Pentingnya datang di kondangan

Mungkin di jaman Pasca Orde Baru sekarang ini dimana makanan dan minuman telah tersedia secara massal dan beragam, diundang “kondangan” pasti bukan merupakan kesempatan langka… malahan dianggap nggak ada gunanya datang.

Contohnya, di RT saya kalau ada undangan arisan yang datang hanya bisa dihitung dengan jari padahal jumlah penduduknya ada sekitar 50 orang…

Oleh warga RT-RT yang lain, warga RT saya juga menjadi bahan gunjingan. “Oh RT itu kalau ada pertemuan, jumlah makanannya banyak tapi yang hadir kok cuman sedikit. Padahal di RT kita kalau ada pertemuan yang datang banyak sekali dan makanannya selalu kurang…”

Sebagai Ketua RT, saya hanya bisa mengeluas dada. Sambil berdoa semoga masa bhakti saya segera berakhir. Sayangnya, ada edaran dari Pak Lurah bahwa Ketua RT dan juga Ketua RW harus tetap menjabat sampai bulan Desember 2009 karena untuk menyelematkan “program nasional” yang namanya “pesta demokrasi 2009”..

Di jaman saya masih kecil dulu, yang biasa disebut jaman Orde Lama, makanan dan minuman sulit untuk didapat. Apalagi yang berupa daging, baik itu daging sapi, daging kerbau, daging ayam, termasuk juga telur ayam sulit didapat kecuali punya ayam sendiri dan kita tungguin telurnya (waktu itu yang namanya “ayam negeri” yang bisa bertelur banyak, belum ada)..

Anda bisa tebak akibatnya, yaitu “diundang kondangan” merupakan harapan setiap Bapak-bapak di RT saya dulu di Madiun. Karena dengan datang di kondangan, seseorang akan dapat makan di rumah yang punya hajat dan pulangnya masih bisa membawa “berkat” (istilah orang Jawa) yang isinya nasi, lauk pauk, pisang, dan sebagainya yang bisa dibagi dengan anak dan isteri…

Makanya, di jaman dulu di tahun 1960an orang kadangkala harus “menghalalkan cara” untuk bisa hadir di suatu kondangan. Banyak cerita yang ditulis bahkan di buku anak SD tentang hal ini, yaitu orang yang telat datang ke kondangan tapi menggunakan berbagai akal agar bisa masuk ke tempat kondangan “dengan terhormat” (ingat, prinsip orang Jawa adalah “biar melarat, asal terhormat”)…

Di suatu cerita, ada seorang Bapak yang walaupun sudah diundang di suatu kondangan tapi entah mengapa Bapak itu datang terlambat. Padahal dilihatnya kondangan sudah akan segera dimulai dan mestinya makan-makan dan minum-minum enak dan lezat sudah menunggu…

Akhirnya Bapak itu tereak keras-keras, “Ulaaar…ulaaaaaarrr….uullaaaaaaarr !”….

Akhirnya semua yang hadir di kondangan itu berhamburan keluar untuk melihat dan mengusir “ular” yang telah “mengganggu stabilitas” kondangan itu….

Dan Bapak yang tereak “ada ular” tadipun pura-pura melihat ke selokan tempat “ular” yang dimaksud berada..

Setelah ularnya tidak ketemu dan situasi “aman dan terkendali”, maka semua Bapak-bapak termasuk Bapak yang terlambat tadipun masuk ke tempat kondangan dengan tertib…

Dan Bapak yang terlambat tadi bisa merasakan makan nasi putih pulen harum kedul-kedul, ingkung ayam, pelas, krawu, oblok-oblok tempe, semur tahu, dan empal daging sapi yang mak nyussss pastinya….

Tidak itu saja, Bapak itupun pulang dengan membawa berkat yang dibungkus daun jati diikat dengan daun kelapa warna hijau tua yang di dalamnya terdapat makanan yang sama, yaitu nasi pulen harum, ingkung ayam, empal sapi, dan oblok-oblok tempe…

Berkat cerita tentang “ular”, Bapak tadi bisa dengan terhormat datang ke kondangan, daripada terlambat datang ke kondangan dan malu sebagai orang Jawa karena kurang menghargai undangan datang ke kondangan….

[Catatan : cerita ini saya tulis berkat anak saya Dessa yang cerita tentang kaset lagu-lagu Jawa Koes Plus dan ia tidak tahu apa artinya. Kondangan = selamatan, menurut buku “The Indonesian Heritage” orang Jawa dari sononya jarang makan daging (sapi, kerbau, kambing, ayam) dan kondangan adalah satu-satunya kesempatan untuk makan daging, oleh karena itu di kalangan masyarakat suku Jawa banyak sekali kondangan atau selamatan yang dilaksanakan per tahun, jumlahnya bisa mencapai 12 per tahun alias setiap bulan bisa makan gratis… Tapi ini di jaman dulu sampai tahun 1960an lho, entah kalau jaman sekarang…]

5 Comments (+add yours?)

  1. boyin
    Jan 04, 2009 @ 14:41:33

    hehehe….saya waktu kecil sempet juga lho pak ngerasain suasana kondangan gitu waktu diajak orang tua saya. sampai ada taktik cara makannya gini..”nasi dikit aja, lauk pauknya yang banyak”..hee..dan jurus terakhirnya ialah “tutupi lauknya dengan krupuk udang”..nah..pas deh tuh..gak ketahuan kalo ngambilnya banyak…

    Mas Boy,
    Iya begitu mas. Ini “rule” yang diajarkan oleh teman-teman saya waktu kecil dulu : ambil sekerat ayam panggang, taruh di atas piring, tutupi ayam dengan nasi sampai tidak kelihatan, lha nanti waktu nenek nanya, “Siapa belum kebagian ayam panggang ?”. Kita angkat tangan, dan dapat satu kerat lagi ayam panggang…
    Smart move, kan ?

    Reply

  2. alrisblog
    Jan 05, 2009 @ 14:04:21

    Boleh nih datang kondangan ke tempat Pak Tri. Kalo perlu bawa wadah buat tempat berkat, heheheh… Kan warga Pak Tri pada malas datang.
    Saya kalo waktu kecil datang ke kondangan bawa kresek, begitu hadirin udah mau pulang cepet-cepet masukin sisa makanan ke tas kresek, wakakaka…(malu nih)

    Uda Alris,
    Boleh,,,kapan-kapan kalau lagi arisan, saya undang…;-)
    Uda, kalau di tanah Jawa yang suka baca “kacu” (saputangan) di arisan dan pulangnya membawa / membungkus kue-kue itu biasanya ibu-ibu lho. Kalau bapak-bapaknya serba “jaim” dan pura-pura nggak butuh…hehehe…
    Tapi di RT saya di Madiun dulu ada lho seorang bapak yang rajiiiin banget membantu orang-orang membagi berkat supaya beliaunya bisa bawa berkat dobel hehehe…(jaman dulu, nasi, ingkung ayam, lauk, dsb dibagi-bagi ke besek tempat makanan itu dilakukan di depan semua yang hadir, mungkin maksudnya supaya “transparan”..hahaha…)..

    Reply

  3. Oemar Bakrie
    Jan 06, 2009 @ 05:44:14

    jaman saya dulu ada ledekan ke teman-teman “gedhe mergo slametan” … hehehe

    Pak Grandis,
    Wah..berarti Pak Grandis juga “gedhe mergo slametan” alias suka makan berkat terus sepanjang hidupnya…hehehe…

    Tapi pak, makanan jaman dulu serba fresh dan bumbunya itu lho…spicy banget dan pas banget…jadi mak nyuzzz gitu…..jadi kalau Bapak pulang membawa berkat, maunya sih kita makan sendiri : ibu, kakak, adik, kalau perlu nggak usah ikut makan..hahaha…

    Kabarnya baru pulang dari Tanah Suci ya Pak ? Kalau begitu mudah-mudahan Bapak menjadi haji yang mabrur…. Amien..

    Reply

  4. edratna
    Jan 06, 2009 @ 12:29:45

    Dulu memang selalu menunggu berkat hasil selamatan. Kenapa ya kalau sekarang ada selamatan, kok rasanya beda? Atau mungkin dulu karena jarang, dan masakannya serba nomor 1 (berasnya mentik no.1 juga lain-lainnya) membuat rasa masakan waaah….

    Iya dulu di kota kecil macam Madiun, hampir setiap minggu ada tetangga yang selamatan ini selamatan itu dan semua tetangga diundang berdoa (“hamin-hamin” kita nyebutnya)..

    Jadi hampir setiap minggu ada berkat (bingkisan makanan) yang mampir ke rumah, makanya kata Pak Grandis “gedhe mergo selametan”…hehehe…

    Reply

  5. alris
    Jan 06, 2009 @ 13:59:16

    Ditunggu nih pak Tri undangannya, mumpung udah jadi manusia bebas merdeka alias hidup tanpa peraturan dan protokoler kantor (just kidding, beneran siapa takut…)
    Waktu kecil saya suka ikut pengajian orang kematian. Di kampung saya abis baca ayat2 suci dan doa buat yang meninggal dibagikan makanan kecil segala macam goreng-gorengan dll. Saat itulah yang di nanti bocah-bocah untuk melampiaskan hasrat memakan suguhan yang emang jarang-jarang didapatkan gratis itu. Kali lain kalo ada kendurian rame-rame lagi datang untuk makan enak gratis. Pokoknya diwaktu kecil segala sesuatu yang gratis pasti enak aja bawaannya. Dan emang enak sih, ya.

    Yoi, kapan-kapan ya…. 😉
    Masalah “lomba makan” di lokasi orang kematian, rasanya saya pernah nulis di postingan beberapa bulan lalu waktu SMP ada teman cewek sekelas yang bapaknya meninggal dan kita teman2nya disuruh duduk di rumah sebelah orang yang meninggal. Waktu dibagikan makan nasi dengan lauk bakmi goreng, salah satu teman yang rupanya “onggrongan” (suka dipuji) makan terus sampai habis 6 piring !!! Di tempat orang meninggal pula, hahaha..(atau saya harus nangis ya..)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: