Orang pedalaman ya makannya ikan air tawar

Waktu kecil saya dulu di kota Madiun yang merupakan sebuah kota di pedalaman, dalam arti jauh dari laut selatan Jawa (90 km) dan jauh dari laut utara Jawa (200 km) mengakibatkan kami jarang makan ikan laut seperti tenggiri, kakap, baronang, dan sebagainya. Kalaupun ikan-ikan laut itu sampai ke kota kami, pasti sudah dijual dalam bentuk ikan asin yang bisa kita beli secara kredit di Koperasi Pegawai Negeri dimana bapak saya jadi anggotanya…

Maklum, teknologi kulkas waktu itu masih langka atau belum ada. Mobil berkulkas, belum ada. Jangankan mobil berkulkas, lha wong mobil biasa saja distarter-nya masih pakai engkol yaitu sebuah besi panjang seperti huruf S yang dipakai untuk memutar mesin mobil (kalau masih penasaran, lihatlah waktu Elvis Presley masih jadi sopir mobil tentara waktu ditugaskan di Jerman Barat). Starter elektronik belum ada, begitu juga lampu sein mobil yang bisa byar-pet-byar-pet. Yang ada barulah lampu “fisik” yang tiba-tiba menonjol jika kita pengin membelokkan mobil.

Akibatnya ikan laut segar tidak pernah sampai Madiun, karena kalaupun sampai pasti disimpan dengan es batu yang dikerudungi sama plastik atau kain berwarna hitam. Akibatnya juga, ibu saya sama sekali tidak bisa makan ikan laut !

Lain dengan ikan tawar yang dijual oleh pemancing ikan secara segar. Biasanya setiap sore hari bapak saya akan nongkrong di teras rumah menunggu kalau-kalau ada Kang Pemancing Ikan itu yang lewat di depan rumah. Begitu kan pemancing terlihat, biasanya ia membawa jalan yang sudah dilipat di tangan kanannya dan kepis ikan terbuat dari bambu di tangan kirinya. Kadang tangan kanannya juga membawa rentengan ikan segar yang barusan ditangkapnya pakai jala (untung waktu itu jarang anjing atau kucing yang mengendus-endus ikan hasil pancingan tadi).

Biasanya ikan yang dijual adalah lele, gabus, sepat, atau wader. Itupun masih ditambah udang air tawar. Harganya biasanya juga tidak mahal, karena sekali tawar biasanya dikasihkan sama si tukang penjual ikan.

Setelah ikan dibeli, bapak saya yang bertugas “menaklukkan” ikan lelenya yang waktu itu patil-nya kalau kena tangan kita bisa membuat badan panas dingin 7 hari 7 malam, masih untung tidak terkena Tetanus. Jadi bapak saya menjinakkan lele dengan memukul kepalanya memakai alu. Setelah si lele diam, barulah ibu saya dan kakak-kakak saya berani beraksi lebih lanjut “membeteti” Ā (membersihkan insang, kotoran, dan isi perut ikan)..

Lima belas menit kemudian, dengan nasi yang hangat kedul-kedul, dengan ikan air tawar berlimpah nan harum segar dan hangat, kamipun makan dengan lahap. Tidak lupa daun kemangi yang barusan kita petik dari kebun. Di jaman itu, kita biasa makan, mandi, dan berganti baju sebelum hari menjadi gelap. Setelah hari gelap, kita biasanya belajar sebentar mengerjakan PR dan sudah masuk kamar tidur sekitar jam 8 malam…

Maklum, yang menggoda kita yaitu TV….waktu itu belum ada di rumah kita, dan rumah-rumah semua tetangga di Madiun. TV baru masuk sekitar tahun 1967 di awal masa Orde Baru. Itupun dengan antenna yang setinggi 20 meteran..

(Dan di waktu SD itu saya membuat antenna TV tiruan setinggi 5 meter yang saya pasang di pucuk pohon mangga saya, dengan harapan supaya anak-anak kecil mengira saya dan keluarga punya TV beneran….dan kita dianggap “orang kaya”…..hahahaha….)…

2 Comments (+add yours?)

  1. yudi
    Jan 04, 2009 @ 03:16:07

    Seru kang ceritanya… lah aku yang dilahirkan di era mtv ini jadi ngerti jaman dulu gimana serunya… šŸ™‚

    Oooo..terima kasih…. šŸ˜‰

    Reply

  2. alris
    Jan 07, 2009 @ 18:51:56

    Waktu ada kerjaan di Jember saya suka ikan wader yang digoreng setengah kering itu. Maknyuss, top markotop…

    Bukankah di Sumatera nama ikan wader itu ikan Saluang yang tumbuh di sungai-sungai besar macam Batanghari, Musi, Mahakam ?

    Saya pernah beli nasi uduk di Singapore dengan harga 70 cent (Rp 4200) yang dibungkus daun pisang, ada sambal kacang rasa pedas manis gurih, kering tempe dan satu ikan saluang goreng…wah benar-benar mak nyus lah… hehehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: