Masih untung, saya….

Sebagai orang Jawa, saya selalu beruntung karena orang Jawa konon kabarnya selalu beruntung yang dicirikan dengan kata-kata “Masih untung, saya…..”

Misalnya di cerita ketoprak atau wayang kulit, ada peperangan antara dua tokoh protagonis (tokoh baik) dengan tokoh antagonis (tokoh jahat) dan misalnya si tokoh baik bisa menewaskan tokoh jahat, tapi tak ayal si tokoh baik juga kena panah matanya yang sebelah kiri. Maka, kepada temannya tokoh baik ini akan bilang “Masih untung saya kehilangan hanya satu mata, sehingga mata saya masih satu. Lha coba saya kehilangan dua mata semuanya…rak kojur….nggak bisa lagi lihat wanita yang cantik-cantik…”

Jadi karena terlalu banyak nonton ketoprak atau wayang kulit semasa kecil dulu, saya sampai saat ini masih merasa beruntung sebagai orang (Jawa). Khususnya dalam pekerjaan saya sebagai dosen di universitas tempat saya mengajar sekarang..

Mengapa ?

Lha konon kabarnya, hanya ada 2 bisnis di dunia ini – terutama di Indonesia yang padat penduduknya – yang selalu jalan terus nggak peduli ekonomi krisis atau tidak. Pertama, yaitu bisnis Rumah Sakit Bersalin…karena krisis ataupun tidak si jabang bayi pasti pengin lahir ke dunia nggak peduli orangtuanya kena krisis atau tidak. Kedua, yaitu bisnis Sekolah macam Universitas tempat saya ngajar sekarang soalnya krisis atau tidak, si Upik harus tetap pergi ke sekolah – begitu konon bunyi sebuah iklan…

(Bagi yang sering nonton acara Kuliner-nya Pak Bondan atau Pak William Wongso pasti berargumen….Ketiga, bisnis Restoran – karena krisis atau tidak orang masih perlu makan kecuali kalau pengin kelaparan…hehe…boleh juga tuh..)…

Untung saya tinggal di Indonesia, dan untung saya sebagai dosen, jadi krisis atau tidak Insya Allah saya masih bekerja karena di krisis 1998 dulupun saya masih tetap bekerja…

Tapi coba perhatikan kalau anda tinggal di negara Paman Sam, sebuah perusahaan sekelas Microsoft-pun sudah bersiap-siap merumahkan sekitar 5,000 pegawainya dalam waktu dekat…

Ini beritanya, yang saya kutip dari sumber : http://blogs.zdnet.com/microsoft?/?p=1833&tag=nl.e589

“From: Steve Ballmer
Sent: Thursday, January 22, 2009 6:07 AM
To: Microsoft – All Employees (QBDG)
Subject: Realigning Resources and Reducing Costs

In response to the realities of a deteriorating economy, we’re taking important steps to realign Microsoft’s business. I want to tell you about what we’re doing and why.

Today we announced second quarter revenue of $16.6 billion. This number is an increase of just 2 percent compared with the second quarter of last year and it is approximately $900 million below our earlier expectations.

The fact that we are growing at all during the worst recession in two generations reflects our strong business fundamentals and is a testament to your hard work. Our products provide great value to our customers. Our financial position is solid. We have made long-term investments that continue to pay off.

But it is also clear that we are not immune to the effects of the economy. Consumers and businesses have reined in spending, which is affecting PC shipments and IT expenditures.

Our response to this environment must combine a commitment to long-term investments in innovation with prompt action to reduce our costs.

During the second quarter we started down the right path. As the economy deteriorated, we acted quickly. As a result, we reduced operating expenses during the quarter by $600 million. I appreciate the agility you have shown in enabling us to achieve this result.

Now we need to do more. We must make adjustments to ensure that our investments are tightly aligned with current and future revenue opportunities. The current environment requires that we continue to increase our efficiency.

As part of the process of adjustments, we will eliminate up to 5,000 positions in R&D, marketing, sales, finance, LCA, HR, and IT over the next 18 months, of which 1,400 will occur today. We’ll also open new positions to support key investment areas during this same period of time. Our net headcount in these functions will decline by 2,000 to 3,000 over the next 18 months. In addition, our workforce in support, consulting, operations, billing, manufacturing, and data center operations will continue to change in direct response to customer needs.

Our leaders all have specific goals to manage costs prudently and thoughtfully. They have the flexibility to adjust the size of their teams so they are appropriately matched to revenue potential, to add headcount where they need to increase investments in order to ensure future success, and to drive efficiency.

To increase efficiency, we’re taking a series of aggressive steps. We’ll cut travel expenditures 20 percent and make significant reductions in spending on vendors and contingent staff. We’ve scaled back Puget Sound campus expansion and reduced marketing budgets. We’ll also reduce costs by eliminating merit increases for FY10 that would have taken effect in September of this calendar year.

Each of these steps will be difficult. Our priority remains doing right by our customers and our employees. For employees who are directly affected, I know this will be a difficult time for you and I want to assure you that we will provide help and support during this transition. We have established an outplacement center in the Puget Sound region and we’ll provide outplacement services in many other locations to help you find new jobs. Some of you may find jobs internally. For those who don’t, we will also offer severance pay and other benefits.

The decision to eliminate jobs is a very difficult one. Our people are the foundation of everything we have achieved and we place the highest value on the commitment and hard work that you have dedicated to building this company. But we believe these job eliminations are crucial to our ability to adjust the company’s cost structure so that we have the resources to drive future profitable growth. I encourage you to attend tomorrow’s Town Hall at 9am PST in Café 34 or watch the webcast.

While this is the most challenging economic climate we have ever faced, I want to reiterate my confidence in the strength of our competitive position and soundness of our approach.

With these changes in place, I feel confident that we will have the resources we need to continue to invest in long-term computing trends that offer the greatest opportunity to deliver value to our customers and shareholders, benefit to society, and growth for Microsoft.

With our approach to investing for the long term and managing our expenses, I know Microsoft will emerge an even stronger industry leader than it is today.

Thank you for your continued commitment and hard work.

Steve”

12 Comments (+add yours?)

  1. alris
    Jan 23, 2009 @ 11:16:58

    Yang ke empat bisnis transportasi. Mau hujan petir, angin puting beliung yang namanya angkutan jalan terus karena orang perlukan untuk berangkat kerja. Liat aja jumlah ojeg, taksi dan angkot di Jakarta nambar terus. Dan yang kelima bisnis perumahan dan sejenisnya. Jumlah penduduk nambah terus pasti membutuhkan tempat tinggal yang tidak sedikit. Bahkan satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu rumah. Ada rumah tempat tinggal, ada rumah buat leha-leha, ada rumah buat kongkow-kongkow. Bahkan ada rumah buat nyimpan WIL/PIL, uuueedan tenan. Yang ke enam bisnis consumer googds…..
    Wah, ternyata banyak bisnis yang bisa berjalan terus. Ayo, berbisnis…

    Uda Alris,
    Wah..kayaknya anda orang Minangkabau 1000%, sampai bisnis sekecil-kecilnyapun “bisa dilihat”…hehehe… 😉

    Ayo dong Uda, mari mulai berbisnis. Yang penting adalah satu lembar catatan “Business Plan” tentang suatu bisnis yang akan dimulai. Konon, kalau kita pinter ngomongnya, di luar sana banyak orang kaya kelebihan duwit yang mau nanam modal kalau Business Plan kita sudah bener-bener seperti buatan anak-anak MBA Harvard….

    Reply

  2. adhiguna
    Jan 23, 2009 @ 14:54:15

    Saya tambahin satu lagi, sektor olahraga. Semakin banyak orang stress, semakin banyak yang melarikan diri ke gym.

    Betul pak Tri dan mas Alris, di sektor banking, high tech dan manufacture sudah mulai lesu dan banyak lay off.

    Setelah GM, Motorola, sekarang Microsoft.

    termasuk Perusahaan saya pun sekarang (multinational manufacture industry) mengurangi produksi dan training-training ke luar negeri, juga berbagai fasilitas.

    Untungnya di Perancis karyawan lebih dilindungi pemerintah daripada di US atau Indonesia sehingga PHK tidak gede-gedean seperti disana. Solusinya adalah biasanya pengurangan produksi, sehingga penghasilan karyawan berkurang.

    Saya berpikir wis lulus engineering PhD mau belajar bikin roti di Perancis terus bikin toko roti aja ya di Indonesia.

    atau bikin gym hehe

    atau kursus elektronik/informatika??

    Mas Adhiguna,
    Wah…setuju mas, bikin Gym mungkin a good idea terutama di well-to-do neighborhood…. 😉
    Di Perancis kan serba heute (eh..bener nggak tulisannya ?) : ada adi busana, adi masakan, dan adi tata rambut…

    Nah, Mas Adhiguna tinggal kursus 3 hal itu supaya nantinya di Indonesia bisa membuka satu toko yang menyediakan adi busana (nyaingi Aji Notonegoro), adi masakan (nyaingi Ny. Tanzil dan Bara Pattirajawane), dan adi tata rambut (nyaingi Rudy Hadisuwarno dan Johnny Andrean)…

    Pasti laku tuh mas, nah…Ph.D…-nya cukup dicetak di kartu nama saja…hahaha…

    Reply

  3. rumahagung
    Jan 23, 2009 @ 20:15:08

    hahahaha..!!
    yah,kita hrs liat sisi baiknya.
    hahahaha..!!
    yah,tp jgn bohongin diri sndiri juga,
    klo lg apes,ya apes.
    hehehehe..!!

    Agung,
    Kalau orang Jawa sih, tidak pernah apes dan selalu beruntung…
    Kalau nggak percaya, tanya orang Jawa tetanggamu atau tanya papamu yang pernah lama di Yogya…hahaha…

    Reply

  4. totok
    Jan 24, 2009 @ 05:41:33

    Ah, jangan ngeledek orang Jawa-lah. Selalu untung memang milik orang Jawa. Bahkan bisnis apa pun, ketika dunia lagi krisis, kita tetap saja berjaya.

    Apa sampean gak percaya, kalau bisnis waralaba paling besar bukan milik wong amrik dengan mcDonald-nya, atau KFC etc…etc, tapi justru milik orang Jawa. McDonald paling jualan ayam goreng.

    Coba lawan dengan waralaba BAROKAH, asli Indonesia nggak ada yang ngelawan, meski tanpa business plan segala. Toko yang gede juga waralaba dari Barokah, tukang bakso keliling juga pakai waralaba Barokah, sampai tukang cukur madura pun waralabanya Barokah.

    Bahkan berdoa pun orang kita juga pakai waralaba Barokah, mugo-mugo entuk rezeki sing Barokah, he….he….he.

    Dan ini juga ada guyonan tentara khas wong Jawa. Coba tanyakan ibunya anak-anak sing dadi tentara iku, mengapa angkatan darat dan angkatan udara gak punya masjid?

    Jawabnya gampang saja, sebab semua masjid sudah diborong sama angkatan laut. Buktinya, ada masjid AL MUHAJIRIN, AL HIKMAH, dan AL…AL lainnya, mana ada masjid AD Muhajiri, yang ada kan AD Ray. He…he iki cuma guyonan lho mas.

    Cak Totok,
    Makanya kalau orang Angkatan Laut mengucapkan terima kasih selalu “Terima kasih yang sedalam-dalamnya”.
    Orang Angkatan Udara kalau mengucapkan terima kasih selalu “Terima kasih yang setinggi-tingginya”
    Dan kalau orang Angkatan Darat kalau mengucapkan terima kasih selalu “Terima kasih yang sebanyak-banyaknya”
    Hehehe…
    Kemane aje ente, itu Bu Tutinonka dan Uda Alris (cowok lho dia) nyari-nyari ente dikirain kelelep sama lumpur Sidoarjo…hwekekekekek…

    Reply

  5. alris
    Jan 24, 2009 @ 17:22:35

    Pak Tri, saya memang ada rencana mau mulai berbisnis dengan cara canggih dikit, bisnis online. Komoditasnya pun aneh, belut setengah kering.
    Rupanya Gusti Allah ora sare, kata wong jowo. Saya dikirim ke proyek terakhir yang saya tangani itu,- di Labuan, Banten- ada hikmah dan barokahnya. Ndilalah, waktu nyari oleh-oleh, buah tangan buat saudara, saya ketemu belut yang sudah dikeringkan, dengan pilihan rasa tawar dan asin. Tapi belut itu tidak bener-bener kering, masih ada kadar airnya sekitar 20%? Pas dimasak saudara saya di Jakarta, -digoreng pake cabe hijau- rasanya maknyusss tenan.
    Setelah saya di phk kepikiran kenapa gak memulai bisnis jual belut itu? Jadi, mohon doa dari Pak Tri dan pembaca blog ini semoga usaha saya bisa dijalankan dan sukses. Amin.

    Uda Alris,
    Wah..ide bagus tuh, jual belut goreng setengah kering dengan metode online. Uda bisa memanfaatkan blog Uda, dengan menambah satu “button” yang berjudul “belut goreng” : bagaimana cara pesan, bagaimana cara pembayarannya, bisa delivery order apa nggak, dsb dsb… Mungkin bisa niru blog teman saya Mbak Julie Hakim di http://garasibu.wordpress.com/

    Atau lebih canggih lagi, anda bisa bikin account di Facebook (saya dan Bu Edratna sudah sebulan ini banyak beralih ke Facebook) lalu di sana Uda bisa menawarkannya ala Facebook… “Belut goreng..belut goreng…” mudah-mudahan usahanya maju…

    Reply

  6. edratna
    Jan 24, 2009 @ 17:26:19

    Bagaimana dengan pijat refleksi? Seminggu yang lalu (saya udah berbulan-bulan nggak kesana)….ternyata semua kursi yang bisa ditidurkan penuh dengan orang yang mau pijat. Mungkin stres pulang kantor mampir dulu…

    Bu Edratna,
    Wah…”pijat refleksi” itu bisnis ke-8 yang nggak ada matinya. Orang lagi musim krisis lagi banyak uang, penginnya pijat refleksi terus…biar fresh terus…
    Ngomong-ngomong kadang-kadang saya pengin jadi tukang pijat selepas pensiun, bukan masalah duwitnya tapi setelah memijat orang dan orang tersebut keluhannya/sakitnya sembuh…rasanya bahagia gimana, gitu. Sementara ini yang jadi “kelinci percobaan” untuk dipijat ya cuman isteri saya. Hasilnya, keluhan dia sering hilang karena saya suka menebak sumber sakitnya dimana dan di sumber sakit itulah “dihajar” alias “dipijat”…hehehe…

    Reply

  7. ario
    Jan 24, 2009 @ 23:23:51

    om trie, yang jelas bisnis hiburan lah… gak bakal mati sampai kiamat. Tanya aja orang2 di taman sari, mangga dua dan kota, they have the answers.

    Akhirnya memang kita harus selalu belajar dari masa lalu yakni krisis 1997-1998, bahwa sektor ril walau sulitnya minta ampun masih bisa bertahan, spt. bakul bakso, tukang gorengan, tukang2 jualan lainnya. Dan ternyata SBY gak belajar, sibuk menata popularitas dari awal memimpin sampe menjelang pemilu, politiiiiiiiiiik terus, orang sekarang bilang politisi autis. YA Gusti Allah kulo hambamu iki nyuwun ngapura.

    Mas Resi,
    Wah..bener banget tuh, dunia hiburan memang tiada matinya, jadi itu menjadi bisnis ke-9 menurut catatan saya loh… kalau yang dimaksud memang hiburan “yang itu”, soalnya sudah setua sejarah manusia sih.. 😉

    “Politisi autis”…wah istilah itu belum beredar di sini (di Jakarta)… tapi kayaknya klop. Beberapa hari yang lalu saya memarahi beberapa teman di kantor yang simpatisan suatu parpol tertentu, “Saya paling nggak setuju kalau membodohi orang bodoh. Kalian itu dan parpol kalian itu mestinya membuat orang bodoh jadi pintar, contohnya saya ini yang mengajar. Tapi kalau ada orang lulusan SD lalu disuruh mendaftar untuk berangkat ke Jalur Gaza di Palestina sana, saya paling tidak setuju. Itu sama dengan membodohi orang bodoh”. Lalu seorang teman yang bergelar doktor membela diri “Tapi pak yang penting kan memberi simpati kepada Palestina”. Terus saya bilang “Mas…kalau kita-kita ini yang pendidikannya cukup tinggi bisa mengerti itu. Kalau ndaftar, paling ya cuman ndaftar saja nggak akan berangkat karena darimana uangnya ? Tapi bagi mereka yang pendidikannya kurang cukup pasti mengira mereka itu BENAR-BENAR akan diberangkatkan. Lha kalau ternyata mereka tidak jadi berangkat, kita-kita ini kan merasa berdosa…”. Terus teman tadi menjawab, “Iya pak, sebenarnya yang mereka perlukan kan uang, obat, makanan…” yang terus saya sahut “Lha iya…lho kok anda terus bisa mikir ?”…..hahaha…

    “Menurunkan BBM 3 kali” lalu ditulis di iklan parpol…saya juga belum tahu bagaimana pendapat masyarakat. Kalau mau turun kan bisa sekaligus, atau kalau mau turun 3 kali..kan tidak harus ditulis di iklan parpol segala.. Menurut saya itu bukan kegiatan mencerdaskan bangsa, tapi sebaliknya… ;-(

    Reply

  8. alris
    Jan 25, 2009 @ 04:54:30

    Terima kasih sarannya, Pak Tri. Saya sudah mengunjungi blog teman Bapak, Ibu Jullie L. Hakim. Tampilan blog beliau menarik, perlu belajar lagi nih saya untuk membuat tampilan blog menawan. Saya sudah membuat satu blog lagi di blogger untuk mendukung rencana saya itu, alamatnya http://alrisjualan.blogspot.com
    Kalo di WP itu penyaluran hobi nulis, di blogger untuk nyari duit, itu rencananya. Saya juga udah posting mengenai belut di blogger. Selamat menikmati belut, eh tulisan mengenai belut maksudnya.

    Uda Alris,
    Hehe…sebenarnya tampilan blog WordPress anda memang masih semenjana, tapi karena anda diem aja…ya saya nggak ngajarin (khas anak Madiun seperti itu Uda, kalau ada teman yang berbuat salah.. didiemin aja…hehehe…)

    Tampilan Blog mbak Yuli dengan mbak Yulis dengan Bu Edratna sebenarnya sama. Coba buka blog mbak Yuli sekali lagi dan di-scroll terus sampai ke bawah, nah di situ ada nama Theme-nya yaitu Ocean Mist by Ed Merritt… Nah, Uda juga bisa membuat blog Uda persis seperti itu dengan mengklik : http://alrisblog.wordpress.com/wp-admin/index.php lalu klik “Appearance” lalu klik “Themes” dan gantilah dengan “Ocean Mist” dan klik “Save Change”..

    Sebenarnya blogger / blogspot itu mudah diatur tampilannya, tapi bagi pembaca agak ribet kalau mau ngasih komentar..

    Jadi saya sarankan aja tetep pakai WordPress uda yang sekarang untuk jualan, biar pembaca nanti lebih mudah memberi komentar untuk pesan belut goreng. Caranya gampang kok…

    Reply

  9. adhiguna
    Jan 26, 2009 @ 15:02:23

    Agak OOT dikit menyambung obrolan politisi autis, sebenernya saya heran, partai yang “itu tuh” punya banyak orang pinter sebenernya, simpatisannya pun di Eropa banyak sekali mahasiswa Master/PhD.

    Tapi kok pemikiran dan kelakuan mereka tidak mencerminkan kecerdasan ya…. Membodohi rakyat terus.. Saya kadang-kadang heran orang punya gelar tinggi-tinggi dari luar negeri kok otak dan nuraninya tambah cupet..

    Saya senang kalau orang-orang semacam pak Tri bisa speak up sama mereka, saya support pak!

    Mas Adhiguna,
    Hehehe…di tahun 1989 dulu saya membuat semacam “platform” yang antara lain dipakai oleh beberapa orang untuk mendirikan “partai itu tuh”. Makanya saya berani ngomong sama mereka, dengan nada seenaknya pula mas, soalnya saya kenal beberapa pentolan mereka (teman yang di kantor yang saya marahi itu kapasitasnya hanya sebagai simpatisan saja)…

    Selain kejadian siap daftar dikirim ke Palestina itu, saya juga berdebat sengit dengan beberapa anak muda simpatisan “partai itu tuh”. “Lha kalau mau pawai untuk Palestina ya mbok jangan bawa bendera partai pakai nomor urut peserta Pemilu segala, soalnya nanti disemprit lho oleh Panwaslu”, kata saya. Mereka malah rame membantah saya, “Apa pawai itu disebut kampanye ?”. “Apa buktinya itu melanggar kampanye, pasal mana yang dilanggar ?”.

    Dalam hati saya menertawakan “kenaifan” beberapa teman muda saya itu. Soalnya sudah dua kali saya sebagai anggota Pemantau Pemilu Forum Rektor 1999 dan 2004. Jadi mana yang melanggar mana yang tidak, itu sudah hapal di luar kepala. Lha wong di Forum Rektor sudah ada formulir yang berisi jenis pelanggaran, jadi ya tinggal contreng saja… (tapi sayangnya, beberapa teman muda saya itu agak “undermine” terhadap saya, dan saya dikira manusia a-politis…hahaha..)..

    Besoknya, di koran-koran rame petinggi “partai itu tuh” dipanggil polisi karena didakwa melanggar aturan kampanye (dengan maks hukuman 12 bulan). Saya kira sekarang di Jakarta ini “partai itu tuh” cukup kesulitan memperbaiki “kesalahan kecil” yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh para petinggi partai…

    Coba kalau mau nanya saya dulu…

    Dan sayapun menyanyikan lagu “I feel good….I know that I wouldn’t…”-nya James Brown yang sempat populer di tahun 1970-an dulu..

    Sejak itu, banyak anak muda di kantor yang makin respect kepada saya..karena apa yang saya katakan sebelumnya, ternyata kejadian…

    Sejak peristiwa itu, “partai itu tuh” sempat pawai dukungan terhadap Palestina, tapi tanpa selembar bendera partaipun yang ada. Apalagi nomor peserta pemilunya….

    Tapi, penyesalan itu datangnya selalu terlambat…

    (Apakah di Pemilu Legislatif 9 April 2009 nanti, suara “partai itu tuh” di Jakarta meningkat atau menurun ? Yang jelas, peristiwa pawai dukung Palestina dengan nomor urut peserta pemilu itu bakalan berpengaruh, entah positif entah negatif…. Salah satu teman saya adalah urutan teratas “partai itu tuh” di Jaksel)..

    Reply

  10. TOTOK
    Jan 28, 2009 @ 08:48:16

    Betul cak. akhir-akhir ini aku jarang buka internet, soalnya ada kesibukan dikit di luaran. Sementara laptop sudah dibawa tukang loak, jadi kalau nggak mejeng di depan PC di rumah ya nggak bisa lihat blog sampean sing ternyata, tiap hari bertambah jadi harus menyediakan waktu khusus buat ngebaca. Kalau kelelep di lumpur lapindo masih mending, asal tidak lumpur love Indo he…he…

    UDA ALRIS
    Wah, Uda Alris mau bisnis juga ya,….. asyik lho bisnis itu. Waktu pensiun dari Jawa Pos, saya bingung mau bisnis apa. Tapi waktu di Malang dulu, nggak begitu sulit, aku bawa mobil kincling-kincling baru 2 bulan keluar dari showroom, (waktu masih belum dibawa tukang loak) bagasi tak isi dagangan nasi pecel Madiun yang terkenal se antero jagaditu, trus saya parkir di aloon-aloon Kota Malang.

    Hari pertama buka jam 5 pagi, sampai jam 7 (hanya 2 jam saja) sudah habis nasi 5 kg, atau sekitar 50 porsi @ Rp 3.000 saya kantungi uang Rp 150.000, jadi bersih dapat Rp 100.000. lumayan.

    Hari kedua sampai hari ke-7 saya (eh, istriku) masak 10 kg, ternyata ludes juga. Hari ke-8 tidak masak dan tidak jualan, bukan karena sudah kebanyakan duit, tapi dilarang oleh satpam jualan di situ ha…ha….

    dari situ akhirnya aku punya pikiran, bisnis makanan di Malang cukup menjanjikan. Mobil dijual, jadilah sebuah warung kecil di samping Universitas Islam negeri Malang. Hasilnya jangan ditanya, gaji Jawa Pos kalah deh (nyombong nih ye….)

    Sekarang bisnis hobi saja, bikin koran kecil-kecilan. Soalnya sudah nggak ada yang diopeni he..he…he

    CAK TRI
    Sori cak Tri, aku nunut di sini, saya belum sempat nyambangi blog uda Alris, belum tau kali

    Cak Totok,
    Lho semua yang sampeyan sebut kok sudah diloakin …. hihihihi…
    Kalau saya sebenarnya sama, yaitu semua yang sudah saya sebut udah digadaiin….hehehe…

    Reply

  11. totok
    Jan 30, 2009 @ 21:48:09

    lha opo bedane gadaian karo tukang loak, wong ya sama-sama menerima barang bekas. hanya saja, kalau gadai masih bisa diambil, kalau ke tukang loak …..wassalam.

    sori gak isok akeh-akeh, soale awak lagi rodo nggreges, tiga hari berturut-turu kehujanan.

    Cak Totok,
    Yo wis, balung tuwo kerjone ojo poll-poll-an koyo arek enom wae….
    Santai sedikit kenapa sih, lha wong sudah tidak ada lagi yang dibiayai ?
    Hehehe…iku omongane sampeyan dewek lho….

    Reply

  12. ianpanrita
    Feb 06, 2009 @ 14:42:59

    nice info

    i like your artikel

    thanks

    please visit my site
    kampanye damai pemilu indonesia 2009

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: