobil saya ? Di rumah saya cek mobil tidak ada beret sedikitpun. Mungkin begitu disetop tukang parkir (yang kebetulan berbaju hitam), ia terkejut, terpeleset, motornya jatuh, dan motornya menyenggol mobil saya…

“Sudah, jangan menangis. Bukan salah mbak, tapi salahnya hujan. Helm yang mbak pakai ada embunnya, sehingga mbak tidak bisa melihat dengan jelas. Jangan bosan mengendarai motor”, kata saya menasehati. Soalnya tadi waktu menangis ia nelpon ibunya “Saya nggak mau naik motor lagi. Nggak mau naik motor lagi !”.

Akhirnya si siswipun tenang, dan ia bisa berbicara dengan tenang sambil tersenyum “Pak, saya sudah tidak apa-apa kok. Kalau bapak mau meninggalkan sini, silahkan saja. Ibu saya sedang menuju ke sini kok”..

“Maaf ya mbak, kalau saya ada salah”. Motor orange-nya saya tepikan, dan mobil saya undurkan kali ini dengan bantuan 2 tukang parkir. Si tukang parkir berbaju hitam tadi saya kasih uang parkir Rp 2000 tapi ia tidak mau menerimanya…

Saya hanya berpikir, apakah tempat itu angker ?

Mungkin tidak, mungkin saya hanya meleng saja…

[Pada waktu sembahyang Isya, sayapun meminta maaf kepada Allah tentang segala kesalahan saya..]

Kabut Puncak Ungu

Lho,,,apa benar kabut di Puncak Pass sekarangberwarna ungu ? You bet !!!  Masak kabut kok berwarna ungu. Judul ini dibuat begitu supaya anda “kecele” dan akhirnya tertarik buat membaca posting ini…

Yang jelas, selama 3 hari kemarin ini saya menghadiri Raker kantor saya di BBPK Ciloto yang letaknya persis di sebelah Hotel Lembah Hijau, Ciloto Puncak. Walaupun raker sering dipelesatkan “oRA KERjo” tapi gak apa-apa yang penting ngumpul, ngobrol serius, dan bercanda terus selama 3 hari dengan teman2 sekantor yang sejatinya jarang saya ajak ngobrol itu. Bukannya sombong, tapi saya memang bukan tipe pegawai yang 5 hari seminggu dan 8 jam sehari ada di kantor. Namun, saya tipe orang yang selalu aktif dari satu tempat ke tempat lain…

Hari Selasa jam 11.00 saya menuju puncak sendirian, mengendarai “Mbah Kakung”. Kalau anda belum tahu apa itu mbah Kakung…sebaiknya anda baca posting-posting saya sebelumnya. Dari rumah ke Ciawi cuman makan waktu 30 menit karena sempat balapan dengan Vitara dan Land Cruiser. Ibaratnya ada teman seperjalanan gitu. Tapi dari Ciawi sampai Ciloto kok ya makan waktu 2 jam !!! Believe it or not  soalnya banyak anak sekolah keluar sekolah dan angkot-angkot pada ngetem…

Sampai di Puncak Pass yang dicirikan dengan kebun teh yang menghijau, kabut sudah menghadang. Pandangan mata cuman nembus 10-15 meter saja. Jadi terpaksa “Mbah Kakung” disuruh jalan pelan. Sampai Ciloto sudah ditunggu teman-teman selama 30 menit karena menurut jadwal saya membawakan presentasi pertama berjudul Penguatan Instrumentasi dan Sosialisai Audit Teknologi (PISAT). Untung, kebiasaan nge-BS yang sudah lama dijalankan memuluskan presentasi saya dan hadirinpun cuman bisa manggut-manggut saya tunjukin deliverables sebanyak 30 buku setebal 600 halaman itu (“Kena gertak sambal”…hehehehe…)…

Jumlah siang pulang, dan kabut Ciloto semakin menebal. Lampu headlamp terpaksa saya nyalakan. Kalau belum puas karena mata tidak bisa menembus kabut lebih jauh dari 10 meter, maka hazzard lamp-pun ikut saya nyalakan. Anehnya, di ketinggian ada kabut, agak rendah dikit kabut hilang, tapi agak rendah lagi kabut muncul lagi. Jadinya lampu headlamp nyala-mati-nyala-mati-nyala-mati….

Jelang Cisarua, hujan deraspun turun. Si mbah Kakung yang ACnya bermasalah menyebabkan kabut memenuhi kaca depan, samping dan belakang. Kabutpun ada sampai Cisarua, Cibulan, Gadog dan Ciawi. Masya ampyun…untung tidak terlalu banyak mobil jalan di Jumat siang itu…

Setelah nurunin Cak Darsono di terminal Baranangsiang Bogor, si mbah Kakung-pun saya pacu di tengah hujan gerimis turun ke arah Jakarta. Exit di Kampung Rambutan, sayapun nyambung ke JORR ke arah timur…

[Judul ini mungkin terinspirasi judul film di jaman dulu berjudul “Kabut Sutra Ungu”…]

Crocodile forget to smile

Sewaktu beberapa tahun yang lalu saya masih suka “mudik” pulang ke Jawa dengan keluarga, saya sering memperhatikan tulisan-tulisan yang ditulis di mobil-mobil boks atau truk kecil yang biasanya merupakan “motto” dari daerah dimana mobil tersebut berasal…

Nah, karena pagi tadi hal yang sama dibahas lagi di Radio Prambors di acara Putuss oleh Imam Darto, saya jadi ingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu..

Setiap kota atau kabupaten biasanya mempunyai Visi atau cita-cita yang ingin dicapai oleh kota atau kabupaten tersebut. Biasanya visi itu mengandung kata-kata : indah, nyaman, bersih, tenteram, aman, berseri… dan biasanya visi itu sebagai kata ikutan yang mengikuti nama kota atau kabupaten. Misalnya Jakarta BMW (Bersih, Manusiawi, Wibawa), Bekasi Berhiber (Bersih, Hijau, Berseri), Semarang Atlas (Aman, tertib, lancar, asri), dan sebagainya dan sebagainya…

Nah, dulu ketika “pulang kampung” kami sekeluarga melalui Jakarta, Bekasi, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan seterusnya…menuju ke kota saya di Madiun. Sepanjang jalan saya dan anak-anak saya serta isteri saya bercanda ria membahas “motto” atau “visi” masing-masing kota yang kita lalui…

Alangkah gembiranya kami setelah sampai di kota yang bernama Boyolali, yang ternyata Visinya adalah “Tersenyum”…mungkin dari kata Tertib, Sedu, nyaman, dan um..um..um…apa ya ?

Yah “Boyolali Tersenyum” yang kalau dibahasainggriskan ternyata juga nggak kalah hebohnya. “Boyo” artinya buaya atau crocodile, “lali” artinya lupa atau forget, dan “tersenyum” artinya to smile. Jadi “Boyolali tersenyum” bahasa Inggrisnya adalah “Crocodile forget to smile” !!!! Huraaa !

[Beberapa tahun yang lalu saya sempat tinggal di luar negeri, dan setahu saya kota-kota di luar negeri tidak punya “Visi” yang berupa slogan lalu disebutkan di belakang nama kota itu, kecuali untuk klub sepakbola, bola basket, atau american football. Apalagi ditulis di bak mobil boks atau truk mini segala. Jadi, cerita ini adalah khas Indonesia….. Wah, ada-ada saja ! ]

Karena saya hobby saja..

Cerita ini terjadi sekitar tahun 1977. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat dua di Departemen Statistika dan Komputasi IPB. Kakak kedua saya masih menulis skripsi dan tugas akhir dari Departemen Agronomi IPB dan sedang diajak pacarnya untuk mengunjungi ibunya di Desa Kentong, Cepu. Karena saya lagi liburan semester di Madiun, maka kesempatan “pergi ke luar kota” yang langka itu langsung saya sambar. Saya juga pengin ikut ke Cepu..

Dari Madiun ke Ngawi kami bertiga naik Colt 120SS yang waktu itu sedang merajai jalanan sebagai angkutan antar kota. Mobil Jepang yang cukup lebar dan cukup kencang itu menjadi pemandangan sehari-hari di seluruh kota di Indonesia. Dalam waktu setengah jam, Colt kami sudah “mendarat” di Stasiun Bis Ngawi (masih di dekat perempatan dekat kantor polisi, bukan di posisi yang sekarang)..

Sebelum berangkat ke Cepu, kami masih sempat merasakan soto ayam di Stasiun Bis Ngawi. Ingat, Stasiun Bis adalah salah satu tempat yang banyak menyediakan makanan enak dengan harga murah ! Setelah kenyang dan waktu menunjukkan pukul 10.30 kamipun ganti Colt ke jurusan Cepu. Cepu waktu itu sudah menjadi kota minyak dan di sana ada Akademi Minyak Cepu yang hampir saya masuki sekiranya saya tidak diterima di IPB (dan ITB dan UGM….uhhh..)..

Ternyata jalanan Ngawi-Cepu waktu itu masih kurang mulus, banyak lubang dan melalui tengah hutan jati yang masih lebat. Setelah perjalanan sekitar 1 jam, sampailah kami di Terminal Bis Cepu. Nah, untuk ke Desa Kentong yang jauhnya sekitar 5 km kami memutuskan naik dokar dan itu rupanya satu-satunya moda transportasi jarak menengah di kota Cepu.

“Pinten pak nek bade dateng Dusun Kentong ?”, (Berapa pak taripnya kalau mau ke Desa Kentong ?) tanya pacar kakak saya ke Pak sais dokar.

Melihat kami bertiga yang agak kuyu dan kurus berpotongan mahasiswa yang kiriman uangnya suka telat, si sais dokarpun bilang “Mpun to pinten mawon, wong kulo nggih bade wangsul niki” (Sudah berapa saja, kebetulan saya lagi mau pulang juga nih), kata si sais dokar..

Sepanjang perjalanan yang cukup sepi, kami sempat ngobrol ke sana ke mari dengan Pak sais dokar yang ramah, berbaju hitam, bercelana hitam separo, dan pakai blangkon (topi kas jawa) itu. Rupanya ia pensiunan pegawai suatu perusahaan (dia tidak cerita perusahaan apa)..

Sesampai di tempat, setelah Pak sais dokar berkenan mengantarkan kami bertiga sampai persis di depan rumah pacar kakak saya, kami disuruh membayar Rp 50 saja. “Lho kok mirah sanget, punapa panjenengan mboten rugi to pak ?” (Lho kok murah sekali, apa Bapak tidak rugi ?), kata kakak saya membayangkan naik dokar bertiga yang jauhnya 5 km kok dengan tarip satu kali naik angkot di Bogor buat satu orang..

“Mpun mboten nopo-nopo, mpun cekap kangge tumbas suket kangge lare kulo niki” (Sudah gak apa-apa, sudah cukup untuk beli rumput buat “anak” saya ini), kata pak sais dokar kalem…

“Lho, kangge njenengan piyambak njur nopo ? (Lho, untuk Bapak sendiri lantas bagaimana ?), tanya kakak saya lagi..

“Kulo mpun wonten jatahipun, lha kulo niki pengsiunan kok, sing penting kulo gadah kegiatan” (Saya sudah punya uang kan saya pensiunan, yang penting saya ada kegiatan), kata pak sais dokar. Dan kamipun mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan sebagai salam dan penghormatan kepadanya sampai debu di jalan yang terbang diterjang roda dokarnya telah tidak terlihat…

Hari kemarin ini, di rumah saya terdengar kucing saya si Ringo sedang berantem dengan kucing pendatang yang badannya lebih besar. Bunyi ngeongnya sangat keras sampai-sampai semua tetangga saya pada melongokkan kepalanya keluar. Sayapun memisahkan kedua kucing yang adu dominasi wilayah itu dengan cara berlari mengejar si kucing pendatang… Tanpa sengaja saya sampai di depan rumah tetangga…

“Oh Pak RT, boleh nggak saya membuka bengkel sepeda ?”, kata si Bapak tetangga sambil menunjukkan kertas karton bertuliskan “Menerima tambal ban sepeda”. “Oh ya boleh saja pak, mengapa tidak ?”, kata saya.

Akhirnya saya menjadi klien pertama dari Bapak tetangga itu. “Anu pak, sepeda saya ini dari beli belum pernah diganti bannya sampai pecah-pecah gini. Daripada pecah di jalanan, lebih baik saya minta tolong diganti saja ya pak”, kata saya sambil menyerahkan uang sekedarnya..

Sorenya, sepeda saya sudah jadi baru dengan ban baru merk GENIO yang tapaknya masih baru…

“Berapa pak totalnya ?”, kata saya. “Wah, itu tadi uangnya sudah cukup pak”, kata Bapak tetangga tadi sambil melanjutkan “Yang penting saya sebagai pensiunan ada kegiatan”…

Wow… Deja Vu… 32 tahun yang lalu…

(Terus kapan saya akan pensiun ? Pensiun dari kantor sih mungkin 4 tahun lagi, kalau tidak diperpanjang 5 tahun sebagai Perekayasa. Tapi pensiun dari ngajar kayaknya belum terlihat waktunya kapan, asal badan masih bisa datang ke kampus, pasti setidaknya 8-10 sks tersedia bagi saya untuk cuap-cuap di depan mahasiswa….)

Happy Chinese Lunar New Year 2560

Kepada pembaca Blog ini yang merayakannya, dengan ini saya mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek 2560”

G o n g    X i   F a t   C h a i   !

Semoga kemakmuran dan kesejahteraan menghampiri anda semuanya di tahun ini..

Salam, Tri Djoko

Obama si anak “below Menteng”

Masih cerita tentang Presiden Barack Obama nih… Bagi yang sudah bosan, gak apa-apa, skip aja cerita ini…

Sore tadi banyak stasiun televisi Indonesia yang menyiarkan berita petang melaporkan kemampuan berbahasa Indonesia dari Presiden Obama yang masih bagus. Ceritanya, siang itu Presiden Obama mengunjungi Department of State (Kementerian Luar Negeri) yang sekarang dipimpin oleh Hillary Rodham Clinton, isteri mantan Presiden Bill Clinton..

Setelah berpidato di hadapan para diplomat AS yang bekerja di Kementerian Luar Negeri, Presiden Obama-pun menghampiri para diplomat AS yang hadir di acara itu…

Tiba-tiba salah seorang diplomat yang bernama Charles Shriver (belakangan saya baca di koran, namanya yang benar adalah Charles Silver – tdw) menyapa Presiden Obama dengan bahasa Indonesia “Bapak, Selamat Siang !”..

Dan Obama-pun menjawab dengan cepat “Terima kasih. Apa kabar ?”

Mr. Shriver-pun menjawab “Kabar baik. When will you visit Indonesia ?”

Obama menjawab “Pretty soon. I would like to visit my neighborhood when I spent my childhood in Jakarta”.

Mr. Shriver-pun menjawab “I live near your neighborhood”

Obama menjawab “Really ? Yes, I lived in “Below Menteng” dengan merefer Jalan Menteng Dalam sebagai “Below Menteng”…

Sorenya stasiun TVOne bahkan mempelesetkan pidato inagurasi President Barack Hussein Obama sebagai Presiden ke-44 AS. Dengan cara, semua pidato tersebut di-dubbing dengan bahasa Indonesia aksen bule. Namun isinya sama sekali telah diganti, yaitu Obama memuji Indonesia, teringat akan Indonesia, dan sangat concern akan kesulitan yang dihadapi Indonesia seperti BBM mahal, sembako mahal, dan sebagainya…

Lucu banget. Dan sayapun terpaksa menirukan kata-kata Pak Jarwo Kwat….yaitu “Aya-aya wae !”….hehehe…

Kalau anda mau lihat langsung peristiwa itu di You Tube, ini link-nya : http://www.youtube.com/watch?v=TBwOnjU8V8o

Previous Older Entries