Bulan dana PMI

Robekan karcis sumbangan Bulan Dana PMI 2008

Robekan karcis sumbangan Bulan Dana PMI 2008

Sobekan karcis Bulan Dana PMI 2008 di atas mengingatkan saya akan sticker kecil berwarna putih sebesar uang logam Rp 100 bergambar palang merah yang dilekatkan ke tangan saya oleh dua orang gadis kecil berseragam sekolah di bawah turunan eskalator stasiun MRT Clementi di Singapore sekitar 17 tahun yang lalu…

Ceritanya Sabtu pagi kemarin saya sedang mengisi bensin di sebuah SPBU di Jakarta. Sambil bensin diisi datanglah seorang mbak bercelana panjang hitam dan berbaju jeans biru dengan sticker PMI menempel di dada.

“Pak, mau menyumbang PMI pak ?”, tanya si mbak ramah..

Sayapun otomatis merogoh dompet dan mengangsurkan uang Rp 5.000 ke si mbak. Dan si mbak sambil tetap tersenyum menyobek beberapa karcis dengan agak susah payah dan setelah selesai memberikan sobekan karcis ke saya.. Dan sayapun menghitung jumlah sobekan karcis itu agak keras, “Satu..dua..tiga…Lho kok cuman Rp 3000 mbak ? Saya mbayarnya kan Rp 5000 ?”, tanya saya..

“Sebentar pak, menyobek kan tidak bisa beberapa halaman sekaligus harus sedikit demi sedikit”, kata si mbak sambil berusaha menyobek 2 lembar karcis lagi..Sayapun merasakan adanya keanehan pertama..

Sambil mobil jalan, saya memperhatikan sobekan karcis PMI yang diberikan kepada saya. Di situ (gambar atas) tertera tulisan “Bulan Dana PMI Jaksel Tahun 2008”. Sayapun merasakan keanehan kedua, karena ini sudah Tahun 2009 (10 Januari 2009)..

Dan kalau dirunut lagi, yang disebut “Bulan Dana PMI” adalah di setiap bulan Juni setiap tahunnya. Sayapun lebih memelototi robekan karcis PMI tadi yang ternyata Surat Keputusan Gub DKI Jakarta tentang “Bulan Dana PMI” yang mestinya di setiap bulan Juni itu baru keluar tanggal 15 Agustus 2008 (keanehan ketiga !).

Dan ada keanehan keempat, yaitu baru 1 bulan kemudian yaitu tanggal 17 September 2008 karcis bulan dana PMI tadi ditandatangani oleh Panitia Bulan Dana PMI 2008 Jaksel..

Sebagai blogger saya menyumbang dengan sukarela dan sepenuh hati serta ikhlas. Tapi bukti sumbangan saya ternyata menyimpan 4 macam keanehan. Seingat saya beberapa bulan yang lalu ketika saya menyumbang Bulan Dana PMI di Bandara Soekarno-Hatta (yang notabene wilayah Kabupaten Tangerang, Propinsi Banten) itu benar-benar bulan Juni dan petugasnya di Bandara juga memberi jumlah karcis sesuai dengan jumlah sumbangan kita, tanpa lebih tanpa kurang..

Mengingat Bulan Dana PMI adalah di bulan Juni setiap tahun, mestinya PMI wilayah mengajukan ke Gubernurnya bulan Januari, katakanlah disetujui Gubernur bulan Februari, dan bulan Maret Panitia lokal Bulan Dana PMI sudah mencetak karcis yang 2 bulan kemudian akan dipakai beneran untuk Bulan Dana PMI di bulan Juni..

Dan daripada mengajak tenaga seperti si mbak tadi yang usianya sudah agak sepuh (sekitar 25 tahunan), mendingan mendayagunakan pelajar SMP dan SMA yang lebih fresh dan bertindak lebih profesional dan tulus. Untuk itu, bisa direkrut siswa-siswi SMP dan SMA yang ekskulnya Palang Merah Remaja ataupun Pramuka yang memang berjiwa sosial, mengabdi kepada nusa, bangsa dan negara..

Sayapun ingat kembali peristiwa 17 tahun yang lalu ketika sepasang gadis kecil dengan seragam sekolah warna abu-abu menawarkan menerima donasi untuk Singapore Red Cross dengan dua kaleng kecilnya. Berapapun uang yang kita berikan (kalau nggak salah saya juga menyumbang Sin $ 5) akan ditukar dengan sebuah stiker kecil berwarna dasar putih dengan gambar Palang Merah dengan tulisan “Thank You for your donation – Singapore Red Cross”..

Dan kitapun sebagai donatur akan merasa uang itu akan mengalir ke Singapore Red Cross tanpa kurang dan tanpa lebih, yang pada akhirnya bisa digunakan untuk membeli keperluan mendesak seperti darah, alat-alat kesehatan, mobil Palang Merah, dan sebagainya..

(FYI, saya sering lewat Gedung PMI Pusat di bilangan Pancoran dengan jalan kaki. Ternyata di sana banyak mobil-mobil SUV mewah berwarna putih seperti Nissan X-Trail, Honda CRV, serta light truck seperti Ford Ranger..dan air liur sayapun menetes..”mupeng” alias “muka pengin”…)..

Sudahkan anda menyumbang PMI ?

15 Comments (+add yours?)

  1. mascayo
    Jan 11, 2009 @ 06:32:48

    yang terakhir lewat depan Gedung PMI Pusat dan melihat banyak mobil mewah jadi keanehan kelima nggak pak? HUsh! Suudzon ya ..
    salam kenal pak

    Mas Cayo,
    Salam kenal juga mas… πŸ˜‰

    Nggak suudzon kok mas, cuman terus terang saya heran di tempat yang mestinya untuk kegiatan “full” sosial ini ternyata di kantornya banyak diparkir mobil-mobil warna putih PMI dengan kategori lux alias mewah untuk ukuran Indonesia lho…

    Mungkin mobil lux tersebut diterima waktu Aceh terkena tsunami dan donasi dari seluruh dunia tumpah ruah ke Indonesia..

    Mungkin juga donasi tersebut dalam bentuk barang, misalnya Nissan Indonesia menyumbang beberapa Nissan SUV ke PMI di seluruh Indonesia..

    Maksud saya, mau dong saya bekerja di PMI toh saya dulu ikut Palang Merah Remaja, dengan syarat membawa Nissan SUV…gitu lho mas…

    (Eh kok jadi saya yang nganeh-anehi…)…

    Reply

  2. Luigi Pralangga
    Jan 11, 2009 @ 07:28:58

    Nampaknya PMI mesti kerja keras untuk memperbaiki citra-publiknya nih.. lebihsering mendengar orang cerita susah dandipersulit cari darah ketimbang sisi positifnya mudah2anitu bukan yang sebenernya..

    Kang Luigi,
    Justru itu maksud saya…. πŸ˜‰
    Mestinya atau penginnya kita punya PMI yang profesional, transparan, dan melakukan aktivitas sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya yaitu pelayanan masyarakat di bidang kesehatan…

    Termasuk, penggalangan dana itu mestinya dilakukan dengan elegan dan dapat disetorkan ke kas PMI semaksimal mungkin..

    Jangan ada kesan, kita mau menyumbangpun dipersulit..Sudah waktunya lembaga sosial sepenting PMI ini bekerja sama dengan perusahaan telpon seluler sehingga sumbangan kita bisa dikirim via sms misalnya mengetik PEDULI PMI lalu dikirim ke 7506….

    Jadi di sana point saya…

    Reply

  3. TOTOK
    Jan 11, 2009 @ 09:18:52

    Wah, masak gitu aja kaget. Sudah biasalah. Jangankan untuk urusan ”nyawa” manusia, untuknya urusan Tuhan saja ”maaf” ada yang sulit diaudit.

    Coba lihat, ”sekali lagi maaf” atas nama keagaaan untuk bangun tempat ibadah, etc…etc. Mereka bawa mobil dan beberapa anak buah, ”pusing-pusing” di kampung-kampung dan pasar. Duitnya nglumpuk cak, tapi apa bisa diaudit ????. Sopo sing percoyo, kalau duit yang kita cemplungno nang kaleng bekas minuman amerika itu sampai 100 persen ke tempatnya.

    Dan itu sudah marak di Indonesia. Ntar kalau kita kritik, katanya nggak agamis lah dan tetek bengeknya. Tapi mereka sendiri, dengan cara semacam itu, sangatlah berpeluang untuk ”kurang dipercaya”. Apalagi tempat ibadah yang mau dibangun itu, nun jauh di pelosok desa yang namanya nggak masuk di peta.

    Memang kita nggak nggebyah uyah, pasti di antara yang jelek, ada yang baik juga. Tapi mestinya untuk urusan begitu, semakin jalannya bisa dipercaya, pasti hasilnya bisa lebih banyak dan barokah, karena tidak diembel-embeli mengerenyitkan dahi bagi penymbangnya.

    Maaf cak, aku banyak pakai tanda petik, soalnya ini kan masalah rawan. Kalau rawan pangan masih bisa diakali makan bonggol pisang, tapi kalau sudah rawan yang ini,…..capek deh.

    Nah, dari pada mupeng, mending mubeng saja alias puter-puter pakai stempel dan surat bikinan atas nama yayasan yang membantu orang kaya biar lebih kaya he….he.

    Cak Totok,
    Itu pernah ditulis di suatu koran Jakarta, bahwa kotak sumbangan yang berwarna hijau dan biasanya ditariknya di angkot-angkot itu memang benar disumbangkan ke asalnya sana, tapi katanya jumlahnya cuman 30% nya. Yang 70% nya untuk operasional yang cari sumbangan (mestinya 20% : 80% masih masuk akal)..

    Tapi jaman sekarang, ada beberapa situs web yang sudah transparan untuk urusan menyumbang untuk keagamaan. Saya nggak mau nyebutkan nanti dikira iklan..

    Jaman sekarang menyumbang dana juga bisa pakai sms saja, misalnya sumbangan untuk Palestina bisa di-sms dari hp kita MERC PEDULI dan dikirim ke 7505, biayanya Rp 6.600 per sms. Kalau tidak salah, 2 hari setelah banyak sms masuk Laporan Keuangannya sudah dimuat di koran Republika (mudah-mudahan beredar sampai Madiun koran ini)…

    Memang ini masalah rawan, tapi untuk kaum yang tinggal di kota besar (sorry ya, Madiun tidak termasuk kota besar πŸ˜‰ ) kita sudah tahu kalau mau nyumbang tempatnya dimana. Dan mudah-mudahan sumbangan itu bisa diterima sama yang berhak menerima…

    Reply

  4. alris
    Jan 11, 2009 @ 14:11:19

    Kayaknya karcis itu udah kaluwarsa, bisa jadi ada oknum memanfaatkannya untuk memperkaya diri sendiri dan komplotannya. Orang kita “kreatif” nya untuk hal-hal begituan tiada duanya. Kepada yth pengurus PMI tolong dong ntuh karcis dihancurin kalo masa beredarnya udah liwat. Jangan banyakan pamerin mobil mewah doang di kantor pusat PMI, mentang-mentang mantan pejabat dan pengusaha. Tapi salute juga buat beliau yang mau suasah-susah ngurus orang gak mampu.
    Horeeee, pak Totok nongol lagi. Sibuk ,ya pak.

    Uda Alris,
    Saya duga memang sudah kadaluwarsa, karena judul karcisnya aja “Bulan Dana PMI 2008” masak masih diedarin di 2009 ini. Ponakan saya yang kecil aja juga tahu itu sudah kadaluwarsa..

    Mohon pejabat PMI segera mengganti dengan karcis “Bulan Dana PMI 2009” biar lebih afdol nyumbangnya…

    Reply

  5. TOTOK
    Jan 11, 2009 @ 21:29:06

    Yes, 80 persen operasional okelah, ongkos jalan-jalan.

    Republika nyampek madiun tapi gak banyak. Memang zaman modern, semua bisa dilakukan, termasuk sumbangan. Aku dulu, waktu isih duwe luwihan titik, tak lewatno rumah zakat. Soale laporane dilewatno majalahe.

    Sampek saiki aku selalu dikirimi email, padahal aku wis suwe gak duwe luwihan he…he.

    Cak Totok,
    Lha aku ikutan nyumbang itu kan dengan pertimbangan sebagian penghasilan kita itu milik orang yang membutuhkan. Eh nggak tahunya mau nyumbang malahan nadanya sumbang…hehehe…

    Reply

  6. edratna
    Jan 13, 2009 @ 08:53:03

    Mungkin karena sisa karcis masih banyak, digunakan lagi. Tapi benar juga, yang paling aktif saya lihat di stasiun KA atau di Bandara, belum pernah lihat ditempat lain. Padahal saya kira, orang mau lho menyumbang untuk PMI.

    Sayangnya saya tak pernah menyumbang darah langsung. lha kalau jadi donor ditolak terus….

    Kenapa donor ditolak ? Darah rendah ? Kalau saya awalnya darah rendah tapi sekarang cenderung normal atau tinggi yang paling rendah (maksimal 140/90)..

    Ya, mungkin sudah wancinya PMI mengambil cara-cara lain untuk menggalang dana masyarakat, yang paling mungkin sih lewat sms misalnya sekali sms bayar Rp 5.000 pasti akan banyak orang yang mau nyumbang…

    Daripada duwit segitu untuk membeli sms Primbon, kan mending untuk nyumbang PMI karena berarti peduli dengan orang banyak….

    Dibanding di luar negeri, PMI kurang greget dalam menggalang dana, makanya katanya dananya tekor terus…

    Reply

  7. totok
    Jan 13, 2009 @ 15:00:12

    Yo wis ketimbang nadanya sumbang, mending nyumbang tulisan nang koranku. Untuk edisi ini, hari ini tadi cetak, engko tak kirim bukti pemuatan, ojo lali untuk edisi berikutnya he….he….

    Yok opo blogku kok ora enek kabare, opo isih ngadat.

    Cak Totok,
    Iyo wis, mengko korane kirimen wae neng alamatku. Tak tunggu yo… Sementara iku tulisan tentang IT isih dak siapno. Yen perlu, kon pengin dicritani opo bab IT iku ?

    Blogmu wis dak setel-setel, tapi dasar tampilan menu WordPress saiki bedo karo sing biyen (berubah sejak sebulan yang lalu) aku rodo nunak-nunuk nggawene. Tapi yen sampeyan arep ngecek wis tekan sak piro, jenenge http://dimensi-madiun.wordpress.com/ yen ora salah lho yo…

    Arep dibenakno, Speedy neng omah akeh byar pet terus. Kuenceeenge paling isuk uthuk-uthuk (tapi aku rak arep ngantor) utowo bengi ngi ngi ngi (tapi aku rak wis ngantuk)…Jakarta saiki udan terus, mulo ben mbengi aku nyuci mobil dadine tekan omah yo wis rodo kesel, ditambahi nyuci mobil meneh..

    Tapi pelan-pelan ae cak, mengko tak garape (tapi ora janji, bulan Januari iki kegiatan kantor, kampus lan ngomah menggila bener-bener tai laler enak seger kae lho…)…hehehe..

    Reply

  8. TOTOK
    Jan 15, 2009 @ 09:03:55

    Lha sampean sing pakar IT saja nunak-nunuk, apalagi saya, pasti kari nunuke thok, he…he….

    Nah, soal tulisan, pokoke sing cocok gae arek SMA, bukan versi aku. Merekalah yang butuh informasi seputar itu. Perkembangan jagad maya yo boleh, lha thema sing sampean usulkan kae lak yo iso cak. Trus juga pengetahuan ringan-ringan tentang IT.

    Nah, soal blog gak masalah, alon-alon waton kelakon. Ok makasih engko blog-ku tak bukake he…he

    Cak Totok,
    Oke…mengko tak gawekno tulisan mengenai IT yo… Saiki isik mikir-mikir opo sing apik dienggo bahan tulisan…utamanya pengetahuan “ringan” dan “informatif” misalnya 1. Cara buat Blog 2. Cara search informasi di internet 3. Situs-situs sosialisasi sosialita, dsb dsb…

    Reply

  9. Resi Bismo
    Jan 15, 2009 @ 11:22:38

    Saya nyumbang PMI pernah, tapi bukan duit, melainkan darah, sebenarnya sih bukan nyumbang tapi barter karena bokap waktu itu butuh darah sehingga saya minta teman2 agar dapat menyumbangkan darahnya (nyulik heheh) setelah terkumpul 5 orang termasuk saya, baru deh saya bisa ambil 5 kantung darah dari PMI itu loh yang di matraman.

    Mas Resi,
    Saya baru 2 kali ikut nyumbang darah ke PMI, yang pertama di lingkungan RW saya (waktu jelang 17 Agustusan) dan yang kedua di Kampus (kalau nggak salah setiap bulan Juni ada donor darah di kampus)…

    Idealnya sih 3 bulan sekali nyumbang darah, karena habis nyumbang darah badan jadi enteng karena darah kita yang sudah “kental” (ibarat oli) diganti dengan darah segar, walau cuman 350 cc doang. Sayang kesempatan nyumbang darah belum ada lagi. Ini udah 6 bulan saya belum donor darah lagi…

    Di Jerman-pun seingat saya PMJ (Palang Merah Jerman) pernah nggalang dana berupa duwit, bukankah yang ada stickernya “Gelt fur ihre Kinder” (eh..bener nggak ya, tapi saya pernah lihat tuh…)…

    Reply

  10. Hendra
    Jan 16, 2009 @ 03:25:23

    Yah… kalo mobil2 mewah itu mungkin mereka ke PMI jg ingin menumbang atau mendonorkan darah juga pak. Atau bisa jadi juga mereka lagi mencari darah segar buat di minum… hehehe…

    Di theatre 21 jg ada tiket PMI, setiap pembelian 1 tiket kita seperti di wajibkan untuk menambah uang 1000 untuk dana amal PMI. Saya juga pernah belanja di Circle K, itu kalo ga salah pas bulan semptember 2008. Saat pembayaran juga diminta untuk amal PMI. Saya pikir sih, ya it’s ok lah. masih ada yg mengingatkan kita untuk berbuat baik.

    Yah kita ambil sisi positif nya aja, toh yang penting kita menyumbang dengan ikhlas dan tulus. Dan masalah nanti itu uang nya mau di apain yah itu urusan orang tersebut dengan Tuhan. Kalo misalnya dipake untuk sesuatu yg benar ya syukur, dan diharapkan sih begitu.

    Hendra,
    Mobil-mobil mewah itu adalah mobil dinas pejabat PMI, mungkin hasil sumbangan dana internasional atau sumbangan langsung dari pabrik mobilnya…. πŸ˜‰

    Niat menyumbang sih baik, dan tetap ada. Iya, kapan itu di Indomaret kalau ada kembalian lebih dari Rp 1000, mbak kasir bakal nanya..pak ini mau nyumbang PMI atau nggak ? Saya bilang…mau !

    Tapi yang saya permasalahkan, saya membayar Rp 5000 tapi hanya diberi tiket Rp 3000. Menurut saya banyak sisi negatifnya di situ (walau awalnya menyumbang itu niat baik), yaitu : 1. Si mbak menganggap saya tidak bisa menghitung 2. Si mbak sengaja cheating. Pada akhirnya, ada rasa bete dalam menyumbang, padahal menyumbang apalagi untuk keperluan sosial mestinya dipenuhi rasa ikhlas dan sukarela…

    Jadi pointnya, sebaiknya PMI kalau mau bener-bener merekrut orang untuk mencari sumbangan harus dilakukan dengan hati-hati dan melihat track record orang tersebut. Hal lainnya, kalau ada tulisan “Bulan dana PMI 2008” ya mestinya jangan digunakan di tahun 2009..

    Bukankah begitu ?

    Reply

  11. tutinonka
    Jan 17, 2009 @ 20:06:11

    Pak Tri, apa kabar? Mudah-mudahan Jakarta nggak banjir ya (paling nggak, banjirnya nggak sampai ke tempat Pak Tri biasa jalan … )

    Tentang sumbangan PMI, saya juga pernah mengalami hal serupa di Bandara Sukarno Hatta, kalau nggak salah untuk yayasan penyakit jantung. Harga sumbangan Rp. 2.500,- per lembar, saya memberikan uang Rp. 15.000,-. Eh … lha kok cuma dikasih 4 lembar resi. Saya langsung protes, dan baru digenapi jadi 6. Wah … kejadian itu membuat saya kecewa, dan kapok nyumbang di tempat-tempat seperti itu (agak suudzon juga sih jadinya … ).

    Pak, ini out of the topic. Pak Tri kan penggemar lagu “The Bridge Over Troubled Water”. Menurut Pak Tri, pesan yang ingin disampaikan dalam lirik lagu itu apa?

    Untuk Pak Totok, hallo Pak … kok lama nggak mampir ke blog saya? Oh ya, kiriman korannya belum saya terima lho Pak sampai sekarang …

    Bu Tuti,
    Hallo Bu gimana kabar Yogya.. πŸ˜‰
    Jakarta Januari ini belum banjir Bu, banjirnya justru sudah tanggal 20 Desember kemarin ini. Jadi agak mengejutkan karena kita semua nggak nyangka banjir seawal itu. Yang di rumah cuman isteri saya, jadi sambil nelpon dengan nada panik gitu…(soalnya istri saya belum tahu trick and treat bagaimana supaya air nggak masuk rumah, soalnya setahun terakhir ini tinggal di Malang)…

    Mau suudzon nggak suudzon Bu, menyumbang PMI di tempat itu (non sekolah, non toko) agak kecewa karena diberi tiket yang kurang dari semestinya..

    Arti “Bridge over Troubled Water” itu ya artinya ada pertolongan atau jembatan atau solusi atas permasalahan yang kita sedang hadapi, gitu lho Bu. Kalau kasus saya dulu, IPK (GPA) saya di bawah 3.00 padahal saya mahasiswa Graduate, jadi terkena surat cinta (probation letter) dari kampus yang bilang kalau di akhir semester ini GPA kurang dari 3.00 akan dikeluarkan dari kampus… Walah…kan sereeem, tapi begitu denger Simon & Garfunkel menyanyikan “Bridge over Troubled Water” hati saya jadi tenang (coba Ibu lihat di Google, masukkan string “You Tube Bridge over Troubled Water Simon Garfunkel” pasti ketemu video mereka lagi konser di Hyde Park, New York. Baguuuus sekali…

    Pak Totok lagi semedi di Madiun Bu, mungkin lagi sibuk dikejar deadline…

    Reply

  12. alris
    Jan 21, 2009 @ 04:55:02

    Berarti saya wajib denger lagu β€œThe Bridge Over Troubled Water” itu ya. pak. Biar dapat pencerahan gitu.

    Uda Alris,
    Saya saran sih Uda ndengerin “Bridge over Troubled Water”-nya Simon & Garfunkel, sayang kaset atau CD-nya sulit didapat di Indonesia, tapi mungkin MP3-nya atau videonya sih bisa diunduh di internet. Selain “Bridge over Troubled Water” saya dulu juga ikut “ditenangkan” pikiran saya kalau mendengarkan lagu “Superman”-nya Barbra Streisand karena dengan mendengarkan lagu itu seolah saya menjadi superman dan bisa terbang (kalau bisa terbang, berarti bisa melakukan apa saja)..

    Tapi lagu satu bisa cocok dengan seseorang untuk dapat “pencerahan”, tapi tidak cocok untuk orang yang lainnya. Ada teman anak saya yang kerja di perush minyak yang ditempatkan di salah satu negara Eropa, kalau dia kesulitan supaya dapat “pencerahan” dia malah nyanyi lagunya Agnes Monica “Tiada Logika” dan tiba-tiba kesulitannya jadi terselesaikan…

    Pointnya, Uda harus nyoba beberapa lagu sampai nemu salah satu yang cocok untuk dapat ketenangan dan pencerahan. Kalau saya jadi Uda, saya akan mendengarkan lagunya Ernie Johan “Telur Bayur” atau “Senja di Batas Kota” tapi harus lagu aslinya bukan remake dengan organ tunggal. Atau beberapa lagu Elly Kasim atau Diah Iskandar jaman dulu banyak yang bisa menenangkan pikiran dan mendatangkan pencerahan, saya kira…

    Reply

  13. alris
    Jan 21, 2009 @ 17:11:11

    Akan saya coba, Pak Tri. Semoga ketemu lagu yang mencerahkan buat saya.
    Saya suka lagu-lagu yang agak beda, yaitu lagu dari : Nirvana, Green Day, Queen, Rolling Stones, Deep Purple, Led Zeppelin -tapi gak ada sarupun yang hapal- Kalo lagu dalam negeri saya suka semua jenis musik, kecuali seriosa. Kalo lagu seriosa bikin bulu kuduk saya merinding, kayak lagu kematian (maaf buat pemusik dan penikmat lagu seriosa)…

    Reply

  14. simbah
    Feb 02, 2009 @ 05:36:56

    Dik Yon & Totok,…masih berlangganan majalah boso Jowo, PS? Panjebar Semangat..? di edisi bulan Januari 2009 halaman pertama terpampang photo Cak To, dengan latar belakang Honda CRV dan ada keterangan photo, bahwa Cak To dibesarkan dalam linkungan Pengemis, dari anak-2 hingga dewasa. Setelah dewasa dia sebagai Boss-nya pengemis, kekayaanya, masih menurut keterangan tadi, beberapa Rumah mewah, empat sepeda motor bebek dan satu Honda CRV tadi….nek bener..
    Lah,….kok iso….? Tuwekku sakmene, ngerti enek wong ngemis sugihe ngungkuli Lurah… wah ndonyo wis tuwo yo….??

    Simbah,
    Wah…wis suwe aku ora moco Panyebar Semangat ki je… πŸ˜‰
    Memang di Jakarta saya nemu pengemis wanita yang sudah mengemis sejak saya masuk BPPT tahun 1980. Orangnya berpindah-pindah “tempat kerja” alias lampu merah, tapi masih di bilangan Thamrin-Sudirman. Bajunya lusuh, tapi suatu hari saya ketemu ia lagi santai dengan keluarganya dengan baju keluaran butik ! (minimal ex Matahari lah…)..

    Konon Pak Ogah di Jakarta hanya bekerja 5 jam sehari penghasilannya sudah sekitar Rp 30.000 – Rp 50.000 per orang, jauh melebihi gaji PNS golongan I dan II, apalagi guru matematika honorer di sebuah SMA negeri yang penghasilannya hanya Rp 300.000 per bulan !!

    Ironis, dunia memang sudah tua. Tapi yang jelas, bener kata Ronggowarsito…”Saiki wis jaman edan, yen ora melu edan ora keduman !!!”…

    Tapi kapan-kapan aku cari majalah PS itu, mungkin ada di stasiun Gambir ngkali…

    Reply

  15. simbah
    Feb 02, 2009 @ 20:55:05

    Iyo, dik Yon,…aku langganan majalah PS. Awit wektu kuwi rumongso kangen karo suasana Jowo, kira-2 pas sik neng Makassar biyen, dadi yo tak terusne bae…nganti saiki, tapi bareng aku bali maneh neng mBediyun, aku dadi rodo cuwo, awit rupane wong mediyun kuwi asline sogol, coro lan patrape rodo ngisinake, yen tak bandingake karo priyayi Ngayogyokarto hadiningrat ugo karo piyayi Suroboyo, malah rumangsaku perasaane sik alus wong Suroboyo, aku dadi mbatin woo….aku ki rupane keturunane wong sing ngisin-isinke….
    Wektu mentas pindah mBediyun kae, anakku nate protes, kok isih sopan wong perantuan sing ono Jakarta ya…pak…? Wah embuh lah nak…mungkin jamane wis bedo….

    Simbah,
    Mungkin kuwi sing dijenengake “jaman edan” karo Ronggowarsito mas. Jaman edan alias jaman hedonis, yen ora melu edan ora kumanan. Cobak perhatekno perkembangan mBediyun 10 tahun terakhir, kutone wis semangkin maju ning angger-angger utowo pusat kebudayaan mBediyun wing ilang keno jaman edane pembangunan. Contone sing paling gampang, gedung bioskop Lawu sing arsitekture Art Deco kuwi mestine yo dilestarekno lan diperbaiki, mau dibikin gedung bioskop, mal utowo sing liyane sumonggo kerso ning bentuke ojo diubah. Ning opo sing terjadi ? Dadi mal sing podho wae karo neng kutho liyane….

    Biyen koncoku wong Yogya sing nate melu mas-e liburan neng mBediyun (mas-e pilot AURI) kuwi terkesan banget karo mBediyun soale isih menghargai kebudayaan, justru melebihi wong Yogya. Contone isih ono wong gambyongan, siteran, kendangan biyen neng sak wetane SMA 1 mBediyun neng ngisore wit waru. Terus anak muda mBediyun-e isih iso meng-apresiasi seni Jawa… Saiki wit waru wis ditegor, terus sekelompok penyanyi siter mau neng ngendi parane. Yo embuh… Malah sing tak delok, anak-anak muda nari breakdance neng pelatarane mal ex bioskop Lawu…

    Yogya isih bersifat mistis lan magis, cocok kanggo pusat kebudayaan Jowo. Isih akeh gedung-gedung bersejarah, sepintas terkesan kumuh. Ning coba njenengan numpak becak jam 12 wengi keliling Yogya, wah….gedung kumuh mau malah terkesan “sangat berwibawa”. Turis ngin-telek-tual (artine “penuh telek”) koyo aku ki njur terkesan banget karo kutho Yogya nek ngono carane. Lha kok nasibe ora iso mlebu UGM ing tahun 1976 biyen (anakku sing cilik yo mbatalke mlebu Kimia UGM lan lebih memilih Geofisika ITB, dadine kesempatanku meng-Yogya-kan diri dadi terbatas…hehee)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: