Baik mana, merasa sehat atau merasa sakit ?

Ini cerita kecil di keluarga saya, yang mungkin juga menimpa semua keluarga di dunia (dan mungkin juga keluarga di ruang angkasa)..;-)

Saya dan anak pertama selalu merasa sehat. Sedikit sakitpun merasa sehat, apalagi sakit beneran kadang-kadang masih merasa sehat. “Papah akan baik-baik saja”, kata saya kepada keluarga. Perhatikan sebutan Papa pakai “h”, nggak tahu asal-usulnya karena sejak kecil anak saya selalu memanggil saya “Papah” dan bukan “Papa”..

Kalau dari SMP saya ikut kegiatan “Palang Merah Remaja” dan ikut juga beberapa perguruan silat yang sangat concern dengan “kesehatan diri sendiri” melalui pijit dan pernafasan, mungkin itu yang bisa menerangkan saya yang selalu merasa sehat. Lha wong kalau agak sakit, tubuh langsung saya pijit-pijit sendiri untuk mencari “titik sakit” di nadi, syaraf, atau tulang. Kalau masih sakit saya akan merem sedikit dan mengatur nafas supaya bisa merasakan mana bagian tubuh yang sakit. Setelah itu berusaha “membujuk” bagian tubuh yang sakit itu supaya sembuh. Caranya gampang, pusatkan konsentrasi ke tubuh yang sakit itu dengan bernafas pelan-pelan dan arahkan aliran darah tubuh anda “menembus” bagian yang sakit itu..

Jika sakit masih berlanjut, saya pakai jurus ketiga yaitu “yoga”. Yoga adalah beberapa sikap tubuh sambil duduk, bersila, kayang (saya tidak bisa melakukannya lagi berkat perut yang semakin “tummy”), berdiri, ataupun kepala ditaruh di bawah (“it is very dangerous, don’t try this at home !”). Pada suatu hari kalau saya dalam posisi berdiri waktu sembahyang, kedua dengkul dan paha serta betis saya sakit sekali sehingga saya harus agak “memajukan” bagian tengah tubuh supaya tidak sakit. Datang ke dokter langganan saya, tidak menyembuhkan. Akhirnya saya menjalankan sikap yoga sambil berdiri dengan satu kaki serta kedua tangan posisi lurus dan salah satu tangan menyentuh tembok (lebih baik lihat di video saya nanti, kalau sempat direkam…hahaha) selama kira-kira 15 menit. Besoknya, waktu shalat subuh saya sudah segar kembali dan kaki tidak ada sakitnya lagi !

Kalau dengan pijit, pernafasan, dan yoga belum mempan. Waktunya berobat. Dimulai dari jamu yang mudah didapat di warung sebelah, kalau belum sembuh juga baru pakai obat-obatan dokter…

Pointnya adalah, saya jarang sekali sakit, apalagi kalau tinggal di luar negeri. Bukan nyombong, tapi ini kenyataan. Mungkin waktu tinggal di luar negeri di asrama saya atau hotel saya selalu tersedia air panas buat mandi, dan waktu mandi punggung selalu saya guyur dengan air hangat melalui shower sekurangnya 10 menit sekali mandi, membuat tubuh merasa sangat segar seolah baru pulang dari Spa (yang belum pernah saya kunjungi…hehehe)…

Tinggal beberapa tahun di Amrik waktu sekolah dulu saya hanya sakit 2 kali, keduanya karena Flu. Tapi di Amrik ada enaknya, dengan membaca koran “USA Today” kita akan tahu bahwa hampir semua penduduk Amrik terkena flu waktu itu…. jadi kitapun jadi “ayem” karena hanya menjadi “korban musim pancaroba”. Kalau sakit perut sih sering, tapi dengan minum obat yang disebut “Peptobismol” dalam waktu singkat sudah sembuh tuh (rasanya seperti “Milanta” cair, bedanya Peptobismol warnanya pink). Demikian pula waktu tinggal beberapa bulan di sebuah hotel di Singapore, mungkin berkat shower berair panas juga saya jarang sakit. Cuman sakit sekali waktu bibir saya tiba-tiba “dower” karena kehabisan lip gloss (saya biasa pakai lip gloss rasa strawberry biar bibir kelihatan seksi, tapi suatu hari lip gloss-nya habis dan tiba-tiba mulutku “dower”. Hopo tumon ? But it happens, pal !)…

Tinggal di Jakarta di sebuah rumah bergaya antara Jawa, country, dan Floridian yang beratap rendah dan tanpa AC, di kamar saya tidak bisa tidur tanpa menyalakan kipas angin. Nah, mungkin angin semilir dari kipas angin itu yang membuat tubuh masuk angin dan merasa gereges-gereges….dan sayapun bilang ke diri saya sendiri “My body is not delicious !” (Saya tidak enak badan)…hehehe…

Saya sendiri memandang positif perasaan “merasa sehat” ini. Karena menghemat uang ke dokter, ke terapist, dan ke tukang pijat..

Sedang isteri saya dan anak kedua sering merasa dirinya sakit, jadi dikit-dikit mencari cara untuk mencoba : bekam, refleksi, dan semacamnya itu. Dan anehnya, setelah mengunjungi “tempat-tempat eksotis” semacam itu, isteri saya merasa sehat… !

Tapi saya patut bersyukur punya anggota keluarga yang sebenarnya relatif jarang sakit karena kami hidup secara nrimo, sak dermo nglakoni, dan enjoy aja ! Hidup mengalir seperti air…….

3 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Jan 08, 2009 @ 14:07:08

    Saya berdoa saat ini dan selanjutnya sama Gusti Allah swt jangan pernah sakit dulu. Lagi krisis, kan susah nanti kalo sakit…

    Uuuuhh…lebih baik sehat dulu Da ! Kesehatan itu harganya muahaaalll… makanya kalau kita sehat berarti kita diberi rizki yang berlimpah sama Allah swt..

    Reply

  2. edratna
    Jan 09, 2009 @ 18:46:44

    Semakin tua badan memang terasa tak sekuat dulu, kalau pulang bepergian mesti pake leye-leyeh dulu. Ya nggak apa-apa dinikmati aja.

    Kalau terasa masih capek dan pusing, bisa ke “Frans Pijit” atau mengundang Yu Tun, atau pak Nur (pijat refleksi, tapi udah lama nggak, karena setelah pensiun jarang pusing seperti dulu).
    Atau paling-paling kerokan, minum teh panas manis dan tiduuuur…..

    Kalau pusingnya sangat dan nggak ada yang ngeroki, saya pijit-pijit leher dan punggung sendiri terus minum parasetamol (Panadol biru, dulu di Amrik pakai Advil). Setelah tidur siang 1-2 jam biasanya badan jadi joss lagi…hehehe…

    Reply

  3. simbah
    Jan 10, 2009 @ 20:44:53

    Kulo nuwun, Punten…maning Dik Yon…he..he..
    Barusan minggir, habis njaring ikan….Ngomong-2 merasa sehat itu memang perlu, tapi harus sadar, bahwa kekuatan pisik ada batasnya…
    Saya dulu, selagi di Jkt kurun tahun 80-an, tiap pagi turun dari PPD yang masih melaju, selalu lompat dengan kaki kiri gak apa-apa….tapi tahun 2003 lalu saya lompat dari Sepur, betis sebelah kanan harus disusun ulang, karena patah mejadi 8 bagian dan tidak boleh kerja selama 6 bulan, alamak….nyesel kali….
    Tapy anyway, selain kecekaklakan itu ya bersyukur masih sehat-sehat saja, hanya harus rajin check-up karena cenderung dapat hyperkolesterol….
    Numpang lewat buat Uda Alris, balasan lewat japri sudah saya baca ‘Da’,…terimakasih saya masih mencari ‘sisik-melik’ siapa tahu bisa membantu….doakan saja….

    Simbah,
    Ba’a kaba ? Lah lamo nian tak basuo…? … 😉
    Barusan saya sudah check up di Lab deket rumah bayar 269 rb, gara-garanya drg tidak berani nyabut gigi saya tanpa saya check up dulu, takut gulanya tinggi katanya. Malahan saya harus ttd lebih dahulu sebelum dicabut giginya yang isinya “tanggung jawab atas pencabutan gigi di tangan saya”. Lha iyalah, mosok gigi-gigi saya sendiri kok yang tanggung jawab orang lain…hehehe…

    Hasilnya, kolesterol saya normal, ginjal normal, asam urat sedikit agak tinggi (musim hujan sulit olahraga sepedahan atau jalan-jalan), gula satu strip lebih tinggi (mungkin saya suka minum teh manis 2 gelas per hari full gulanya alias “nas-gi-tel”)..

    Selain itu, saya masih merasa normal dan sehat seperti anak 25 tahunan (ceileee…padahal sudah kebalik, 52 tahun !)..

    Sebenarnya kalau tubuh tua ini tidak digeber terus (contohnya, lompat dari sepur yang lari kencang…hehehe…) pastinya ya gpp. Dulu pernah kedua dengkul dan paha serta betis (woo..berarti seluruhnya) merasa nyeri bila dibawa berdiri waktu sembahyang, sehingga bagian tengah badan (yang ada itu tu nya) perlu dimajukan banyak agar tak terasa sakit.. Sudah ke dokter langganan gak manjur, katanya asam urat. Lalu saya buat olahraga aja sepedaan 30 menit sehari selepas maghrib (soalnya kalau pagi dan siang kan ngantor)… lalu diikuti sikap yoga sambil berdiri mepet tembok…eee…kok njur sembuh babar blas tanpa obat…ya syukur banget sih…

    Saya juga belum pakai kacamata, 5 tahun lalu mata kiri saya masih 0 sedang mata kanan -1.75 gak tau ya kalau sekarang, tapi dipakai mandang jauh mandang dekat masih ok walau melihat huruf yang kecil-kecil bila jarak dekat juga sudah sulit tapi kalau huruf agak gede masih ok sih…

    Pokoknya bersyukur banget atas karunia kesehatan dariNya. Karena ternyata sehat itu adalah harta yang terindah. Dengan sehat kita bisa melakukan apa saja (lho…emang mau apa tho ?)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: