Mengapa makanan jaman dulu lebih enak ?

Makanan jaman dulu (tahun 1960an) lebih enak dari makanan jaman sekarang (2000an) karena makanan jaman dulu dibuat bila ada pesanan (made to order), sedangkan makanan jaman sekarang dibuat dengan pendekatan pembuatan massal (made to stock)..

Masa kecil saya dulu di dusun mBoboran, desa Winongo, rumah saya dan penduduk lainnya dikelilingi oleh sawah yang menghijau. Kira-kira 1 blok ke arah barat, 2 blok ke arah utara, dan 3 blok ke arah selatan melewati rel kereta api, sudah bisa ditemui sawah-sawah subur yang ditanami padi..

Setelah umur 4 tahun dan orang tua saya pindah ke dusun Ngrowo, desa Mojorejo, pemandangan serupa tetap ada. Yaitu 1 blok ke arah selatan dan 1,5 blok ke arah barat rumah saya penuh dengan sawah-sawah yang ditanami padi.

Dikelilingi padi seperti itu, yang ditanam tanpa menggunakan pestisida (jadi serba alami) membuat rasa nasinya enak bukan kepalang. Kalau menurut istilah sekarang, bisa disebut “nasi lupa mertua” yang artinya kalau sedang makan nasi dan ada mertua lewat di depan mata bisa lupa tuh saking enaknya rasa nasinya. Maklum, jaman dahulu padi dipanen dengan cara menyabit dengan pisau kecil yang disebut “ani-ani”. Gabahpun dikeringkan sampai GKG (gabah kering giling) dan disimpan di Lumbung Padi (semacam saung terbuat dari kayu, yang letaknya tinggi karena lantai lumbung bisa berjarak 2 meter dari tanah). Nah, kalau kita perlu menanak nasi, sebelumnya kita ambil beberapa “siwur” gabah lalu kita tumbuk dengan lesung yang bunyinya “dang..dung..dang..dung”…merdu sekali !

Sayuran juga tinggal petik di kebun pas kita mau masak. Mau tomat, jeruk nipis, “ontong” pisang (jantung pisang), biji lamtoro, kelapa tua, semuanya tinggal ambil di kebun tepat sebelum dimasak. Yang harus beli ke pasar hanyalah garam dan minyak goreng saja, itupun minyak goreng juga bisa dibuat sendiri dari santan kelapa yang digoreng terus menerus sampai menjadi “blondo”, disaring dan menjadi minyak kelapa (bisa juga selanjutnya dibuat menjadi sabun mandi atau sabun cuci).

Seingat saya waktu kecil, yang namanya bumbu masak yang mengandung MSG itu belum ada. Bumbu masak ada ketika produk-produk Jepang dari MSG, kain, sampai sepeda motor membanjiri tanah Indonesia ketika jaman awal Orde Baru di tahun 1967. Jadi sayapun heran, ibu-ibu kita jaman dulu masak dengan bumbu apa ya kok rasanya tetap maknyuuuzzz walau tanpa bumbu masak ? Mungkin campuran antara terasi dan petis udang yang sudah berasa enak…

Karena segarnya bahan makanan yang kita makan jaman dahulu di tahun 1960an, juga membuat masakannya tidak cepat basi, walaupun tidak kita simpan di kulkas. Waktu itu kulkas hanya milik orang kaya yang di rumahnya listriknya bejibun, kalau rakyat jelata macam orang tua saya mah listriknya cuman kebagian 150 Watt yang hanya cukup untuk menghidupkan 6 lampu pijar @ 25 Watt (1 di halaman depan, 1 di ruang tamu, 1 di ruang keluarga, 4 di masing-masing kamar, 1 di dapur, 1 di kamar mandi, dan 1 di halaman belakang – tentu saja pada suatu waktu yang nyala maksimal hanya 6 lampu, jadi menyalakan bergantian..)…

Makanya di jaman dulu, jika pada hari ini kita mengadakan pesta berupa selamatan, dan biasanya di sore hari masih tersisa makanan, maka pada esok harinya masih suka ada saudara yang datang dari jauh dengan naik sepeda (bisa sejauh 29 km kalau dari Ponorogo atau sejauh 11 km kalau dari Dusun Pintu, Dagangan) datang ke rumah dan menanyakan apakah masih ada “belendrang” atau tidak. “Belendrang” adalah masakan hari kemarin yang masih enak dimakan…

Bahan segar, cara masak alami, tidak pakai kulkas, namun “belendrang” tetap membuat perut kenyang…..

Kalau anak jaman sekarang diceritain tentang jaman dulu ini, pasti mereka akan nanya, “How come ?”……. oooops sok Inggris, lagi !

5 Comments (+add yours?)

  1. totok
    Jan 01, 2009 @ 10:21:49

    Wah, nostalgia nih yeee.e……
    Bicara soal bumbu masak, aku langsung ingat saat disuruh nenek beli bumbu msak yang dul disebut moto. Nggak tahuah arti moto, mungkin karena ada gambarnya mobil, jadi enak aja disebut moto.

    Saat itu cak Tri, aku bawa sepeda beli moto ke kios milik Cina yang letaknya di ujung Jalan Sawo bagian timur. Tapi sepulang dari stu, enak saja aku melenggang jalan kaki. Baru setelah seisi rumah –terutama bulikku yang mau pakai sepeda– ternyata sepedanya nggak ada. Mereka mengira sepeda dicuri maling sampai mau lapor polisi segala.

    Denger ribut-ribut soal sepeda, aku yang waktu itu enak-enak ngorok langsung bangun. Baru ingat kalau sepeda tertinggal. Tanpa basa-basi aku langsung ngibrit dengan jantung deg-degan, jangan-jangan sepedanya ilang.

    Baru aku merasa lega melihat sepeda masih ditempatnya, ditunggui pemilik toko. Tentu saja dia agak berang, ”Sesuk maneh gak usah nggowo sepeda nek lalen,” katanya.

    Soal makanan memang kita beruntung terlahir di zaman seperti itu. Kita belum kenal makanan ber-MSG, belum kenal pengawet makanan apalagi pengawet mayat, kita juga belum kenal bakso pakai borax, kita juga belum tahu makanan ringan murah meriah yang kalau dimakan bikin umor di lidah.

    Apalagi orang tua kita, meski gggak kaya tapi peduli banget dengan gizi. Jadinya sampai sekarang cak, alhamdulillah, paling-paling sambate masuk angin dikerok mari. Masih berani makan sate kambing dan gule jerohan.

    Jadi kita wajib bersyukur, apa yang kita makan dulu membuat kita masih sehat sampai jadi kakek.

    Cak Totok,
    Iya lingkungan hidup jaman kita kecil dulu masih ciamik banget dan Madiun dikupengin sama hutan yang lebat-lebat terutama di sebelah barat ada hutan Ngawi-Balerejo-Randublatung-Cepu dan di sebelah timur ada Saradan-Wilangan serta agak selatan ada hutan Dungus, Dagangan dan Ngebel..

    Naik kereta api Madiun-Bandung kalau siang hari kita masih lihat hutan dan bukit-bukit nan hijau lan lebat pohonnya di tahun 1980, 1981, 1982. Coba sampeyan sekarang “napak tilas” naik kereta api Madiun-Bandung, yang ada cuman hutan gundul, bukit gundul, dan yang rimbun justru perumahan dimana-mana. Melihat ini sebenarnya hati saya sedih, apalagi kalau naik kereta api Bandung-Jakarta pas lewat Cikampek, di sisi kanan-kiri rel penuh dengan “shanty” (gubuk penceng) begitu pula sudah masuk stasiun Bekasi sampai Manggarai juga shanty, shanty, dan shanty..nggak kelihatan gubuk pencengnya waktu rel kereta api sudah mulai elevated..naik..

    Aku tetep ora kelingan yen tau tuku moto, setidaknya sebelum 1967. Yen setelah itu, memang banyak segala macam moto..

    Minus moto, minus pestisida, minus pupuk kimia, memang alam kehidupan kita lebih bersih dan pada waktu itu belum banyak sindrom gangguan perkembangan seperti yang sekarang banyak diderita anak-anak..

    Masalah gampang lali, untung kon biyen gak sampai ninggalne bojomu neng gedung bioskop. Koncoku sak omah kost di Bogor onok sing koyok ngono. Nonton bioskop karo bojone numpak bemo mangkate, eh mboso mulih kok dewekan. Arek-arek takon, “Lho mas, ngendi bojone sampeyan ?”. “Lho, aku mau nonton karo bojoku to ?”. Terus unyuk-unyuk numpak bemo maneh neng bioskop Ramayana, neng kono bojone njedindil kedinginan neng tangga gedung bioskop. Untung bojone ora nesu, mungkin wis ngerti yen bojone lanang iki kelalen…hehehe..

    Reply

  2. rumahagung
    Jan 01, 2009 @ 20:52:54

    jaman dolo nghalusin bumbu msh pake ulekan atao batu tumbuk Pak.
    dan konon,kt nenek saya,
    batu tumbuk n ulekan yg makin sering dipakai,makin enak jg masakan yg dihasilkan.
    soalnya bumbu2 uda nyerep n nyatu ama batunya.
    hehehehehe..!!

    klo sekarang kan byk pake blender,ato penghalus lainnya.
    itu salah satu analisa saya lho Pak.
    hehehehe..!!

    Analisa anda nggak salah sih…bikin bumbu pakai ulekan lebih enak karena tetesan keringat yang masak bisa jatuh ke ulekan tersebut dan itu menjadi salah satu unsur dari “the secret recipe”…hehehe…

    Kalau bumbu diulek pakai blender, mana bisa tetesan keringat masuk ke blender…nah, maka itu rasanya jadi agak hambar-hambar gimana, gitu…

    Reply

  3. rumahagung
    Jan 02, 2009 @ 21:51:21

    wah,bener Pak.
    hahahaha..!!
    makanya ada asin2 sedap gimana gitu yah?!
    kalo blender kan ketutup rapet.
    hahahahaha..!!

    Reply

  4. simbah
    Feb 26, 2009 @ 19:56:45

    Zaman itu namanya bumbu masak atau vetsin masih jarang, ada-ada cap kapal terbang. Lah waktu itu penyedap masakan pake ‘tempe-bosok’ saja sudah uwenakkkk tenan….

    Hehehe…rasa tempe bosok neng jaman biyen ketoke luwih enak tinimbang bumbu masak jaman saiki sing nggawene sokok tetes tebu…hehehe..

    Reply

  5. Wandhi
    Nov 02, 2009 @ 05:14:46

    Aku wingi dolin nang kampung bulikku. Aku dibuatin soto ayam skaligus diajarin buatx. Pas wis dadi tak incipne. . . Ueenak tenan. Gak pake moto po ajinomoto and saudara2x. Rahasiax mau tau. . .,1. Semua rempah basah alami., 2. Bumbux diulek bukan diblender.,3. Nach penyedapx paduan garam ama gula pasir. Kata bulikku paduanx hrs pas, pake perasaan.,4. Ayam yg dipakai ayam kampung. 5. Masakx pake kayu bukan kompor minyak tanah. Nach itu dia rahasia. Mau jg mcicipi silahkan mcoba ya.

    Mas Wandi,
    Wah…terima kasih infonya. Sayang bumbu masak campuran garam dan gulanya tidak disebutkan berapa % berapa % nya, sehingga ya masih misterius. Kalau yang lain : bumbu asli, api kayu, dsb udah umum diketahui…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: