Asyiknya pelajaran menyanyi

Waktu saya duduk di SMP 2 dulu, waktu yang paling menyenangkan bagi saya dan kawan-kawan sekelas adalah kalau datang waktunya Mata Pelajaran Menyanyi. Maklum, gurunya ganteng seperti Clark Gable namanya Pak Tab (saya lupa nama panjang beliau, mungkin Tabrani ?)…

Pak Tab dengan kumis tipis, wajah kotak, dagu runcing, dan rambut jambul di-pomade, benar-benar mirip Clark Gable dalam film “Gone with The Wind” tapi dicuekin sama si centil Scarlet O’Hara…

Kalau pelajaran menyanyi itu menjadi menarik, tentu faktor Pak Tab bukan satu-satunya faktor penentu. Walau beliau handsome dan ramah…

Yang menarik adalah….mata pelajaran Menyanyi penuh “element of surprise” kata anak jaman sekarang. Faktor yang membuat mengapa film atau drama menjadi sukses juga karena itu..

Nah, yang saya sebut “element of surprise” tadi adalah keisengan teman-teman saya sekelas mengubah sedikit lirik, atau tepatnya mengubah arti dari sebuah lirik…

Waktu itu di tahun 1970-1972 TVRI adalah satu-satunya TV yang siaran di Indonesia. Sehingga bintang menyanyi TVRI yaitu Pranajaya menjadi sangat terkenal di seantero nusantara. Setiap TVRI mau tutup acara sekitar jam 12 malam, selalu ada Pranajaya menyanyikan lagu “Tanah Air yang Kucintai”..

Nah, waktu Pak Tab menyuruh kami menyanyikan lagu “Tanah Air yang Kucintai” kami menyanyi dengan semangat….. Tanah Air yang kucin-TAI, engkau kuhargai…. nah…penggalan kata setelah “kucin” tadi yang membuat kami semangat dan sambil senyum menyanyikannya. Ternyata kelihatannya Pak Tab tidak tahu mengapa kami senyum-seyum…

Lagu lainnya yang senang kami nyanyikan adalah “Ani-ani di Sawah”. Dalam bahasa Indonesia terjadi “overloading” (dua arti) dari kata “ani-ani”. Arti pertama, adalah alat untuk menuai padi di sawah. Arti kedua, yang diambil dari bahasa Sunda, “ani-ani” adalah “nenek-nenek”…

Makanya waktu kami nyanyikan bait berikut….. “Ani-ani dikerjai di sawah..” kami semua sekelas tanpa terkecuali tersenyum, karena kalau “ani-ani dikerjai” dalam arti menuai padi, itu bukan masalah…

Tapi kalau “nenek-nenek dikerjai” alias “diperkosa” di sawah ?

Nah, itu baru berita !

Hahahahaha….

8 Comments (+add yours?)

  1. Resi Bismo
    Jan 03, 2009 @ 02:24:49

    mas, selamat tahun baru 1430H dan 2009M, ada berita di kompas 2.jan 2009, judulnya “peneliti nyambi ditertibkan”, komentar donk…. ato kl berkenan buat tulisan tersendiri.. heheheh

    Mas Resi,
    Selamat Tahun Baru Islam 1 Hijriah 1430 H dan Selamat Tahun Baru Masehi 1 Januari 2009 juga mas… 😉
    Sebenarnya saya pengin komentar, tapi sebagai “orang dalam” komentar saya jadi nggak netral alias “bias” gitu loh…atau kalau di istilah “internal auditor” ada “conflict of interest“..

    Tapi kata-kata yang dipakai baik oleh Menristek maupun Ka. BPPT yang baru adalah “kata-kata bersayap”. Artinya, meaning like that but it doesn’t mean like that… Halah, jadi bingung to ? Maklum, kalau jabatan sudah “setinggi” itu memang menjadi “jabatan politis”…meaning that..saya menilainya yang bicara bukan “pejabat”, tapi sudah “politician”… sebagai politician, ini kan sudah jelang Pemilu 2009…ya brarti ada “pesan-pesan sponsor” yang kudu disampaikan…

    Masih ingat cerita saya waktu Habibie menggaji pegawai BPPT 4 x gaji PNS biasa ? Sampai-sampai teman2 dari LIPI, BATAN, LAPAN, Bakosurtanal dan BPS “gigit jari” karena “iri” ? Kami digaji sama-sama PGPS, tapi pegawai BPPT (dengan alasan sebagai pegawai ex Pertamina) juga menerima TSP (Tunjangan Selisih Penghasilan) yang besarnya “pada suatu saat” (1980,1981,1990,1991,1992) 3 x lipat dari PGPS alias kami menerima 4 x lipat gaji PGPS ? Karena Habibie meniru cara Presiden Park Chung He menarik “orang-orang pinter Korea” yang sedang bekerja di USA, Europe & Japan dan memanggilnya pulang dan diberi fasilitas seabreg berupa : rumah, mobil, dan gaji 4 x lipat gaji rata-rata pegawai Korea dalam program “nurture the scientists” dan mereka kebanyakan ditempatkan sebagai peneliti di KIST/KAIST ? Nah, BPPT di jaman Habibie ingin meniru seperti itu. Akhirnya, hampir semua lulusan terbaik UI, ITB, ITS, UGM, dan IPB pengin banget masuk BPPT pada saat itu ?

    Nah, sekarang ini sebenarnya sedang digodok standar gaji PNS oleh MenPAN yang bocorannya sudah bikin ngiler, mengingat perbandingan antara gaji terendah : gaji tertinggi dalam tabel gaji PGPS sekarang hanya 1 : 3,1 karena menurut PP no 10/2008 tanggal 4 Feb 2008 yang ditandatangani SBY gaji terendah adalah Rp 910.000 (setara UMR DKI Jakarta) dan tertinggi adalah Rp 2.910.000. Anda kan tinggal di Jerman kan mas ? Pasti anda tahu sendiri dong, perbandingan antara gaji terendah : gaji tertinggi di Jerman pasti 1 : 18 … ya nggak…ya nggak ?

    Nah, saat ini di MenPAN sedang digodok dan bocorannya sudah ada bahwa gaji terendah PNS nanti sekitar Rp 2.300.000 dan tertinggi sekitar Rp 15.000.000 yang dari segi perbandingan gaji terendah : gaji tertinggi sudah berubah membaik menjadi 1 : 6 !!!

    Nah, saya pribadi menilai baik Menristek maupun Ka. BPPT yang baru tadi, sebagai politician (!!!)…mungkin mengira bahwa gaji pegawai BPPT terendah sudah Rp 2.300.000 dan tertinggi sudah Rp 15.000.000 dan oleh karena itu menurut hukum/peraturan dan menurut moral beliau-beliau sudah berhak untuk berkata seperti itu (seperti yang ditulis di Kompas tanggal 2 Januari 2009 seperti yang Mas Resi baca itu)…

    Tapi beliau lupa bahwa saat ini gaji pegawai BPPT, LAPAN, BATAN, Bakosurtanal masih menurut standar PGPS yang lama. Saya sendiri menurut tabel gaji saya di BPPT menerima per bulan sekitar Rp 3.900.000 (sudah termasuk TSP sebesar Rp 900.000) setelah bekerja selama 29 tahun !! Dipotong oleh cicilan Koperasi BPPT di sana-sini gaji saya sebulan tinggal Rp 1.000.000 lebih sedikit (saya banyak meminjam karena anak yang kecil masih sekolah di ITB di tahun 2008 kemarin ini, untung sekarang sudah lulus)…

    Nah, dengan “take home pay” setelah dipotong sana-sini tinggal Rp 1.000.000 saja (sekitar Euro 60,-), ditambah dengan tunjangan OJ (Orang Jam) sebagai peneliti yang mestinya menurut Tabel OJ sebagai Peneliti Utama saya dapat tambahan Rp 1.900.000, namun lagi-lagi dipotong sama “boss” sehingga saya hanya mendapat tambahan 50% dari itu jadi hanya Rp 950.000 jadi total jenderal sekarang ini walaupun ngantor terus di BPPT saya akan dapat “take home pay” Rp 1.950.000,- !!

    Mind you, sehari ngantor bawa mobil saya harus bayar uang bensin 10 liter x Rp 6.000 (dulu) + 2 kali tol x (Rp 6.000 + Rp 1.500 + Rp 5.500) = Rp 86.000 per hari. Jika take home pay saya yang hanya Rp 1.950.000 dibagi berapa kali saya ngantor, maka akan didapat Rp 1.950.000/Rp 86.000 = 23 kali alias masuk setiap hari (Sabtu+Minggu libur).

    Artinya, kalau diminta masuk setiap hari oleh Menristek dan Ka. BPPT pun dan misalnya kita takut setengah mati, maka dengan gaji “take home pay” yang saya terima sekarang, bisa sih saya ngantor setiap hari, tapi itu artinya gaji hanya dipakai untuk biaya bensin, kita TIDAK MAKAN, TIDAK MINUM, TIDAK NYICIL INI-ITU, TIDAK BISA NYEKOLAHIN ANAK, dan BADAN MELEPUH KARENA DIGEBUKIN ISTERI !!!

    Nah, dari mana kami-kami ini bisa hidup ? Ya kita korupsi waktu dikit-dikit untuk ngajar. Dari teman-teman yang ngajar di universitas yang sama, kami dapat tambahan penghasilan antara Rp 2.000.000 sampai Rp 10.000.000 jika jam mengajar “full” satu bulan (tidak ada hari libur, dan semua minggu selama 4 minggu adalah hari kerja). Agak lumayan dari sisi penghasilan kan ? Daripada di kantor terus 8 jam sehari, 5 hari seminggu dan hanya dapat tambahan Rp 950.000 sebulan kan ?

    Dan menurut Pembukaan UUD 1945 yang asli maupun yang sudah di-amandemen, berbunyi “Tujuan negara Indonesia adalah MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA….. “. Jadi kami-kami orang BPPT yang nyambi sebagai dosen ini tidak hanya mengejar materi, namun juga mempunyai niat luhur untuk mendarmabhaktikan ilmu yang kami sudah capai-capai dapat di luar negeri dengan biaya para pembayar pajak negeri ini, sebagai pengajar di sekolah maupun di universitas sehingga bangsa Indonesia ini menjadi cerdas !

    Tidak boleh ? Silahkan ! Mau ditangkap ? Silahkan ! Tapi dengan logika sederhana, jika dosen-dosen ITB yang pinter-pinter itu (dulu juga sama-sama sekolah di LN) boleh 2-3 hari “beredar” di Jakarta bekerja di BPPT atau Kementerian Ristek, mengapa pula kami pegawai BPPT tidak boleh mengajar ? Kalau mau melarang, larang semuanya dong ? Dimana asas keadilan ? Atau rasa keadilan beliau-beliau itu sudah tumpul ?

    Singkat kata, beliau-beliau itu menganggap dengan bekerja penuh waktu di BPPT atau Kementerian Ristek gajinya sudah sekitar Rp 9.000.000-an sehingga tidak perlu atau tidak boleh bekerja di luar lagi…

    Beliau-beliau itu lupa, maklum politician (!!!), bahwa gaji kami ini hanya sekitar Rp 3.900.000-an saja bagi pegawai senior yang sudah bekerja 29 tahun ini. Tapi itu hanya di slip gaji “sebelah kiri”, sedang slip gaji “sebelah kanan” setelah dipotong tinggal Rp 1.000.000 saja !

    Terakhir, beliau-beliau itu kemana ketika saya dan teman-teman sudah terbongkok-bongkok kerja di BPPT sudah sekian lama ? “New kids on the block”… kok ngomong ?

    Jawabnya : Hwekekkekkekkekk….

    Demikian mas, mudah-mudahan masalahnya menjadi jelas (dan mudah-mudahan komentar ini tidak dibaca oleh beliau-beliau itu, kalau dibacapun paling beliau-beliau itu penuh senyum…hehehe….)..

    p.s. : Masih untung kami nggak kerja di Amrik, di Jerman kayak teman sampeyan itu, sehingga melupakan jasa pembayar pajak…. yang walaupun makmur di dunia, tapi saya yakin kelak di alam sono akan ditagih janji sama malaikat dan disuruh bayar utang di ruang yang “hangat” karena “heater”-nya dinyalakan “terlalu gede”…hehehehe…

    Reply

  2. Resi Bismo
    Jan 03, 2009 @ 14:48:43

    FYI, perbandingan gaji terendah disini untuk freshgraduate, pertahun:
    S1 (€36.000)
    S2 (€40.000) dihitung S1+pengalaman 2 thn
    S3(€50.000) dihitung S2+pengalaman 3 thn. Dan semuanya bruto, kalo single bisa kena 45-48% pajak, kalo married sekitar 33%. Asuransi progresif sesuai gaji.
    Gaji postdoct (€1900-2000) perbulan kotor.
    Jadi sebenarnya gak beda2 jauh.

    Sedih juga denger cerita mas tri, apa mau dikata, pemerintah kita belum bisa memberikan sistem penghargaan thdp pekerjaan yg baik. Kedua ortu saya PNS, ya nyambi juga, kalo enggak mana bisa tahan.

    Padahal kalo mau dibilang, kawan2 saya itu tinggal pulang dan kembali ke institusinya masing2 gak perlu repot2, seperti kami yang harus ujian masuk PNS atau swasta yg bertahap2 itu.

    Makasih mas atas sharingnya… selamat berlibur.

    Mas Resi,
    Wah…trims info gaji awalnya untuk orang yang bekerja di Jerman. Tapi pertanyaan saya belum dijawab lho mas, yaitu berapa ratio gaji terendah dibandingkan gaji tertinggi ? Kalau nggak salah waktu saya ke Jerman tahun 1984 dulu diberitahu kalau 1 : 18. Tapi dengan pajak yang progresif, bahkan sampai 50% dari penghasilan, mungkin rationya jadi hanya 1 : 9 saja (hitungan kasar saya lho)…

    Kalau di Indonesia gaji full professor di ITB sekalipun hanya Rp 1.920.000 per bulan, belum termasuk tunjangan ini itu. Kalau tidak punya jabatan struktural, ya penghasilannya paling banter Rp 4.000.000 per bulan (saya pernah dengar cerita tentang dosen senior ITB bidang Astronomi yang dari rumah sampai kampus sering naik angkot bahkan jalan kaki !)..

    Hanya orang yang mentalnya super kuat, isterinya bermental baja, dan anak-anaknya bermental komposit saja yang “berani tidak nyambi” untuk memenuhi hidup di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dsb..

    Jadi kalau ada pihak yang bilang ke wartawan, “Saya akan menertibkan para pegawai yang nyambi” ya silahkan saja, asal itu berhenti di omongan dan tidak diteruskan ke tindakan. Kalau meneruskan dengan tindakan dan ditantang bawahannya, “Beri kami gaji yang pantas dulu, baru Bapak kalau mau nertibkan silahkan ! Kami ini orang paling pandai di Indonesia lho, bukan orang pinggiran atau kacangan !”. Nah, kalau saya jadi pejabatnya, tentu malu sekali kalau anak buah bilang seperti itu dan kita tidak melakukan apa-apa..

    Itu kalau saya lho Mas !

    Reply

  3. edratna
    Jan 06, 2009 @ 12:27:34

    Lho! Diskusi Ario kok jadi soal gaji…..
    saya mau komentar nyanyinya aja…pakai kotekan (mukuli bangku nggak?)

    Hehehe…itu salah satu cara untuk “menyembunyikan” diskusi…hehehe…

    Kalau kotekan bangku nyanyinya sih pas nggak ada guru dong, dan saya di SMA 1 pernah disuruh keluar oleh seorang guru karena saya kotekan kursi tempat duduk karena niruin teman sebelah yang juga kotekan. Tapi yang disuruh keluar saya. Begitu saya melangkah keluar, teman2 cewek di kelas pada menjerit-jerit, “Oh jangan disuruh keluar pak dia, dia anak baik, benar pak dia anak baik”….hehehehe….”anak baik” ? hwekekkekkekkek….

    Reply

  4. alris
    Jan 06, 2009 @ 22:55:05

    Saya dulu waktu SD kalo disuruh nyanyi ke depan kelas malunya setengah modar, yang hapal cuma lagu wajib maju tak gentar dan halo-halo bandung.

    He..he..he…sama dong !
    Kalau saya hafalnya cuman “Bintang Kecil” atau “Lihat Kebunku”…

    Reply

  5. alris
    Jan 07, 2009 @ 12:22:24

    Pak Totok suka nyanyi gak Pak Tri. Kan beliau nyeni juga. Kalo beliau suka cewek saya sudah tau (dari baca postingan Pak Tri) wakakaka…
    Eh, Pak Totok kemana aja nih, kok gak muncul, ngomong dong, Pak Totok.

    Uda Alris,
    Pak Totok itu kalau nyanyi, temennya pasti bilang ke dia “Wah, suaramu bagus Tok. Tapi lebih bagus lagi kalau kamu tidak menyanyi”….hwekekkekkek….

    Saya lupa dulu waktu SMP 2 Totok suka nyanyi atau enggak, tapi yang jelas penyanyi idamannya adalah : Victor Wood dan Eddie Peregrina penyanyi Filipina yang oleh Remy Silado disebut “penyanyi bakiak” itu. Dulu sih Totok suka singsot-singsot (siul-siul) sambil lirak-lirik cewek sambil nyanyi “Don’t Let Me Go”, “I Do Love You” dan sebagainya tapi lagu kesayangan dia adalah “Two Lovely Flowers”…. Sambil nyanyi gitu matanya sampai berkaca-kaca soalnya mungkin cintanya tidak kesampaian (di dalam kelas banyak cewek cakep tapi anehnya, tidak satupun yang dia suka…mungkin dia lebih suka ke cewek kelas sebelah…hahaha…)…

    Cak Totok lama nggak nongol-nongol di Blog mungkin karena dikejar deadline nyetak koran Dimensi Madiun yang banyak didambakan oleh kalangan pendidikan di Karesiden Madiun, dan dikejar deadline nulis otobiografi 3 tokoh terkenal di Madiun dan Ponorogo. Kalau nggak salah, juga diminta membantu kampanye calon wakil rakyat di Ponorogo deh…

    Reply

  6. alris
    Jan 07, 2009 @ 18:47:57

    Waktu di desa dulu saya kalo ngangon sapi banpres suka bawa seruling yang agak besar (saluang kata orang minang), jadi pas lagi berteduh dibawah pohon waktu terik panas matahari atau berteduh di dangau waktu hujan kami suka main saluang sesama pengembala. Karena gak ada guru yang membimbing main saluangnya asal bunyi. Tapi ada satu temanku yang cukup ciamik memainkannya, dia bisa memainkan saluang gak putus-putus alias bunyi terus-menerus. Dan dia juga bisa sedikit bakaba, alias berdendang sambil bercerita.

    Wah, Pak Toto dari SMP udah kesengsem lagu-lagu romantis, ya, sampai-sampai kalo nyanyin matanya berkaca-kaca. Jangan-jangan matanya beliau berkaca-kaca karena ingat ortunya pak, kan sejak kecil ikut mbah.

    Selamat deh buat Pak Totok dikejar deadline, daripada dikejar-kejar cewek-cewek (tahun 60-an) sak mBediyun, hwekakeke……..
    (sorry Pak Totok, makanya nongol duel sama Pak Tri mengaduk-aduk kenangan jadul)

    Saya kirim email ke Simbah (Pak Purwoko) konco ne Pak Tri. Alhamdulillah dibalas, walaupun beliau sedang ada di anjungan minyak lepas pantai Natuna.

    Uda Alris,
    Wah…kalau “seruling gembala” macam itu saya juga tidak pandai memainkannya karena dulu belinya di Pasar Malam mBediyun waktu saya kecil. Karena buatan tangan, jadi note atau nadanya ya sak sukanya (ada yang di atas pitch, ada yang tepat, ada yang di bawah pitch). Tapi hiasan seruling bambunya ini lho yang mana tahaaan….rancak banar, kata orang mBediyun waktu dulu…hehehe..

    Iya nih, Simbah juga jarang muncul soalnya dikejar deadline memompa minyak dari perut lautan nih…hahaha… (anak saya juga tadi sore lembur, katanya pekerjaan dia menginterpretasikan seismic sedang diperiksa sama atasannya)..

    Reply

  7. endy
    Jan 08, 2011 @ 00:40:19

    salam kenal pak.. sy yunior bpk di bppt,krn baru dpt satu medali pengabdian pak,thn kmrn..sy terkagum2 klo dgr cerita bppt jaman dulu..gaji 4x lipat dr pns biasa,dan mmg orng2nya org2 terbaik di negeri ini kala itu.nah sy ini produk pegawai thn 1999 an,tidak merasakan lg “zaman keemasan” bppt. pegawai bppt yg nyambi kemudian diitindak bkn cm gertak sambal atau sambal terasi yg dilempar ke wartawan pak..hehe…tp sdh memakan korban.ada senior sy yg menjadi dosen di malaysia sdh tdk balik lagi,ada jg yg dulu nyambi kerja diluar,skr jadi tmn kumpul2 sy di pantry tanpa tahu kerjanya apa..cm takut di”sukabumi”kan dr bppt jika tdk kembali ke habitatnya.skr yg terbaru,tsp dihapus,alasannya sdh ada tunjangan peneliti dan perekayasa yg 50jt itu.tp bpk tahu sendiri kan,tdk semua karyawan bppt menerima itu krn tdk smw berkesempatan membuat proposalnya.andaikan diterima,bpk pasti tahu jg,brp bersihnya yg peneliti/perekayasa terima.kyknya malah mending tsp yg sdh pasti diterima dibanding insentif yg perlu ekstra kerja.bkn malas loh pak,cm itu tadi,keliatannya sj keren 50jt/peneliti,tp bersihnya..oalah…ckck..skr,dgn ditiadakannya tsp,mngkn gaji pns di tempat kita yg non fungsional dan non struktural adalah yg terkecil di jagad nusantara ini..ok pak..yunior cukupkan ceritanya smp disini..berharap para senior,tmn2 bpk yg pegang kendali di bppt,bs ukur2 lah antara aturan dgn kondisi di lapangan…salam

    Bung Endy,
    Ya sudah diniatin jadi PNS…ya hidup harus disabar-sabarin, dan pengeluaran harus dicukup-cukupin..

    Kalau pesan saya singkat saja, SDM !!

    (*SDM = Selamatkan Diri Masing-masing)…

    Reply

  8. endy
    Jan 10, 2011 @ 10:40:36

    Siap Bos.. SDM dlaksanakan segera..haha…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: